Pasukan Kancil Merah

PASUKAN Kancil Merah adalah nama samaran Pasukan Siliwangi yang berkedudukan di wilayah Cirebon dengan komandannya yang bernama Letnan Abdul Kadir. Pasukan Kancil Merah, merupakan salah satu pasukan gerilya yang memiliki persenjataan yang lengkap dengan jumlah personil yang cukup banyak serta dikenal dengan kedisiplinan dan keberaniannya.
Tercatat dalam buku yang berjudul “Semuanya Untuk Cirebon” (Maharyono : 2003), Pasukan Kancil Merah mengalami beberapa kali kontak senjata dengan Belanda serta melakukan tindakan sabotese untuk memperlambat gerak pasukan Belanda.

Beberapa anggota Pasukan Kancil Merah yang gugur dalam medan pertempuran, diantarnya kini diabadikan menjadi nama jalan di Kota Cirebon, seperti jalan Kusnan, Jalan Saleh dan Jalan Suratno. Sedangkan Palagan Mandala merupakan peristiwa yang berawal ketika meletusnya Agresi Belanda I sebagai bentuk pengingkaran Belanda terhadap kesepakatan hasil perjanjian Linggarjati.

Belanda melakukan agresinya yang pertama pada tanggal 21 Juli 1947 dengan melakukan penyerangan diberbagai daerah termasuk wialayah Cirebon.

Tepat pada pukul 09.00, bertepatan dengan Bulan Puasa, serangan udara dilancarkan oleh Belanda, sebagai tanda dimulainya agresi militer Belanda ke Cirebon. Padahal saat itu Belanda masih terikat oleh perjanjian Linggarjati. Kota Cirebon diserang dari udara dengan pesawat pemburu dan pembom yang melepaskan tembakan senapan mesin, roket dan bom yang terdiri dari jenis seberat sepuluh hingga seratus kilogram.

Pada tanggal 22 Juli Belanda terus melakukan penyerangan dari udara dan laut. Beberapa daerah yang dijadikan sasaran tembak diantaranya adalah jembatan kereta api Krian, Stasiun Kejaksan, Kutagara, Prujakan dan Pagongan. Akibat insiden tersebut puluhan orang tewas termasuk anak-anak, kaum perempuan serta masyarakat sipil lainnya. Pasukan Siliwangi yang berkedudukan di Cirebon waktu itu tidak dapat menahan serangan Belanda yang pesenjataannya lebih lengkap dan modern. Atas segala pertimbangan dan untuk menghindarkan dari kehancuran yang lebih fatal Pasukan Siliwangi menjauh ke Desa Mandala untuk mengatur siasat gerilya.

Desa Mandala adalah salah satu desa yang berada di bawah kaki Gunung Ciremai, secara administratif berada di wilayah Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon. Selanjutnya pertempuran terus terjadi antara pasukan TNI dibawah pimpinan Letnan Budhi Hardjo dengan pasukan Belanda sampai dengan tercapainya persetujuan penghentian tembak menembak pada bulan Agustus 1949, yang kemudian dilanjutkan dengan Konferensi Meja Bundar (KMB).

Selama pertempuran yang terjadi di Desa Mandala puluhan pejuang gugur termasuk diantaranya Kapten Hendrik bersama putranya yang baru berusia 10 tahun.

Foto-Foto Jaman Perang Kemerdekaan Indonesia

Dengan truk ditangkap prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI), dievakuasi. TNI dibentuk oleh penggabungan dari tentara Republik dan pemuda-pemuda di 3 Juni 1947. Di Jawa mereka memiliki sekitar 110.000 dan sekitar 64.000 orang di Sumatera. Indonesia 18 Februari 1948.

POW2-1

merekrut tentara Republik untuk latihan untuk berlatih dengan model pistol kayu, Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia, pada bulan Desember 1947.

trilatihan

Pidato oleh Komandan setelah inspeksi senjata pada 21 Desember 1947

TRI15

TRI1

TRI6

TRI7

TRI8

TRI11

Pejuang eks PETA 1944

TRI16

Arek arek suroboyo 1945

TRI9

Penyambutan pasukan gerilya yang turun gunung di magelang 1945

jadul

Prajurit Indonesia front Semarang mendarat di Yogyakarta, Indonesia, senjata otomatis di tangan, akhir bulan Desember 1947. (perhatikan papan baleho dibelakang)

jogja1947

Pasukan gerilya masuk ke kota jogja 1947

TRIjogja1947

Ditangkap ekstremis Indonesia, mengangkat tangan mereka, oleh tentara Belanda (KNIL / KNIL pasukan) dikawal, Indonesia pada bulan Januari 1947. ( helm nya cuy hehehe .. wermach punya)

POW

eks tentara PETA yang baru turun di stasiun mangarai 1947

283108_173638462704972_100001764585959_398902_8169997_n

amir syarifudin

223609_2213615230101_1539177534_2342807_7123424_n

presiden sukarno dalm kunjungan ke Rangkasitung dalam kawalan TRI

jb-5701-239-29-rangkas0

PM sutan sharir di dalam kereta kepresidenan setelah dari rangkasbitung bersama presiden Sukarno

216995_171868979548587_100001764585959_393835_277992_n

rampasan belanda pasti neh

TRI12

laskar rakyat bambu runcing

TRI13

seorang pejuang yang tertangkap oleh tentara jepang dan kemudian di jadikan romusha

270574_2088872455178_1046192415_32126386_3569214_n

gerbong kereta pembawa romusha yang di pulangkan oleh pemerintah ned-idies 1949 di sta tj priuk dan kemudian menyebar di seluruh jakarta .. setelah itu maka di jakarta terdapat daerah2 seperti kampung bali, kampung ambon, mangarai dsb .. karena merekalah penghuni pertama daerah tersebut

284816_173651662703652_100001764585959_398915_7220126_n

Parade militer 1948 ketika kedatangan Bung Karno di Jogjakarta

TRI

TRI2

TRI3

TRI5

TRI10

Sumber

Jejak Sejarah Pertempuran 5 Hari 5 Malam

1 Januari 1947

DARI RS. Charitas terjadi rentetan tembakan disusul oleh ledakan-ledakan dahsyat kearah kedudukan pasukan kita yang bahu membahu dengan Tokoh masyarakat bergerak dari pos di Kebon Duku (24 Ilir Sekarang) mulai dari Jalan Jenderal Sudirman terus melaju kearah Borsumij, Bomyetty Sekanak, BPM, Talang Semut.

