Penyerbuan Tabing

OLEH: DASRIELNOEHA

Air Tawar terletak kira-kira 7 kilometer dari Padang arah jalan ke Bukittinggi.
Disini terletak dua kampus perguruan tinggi yaitu Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang, dan Universitas Andalas (Unand).
Kedua kampus ini berdampingan ibarat saudara kembar.

IKIP mendidik mahasiswanya menjadi guru, sedangkan Unand mendidik mahasiswa menjadi sarjana beberapa ilmu terapan seperti Ilmu dan Teknologi Pertanian, Ilmu dan Teknologi Peternakan, Ilmu Pasti dan Ilmu Alam.

Sedangkan untuk sarjana Hukum terletak di Muaro, Kedokteran di Pondok dan Jati, serta Ekonomi juga di Jati.

Pada tahun 1957, saat akan meletus peristiwan PRRI, mahasiswa IKIP dan Unand sedang asyik-asyiknya kuliah.
Namun, semuanya berubah setelah adanya pengumuman di Sungai Dareh atas berdirinya PRRI.
Ahmad Husein menghimbau partisipasi generasi Sumatera Barat untuk ikut andil mempertahankan martabat daerah yang sedang diinjak-injak oleh pemerintah pusat.
Dalam pidatonya di lapangan sepak bola di depan Fakultas Peternakan, pada bulan January 1958, apa apel mahasiswa Unand, Husein berpidato berapi-rapi akan perlunya Sumbar bangkit untuk memajukan daerah termasuk Unand dan IKIP, yang dikatakan sedang dianak tirikan oleh Pusat dibanding dengan UI, Gajahmada di Jawa.
Makanya kita harus berani melawan pusat untuk menuntut hak kita, demikian Husein membakar semangat mahasiswa waktu itu.

Makanya setelah 15 February, dilakukan pendaftaran besar-besaran tentara pelajar yang diikuti oleh ratusan mahasiswa Unand dan IKIP serta ada juga pelajar STM dan SMA di beberapa kota di Sumbar, ramai diikuti oleh mereka.

Terbentuklah beberapa kompi pelajar, yang dilatih secara kilat bagaimana cara menggunakan senjata dan bertempur.

Sebenarnya waktu latihan yang pendek itu hanya lebih banyak pada kegiatan baris berbaris dan pidato untuk membangkitkan semangat bertempur, belumlah cukup untuk menguasai ilmu perang dan kemiliteran secara benar.

*
Anisah, gadis kelahiran Solok, ikut mendaftar jadi anggota palang merah.
Waktu itu Anisah masih kuliah di IKIP jurusan Bahasa Indonesia.

Kemaren ia pulang kampung.
Ayah Anisah, Mak Kari yang jadi guru sekolah rakyat di Solok juga ikut PRRI. Kari diajak oleh mamak rumahnya kopral Salim yang telah jadi tentara dan anak buah Pak Husien.
Waktu Anisah mengatakan dan minta ijin ajahnya mau ikut palang merah di Padang, ayahnya menyetujuinya.
Hanya ibunya yang keberatan. Maklumlah Anisah adalah putri satu-satunya. Adiknya masih duduk di SMA Solok dan itu laki-laki.

Tapi setelah Anisah mengatakan bahwa tugas palang merah adalah hanya di rumah sakit dan tidak ikut perang, ibunya akhirnya mengalah.

Anisah mempunyai pomle seorang mahasiswa fakultas Peternakan Unand bernama Rustam. Rustam anaknya ganteng. Rambut ikal lebat dan dagunya kekar dengan sedikit brewok. Maklumlah ia anak seoarng nelayan dari Naras dan juga pesilat tangguh.

Mereka saling mencintai satu sama lain.

Sebelum Anisah meminta ijin ayahnya untuk masuk palang merah, ia telah mendiskusikan hal itu dengan Rustam kekasihnya.

*
Pantai Padang sore itu kembali ramai oleh pasangan anak muda yang menikmati deburan ombak pantai.
Deburan ombak itu membawa alunan suara cinta yang merasuk kedalam sukma para pasangan remaja yang menikmatinya dengan duduk di loneng tembok pantai, di kerimbunan pepohonan yang tumbuh di pantai itu.
Mereka sedang berpomlean.

Para nelayan juga sibuk mempersiapkan perahu mereka untuk melaut.
Setiap sore sebuah perahu nelayan yang dimuati dengan bekal untuk perjalanan semalam dan sebuah lampu sitarongkeng dinaiki oleh tiga orang nelayan.
Setelah didorong ketengah air, lalu mereka mendayung sekitar satu jam ketengah untuk memancing ikan ambu-ambu dan ikan pinang-pinang yang pada musimnya banyak di laut.

Sore itu pulang kuliah di Pantau Padang di Muaro.
Sepasang muda mudi sedang asyik duduk makan rujak di kedai di pinggir pantai Padang yang terkenal itu.
Ada banyak kedai rujak dan limun yang dibangun oleh para isteri nelayan di pantai itu.

Rustam dan Anisah, seperti pasangan lainnya sedang memandang indah deburan ombak pantai Padang yang seakan nyanyian asmara yang mengalun indah.

Rustam mengajak Anisah turun ke air.
Sambil berjalan memainkan ombak di kaki dan bergandengan tangan dua muda mudi yang dimabuk asmara itu berjalan gontai.

”Sah, saya telah mendaftar menjadi tentara kemaren”, kata Rustam memecah kesunyian mereka.

Suara Rustam terdengar seperti getaran petir di telinga Anisah. Suara itu diselingi oleh gempuran ombak pantai yang berdebur dengan suara gemuruh.
Suara ombak pantai Padang memang spesifik. Sering dijadikan madah buat lagu asmara.

”Uda, sudah mendaftar kemaren”, Anisah mengulang dengan pertanyaan.

”Ya Sah, saya dan enam orang teman mendaftar di Dodik Simpang Haru. Minggu depan kami akan menjalani latihan di Padang Besi Indarung. Ada banyak juga mahasiswa Unand yang mendaftar. Juga banyak temanmu dari IKIP yang ikut”, kata Rustam.

Anisah hanya terdiam. Sambil mempererat genggamannya di tangan Rustam, ia berhenti melangkah.

Sekarang di pipinya yang bak pauh dilayang, mengalir dua butir air bening. Ia tahu apa artinya mendaftar jadi tentara pelajar. Minggu lalu sewaktu Letkol Husein berpidato di lapangan sepakbola didepan kampus IKIP, ia mendengar bahwa sekarang perjuangan suci mengadapi perang dengan tentara pusat seakan menjadi panggilan bagi para mahasiswa.
Perang, ya perang, berulang Husien mengatakan kata-kata itu dalam pidatonya.

Perang berarti menggunakan senjata untuk saling bunuh.
Akankah nantinya Rustam ikut terbunuh?
Itu yang ada dibenak Anisah sekarang.

”Anisah, kenapa kenapa Isah menagis”, tanya Rustam.

”Saya tidak mau kehilangan uda Rustam”, kata Anisah pelan.

”Saya tidak akan terbunuh sayang. Dan lagi soal mati hidup, kan ada di tangan Tuhan. Isah tidak usah ragu melepas uda”, kata Rustam membujuk.

”Da, perang ini tidak tahu kapan usainya. Yang jelas pasti tentara pusat akan segera kemari. Uda akan bertempur. Dan uda akan jadi korban..

Air mata Anisah semakin deras. Rustam mengambil ujung selendang Anisah. Ia mengusap pipi lembut kekasihnya. Basah selendang itu kini.

”Kalau begitu, Anisah minta ijin uda untuk daftar jadi palang merah. Kemaren Putri mengajak Anisah untuk mendaftar”, kata Anisah.

”Jangan sayang, kamu tinggal di kampus sajalah. Kasihan kuliahmu kan tinggal setahun lebih saja lagi.

”Uda, aku juga mau turut menyumbangkan tenagaku untuk daerah kita. Toh sudah pasti kuliah akan tutup selama pergolakan”, kata Anisah.

Mereka kembali ke pondok jualan.
Rujak yang tadi mereka pesan telah hampir habis.
Rustam memanggil Etek Ami penjual rujak. Dan ia membayar dua piring rujak yang mereka pesan.

”Kamu pasti tidak akan diijinkan oleh ayahmu. Sudah minta ijin belum”, tanya Rustam.

”Belum da, besok rencananya Isah mau pulang. Putri juga pulang. Sekalian siap-siap untuk latihan di Rumah Sakit tentara Simpang Haru.

”Ya, kalau memang ayahmu mengijinkan, baiklah mari kita sama-sama berjuang. Kalau umur kita sama panjang, dan jodoh kita direstui Tuhan, kita akan tetap ketemu”, kata Rustam sambil merangkul bahu Anisah.

”Yang jelas saya tidak mau kehilangan kamu dewiku”, kata Rustam.

Hari semakin petang. Sebentar lagi maghrib akan datang. Rembang petang matahari mau turun di ujung kaki langit di lepas laut sana memang indah.
Warna langit yang kuning kemasan bercampur kemerahan perlahan turun ke kaki langit.

Mereka beranjak pergi. Naik oplet kearah Air Tawar.
Dua sejoli itu duduk terdiam di atas oplet tua jeep Wilis yang rumah-rumahnya terbuat dari kayu.
Sebentar lagi mereka akan berpisah. Dipisahkan oleh pergolakan daerah yang mereka akan turut ambil bagian di dalamnya.

*
Hari baru jam sembilan di Air Tawar.
Hanya beberapa mahsiswa IKIP yang terlihat pergi kuliah pada pagi itu.
Unand telah dua minggu libur. Karena beberapa dosen ada yang ikut latihan di Padang Besi.
Yang tidak mendaftar jadi tentara memilih pulang kampung.

”Assalamualaikum”.

”Wa alaikum salam, eh uda Rustam”.

Rustam muncul pagi itu di tempat kos Anisah di Air Tawar.

Anisah sudah memakai pakaian putih-putih. Ia bersiap akan menuju Simpang Haru rumah sakit tentara tempat ia kini mulai bertugas jadi perawat yang disebut anggota palang merah.

”Sudah mau berangkat Sah”, tanya Rustam.
”Ya da, saya barusan mau menyetop oplet ke Simpang Haru”, kata Anisah.

Rustam datang dengan pakaian tentaranya. Sebuah senjata LE tersandang dibahunya.

”Uda kelihatan gagah dengan seragam ini”, kata Anisah.

”Isah juga makin cantik dengan pakaian palang merah”, balas Rustam.

”Sah, keadaan semakin genting. Tadi malam kami di berikan briefing oleh komandan di asrama Simpang Haru. Semua pasukan disiagakan. Kita sedang siaga satu menghadapi peperangan. Aku diperintahkan bersama kompi B Mawar bertugas di sekitar lapangan Tabing. Dan kompi A Melati bertugas di sepanjang pantai Ulak Karang.
Menurut berita intelijen, akan ada pendaratan pasukan APRI hari ini.
Sah, keadaan serius sekarang.
Kalau terjadi sesuatu pada kita, saya mohon kerelaan Isah”.

Rustam mengeluarkan sebuah bungkusan dari kantong celananya. Ia berikan kepada Anisah.
Anisah mulai basah matanya. Ia mengerti ari kata Rustam barusan. Akan ada perang sebentar lagi.

Ah, kenapa harus ada perang? Kenapa Husein tidak mau mengalah dengan pemerintah pusat? Kenapa pula harus berontak? Pertanyaan itu menggayut di benak Anisah. Seperti itu pula pertanyaan di sebahagian tentara PRRI muda yang di gabung dalam kompi pelajar itu.

”Sah, ini sebuah cincin yang saya beli di toko emas di Padang kemaren. Isah simpanlah cicncin itu. Cincin itu bertuliskan nama kita. Ia menjadi saksi cinta kita berdua”.

”Uda, kita harus segera bicara dengan ayah saya. Juga kita harus ketemu mak dan abak uda. Kita bicarakan ke pada mereka. Mari kita langsung bertunangan saja.
Ibu saya pernah menanyakannya kemaren sewaktu minta ijin menjadi palang merah”, kata Anisah.

”Sebenarnya memang baiknya begitu Sah. Tapi sekarang waktunya kelihatannya tidak mungkin lagi. Pakailah cincin itu. Anggaplah kita sudah berikatan”.

Anisah membuka kotak beledru biru itu. Sebuah cincin emas seberat 8 gram berkilauan. Di bagian dalam bertuliskan ”Anisah-Rustam”.
Rustam memasukkan cincin itu ke jari Anisah.
Cincin polos berbentuk ring itu pas benar di jari manis Anisah.

Tiba-tiba terdengar sayup-sayup dengungan pesawat terbang. Makin lama deru mesinnya makin keras.
Rustam melihat kelangit arah ke Gunung Padang. Dari sana di balik awan kelihatan iringan pesawat terbang.

”Isah, cepat sembunyi. Mereka telah datang. Aku harus segera gabung dengan pasukanku”.

”Jaga diri uda”.

”Assalamualaikum”.

Rustam terus berlari ke arah mudik. Larinya cepat menuju ke lapangan udara Tabing bergabung dengan pasukannya.

Ada lima pesawat terbang berputar-putar disepanjang pantai antara Ulak Krang dengan Tabing.
Kelihatan dengan jelas dari perut pesawat keluar pasukan payung terjun dari udara.
Paling banyak diterjunkan di sekitar lapangan udara Tabing.
Segera saja terjadi pertempuran di sana.

Rupanya itu adalah pasukan payung tiruan. Ternyata yang diterjunkan yang pertama itu adalah boneka kayu yang didandani mirip tentara yang berbaju loreng.
Pasukan PRRI yang kebanyakan anggotanya adalah mahasiswa dan pelajar itu tertipu. Mereka menembaki boneka kayu itu.
Peluru banyak yang mereka habiskan percuma.
Komandan kompi becarut bungkang.

”APRI kalera, dikicuhnya awak”.

Danki segera berlari sambil menunduk, dan bersusah payah mengumpulkan anak buahnya sekitar Tabing.
Segera ia kembali mengumpulkan pasukan untuk konsolidasi.

Lima pesawat yang pertama kedengaran menjauh. Tetapi segera diganti dengan kedatangan tiga pesawat pembom dan dua pesawat penerjunan pasukan.
Kembali pasukan payung terjun di seputar bandara.
Kali ini lapangan udara Tabing dihujani oleh bom dari pesawat.

Pasukan loreng yang terjun kali ini benar pasukan dari APRI.
Kembali terjadi tembakan seru. Pertempuran kembali pecah. Pasukan APRI yang terlatih perang dari kesatuan lintas udara Brawijaya dan Siliwangi berhadapan dengan pasukan PRRI yang terdiri dari mahasiswa dan pelajar yang masih hijau dengan suasana pertempuran.
Sungguh tidak seimbang keadaan perang siang itu. PRRI segera menjadi sasaran empuk pasukan APRI.

Hanya lima belas menit lapangan udara Tabing dikuasai oleh pasukan pemerintah pusat.

Para pasukan kompi B dan kompi A banyak yang menjadi korban. Yang luka dan masih hidup segera di tawan. Mereka dikumpulkan di hanggar lapangan udara.

*
Sejak mendengar bunyi pesawat pagi itu, dan setelah Rustam lari kearah Tabing, Anisah kembali masuk ke kamarnya.
Ia mengambil tas palang merah. Ia tidak jadi ke rumah sakit di Simpang Haru.

Anisah menyetop oplet menuju ke Tabing.
Setelah turun dari oplet, Anisah berlari kearah lapangan terbang.
Pertempuran terjadi di sana.

Banyak korban berjatuhan di pihak PRRI. Tentara yang masih muda-muda itu meringis dan meregang nyawa tersambar pecahan peluru mortir.
Mereka diserbu oleh pasukan APRI.

Anisah segera menolong para korban pertempuran itu. Baju putihnya kini sudah terpercik oleh darah para korban.

Di ujung landasan, dibawah pohon ketapang, seseorang menyeret badannya yang telah berlumuran darah.

”Tolong”, panggil orang itu.

Anisah segera berlari kearah orang itu.
Disampingnya empat mayat telah tercabik pecahan bom.

”Uda”, Anisah terpekik manakala melihat yang terluka berat itu adalah Rustam kekasihnya.

”Sah”, kata Rustam parau. Dari mulutnya keluar darah. Punggungnya robek kena pecahan bom.

Anisah segera membuka tas palang merahnya. Perbannya sudah habis terpakai untuk membalut luka para korban.
Sambil menangis ia membuka baju Rustam. Air matanya makin deras melihat dada bidang kekasihnya berlumuran darah.
Dua botol obat merah yang masih tersisa ia tuangkan ke luka Rustam. Rustam terluka parah. Ia kebatkan baju Rustam ke punggungnya yang ternganga. Darah terus mengalir.

Kaki kirinya juga patah dan terlihat tulang keringnya. Anisah membuka bajunya. Ia tidak peduli walau hanya tinggal kutang saja. Kulit putihnya belepotan darah Rustam. Kaki itu ia balut dengan robekan bajunya.

”Sah, jaga dirimu. Aku sudah tidak tahan lagi. Mataku mulai kabur Sah”, kata Rustam tertahan-tahan.
Rustam kehilangan banyak darah. Itu membuatnya lemah dan hampir pingsan.

”Uda luka parah, jangan banyak bicara dulu”, kata Anisah sambil menangis.
Anisah memeluk tubuh kekasihnya.
Jemarinya ia sisirkan ke rambut ikal Rustam.
Rustam tersenyum kepada kekasihnya.

Kabut mesiu masih tebal di seputar lapangan terbang. Tembakan masih terdengar sayup-sayup di pantai. Rupanya ada pertempuran juga di sana. Pasukan katak angkatan laut mendarat di pantai Tabing.
Mereka segera mengadakan pembersihan dan memburu para PRRI yang ada di pantai.

”Sah, aku cinta padamu. Selamat ting…gal..Sah”.

Sambil tersenyum di bibirnya akhirnya Rustam menutup matanya.
Rustam membawa cinta Anisah bersama nyawanya yang melayang ke angkasa di lapangan udara Tabing. Rustam terkorban oleh pertempuran pagi itu.

Anisah meraung sambil tetap memeluk jasad Rustam.

”Udaaaa”.

Tragedi itu telah terjadi.
Dua kekasih itu telah terpisahkan oleh maut. Maut itu sungguh cepat datangnya. Pagi jam sembilan tadi mereka masih saling tersenyum menyatakan cinta mereka. Mereka masih saling mencium cincin pemberian Rustam.
Kini salah satu telah tiada.

Perang memang kejam. Perang hanya menyisakan duka dan nestapa. Cinta dua anak manusia, Anisah dan Rustam terenggut siang itu.

Rustam telah pergi. Ia menjadi korban pertempuran di lapangan udara Tabing antara PRRI dengan APRI.

Anisah memandang tubuh Rustam yang telah kaku. Ia menggenggam tangan kekasihnya itu.
Air matanya makin deras.

”Udaaa”, suara Anisah parau. Separau cintanya yang kandas.

Ia memandang muka Rustam. Sesungging senyuman terbayang di bibirnya. Wajah ganteng kekasihnya itu mulai kelihatan membeku. Anisah mengusap muka itu. Ia memegang brewok yang mulai tumbuh lebat di wajah itu.
Tangan Rustam ia lipatkan di dadanya.
Tangan Anisah berlumuran darah Rustam, di jari manisnya lekat sebuah cincin yang diberikan Rustam tadi pagi, terbungkus darah Rustam sendiri.
Rustam telah pergi selamanya membawa cinta mereka berdua.

