PRRI di Nagari Tanjuang Sungayang

Pengarang : H. Si Am Dt. Soda

I. Nagari Tanjung Bak Surga Muncul di Dunia

Inilah syair tentang orang kampung
Peristiwa terjadi di Nagari Tanjung
Ketika bergolak mereka bergabung
Ditulis dalam bait sambung menyambung

Ijin diminta ke penghulu nagari
Untuk berkisah peristiwa dialami
Bukan saya ahli puisi
Kisah untuk anak cucu nanti

Kalau salah tolong betulkan
Syair ditulis dalam sepekan
Banyak yang lupa atau terlupakan
Peristiwa terjadi tahun enam puluhan

Nagari Tanjung dilingkari bukit
Ada labuah jalan berbelit
Sawah berpematang, banyak parit
Menghasilkan padi bersumpit sumpit


Banyak sungai airnya deras
Di situ berbiak ikan Tawas
Sungai berbatu, batu cadas
Di sisi tumbuh pohon Perawas

Orang Tanjung, semuanya taat
Menjalankan agama, aturan syariat
Ketika datang waktu sholat
Aktivitas berhenti untuk sesaat


Sambil istirahat agak sebentar
Sembahyang Zuhur atau Ashar
Di atas batu bersusun datar
Di pinggir sungai banyak terhampar

Ibarat surga muncul di dunia
Tempat anak bermain ceria
Penduduk tenteram hidup seiya
Mereka semua berakhlak mulia

Tanah Sirah tempat siluncuran
Pelepah Pinang untuk kenderaan
Tebing miring dijadikan sandaran
Anak bermain, lupa makan

Ketika malam mengaji di surau
Lalu diajar silat Lintau
Begitu remaja Minang Kabau
Bekal kelak untuk merantau


Sawah terhampar berlupak lupak
Pematangnya panjang bagaikan ombak
Ditumbuhi rumput makanan ternak
Sangat indah bila dikodak

Sungai di Tanjung ada lima
Airnya jernih seperti aqua
Bisa diminum kala dahaga
Tiada polusi racun berbahaya

II. Situasi Yang Berubah

Menurut berita kabar orang
Presiden Soekarno sangat berang
Sumatera Tengah akan diserang
Negeri siap untuk berperang

Februari 58 perubahan mendadak
Penduduk Tanjung bertambah banyak
Pengungsi datang secara serentak
Mereka diterima seperti dunsanak

Ini nasib para pengungsi
Gaji bulanan telah terhenti
Tiada tanah untuk bertani
Menunggu bantuan sanak senagari

Meski bukan saudara dekat
Sanak senagari orang beradat
Dagang yang datang disambut hangat
Saling membantu sesama umat

Tiada terdengar di gunjing percakapan
Mencari kesempatan di dalam kesempitan
Orang berebut cari kebaikan
Saat membantu kelompok perjuangan

Harapkan pahala dari Yang di Atas
Semua berkorban secara ikhlas
Membantu perjuangan sekilo emas
Atau hanya secupak beras

Kepada pengungsi dari kota
Rumah dipinjamkan tidak disewa
Kalau makan ikut bersama
Pengungsi senang berhati lega

III. Nagari Tanjung di Persimpangan Jalan

Nagari Tanjung lokasi perlintasan
Para komandan membawa pasukan
Jumlahnya banyak terhitung ratusan
Mereka singgah diberi makan

Dari Lintau menuju Agam
TP 1 berjalan di malam kelam
Membawa karaben serta meriam
Setiap regu jumlahnya enam

Dari Pasaman hendak ke Sijunjung
Melewati bukit serta gunung
Masuk kampung ke luar kampung
Juga singgah di Nagari Tanjung

Walaupun tembakan berdentum dentum
Nasi disiapkan dapur umum
Disertai air untuk diminum
Ibarat membantu kerabat kaum

Para pemuda anggota TP
Menyandang bedil jenis LE 2
Ketika berkomunikasi memakai kode
Yakin berjuang bukan ber ere ere 3

Kode digunakan ketika malam
Misalkan kode daun mempelam
Teriakkan daun, lalu diam
Jawaban yang benar: mempelam

Sebelum bertanya kita berandai
Kalau jawaban telah sesuai
Itulah kawan, tak perlu dicurigai
Runding dan diskusi bisa dimulai

Bila panggilan dijawab salah
Alamat badan ditimpa susah
Dapat mati bersimbah darah
Jadi sasaran tembakan terarah

Untuk menjaga daerah perlintasan
Bukit menjadi tempat bertahan
Lubang digali di pinggir hutan
Oleh musuh tak mudah kelihatan

Batalyon bernama Harimau Minang
Kapten Badaruddin pimpinan perang
Sifatnya tegas tapi tenang
Kepada anak buah dia sayang

Badaruddin orang Luhak Limapuluh
Kabarnya berasal dari Payakumbuh
Ketika sulit tak pernah mengeluh
Kepada Achmad Husein dia patuh

Pasukan istimewa Baringin Sati
Anggotanya banyak berjumlah sekompi
Berbaris apel setiap pagi
Menunggu sarapan sebungkus nasi

Baringin Sati kompi istimewa
Komandan bernama Muhir Aloha
Anggotanya banyak parewa kota
Mereka bergabung secara sukarela

Muhir Aloha orang Aceh
Rajin ibadah, sangat saleh
Wajahnya tenang, terlihat sumeh
Bukan pengikut Daud Beureh

Ketika Muhir memimpin gerilya
Isteri dan anak dibawa serta
Bayinya sehat tampak ceria
Tanpa minuman susu Formula

Bersama wakilnya Malin Marajo
Guru silat aliran Kumango
Senang memakai kopiah sebo
Tapi tak suka menebar foto

Ibarat memberi anak kandung
Itulah sumbangan orang Tanjung
Nasi bungkus berkarung-karung
Membantu perjuangan secara langsung

Sejak awal sampai terakhir
Sumbangan datang bak air mengalir
Rakyat memberi tak perlu kuatir
Tiada yang hilang walau sebutir

Ini bukan cerita bohong
Perang dibiayai bergotong royong
Setiap orang ikut menyokong
Walau sumbangan ubi sepotong

GMW atau Gerakan Massa Wanita
Organisasi perempuan ikut serta
Meminta masyarakat berinfak harta
Demi perjuangan membela negara

Upiak Sayang dan Ande Mokah
Tiada jemu, tanpa lelah
Menyuruh petugas ke rumah rumah
Mengumpulkan iuran ataupun sedekah

Iuran perang anak nagari
Sebagai bukti kesadaran diri
Ketika menjaga ibu pertiwi
Saat negara mengalami revolusi

IV. Kota Batusangkar Kerap Digempur

Batusangkar ibukota kabupaten
Dahulu bernama Fort Van Der Capellen
Belanda mendirikan benteng permanen
Kokoh dan kuat karena disemen

Tentara Pusat bertahan di benteng
Di dalam bangunan beratap genteng
Tiada aliran air ledeng
Hanya disiapkan makanan kaleng

Bila malam telah datang
Tentara Pusat tak lagi tenang
Setiap pekan gerilya menyerang
Korban yang luka mengerang erang

Inilah suasana yang sangat haru
Ketika tentara terkena peluru
Darah mengalir membasahi baju
Tole berbisik memanggil ibu

Dijaga mBoke sedari kecil
Kini menggeletak di samping bedil
Tubuh terasa dingin menggigil
Bunda disebut dipangil panggil