2 Januari 1947

Diperkuat dengan Panser dan Tank Canggih Belanda bermaksud menyerbu dan menduduki markas Tentara Indonesia di Masjid Agung Palembang. Pasukan Batalyon Geni dibantu oleh Tokoh Masyarakat bahu membahu memperkuat barisan mengobarkan semangat jihad yang akhirnya dapat berhasil mempertahankan Masjid Agung dari serangan sporadis Belanda. Pasukan bantuan belanda dari Talang Betutu gagal menuju masjid agung karena disergab oleh pasukan Lettu. Wahid Luddien sedangkan pada hari kedua Lettu Soerodjo tewas ketika menyerbu Javache Bank. Diseberang ulu Lettu. Raden. M menyerbu kedudukan strategis belanda di Bagus Kuning dan berhasil mendudukinya untuk sementara. Bertepatan dengan masuknya pasukan bantuan kita dari Resimen XVII Prabumulih

3 Januari 1947

Pertempuran yang semakin sengit kembali memakan korban perwira penting Lettu. Akhmad Rivai yang tewas terkena meriam kapal perang belanda di sungai seruju. Keberhasilan gemilang diraih oleh Batalyon Geni pimpinan Letda Ali Usman yang sukses menhancurkan Tiga Regu Kaveleri Gajah Merah Belanda. Meskipun Letda Ali Usman terluka parah pada lengan.

Pasukan lini dua kita yang bergerak dilokasi keramat Candi Walang (24 Ilir) menjaga posisi untuk menghindari terlalu mudah bagi belanda memborbardir posisi mereka. Sedangkan pasukan Ki.III/34 di 4 Ulu berhasil menenggelamkan satu kapal belanda yang sarat dengan mesiu. Akibatnya pesawat-pesawat mustang belanda mengamuk dan menghantam selama 2 jam tanpa henti posisi pasukan ini.

Pada saat ini pasukan bantuan kita dari Lampung, Lahat dan Baturaja tiba dikertapati namun kesulitan memasuki zona sentral pertempuran diareal masjid agung dan sekitar akibat dikuasainya Sungai Musi oleh Pasukan Angkatan Laut Belanda.

4 Januari 1947

Belanda mengalami masalah amunisi dan logistik akibat pengepungan hebat dari segala penjuru oleh tentara dan rakyat, sedangkan tentara kita mendapat bantuan dari Tokoh masyarakat dan pemuka adat yang mengerahkan pengikutnya untuk membuka dapur umum dan lokasi persembunyian serta perawatan umum.

Pasukan Mayor Nawawi yang mendarat di keramasan terus melaju ke pusat kota melalui jalan Demang Lebar Daun. Bantuan dari pasukan ke masjid agung terhadang di Simpang empat BPM, Sekanak, dan Kantor Keresidenan oleh pasukan belanda sehingga bantuan belum bisa langsung menuju kewilayah charitas dan sekitar.

Pasukan dari Kebun Duku diperintahkan untuk menyerang Jalan Jawa lama dan 11 Siang telah menyusun barisan berangkat ke kenten. Tiba-tiba dalam perjalanan Kapal Belanda menembaki rumah sekolah yang dihuni oleh Batalyon Geni dan Laskar Nepindo sehingga pihak kita mengalami banyak kerugian dan korban jiwa.

Dalam Cease Fire TKR dan laskar serta badan-badan perlawanan rakyat diperintahkan mundur sejauh 20 KM dari kota palembang atas perintah Komandan Divisi II Kolonel Bambang Utoyo. Sedangkan dikota palembang hanya diperbolehkan pasukan ALRI dan unsur sipil dari RI yang tinggal.

Sumber : sini

Kisah Pertempuran di Kamal

PERISTIWA perlawanan yang heroik dari Letnan Ramli di Kamal dan kawan-kawannya memberi kesan kepada Belanda bahwa semangat perjuangan Rakyat Madura sangat tinggi dan tetap bergelora, begiru juga perlawanan dari daerah -daerah lain juga meluap-luap.

GUGURNYA LETNAN R. MOHAMMAD RAMLI

Pada hari jum’at tanggal 5 Juli 1946, sekitar pukul 08:00 terlihat enam buah tank amphibi dan dilindungi oleh tiga buah pesawat udara jenis Mustang menuju Kamal, dan pesawat udara tersebut menembaki daerah pantai, dan pesawat udara tersebut menembaki daerah pantai yang diduga terdapat pos-pos pertahanan kita, yang kemudian 6 buah tank amphibi Belanda terbagi dua menuju sasaran daerah pelabuhan DKA dan pelabuhan Pier Timur.

Letnan R. Mohammad Ramli dengan kejadian yang dihadapinya memerintahkan kepada anggota Seksinya melalui Komandan Regunya untuk tetap mempertahankan pos-posnya sekuat mungkin jangan sampai tentara Belanda dapat mendarat.

Perlu diketahui Mohammad Ramli adalah seorang Perwira BKR dengan pangkat Letnan, yang dipercaya untuk memimpin Seksi I Kompi IV Batalyon III Resimen Madura Barat, dibawah pimpinan Mayor Mohammad Imbran dan bertugas untuk mempertahankan daerah pantai Kamal, Pier Timur dan Jungjate.

Tiga buah tank amphibi telah dapat mendarat dan menuju/melalui pelabuhan Pier Timur ke darat dengan mengeluarkan tembakan-tembakan dan dalam hal tersebut Letnam R. Mohammad Ramli memimpin Seksinya untuk menghadapi jangan sampai mendarat. Dengan kekuatan dua regu yang bersenjatakan campuran dan diperkuat satu pucuk PSU kaliber 7 mm dan satu pucuk MG kaliber 7,7 mm dapat membalas tembakan-tembakan dari tiga tank amphibi tersebut.

Karena kekuatan senjata yang tidak seimbang terpaksa sebagian regunya diperintahkan untuk mundur dan melindungi sebagian regu lainnya dibawah pimpinan Letnan R. Mohammad Ramli yang menpertahankan pintu masuk dari Pier Timur dengan bersenjatakan pistol, keris dan pedang.

Dalam mempertahankan pintu Pier Timur tersebut, Letnan R. Mohammad Ramli dengan sebagian anggota regunya tetap melakukan tembak-menembak dengan tank amphibi terdepan dan akhirnya Letnan R. Mohammad Ramli berusaha naik ke atas tank amphibi dan tertembak sehingga gugur.

Di lain pos-pos pertahanan di daerah Pelabuhan DKA sebelah Barat mereka masih dapat melakukan perlawanan-perlawanan sehingga pihak Belanda tidak meneruskan penyerangannya lebih jauh ke daratan di Kamal. Dan sekitar pukul 13:00 tentara Belanda kembali ke Surabaya.

Almarhum R. Mohammad Ramli telah gugur, atas permintaan keluarganya (Ayah dan Ibunya) dimakamkan di pemakaman Asta Tinggi Sumenep, makam keluarga raja-raja Sumenep.