Pesawat udara AURI telah menghilang.
Bekas pemboman meninggalkan lobang di landasan pacu. Asap mesiu bekas pertempuran masih tercium.

Anisah masih terpana dan berlinang air mata.
Ia masih memangku jasad Rustam.
Jasad yang masih tersenyum dan berkata-kata jam sembilan pagi tadi. Sekarang telah hilang nyawanya bersama cinta mereka yang telah dihancurkan oleh peperangan.

Sumber

Mawar Lereng Tandikek

Masa pergolakan PRRI banyak menggoreskan cerita.

Ada cerita sedih, tentang banyak pemuda kampung yang diseret oleh OPR dan disiksa di pos. Kemudian mereka meregang nyawa dan mayatnya dibuang di selokan.

Ada pemuda yang ketakutan waktu razia di kampung, mereka ditembak dari belakang, dan mayatnya tersungkur persis di jalan di depan rumah orang tuanya.

Ada juga wanita yang suaminya ikut lari ijok ke hutan, dijemput oleh tentara malam hari, diinapkan di kantor Kodim, kemudian setelah pulang menjadi lusuh dan kuyu. Banyak yang tahu bahwa para wanita ini, digilir oleh para tentara itu di pos. Dan ada juga yang tidak tahan malu, lalu terjun ngarai bunuh diri.

Ada juga yang tidak pulang-pulang ke rumah, kabar beritanya mereka di bawa ke Jawa oleh para tentara yang pulang, dan hidup disana tanpa kembali lagi kekampung.

Ada anak yang terpisah dengan ayahnya. Ada mamak yang kehilangan kemenakannya.

Ada ibu yang kehilangan anak gadis.

Penderitaan yang perih dirasakan masyarakat Sumatera barat selama peritiwa hampir tiga tahun pergolakan PRRI itu dari tahun 1958 sampai penyerahan tahun 1961.

*

Ini kisah lain yang tergores.

Ini kisah dua orang remaja yang bertemu karena di landa peristiwa peperangan antara PRRI dengan tentara pusat.

Bahar, adalah tadinya seorang mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang.

Karena terjadi peristiwa PRRI, bulan Maret tahun 1958, Bahar bergabung jadi tentara PPRI dan ikut latihan di Solok. Kuliah waktu itu terhenti sama sekali.

Banyak teman Bahar dari fakultas lain seperti Peternakan, FIPIA, Kedokteran, Hukum, dan Ekonomi yang ikut bergabung dengan PPRI.

Pada waktu Bahar dan pasukannya berkonsentrasi di Tandikek, mereka memunyai tukang masak seorang ibu yang suaminya datuak Panduko ikut jadi tentara PPRI.

Mak Sarinam menjadi tukang masak pasukan.

Neti, anak gadis mak Sarinam, yang tadinya adalah murid SMA Negeri Padangpanjang, karena sekolah ditutup akibat pergolakan, ikut ibunya di hutan kaki gunung di Tandikek, untuk bergabung dengan pasukan PRRI menjadi tukang masak.

Neti, adalah gadis cantik tinggi semampai. Kulitnya kuning dan hidungnya mancung. Rambut hitam sampai pinggang, tegerai indah bila selesai keramas di lubuk Batang Nanguih, dibalik kerimbunan pohon betung di tepi sungai.

Neti adalah kembang mawar di lereng Gunuang Tandikek.

Banyak anggota pasukan PRRI yang tertarik dan diam-diam menaruh hati pada Neti.

Tapi banyak yang hanya menyimpan perasaan saja, karena mereka juga segan dan takut pada Datuk Panduko ayah Neti yang menjadi komandan kompi di situ.

Datuak Panduko adalah tetua kampung lereng Tandikek itu. Nama kecilnya adalah Hamid.

Hamid adalah bekas tentara Siliwangi sewaktu mudanya. Ia ikut berjuang bersama temannya sewaktu jadi TKR di Pariaman. Temannya Adnan sesama mendaftar TKR di Pariaman dan menempuh pelatihan di Padang. Kemudian mereka ikut dikirim pendidikan di Batujajar dan di Cimahi. Akhirnya mereka bergabung dengan pasukan Siliwangi yang terkenal itu.

Adnan di BKO kan ke pasukan di Riau untuk menumpas sisa pasukan Belanda tahun lima puluhan. Sedangkan Hamid tetap di Jawa Barat.

Oleh karena luka dipertempuran di Ciamis dengan DI-TII, dimana pahanya kena pecahan granat yang parah, ia selama tiga bulan dirumah sakit menyembuhkan tulang pahanya yang retak. Akhirnya ia minta pensiun cepat dari Siliwangi dengan pangkat letnan dan pulang ke kampung di Tandikek.

Di kampung ia menjadi guru ngaji di Surau. Dan oleh sukunya Koto ia diangkat jadi penghulu dengan gelar Datuak Panduko di Rajo. Tapi ia paling terkenal dengan sebutan datuak Panduko.

Selain sebagai penghulu dia juga menjadi pengurus surau di desa itu.

Ia mengaji tafsir dan sifat dua puluh. Dan banyak muridnya.

Maka, ketika PRRI menyatakan perang dengan pemerintah pusat, ia tadinya tidak setuju dengan sikap ini. Datuak orangnya cinta damai.

Namun, pendiriannya berubah manakala adanya organisasi baru yaitu OPR yang terbentuk atau dibuat oleh tentara pusat untuk melawan PPRI.

Banyak anggota OPR diambil dari anggota Pemuda Rakyat dan Barisan Tani Indonesia (BTI), dan juga Serikat Buruh Kendaraan Bermotor atau preman loket oto, yaitu ormas dibawah PKI yang komunis.

Juga banyak preman, tukang copet, bekas maling yang direkrut dan dilatih menjadi OPR.

Makanya dengan adanya OPR, maka banyaklah orang kampung jang jadi korban, Harta yang ada dalam rumah yang ditinggalkan oleh penghuninya yang ijok ke hutan mereka rampas.

Banyak kepala desa diganti dengan orang yang berhaluan komunis.

Semua rumah yang salah satu anggotanya ijok ikut PRRI ditandai dengan sebuah papan kecil yang dipakukan didepan diinding rumah, dengan nama yang lari ke hutan.

Semua rumah ini menjadi incaran OPR.

Bila ada isteri atau anak gadis yang ditinggal suami atau bapak yang lari ke hutan, maka wanita ini akan di bon oleh tentara, dan dijemput oleh OPR malam hari.

Mereka biasanya diinapkan di kantor Kodim atau kantor Buterpra. Ada yang tiga hari, ada yang seminggu. Dan ada pula yang tidak pernah pulang sama sekali.

Cerita seperti ini banyak ditemui di daerah Agam seperti IV Koto, Baso, Ampek Angkek, Solok juga, dan Batusangkar.

Semua anggota preman itu memang diam-diam menaruh dendam pada Datuak Panduko. Karena gerak mereka dibatasi oleh aturan di pasar yang banyak dipakai atas masukan dari Datuak Panduko.

Judi dan main koa dilarang. Mancilok dan mengganggu anak gadis orang kalau ketahuan akan ditangkap oleh anak buah datuak Panduko. Dan kalau tertangkap pasti akan dimandikan di tebat semalam suntuk dan ditobatkan di surau.

Akibatnya preman menjadi benci pada Datuak Panduko.

Setelah terbentuknya OPR, maka Datuak Panduko menjadi target utama untuk dibunuh.

Datuak mengetahui ini. Makanya sebelum ia kedahuluan, ia mengajak isterinya lari ke hutan bergabung dengan PRRI. Ia langsung ditunjuk oleh Ahmad Husein menjadi komandan kompi Tandikek. Karena Husein tahu betul siapa Letnan Hamid di kompi B Siliwangi di Ciamis. Perwira ini tidak diragukan lagi semangat tempurnya.

Neti, akhirnya juga menjadi incaran OPR.

Setelah sekolah ditutup sementara, dari Padangpanjang Neti dengan dibantu teman sekelasnya tidak menuju kampungnya. Tapi ia berbelok melalui Maninjau. Di Maninjau Neti dijemput oleh anak buah Datuak untuk bergabung dengan ibunya di dapur umum pasukan.

*

Bahar, yang menjadi komandan regu dengan pangkat sersan, adalah diantara pemuda yang jatuh hati pada Neti.

Bahar orangnya juga alim. Tidak pernah tinggal sembahyangnya. Walaupun dalam keadaan perang, kalau masuk waktu shalat, pasti dia menyelinap untuk menunaikan ibadahnya.

Bahar adalah anak seorang ulama dari Kayutanam. Setelah lulus SMA di Pariaman ia melanjutkan ke Fakultas Pertanian Unand di Padang.

Peristiwa PRRI-lah yang buat sementara memutus kuliahnya.

Bahar orangnya rendah hati. Ia lebih suka menolong teman.

Kalau makan bersama pasukan, dia memeriksa anggota pasukannya dulu. Kalau sudah semuanya makan baru dia makan.

”Bahar, kamu sudah makan”, kata datuak Panduko senja itu.

”Saya masih kenyang pak datuak”, jawab Bahar.

”Makanlah, kalau jatah pasukanmu, habis, minta lagi sama makmu. Atau minta Neti masak lagi”, kata datuak Panduko.

”Masih ada jatah saya pak datuak”, kata Bahar.

Pada hal ketiding nasi sudah kosong karena dipecerabutkan oleh anggota pasukannya.

Walau mereka hanya makan dengan uok terung dan samba lado campur ikan asin, makan anggota pasukan PRRI itu selalu kelihatan lahap.

Maklumlah mereka masih muda-muda. Umur mereka baru sekitar dua puluh tiga tahun. Ada yang mahasiswa tingkat akhir seperti Bahar. Ada juga yang baru masuk kuliah, yang masih berumur sembilan belas tahun. Pada umur segini anak muda pasti makannya sedang banyak-banyaknya.

Nasi seketiding tidak sampai sepuluh menit habis tandas.

”Pak Datuak, saya permisi untuk periksa pos pengintaian di Batang Nanguih, assalamualaikum”.

”Wa alaikum salam”, datuak memandangi punggung Bahar yang menyandang ransel. Sebalik pinggangnya terlilit gantungan peluru brent. Di pinggang itu juga tergantung sebuah pistol yang masih baru. Ia menyandang Brent di bahunya yang bidang.

Pasukan datuak memang baru saja dapat droping amunisi dari Pekanbaru yang sampai dua minggu lalu. Amunisi ini diselundupkan lewat Perawang dari Singapur. Dari Perawang dibawa ke Bukittinggi dengan beberapa buah truk. Di Bukittinggi senjata ini dibagi oleh Letkol A. Husein keseluruh pasukan.

Entah negara mana yang membantu PPRI, datuak tidaklah perlu benar mengetahuinya. Yang penting kompinya cukup mempunyai amunisi buat bertempur tiga bulan ke depan.

Alangkah gagahnya anak ini dalam pakaian hijau tentara. Diam-diam datuak Panduko mengagumi anak buahnya yang satu ini.

Topi waja bertengger erat di kepala Bahar. Sersan Bahar yang seharusnya enam bulan lagi menjadi insinyur pertanian, sekarang bergerilya di tengah hutan. Ia ikut mempertahankan daerahnya Minangkabau dari ketidak adilan pemerintah pusat. Demikian ia mendengar pidato Letkol Ahmad Husein di Solok tempo hari.

Datuak Panduko suka kepada Bahar.

Orangnya pemberani, alim dan cerdas.

Pernah waktu penyergapan, pasukan Datuak Panduko ini terkepung oleh pasukan raiders dan OPR di pinggir jalan di kelok beringin ditepi batang Nanguih itu.

Rupanya keberadaan mereka dilaporkan oleh pengkhianat atau tukang tunjuk.

Perang berkecamuk. Tiga orang anggota pasukan diterjang peluru.

Bahar keluar dari persembunyian, sambil berlari dia menembaki raider dan OPR itu dengan brent-gun, dan ia juga melempar granat.

Akhirnya pasukan raiders itu mundur dan menaiki truk reo mereka. Mereka lari dan cigin kerarah Maninjau.

Lengan kiri Bahar tesambar peluru. Tapi lukanya ringan saja.

Malamnya luka itu dibalut oleh palang merah, dan dibantu oleh Neti.

Datuak Panduko berniat akan menjodohkan Bahar dengan Neti kelak bila perang sudah usai.

Waktu mata Bahar ketemu dengan mata Neti, disitulah panah asmara bertemunya.

Tangan Neti yang lembut ikut membalutkan perban ke lengan Bahar yang terluka.

Bahar membuang mukanya. Neti menunduk malu. Hati keduanya berdetak kencang.

Kopral Udin, si kepala palang merah hanya mendehem.

”Sudah Din, terima kasih kata Bahar. Saya harus segera ke pasukan.

”Tidak san, sesuai perintah Pak Datuak, sersan harus istirahat di sini barang seminggu menunggu luka bekas peluru ini kering. Baru boleh gabung pasukan lagi.

”Tidak Din, saya harus ada dalam pasukan saya. Kamu kan tahu sekarang OPR lagi gans-ganasnya patroli disini. Aku tidak mau pasukanku kedapatan.

”Uda sebaiknya istirahat dulu da”, Neti ikut mencoba menahan Bahar.

”Terima kasih Net, saya cukup kuat. Tidak apa-apa, ini kan cuma luka keserempet peluru saja. Tak apalah, terima kasih atas pertolongan Neti.

*

Kampung dibawah lereng itu namanya kampuang Nanguih. Hampir semua laki-laki di kampuang ini ikut ijok menjadi pasukan PRRI. Semuanya bergabung dengan kompi Tandikek dibawah komando datuak Panduko.

Hanya orang tua saja yang tinggal. Perempuan muda dan gadis juga ikut ijok. Mereka tahu kalau mereka tetap di kampuang pasti akan dipecundangi oleh tentara loreng, demikian mereka menyebut tentara pusat. Dan pasti juga mereka akan dijemput OPR.

Biarlah, kalau mati di hutan mereka rela. Mereka adalah penganut ajaran agama Islam yang taat. Mereka tahu, bahwa mati hanya sekali. Lebih baik mati berjuang dengan suami dan anak mereka, dari pada dipemalukan oleh tentara yang memperkosa dan menghinakan mereka.

Hati mereka memang pekat. Walau pendidikan mereka hanya sampai madrasah di Lubuak Basuang, namun kemulian hati menjadi modal utama pergaulan di kampung itu. Apa lagi adanya datuak Panduko, orang yang mereka hormati di kampung menjadi komandan pasukan.

Bahar ditugaskan datuak untuk selalu mengawasi kampung dari gangguan OPR.

Pertempuran kemaren terjadi karena pasukan Bahar bersirobok dengan pasukan raider yang bergerak dari Naras ke Lubuak Basung. Mereka berputar kekiri dengan melewati Tandikek.

Ketemulah mereka di desa Nanguih itu.

Pertempuran singkat itu cukup seru. Dua anak buah Bahar ikut menjadi korban.

Sebaliknya enam OPR berhasil ditewaskan. Termasuk Nipon seorang seorang preman makan masak matah. Nipon adalah tadinya agen loket di Bukitting Aue Tajungkang. Ia terkenal tukang peras di terminal. Kalau ada penunmpang oto dari Pekanbaru dan Medan yang banyak membawa barang pasti jadi perasan Nipon.

Setengah jam kemudian pasukan tentara pusat raider itu kembali ke Naras.

Datuak Panduko mempertimbangkan bahwa pasti akan ada serangan balasan dari tentara pusat. Atas pertimbangan itu maka konsentrasi kompi dipindahkan 2 kilometer ke mudik batang Nanguih.

Malam itu semua komandan regu dikumpulkan oleh datuak.

Perintah kewaspadaan ditingkatkan terutama oleh adanya tukang tunjuk.

Semua pendatang sekitar Kampung Mudik, tempat konsentrasi pasukan yang baru harus diketahui identitasnya. Kalau ada orang baru harus diketahui oleh kepala intelijen, Letnan Musa.

Team intelijen harus rajin turun ke jalan raya. Mereka menyamar jadi gembala kerbau dan penyabit rumput. Mereka mematai-mati gerakan raider dari Pariaman dan dari Bukittinggi.

Hubungan dengan induk pasukan di leter W tidak boleh putus.

Segera dikirim dua orang kurir ke leter W untuk memberitahukan pemindahan pasukan ini.

Selesai briefing singkat itu, datuak memanggil Bahar ke pondoknya.

”Bahar, saya mau bicara dengan kamu”, kata datuak.

”Siap, baik pak. Ada apa”, tanya Bahar.

”Sekarang pasukan kita mulai terjepit. Hubungan dengan induk pasukan di hutan sekitar Bukittinggi dan Solok mulai susah. Karena tentara pusat sudah membuat pos dimana-mana.

Saya dapat pesan dari Ahmad Husein, untuk mengambil sikap yang perlu untuk menyelamatkan pasukan. Aku disuruh untuk menghindari pertempuran. Kalau perlu kita menyingkir terus. Aku sendiri juga tidak atau kurang mengerti dengan perintah begini. Memang amunisi kita mulai menyusut. Tapi aku tidak mau menyerah, sebelum kita memberi pelajaran berharga ke semua OPR.

”Saya mengerti perasaan pak Datuak. Saya juga seperti itu. Biarlah kita bertempur dulu. Kalau kita kalah tidak apa. Asal yang hak di tanah Minang ini kita tegakkan.

Saya mau juga melibar OPR ini. Saya cukup malu mendengar ibuk-ibuk kita di bon dan di kerjai di pos-pos mereka. Sungguh biadab mereka. Saya baru senang kalau kepala mereka terbang dihantam peluru brent saya”, Bahar emosi menjawab apa yang dibahas datuak.

”Aku juga mendapat laporan dari intel kita bahwa ada sikap agak berubah dari komandan. Kelihatannya komandan agak berbeda pendapat dengan komandan nomor satu kita Pak Dahlan Djambek.

Pak Dahlan tidak mau menyerah. Sekarang beliau sudah menyingkir ke arah Lasi. Dan sekarang tempat ijok beliau disekitar Batang Masang bersama Pak Imam”, urai datuak lebih lanjut.

”Saya tidak mengerti pak datuak. Apakah maksudnya kita akan menyerah kalah ke tentara pusat”, tanya Bahar.

”Saya menangkap tanda itu Bahar. Sehingga ada pesan ke saya dari Pak Husein kalau saya boleh memutuskan untuk mengambil sikap demi menyelamatkan anak buah. Menyelamatkan dalam artian kamus tentara kan kamu tahu, bahwa itu tanda untuk menyerah. Mengibarkan bendera putih”, kata datuak agak pelan.

Bahar tahu, bahwa datuak sebenarnya tidak mau menyerah. Kalau menyerah berarti sekaligus mau menerima segala konsekwensi dari penyerahan. Termasuk ”penghinaan” dari OPR nantinya. Ini yang tidak mau di lakukan oleh datuak.

”Bahar, saya mau menitipkan pesan padamu”, kata datuak melanjutkan.

”Ada apa pak datuak”, tanya Bahar.

”Kalau dalam pertempuran berikutnya saya mendahului kamu, tolong selamatkan amak dan Neti. Bawalah mereka menyingkir. Kalau kamu harus menyerah ke tentara pusat, jagalah amak dan Neti jangan sampai dihina dan dipermalukan”, kata datuak.

”Tidak pak datuak, bapak harus bersama kita. Saya akan menjaga bapak dalam setiap pertempuran. Bapak tidak boleh mati. Kalau kita harus mati, mari kita hancur bersama pasukan kita”, kata Bahar dengan geram sambil mengokang brentnya.