Dari Tanjung diatur serangan
Pasukan berbaris beriring iringan
Granat di pinggang, senapan di tangan
Kota Batusangkar sebagai tujuan

Serangan dipimpin oleh para komandan
Bisa marah seperti macan
Terhadap prajurit pelanggar aturan
Yang tak patuh pada perintah atasan

Terhadap komandan harus taat
Pimpinan mengatur taktik siasat
Perintah diucapkan tegas dan cermat
Tak boleh membantah atau mendebat

Kata dubalang, kata menderas
Kalimat pendek sangat ringkas
Ucapan terang harus jelas
Lama berucap satu nafas

Senjata moderen buatan bule
Banyak yang kecil, ada gede
Bazoka, Mortir dan L.M.G
Disertai Garrand, Springfield dengan L.E

Beriring-iringan TP berjalan
Kepala regu ada di depan
Memberi arah tempat tujuan
Menunggu kode isyarat penyerangan

Agar PRRI tidak masuk kota
Batusangkar dilingkari kawat tembaga
Kawat dialiri arus terbuka
Bila tersentuh bisa celaka

Kalau tentara keadaannya panik
Kota dipagari arus listrik
Sifatnya arus, bolak balik
Siapa menyenggol langsung terpekik

Inilah kesalahan sangat besar
Ketika listrik dijadikan pagar
Orang sipil tak mampu menghindar
Konvensi perang telah dilanggar

V. Kantor Koterketj

Komando Teritorial Tingkat Kecamatan
Yang mengatur logistik pasukan
Zainal Abidin nama pimpinan
Sebelum perang pegawai penyiaran

Tiada ragu ataupun bimbang
Sebagai pegawai RRI Padang
Hidup sehari hari sudah tenang
Abidin memutuskan ikut berperang

Orangnya tampan badan tinggi
Pakaian necis sangat rapi
Tutup kepala memakai topi
Terus siaga setiap hari


            Rumah kenangan, rumah perjuangan, home sweet home

Kantor menumpang di rumah Datuk Soda
Tidak dipungut uang sewa
Niatnya menyumbang secara sukarela
Andil perjuangan tanggungan bersama

Zainal Abidin punya ajudan
Untuk membantu tugas pekerjaan
Hubungannya bak mamak dengan kemenakan
Mereka berjaga secara giliran

Maklum kondisi suasana perang
Setiap saat musuh menyerang
Kalau lengah nyawa melayang
Diterjang peluru yang tak diundang

Karena perang berbulan bulan
Logistik tentara harus disiapkan
Nasi bungkus untuk pasukan
Pagi dan sore perlu makan

Walau siaga sepanjang hari
Baik petang maupun pagi
Nasi bungkus dijatah dua kali
Sumbangan perjuangan anak nagari

VI. Perselisihan Antara Tentara Pelajar dengan Tentara Reguler PRRI (Serdadu)

Banyak pelajar tentara sukarela
Di Tanah Sirah membuat asrama
Di Batunjam juga ada anggota
Siang dan malam selalu siaga

Tidak digaji, tidak diupah
Pakaian seragam tidak dijatah
Baju sendiri dibawa dari rumah
Dibelikan ibu, hadiah ayah

Seragam sukarelawan ketika itu
Bersandal jepit tampak lucu
Tentara reguler rapi bersepatu
Layak disebut sebagai serdadu

Peristiwa terjadi tahun 58
Mungkin September bulan sembilan
Karena tiada dalam catatan
Bila keliru tolong dibetulkan

Sekompi serdadu melewati Tanjung
Menuju tujuan ke daerah Sijunjung
Hari sore suasana mendung
Lalu istirahat di tengah kampung

Semua orang ingin berbakti
Kepada ranah tanah pertiwi
Tiada jenderal mengatur koordinasi
Pasukan bertindak sendiri sendiri

Para serdadu tentara asli
Memakai sepatu bertutup tinggi
Seragamnya lengkap gagah sekali
Senjatanya berlebih membuat iri

Melihat kondisi ada perbedaan
Dirasakan TP melihat kenyataan
Perlengkapan diminta sedikit bagian
Serdadu marah melepas tembakan

Tembakan dilepas berulang ulang
Kondisinya mirip seperti perang
Peluru ditembakkan terbuang hilang
Untunglah tiada nyawa melayang

Karena menolak usul permintaan
Tembakan meletus bersahut sahutan
Sesama kawan timbul perselisihan
Penduduk ngeri sangat ketakutan

Kalau mendengar ledakan keras
Semua orang menjadi cemas
Jantung berdetak sangat keras
Tutup telinga jangan dilepas

Ketika pemboman bertubi-tubi
Telinga kanan dan kuping kiri
Bisa pekak menjadi tuli
Harus ditutup dengan jari

Seperti cerita Pak Ogah
Yang tak mau mengikuti perintah
Gendang telinga menjadi pecah
Untuk berkomunikasi menjadi susah

VII. Tahun Pertama ketika Perang

Tahun pertama ketika perang
Tentara Pusat tak berani datang
Nagari ditembak berulang-ulang
Penduduk lari tunggang langgang

Ibarat Israfil datang mendesir
Lalu meledak seperti petir
Bom pecah berbutir-butir
Itulah meriam disebut Mortir


Bom meledak serentak delapan
Kiri, kanan, belakang depan
Kampung Mandahiling jadi sasaran
Mortir ditembakkan setiap pekan

Batu dan tanah ikut beterbangan
Membuat debu seperti pusaran
Diri merasa sangat ketakutan
Ingat Allah, minta perlindungan

Walau bukan permintaan diri
Takdir Tuhan berlaku pasti
Terkena bom ada yang mati
Ataupun luka di tangan kaki

Sering tubuh telah hancur
Darah di badan masih mengucur
Orang yang mati segera dikubur
Tanpa menunggu sanak sedulur

Karena situasi siap siaga
Mayat dikuburkan tergesa-gesa
Kalau tembakan kembali bergema
Jenazah ditinggal untuk sementara

VIII. Terdengar Bunyi Kenderaan Dari Jauh yang Menimbulkan Stres

Walau bukan perbuatan sadis
Tapi teror perang psikis
Bermacam bentuk berbagai jenis
Mengakibatkan stres ke luar pipis

Inilah teror sangat ampuh
Menciptakan suara dari jauh
Orangpun ngeri ke luar peluh
Hilang semua sifat angkuh

Truk membawa para serdadu
Dari jauh bunyi menderu
Ibarat mendengar suara hantu
Penduduk panik tidak menentu

Ketika telepon jumlahnya sedikit
Mencari informasi sangat sulit
Belum tersedia komunikasi satelit
Musuh berada di balik bukit

Dari kejauhan terdengar bunyi
Waktu senja ataupun pagi
Setiap orang cari informasi
Untuk bersiap ijok sembunyi

Disebut orang sedang ijok
Pergi sembunyi bersama kelompok
Mencari lokasi yang agak cocok
Di dalam rimba membangun pondok

Ada fenomena sangat menarik
Bunyi kenderaan menimbulkan panik
Orang bicara satu topik
Tentara Pusat bergerak mudik

Waktu fajar masih tersuruk
Tentara beroperasi menggunakan truk
Mereka berdiri tiada yang duduk
Di samping OPR sebagai penunjuk

Saat menyusuri jalan tanjakan
Truk merayap pelan pelan
Menderu deru dari kejauhan
Lalu disusul bunyi tembakan

 