KERUGIAN KITA DALAM PERTEMPURAN KAMAL

Personel yang gugur :

  1. Letnan Satu R. Mohommad Ramli
  2. Letnan Abdullah (Sampang)
  3. Letnan Singosastro (Bangkalan)
  4. Tamtama Timbang (Kamal)
  5. Tamtama Bunadin (Kamal)
  6. Tamtama Reken (Kamal)
  7. Tamtama Lawi (Kamal)
  8. Tamtama Jalal (Kamal)
  9. Tamtama Munir (Kamal)

Personel yang luka :

  1. Letnan Saleh (Sumenep)
  2. Letnan Haris (Sumenep)
  3. Tamtama Kasidin (Kamal)
  4. Tamtama Hanan (Kamal)
  5. Tamtama Junus (Kamal)
  6. Tamtama Na’im (Kamal)
  7. Pimpinan DKA Sarmani (Surabaya)
  8. Tamtama yang namanya tidak dikenal (Ketapang/Sampang)

Materiil yang dirampas :

  1. MG kaliber 7,7 mm, satu pucuk
  2. Mesin Tulis
  3. Kendaraan Sedan
  4. Barang-barang milik Kepolisian Kamal

Belanda dapat menangkap empat orang yang masing-masing bernama :

  1. Norimin, berasal dari Desa Baturubuh Kecamatan Kamal
  2. Marzuki, berasal dari agency Kamal
  3. Pak Ramjis, berasal dari Desa Kamal
  4. Pak Roji, bersak dari Desa Kamal

KERUGIAN TENTARA BELANDA

Dari pihak Belanda tidak diketahui berapa jumlah yang jatuh korban, dan menurut keterangan beberapa orang korban, mereka diangkut dan dimasukkan ke dalam tank amphibi.

GUGURNYA LETNAN SINGOSASTRO DI PELABUHAN DKA KAMAL

Batalyon III dari Resimen 35 (Resimen 5 Madura barat) yang berkedudukan di kamal bermarkas di Rumah Dinas DKA Kamal, telah menempatkan senjata mitraliurnya di pertigaan sebelah Barat Masjid Jamik Kamal. Senjata tersebut dipertanggungjawabkan kepada Letnan Hasiri dan anggotanya, antara lain Kopral Wani dengan beberapa anggota lainnya.

Mitraliur itu diarahkan ke Timur untuk menjaga kemungkinan datangnya musuh yang diperkirakan menyerang dari arah Timur. Letnan Singosastro yang dibantu oleh Kopral Buhari dan Amrun ditugaskan untuk penarikan bom-bom tarik yang ditanam sebelumnya, berada disebelah Barat pertahanan Letnan Hasiri tersebut, dan penanaman bom-bom itu telah menjadi siasat pertahanan pantai untuk mencegah sewaktu-waktu musuh mengadakan pendaratan atau pengintaian di pantai.

Sebelum pendaratan tentara Belanda dimulai, mereka telah mengeluarkan tembakan gencar dari laut. Dan saat terjadinya tembakan tersebut, Letnan Abdullah pada waktu itu berada di sekitar Stasiun DKA Kamal untuk pulang ke Pamekasan dan ia sempat menanyakan kepada Kopral Buhari yang sedang bersiap-siap untuk penarikan bom-bom. Dengan terjadinya serangan tersebut Letnan Abdullah masih berkeinginan untuk melihatnya dan tidak lama kemudian tentara Belanda telah berada di muka pertahanan dengan bergerak maju di dekat gerbong kereta api dengan mengeluarkan tembakan menuju ke pertahanan kita.

Dengan terjadinya serangan tersebut mitraliur yang semula digerakkan ke Timur diubah arahnya ke Selatan dan terus mengadakan tembakan pembalasan terhadap serangan tentara Belanda sampai kehabisan peluru. Sedang Letan Singosastro sendiri pada waktu itu sedang sibuk untuk meledakkan bom-bomnya, namun kesemuanya tidak meledak tanpa diketahui sebabnya. Letnan Singosastro dengan gagalnya bom-bom yang tidak meledak itu dengan segala upaya masih sempat minta sisa granat dari Kopral Buhari dan granat dilemparkan ke sasaran musuh namun granat itu tidak meledak juga, dan Letnan Singosastro dalam keadaan panik masih berteriak ke bagian mitraliur yang sedang kehabisasn peluru untuk melanjutkan tembakannya sampai ia tertembak oleh musuh dan meninggal ditempat.

Letnan Hasiri sendiri selaku penanggung jawabdari mitraliur masih sempat mengundurkan diri termasuk para anggotanya yang lain ke jurusan Utara untuk bergabung dengan Markas Batalyonnya. Tentara Belanda masih terus melanjutkan serangannya ke Utara disekitar rel kereta api untuk menguasai daerah pertahanan Kamal.

Adanya korban dipihak kita sebagaimana tersebut diatas dan jenazahnya dikebumikan di Pongkoran dekat dengan Stasiun Kereta Api (sekarang dipindah di Taman Makam Pahlawan Jl. Soekarno Hatta Bangkalan).

Sehari setelah peristiwa Letnan Ramli dan Letnan Singosastro itu, Belanda datang kembali ke Kamal dengan Komandan Mayor Smith beserta stafnya dan sempat berunding dengan satu Tim yang diketuai oleh Kahar Sosrodanukusumo sebagai Utusan Pemerintah Madura dengan para anggota R.A. Ruslan Cakraningrat, Mr. Sis Cakraningrat, R. Abdul Rasyid dan Zainal Alim. Pemintaan Belanda untuk melakukan barter dengan Pemerintah Madura ditolak mentah-mentah oleh Tim.

Sejak itu Belanda memperhebat gangguan provokasi dan memperkuat blokade ekonomi. Pada bulan Pebruari 1947, satu pleton tentara Belanda mendarat di Kamal lagi dan melancarkan tembakan-tembakan gencar terhadap Markas Tentara Nasional Indonesia setempat. Batalyon Imbran sejak itu bubar dan daerah Batuporron, Kamal dan Tanjung Piring diambil alih pertahanannya oleh Batalyon Hanafi (disebut Batalyon I Resimen 35).

Dikutip dari : Buku Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Madura

Sejarah Kabupaten Karo Zaman Kemerdekaan

Kabar-kabar angin bahwa Belanda akan melancarkan agresi I militernya terhadap Negara Kesatuan Republik  Indonesia kian semakin santer, puncaknya, pagi tanggal 21 Juli 1947, Belanda melancarkan serangan ke seluruh sektor pertempuran Medan Area. Serangan ini mereka namakan “Polisionel Actie” yang sebenarnya suatu agresi militer terhadap Republik Indonesia yang usianya baru mendekati 2 tahun.