”Tidak Bahar, kamu harus bisa tetap hidup. Kamu akan jadi saksi sejarah kelak. Biar orang tahu kalau saya perang karena membela kampung kita dari perlakuan jahat OPR dan penjajahan oleh tentara pusat. Saya bukan melawan pemerintah Republik. Tapi saya melawan tentara yang mau menghancurkan alam Minang yang saya cintai. Juga ada satu maksud saya yang lain”, kata datuak sambil menghirup dan menghabiskan sisa kopinya di galuak.

”Apa pesan pak datuak satu lagi itu”, tanya Bahar.

”Saya serahkan Neti kepadamu. Kelak kalau perang usai, mintalah kepada orang tuamu ijin, bahwa mak akan melamarmu untuk Neti”, demikian datuak mengungkapkan pesan utamanya.

Bahar terdiam. Ia tidak menyangka akan pengakuan komandannya ini.

Terus terang ia memang mencintai Neti. Dan ia juga tahu bahwa Neti juga menyenanginya.

”Pak datuak, bapak sudah saya anggap orang tua saya sendiri. Baiklah, saya pegang petuah bapak. Tapi ijinkan saya untuk menyelesaikan sekolah saya kalau Unand masih mau memberi kesempatan untuk saya kuliah lagi. Skripsi saya sudah hampir selesai. Mungkin sekitar enam bulan lagi saya sudah bisa ujian sarjana. Sesudah itu baru saya akan bicarakan soal perjodohan dengan abak saya di Kayutanam”, kata Bahar.

”Oh ya itu baik juga Bahar. Jangan lupa sampaikan salam saya sama Engku Malin ayahmu.

”Baik pak datuak”.

Bahar berpikir jernih. Mawar Tandikek yang ia idamkan telah diserahkan pemilik kebunnya untuk ia miliki. Mawar itu kini memang terancam dengan suasana peperangan yang tidak menentu ini.

Kemaren ia mengajarkan bagaimana cara menembak kalau terdesak kepada Neti. Neti diberikan sebuah senjata sten untuk menjaga diri dan emaknya.

Neti tidak boleh ikut perang. Ia digaris belakang di dapur. Aku akan menjagamu Neti, gumam Bahar dalam hatinya. Kalau kau ditakdirkan mati dalam pertempuran, engkau harus selamat mawarku, gumamnya lagi.

*

Terjadi lagi kontak senjata.

Sore setelah shalat ashar dilembah dibawah persembunyian dan pondok datuak Panduko.

Datuak dan dua orang komandan regu memeriksa perlengkapan pasukan di lembah yang tersembunyi.

Lembah itu adalah pos terdepan yang berhadapan langsung dengan jalan raya menuju Tanjung Mutiara sebelum Maninjau.

Tiba-tiba dari kelokan behamburan serobongan raider dan banyak OPR.

Kontak senjata tidak terelakkan.

Terjadi pertempuran hidup mati di lembah itu.

Lima belas orang pasukan PPRI di hadang lima puluh orang raider dan OPR. Tidak seimbang kedua pasukan ini bertempur. Korban banyak berjatuhan di pihak PRRI.

Datuak Panduko tersungkur keparit setelah dua peluru bersarang di dada dan lehernya.

Bahar melihat itu dan dengan membabi buta melemparkan granat dan tembakan brent-nya.

Pasukan raider dan OPR kembali menaiki truk mereka dan meluncur ke arah Maninjau.

Hanya tiga orang yang tersisa. Bahar dan dua orang anak buahnya. Dua belas orang termasuk pak datuak gugur untuk mempertahankan ranah bunda.

*

Di tanah kering di sudut kerimbunan pohon alaban.

Jenazah para suhada yang sepuluh orang adalah bekas mahasiswa dan pelajar itu akan di kuburkan. Jenazah datuak komandan mereka, dan jenazah Sersan Thamrin yang komandan regu kancil, didahulukan memasuki lobang kubur para suhada itu.

Suara burung pampeho mengiringi kepergian jenazah ke liang lahat yang hanya dibuat satu lubang. Burung itu adalah burung pertanda. Pampeho adalah jenis burung murai yang terbangnya malam. Bila pampeho terbang siang dan menceracau dekat pondok, itu tanda akan ada halangan datang. Biasanya mereka akan meningkatkan kewaspadaan.

Satu hari sebelumnya pampeho terbang tepat tengah hari diatas bubungan pondok datuak Panduko. Sejak saat itu datuak mahfum bahwa akan terjadi sesuatu.

Itulah dia peristiwa yang mengorbankan banyak anggota tentara kompi Tandikek dibawah pimpinan datuak Panduko, termasuk dia sendiri.

Malin Basa membacakan doa, dan menjadi imam shalat jenazah.

Mak Sarinam dan Neti tidak hentinya mennangis. Sarinam kehilangan suami yang ia cintai. Neti kehilangan bapak yang ia sayangi dan kagumi.

Sambil tetap menyandang sten di bahu Neti menyiramkan bunga sikajuik yang ia genggam ketanah timbunan terakhir pandam pekuburan para suhada itu.

”Selamat jalan yah, perjuangan ayah tidak sia-sia. Saya akan lanjutkan perjuangan ini. Do’a Neti dan emak menyertaimu. Sampai ketemu di syurga yah”, bisik Neti sambil menangis.

Hujan turun rintik-rintik. Tanah sekitar lobang mulai becek. Satu persatu jenazah kawan seperjuangan mereka turunkan dengan tali memasuki liang peristirahatan terakhir.

Bahar menyampaikan ucapan belasungkawa yang terakhir kepada teman-teman seperjuangan yang telah mendahului mereka.

Setelah upacara penguburan malam itu di halaman pondok, Bahar mendekati mak yang masih menangis tersedu sedan.

Neti memangku emaknya.

”Mak, besok kita harus menyingkir lagi. Tempat ini sudah diketahui musuh, Tidak aman kita disini. Pak datuak telah mendahului kita, Moga Allah menempatkan datuak di syurga, karena datuak berjuang menegakkan kebenaran.

Saya telah diberi petaruh oleh bapak untuk menjaga emak dan Neti.

Tiba-tiba datang seorang tani yang rupanya kurir dari Pariaman. Ia tergesa untuk menyampaikan sepucuk surat.

Bahar menerima surat itu. Rupanya surat dari komandan di Solok. Letkol Husein menyuruh pasukan untuk menyerah ke Kodim terdekat.

Alasannya untuk menyelamatkan pasukan.

Bahar terdiam.

Rupanya petuah datuak Panduko tempo hari menjadi kenyataan.

PRRI harus menyerah ke tentara pusat.

Perjuangan telah berakhir.

Korban berjatuhan untuk mempertahankan martabat ranah Bundokanduang.

Itulah fakta yang terjadi.

Bahar kembali membathin untuk kesekian kalinya.

*

Hari Senin, April, 1961.

Bahar membawa pasukannya ke Sungai Geringging untuk menyerah.

Kini mereka hanya tingggal dua puluh tujuh orang. Sebagian ada yang sudah turun duluan menyerahkan diri di kantor Buterpra di sekitar Naras.

Sebanyak sembilan belas orang anggota kompi Tandikek gugur di medan juang.

Neti si mawar Tandikek dan emaknya termasuk pasukan yang menyerah.

Setelah surat penyerahan ditanda tangani oleh Komandan Kodim, mereka dengan di kawal oleh raider sampai ke Pariaman.

Dari Pariaman dengan menumpang bus APD mereka bertiga pulang ke Tandikek. Neti dan emaknya hanya ke rumah pamannya Mak Lenggang. Mereka tidak bisa kembali ke rumah sendiri karena rumah datuak Panduko telah musnah dibakar habis oleh OPR. Ladang kopi dan sawah juga dihancurkan.

Untunglah masih hidup paman Neti. Mak Lenggang menangis menerima saudaranya yang disangkanya telah mati dalam pertempuran.

Esoknya Bahar minta diri dan menumpang bus Alima ke Bukittinggi, dan melanjutkan perjalanan dengan kereta api ke kampungnya di Kayutanam.

”Net, nanti uda akan kembali ke sini. Uda akan bawa abak dan ibu jumpa emak Neti dan Pak Lenggang untuk mempertautkan kita”, kata Bahar malam itu di beranda rumah.

”Neti tunggu uda datang”, kata Neti lembut.

”Uda pasti datang. Uda akan menyelesaikan kuliah yang teringgal. Setelah itu kita akan hidup bersama. Tinggallah Neti buat sementara”, kata Bahar dengan nada sendu.

Disinilah masanya kelak mereka akan menikah, sesuai petaruh dari ayah Neti, datuak Panduko yang telah gugur sebagai komandan kompi Tandikek.

Mawar Tandikek akan segera menjadi isterinya. Nanti, setelah ia meraih gelar sarjana pertanian yang sempat kececer karena peristiwa PRRI.

Mawar Tandikek yang cantik telah menimbulkan kesan cinta yang dalam sejak jari jemarinya yang lembut mengoleskan obat luka di lengan Bahar.

Bekas cinta itu masih ada kini. Parut luka itu menyembunyikan asmara di balik kulitnya.

Sumber

Bekas Pemberontak

OLEH: DASRIELNOEHA

Ia telah tua kini.
Sudah tujuh puluh lima tahun umurnya.
Selesai shalat maghrib ia duduk diteras rumahnya yang sederhana.
Secangkir kopi panas yang dihidangkan oleh isterinya menemaninya di senja itu.
Setiap senja ia menikmati duduk santai dengan ditemani kopi yang dibuat sendiri oleh isterinya. Mereka mempunyai kebun kopi sendiri. Tidak luas tapi cukup buat kebutuhan sendiri dan sebagian bisa dijual.

Ia kini hanya hidup berdua saja dengan siterinya. Anak-anaknya tiga orang perempuan semuanya sudah menikah dan tinggal di kota lain bersama suami mereka masing-masing.

Rumahnya menghadap ke jalan raya antara Padang dan Bukittinggi. Jalan raya itu selalu sibuk oleh kendaraan hilir mudik. Bercampur antara truk, bus dan kendaraan kecil milik pribadi. Sepeda motor juga banyak.

Matanya tertumbuk pada sebuah sepeda motor yang dituntun oleh dua orang berpakaian loreng. Rupanya ban sepeda motor itu kempes. Tentara itu mendorong sepeda motornya ke bengkel yang tidak jauh dari rumahnya.

Ya dua orang tentara telah memasuki alam kenangannya senja itu. Ia teringat tentang masa menjadi tentara dulu.

Tentara berbaju loreng yang dulu menjadi musuhnya. Tentara dengan seragam loreng itu mereka sebut dengan tentara pusat.

*
Sambil menghirup kopi panas ia memasuki alam kenangannya.
Angin sejuk senja yang semilir melintasi bulir-bulir padi yang mulai menguning di sawak belakang rumahnya ikut menghanyutkan kenangan lelaki tua itu.

Masa dulu sewaktu ia menjadi tentara.
Dulu, ditahun 1957, di Padang setelah menamatkan sekolah teknik menengah di Pariaman, ia diterima jadi tentara di Padang. Setelah menjalani latihan militer selama empat bulan dia ditempatkan sebagai bintara bagian perbengkelan dan peralatan Angkatan Darat di Muaro.

Ia masih bujang ketika masuk tentara itu. Oleh karenanya ia tinggal di asrama Ganting.
Ia senang dengan pekerjaannya memperbaiki mobil jeep, truck, dan juga memelihara senjata yang ditempatkan di gudang.
Pangkatnya waktu itu sudah sersan dua.

Namun, sebuah peristiwa nasional telah merubah peruntungannya.
Pada tanggal 15 Februari tahun 1958, beberapa perwira angkatan darat dan beberapa orang tokoh sipil membentuk dan memproklamirkan sebuah pemerintahan tandingan di Sungai Dareh yaitu Pemerintah Revolusioner Rakyat Indonesia (PRRI).

Dengan cepat berita ini telah dikonsolidasikan ke segenap unit militer di Sumatera Barat. Ada perintah umum oleh Letkol Ahmad Husen bahwa semua unit harus melapor ke masing komandan untuk menyatukan tekad melawan pemerintah pusat dan bergabung dengan tentara PRRI.

Ia melapor ke atasannya langsung. Letnan Mukhtar atasannya menasihatinya supaya tetap di bengkel. Tidak usah mengikuti ajakan untuk memberontak.
Namun, Mukhtar mengatakan kepadanya bahwa sekarang pilihan terserah kemauan masing-masing.

Akhirnya ia dengan empat orang temannya bergabung dengan pasukan PPRI di Seberang Padang.

*
Suatu pagi jam sembilan, kira-kira bulan April tahun 1958.
Sebuah pesawat terbang meraung-raung di atas kota Padang.
Pesawat itu menerjunkan pasukan di sekitar Bandar Udara Tabing.
Terjadi tembak menembak terjadi disana. Di Tabing pasukan PRRI hanya berintikan tentara mahasiswa Universitas Andalas yang memang markasnya di Air Tawar.
Pasukan PPRI yang memang tentara organik hanya beberapa orang. Karena seminggu yang lalu pasukan dikonsentrasikan di Kuranji dan Muaro serta Seberang Padang dan juga sekitar Bungus.

Banyak tentara mahaiswa ini yang jadi korban.
Tabing dan Air Tawar segera dikuasai oleh tentara pusat.

Begitu juga di pantai Tabing. Beberapa pasukan tentara pusat telah mendarat dengan menggunakan kapal kecil milik penduduk.
Dan mereka juga mendaratkan pasukan di Ulak Karang.
Pasukan Marinir mendarat dengan kapal amphibi.
Pasukan payung Banteng Raiders mendarat di pelabuhan udara Tabing.

Pasukan APRI tersebut segara menguasai keadaan. Tidak ada perlawanan dari PRRI.
Pada bulan July tahun 1958 itu terjadi tembakan besar-besaran dari kapal angkatan laut APRI ke pantai Padang dan Muaro.
Begitu juga di pelabuhan Teluk Bayur.
Teluk Bayur juga segera jatuh.

Tentara PPRI malahan mundur kearah Indarung dan terus ke Solok.
Tidak ada perlawanan. Jadi waktu itu bukan terjadi perang sebenarnya. Walaupun ada beberapa pertempuran kecil antara tentara rimba sebutan untuk tentara PPRI dengan tentara pusat untuk sebutan tentara APRI, namun selalu PRRI melarikan diri.
Yang terjadi adalah penumpasan tentara pemberontak oleh tentara pemerintah Sukarno yang dipimpin oleh Ahmad Yani yang terkenal dengan Operasi 17 Agustus.

Rupanya pendaratan dan penyerbuan ini sudah diketahui oleh pasukan Ahmad Husein. Mereka menyingkir ke Singkarak dan Solok untuk menghindari pertempuran di kota Padang, yang bilamana terjadi akan banyak megorbankan penduduk sipil.

Ia dan temannya satu regu segera menaiki bukit di belakang Seberang Padang. Mereka terus ke Gunung Pangilun. Dan terus naik ke Solok. Dan terakhir mereka menyusuri Danau Singkarak. Dan berhenti di sebuah desa yaitu Sumpur.

*
Sebuah penyerangan.
Malam hari oleh komandan yang berpangkat kapten diadakan rapat darurat disebuah hutan di seberang Batang Anai.
Mereka merencanakan sebuah penghadangan.
Ia sendiri lupa tanggalnya peristiwa itu, kalau tidak salah sekitar bulan Oktober tahun 1958.
Mereka ada sekitar tiga ratus orang lebih. Mereka gabungan dari pasukan ex mahasiswa dan tentara asli. Dan mereka juga memanggil beberapa bekas tentara Heiho jaman Jepang tahun 1945. Seperti Pak Karya yang terkenal dengan penembak jitu sewaktu jadi Heiho.

Oleh komandan mereka diperintahkan malam ini harus bergerak ke sebuah titik di daerah BTT.
Mereka sudah dapat laporan intelijen bahwa sepasukan mobrig akan berangkat pagi-pagi dari Padangpanjang menuju Padang.
Mereka akan menghadang dan menghancurkan mobrig itu dan merebut senjata mereka.

Ia ingat betul malam itu.
Mereka berangkat dari sebuah kampung dan menyeberangi Batang Anai dari Anduring terus mudik ke Lubuak Gadang.
Pada malam hari sewaktu kendaraan sepi mereka menyeberangi jalan raya menuju rel kereta api.
Jalan raya itu adalah jalan raya yang persis didepan rumahnya sekarang.

Dari rel kereta api mereka menuju stasiun Kandang Empat.
Mereka sampai di stasiun jam dua belas tengah malam. Di sini pasukan istirahat melepas lelah.
Sekitar satu jam kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju titik yang telah ditentukan.
Mereka sampai persis jam satu tengah malam di tempat disitu.
Kembali komandan mengingatkan akan tugas mereka. Mereka lalu disebar ke beberapa titik penghadangan. Pasukan inti ditempatkan di seberang bukit persis di depan pohon Kubang. Disitu ada dua pohon Kubang.
Yang lain ditempatkan setiap lima puluh meter di sisi utara. Dan pasukan terakhir sebagai pasukan penyapu ditempatkan di parit di tanjakan jalan.

Ia berada pada pasukan penyapu.

Ia ingat betul sekitar jam setengah enam telah terdengar deru mesin truk pembawa pasukan mobrig melewati kelok setelah air terjun Lembah Anai.
Kemudian terjadilah penghadangan itu. Segera terjadi tembak menembak. PPRI dibalik bukit dan semak, sedangkan mobrig di sepanjang jalan setelah berlompatan dari atas truk.
Truck mobrig mereka tembaki dengan bazooka dan senapan mesin.
Korban berjatuhan pada mobrig. Mereka tidak menyangka akan dihadang ditempat itu. Puluhan yang menjadi korban.

Setelah selesai penghadangan, semua pasukan kembali bergerak ke arah Tandikek.
Dan akhirnya terus melanjutkan perjalanan ke pos terakhir PRRI sekitar gunung leter W di atas danau Maninjau.
Disinilah ia bertempat tinggal dengan lima belas orang anggotanya menunggu perintah selanjutnya.

Disini ia ingat terjadi peristiwa lain yang amat membekas di hatinya.

*
Ia punya seorang pemuda yang merupakan sepupunya di kampung.
Aripin namanya.
Aripin bersekolah di STM di Bukittinggi. Karena terjadi peristiwa pemberontakan, buat sementara sekolah di liburkan.
Aripin kembali ke kampungnya di Kandang Empat.
Suatu hari sepasukan OPR melakukan pembesihan di desa Kandang Ampek.
Aripin dan berapa pemuda pengangguran sedang main kartu domino di kedai nasi Dibawa Untung.
Letnan Bahar Kirai, komanda OPR turun dari jeep. Dia diikuti lima orang anak buahnya.
Aripin dan teman-teman ditanyai tentang PPRI. Apakah mereka ikut pasukan PPRI. Mereka menjawab bukan, mereka adalah pemuda kampung biasa yang kerja di kedai nasi itu.
Aripin yang kelihatan gagah, maklum ia seorang pelajar STM, menjawab dengan lancar. Dan ia mengatakan bapak jangan asal menuduh kami pemberontak.
Rupanya jawaban Aripin membuat Letnan Bahar Kirai tersinggung. Ia segera menampar pipi Aripin dua kali. Aripin kesakitan dan lari kesudut ruangan. Seorang anak buah Bahar segera mau menembak Aripin. Tapi untunglah senjatanya ditepis Bahar dan selamatlah jiwa Aripin waktu itu.