IX. Pesawat Terbang Menyerang Tanjung

Tidak berjadwal dapat diduga
Datang muncul tiba tiba
Mungkin Jumat atau Selasa
Setiap waktu harus waspada

Suatu pagi dihari Jumat
Di langit melayang dua pesawat
Kapal terbang sangat cepat
Terlihat jelas dari darat

Pesawat digerakkan baling baling
Dilengkapi mitraliur di badan samping
Menyusuri lembah menghindari tebing
Mencari sasaran yang dianggap penting

Pesawat terbang setinggi kelapa
Pilot kelihatan bertopi baja
Target sasaran ditentukan mata mata
Tampak jelas di atas peta

mata mata = spion

Kapal terbang bercocor merah
Di bawah awan melayang rendah
Suara mendengung seperti lebah
Ketika menembak ibarat muntah

Pesawat Mustang jenis pemburu
Membawa senjata berisi peluru
Ada sasaran hendak dituju
Kantor Koterketj akan disapu

Koterketj = Komando Teritorial Kecamatan milik PRRI

Kantor menumpang di rumah Dt. Soda
Di kampung Mandahiling sebelah utara
Di situ tersimpan banyak senjata
Diintai musuh sejak lama

Pelurunya besar seempu kaki
Bisa membakar mengeluarkan api
Mengenai tubuh langsung mati
Darah ke luar banyak sekali

Bom dijatuhkan salah sasaran
Menimpa rumah yang di depan
Rumah hancur bak diterjang topan
Atapnya terbang jatuh berserakan

Agar operasi tak dianggap gagal
Ketika perang bukan frontal
Objek dipilih asal asal
Banyak sasaran tidak dikenal

Saat musuh tidak tampak
Tempat rimbun langsung ditembak
Peluru melesat tak mungkin ditolak
Terkena pelor langsung tergeletak

Banyak pohon di tepi sungai
Di situ bersarang burung dan tupai
Tempat sembunyi yang sangat disukai
Dari pesawat sulit diintai

Sudah takdir ketetapan Ilahi
Meski tiarap di tempat sepi
Adnan bergelar Malin Sati
Terkena peluru langsung mati

Saat penulis masih kecil
Belum kuat menyandang bedil
Ingin bertempur rasanya muskil
Makanya tetap jadi orang sipil

Dalam situasi keadaan panik
Orang berlari hilir mudik
Disertai tangis, diikuti pekik
Bandar dicari walau ada cirik

Tempat aman untuk sembunyi
Di dalam bandar berisi tahi
Jijik dan busuk tiada peduli
Menunggu pesawat terbang pergi

Tentara Pusat selalu menang
Karena dibantu pesawat terbang
Dari jauh kapal datang
Tiada hambatan mampu menghalang

X. Lubang Perlindungan

Dari subuh sampai petang
Baik malam atau siang
Anak cucu serta eyang
Semua berlindung di dalam lubang

Lubang digali untuk berlindung
Setinggi tegak, sebatas hidung
Lima orang bisa ditampung
Di dalam lubang posisi mencangkung

Inilah gaul sebenarnya gaul
Takut dan gentar yang membuhul
Di dalam lubang orang berkumpul
Mendengar tembakan susul menyusul

Mungkin karena banyak teman
Di dalam lubang terasa aman
Hanya perut tak mau berkawan
Karena seharian tidak makan

Kalau terdengar ada tembakan
Meski berjongkok di atas jamban
Celana dipakai langsung dikenakan
Mencari tempat lubang perlindungan

XI. Perang Kejam, Rakyat Yang Jadi Korban

Perang saudara tidak manusiawi
Kampung padat dibom artileri
Rakyat tak bersalah ikut mati
Meninggalkan dendam rasa benci


Ketika Tanjung melawan Belanda
Peristiwa terjadi di agresi kedua
Musuh tidak gunakan pesawat udara
Apalagi bom membabi buta

Belanda memakai senjata ringan
Untuk mencari pejuang kemerdekaan
Gerilyawan tertangkap lalu dibebaskan
Mereka dibujuk berhenti melawan

Pemerintah Soekano lain lagi
PRRI dianggap musuh negeri
Harus dikikis segera dibasmi
Bila perlu dibunuh mati

Dengan senjata selalu dikokang
Tentara naik ke rumah gadang
Melihat lemari langsung ditendang
Tiada orang sanggup melarang

Memakai sepatu masuk rumah
Tentara Pusat datang menggeledah
Disertai bentakan marah marah
Lemari terkunci langsung dipecah

Pesawat radio penerima informasi
Harus disimpan di hutan sepi
Benda terlarang untuk dimiliki
Dicari tentara ketika operasi

Ganasnya tentara perintah Soekarno
Kotak Gramophon mirip radio
Langka jualannya di toko toko
Kini dipecah oknum sembrono

Kotak Gramophon benda antik
Untuk mendengar rekaman musik
Barang berharga hak milik
Kini dipecah dicabik cabik

Saat penduduk mencari nafkah
Menangkap belut dengan lukah
Jubek ditembak di pematang sawah
Dia mati bersimbah darah

Mak Jubek kepala keluarga
Bukan parewa, tidak tentara
Beliau hanya manusia biasa
Orang sipil tak bersenjata

Jubek dibunuh di tepi batang Kalano
Oleh tentara dari Diponegoro
Dibawah pimpinan kolonel Pranoto
Militer ditugaskan rejim Soekarno

Tahun 65 Pranoto terbukti
Bersama Latif kawan seideologi
Mendukung gestapu pemberontakan pki
Lalu dikurung di dalam bui

Walau tidak sedang bertempur
Tentara menembak tanpa diatur
Ke sekeliling kota peluru dihambur
Banyak penduduk mati gugur

Kak Nurma orang Melayu Atas
Menjadi korban perang yang ganas
Tiga beranak langsung tewas
Ketika tidur terlelap pulas

Saat tentara sedang kuatir
Atau mungkin mabuk bir
Meriam ditembakkan tanpa pikir
Korban menerima itulah takdir

Rusdi murid sekolah Rakyat
Di dekat Balai pasar Jum’at
Tangan terluka seperti disayat
Terkena mortir tentara Pusat

Ketika luka mengeluarkan darah
Badan mengigil berkeringat basah
Rusdi terjatuh lalu dipapah
Kemudian ditidurkan di dalam rumah

Diberi minuman kopi panas
Air diteguk dua gelas
Rusdi tertidur sangat pulas
Karena tubuhnya sangat lemas

Ketika Rusdi terbangun tidur
Tanpa ada orang mengatur
Banyak kawan datang menghibur
Sambil bercakap saling bertutur

Ketika membunuh tanpa dalih
Menabur dendam ibarat benih
Rasa perasaan tak bisa pulih
Tak mungkin nyawa diganti pitih

Korban perang tak pilih usia
Dari bayi sampai manula
Semua orang ikut menderita
Inilah catatan cerita lama

Mak Buyuang Mati syahid

Buyuang berdangau di Tanah Sirah
Di lereng bukit di atas lembah
Di luar kampung, di tepi sawah
Di situ dibangun sebuah rumah

Tidak seperti bangunan moderen
Berdinding bata dilapis semen
Dangau Buyuang semipermanen
Di dekat jalan milik kabupaten

Walaupun hidup terkadang susah
Buyung penyabar, jarang marah
Kerjanya membajak mengolah sawah
Kalau sore memasang Lukah

Buyuang Bokiak bapaknya si Badu
Menemukan benda yang masih baru
Sebangsa bom sejenis peluru
Granat dimasukkan ke kantong baju