Pada waktu kejadian itu Wakil Presiden Muhammad Hatta berada di Pematang Siantar dalam rencana perjalanannya ke Banda Aceh. Di Pematang Siantar beliau mengadakan rapat dengan Gubernur Sumatera  Mr. T. Muhammad Hasan. Dilanjutkan pada tanggal 23 Juli 1947 di Tebing Tinggi. Pada arahannya dengan para pemimpin-pemimpin perjuangan,  wakil presiden memberikan semangat untuk terus bergelora melawan musuh dan memberi petunjuk dan arahan menghadapi agresi Belanda yang sudah dilancarkan 2 hari sebelumnya. Namun Wakil Presiden membatalkan perjalanan ke Aceh dan memutuskan kembali ke Bukit Tinggi, setalah mendengar jatuhnya Tebing Tinggi, pada tanggal 28 Juli  1947. Perjalanan Wakil Presiden berlangsung di tengah berkecamuknya pertempuran akibat adanya serangan-serangan dari pasukan Belanda.

 Pejuang kemerdekaan

Rute yang dilalui Wakil Presiden adalah Berastagi-Merek-Sidikalang-Siborong-borong-Sibolga-Padang Sidempuan dan Bukit Tinggi. Di Berastagi, Wakil Presiden masih sempat mengadakan resepsi kecil ditemani Gubernur Sumatera Mr. T. Muhammad Hasan, Bupati Karo Rakutta Sembiring dan dihadiri Komandan Resimen I Letkol Djamin Ginting’s, Komandan Laskar Rakyat Napindo Halilintar Mayor Selamat Ginting, Komandan Laskar Rakyat Barisan Harimau Liar (BHL) Payung Bangun dan para pejuang lainnya, di penginapan beliau Grand Hotel Berastagi. Dalam pertemuan itu wakil presiden memberi penjelasan tentang situasi negara secara umum dan situasi khusus serta hal-hal yang akan dihadapi Bangsa Indonesia pada masa-masa yang akan datang.

Selesai memberi petunjuk, kepada beliau ditanyakan kiranya ingin kemana, sehubungan dengan serangan Belanda yang sudah menduduki Pematang Siantar dan akan menduduki Kabanjahe dan Berastagi. Wakil Presiden selanjutnya melakukan: “Jika keadaan masih memungkinkan, saya harap supaya saudara-saudara usahakan, supaya saya dapat ke Bukit Tinggi untuk memimpin perjuangan kita dari Pusat Sumatera”.

Setelah wakil presiden mengambil keputusan untuk berangkat ke Bukit Tinggi via Merek, segera Komandan Resimen I, Komandan Napindo Halilintar dan Komandan BHL, menyiapkan Pasukan pengaman. Mengingat daerah yang dilalui adalah persimpangan Merek, sudah dianggap dalam keadaan sangat berbahaya.

Apabila Belanda dapat merebut pertahanan kita di Seribu Dolok, maka Belanda akan dengan mudah dapat mencapai Merek, oleh sebab itu kompi markas  dan sisa-sisa pecahan pasukan yang datang dari Binjai, siang harinya lebih dahulu dikirim ke Merek. Komandan Resimen I Letkol Djamin, memutuskan, memerlukan Pengawalan dan pengamanan wakil presiden, maka ditetapkan satu pleton dari Batalyon II TRI Resimen I untuk memperkuat pertahanan di sekitar gunung Sipiso-piso yang menghadap ke Seribu Dolok, oleh Napindo Halilintar ditetapkan pasukan Kapten Pala Bangun dan Kapten Bangsi Sembiring.

Sesudah persiapan rampung seluruhnya selesai makan sahur, waktu itu kebetulan bulan puasa, berangkatlah wakil presiden dan rombongan antara lain: Wangsa Wijaya (Sekretaris Priadi), Ruslan Batangharis dan Williem Hutabarat (Ajudan), Gubernur Sumatera Timur Mr. TM. Hasan menuju Merek. Upacara perpisahan singkat berlangsung menjelang subuh di tengah-tengah jalan raya dalam pelukan hawa dingin yang menyusup ke tulang sum-sum.

Sedang sayup-sayup terdengar tembakan dari arah Seribu Dolok, rupanya telah terjadi tembak-menembak antara pasukan musuh / Belanda dengan pasukan-pasukan kita yang bertahan di sekitar Gunung Sipiso-piso.

Seraya memeluk Bupati Tanah Karo Rakutta Sembiring, wakil presiden mengucapkan selamat tinggal dan selamat berjuang kepada rakyat Tanah Karo. Kemudian berangkatlah wakil presiden dan rombongan, meninggalkan Merek langsung ke Sidikalang untuk selanjutnya menuju Bukit Tinggi via Tarutung, Sibolga dan Padang Sidempuan.

Sementara itu, keadaan keresidenan Sumatera Timur semakin genting, serangan pasukan Belanda semakin gencar. Akibatnya, ibu negeri yang sebelumnya berkedudukan di Medan pindah ke Tebing Tinggi.

Bupati Rakutta Sembiring, juga menjadikan kota Tiga Binanga menjadi Ibu negeri Kabupaten Karo, setelah Tentara Belanda menguasai Kabanjahe dan Berastagi, pada tanggal 1 Agustus 1947.

Namun sehari sebelum tentara Belanda menduduki Kabanjahe dan Berastagi, oleh pasukan bersenjata kita bersama-sama dengan rakyat telah melaksanakan taktik bumi hangus, sehingga kota Kabanjahe dan Berastagi beserta 51 Desa di Tanah Karo menjadi lautan Api.

Taktik bumi hangus ini, sungguh merupakan pengorbanan yang luar biasa dari rakyat Karo demi mempertahankan cita-cita luhur kemerdekaan Republik Indonesia. Rakyat dengan sukarela membakar apa saja yang dimiliki termasuk desa dengan segala isinya.

Kenyataan itu telah menyebabkan wakil presiden mengeluarkan keputusan penting mengenai pembagian daerah dan status daerah  di Sumatera Utara  yang berbunyi sebagai berikut:

“Dengan surat ketetapan Wakil Presiden tanggal 26 Agustus 1947 yang dikeluarkan di Bukit Tinggi, maka daerah-daerah keresidenan  Aceh, Kabupaten Langkat, kabupaten Tanah Karo, dijadikan satu daerah pemerintahan militer dengan Teungku Mohammad  Daud Beureuh sebagai Gubernur Militer. Sedangkan daerah-daerah keresidenan Tapanuli, Kabupaten Deli Serdang, Asahan dan Labuhan Batu menjadi sebuah daerah pemerintahan Militer dengan Dr. Gindo Siregar sebagai Gubernur Militer. Masing-masing Gubernur Militer itu diangkat dengan Pangkat Mayor Jenderal.