Peristiwa itu rupanya membakar semangat Aripin untuk ikut memberontak.
Kebetulan Mansur, demikian nama orang tua itu waktu masih jadi tentara pulang kerumah ibunya di Kandang Ampek.
Aripin diberi tahu oleh adiknya Syamsuar bahwa uda Mansur lagi ke kampung malam ini. Aripin segera minat ijin ibunya mak Newar untuk lari ijok ke hutan. Mak Newar tidak mengijinkan waktu itu. Dia menangis menahan anak laki-laki sulungnya itu.
Tapi Aripin yang sudah dendam kesumat di dadanya akibat ditampar komandan OPR tempo hari, sudah tidak bisa dilarang lagi.

”Indak usahlah waang ikut ijok ke rimba Pin”, kata Mak Newar mencoba menahan langkah anak tuanya ini.

”Mak, hati awak sakik dek ditampar oleh OPR itu. Awak harus balaskan mak. Indak sanang hati awak sebelum dendam ini terbalas”, kata Aripin malam itu kepada ibunya.

”Hati mak, badatak Pin. Mak tidak mau terjadi apa-apa dengan waang”, kata Mak Newar sambil menangis.

”Jangan mak menangis. Awak sudah besar. Awak tahu menjaga diri. Lagi pula awak tidak takut mati mak. Kapan saja mati kata Tuhan, maka kita harus pergi. Lepaslah awak dengan do’a ya mak”, kata Aripin dengan mantap.

Akhirnya Aripin diam-diam menemui Mansur. Ia mengatakan akan bergabung dengan PPRI.
Akhirnya Aripin malam itu ikut dengan uda Mansur ke Tandikek. Dan mereka melapor ke markas di gunung leter W.

Selama tiga bulan Aripin berlatih memegang senjata dan cara berperang gerilya.

Memang ia melepaskan dendamnya segera. Sewaktu operasi di Tanjung Mutiara dan Bayur, ia membunuh banyak tentara OPR.
Aripin segera menjadi terkenal sebagai seorang prajurit PPRI yang pemberani.
Ia segera memegang sebuah senjata berat Brent.

*
Pak tua mengangkat mangkok kopinya. Udara senja mulai dingin. Pada bual-bulan mau memasuki bulan suci ini di kampung itu sering turun hujan. Malahan hujan turun setelah maghrib sampai tengah malam. Seakan hujan itu menguji keimanan penduduk desa itu untuk kepatuhan menunaikan shalat tarawih di mesjid.
Walaupun hujan penduduk terus dengan bertudungkan daun pisang menuju mesjid. Hujan dijadikan sebagai rahmat Tuhanyang harus disyukuri. Hujan mengairi swah yang terhampar luas di sekitar rumah.

Sudah lima puluh tahun kurang lebih peristiwa pemberontakan yang ia ikut berperan didalamnya itu terjadi.
Ia ingat betul sebuah peristiwa telah terjadi di sebuah tempat pos pengintaian di kaki gunung letter W.

Peristiwa yang menuntaskan sebuah dendam seorang pemuda yang telanjut sakit hati karena sebuah peristiwa besar. Yaitu peristiwa pemberontakan di Sumatera Barat itu. Karena peristiwa itulah yang melahirkan Organisasi Perlawanan Rakayt atau OPR bentukan tentara APRI untuk melawan tentara pemberontak.
Karena ditampar oleh komandan OPR Pariamanlah yang menyebabkan sebuah dendam terjadi.

Komandan pos B di dibalik munggu di bawah pohon lamin itu adalah kopral Aripin.
Ia membawahi lima orang anak buahnya. Mereka bertugas mengintai keberadaan APRI kalau ada operasi.

Hari itu tentara pusat atau APRI, sedang mengadakan sebuah operasi pembersihan.
Ia waktu itu sedang naik ke atas bukit untuk sebuah rapat konsolidasi.

Kira-kira jam tiga sore terdengar suara tembakan bersahutan di pinggang bukit dibawah. Ia tahu persis bahwa itu posisinya pos pengintai regu Aripin.
Tembak menembak memang tidak lama. Cuma kira-kira lima belas menit. Kemudian tembakan berhenti sama sekali.

Sejam kemudian kira-kira memasuki jam lima sore turun hujan lebat sekali di pinggang bukit itu.
Air hujan membuat jalan menurun kebawah menjadi licin.
Dengan mengendap-endap ia menuruni bukit melihat apa yang kejadian. Ia menyiagakan pandangan yang mulai tertutup kabut. Senjata Sten ditangannya siap untuk ditembakkan.
Kira-kira lima meter dari pos yang sudah habis terbakar, dia melihat sesosok tubuh tertelungkup. Darah masih mengalir dibawa air hujan dari tubuh itu.

Rupanya tentara APRI telah meninggalkan tempat itu.
Dia mendekat. Terlihatlah mayat seorang pemuda yang sudah cabik-cabik oleh peluru. Di punggungnya terlihat luka menganga lebar sekali. Baju cokelat seragamnya telah compang camping tertembus peluru. Celana hitam selutut yang jadi kebanggaan pemuda itu berlumuran darah.
Aripin telah gugur bersama dendamnya sore itu.

Kemana temannya yang lain?
Rupanya mereka sempat meloloskan diri melalui parit dibelakang pondok. Merka segera melarikan diri ke hutan lebat di pinggang bukit itu dan terus naik keatas menemui induk pasukan.
Merekalah yang bercerita bahwa mereka diserang sepasukan loreng APRI dengan tiba-tiba. Mereka mau lari dan mengajak komandannya Aripin.
Namun, Aripin menolak pergi. Ia mengatakan bahwa ia akan menuntaskan dendamnya sore itu.
Dan ia berdiri sambil menunggu pasukan loreng itu dengan menembakinya dengan Brent Gun. Ada beberapa anggota APRI yang terkena. Tetapi Aripin dihujani peluru banyak sekali oleh tentara pusat itu.

Akhirnya gugurlah ia sebagai seorang bekas pemberontak yang telah lunas membayar dendamnya sejak ditampar oleh OPR dulu.

Ia kembali keatas bukit untuk membawa beberapa anggota untuk memberi penghormatan terakhir kepada kopral Aripin yang gugur.
Jasad Aripin mereka kuburkan lengkap dengan bajunya yang berlumuran darah itu dibawah sebuah pohon lamin tua di bukit itu.
Nama Aripin mereka goreskan dengan sebuah bayonet pada batang lamin itu, berikut tanggal terjadinya peristiwa itu.

Munggu,17 April 1960. Disini dikuburkan kawan kami, Kopral Aripin.

Demikian goresan kenangan itu telah tertulis.

*
”Uda lagi mengapa kok minum gelas kosong”, tiba-tiba ia dikejutkan isterinya yang datang dari dalam rumah.

Upik, isterinya tahu bahwa suaminya melamun lagi. Upik tahu bahwa melamun peristiwa kenagan semasa pemberontakan dulu menjadi keasikan sendiri bagi suaminya. Kadang-kadang malahan suaminya menceritakan lengkap semua peristiwa yang dialami selama ijok ke hutan dulu.

Kedatangan Upik membuatnya tersenyum.
Ia sedang melamun tentang masa ketentaraannya dulu. Masa tatkala ia berjuang di hutan sebagai seorang pasukan pemberontak.
Masa pemberontakan yang berakhir atas penyerahan tanpa syarat seluruh anggota pasukan PRRI yang tersisa.
Ia yang juga ikut menyerahkan diri di Sungai Geringging tahun 1961.

Kemudian ia kembali ke kampung. Ia menjadi petani setelah itu.
Kemudian ia menikahi Upik, seorang putri Ulama di kampung itu.
Ia hidup di Kandang Ampek sebagai seorang bekas pemberontak.
Upik menemaninya sampai kini.
Hidup itu ia jalani dengan damai sampai masa tuanya.

Kenangan masa pemberontakan memang sewaktu-waktu datang menghampirinya.
Sama seperti kenangan senja ini. Yang terpicu ketika melihat dua orang berbaju loreng melintas di depan rumahnya.
Ia mulai beringsut.
Ia menuju ke tebat di belakang rumah untu mengambil wudhu.

Lalu ia shalat isya.
Sesudah shalat ia berdo’a.
Ia berdo’a untuk kawan-kawannya yang gugur selama masa pemberontakan.
Untuk Aripin ia berdo’a juga.
Tak terasa dua bulir air mata menetes di pipinya yang sudah keriput.

Sumber

PRRI, Protes Si Anak Tiri Dan Catatan Luka Urang Awak (1)

image

Kita buat organisasi. Kita gertak Soekarno sampai kelak dia undang kita untuk membicarakan nasib bangsa ini.”—- (Kolonel Ahmad hussein, ketua dewan Banteng)

Kota padang, 20 februari 1958, seorang laki laki berpakaian militer berpidato dengan berapi api di depan rapat umum di kota tersebut. Dengan lantangnya laki laki betubuh tegap ini berkata: “Apabila saudara-saudara tidak mendukung perjuangan PRRI, maka saat ini juga saudara-saudara boleh menangkap saya dan menyerahkan saya ke pemerintahan Soekarno…!!!” seraya mencopot dan membanting tanda pangkatnya ke tanah. Nampaklah sekali dia sangat gusar saat berpidato itu, wajahnya memerah karena menahan amarah di dalam dada. Rasa kesal, marah, kecewa bercampur aduk di dalam dirinya saat itu. Pemerintah pusat melalui Perdana menteri Ir. Djuanda menuduhnya sebagai seorang pemberontak dan memerintahkan KASAD untuk memecatnya dan teman teman kolonel seperjuangannya dari dinas kemiliteran. Sebagai seorang tentara yg telah malang melintang berjuang semasa revolusi fisik dahulu dia merasa sangat terhina ditantang tantang oleh seorang sipil seperti Djuanda, tak pedulilah kiranya ia seorang Perdana menteri sekalipun.

Seorang laki laki berkopiah dan bertongkat lalu menyabarkan dia, di tepuk tepuknya pundak kolonel muda ini. Disabarkannya seraya disuruhnya sang kolonel mengucapkan istighfar, lalu dipungutnya tanda pangkat yg dibuang tadi dan dipasangkannya kembali ke pundak sang kolonel. Rapat umum di kota Padang itu benar benar mengharu biru gegap gempita, belum pernahlah rasanya orang Minang merasa sedemikian terhina seperti saat itu. Mereka di cap sebagai pemberontak saat yg dilakukannya hanyalah meminta hak mereka sebagai anak dari ibu pertiwi ini dan mengkoreksi sang paduka nan mulia di Jakarta sana yg sedang asyik masyuk terlena dengan egoismenya. Laki laki berseragam militer ini lalu menyudahi pidatonya yg berapi api setelah menyatakan tidak takut kepada ancaman pemerintah pusat yg telah mengangkangi konstitusi dengan membubarkan dewan konstituante hasil pemilu yg sah. Dia juga membalas menuding Djuanda sebagai penjilat Soekarno dan komprador para komunis di sisinya. Siapakah laki laki yg dengan berani mengacungkan kepalannya kepada pemerintah pusat ini…? dia adalah Kolonel Ahmad hussein sang harimau Kuranji.

Harimau kuranji sang pengawal PDRI, punggawa proklamasi 17 agustus di masa pelarian

Ahmad Husein dilahirkan di Padang pada 1 April 1925, dalam lingkungan keluarga usahawan Muhammadiyah. Pada tahun 1943 di usia yang masih sangat muda (18 tahun), Husein bergabung dengan Gyugun. Berkat kecerdasan dan keterampilannya, ia menjadi perwira termuda Gyugun di Sumatera Barat. Pada saat revolusi, Hussein aktif merekrut anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan menjadikan rumah orangtuanya sebagai markas sementara BKR. Selanjutnya, perannya dalam perjuangan makin menonjol ketika ia menjadi Komandan Kompi Harimau Kuranji dan kemudian Batalyon I Padang Area. Pasukan Harimau Kuranji begitu populer karena keberaniannya di medan pertempuran menghadapi Inggris dan Belanda/ NICA. Meroketnya Divisi IX/banteng sebagai kesatuan terbaik di Sumatera pada masa revolusi fisik membuat karier militernya segera meroket. Pada pertengahan tahun 1947 terjadi reorganisasi tentara, Husein dipromosikan menjadi Komandan Resimen III/Harimau Kuranji yang membawahi tiga ribu pasukan. Kekecewaan Ahmad Husein dan kawan-kawan bermula ketika Tentara Republik Indonesia (TRI) berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Konsekuensinya, terjadi efisiensi berupaya penyusutan jumlah anggota besar-besaran. Husein sendiri merelakan dirinya turun pangkat dari Letkol ke Mayor.

image

Di masa inilah tentara kerajaan Belanda melancarkan agresi militernya yg ke II. Kekuatan  Republik yg memang telah lemah akibat perjanjian Renvile dikejutkan oleh sebuah aksi militer mendadak tepat ke jantung ibu kota Yogyakarta. Pagi pagi buta, saat kekuatan militer lengah Jenderal Spoor menurunkan pasukan terjun payungnya di lapangan terbang Maguwo. Dalam waktu singkat ibu kota Yogyakarta berhasil dikuasai, bahkan presiden Soekarno, wakil presiden merangkap Perdana menteri Mohammad Hatta beserta beberapa orang menteri lainnya ditangkap dan ditawan Belanda. Sementara itu PB. Jenderal Soedirman melarikan diri keluar kota untuk memulai perang gerilya. Seluruh kekuatan Indonesia baik sipil maupun militer lumpuh total dan republik yg masih sangat muda saat itu nyaris tamat riwayatnya. Beruntunglah beberapa jam sebelum ditawan presiden Soekarno sempat mengirim kawat kepada menteri kemakmuran MR. Syafrudin prawiranegara yg saat itu sedang berada di Bukit tinggi untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia, disingkat PDRI.

Perjalanan PDRI selanjutnya jelas tak mulus, Syafruddin dan kawan-kawan terus diburu Belanda yang tak senang dengan berdirinya pemerintahan baru. Roda pemerintahan terpaksa digerakkan dengan cara bergerilya di hutan-hutan Sumatera Barat. Selama berada di hutan, mereka mengandalkan budi baik masyarakat yang kerap mengirimi mereka nasi bungkus untuk menunjang hidup. Pada masa agresi militer Belanda II ini Ahmad hussein bersama anak buahnya berhasil mengamankan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dari serangan Belanda. Kontak bersenjata menghadapi Belanda beberapa kali terjadi. Dalam pertempuran di Lubuak Selasih 11 Januari 1949, pasukan Hussein memperoleh kemenangan. Namun upaya Syafruddin menyelamatkan bangsa dari ketiadaan pemerintahan boleh dikata berhasil. Melalui pemancar radio di Koto Tinggi, PDRI telah membukakan mata internasional untuk mengakui kedaulatan RI. Ahmad hussein dan kompi Harimau kuranjinya yg ikut keluar masuk hutan mengawal PDRI kadang harus kucing kucingan dengan patroli Belanda. Tak jarang pula mereka musti babak belur bahkan lari lintang pukang bersama MR. Syafrudin untuk menyelamatkan diri karena jika tertangkap itu artinya selesai pulalah NKRI yg diproklamasikan 4 tahun yg lalu. Beruntunglah seluruh rakyat di ranah Minang kala itu membantu mereka seratus persen. Tak ketinggalan pula peranan ulama dan niniak mamak (*pemangku adat) juga tak kepalang besarnya dalam membantu mereka saat itu. Sebuah perjuangan yg mengharu biru, tak kalah mengharu birunya dengan kisah gerilya PB. Soedirman di pulau Jawa.

Akhir tahun 1949 Agresi militer Belanda berhenti, Soekarno dan Hatta dibebaskan, PBB mengakui kedaulatan Indonesia. Seiring keberhasilan ini, cerita tentang PDRI juga ditutup dengan happy ending yang mengharu-biru. Setelah dijemput oleh Muhammad Natsir ke Payakumbuh, MR. Syafruddin prawiranegara berangkat ke Yogyakarta untuk mengembalikan mandat pemerintahan kepada Presiden Soekarno. Di Lapangan Koto Kaciak, keberangkatan Syafruddin dilepas dengan tangis haru ribuan masyarakat dan para pejuang yang telah berbulan-bulan keluar masuk hutan demi menyelamatkan PDRI. Alhamdulillah…, atas berkat pertolongan Allah nan maha pengasih jualah kiranya republik ini dapat diselamatkan. Pemerintahan kembali ke tangan dwi tunggal Soekarno – Hatta dan selesailah riwayat PDRI. Tak ada satu orangpun yg hadir pada saat penyerahan mandat itu menyangka kalau orang orang yg baru saja keluar masuk hutan dalam rangka menyelamatkan dan melarikan republik itu 10 tahun kemudian terpaksa keluar masuk hutan kembali. Namun kali ini bukan sebagai pejuang, namun sebagai orang orang yg di cap sebagai pemberontak dan harus segera ditumpas keberadaannya dari bumi pertiwi yg mereka bela mati matian ini. Benarlah adanya kata pepatah: Hujan sehari, dapat mengapus panas selama setahun…, gara gara nila setitik maka rusaklah susu sebelanga.

Awal mula kekecewaan  si anak tiri

Tersebutlah kiranya masa itu 1956 angka tahunnya, Indonesia tercinta ini saat itu telah 11 tahun merdeka adanya. Ranah Minang nan elok, nagari nan diapit gunung Merapi dan gunung Singgalang mulai berbenah mengobati luka luka akibat revolusi fisik. Hijau ranaunya nagari “darek” (*daerah Minang pegunungan dan pedalaman), curam dan terjalnya tebing tebing serta landainya pantai di nagari “pasisia” (*daerah pesisir ranah Minang) mulailah membenahi diri untuk menyongsong hari depan yg lebih baik. Banyaklah kiranya ketinggalan yg harus dikejar, banyak pula kain sobek nan perlu dijahit agar si buyuang dan si upik merasakan manisnya kue kemerdekaan dan legitnya sebuah kata berbunyi “pembangunan”. Agar tiadalah sia sia darah anak nagari tumpah di bumi pertiwi ini, agar tiada sia sia pulalah air mata bundo kanduang meratapi mayat si buyuang nan tertembus peluru “urang Balando”. Agar tiada terbuang percuma jualah adanya doa dan restu para ulama dan para angku niniak mamak, Minang sakato harus maju basamo pulo.

Namun apa daya, untung tak dapat di raih malangpun tak dapat dicegah. Keadaan ranah Minang tiadalah banyak berubah dari masa penjajahan dulu. Masyarakatnya tetaplah miskin, bahkan tak sedikit yg kelaparan, tak bergerak kondisinya dari masa nan telah lewat. Kesehatanpun tiadalah pula membaik, bahkan di masa masa setelah PDRI menurut cerita ayah saya merebaklah penyakit tukak “nambi”, sebangsa penyakit eksim yg sulit dicari obatnya. Sementara penyakit cacar air dan  cacing tambangpun merajalela menjangkiti anak nagari yg menjadi harapan kelanjutan negeri ini. Perumahanpun sulit di dapat, jangankan bagi orang sipil, bagi eks tentara yg ikut berjuang sajapun sulit adanya. Rakyat terpaksa hidup besempit sempit di rumah yg kecil sementara mereka terus beranak pinak. Rasanya kosong hampalah adanya janji janji manis kemerdekaan yg kerap kali di dengung dengungkan di masa revolusi fisik dahulu itu. Alam kemerdekaan ternyata tak seindah yg diharap harap dan dibayangkan, bahkan nyaris tak ada bedanya dengan masa penjajahan.