Seperti umumnya para petani
Buyuang Bokiak tidak mengerti
Bahaya besar sedang menanti
Bisa meledak mengeluarkan api

Ketika menemukan milik orang
Buyuang tulus tiada bimbang
Atau mengharap imbalan uang
Malaikat Roqib mencatat senang

Buyuang berjalan mencari tentara
Ingin menyerahkan itu benda
Malang tak mungkin dapat diduga
Mujur bukan sekehendak kita

Saat Buyaung sedang berjalan
Di tanah licin sesudah hujan
Tubuh terjatuh, sumbu tertekan
Bom meledak hancurkan badan

Granat meledak dalam genggaman
Terdengar keras bunyi letusan
Banyak orang segera berdatangan
Ingin membantu memberi pertolongan

Karena ledakan sangat dahsyat
Buyuang tewas langsung di tempat
Semoga almarhum diberi syafaat
Karena beliau rajin solat

Bukan wafat karena sakit
Buyung digolongkan mati syahit
Walau kerjanya hanya sedikit
Mengembalikan Granat milik prajurit

XII. Ijok

Setiap pekan Tanjung ditembaki
Dengan senjata meriam artileri
Banyak penduduk menyelamatkan diri
Ke dalam hutan mereka mengungsi


Menempuh jalan berkelok kelok
Belukar dirambah dengan golok
Dangau dibangun seperti pondok
Orang menyebut sebagai ijok

Tempat ijok di dalam rimba
Tidak seperti suasana kota
Alamnya tenang ibrat surga
Dihuni binatang berjenis margasatwa

Bukit Mansalai, Lomba dan Talang
Tempat bersarang beragam binatang
Ada Rusa, Beruk dan Siamang
Kini bertambah dihuni orang

Dangau dibangun dilereng bukit
Di samping pohon akar melilit
Tiada tampak matahari terbit
Susah terlihat dari langit

Pohon besar pencegah erosi
Pusaka kaum anak nagari
Selalu dijaga sejak bahari
Tak pernah ditebang atau digergaji

Dangau tersembunyi tidak tampak
Di kelilingi pohon banyak semak
Dihuni keluarga anak-beranak
Dengan tetangga Beruk dan Cigak

Dibangun sendiri bukan ditender
Luas berkisar 3 x 4 meter
Tiangnya dipancang susah digeser
Letak terpisah tidak berjejer

Bukan seperti rumah di kota
Berdinding kuat batu bata
Dangau ditutup kayu rimba
Ditudungi atap daun Kelapa

Sering bocor di saat hujan
Air menetes ke dalam ruangan
Membasahi tubuh sebagian badan
Badan menggigil karena kedinginan

Begini kondisi keadaan sulit
Orang berjualan sangat sedikit
Celana baju selembar melilit
Kalau sobek perlu dijahit

Karena baju hanya selembar
Telah kusam warnanya pudar
Tiada pengganti, tak ada penukar
Kini dilepas agak sebentar

Baju dilepas lalu dipanasi
Pakaian dihampai di dekat api
Di atas rentangan seutas tali
Setelah kering dipakai kembali

Baju dihemat jarang dicuci
Sering bersarang Tuma tersembunyi
Kalau menggigit terasa geli
Bisa timbulkan luka infeksi

Luka infeksi atau terkena bisa
Dapat timbulkan marabahaya
Badan panas demam membara
Lalu mengigau berkata kata

Bila luka tertembak bedil
Atau sakit demam menggigil
Tiada mantri bisa dipanggil
Pergi ke dokter sangat mustahil

Rumah sakit untuk rakyat
Sarana kesehatan tempat berobat
Letaknya di kota tentara Pusat
Tak mungkin didatangi walau sesaat

Ada senangnya di tempat ijok
Subuh dibangunkan ayam berkokok
Ditingkahi suara bunyi Kodok
Uadaranya bersih sangat cocok

Suasana ijok ketika perang
Seperti outbound jaman sekarang
Ijok tidak perlu pakai uang
Outbound ladangnya para pedagang

XIII. Tentara Pusat Menduduki Nagari Tanjung

Supaya perang tidak mulus
Jalan ke Pato tak boleh tembus
Titian di Tanjung harus diputus
Kenderaan militer tak bisa terus

Bulan Desember tahun enam puluh
Pusat datang laksana guruh
Mobil konvoi berpuluh puluh
Pertahanan Marapalam telah jatuh

Pato dimasuki di sisi belakang
Dari Lintau musuh datang
Lalu turun ke Tanjung Sungayang
Di batang Selo konvoi terhalang

Truk berhenti berderet deret
Kenderaan diparkir agak mepet
Lalu terdengar tembakan berentet
Semua makhluk menjadi kaget

Kenderaan berhenti banyak sekali
Penumpangnya melompat berlari lari
Ada yang tiarap di tempat sembunyi
Mereka menembak kian kemari

Bedil diarahkan menuju bukit
Ditingkahi letusan bunyi dinamit
Mendengar letusan tidak sedikit
Orang yang kaget jatuh sakit

Di tepi batang Kalano konvoi terhenti
Membuat jembatan untuk meniti
Kerambil ditebang tak diganti rugi
Pohon dipotong lalu digergaji

Untuk menyeberang Selo Tongah
Jalan terhalang lapau Mak Angah
Tentara mengambil jalan yang mudah
Kedai dibakar sampai musnah

Pemilik memohon bibir bergetar
Agar kedainya tidak dibakar
Tapi tentara tak mau dengar
Akhirnya Mak Angah kena tampar

Ini pesan Soekarno cs
Kalau tak ingin bernasib apes
Rakyat jangan lakukan protes
Harus diam seperti bola kempes

Ke dalam rimba PRRI menyuruk
Lalu OPR segera dibentuk
Wali nagari langsung ditunjuk
Dia bernama Abdul Muluk

Abdul Muluk aktivis partai
Sehari hari jualan di kedai
Dia termasuk orang yang pandai
Dengan penduduk Muluk berdamai

Kepada partai Muluk patuh
Memerangi PRRI sampai luluh
Dia tidak sembarang tuduh
Hanya sedikit korban yang jatuh

OPR akronim dari kalimat
Artinya: Organisasi Perlawanan Rakyat
Anggotanya preman dibayar Pusat
Menerima upah setiap Jum at

Dalam nagari di kecamatan Sungayang
OPR didaftarkan 30 orang
Diberi seragam dan senapang
Lalu dilatih pagi dan petang

Karena politik dijadikan pengulu
Dipakai kebijaksanaan belah bambu
Rakyat disiapkan untuk diadu
OPR dipilih dari partai tertentu

XIV. Pertahanan Tentara di Puncak Bukit

Pertahanan dibuat di puncak bukit
Pandangan luas ke kaki langit
Posisi PRRI menjadi sulit
Masuk kampung langsung dikuntit

Supaya PRRI tidak menerobos
Penjagaan dibuat bagaikan poros
Di bukit Tangah didirikan pos
Membutuhkan biaya serta ongkos

Di puncak bukit Kayu Sebatang
Tempat keramat Tanjung Sungayang
Ada luak airnya tenang
Orang berziarah banyak yang datang

Tempat keramat kuburannya wali
Lingkungan tenang suasana sunyi
Ketika berdoa kepada Ilahi
Memohon selamat penduduk nagari

Kondisi berubah bertolak belakang
Kayu di puncak segera ditebang
Tempat keramat langsung dibuang
Orang berziarah juga dilarang