Selanjutnya melihat begitu besarnya pengorbanan rakyat karo ini, wakil presiden Drs. Mohammad Hatta menulis surat pujian kepada rakyat Karo dari Bukit Tinggi pada tanggal 1 Januari 1948. Adapun surat wakil presiden tersebut selengkapnya sebagai berikut:

Bukittinggi, 1 Januari 1948
“Kepada Rakyat Tanah Karo Yang Kuncintai”.
Merdeka!
Dari jauh kami memperhatikan perjuangan Saudara-saudara yang begitu hebat untuk mempertahankan tanah tumpah darah kita yang suci dari serangan musuh. Kami sedih merasakan penderitaan Saudara-saudara yang rumah dan kampung halaman habis terbakar dan musuh melebarkan daerah perampasan secara ganas, sekalipun cease fire sudah diperintahkan oleh Dewan Keamanan UNO.
Tetapi sebaliknya kami merasa bangga dengan rakyat yang begitu sudi berkorban untuk mempertahankan cita-cita kemerdekaan kita.
Saya bangga dengan pemuda Karo yang berjuang membela tanah air sebagai putra Indonesia sejati. Rumah yang terbakar, boleh didirikan kembali, kampung yang hancur dapat dibangun lagi, tetapi kehormatan bangsa kalau hilang susah menimbulkannya. Dan sangat benar pendirian Saudara-saudara, biar habis segala-galanya asal kehormatan bangsa terpelihara dan cita-cita kemerdekaan tetap dibela sampai saat yang penghabisan. Demikian pulalah tekad Rakyat Indonesia seluruhnya. Rakyat yang begitu tekadnya tidak akan tenggelam, malahan pasti akan mencapai kemenangan cita-citanya.
Di atas kampung halaman saudara-saudara yang hangus akan bersinar kemudian cahaya kemerdekaan Indonesia dan akan tumbuh kelak bibit kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Karo, sebagai bagian dari pada Rakyat Indonesia yang satu yang tak dapat dibagi-bagi.
Kami sudahi pujian dan berterima kasih kami kepada Saudara-saudara dengan semboyan kita yang jitu itu: “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”.
Saudaramu,
MOHAMMAD HATTA
Wakil Presiden Republik Indonesia

Selanjutnya, untuk melancarkan roda perekonomian rakyat di daerah yang belum diduduki Belanda, Bupati Rakutta Sembiring mengeluarkan uang pemerintah Kabupaten Karo yang dicetak secara sederhana dan digunakan sebagai pembayaran yang sah di daerah Kabupaten Karo.

Akibat serangan pasukan Belanda yang semakin gencar, akhirnya pada tanggal 25 Nopember 1947, Tiga Binanga jatuh ke tangan Belanda dan Bupati Rakutta Sembiring memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Karo ke Lau Baleng. Di Lau Baleng, kesibukan utama yang dihadapi Bupati Karo beserta perangkatnya adalah menangani pengungsi yang berdatangan dari segala pelosok desa dengan mengadakan dapur umum dan pelayanan kesehatan juga pencetakan uang pemerintahan Kabupaten Karo untuk membiayai perjuangan.

Setelah perjanjian Renville ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948, Pemerintah RI memerintahkan seluruh Angkatan Bersenjata Republik harus keluar dari kantung-kantung persembunyian dan hijrah ke seberang dari Van Mook yaitu daerah yang dikuasai secara de jure oleh Republik.

Barisan bersenjata di Sumatera Timur yang berada di kantung-kantung Deli Serdang dan Asahan Hijrah menyeberang ke Labuhan Batu. Demikian pula pasukan yang berada di Tanah Karo dihijrahkan ke Aceh Tenggara, Dairi dan Sipirok Tapanuli Selatan. Pasukan Resimen I pimpinan Letkol Djamin Ginting hijrah ke Lembah Alas Aceh Tenggara. Pasukan Napindo Halilintar pimpinan Mayor Selamat Ginting hijrah ke Dairi dan pasukan BHL pimpinan Mayor Payung Bangun hijrah ke Sipirok Tapanuli Selatan.

Berdasarkan ketentuan ini, dengan sendirinya Pemerintah Republik pun harus pindah ke seberang garis Van mook, tidak terkecuali Pemerintah Kabupaten Karo yang pindah mengungsi dari Lau Baleng ke Kotacane pada tanggal 7 Pebruari 1948. Di Kotacane, Bupati Rakutta Sembiring dibantu oleh Patih Netap Bukit, Sekretaris Kantor Tarigan, Keuangan Tambaten S. Brahmana, dilengkapi dengan 14 orang tenaga inti.

Selanjutnya untuk memperkuat posisi mereka, Belanda mendirikan Negara Sumatera Timur. Untuk daerah Tanah Karo Belanda menghidupkan kembali stelsel atau sistem pemerintahan di zaman penjajahan Belanda sebelum perang dunia kedua.

Administrasi pemerintahan tetap disebut Onder Afdeling De Karo Landen, dikepalai oleh seorang yang berpangkat Asisten Residen bangsa Belanda berkedudukan di Kabanjahe. Di tiap kerajaan (Zeifbesturen) wilayahnya diganti dengan Districk sedangkan wilayah kerajaan urung dirubah namanya menjadi Onderdistrick.

Adapun susunan Pemerintahan Tanah Karo dalam lingkungan Negara Sumatera Timur adalah: Plaatslijkbestuur Ambteenaar, A. Hoof. Districthoofd Van Lingga, Sibayak R. Kelelong Sinulingga, Districhoofd Van Suka, Sibayak Raja Sungkunen Ginting Suka, Districhoofd Van Sarinembah, Sibayak Gindar S. Meliala, Districthoofd Van Kuta Buluh, Sibayak Litmalem Perangin-angin.

Ditulis Oleh : Sion Sembiring

Sumber

Perang-Perang di Indonesia

I/Permesta – Dalam sejarah TNI AU, pembumihangusan separatis PRRI/Permesta, (1958), menorehkan peperangan udara “spektakuler”. P-51 Mustang dan B-25 mencabik-cabik pertahanan PRRI/Permesta di Padang dan Manado. PRRI diembrioi dengan lahirnya Dewan Gajah dan Dewan Banteng, 20 dan 22 Desember 1955. Gerakan separatis ini disikapi Jakarta dengan membekukan Komando Daerah Militer Sumatera Tengah. Sikap Jakarta inilah yang dibalas “pemberontak” dengan mendirikan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), 15 Februari 1958.

Memang seperti penyakit menular. Letkol Ventje Sumual mengumumkan SOB yang sekaligus menandai proklamasi Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), 2 Maret 1957. Jakarta segera membentuk operasi gabungan APRI. Di Sumatera digelar operasi “17 Agustus”, di Sulawesi digelar operasi “Merdeka”. P-51, B-25, dan C-47 Dakota disiapkan untuk operasi ini. Dari kedua kelompok, Permestalah yang menakutkan AURI. Karena memiliki beberapa P-51 dan B-26 yang diterbangkan pilot-pilot bayaran dari Amerika, Taiwan, dan Filipina.

Dalam menghadapi PRRI, AURI menyiapkan hingga 40 pesawat hampir seluruh kekuatan di Tanjung Pinang. Berturut-turut dalam operasi perebutan, B-25 dan P-51 menghujani dengan senapan mesinnya Lanud Simpang Tiga Pekanbaru (12 Maret), kota Medan (17 Maret), serta kota Padang (17 April). 17 hari kemudian, Bukittinggi juga jatuh ke tangan pasukan APRI.