Sebuah hal yg sangatlah ironis adanya karena di kala itu nyatanya hasil bumi tanah Minang kabau berupa karet, beras, kopra dan minyak bumi melimpah adanya. Namun Semua pajak dan kekayaan diangkut oleh pemerintah pusat ke Jawa sementara anak nagari diam terpaku menahan lapar dan dahaga. sementara itu nun jauh di seberang selat sunda sana sedang dibangun proyek proyek mercusuar seperti Monas dan tugu pancoran atas perintah sang paduka presiden yg mulia, yg uangnya tentulah dikeruk dari bumi pulau sumatera dan lainnya. Maka orang Minang saat itu laksana anak tiri yg diabaikan beberadaannya, tak diberi kesempatan mencicipi manisnya kue pembangunan yg semuanya dilakukan di Jawa.  Bahkan gubernur sumatera tengah (*meliputi sumatera barat dan Riau sekarang) pun dijabat oleh seorang Jawa bernama Roeslan Mulyoharjo, “urang jawo” kalau bahasa pasaran urang awaknya. Jadi wajarlah kiranya kalau di masa itu ada sebuah perasaan di dada mereka bahwa setelah kepergian Tuan Belanda maka datanglah Tuan jawa. Wajar pulalah jika mereka merasa harga diri mereka seakan dipentalkan ke belakang, hasil tanahnya dibawa ke tanah seberang sementara anak nagari menderita hidup berkekurangan. Anak nagari yg juga babak belur memperjuangkan republik ini tentulah merasa dianak tirikan karena tak dapat mencicipi manisnya kue kemerdekaan seperti saudaranya di pulau Jawa.

image

Sementara itu sang paduka yg mulia presiden Soekarno semakin asyik masyuk dalam mimpi mimpi revolusionernya. Gaya berpolitik dan kebijakannya semakin condong ke arah kiri, blok timur, Peking di Cina dan Moskow di Russia. DN Aidit, Lukman dan Njoto, triumvirat PKI semakin mendapat tempat di sisinya, menjadi orang orang kepercayaannya. Warnanya semakin memerah, Kruscev digandengnya, Chou en lai di gamitnya, menjauhi yg putih dan hijau yg dari dulu setia membela dan mendukungnya. Rupanya telah lupalah adanya sang putera fajar ini bahwa baru 8 tahun yg lewat sajalah dia berpidato berapi api di depan corong RRI Yogyakarta menyerukan rakyat untuk memilih Soekarno – Hatta atau PKI Musso?. Saat Madiun affair terjadi, saat para ulama yg merestuinya sebagai pemimpin negeri muslim ini digiring ke pejagalan, disiksa dan digorok lehernya sampai mati. Kebijaksanaannyapun semakin cenderung otoritarian bagaikan raja raja jawa yg mana sabdanya adalah laksana keputusan dari Tuhan yg maha kuasa, tak boleh dibantah apalagi ditentang adanya.

Hal ini membuat Hatta sekalipun manjadi semakin jengah dengannya, semakin merasa tak lagi sejalan dengannya dan menjauh darinya. Namun putera asli Bukit tinggi ini lebih memilih untuk mundur daripada harus berseteru dengan kawan seperjuangannya ini. 1 Desember 1956 dia resmi melepaskan jabatannya, namun Surat pengunduran diri Hatta sebenarnya sudah dikirim jauh-jauh hari sebelum itu yaitu pada 20 Juli 1954. Dwi tunggal Soekarno-Hatta yg menghantarkan Indonesia ke gerbang kemerdekaannya itu, yg reputasinya melegenda bahkan nyaris menjadi mitos itu , mulai hari itu juga resmi tanggal, berselisih faham berpisah jalan selamanya. Dan walaupun banyak usaha yg dilancarkan berbagai fihak agar mereka berdamai, agar Hatta kembali ke pemerintahan, agar dwi tunggal kembali bersatu menjadi nahkoda bangsa ini, tapi apa daya… biduk telah terlanjur terlongsong ke tengah lautan, sulit rasanya kembali ke tepian. Lalu Ketika Soekarno membubarkan konstituante yang dipilih rakyat pada pemilu 1955 dan mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Hatta melihat Demokrasi sampai pada tahap yang membahayakan. Konstituante di bubarkan Soekarno sebelum tugasnya menyusun Undang-Undang Dasar rampung. Hatta melihat hal itu dengan prihatin dan menganggap telah terjadi krisis Demokrasi. Bung Hatta kemudian menulis buku Demokrasi kita tahun 1960 dan dimuat di majalah Panji Masyarakat yang dipimpin Hamka. Soekarno marah karena isi buku tersebut  dianggap menentang kebijakannya. Selain dilarang terbit, majalah Panji Masyarakat juga dilarang untuk dibaca, dilarang untuk disimpan, dan dilarang keras untuk menyiarkan buku tersebut, dan barang siapa yang tidak mengindahkan larangan itu diancam hukuman berat. Padahal “Demokrasi Kita” merupakan hasil pikiran brilian salah seorang Proklamator kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 itu sendiri.

Rengekan dan protes si anak tiri nan tak diindahkan oleh ayahnya sendiri dan marahnya para banteng ranah Minang

Syahdan para eks divisi Bantengpun merasakan hal yg sama, prihatin dengan keadaan ranah Minang dan daerah daerah di luar Jawa yg semakin sengsara. Apalagi setelah restrukturisasi militer Divisi banteng nan gagah berani, yg ditakuti lawan dan disegani oleh kawan ini terpaksa rela di pangkas sedemikian rupa personilnya. Sebagian dari mereka dipensiunkan dini, seperti Kolonel Ismail lengah yg ditakuti oleh NICA di masa revolusi fisik dahulu. Sebagian lagi ditarik ke Jakarta dan sementara sisanya dilebur kedalam Divisi lain seperti Divisi Siliwangi sehingga tercerabut dari akarnya, terpisah dari induknya di Sumatera. Banteng yg dulu gagah dan sakti mandraguna itu kucar kacir personilnya, seakan dipaksa untuk rela dipotong kedua tanduknya dan bahkan bak digiring ke pejagalan saat statusnya diturunkan menjadi sebuah Brigade saja, yaitu Brigade Banteng dibawah pimpinan Letnan kolonel Ahmad Hussein. Sementara itu kekuatan militer nun jauh di seberang selat sunda sana dipupuk, dikembangkan dan dibangun sedemikian rupa. Maka tersebutlah Divisi Diponegoro, Brawijaya dan Siliwangi nan begitu besar dan lengkap persenjataanya. Bagaikan tungau dan seekor gajahlah kiranya jika jumlah personil dan persenjataannya dibandingkan dengan divisi Banteng yg tersisa, padahal Pulau Sumatera nyaris dua kali lipat pulau Jawa besarnya.

Keprihatinan ini memicu mereka para eks Divisi Banteng ini kemudian melakukan reuni untuk membicarakan nasib daerah asal mereka dan seluruh Indonesia pada umumnya. Rencana reuni dimatangkan dalam dua kali pertemuan, yg pertama dilaksanakan di Jakarta pada 21 September 1956 sedangkan yg Kedua di Padang, Sumatera Barat, pada 11 Oktober 1956. Namun reuni resminya sendiri akhirnya terlaksana di Padang tanggal 20 hingga 24 Nopember 1956. Reuni dihadiri sekitar 612 perwira aktif dan pensiunan ini kemudian penuh sesak dengan keluhan dan pembahasan mengenai keadaan sosial, politik dan ekonomi saat itu. Hasilnya reuni kemudian membuat sejumlah rekomendasi, yakni perbaikan masalah kepimpinan negara secara progresif dan radikal, perbaikan kabinet yang telah dimasuki unsur komunis, penyelesaian perpecahan di tubuh Angkatan Darat, pemberian otonomi seluas-luasnya kepada Sumatera Tengah, serta menghapuskan birokrasi sentralistik. Rekomendasi ini dinamakan tuntutan Dewan Banteng. Anggota Dewan Banteng ini berjumlah 17 orang, diambil dari angka tanggal proklamasi agar nyatalah adanya bahwa mereka sedang memperjuangkan cita cita proklamasi 17 Agustus. Anggotanyapun tiadalah hanyalah orang orang eks Divisi Banteng yg notabene dari kalangan militer saja, melainkan juga dari kalangan sipil pemerintah daerah, alim ulama, cadiak pandai (*para cendikiawan), dan niniak mamak (*pemangku adat). Ini menandakan bahwa perjuangan Dewan Banteng ini di dukung oleh seluruh elemen masyarakat Minang, seluruh partai kecuali PKI, dan seluruh urang awak tanpa terkecuali. Dan memang begitulah kenyataannya, seluruh anak nagari mendukung perjuangan Dewan Banteng yg sedang berusaha menuntut hak mereka kepada pemerintah pusat ini, sehingga waktu itu lahirlah semboyan,” timbul tenggelam bersama Dewan Banteng”.

Tapi alih alih memenuhi dan mengkoreksi diri sendiri setelah membaca rekomendasi yg diberi nama “Tuntutan Dewan banteng”  ini, Perdana menteri Ir. Djuanda beserta segenap anggota kabinet dari PNI dan PKI malah menganggapnya sebagai pemberontakan. Kolonel Ahmad Husein, ketua Dewan Banteng, langsung membantah tuduhan ini. Ia berpidato berapi api di depan corong RRI Padang, mengutarakan bahwa perjuangan Dewan Banteng bukan untuk memberontak, namun justru untuk membela keutuhan Republik Indonesia dan menegakan konstitusi. Dewan Banteng menilai Soekarno telah mengkhianati konstitusi dengan membubarkan konstituante. Selain itu dia juga mengecam Soekarno  karena kian memihak kepada komunis, membangun proyek proyek mercusuar dan menutup mata pada kesengsaraan rakyat terutama yg berada di luar Jawa. Surat rekomendasi itu sendiri baru diterima oleh presiden Soekarno saat dia sampai di Jakarta setelah kembali dari cutinya selama 2 minggu. Sungguh kenyataan yg ironis, disaat negara sedang bergolak maka paduka yg mulia pemimpin besar revolusi malah sedang asik menikmati gerak gemulainya tarian seorang gheisha yg kelak dikenal dengan nama Dewi Soekarno, isteri terakhir sang proklamator tersebut. Soekarno hanya tersenyum saja saat membaca surat rekomendasi tuntutan Dewan banteng yg kemudian hari memicu dibentuknya dewan dewan lainnya di daerah lain seperti Dewan Garuda di Sumatera Selatan (Kol. Barlian), Dewan Gajah di Sumatera Utara (Kol. Simbolon), dan Permesta di Sulawesi (Kol. Ventje Samual). Bagi Soekarno para kolonel tersebut hanyalah anak anak nakal yg sedang merengek rengek dan bertindak nakal sehingga perlu sedikit dijewer telinganya. Soekarno memang selalu memposisikan dirinya sebagai ayah di hadapan perwira perwira militer, angkatan darat khususnya.

Beberapa ikhtiar untuk mendamaikan konflik pusat dan daerah telah dilakukan, baik lewat lobi-lobi pribadi maupun lewat forum terbuka nasional seperti Munas bulan September 1957, Piagam Palembang dan lain-lain. Namun apalah daya, semua usaha itu mentah akibat sebuah kejadian yg menimpa Soekarno pada malam tanggal 30 November 1957. Saat menghadiri ulang tahun sekolah anaknya di Cikini seseorang melempar granat ke mobilnya. Paduka presiden seumur hidup itu selamat namun kejadian itu membuatnya merubah sikapnya yg semula agak lunak menjadi sangat keras terhadap lawan lawan politikya. Peristiwa yg dikenal dengan nama peristiwa Cikini itu menjadi salah satu alasannya untuk menangkapi lawan lawan politiknya dan otomatis itu artinya juga membalas protes para kolonel PRRI/Permesta dengan sebuah tindakan yg tegas. Keadaan ini dimanfaatkan oleh orang orang PKI untuk memukul telak lawan lawan politiknya yg selama ini menjadi duri dalam daging yg mengganjal hubungan antara mereka dan Soekarno.

Pasca peristiwa Cikini keadaan Jakarta bagaikan bara nan dapat meledak dan membakar siapa saja yg bertentangan dengan sang pemimpin besar revolusi. Fitnah yg berhembus entah dari mana menimpa setiap lawan politiknya terutama yg terkenal sangat memusuhi PKI. Rumah MR. Mohammad roem di Jakarta dikepung massa, untunglah dia beserta keluarganya dapat menyelamatkan diri lepas dari kepungan massa yg di sinyalir digerakkan oleh unsur unsur Pemuda rakyat dan SOBSI, organisasi underbouwnya PKI. Hal yg sama juga dialami oleh para tokoh Masyumi yg saat itu menjadi lawan politik Soekarno seperti Mohammad Natsir, mereka lalu mengungsi ke Sumatera dan bergabung dengan Dewan banteng. Hal ini sangatlah wajar jika mengingat sumatera tengah adalah basis massa Masyumi dan nyaris terbebas dari unsur unsur PKI sehingga mereka merasa aman dari ancaman orang orang PKI yg bersembunyi dibalik nama soekarnois. Bahkan seorang tokoh Partai Sosialis Indonesia (*PSI) yg juga menjabat menteri keuangan yg dituduh korupsi oleh pihak militer juga ikut mengungsi ke Sumatera dan bergabung dengan Dewan Banteng. Maka berkumpulah para lawan politik Soekarno dan orang orang PKI yg sedang menjadi benalu di sisinya di Sumatera tengah untuk melancarkan perlawanan terhadapnya.—— bersambung ke bagian 2—–  (*Liga chaniago, akhir agustus 2013)

Sumber

Terkait : PRRI, Protes Si Anak Tiri Dan Catatan Luka Urang Awak (1)

PRRI, Protes Si Anak Tiri dan Catatan Luka Urang Awak (2)

image

Kok bakisa duduak jan bakisa dari lapiak nan salai, kok bakisa tagak jan bakisa dari tanah nan sabungkah” (*kalau ingin melihat dan memutuskan sebuah permasalahan maka janganlah hanya melihat dari hal hal kecil yg biasanya hanya bersifat emosional saja). —- (*Bung Hatta)

Rasa frustasi PKI yg nyaris tak laku di bumi Minang kabau

Pembubaran PKI dan hengkangnya mereka dari kabinet adalah salah satu agenda utama rekomendasi dan tuntutan Dewan Banteng kepada Soekarno. Sebagai orang Minang yg sedari kecil di didik dengan suasana agama (*baik yg tradisional maupun yg pembaharu) tentunya PKI yg konon anti Tuhan itu tentunya sangatlah di waspadai keberadaannya oleh Kolonel Ahmad hussein cs. Apalagi di masa lalu partainya kaum merah ini pernah pula menunjukkan taringnya di Silungkang, pemberontakan pertamanya yg tak sedikit memakan korban orang orang tak berdosa. Keberadaan PKI di sisi Bung karno juga dituding oleh mereka sebagai penyebab semakin condongnya Indonesia ke blok timur dan menjadi penyebab pecahnya konflik intern di tubuh Angkatan Darat. Sebagai perwira perwira yg anti komunis mereka sangat menyadari bahwa di tubuh militer telah banyak yg terjangkit faham marxisme. Dan hal ini berkat menyusupnya para agitator dan propagandis PKI yg berkedok sebagai seorang Soekarnois ke dalam tubuh militer semenjak masa revolusi fisik dahulu.

PKI pun tiadalah kurangnya benci kepada para kolonel dan politisi dari partai Masyumi yg berbasis massa di Sumatera. Masyarakat ranah Minang yg adatnya basandikan syara’ dan syara’ basandi kitabullah membuatnya sulit untuk ditembus oleh PKI. Islam bukan hanya sebuah agama belaka di bumi Andalas ini melainkan juga falsafah hidup dan ideologi bagi masyarakatnya. Walaupun tentulah tetap ada PKI di Minang namun keberadaannya sangatlah minoritas adanya jika dibandingkan partai Islam seperti PERTI dan Masyumi. Semua propaganda khas kaum komunis seperti kemiskinan dan perlawanan buruh dan tani tiadalah laku dijual di sana. Isu isu khas agitasi PKI seperti reformasi agraria dan ganyang 7 setan desa tiada jualah laku adanya  seperti di pulau Jawa.  Hal ini bukan karena rakyat di Minang kabau kaya dan mapan sehingga tak mampu dibakar oleh isu isu kemiskinan seperti lazimnya di negeri negeri yg menjadi lahan subur tempat tubuhnya faham komunis. Melainkan karena sistem adat berwaris dari mamak (*paman) kepada kemenakan dan dibaginya harta waris menjadi pusako tinggi dan pusako randahlah yg membuat orang Minang seakan kebal terhadap isu isu kepemilikan tanah yg biasa digadang gadangkan PKI.

image

Pusako tinggi adalah tanah dan harta benda yg diturunkan secara turun temurun sejak masa nenek moyang dahulu dan tidak boleh diperjual belikan dengan alasan apapun. Sedangkan pusako randah adalah harta (*bisa berupa tanah atau yg lainnya) yg merupakan hasil pencaharian seorang Ibu dan Ayah selama masa pernikahan mereka, harta pusako randah inilah yg dapat dibagikan menurut ketentuan agama Islam. Hal ini membuat tiadalah satu orang Minangpun jua yg tidak mempunyai tanah atau sawah, sehingga dengan demikian tiadalah tuan tanah dan buruh tani atau petani penggarap disana. Setiap orang Minang pastilah mempunyai tanah yg ia dapatkan secara turun temurun betapapun miskinnya orang tersebut. Tanah pusako adalah pertanda bahwa seseorang itu adalah seorang Minang asli, yg punya kaum dan sanak saudara di nagari singgalang tersebut.

Memang ada kaum niniak mamak disana sebagai para bangsawan atau priyayi Minang, namun posisi mereka lebih kepada pemangku adat saja dan tidak mempunyai hak hak istimewa berupa tanah atau kekuasaan sosial, ekonomi dan politik seperti para bangsawan atau priyayi di Jawa. Maka dengan demikian isu konflik antara si kaya dan si miskin atau si priyayi dan si jelata nyaris tak laku dan tak bisa membakar orang Minang untuk bersimpati kepada PKI. Inilah yg membuat partai berlambang palu dan arit ini frustasi dan mempunyai dendam kesumat yg begitu dalam tidak hanya kepada kaum ulama namun  juga kepada kaum adat yg dengan rapat membentengi masyarakat bumi Andalas ini dari agitasi dan propaganda PKI. Dan dendam ini semakin berkecamuk di saat para Kolonel Dewan Banteng yg notabane sangat membenci mereka juga berkedudukan di ranah Minang, bersatu dengan para politisi Masyumi yg juga sangat anti kepada mereka. Maka lengkaplah sudah alasan bagi mereka untuk menghasut Soekarno yg sedang terlena dengan kekuasaan dan mimpi mimpi revolusinya untuk segera menumpas habis Dewan Banteng dan membubarkan Partai Masyumi yg menjadi pemenang ke 2 pada pemilu 1955.