Merasa kuat ibarat banteng
Adat nagari dianggap enteng
Tempat keramat dijadikan benteng
Penduduk melihat geleng geleng

Ini peristiwa di puncak Simbatak
Pekan Ahad sedang sesak
Ke arah pasar tentara menembak
Banyak yang mati bapak dan anak

Karena peristiwa dibuat kelam
Penulis ingatkan dengan gurindam
Perbuatan tentara melanggar HAM
Biasanya PBB tak mau diam

XV. Tanjung Dipagari Betung

Untuk menghalangi PRRI masuk kampung
Nagari dipagari dengan betung
Pagar dibuat sambung menyambung
Dari Bakoreh sampai ke Sawah Tanggung

Penduduk dikerahkan dengan dipaksa
Membangun pagar tanpa gapura
Dibalik pagar OPR berjaga
Siap menembak pakai senjata

Di dalam kampung OPR berpatroli
Mencari musuh simpatisan PRRI
Termasuk pula anggota Masyumi
Ke mana pergi selalu diawasi

Yang dicurigai langsung ditangkap
Kepada wali disuruh menghadap
Kalau ditanya jangan salah ucap
Setiap jawaban harus mantap

Bukan mencegah Setan Hantu
Tapi instruksi para serdadu
Depan rumah harus berlampu
Lentera digantung di tiang bambu

Jika malam gelap gulita
Aliran listrik belum sedia
Tanpa penerangan dianggap berbahaya
Tentara menyuruh memasang lentera

Ketika hari telah kelam
Memakai pakaian serba hitam
Mengunjungi dunsanak ketika malam
Mereka merangkak diam diam

Walau dipagar disekeliling Tanjung
Gerilyawan leluasa masuk kampung
Mereka dibantu kalau terkepung
Ada yang disembunyikan di dalam lumbung

Di lumbung padi Mansur disembunyikan
Menunggu malam pukul sembilan
Untuk kembali masuk hutan
Membawa persediaan bahan makanan

Bukan mencari salah dan benar
Ketika bercerita tentang Mak Juar
Tubuh tergeletak mati terkapar
Karena perselisihan orang pintar

Orang pintar kalau tak bermoral
Sering berpidato sambil membual
Korbannya rakyat tertimpa sial
Yang kurang paham masalah awal

Sebagai OPR pembantu tentara
Setiap malam si Juar meronda
Keliling kampung berjaga jaga
Senjata ditangan siap siaga

Ketika menyenter semak semak
Karena ada yang bergerak gerak
Terdengar suara orang membentak
Mak Juar langsung sasaran tembak

Dekat pagar ranjau dipasang
Besi dan bambu bercabang cabang
Ujungnya tajam tidak kepalang
Ibarat ujung mata pedang

Karena si Zubir kurang awas
Menanam ranjau bergegas gegas
Kakinya terluka di paha atas
Mengeluarkan darah ke luar deras

Bajunya sobek celananya bolong
Dia kesakitan melolong lolong
Orang sekampung datang menolong
Tubuhnya diangkat lalu digotong

Inilah kenangan saudara Marhamis
Dia ditangkap malam Kemis
Karena dicurigai anti Komunis
Lalu diinterogasi pertanyaan sinis

Marhamis berupaya cari selamat
Kejadiaan dilaporkan ke tentera Pusat
OPR bertindak telah sesat
Marhamis bebas tak jadi diikat

Ke luar kampung dia menghindar
Pergi sembunyi ke Batusangkar
Lalu Marhamis membuat nazar
Niat beliau tak bisa diradar

XVI. Latihan Pelaksanaan Kekejaman di Tanjuang

Ini peringatan perlu ditulis
Kalau militer disusupi komunis
Muncul tindakan yang sangat sadis
Membunuh musuh secara bengis

Berita resmi diumumkan pemerintah
Dokumen dicatat dalam sejarah
Kaum Komunis berbuat ulah
Melakukan kudeta berdarah darah

Berita besar dari Lubang Buaya
30 September tahun 65
Ketika Komunis melawan negara
Prajurit membunuh jenderal mereka

Berpakaian lengkap mengenakan baret
Jenderal dikeroyok ibarat copet
Lalu disiksa diiris silet
Disaksikan Gerwani berjoget joget

Karena jenderal mati disiksa
Suharto marah luar biasa
Segera diumumkan ke pelosok negara
Komunis kejam tiada tara

Rakyat mengamuk kepada PKI
Anggota partai lalu dicari
Mereka dikejar ke pelosok negeri
Yang tertangkap lalu dibui

Perlu melihat contoh ke belakang
Ketika nagari terlibat perang
Apa yang terjadi di Tanjuang Sungayang
Oknum berlatih menyiksa orang

Ibarat catatan buku putih
Di Tanjung PKI mulai berlatih
Membunuh, menyiksa serta menyembelih
Meneror manusia menebar sedih


Latihan di Tanjung kelak dipraktekkan
Berbuat kejam mengikuti setan
Jenderal dibunuh secara mengerikan
Ke dalam sumur tubuh dibenamkan

Kincir padi di kampuang Batunjam
Di tepi jalan menuju Marapalam
Di kaki bukit tebing yang curam
Di situ terjadi pembunuhan kejam

Kejadiaannya ngeri luar biasa
TP ditangkap lalu dianiaya
Lehernya digorok dengan pisau baja
Perbuatan setan berujud manusia

Rakyat ketakutan bukan main
Ada tentara tidak disiplin
Menjadi pembunuh berdarah dingin
Seperti gerombolan tanpa pemimpin


Senja hari ketika pembunuhan
Gagak berkaok ikut memberitahukan 4
Ada iblis sedang berkeliaran
Di nagari Tanjung menebar kengerian

Saat penggorokan sedang berlangsung
Isyarat disampaikan oleh burung
Gagak terbang berkeliling kampung
Memberi tahu orang Tanjung

Gagak hitam berkaok kaok
Diselingi Jago ikut berkokok
Ada manusia sedang digorok
Memakai pisau sejenis golok

XVII. Tiada Permusuhan Sesudah Perang

Seorang bintara bernama Sudjono
Dia tentara Divisi Diponegoro
Tugas ke Batusangkar diperintah Soekarno
Pergi berperang penuh resiko

Instruksi Soekarno membasmi PRRI
Orang Tanjung ikut diperangi
Sudjono termasuk bagian infantri
Dulu ke Tanjung pergi operasi

Di Batusangkar Sudjono bertugas
Bersenjata bedil panjang laras
Keluarga ditinggal selalu cemas
Mereka berdoa kepada yang di Atas

Kepada Allah anak berdoa
Agar selamat pulang ke Sokaraja
Berkumpul kembali bersama keluarga
Mendidik perempuan anak pertama

Walau Sudjono tentara Pusat
Dia berpihak kepada rakyat
Sembahyang di mesjid setiap Jum-at
Di situ terjadi tangan berjabat

Saat perang sedang terjadi
Sudjono berpangkat bintara APRI
Dianggap musuh anak nagari
Jangan ditemui, perlu dihindari

Karena diatur Tuhan Robbana
Musuh akhirnya jadi keluarga
Orang Tanjung nikah di Jawa
Putri Sudjono menjadi isterinya

Anak pertama perempuan sulung
Setelah kawin pergi ke Tanjung
Ikut suami melihat kampung
Kini silaturahmi datang berkunjung

Datang berkunjung ke sanak saudara
Mungkin maaf yang diminta
Saat ayah jadi tentara
Melaksanakan tugas perintah perwira