Di Selebes, kembali AURI menggelar operasi dengan menidurkan radio Permesta di Manado (22 Februari 1958), merebut keunggulan udara di Mapanget, Tasuka, Morotai, dan Jailolo (5 Mei), hingga mandulnya Permesta 23 Mei. Begitu gencarnya pertempuran di darat maupun dari udara, sempat memancing pesawat Lockheed U-2 Dragon Lady. Pesawat ini pernah dimanfaatkan mengintai pulau Natuna yang disiapkan untuk menggempur Jakarta. Buntut perang ini memperburuk hubungan Jakarta-Washington. CIA ternyata berada dibelakang semua aksi itu.

 Pesawat pencegat P-51 Mustang Skadron-3 AURI/Dispen AU 
Lewat perang ini pula lahir ace kalau boleh menyebut pertama Indonesia. P-51 Mustang yang diterbangkan Kapten Udara IGN Dewanto menembak jatuh B-26 Permesta yang diterbangkan Allen Lawrence Pope. Peristiwa heroik ini terjadi 18 Mei 1958.

Trikora – Dengan lantang, di depan rapat raksasa di Yogyakarta, 19 Desember 1961, Presiden Soekarno menyerukan, “… oleh karena Belanda masih melanjutkan kolonialisme di tanah air kita…, maka kami perintahkan kepada rakyat Indonesia, juga yang berada di Irian Barat, untuk melaksanakan Tri Komando.” Tiga tahap rencana operasi : infiltrasi, penghancuran, dan konsolidasi, segera disusun. Pesawat, kapal perang, radar, tank, senjata, disiapkan.

Guna memuluskan operasi, dibentuklah Komando Mandala yang membawahi unsur AD, AL, AU, dan Kohanudgab Mandala, 11 Januari 1962. Sebagai panglima komando mandala yang berada langsung di bawah Panglima KOTI Presiden Soekarno, dipercayakan kepada Mayjen Soeharto. Adapun wakil panglima mandala ditunjuk Komodor Laut Soebono dan Komodor Udara Leo Wattimena.

AU Belanda diperkuat 24 pesawat buru sergap Hawker Hunter Mk-06 yang berpangkalan di Biak, enam helikopter Aloutte, 10 Neptune, setengah skadron C-47 serta dua unit radar tipe 15 Mk-IV di Numfor dan pulau Wundi. Terbatasnya daya jangkau MiG-17 dan P-51, menjadi kendala bagi AURI, karena AU Belanda masih didukung AD dan AL.

Namun begitu, operasi-operasi pengintaian dan infiltrasi telah dilaksanakan. Seperti mengejar kapal selam di Morotai, menembak kapal asing, menyerang kapal Belanda di pulau Gag di perairan Irian Barat, sampai menerjunkan PGT dan RPKAD. Operasi penyusupan ini diberi nama Banteng Ketaton.

Dalam operasi penerjunan, pesawat C-47 selalu mendapat pengawalan dari P-51 dan B-25/26. Berhadapan dengan kekuatan udara Belanda pun sudah terjadi di sini. Seperti usai penerjunan di Kaimana, jatuh korban. Pesawat angkut C-47 yang diterbangkan Kapten Djalaluddin Tantu, ditembak jatuh ke laut dalam penerbangan pulang oleh Neptune Belanda. Namun begitu, AURI boleh berbangga. Karena secara keseluruhan, keunggulan udara dapat diraih.

Sekiranya AURI tidak siap, tentu tidak mungkin keunggulan di udara dicapai sehingga penyusupan-penyusupan lewat udara dapat dilakukan yang tidak jarang dilaksanakan juga dengan formasi C-130. Untuk menghadapi Operasi Jayawijaya, AURI sengaja menyiapkan unsur udaranya secara besar-besaran. Lihat saja, bomber (10 Tu-16 dan 10 Tu-16 KS), enam B-25 dan B-26 (empat cadangan), delapan IL-28 dengan dua cadangan. Unsur angkut dan SAR masing-masing delapan C-130 dengan dua cadangan, 20 C-47 Dakota, enam Mi-4 dan Bell-204, lima UF Albatros serta dua Twin Otter. Unsur serang pertahanan udara dan serang darat masing-masing disiapkan tujuh P-51, dan 18 MiG-17 Fresco. Disamping itu, AURI juga menyiapkan dua batalion pasukan tempurnya yang sangat disegani kala itu, Pasukan Gerak Tjepat (PGT). Radar-radar turut ditempakan di Morotai, Bula, dan Saparua.

Walau perang terbuka urung berkecamuk, beberapa pesawat AURI mengalami kecelakaan. Tercatat 2 P-51, 2 MiG-17, 1 C-47, 1 Albatros, 2 Il-28, dan 1 B-26, mengalami kecelakaan dalam operasi pembebasan Irian Barat. Peristiwa ini, memakan korban lebih kurang 20 penerbang beserta awak-nya. Beberapa kali penerjunan yang dilakukan di Kaimana, Fak Fak, Sorong, Klamono, Teminabuan, dan Merauke, juga mengakibatkan gugurnya 94 prajurit PGT.

Setelah Irian Barat kembali ke pangkuan RI, di propinsi paling timur ini muncul gerombolan yang menamakan dirinya Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Lodewyk Mandatjan. Operasi kembali di gelar. Sebuah B-25 diterbangkan LU I Suwadji dan B-26 diterbangkan Letkol P Soedarman, menggempur OPM di desa Tindowi, 90 km dari Manokwari, Agustus 1965. Masih di bulan Agustus, B-26 mendapat tugas mengamankan sekaligus menolong satu regu Kopasgat dan Polisi yang dikepung 12.000 anggota OPM. Operasi sukses. Tidak ada yang terluka, Alhasil, operasi pembebasan Irian Barat menjadi catatan sejarah penting sebagai operasi gabungan terbesar yang pernah dirancang dan dilaksanakan ABRI (sekarang TNI).

Dwikora – Belum hilang penat dari bumi cendrawasih (konflik dihentikan 18 Agustus 1962), AURI sudah dihadapkan lagi kepada “pilihan politik” untuk menyiapkan alutsistanya menghadapi negara jiran Malaysia. Ini berawal dari pidato Soekarno yang mengatakan ingin membantu rakyat Kalimantan Utara yang menentang pembentukan Federasi Malaysia. Ajakan “perang” Soekarno yang terkenal dengan Dwikora ini, diucapkannya di Jakarta, 3 Mei 1964.