Gertak sambal para kolonel yg berubah menjadi konfrontasi separuh hati

Tersebut pulalah sebuah daerah, sungai dareh namanya, hijau ranau alamnya, jernih dan deras sungai yg membelah daratannya, ramah tamah penduduknya. Di sinilah Dewan Banteng dan para politisi yg terbuang dari Jakarta mengadakan pertemuan mereka selanjutnya, konon sebuah pertemuan rahasia katanya. Tanggal 8 Januari 1958 harinya, rapat itu penuh sesak oleh rasa amarah dan kekecewaan yg membuncah meletup letup keluar dari dada pesertanya, sebagaimana perkumpulan orang orang sakit hati lazimnya. Dan selayaknya orang yg marah, maka kadang ucapannya tiadalah di fikirkannya, melainkan hanya menuruti nafsunya belaka. Memisahkan diri dari NKRI sempat terlontar dengan nada yg sangat emosional dari mereka, sebuah hal yg tiadalah di fikir masak masak oleh para kolonel muda ini. Untunglah, dalam rapat kedua tanggal 10 Januari 1958, tokoh tokoh tua yg lebih bijaksana meredam keinginan kalap para anak muda itu, NKRI tetaplah harga mati bagi mereka betapapun kekecewaan membuncah mencabik cabik dada. Buya Muhammad Natsir, Syafruddin Prawiranegara, dan Boerhanuddin Harahap, bisa meredam keinginan itu, meredakan api dalam dada mereka para kolonel muda. Rapat rahasia Sungai Dareh itu cuma menyempurnakan susunan pengurus Dewan Perjuangan saja, Alhamdulillah… yg muda masih mendengarkan nasihat yg tua tua.

image

Bung Hatta terkejut saat mendengar pertemuan di Sungai dareh itu, hatinya risau, dia faham betul karakter keras para kolonel muda itu dan dia khawatir dengan kekecewaan tokoh tokoh Masyumi yg berada di samping mereka hanya akan menambah buruk keadaan. Menanggapi rapat rahasia di Sungai Dareh itu, berkirim pesanlah sang proklamator ini kepada Dewan Banteng: ”Kok bakisa duduak jan bakisa dari lapiak nan salai, kok bakisa tagak jan bakisa dari tanah nan sabungkah” (*kalau ingin melihat dan memutuskan sebuah permasalahan maka janganlah hanya melihat dari hal hal kecil yg biasanya hanya bersifat emosional saja). Lalu  16 Januari 1958 Bung Hatta dan Syahrir mengutus orang kepercayaannya ke daerah-daerah bergolak seperti Dewan Garuda di Palembang dan Dewan Banteng di Padang. Utusan itu adalah Djoeir Moehamad, salah seorang anggota Dewan Pimpinan Partai Sosialis Indonesia (PSI). Pesan Bung Hatta dan Syahrir itu adalah: ”Pergolakan-pergolakan daerah di Indonesia dewasa ini (maksudnya: waktu itu) terjadi pada saat-saat sedang hangatnya berlangsung Perang Dingin antara Blok Komunis dan Blok Barat (termasuk Eropa Barat). Tidak tertutup kemungkinan, bahwa pergolakan daerah itu merupakan peluang bagi Blok Amerika untuk menungganginya, karena khawatir akan sikap Presiden Soekarno yang akrab dengan Blok Uni Soviet”. Ternyata kemudian, bahwa yang disinyalir oleh Bung Hatta dan Syahrir ini benar adanya. PRRI terperangkap ke dalam strategi intrik politik dan permainan spionase Amerika Serikat. Djoeir Moehamad juga menyampaikan pesan kepada Letkol Barlian, Ketua Dewan Garuda di Palembang dan Ahmad Husein, Ketua Dewan Banteng di Padang, bahwa suatu pemberontakan untuk membentuk Pemerintahan yang lain akan menimbulkan korban yang tidak sedikit, setidak-tidaknya akan mengakibatkan perkembangan daerah yang bersangkutan tertinggal selama satu generasi.

image

Demikianlah usaha Bung Hatta dalam meredam keinginan Dewan Banteng, membesarkan hati mereka, namun semua itu nampaknya sia sia adanya. Kolonel Ahmad Hussein sebenarnya menyadari bahwa yg dikatakan oleh Bung Hatta sangatlah benar adanya, namun tampaknya dia sudah kepalang tanggung, sudah kepalang di cap sebagai pembangkang, hingga ia berfikir bak seorang fatalis. Namun tetaplah pada dasarnya  tiadalah keinginan sang kolonel muda ini untuk memisahkan diri dari negara yg dulu dibelanya mati matian dengan bersabung nyawa. Ia mencintai negeri ini dengan segenap jiwa dan raganya, namun itu bukan berarti ia harus mengamini semua tindakan pemimpinnya  yg saat itu tampaknya  sedang lupa diri. Terlebih lagi rasa bencinya pada kaum komunis yg berada di sekeliling “ayah” nya itu semakin membuatnya muak, ia tahu persis bahwa PKI adalah monster buas yg sedang memakai topeng malaikatnya. Hingga jelaslah sekali tampak bahwa Dewan Banteng ini hanyalah seorang anak kecil yg sedang merengek meminta hak nya, minta diperhatikan oleh ayahnya, tiadalah lebih dari itu.

Dan sebulanpun telah lewat sudah semenjak pertemuan rahasia di Sungai dareh dan nyaris 2 tahun semenjak rekomendasi Dewan Banteng yg dianggap sebagai pembangkangan itu sampaikan pada pemerintah pusat. Namun apalah daya, Sang paduka presiden tampaknya seakan menutup telinganya dengan rengekan anak anaknya di Pulau Sumatera dan pulau pulau lainnya. Ketegangan antara pusat dan daerahpun semakin memuncak, tak satupun usaha rekonsiliasi berhasil termasuk usaha Bung Hatta. Ketegangan inipun tak hanya terjadi di kalangan politisi sipil saja, diantara perwira militerpun juga terjadi ketegangan antara KASAD Mayjen AH. Nasution dengan para Kolonel di daerah daerah yg bergolak. Nasution menuduh para kolonel di daerah kerap kali menyelundupkan hasil bumi seperti karet dan kopra bagi kepentingan pribadi mereka. Tentu hal ini  dibantah oleh Kolonel Hussein, Kolonel Simbolon, Kolonel Lubis, Kolonel Alex Kawilarang, dan Kolonel Ventje sumual. Memang mereka kerap menjual hasil bumi berupa karet dan kopra langsung kepada para broker di Singapura. Namun mereka melakukan itu bukan untuk kepentingan pribadinya, melainkan untuk membiayai logistik dan persenjataan anak buahnya yg suply nya sangatlah kurang dan tidak cukup jika hanya mengandalkan jatah anggaran dari pemerintah pusat saja. Tapi Nasution tetap bersikukuh  bahwa para Kolonel ini telah bermain api di belakang pemerintah yg sah. Maka semakin panaslah suasana saat itu, sementara PKI terus mengipasi keadaan ini dengan agitasi dan propagandanya yg seakan akan mendukung Soekarno.

image

Keadaan terus memanas, sikap pemerintah pusat yg tiada bergeming dari  semula semakin membuat kecewa dan frustasi para kolonel dan dewan dewan perjuangan di daerah. Tanggal 10 Pebruari 1958, Ahmad Husein, selaku Ketua Dewan Perjuangan, menyampaikan ultimatum kepada pemerintahan Soekarno melalui RRI Padang. Ultimatum yang disebut Piagam Perjuangan ini berisi 8 poin tuntutan. Intinya, menuntut agar dalam waktu 5 x 24 jam sejak diumumkannya ultimatum ini, presiden segara membubarkan Kabinet Djuanda. Tuntutan lainnya, pemerintah harus membentuk Zaken Kabinet Nasional yang jujur dan bersih dari unsur-unsur PKI. Kemudian, Soekarno harus memberi dukungan kepada Zaken Kabinet, dan Hatta bersama Hamengku Buwono harus diberi mandat untuk bertugas di Zaken Kabinet ini. Jika ternyata Soekarno enggan memenuhi tuntutan ini dan tidak memberikan kesempatan kepada Zaken Kabinet untuk bekerja, maka Dewan Perjuangan menyatakan terbebas dari kewajiban taat kepada Soekarno sebagai kepala negara. Mereka berharap rengekan mereka yg telah berubah menjadi gertakan ini dapat mencuri perhatian sang presiden sehingga mau mengoreksi arah kebijakannya saat itu dan mau lebih memperhatikan daerah.

Tapi apalah daya, alih alih memperhatikan ultimatum mereka, pemerintah pusat malah menantang balik Dewan Banteng dan dewan dewan lainnya di daerah daerah yg bergolak. Gertakan mereka dibalas oleh Ir. Djuanda selaku Perdana menteri esok harinya, 11 Februari 1958, di Jakarta dengan mengumumkan menolak ultimatum Dewan Perjuangan. Bahkan, ia memerintahkan KSAD Mayjend AH. Nasution untuk memecat Letkol Ahmad Husein dan Kolonel Simbolon dari kemiliteran, membekukan Komando Daerah Militer Sumatera Tengah (KDMST), serta memutuskan hubungan darat dan udara dengan Sumatera Tengah. Sikap arogan yang ditunjukkan Djuanda ini jelas memberi jawaban bahwa ultimatum tak akan dipenuhi. Bahkan, Djuanda memberikan reaksi yang sangat keras, Ia meminta persetujuan Soekarno untuk melakukan aksi militer terhadap dewan dewan perjuangan di daerah tersebut. Namun karena saat itu sang pemimpin besar revolusi sedang berada di Eropa timur dalam rangka lawatannya ke negara negara komunis di kawasan itu maka permasalahan ini ditangguhkan oleh Djuanda hingga Soekarno kembali.

Melihat reaksi yg sangat keras dari Djuanda maka Kolonel Hussein merasa jalan negosiasi dengan pemerintah pusat tertutup sudah, kolonel ini benar benar telah patah arang kini. Maka pada tanggal 15 Pebruari 1958, segeralah membentuk ”kabinet tandingan” yang berkedudukan di Padang. Mereka juga mengumumkan tak mengakui lagi kabinet Djuanda, dan berlepas diri dari kewajiban menjalankan perintah darinya. Kabinet baru itu bernama Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Dalam kabinet itu, Mr Syafruddin Prawiranegara diamanahi sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri Keuangan. Maludin Simbolon menjabat Menteri Luar Negeri., Kolonel Dahlan Djambek menjabat Menteri Dalam Negeri. Mr Burhanuddin Harahap menjadi Menteri Pertahanan sekaligus Menteri Kehakiman. Dr Soemitro Djojohadikoesemo menjabat Menteri Perhubungan dan Pelayaran. Adapun Menteri Agama dijabat Saleh Lintang. Menteri Penerangan dijabat Saleh Lahade. Menteri Sosial dijabat A. Gani Usman. Menteri Pertanian dijabat S. Sarumpaet. Menteri Pembangunan dijabat JF Warouw. Dan, Menteri PP&K dijabat Mohammad Syafei. Maka sebuah pemerintahan tandingan yg kelak mengakibatkan tertorehnya luka mendalam bagi urang awakpun terbentuk sudah. PRRI, stempel pemberontak, separatis bahkan wahabi yg anti NKRI disematkan kepada kami orang Minang selama berpuluh puluh tahun setelah Kolonel Ahmad Hussein mengumumkan PRRI di depan corong RRI Padang. Dan stempel ini tetap menjadi stigma yg mengakibatkan adanya sebuah inferiority compleks (*sindrom rendah diri alias minder) di kalangan urang awak bahkan setelah 3 generasi setelah masa PRRI. Sebuah hal yg harus kami tanggung walaupun pelaku pelaku PRRI telah mendapatkan amnesti dan namanya direhabilitasi oleh pemerintah.

image

16 Februari 1958, Djuanda dengan tergesa gesa menemui presiden Soekarno yg baru saja pulang dari Russia. Ia segera melaporkan telah dibentuknya PRRI di Sumatera tengah dan Permesta di Sulawesi utara lengkap dengan penjelasan bahwa gerakan tersebut telah resmi memisahkan diri dari NKRI. Maka segera pulalah sang perdana mentari ini meminta Soekarno segera memerintahkan dilakukannya operasi militer untuk menumpas gerakan separatis ini. Presiden Soekarno yg memang sudah muak dengan ketegangan antara dirinya dan kolonel kolonel di daerah yg berlarut  larut tanpa pikir pikir lagi segera menyetujui usul Djuanda tersebut. Baginya tindakan kolonel Ahmad Hussein cs kali ini sudah kelewat batas, kenakalan para kolonel ini tidak cukup ditegur hanya dengan sebuah jeweran kecil saja melainkan dengan sebuah pukulan yg akan melumpuhkan bahkan mematikan mereka. Terlebih lagi lawan lawan politiknya dari partai Masyumi dan PSI berada dibelakang PRRI ini, maka baginya inilah kesempatan baginya untuk menggebuk mereka, satu batu untuk dua sasaran sekaligus. Maka hari itu juga  turunlah perintah pemecatan para kolonel yg memprakarsai PRRI dari dinas kemiliteran sekaligus perintah penangkapan terhadap mereka. Sejak itu meletuslah apa yang disebut Jakarta sebagai ”pemberontakan” oleh PRRI, tetapi sebaliknya para pendukung PRRI menyebut gerakan mereka sebagai ”pergolakan” daerah menentang rezim Jakarta yang inkonstitusional. Inilah manuver militer dan intelijen RI terbesar setelah kemerdekaan yg tak hanya melibatkan aktor aktor pemerintah pusat dan PRRI saja namun juga para agen agen spy dari CIA.

image

Kolonel Ahmad Hussein menjawab perintah penangkapannya dengan menggelar rapat umum di kota Padang pada tanggal 20 Februari 1958. Dan untuk menunjukkan bahwa PRRI adalah sebuah gerakan yg salah satu tujuan utamanya adalah memerangi kaum komunis maka ia memerintahkan penangkapan besar besaran terhadap para anggota PKI. Para anggota dan simpatisan PKI ini ditangkap dan dipenjarakan di penjara penjara sipil maupun militer di seluruh Sumatera tengah oleh pemerintah PRRI. Kolonel Ahmad hussein dan PRRI sebenarnya tak menyangka kalau keadaan menjadi sangat liar dan tak terkendali seperti itu. Niatnya hanyalah menggertak, namun karena gertakan tersebut tak digubris, melainkan malah ditanggapi dengan reaksi yg sangat keras maka dia terpaksa membalas menentang pemerintah pusat. Ibarat pepatah Minang Biduk sudah terlanjur terlongsong ke tengah lautan maka pantanglah surut kembali ke daratan. Keesokan harinya  Soekarno memerintahkan penumpasan PRRI yg resmi disebutnya sebagai sebuah gerakan pemberontakan dan makar terhadap pemerintah pusat. Tentara pusat (APRI) atau “tentara Soekarno”, mengerahkan seluruh angkatan perang (darat, laut, udara dan kepolisian). Kekuatan APRI waktu pertama diterjunkan mencapai lebih 20.000 pasukan, sebuah jumlah pasukan yg bukan alang kepalang besarnya, jumlah terbesar yg pernah diturunkan dalam menumpas sebuah pergolakan di daerah hingga saat ini. Sebuah jumlah yg fantastis jika mengingat lawan yg akan mereka hadapi hanyalah para tentara eks Divisi Banteng yg sudah porak poranda tercerai berai semenjak beberapa tahun sebelumnya. Sebuah hal yg sangat berlebihan pulalah kiranya karena persenjataan tentara Dewan Bantengpun tiadalah ada apa apanya jika dibandingkan persenjataan APRI saat itu. Sebagai pemimpinnya ditunjuklah Kolonel Ahmad Yani yg justru sangat terkenal sebagai seorang yg anti komunis, sama dengan rivalnya para kolonel PRRI. Operasi yg diberi nama sandi “Operasi 17 Agustus” ini  melibatkan prajurit dari Satuan Banteng raiders kodam Diponegoro, yang waktu itu kebanyakan sudah disusupi oleh kelompok merah (komunis).

Syahdan kota Padang dan Bukit tinggi dibombardir oleh kekuatan angkatan udara APRI hingga porak poranda macam balai dilamun kerbau mengamuk. Sementara dari laut puluhan kapal perang angkatan laut APRI membombardir pantai kota Padang tanpa ampun dengan hujan mortir. Sebuah hal yg membuat hati miris dan hendak mencibir rasanya karena sebuah bangsa dengan kekuatan angkatan laut yg paling kuat di Asia saat itu persenjataanya justru dipakai untuk membombardir saudara sebangsanya sendiri. Selama 10 hari sebelumnya kapal kapal perang APRI petantang petenteng show of force di lautan Hindia, tak seberapa jauh dari garis pantai kota Padang. Pagi hari pukul 06.00 angkatan laut APRI memulai serangannya, ratusan mortir mereka muntahkan ke arah tepi pantai kota Padang. Akibat dari serangan mortir itu kantor Tentara bagian Zeni di pinggir Pantai Padang hancur, ini tembakan salah arah sebenarnya untuk Kantor KOMDAK (saat ini POLDA) PRRI di jalan Nipah. Satu lagi peluru mortir jatuh di belakang Bioskop Karya tapi tidak meledak, salah arah sebenarnya ditujukan ke Kantor Dewan Banteng. Tak terhitung banyaknya  rumah penduduk yg hancur karena terkena mortir kapal perang APRI, sementara mereka bersembunyi di lubang lubang perlindungan yg telah disiapkan beberapa waktu sebelumnya.  Pagi hari esoknya terdengar suara pesawat meraung raung dilangit kota Padang, penduduk menyangka bahwa itu adalah pesawat bantuan dari armada ke 7 tentara Amerika yg beberapa waktu sebelumnya diumumkan di radio akan mengamankan ladang minyak Caltex di Dumai Pekan baru. Namun ternyata itu adalah pesawat angkatan udara APRI yg sedang mengawal penerjunan para marinir dan tentara Banteng raiders dari kodam Diponegoro. Tentara PRRI dari Dewan Banteng berusaha menembak jatuh pesawat pesawat tempur milik APRI tersebut dengan senjata anti serangan udara yg mereka miliki, namun tak berhasil. Pendaratan tentara terjun payung dari Marinir dan Banteng raiders di lapangan terbang Tabiang berhasil dengan mulus, sementara sisanya mendarat di wilayah dekat lapangan terbang di muara sungai Batang Kuranji di Air Tawar dekat kompleks UNAND (saat ini UNAS) dan Universitas Bung Hatta.

image

Tentara APRI dari Banteng raiders kini berhadapan face to face dengan tentara Dewan Banteng PRRI. Banteng Minang VS Banteng Jawa, persis seperti legenda penyerangan Majapahit terhadap Kerajaan Pagaruyung dahulu yg akhirnya disudahi dengan pertandingan adu kerbau atau Banteng yg menjadi kisah asal muasal nama “Minang kabau” yg berarti “Kerbau pemenang”. Namun kali ini Banteng Minang lebih memilih untuk mundur dari gelanggang perang, nyaris tanpa perlawanan yg berarti sama sekali, bukan karena mereka dikalahkan dan bukan pula karena mereka takut dengan Banteng Jawa ini. Mundurnya mereka karena mematuhi perintah Buya Natsir sehari sesudah pertemuan di Sungai dareh agar PRRI menerapkan ‘gerakan tanpa perang’ untuk melawan pemerintah Soekarno. Selain itu hal ini juga untuk menghindari korban dari rakyat sipil yg tak berdosa yg pasti jatuh saat perang terbuka melawan tentara pemerintah pusat. Dan PRRI benar benar mematuhi perintah tokoh kharismatik panutan urang awak tersebut dengan disipilin, biarlah tampak bak orang pengecut lari dari medan tempur asalkan rakyat yg tak berdosa tiada yg menjadi korban.