Ketika perang telah berlalu
Anak Sudjono diambil menantu
Tiada permusuhan antar suku
Walau APRI telah keliru

Kelak terbukti tahun enam lima
Jenderal dibunuh saat kudeta
Mungkin Soekarno ikut merencana
Begitu tertulis dalam berita

Bukan pendapat dari pengarang
Tapi bukti yang sangat terang
APRI diperintah untuk berperang
Ketika Soekarno mabuk kepayang

Karena ini masalah politik
Supaya tak muncul debat polemik
Ada petuah orang cerdik
Forgive, but dont forget it

 

XVIII. Perang Sebenar-Benarnya Perang

Inilah perang sebenarnya perang
Melawan globalisasi kaum pedagang
Bila kalah menjadi wayang
Hidup diatur oleh Ki Dalang

Kaum dagang bernama kapitalis
Tentara Ki Dalang disebut selebritis
Arah kiblat Hollywood dan Paris
Ucapan sahadat:  Ikuti modis


Kalau dinasehati tidak patuh
Ibarat penyakit tak akan sembuh

Sepanjang hari selalu mengeluh
Itulah cerdik membawa runtuh

Air di sungai, telah menyusut
Tinggi permukaan di bawah lutut
Dipakai mandi tak lagi patut
Istilah “tapian” jarang disebut

Kini nagari sudah berubah
Perang saudara selesai sudah
Rejim Soekarno mengaku kalah
Ambil pelajaran dari sejarah

Bila melupakan adat filosofi
Kiamat sugro pasti terjadi
Bumi senang padi menjadi
Jadikan acuan sepanjang hari

Beginilah suasana di Tanjung Sungayang
Hidup bertani sangatlah senang
Saat manusia belum dikejar barang
Tiada kolektor menagih utang

Bak mitraliur ditembakkan ke nagari
Perlengkapan dipromosikan para selebriti
Disertai gosip petang dan pagi
Supaya barang segera dibeli

Lingkungan hidup bisa rusak
Ketika orang menangkap Landak
Walau bukan binatang ternak
Satwa bermanfaat mengurangi katak

Tidak layak karena nasi sepiring
Kalau petani memburu Tenggiling
Siklus kehidupan dia gunting
Karena satwa sangat penting


Kekayaan alam tak ternilai
Seperti unggas burung Punai
Bisa bersiul seperti serunai
Tidak pantas untuk digulai

Hutan dan rimba harus dijaga
Bila digadaikan ke orang kota
Dijadikan lokasi tujuan wisata
Tempat maksiat berhura hura

Kalau mencontoh kepada yang sudah
Lokasi wisata maju meriah
Daerah Puncak bisa ditelaah
Di situ boleh kawin mutah


Melihat tuah kepada nan menang
Pulau Bali contoh yang terang
Ribuan turis lalu lalang
Bercelana kotok ber bh kutang

Bumi dijajah orang orang cerdik
Memakai perantara produksi pabrik
Seperti jualan industri musik
Yang membeli kehilangan milik

Begini strategi pemodal kapitalis
Untuk meningkatkan jualan bisnis
Mereka menciptakan para selebritis
Guna membujuk bujang dan gadis

Ketika bodoh sangat terlalu
Karena jarang membaca buku
Bujang dan gadis sering tertipu
Dagangan racun, disangka madu

Seperti iklan promosi rokok
Sering ditempel di dinding tembok
Ada peringatan membahayakan orok
Hanya dijadikan bahan olok olok


Kerja besar yang harus dimulai
Mengumpulkan uang beramai-ramai
Mendidik kemenakan diajar pandai
Sarjana bermutu siap pakai


Isu global pemanasan bumi
Perlu ditanggapi anak nagari
Kalau kayu sering dicuri
Neraka di dunia akan terjadi

Ninik mamak harus berunding
Ada peringatan yang sangat penting
Kondisi berada di lampu kuning
Boncah dan sumur telah kering

Ingatlah sumpah nenek moyang
Pabila anak cucu tidak sembahyang
Lupa adat, hilang Minang
Ke bawah tidak berurat
Ke atas tidak berpucuk
Di tengah-tengah digirik kumbang

1.   T.P = Tentara Pelajar
2.   L.E = Lee Enfield, sejenis bedil digunakan dalam P.D 2
3    ber ere-ere (MK) tidak serius
4    Di tempat-tempat yang belum terpolusi, dan air hexagonal atau (minang masih banyak tersimpan di perut bumi), maka alam akan cepat bereaksi memberi tanda-tanda.

Di tempat tersebut, komunikasi makhluk hidup lainnya dengan manusia dapat dilihat/terjadi secara langsung, sebagai contoh, burung gagak akan memberi tanda-tanda kematian, ayam Jago berkokok dan anjing meraung-raung di malam hari menandakan kampung dikotori. Ujung-ujung pelangi muncul dari sumur-sumur alam.

Selanjutnya Harimau tidak akan membunuh orang yang tidak bersalah, dan petir hanya akan menyambar tempat penyimpanan racun atau kuburan orang yang zalim ketika hidupnya.

Inilah tanda-tanda/kekuatan alam nan hidup yang bersumber dari adanya air asli di bumi seperti yang dibuktikan dengan penelitian kristal air oleh DR. Masaru Emoto. Sebagai anak nagari, sudah menjadi kewajiban kita untuk tetap menjaga minang.

Sumber

Kebesaran Jiwa Ibu Sebagai Pendamping Pejuang PRRI

Oleh: Prof. DR. Ir. Zoer’aini Djamal Irwan

Di lubuk hati ini terselip suatu kebanggan dibalik kepedihan, bahwa orang Minang hampir 45 tahun lebih maju memperjuangkan reformasi untuk mendapatkan keadilan dan pemerataan pembangunan.
PRRI adalah koreksi atas penyelewengan yang sudah menyelinap di tubuh parlemen.
PRRI bukanlah pemberontakan, PRRI bukanlah gerakan separatis.

PRRI sangat banyak memakan korban intelektual dan calon intelekrual Minang.
Bapakku pejuang PRRI hilang di penjara, kalau mati tiada kuburannya kalau hanyut tiada muaranya.
Kebesaran jiwa ibu dapat membawa kami bangkit dari kepedihan dan kesedihan ibu berhasil mendampingi kami selama 44 tahun sebagai single parents mendidik anak-anaknya sehingga semua dapat mandiri, Korban sosial budaya yang tidak terukur nilainya berupa hilangnya satu generasi intelektual Minang, hancurnya Rumah Gadang berukir yang sudah tua, dijadikan asrama tentara……?.

Latar Belakang

Dari dulu saya tidak pernah takut dan malu menyatakan bahwa saya ini adalah anak pejuang PRRI dari ranah Minang.
Pada saat itu pada tahun 80an memang ada orang yang malu atau takut mengakuinya, bahkan ada yang malu mangaku sebagai orang Minang, sampai ada yang menyatakan bahwa dia tidak suka makanan Padang.

Saya sendiri tidak mengerti kenapa demikian, saya heran, mungkin karena pernah terjadi pergolakan PRRI, yang dianggapnya pembrontakan, memang tidak bisa disalahkan karena mereka tidak tahu apa makna perjuangan PRRI sebenarnya.
Sesuai dengan rujukan panitia penyelenggara buku ini, PRRI adalah sebuah pergolakan fundamental yang menghasilkan sebuah kebanggaan, rasa sakit, sekaligus bahkan penghinaan bagi rakyat Minangkabau.