Tidak kalah hebat dengan Trikora, 8 Tu-16, 4 P-51, 9 B-25, 2 C-130, 11 C-47, serta 4 Il-14, dinyatakan siap. ALRI juga menyatakan kesiapannya dengan menempatkan ratusan kapal didukung pesawat terbang serta beberapa batalion marinir. Celakanya, kekuatan AURI harus berhadapan dengan AU Inggris dan AU Australia yang melindungi negara persemakmurannya. Kekuatan gabungan Inggris-Australia diduga terdiri dari 50-an bomber, 24 Hawker Hunter, 24 Gloster Javelin, 30 F-86 Sabre, serta 6 skadron pesawat angkut dan 12 helikopter. Belum dihitung skadron rudal Blood Hound serta 2 skadron pesawat stand by di Australia. Pertahanan Malaysia makin sempurna dengan dukungan pasukan darat dan laut (27 batalion, 16 batalion artileri, belasan kapal, serta pasukan Gurkha).

Sekali lagi, gelar pasukan segitu besar harus diakhiri di meja perundingan, seperti halnya Trikora. Meletusnya pemberontakan G 30S/PKI, telah menyita perhatian publik serta militer yang memaksa para elit negara harus segera menghentikan konfrontasi. Pasukan segera ditarik. Sebuah C-130 Hercules AURI diterbangkan Mayor Djalaluddin Tantu yang sekiranya menerjunkan 1 kompi PGT di Malaka, hilang pada tanggal 1 September 1964.

Penerjunan di Dili – Menurut beberapa pengamat militer Indonesia, operasi penerjunan di kota Dili, 7 Desember 1974, merupakan operasi lintas udara (Linud) terbesar yang pernah dilaksanakan TNI. Satu batalion pasukan tempur terdiri dari Grup-1 Kopassandha dan Brigade 18/Linud Kostrad yang sebagian besar dari Batalion-502/Raiders Jawa Timur, diterjunkan di pagi buta dari sembilan pesawat angkut berat C-130 Hercules Skadron Udara 32 TNI AU.

Perebutan Dili diputuskan Menhankam/Pangab Jenderal TNI M Panggabean, 4 Desember di Kupang. Sebelum perebutan Dili, Fretilin sudah terlibat baku tembak dengan pasukan TNI dalam perebutan Benteng Batugade (17 Oktober). Garis besarnya, operasi ini dilakukan dalam tiga sortie. Sortie pertama dari Lanud Iswahyudi Madiun, dengan droping zone (DZ) Dili. Diterjunkan Grup-1 Kopassandha dan Yon Linud 501. Sortie berikutnya diberangkatkan dari Penfui Kupang dengan DZ Komoro. Ikut dalam sortie ini Yon 502 dan Baret Merah yang menurunkan Denpur-1, disebut Nanggala-5. Sortie terakhir, direncanakan juga dari Kupang.

Kalau selama Trikora, airborne operation bisa sukses karena didukung pesawat tempur. Nah, di Dili, ini masalahnya. Bantuan tembakan udara tidak bisa diharapkan dari P-51 karena digrounded. Sementara T-33-Bird dan F-86 belum dipersenjatai. Dari tujuh bomber B-26, hanya dua yang serviceable. Pilotnya juga sebanyak pesawatnya. Ujung-ujungnya, dua C-47 disulap menjadi AC-47 gunship dilengkapi tiga senapan mesin kaliber 7,62 mm di sisi, mendampingi B-26.

Begitulah. Tepat pukul 05.45, peterjun pertama melompat keluar dari ramp door pesawat. Beberapa prajurit langsung gugur, karena ketika masih melayang di udara disambut timah panas Fretilin dari bawah. Termasuk pesawat. Empat C-130 terkena dihantam senapan mesin ringan dari bawah. Bahkan load master T-1312, Pelda Wardjijo, gugur karena peluru menembus badan pesawat.

Pasukan yang diterjunkan dengan cepat menguasai Dili. Pukul 07.45, kembali sortie kedua diterjunkan di Komoro. Petang itu juga, pemerintah segera mengumumkan bahwa Dili telah dibebaskan.

Bagi Kopasgat TNI AU, operasi ini penting. Gelar Kopasgat terjadi dua hari kemudian, 9 Desember, ketika delapan C-130 kembali menerjunkan Kostrad, Kopassus, dan 156 Kopasgat pukul 07.25. B-26 melindungi penerbangan kali ini. Tugas Kopasgat adalah membebaskan lapangan terbang Baucau, atau lebih populer dengan Vila Salazar Baucau dalam bahasa Portugis.

Detasemen Kopasgat dipimpin Kapten (Psk) Afendi. Operasi ini sekaligus membuktikan kemampuan Kopasgat melaksanakan Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara Depan (OP3UD). Hanya bertahan 23 tahun, propinsi termuda ini lepas dari RI setelah jajak pendapat, 30 Agustus 1999. Sebuah perjuangan yang dramatis sekaligus menyisakan sejuta pertanyaan. (Sumber)

Reorganisasi Tentara Indonesia 1945-1946

Pada tanggal 22 Agustus 1945 PPKI mengumumkan berdirinya sebuah “Badan Penolong Keluarga Korban Perang” yang di dalamnya mencakup sebuah Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang berfungsi memelihara keamanan bersama-sama dengan rakyat dan badan-badan negara yang lain. BKR secara organisasi ditempatkan di bawah KNIP sementara cabang-cabangnya di bawah KNI Daerah.

Pemuda-pemuda dengan berbagai macam latar belakang diperkenankan untuk mendaftarkan diri ke BKR, namun demikian kebanyakan pemuda yang mendaftarkan diri ke BKR adalah para pemuda mantan PETA, dan bisa dipastikan bahwa pimpinan-pimpinan BKR yang berada di pusat maupun daerah kebanyakan berada di tangan mantan perwira-perwira mantan PETA.

Korps perwira BKR dengan cepat merasa terikat dengan pemerintah, dan disiplin mereka pada umumnya jauh lebih baik dibandingkan organisasi-organisasi kelaskaran yang menolak melebur ke dalam BKR dan secara umum bersikap enggan menerima perintah dari pemerintah.

Sedangkan hambatan paling besar bagi BKR adalah tidak adanya sebuah komando yang terpusat yang dapat mengangkat anggota-anggota korps perwira. Seringkali kesatuan-kesatuan memilih komandan mereka sendiri, sehingga sebagai akibatnya kedudukan para komandan itu tidak lebih sebagai “primus inter pares” (yang pertama diantara sesama).

Pada tanggal 5 Oktober 1945, BKR dirubah namanya menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang memiliki fungsi memelihara keamanan. Dan karena statusnya meningkat menjadi tentara maka struktur organisasinya mengalami perubahan. Disinilah peran utama dari mantan perwira-perwira KNIL yang bergabung di dalam TKR, yang secara fungsi dan ilmu ketentaraan lebih berpengalaman dibandingkan para mantan PETA terutama pendidikan ke-staf-an, seperti pengorganisasian dan perencanaan militer.