Tentara Dewan Banteng beserta seluruh jajaran sipil PRRI lebih memilih untuk mundur ke kampung kampung di pelosok lalu lanjut terus menyuruk ke hutan hutan belantara Pasaman, Payakumbuh, Agam dan Solok. Rute yg sama dengan rute saat mereka menyelamatkan NKRI ini dari kejaran tentara agresi militer Belanda II dahulu. Rute yg sama, orang orangnyapun sama pula, hanya status dan pengejarnya saja yg berbeda. Dahulu status mereka sebagai pejuang kemerdekaan, kini sebagai pemberontak, pembangkang dan perongrong kewibawaan pemerintah pusat. Bahkan konon kata sebagian orang yg agaknya pantaslah dijahit saja mulutnya  mereka adalah separatis, pengkhianat NKRI yg harus ditumpas habis keberadaannya. Padahal NKRI yg oleh mereka yg membusungkan dadanya sebagai seorang Soekarnois atau Nasionalis gadang gadangkan saat itu sedang dikangkangi oleh tindakan inkonstitusional sang paduka yg mulia yg mereka puja puja bak seorang Raja jawa. Dahulu tentara berhidung mancung dan berkulit putih yg mengejar mereka, kini tentara berkulit sawo matang dan berhidung pesek persis seperti merekalah yg menjadi pengejar. Dahulu lari ke hutan dalam rangka membela kepemimpinan sang presiden Soekarno dan kedaulatan RI, kini lari ke hutan justru dikejar oleh tentara loyalis Soekarno sendiri, orang yg kepemimpinannya dahulu mereka bela dengan keringat, air mata, harta bahkan darah nan tertumpah di bumi pertiwi ini. Maka dimulailah sebuah perjalanan fisik nan panjang dan melelahkan dalam memperjuangkan dan meminta hak mereka. Sebuah tuntutan yg tak digubris pemerintah pusat, tuntutan wajar yg malah dibalas dengan aksi militer. Bak rengekan seorang anak yg malah dibalas tamparan menyakitkan dan menghinakan oleh ayahnya sendiri. Anak kandung yg dahulu sangat berbakti dan menjadi penyelamat kewibawaan ayahnya itu kini digebuk dengan kejam dan tanpa ampun bak seorang anak tiri. Masa inilah yg kelak dikemudian hari lazim disebut “maso lari ka rimbo” oleh orang Minang setelah masa masa pergolakan PRRI selesai di akhir tahun 1961. —- bersambung ke bagian 3—- (*Liga Chaniago, awal september 2013)

Sumber

Terkait : PRRI, Protes Si Anak Tiri dan Catatan Luka Urang Awak (1)

Perang-Perang di Indonesia

B-25 Mitchell

PRRI/Permesta – Dalam sejarah TNI AU, pembumihangusan separatis PRRI/Permesta, (1958), menorehkan peperangan udara “spektakuler”. P-51 Mustang dan B-25 mencabik-cabik pertahanan PRRI/Permesta di Padang dan Manado. PRRI diembrioi dengan lahirnya Dewan Gajah dan Dewan Banteng, 20 dan 22 Desember 1955. Gerakan separatis ini disikapi Jakarta dengan membekukan Komando Daerah Militer Sumatera Tengah. Sikap Jakarta inilah yang dibalas “pemberontak” dengan mendirikan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), 15 Februari 1958.

Memang seperti penyakit menular. Letkol Ventje Sumual mengumumkan SOB yang sekaligus menandai proklamasi Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), 2 Maret 1957. Jakarta segera membentuk operasi gabungan APRI. Di Sumatera digelar operasi “17 Agustus”, di Sulawesi digelar operasi “Merdeka”. P-51, B-25, dan C-47 Dakota disiapkan untuk operasi ini. Dari kedua kelompok, Permestalah yang menakutkan AURI. Karena memiliki beberapa P-51 dan B-26 yang diterbangkan pilot-pilot bayaran dari Amerika, Taiwan, dan Filipina.

Dalam menghadapi PRRI, AURI menyiapkan hingga 40 pesawat hampir seluruh kekuatan di Tanjung Pinang. Berturut-turut dalam operasi perebutan, B-25 dan P-51 menghujani dengan senapan mesinnya Lanud Simpang Tiga Pekanbaru (12 Maret), kota Medan (17 Maret), serta kota Padang (17 April). 17 hari kemudian, Bukittinggi juga jatuh ke tangan pasukan APRI.

Di Selebes, kembali AURI menggelar operasi dengan menidurkan radio Permesta di Manado (22 Februari 1958), merebut keunggulan udara di Mapanget, Tasuka, Morotai, dan Jailolo (5 Mei), hingga mandulnya Permesta 23 Mei. Begitu gencarnya pertempuran di darat maupun dari udara, sempat memancing pesawat Lockheed U-2 Dragon Lady. Pesawat ini pernah dimanfaatkan mengintai pulau Natuna yang disiapkan untuk menggempur Jakarta. Buntut perang ini memperburuk hubungan Jakarta-Washington. CIA ternyata berada dibelakang semua aksi itu.

P-51 Mustang

Lewat perang ini pula lahir ace kalau boleh menyebut pertama Indonesia. P-51 Mustang yang diterbangkan Kapten Udara IGN Dewanto menembak jatuh B-26 Permesta yang diterbangkan Allen Lawrence Pope. Peristiwa heroik ini terjadi 18 Mei 1958.

Trikora – Dengan lantang, di depan rapat raksasa di Yogyakarta, 19 Desember 1961, Presiden Soekarno menyerukan, “… oleh karena Belanda masih melanjutkan kolonialisme di tanah air kita…, maka kami perintahkan kepada rakyat Indonesia, juga yang berada di Irian Barat, untuk melaksanakan Tri Komando.” Tiga tahap rencana operasi : infiltrasi, penghancuran, dan konsolidasi, segera disusun. Pesawat, kapal perang, radar, tank, senjata, disiapkan.

Guna memuluskan operasi, dibentuklah Komando Mandala yang membawahi unsur AD, AL, AU, dan Kohanudgab Mandala, 11 Januari 1962. Sebagai panglima komando mandala yang berada langsung di bawah Panglima KOTI Presiden Soekarno, dipercayakan kepada Mayjen Soeharto. Adapun wakil panglima mandala ditunjuk Komodor Laut Soebono dan Komodor Udara Leo Wattimena.

AU Belanda diperkuat 24 pesawat buru sergap Hawker Hunter Mk-06 yang berpangkalan di Biak, enam helikopter Aloutte, 10 Neptune, setengah skadron C-47 serta dua unit radar tipe 15 Mk-IV di Numfor dan pulau Wundi. Terbatasnya daya jangkau MiG-17 dan P-51, menjadi kendala bagi AURI, karena AU Belanda masih didukung AD dan AL.

Namun begitu, operasi-operasi pengintaian dan infiltrasi telah dilaksanakan. Seperti mengejar kapal selam di Morotai, menembak kapal asing, menyerang kapal Belanda di pulau Gag di perairan Irian Barat, sampai menerjunkan PGT dan RPKAD. Operasi penyusupan ini diberi nama Banteng Ketaton.

Dalam operasi penerjunan, pesawat C-47 selalu mendapat pengawalan dari P-51 dan B-25/26. Berhadapan dengan kekuatan udara Belanda pun sudah terjadi di sini. Seperti usai penerjunan di Kaimana, jatuh korban. Pesawat angkut C-47 yang diterbangkan Kapten Djalaluddin Tantu, ditembak jatuh ke laut dalam penerbangan pulang oleh Neptune Belanda. Namun begitu, AURI boleh berbangga. Karena secara keseluruhan, keunggulan udara dapat diraih.

Sekiranya AURI tidak siap, tentu tidak mungkin keunggulan di udara dicapai sehingga penyusupan-penyusupan lewat udara dapat dilakukan yang tidak jarang dilaksanakan juga dengan formasi C-130. Untuk menghadapi Operasi Jayawijaya, AURI sengaja menyiapkan unsur udaranya secara besar-besaran. Lihat saja, bomber (10 Tu-16 dan 10 Tu-16 KS), enam B-25 dan B-26 (empat cadangan), delapan IL-28 dengan dua cadangan. Unsur angkut dan SAR masing-masing delapan C-130 dengan dua cadangan, 20 C-47 Dakota, enam Mi-4 dan Bell-204, lima UF Albatros serta dua Twin Otter. Unsur serang pertahanan udara dan serang darat masing-masing disiapkan tujuh P-51, dan 18 MiG-17 Fresco. Disamping itu, AURI juga menyiapkan dua batalion pasukan tempurnya yang sangat disegani kala itu, Pasukan Gerak Tjepat (PGT). Radar-radar turut ditempakan di Morotai, Bula, dan Saparua.

Walau perang terbuka urung berkecamuk, beberapa pesawat AURI mengalami kecelakaan. Tercatat 2 P-51, 2 MiG-17, 1 C-47, 1 Albatros, 2 Il-28, dan 1 B-26, mengalami kecelakaan dalam operasi pembebasan Irian Barat. Peristiwa ini, memakan korban lebih kurang 20 penerbang beserta awak-nya. Beberapa kali penerjunan yang dilakukan di Kaimana, Fak Fak, Sorong, Klamono, Teminabuan, dan Merauke, juga mengakibatkan gugurnya 94 prajurit PGT.

Setelah Irian Barat kembali ke pangkuan RI, di propinsi paling timur ini muncul gerombolan yang menamakan dirinya Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Lodewyk Mandatjan. Operasi kembali di gelar. Sebuah B-25 diterbangkan LU I Suwadji dan B-26 diterbangkan Letkol P Soedarman, menggempur OPM di desa Tindowi, 90 km dari Manokwari, Agustus 1965. Masih di bulan Agustus, B-26 mendapat tugas mengamankan sekaligus menolong satu regu Kopasgat dan Polisi yang dikepung 12.000 anggota OPM. Operasi sukses. Tidak ada yang terluka, Alhasil, operasi pembebasan Irian Barat menjadi catatan sejarah penting sebagai operasi gabungan terbesar yang pernah dirancang dan dilaksanakan ABRI (sekarang TNI).

Dwikora – Belum hilang penat dari bumi cendrawasih (konflik dihentikan 18 Agustus 1962), AURI sudah dihadapkan lagi kepada “pilihan politik” untuk menyiapkan alutsistanya menghadapi negara jiran Malaysia. Ini berawal dari pidato Soekarno yang mengatakan ingin membantu rakyat Kalimantan Utara yang menentang pembentukan Federasi Malaysia. Ajakan “perang” Soekarno yang terkenal dengan Dwikora ini, diucapkannya di Jakarta, 3 Mei 1964.

Tidak kalah hebat dengan Trikora, 8 Tu-16, 4 P-51, 9 B-25, 2 C-130, 11 C-47, serta 4 Il-14, dinyatakan siap. ALRI juga menyatakan kesiapannya dengan menempatkan ratusan kapal didukung pesawat terbang serta beberapa batalion marinir. Celakanya, kekuatan AURI harus berhadapan dengan AU Inggris dan AU Australia yang melindungi negara persemakmurannya. Kekuatan gabungan Inggris-Australia diduga terdiri dari 50-an bomber, 24 Hawker Hunter, 24 Gloster Javelin, 30 F-86 Sabre, serta 6 skadron pesawat angkut dan 12 helikopter. Belum dihitung skadron rudal Blood Hound serta 2 skadron pesawat stand by di Australia. Pertahanan Malaysia makin sempurna dengan dukungan pasukan darat dan laut (27 batalion, 16 batalion artileri, belasan kapal, serta pasukan Gurkha).

Sekali lagi, gelar pasukan segitu besar harus diakhiri di meja perundingan, seperti halnya Trikora. Meletusnya pemberontakan G 30S/PKI, telah menyita perhatian publik serta militer yang memaksa para elit negara harus segera menghentikan konfrontasi. Pasukan segera ditarik. Sebuah C-130 Hercules AURI diterbangkan Mayor Djalaluddin Tantu yang sekiranya menerjunkan 1 kompi PGT di Malaka, hilang pada tanggal 1 September 1964.

Penerjunan di Dili – Menurut beberapa pengamat militer Indonesia, operasi penerjunan di kota Dili, 7 Desember 1974, merupakan operasi lintas udara (Linud) terbesar yang pernah dilaksanakan TNI. Satu batalion pasukan tempur terdiri dari Grup-1 Kopassandha dan Brigade 18/Linud Kostrad yang sebagian besar dari Batalion-502/Raiders Jawa Timur, diterjunkan di pagi buta dari sembilan pesawat angkut berat C-130 Hercules Skadron Udara 32 TNI AU.

Perebutan Dili diputuskan Menhankam/Pangab Jenderal TNI M Panggabean, 4 Desember di Kupang. Sebelum perebutan Dili, Fretilin sudah terlibat baku tembak dengan pasukan TNI dalam perebutan Benteng Batugade (17 Oktober). Garis besarnya, operasi ini dilakukan dalam tiga sortie. Sortie pertama dari Lanud Iswahyudi Madiun, dengan droping zone (DZ) Dili. Diterjunkan Grup-1 Kopassandha dan Yon Linud 501. Sortie berikutnya diberangkatkan dari Penfui Kupang dengan DZ Komoro. Ikut dalam sortie ini Yon 502 dan Baret Merah yang menurunkan Denpur-1, disebut Nanggala-5. Sortie terakhir, direncanakan juga dari Kupang.

Kalau selama Trikora, airborne operation bisa sukses karena didukung pesawat tempur. Nah, di Dili, ini masalahnya. Bantuan tembakan udara tidak bisa diharapkan dari P-51 karena digrounded. Sementara T-33-Bird dan F-86 belum dipersenjatai. Dari tujuh bomber B-26, hanya dua yang serviceable. Pilotnya juga sebanyak pesawatnya. Ujung-ujungnya, dua C-47 disulap menjadi AC-47 gunship dilengkapi tiga senapan mesin kaliber 7,62 mm di sisi, mendampingi B-26.

Begitulah. Tepat pukul 05.45, peterjun pertama melompat keluar dari ramp door pesawat. Beberapa prajurit langsung gugur, karena ketika masih melayang di udara disambut timah panas Fretilin dari bawah. Termasuk pesawat. Empat C-130 terkena dihantam senapan mesin ringan dari bawah. Bahkan load master T-1312, Pelda Wardjijo, gugur karena peluru menembus badan pesawat.

Pasukan yang diterjunkan dengan cepat menguasai Dili. Pukul 07.45, kembali sortie kedua diterjunkan di Komoro. Petang itu juga, pemerintah segera mengumumkan bahwa Dili telah dibebaskan.

Bagi Kopasgat TNI AU, operasi ini penting. Gelar Kopasgat terjadi dua hari kemudian, 9 Desember, ketika delapan C-130 kembali menerjunkan Kostrad, Kopassus, dan 156 Kopasgat pukul 07.25. B-26 melindungi penerbangan kali ini. Tugas Kopasgat adalah membebaskan lapangan terbang Baucau, atau lebih populer dengan Vila Salazar Baucau dalam bahasa Portugis.

Detasemen Kopasgat dipimpin Kapten (Psk) Afendi. Operasi ini sekaligus membuktikan kemampuan Kopasgat melaksanakan Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara Depan (OP3UD). Hanya bertahan 23 tahun, propinsi termuda ini lepas dari RI setelah jajak pendapat, 30 Agustus 1999. Sebuah perjuangan yang dramatis sekaligus menyisakan sejuta pertanyaan.

Sumber: angkasa-online.com

Tugu Untuk Mengingat PRRI di Nagari Muaro Paneh

Dikarang oleh : H. si Am Dt. Soda

Pendahuluan

Untuk melengkapi bukti sejarah
Syair ditulis dengan Bismillah
Membuat catatan bermacam kisah
Sekitar perang berdarah darah

Ada petuah orang Yunani
Sering dikutip para ahli
Ini merupakan sebagai motivasi
Ketika menuliskan syair ini

Historia vero testis temporum = sejarah adalah saksi zaman
Lux veritatis = sinar kebenaran
Vita memoriae = kenangan hidup
Magistra vitae = guru kehidupan
Nuntia vetustatis = pesan dari masa silam

Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM)

Mohon dimaafkan dengan ikhlas
Seandainya cerita kurang jelas
Mungkin kalimat terlalu keras
Atau kisah tidak tuntas

Jangan jadikan bahan olok-olok
Kalau data tidak cocok
Lakukan survey, pergilah tengok
Itulah sikap yang lebih elok

Walau isinya merupakan fakta
Membaca syair jangan tergesa
Karena menyangkut masalah rasa
Setiap orang berbeda-beda

Penulis bukan seorang Doktor
Tidak pula berprofesi motivator
Hanyalah pensiunan pegawai kantor
Orang awam, bisa teledor

Ibarat cenderamata Oleh-oleh
Kalau berkunjung ke Muaro Paneh
Ada tugu bentuknya aneh
Bukti sejarah perlu ditoleh

Orang membaca masa lalu
Dari tonggak disebut Tugu
Bentuknya mirip seperti peluru
Karena dibuat penguasa serdadu

Melihat tugu tegak berdiri
Di simpang jalan menuju Kinari
Pesan penting memberi inspirasi
Menulis syair, kaba PRRI

Setelah nagari kalah ditaklukkan
Di setiap tempat, kota kecamatan
Dibangun tugu sebagai peringatan
Menandai peristiwa tanggal kejadian

Jurnalis Labuah Basa

Narasumber bergelar Labuah Basa
Manusia langka nyawa tersisa
Di tubuh tersimpan peluru senjata
Difoto ronsen tampak tiga

Ketika luka telah sembuh
Peluru tertanam di dalam tubuh
Tiada sakit bila disentuh
Terlihat peluru masih utuh

Di Sikapuah daerah Palangki
Bukit Putuih berhutan sepi
Basis penting pejuang PRRI
Di situ Jurnalis hampir mati

Ketika Jurnalis seorang diri
Menjemput makanan untuk konsumsi
Tentara Pusat telah menanti
Dia ditembak berkali kali

Jurnalis terkejut tak bisa menghindar
Lalu berlari menyusup belukar
Sambil mengucap kalimat istigfar
Astagfirullah, Allohu akbar

Walau kepala sedikit pusing
Jurnalis berlari ke arah tebing
Ke tepi bukit agak miring
Kemudian melompat berguling-guling

Musuh melacak ke dalam hutan
Mengikuti tetes darah berceceran
Tapi takdir pertolongan Tuhan
Darah dibersihkan oleh hujan

Ketika dicari tentara pusat
Jurnalis sembunyi, tidak terlihat
Hutan rimba sangat lebat
Telah terbukti sangat bermanfaat

Tanda bukti orang beriman
Tidak menduakan kehendak Tuhan
Walaupun berat memikul beban
Anggaplah itu datang Cobaan

Sebelum ajal, berpantang mati
Jurnalis selamat sampai kini
Hidup di kampung sebagai petani
Menjadi sumber kisah PRRI

Basa bernama Engku Jurnalis
Mantan Kokam, anti Komunis
Dunsanak senagari Irlan Idris
Orang Kinari kawan penulis

Waktu negara dalam bahaya
Soekarno berbuat semena mena
Jurnalis berusia masih remaja
Dia berniat masuk tentara

Pergi mendaftar anggota DBI
Pasukan khusus bagian Infantri
Mampu menembak sambil berlari
Latihannya berat petang dan pagi

Sebagai wakil komandan Regu
Jurnalis ingat tanpa ragu
Nomor Register tercatat di buku
0181

Komandan regu bernama Edi Kapoyos
Orang Minahasa bersifat polos
Di Ladang Padi mendirikan Pos
Guna menghambat musuh menerobos

Penjagaan di Ladang belum siap
Menghadapi musuh bersenjata lengkap
Pertahanan jatuh dalam sekejap
Kapoyos terkepung lalu ditangkap