PRRI jika ditelaah lebih jauh, menjadi salah satu tonggak sosial yang menstimulus kemampuan bawaan rakyat Minangkabau untuk memandang dan berinteraksi dengan dunia lain di luar Alam Minangkabau.
Kisah ini membawa trauma panjang, juga kebanggaan diam-diam para generasi muda akan keberanian orang Minangkabau mengkoreksi sesuatu yang salah.

Saya berharap tulisan saya ini, mengkisahkan secuil pengalaman yang tersisa dan deritaan anak seorang camat militer PRRI bisa juga disebut sebagai anak orang kecil, semoga dapat memberikan masukan untuk penulisan buku ini.
Saya mencoba menceritakan apa yang kami rasakan dan hadapi dalam pergolakan PRRI, dan dampaknya terhadap keluarga kami.

Dengan demikian kita dapat menyampaikan pesan PRRI dengan indah dan berseni yang pada akhirnya menginspirasi pembaca, terutama anak muda Minangkabau untuk menjadi generasi yang pandai dapat melihat jauh ke depan yang memiliki keberanian untuk memperjuangkan kebenaran.
Semoga apa yang saya tulis ini menambahkan jembatan sejarah, dan menanamkan kebanggaan akan ranah Minangkabau, bernilai dan dapat memperjuangkan menyumbang kebenaran dan keadilan.

Pesta Adat

Pada tahun 1957 ada pesta adat di Sawahlunto, dimana kedua orang tuaku ikut aktif, dengan berpakaian adat kebesaran, lengkap dengan payung kuning.

iba

Pesta adat dilaksanakan dalam menyambut kedatangan Bung Hatta ke Sawahlunto pada saat memperingati hari jadi Dewan Banteng.

Pada waktu itu kami sangat senang dan bangga, rasanya banyak kemajuan yang diperolah.
Masyarakat bergembira ria, merasakan perkembangan atau kemajuan pembangunan selama Dewan Banteng ada.
Bapak saya berfoto dengan berpakaian adat, saat penyambutan Bung Hatta yang datang ke Sawahlunto.

Kami berasal dari Talawi ibu kota Kecamatan Talawi, waktu itu masuk Kabupaten Sawahlunto Sijunjung.
Bapak saya bernama Djamaluddin gelar Dt. Padoeko Labiah, penghulu suku Caniago di Sijantang Talawi.
Selain tokoh adat di negerinya Bapak saya waktu itu seorang Camat Talawi.
Ibu saya bernama Syamsiri anak Muhammad Dt. Sampanghulu, penghulu suku Patapang di Talawi.

ibu

Ibu saya kemenakan Dt. Indosati adalah penghulu pucuak di Talawi, secara otomatis menjadi Bundo Kanduang.
Pada waktu itu Bapak saya pengurus MTKAAM (Madjelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau, saya tidak tahu jabatannya.
Melihat foto Bapak yang dipayungi dalam upacara adat waktu upacara penyambutan Bung Hatta berkunjung ke Sawahlunto, mungkin saja Bapak saya sebagai ketua MTKAAM Sawahlunto Sijunjung.
Waktu itu Kecamatan Talawi adalah yang paling maju di kabupaten Sawahlunto Sijunjung.

Sebenarnya saya tidak begitu paham apa yang akan terjadi, apalagi bicara politik.
Masih terngiang-ngiang di telinga saya ada kata-kata Bapak ke ibu.
Beliau berdiskusi dan Bapak mengatakan bahwa sepertinya ada ketidak cocokan antara Bung Hatta dan Bung Karno.
Bapak saya mengatakan kepada ibu bahwa Bung Hatta telah berhenti jadi Wakil Presiden.
Kata Bapak… yah semoga nanti bila ada pemilihan umum, Bung Hatta bisa terpilih menjadi presiden…….??

Ketika itu, ibu saya sebagai isteri seorang pegawai negeri atau isteri Camat, maka beliau disebut juga seorang Bundo Kanduang.
Selain itu beliau ikut pula jadi anggota Aisyiah.
Banyak sekali kesibukannya.
Saya tahu bahwa ibu saya, sering kumpul dengan ibu-ibu di kampungnya.
Saya ingat, ibu saya meminta kepada ibu ibu lainnya, bahwa sebelum memasak nasi, beras yang akan dimasak itu diambil 2 genggam dan ditabung (disimpan terpisah) untuk bantuan.
Bila sudah terkumpul kira-kira sebuntil, ada ibu lainnya yang mengumpulkannya.

Kegiatan ini dilakukan oleh organisasi ibu-ibu yaitu yang disebut seksi G.
Memang organisasi ibu-ibu ini aktif dan sangat efektif, dan ibu saya adalah ketuanya.
Seperti sebelumnya saya sering menemani dan mengantar ibu saya setelah magrib dengan mengggunakan suluah (semacam obor yang terbuat dari daun kelapa tua yang disusun and diikat kuat, dibakar ujungnya sebagai penerang dijalan).

Ibu mengajak ibu-ibu lainnya, bersama saya, dan saya berteriak memanggil ibu-ibu itu.
Maklum kalau di kampuang memang harus berteriak agar terdengar, karena gelap dan juga halamannya luas-luas.
Kemudian ibu-ibu dikumpulkan dan diajak ke surau yang ada di kampung saya, yang disebut surau Gadang.

Surau di kampung saya banyak dan tiap suku ada yang punya.
Surau Gadang ini adalah surau yang menampung santri-santi dari mana saja, ada yang dari daerah lain.
Dengan menggunakan lampu minyak tanah, ibu saya mengajarkan ibu-ibu belajar membaca di surau itu.
Waktu itu di kampung saya belum masuk listrik.

APRI Datang Menyerang

Masih terbayang di benak saya, beberapa waktu setelah pengumuman dibentuknya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia, diikuti penyerangan oleh tentara Pusat ke Padang.
Nampaknya tidak mendapat perlawanan yang heroik, bahkan adanya batalyon yang datang menyambut kedatangan tentara Pusat.
Saya tidak mengerti kenapa demikian.

Kemudian tentara Pusat mulai menyerbu daerah-daerah pedalaman.
Akhirnya sampailah di daerah kami di Sawahlunto.
Semua kantor di kota Sawahlunto diduduki oleh tentara Pusat dan para pegawainya mulai mengungsi.
Begitu pula orang-orang dari kantor kabupaten yang mengungsi, mereka berdatangan ke kampung saya, tepatnya ke rumah saya.
Mereka makan dulu setelah itu, lalu berangkat lagi entah kemana.

Ibu dengan ibu-ibu seksi G sibuk memasak dan mendirikan Dapur Umum, untuk memberi makan.
Para pengungsi yang datang dari kota atau dari daerah lainnya, ada yang membawa berbagai macam peralatan kantor.
Bahkan Bupati sekeluarga juga mengungsi kerumah saya, dan mereka menginap di rumah saya.
Hanya sekitar seminggu.

Bupati tidak sanggup pindah atau mengungsi ke tempat lain, karena beliau ini sudah tua, dan juga bukan orang asli dari desa saya, keluarga mereka berasal dari Bukittinggi.
Istrinya minta maaf dan mohon izin untuk kembali ke Sawahlunto.
Setelah berunding, akhirnya mereka kembali ke Sawahlunto dengan membawa bekal yang cukup, terutama beras.