Ketika pembentukan TKR diumumkan, pada hari itu juga bekas Mayor KNIL, Oerip Soemohardjo diangkat sebagai Kepala Markas Besar Umum TKR. Dan karena di kalangan orang-orang bekas PETA, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terdapat perasaan kurang senang terhadap mantan opsir KNIL maka ia tidak diangkat sebagai Panglima Tentara, jabatan yang pada hari berikutnya diserahkan kepada Suprijadi, pemimpin legendaris pemberontakan PETA di Blitar. Tetapi pengangkatan itu hanyalah simbolis, karena sejak pemberontakan dalam Bulan Februari itu Suprijadi tak pernah muncul lagi.

Di lapangan dibentul 4 komandemen, Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kepada mereka diberikan komando taktis, baik atas kesatuan TKR yang regular maupun atas sekian banyaknya badan perjuangan kelaskaran. Namun demikian diantara 4 komandemen yang dibentuk, hanya komandemen Jawa Baratlah yang berfungsi cukup baik yang pada waktu itu dipimpin oleh bekas Kapten KNIL Didi Kartasasmita dan “Kadet Bandung” Abdul Harris Nasution yang sampai tingkat tertentu menerapkan disiplin dan perencanaan militer menurut norma-norma militer Belanda.

Ketika sekutu benar-benar sampai ke pedalaman Jawa dan Sumatera untuk melucuti tentara-tentara Jepang dan membebaskan interniran Eropa, para perwira TKR mendesak pemerintah untuk segera secara permanen mengisi jabatan Panglima dan Menteri Keamanan (Peratahanan). Karena pemerintah tidak menanggapi permintaan mereka, maka Oerip Soemohardjo pada tanggal 12 November 1945 memanggil semua panglima divisi dan resimen TKR untuk menghadiri sebuah rapat di Jogjakarta untuk mengisi kedudukan panglima dan menteri keamanan.

Dalam rapat itu terpilihlah Soedirman, seorang bekas opsir PETA, sebagai panglima TKR. Oerip menjadi orang kedua dan karena kecewa dia lalu mengundurkan diri dari kedudukan sebagai kepala staf Markas Besar TKR. Rupanya pada mulanya Oerip berharap ialah yang terpilih untuk menduduki jabatan puncak itu. Dia jauh lebih tua daripada Soedirman yang ketika itu berusia 33 tahun dan tak diragukan lagi bahwa dia merupakan perwira staf yang paling memenuhi persyaratan yang tersedia di Indonesia.

Segera setelah ia terpilih, Soedirman bergerak secara bijaksana dan luwes untuk mengkonsolidasikan kedudukannya. Berbeda dengan Oerip yang mengutamakan masalah teknis dan organisasi, maka Soedirman membaktikan diri terutama kepada masalah-masalah politik dalam mempersatukan tentara dan memberinya suatu pandangannya yang terpadu mengenai peranannya dalam revolusi.

Sidang itu juga memutuskan untuk memilih Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Menteri Keamanan. Namun dua hari kemudian pada tanggal 14 November 1945 Perdana Menteri Sjahrir menetapkan Amir Sjarifuddin sebagai Menteri Keamanan dalam kabinetnya.

Tanggal 1 Januari 1946, Kementrian Keamanan diubah namanya menjadi Kementrian Pertahanan dan TKR dirubah namanya menjadi “Tentara Keselamatan Rakyat”. Tanggal 24 Januari 1946, “Tentara Keselamatan Rakyat” dirubah lagi namanya menjadi “Tentara Republik Indonesia” (TRI). Selain itu dibentuk pula sebuah Panitia Besar untuk reorganisasi tentara dengan Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo sebagai ketuanya dengan tugas mencari jalan untuk meningkatkan efisiensi tentara.

Panitia ini didominasi oleh bekas opsir KNIL yang reputasinya sebagai ahli organisasi pada umumnya pun diakui oleh pemerintah atau pun oleh bekas opsir-opsir PETA. Dan pada tanggal 17 Mei 1946 menyampaikan hasil kerjanya kepada kabinet berupa usulan reorganisasi ketentaraan. Cara kerja panitia yang cukup baik itu membuktikan bahwa orang seperti Oerip hampir-hampir tak tergantikan dalam tentara, sehingga pemerintah lalu mengangkatnya kembali menjadi kepala staf tentara.

Sebelumnya pada tanggal 19 Februari 1946, Kementrian Pertahanan dibawah Amir Sjarifuddin juga membentuk Staf Pendidikan Politik untuk tentara yang gunanya adalah menghapuskan “jejak-jejak” kolonialisme-feodalisme bagi mantan perwira KNIL dan fasisme bagi mantan perwira PETA. Staf pendidikan tersebut diantaranya terdiri dari Soekono Djojopraktinjo (Partai Sosialis), Anwar Tjokroaminoto (Masyumi), Wijono (Partai Sosialis), Mustopo (non-partisan), Farid Ma’roef (Masyumi) dan Soemarsono (Partai Sosialis). Dalam kelompok ini Partai Sosialis dan Masyumi diwakili secara baik, sementara organisasi-organisasi politik yang lainnya tidak.

Kemudian rapat tentara yang kedua diadakan pada tanggal 23 Mei 1946 yang dihadiri oleh para perwira markas besar dan semua panglima divisi serta resimen. Rapat menerima usul-usul reorganisasi yang diajukan oleh Oerip dan menyambut baik pengangkatannya kembali sebagai Kepala Staf. Dan salah satu hasil rapat yang penting adalah membentuk 10 Divisi Teritorial yang diberi nomer dan nama yang berkaitan dengan sejarah pra-kolonial serta mitologi Indonesia sebagai berikut :

(1) Divisi I Siliwangi, dengan panglimanya adalah Mayjend A.H. Nasution, bermarkas di Tasikmalaya
(2) Divisi II Sunan Gunung Jati, Mayjen Abdul Kadir, untuk daerah Cirebon hingga Pekalongan
(3) Divisi III Diponegoro, Mayjen Soedarsono, bermarkas di Jogjakarta
(4) Divisi IV Senopati, Mayjen Soediro, untuk daerah Solo dan sekitarnya
(5) Divisi V Ronggolawe, Mayjen Djatikoesoemo, untuk daerah Cepu dan sekitarnya (awalnya di Mantingan)
(6) Divisi VI Narotama, Mayjend Mayjend Soengkono, untuk daerah Kediri dan sekitarnya
(7) Divisi VII Suropati, Mayjend Imam Soedjai, untuk daerah Malang dan sekitarnya
(8) Divisi VIII Garuda, Kolonel Simbolon, untuk daerah Sumatera Selatan
(9) Divisi IX Banteng, Kolonel Ismail Lengah, untuk daerah Sumatera Tengah
(10) Divisi X Gajah, untuk daerah Sumatera Utara

Sumber Bacaan :

(1) Politik Militer Indonesia. Ulf Sundhaussen. LP3ES. 1986.
(2) Revoloesi Pemoeda. Ben Anderson. Sinar Harapan. 1988.

(Sumber)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.