Waktu ditangkap di Ladang Padi
Kopoyos diikat sambil diinterogasi
Menjadi sumber banyak informasi
Tentang anggota pasukan DBI

Karena komandan telah hilang
Jurnalis mundur ke arah Talang
Untuk terus ikut berperang
Melawan Pusat ikhlas berjuang

Akhir 59 di Solok Kinari
Kapoyos disertakan dalam operasi
Jurnalis ditanyakan kemana pergi
Penduduk menjawab sesuka hati

Serangan Udara di Kinari

Kisah di ceritakan Angku Warneri
Serangan udara di Nagari Kinari
Ketika dia seorang diri
Duduk di Lapau menunggu pembeli

Masih langka tinta Dawat
Tanggal peristiwa tidak dicatat
Hanya Warneri selalu ingat
Karena dirinya telah selamat

Angku Murad Dubalang Sati
Ayah kandung saudara Warneri
Termasuk aktivis partai Masyumi
Pendukung setia perjuangan PRRI

Karena mendukung kelompok perjuangan
Tokoh Masyumi masuk catatan
Menjadi target perlu dihancurkan
Dengan Bom atau tembakan

Warneri berusia delapan tahun
Karena mengantuk baru bangun
Menjaga warung sambil melamun
Kampung ditembak tanpa ampun

Walau tidak asrama tentara
Bukan pula tanpa sengaja
Telah digambar di dalam peta
Menjadi target serangan udara

Ketika peluru mengenai drum minyak
Warneri terkejut, lalu berteriak
Memanggil Ibu serta Bapak
Begitulah sifat anak-anak

Bahan bakar minyak tanah
Harga sekaleng sepuluh Rupiah
Kena peluru menjadi tumpah
Lantai lapau semuanya basah

Sesudah minyak tumpah ke lantai
Warneri sigap tiada lalai
Dia melompat ke luar Kedai
Menatap langit, mata mengintai

Tampak di langit ada pesawat
Terbang rendah sangat cepat
Begitu jelas mudah terlihat
Angkatan Udara tentara Pusat

Sumber barang selundupan dari kota Solok

Pasar gelap tempat jual beli
Ada di nagari Sungai Lasi
Lima belas kilo dari Kinari
Melewati rimba hutan yang sepi

Nagari Sungai Lasi kalau disebut
800 meter di atas laut
Ketika pagi sering berkabut
Kalau malam tidur berselimut

Dari Kinari ke Sungai Lasi
Bukit Tandang dan Bukit Bai
Banyak bukit yang harus didaki
Lima jam berjalan kaki

Minyak tanah kebutuhan pokok
Pecah belah garpu dan sendok
Termasuk Citi merek rokok
Barang selundupan dari Solok

Inilah pekerjaan yang tidak ringan
Sambil menjunjung beratnya beban
Berjalan kaki pelan-pelan
Bukit dan Lurah harus ditaklukkan

Besar resiko orang Dagang
Nyawa di badan bisa melayang
Saat membawa beratnya barang
Bisa terjatuh masuk jurang

Asrama tentara Permesta di tanah orang Koto

Kebaikan hati orang Kinari
Rumah yang kosong boleh ditempati
Tempatnya berada kampung Ponti
Agak ke pinggir dari nagari

Walaupun jauh kampung halaman
Datang ke Ranah membantu perjuangan
Tentara Permesta lalu dikirimkan
Guna melatih anggota pasukan

Banyak tentara dari Sulawesi
Ada yang membawa anak isteri
Mereka dianggap keluarga sendiri
Termasuk Kapten Fam Polii

Letak asrama di tanah Koto
Dari kampung seperempat kilo
Lokasi sepi tiada toko
Hanya Lapau tempat berdomino

Kelak terjadi di lain waktu
Di tengah tangis tersedu-sedu
Rumah di Koto dijadikan abu
Saat Apri datang menyerbu

Karena OPR marah besar
Ada perempuan yang ditampar
Rumah Nurdin segera dibakar
Dalam sekejap api membesar

Inilah peristiwa sangat tragis
Agar tak lupa perlu ditulis
Lima rumah dibakar habis
Oleh oknum simpatisan Komunis

Dt. Tan Bandaro

Narasumber lainnya Dt. Tan Bandaro
Mantan prajurit bekas Heiho
Pangulu di Cupak dekat Salayo
Wajahnya jelas tampak di foto

Datuk Tan Bandaro bernama Agussamin
Tokoh masyarakat, seorang pemimpin
Biasa hidup penuh disiplin
Ceritanya benar, bisa dijamin

Bekas Heiho tentara Jepang
Setelah proklamasi ikut berjuang
Saat Bergolak ikut berperang
Sebagai prajurit batalyon Lembang

Batalyon Lembang, tentara PRRI
Anggotanya banyak lima Kompi
Menjaga kampung setiap nagari
Termasuk Parambahan serta Kinari

Buya Okok atau Kapten Nurdin Usman
Memilih markas di sekitar Parambahan
Di sana tersedia bahan makanan
Untuk logistik konsumsi pasukan

Nagari Parambahan di Kabupaten Solok
Jalannya kecil berbelok-belok
Pemandangan alam sangat elok
Di sana markas Buya Okok

Bergotong-royong membuat Hambatan, pohon-pohon ditebang

Di Parambahan terjadi pertempuran hebat
Antara Pejuang dengan tentara Pusat
Orang tua tua pasti ingat
Peristiwa berlangsung hari Jum’at

Pasukan Badai pimpinan Bachtiar
Anggotanya banyak Tentara Pelajar
Punya tanggung jawab sangat besar
Diberi tugas tiada menghindar

Hari Jum’at ada penyergapan
Di tepi jalan menuju Parambahan
Tentara Soekarno jadi ketakutan
Mereka mundur meninggalkan korban

Pertempuran di Parambahan berlangsung sengit
Menimbulkan korban tidak sedikit
Pasukan Badai di lereng bukit
Musuh berlindung di parit – parit


Jembatan di atas Batang Air Alim, di jalan menuju nagari Parambahan
Anak sungai ini bermuara ke Batang Lembang

Karena Allah telah mengatur
Di pihak pejuang seorang gugur
Namanya Burhanuddin alias Uda Bur
Jenazah disholatkan lalu dikubur

Kalau tiada lupa sholat
Orang yang tewas di hari Jum-at
Ketika berjuang membela rakyat
Semoga nabi memberi safaat

Ada berita yang penulis dengar
Entah salah, entah benar
Kabar burung banyak beredar
Batang Lembang jadi tercemar

Airnya busuk tak bisa dipakai
Banyak mayat hanyut di sungai
Kondisinya rusak, perut terburai
Akibat tembakan pasukan Badai

Saat tentara menyerbu Parambahan
Orang Muaro Paneh tidak memperhatikan
Jalan melingkar Apri lakukan
Mereka lewat melalui Panyakalan

Kalau melewati nagari Kinari
Jalan utama, tak lagi berfungsi
Parit menganga 300 senti
Kenderaan militer terpaksa berhenti

Karena korban banyak yang tewas
Markas Komando menjadi cemas
Ingin segera menuntut balas
Kompi Badai harus dilibas

Inilah petuah menurut Adat
Celaka bersilang, tuah sepakat
Penduduk bekerja dengan semangat
Membuat parit cepat-cepat

Dalam keadaan ngeri mencekam
Hari gelap sangat kelam
Bergotong royong diwaktu malam
Menggali parit berjam-jam

Walau kehidupan sedang susah
Karena sepakat menjaga Tuah
Masyarakat bekerja tanpa diupah
Membantu perjuangan tiada lelah

Bukti masyarakat ikut berjuang
Dengan ikhlas ikut menyumbang
Batang pohon telah ditebang
Tanpa diminta ganti uang

Karena mendapat hambatan besar
Manuver musuh tak lagi lancar
Di jalan utama banyak tersebar
Pohon rebah dan batu-batu besar

Pembakaran rumah di Parambahan pada hari Sabtu.


Hari Sabtu, musuh kembali
Tiada ditemukan penduduk laki-laki
Ope-er dan tentara marah sekali
Mereka berteriak memaki maki

Berkeliling kampung berteriak-teriak
Rakyat dilarang membantu pemberontak
Siapa melawan akan ditembak
Tidak peduli Niniak-Mamak

Rumah Gadang saling berjejeran
Di tepi jalan berhadap-hadapan
Di kaki bukit nagari Parambahan
Rancak dilihat dari kejauhan

Ketika rumah akan dibakar
Para penghuni disuruh keluar
Musuh membentak secara kasar
Yang membantah langsung ditampar

Ada nenek andung-andung
Menjatuhkan diri bergulung-bergulung
Lalu menangis meraung-raung
Melihat musibah terjadi di kampung

Perlu diketahui anak cucu
Nagari Parambahan menjadi abu
Tiada tersisa satu pintu
Pembakaran terjadi di hari Sabtu

Belum didata secara benar
300 bangunan perhitungan kasar
Rumah Surau serta Langgar
Habis musnah karena dibakar

Sudah ketetapan ilahi Robbi
Hanya mesjid tetap berdiri
Bisa selamat sampai kini
Menjaga iman anak nagari

Sesudah musuh kembali ke Solok
Orang berunding dalam kelompok
Tentang bantuan yang mungkin cocok
Untuk dibawa saat menengok

Ketika melawan perbuatan batil
Walaupun tidak menyandang bedil
Semua orang merasa terpanggil
Ikut pula Muchlis kecil

Muchlis Hamid dan kawan kawan
Pergi menjenguk ke nagari Parambahan
Sambil membawa sedikit bantuan
Nasi bungkus serta pakaian

Tampak hewan banyak yang mati
Ada Kerbau, Kambing dan Sapi
Hangus terpanggang nyala api
Karena dikebat tak bisa lari

Beginilah sifat anak-anak
Kalau berkawan ajak-mengajak
Perjalanan lanjut ke Batu Karak
Lokasi ijok Bapak-bapak

Karena Parambahan menjadi abu
Batu Karak tempat yang baru
Pengungsi datang satu persatu
Disertai Ulama dengan pangulu

Di jalan sepi sangat lengang
Tiada banyak terlihat orang
Tampak satu-dua para pedagang
Membawa kebutuhan bermacam barang

Di tepi jalan menuju nagari Parambahan.

Pemandangan umum yang jelas tampak
Sarana jalan telah dirusak
Konvoi musuh sering terjebak
Menjadi objek sasaran tembak

Di Batu Karak Muchlis bertanya
Tentang Engku Mudo Yahya
Guru mencakup sebagai Ulama
Biasa dipanggil sebagai Buya

Syukur alhamdullillah Buya selamat
Dalam kondisi sehat walafiat
Hanya sedikit tampak pucat
Kurang tidur, bekerja berat

Di tempat umum Buya berceramah
Mengenai kondisi, keadaan pemerintah
Presiden Soekarno dipihak yang salah
Berkonco erat, dengan Kaum Merah

Dinding rumah diberi Kode serta pesan indoktrinasi

Pasti diketahui orang Jakarta
Dinding rumah ditulis B III
Kalau mau tahu maksud artinya
Kasih tahu nggak yaaaaa !!

Akibat B III, kampung dibakar
Hak azasi telah dilanggar
Kini disebut perbuatan makar
Itulah dosa yang sangat besar

Untuk kecamatan Bukit Sundi
Tulisan B III lalu diganti
Dengan lambang tanda kali
Warnanya hitam, jelas sekali

Rumah diberi tanda silang
Bisa dilihat semua orang
Bukti penghuninya ikut berperang
Menyandang bedil atau senapang

Perintah Soekarno tak habis-habis
Membuat semboyan bermacam jenis
Dinding rumah dianggap strategis
Banyak indoktrinasi harus ditulis

Rumah yang bagus atau jelek
Berdinding papan atau gedhek
Milik kakek atau nenek
Harus ditulis Manipol Usdek

Cerita dialihkan ke nagari Cupak
Penuturan Agussalim yang disimak
Rumah dibakar juga banyak
Hanya terjadi tidak serentak

Di jorong Sungai Rotan 20
Di jorong Balai Pandan 5
Di Jorong Panjalai 7

Di dalam adat budaya kita
Rumah Gadang mengumpulkan keluarga
Hangus terbakar, tiada tersisa
Kalau dijumlah 32

Menurut falsafah tahu di nan Empat
Sebagai kebiasaan Adat yang Teradat
Rumah Gadang adalah Pusat
Tegak berdiri, harus terlihat

Engku Sawi ditembak, Orang Muaro Paneh merasa Kehilangan

Setiap Apri melakukan patroli
Sawi diincar dicari-cari
Ketika bertemu di daerah Kinari
Sawi ditembak, dibunuh mati

Nama lengkapnya Sawi Renyu
Sopan santunnya patut ditiru
Takutnya hanya kepada ibu
Sangat memuliakan para tamu

Punya anak bernama Emi
Gadis kecil lucu sekali
Sudah lancar kalau mengaji
Dilatih langsung oleh Umi

Orang kampung semua kenal
Setiap waktu Sawi beramal
Mencari uang secara halal
Dengan sedikit persiapan modal

Dahulu Pasar, kini Market
Sawi berjualan tak pakai target
Tiada pula istilah Omzet
Apalagi bisnis memakai internet

Tak semua orang bisa mampu
Membuat sandal dan sepatu
Mengolah sendiri bahan baku
Dari jangat kulit Lembu

Banyak kerabat saudara sendiri
Terkadang berutang, dibayar nanti
Menunggu panen, hasil Padi
Atau dibayar, sekarung Ubi

Pedoman hidup orang Muaro Panas
Dalam melaksanakan setiap aktivitas
Hablumminallah Wahamblumminannas
Sawi memahaminya secara luas

Tiba waktunya masa perang
Inilah petuah adat Minang
Tuah sakato, celaka bersilang
Sawi berperan di garis belakang

Mencari simpati dengan halus
Ketika berjuang dengan tulus
Memakai sarana orkes gambus
Iramanya terdengar sangat bagus

Begini lirik lagu si Sawi
Anti Indonesia billadi
Anti’ul wanul faqoma

Kalau ditafsirkan kira kira begini
Indonesia negara kami
Di sanalah aku tegak berdiri

Menurut pesan orang tua-tua
Malang terjadi dalam seketika
Waktu Sawi mengayuh sepeda
Terjadi sesuatu tidak dikira

Niat dihati menemui kerabat
Di Kinari yang cukup dekat
Ada patroli tentara Pusat
Sawi berhenti karena dicegat

Dia bernasib sangat malang
Disuruh berjongkok tangan kebelakang
Lalu ditodong pakai senapang
Bedil meletus, nyawa melayang

Ketika korban ditembak mati
Dalam jarak dekat sekali
Peluru menembus pembuluh nadi
Darah mengalir tak mau henti

Jenazah dibawa ke rumah panjang
Di Muaro Paneh di Pasar Usang
Mantari Udin segera datang
Melihat kepala telah berlubang

Kepala berlubang mengeluarkan darah
Terus mengalir tak bisa dicegah
Karena arteri banyak yang pecah
Disumbat kapas langsung basah

Kisah diceritakan kepada penulis
Oleh dunsanak bernama Muchlis
Melihat sendiri peristiwa sadis
Perbuatan oknum simpatisan Komunis

Bermacam suku ikut PRRI

Piagam PRRI anti Komunis
Bukan gerakan bersifat separatis
Diikuti suku berbagai jenis
Ada Minahasa, Ambon serta Bugis

Orang Ambon bernama Kapten Petrus
Di Sibakua bernasib bagus
Ada perempuan bersedia mengurus
Dijadikan suami dengan tulus

Kapten Polii orang Minahasa
Divisi Banteng bagian Personalia
Mundur ke Kinari dapat celaka
Polii ditangkap lalu ditanya

Ketika Apri melakukan operasi
Dari Solok menuju Kinari
Diwaktu subuh pagi sekali
Polii terkepung tak bisa lari

Dia ditangkap jadi tawanan
Dipaksa menjawab berbagai pertanyaan
Tentang jumlah besar pasukan
Polii bersumpah, pantang membocorkan

Sebagai komadan perwira sejati
Punya kehormatan harga diri
Meskipun diintrogasi berhari hari
Tetap bungkam berdiam diri

Jauh dari Minahasa tanah leluhur
Walau tidak sdang bertempur
Di tepi pantai Teluk Bayur
Polii ditembak sampai gugur

Wali Perang

Waktu terjadi perang saudara
Nagari Kinari pimpinannya dua
Angku Samsudin wali pertama
Inyiak Sarai wali yang kedua

Wali Perang bernama Samsudin
Dipilih masyarakat sebagai pemimpin
Melaksanakan amanah penuh disiplin
Karena berjuang dengan yakin

Ketika perang hujat-menghujat
Pekerjaan Samsudin sangat berat
Lokasi musuh sangat dekat
Menjadi musibah setiap saat

Memimpin masyarakat yang sedang susah
Terkadang muncul bermacam fitnah
Bisa berakibat dapat musibah
Nyawa di badan bisa berpisah

Dapur Umum

Hasil musyawarah dengan kesepakatan
Tiada seorang yang berkeberatan
Setiap rumah menyumbang makanan
Waktunya diatur secara giliran

Bukan pengemis peminta-minta
Tegak menunggu di depan tangga
Para perempuan tenaga sukarela
Mereka bertugas lillahi ta-ala

Ibarat bunga kembang sekuntum
Para perempuan di Dapur Umum
Ikhlas bekerja dengan senyum
Mengatur jatah pembagian ransum

Nasi bungkus pagi dan sore
Untuk pasukan anggota T.P.
Berisi lauk seiris tempe
Terkadang disertai sepotong kue

Walau menu selalu berganti
Tempe goreng sangat disenangi
Sumbernya mudah bisa dicari
Banyak dijual di pasar Kinari

OPR menggunakan bahasa Minang-Indonesia

Sebagai OPR yang taat perintah
Buyung Saram masuk ke rumah-rumah
Loteng dan kamar dia geledah
Tiada orang yang berani mencegah

Karena tak mahir bahasa Indonesia
Kedengaran lucu membuat tertawa
Saat OPR lakukan razia
mencari radio dengan senjata

Bukan menghibur anak-anak
Kalimatnya lucu seperti melawak
Buyung bertanya sambil membentak
Senjata dikokang siap tembak

Dia ingin terlihat pandai
Bahasa Indonesia yang dia pakai
Bunyinya aneh tidak sesuai
Ibarat Kuda disebut Keledai

Menurut pengakuan seorang saksi
Orang kampung penduduk asli
Kalau teringat merasa geli
Kalimat OPR di bawah ini

Siapa yang punya radia di sika
Kalau bersua saya sita
Saya tidak bergara-gara
Jangan main-main dengan saya

Keterangan:
Bersua = bertemu
Disiko (Minang) = disini
Bergara-gara (Minang) = main-main
Buyung: panggilan terhadap anak laki laki orang MK

Wali nagari tandingan

Ketika perang belum berdamai
Apri memilih mitra yang sesuai
Dari golongan anggota partai
Oknumnya bernama Inyiak Sarai

Bukan sembunyi pergi ijok
Inyiak berlindung di kota Solok
Kampung halaman tak lagi ditengok
Dengan dunsanak tetap elok

Waktu pertempuran mulai berkurang
Pasukan PRRI mundur ke belakang
Menuju nagari Batu Bajanjang
Barulah Inyiak kembali pulang

Rangkayo Rahmah El Yunusiah
Tokoh pendidikan disebut tarbiyah
Kepada Apri tak mau menyerah
Ijok ke Talaok ibarat Hijrah

Sumber

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.