Dalam situsi yang tidak menentu ini, kami sudah tidak bersekolah lagi, sekolah pun semuanya sudah ditutup.
Saya juga tidak kembali sekolah ke SMA Batusangkar.
Situasi yang tidak jelas.
Sebelum pengumuman dibentuknya PRRI, saya bersekolah di SMA Batusangkar.
Ketika pulang berlibur, saya tidak kembali lagi.
Orang-orang banyak yang datang-pergi; Bapak saya sudah pergi mobile dengan urusan pemerintahannya.

Bapak waktu itu diangkat menjadi camat militer PRRI.
Waktu itu rahasia daerahnya ada di tangan Bapak, jadilah Bapak orang yang paling di cari-cari di desa saya oleh tentara Pusat.
Banyak rahasia ada pada beliau, akan tetapi kami tidak mengetahuinya karena beliau tidak pernah menceritakan kepada kami anak-anaknya.
Itu semua merupakan hal-hal yang bersifat dinas dan rahasia.

Semenjak Bapak pergi mobile dengan pemerintahannya, kami tidak tahu lagi di mana beliau berada.
Konon beliau selalu berpindah-pindah bersama stafnya dari satu desa ke desa lainnya.
Beliau jarang sekali pulang kerumah.
Kadang kadang Bapak pulang pada malam hari.
Pada saat Bapak pulang, kami sangat senang berjumpa dengan beliau dan mendengar cerita serta perkembangan perjuangan PRRI.

Pada awalnya kami senang sekali, karena perjuangan PRRI selalu mengalami kemajuan.
Sebagai naluri seorang ibu, setiap Bapak pulang, ibu selalu mengingatkan, karena bupati sekeluarga telah kembali ke kota Sawahlunto yang dikuasai APRI.
Sebaiknya Bapak pulang saja kerumah, dan kembali bekerja seperti biasa sebelum ada PRRI.
Usul ibu itu sangat manusiawi, karena mendengar cerita Bapak yang selalu mobil.
Tempat tinggal beliau tidak jelas, dan juga mengingat Bapak sudah tua dan tidak mempunyai anak laki-laki yang bisa membantu dan mengikuti Bapak.
ibu saya risau sekali, kalau terjadi apa-apa pada Bapak, siapa yang akan membantu.

Pertimbangan ibu juga mengingat anak-anak relative masih kecil-kecil, perempuan semua, belum ada yang mandiri.
Akan tetapi Bapak menolak dan sangat yakin dengan perjuangan PRRI, malah beliau menjawab bila terjadi apa-apa jangan risau.
Allah akan selalu melindungi, kata Bapak.

Selanjutnya kata beliau lagi, bila terjadi apa-apa, kan ada semut yang akan memakan.
Kami, anak-anakpun mendukung sikap Bapak, mengingat kami berada di kampung sendiri.

Bagaimana malunya kita kalau Bapak menyerah, apalagi Bapak seorang kepala suku Caniago, orang yang dipanuti di kampung.
Bapak pulang ke rumah dengan sangat hati-hati, agar tidak terlihat oleh orang-orang yang tidak dipercaya atau mata-mata tentara Pusat.
Mata mata ini biasa disebut sebagai tukang tunjuk.
Tukang tunjuk inilah yang melaporkan kepulangan Bapak ke rumah.

Besoknya pasti kami diteror dan ada saja tentara Pusat yang datang ke rumah menanyakan Bapak dan pada malam hari mereka menembak di sekitar rumah.
Walaupun tembakannya diarahkan ke udara, kami tentu saja sangat takut, karena mereka menembaknya mungkin di depan rumah kami.
Bunyinya sangat keras, rasanya rumah kami turut bergetar.

Setiap Malam Diteror Dengan Tembakan Senapan

Situasi di kampung yang semula terasa meriah dan menggembirakan setelah terbentuknya PRRI tidak berlangsung lama.
Tak lama kemudian terjadi penyerbuan oleh tentara pusat, dan ada pula kabar bahwa dua batalyon tentara menyambut kedatangan tentara pusat.
Perasaan optimis kemudian terganggu, situasi semakin tidak jelas, penuh kekuatiran dan kecurigaan.
Orang-orang sudah merasa tidak aman lagi jalan sendirian, bisa saja ditangkap karena dicurigai.
Kita tidak tahu lagi siapa lawan dan siapa kawan ketika itu.

Ada saja orang kampung yang ditangkap, kemudian diinterogasi, dan dibebaskan kembali setelah beberapa hari kemudian.
Kadang-kadang dengan tiba-tiba bisa saja beberapa orang tentara Pusat datang ke kampung.
Bahkan ada juga yang datang sendirian jalan kaki… berani sekali dia.
Hampir setiap malam ada teror di lingkungan rumah saya.
Kalau pagi dan siang mereka datang ke rumah menanyakan Bapak sambil menggeledah rumah dan lemari.

Aneh juga mencari Bapak, kok lemari yang diperiksa.
Malam hari mereka menembakan senjatanya terus-terusan sehingga kami ketakutan sekali.
Ibu saya sangat tidak tahan dengan teror-teror terutama di malam hari.
Mereka melakukan penembakan ke udara, tapi sangat mencekam, karena bunyi tembakan itu sangat keras.
Kondisi yang demikian itu ternyata diketahui oleh Bapak, karena saya tahu dari kurirnya.

Pergi Mengungsi ke Nagari Lain

Dalam situasi sedemikian, ibu berkirim pesan kepada Bapak melalui kurir.
Atas isyarat dari Bapak, ibu mengambil keputusan, bahwa kami tak mampu menghadapi terror semacam itu.
Oleh sebab itu, maka kami mengungsi ke Padang Gantiang sesuai isyarat dari Bapak.

Suatu hari ibu dan kakak saya mencari pedati dan mengumpulkan barang-barang yang penting-penting saja untuk dibawa.
Agar tidak ketahuan oleh orang orang lainnya, kami diam-diam perginya.
Kalau masyarakat tahu, pastilah semua pada ikut mengungsi.
Ibu saya berpendapat kampung jangan ditinggal.

Pagi-pagi sekali, sekitar pukul tiga pagi, pedati yang membawa barang barang bawaan kami berangkat duluan.
Kami buat tiga rombongan, seolah-olah ada urusan ke sawah, ke ladang, ke pasar atau ke mana saja.
Memang setiap ada yang melihat kami, orang orang selalu bertanya, mau kemana kalian?
Tapi kami sudah diberi tahu Bapak, kalau ada yang bertanya jangan dijawab pergi mengungsi.
Jawab saja pergi ke manalah.
Ketika itu rombongan kami terdiri 6 (enam) orang yaitu, ibu dan saya kakak beradik, semuanya perempuan, relative masih kecil-kecil.

Sebenarnya saya bersaudara 7 (tujuh) orang, hanya yang paling tua laki-laki, ketika itu sudah menjadi tentara Angkatan laut.
Dia ketika itu sedang bertugas di Belawan, Medan.

Tinggal di kampung enam orang lagi, semuanya perempuan dan seorang adik saya yang masih SR (Sekolah Rakyat) dibawa abang saya.
Tinggalah kami lima orang adik-beradik perempuan semua, dan dengan ibu menjadi berenam.

Akhirnya sampailah kami di nagari Padang Gantiang, yang ternyata masyarakatnya senang sekali menerima kami, dan kami ditempatkan di sebuah rumah gadang.
Selama di pengungsian kami selalu menjaga agar jangan ketahuan oleh orang lain bahwa kami adalah anak Camat militer Talawi.
Di pengungsian kami merasa lebih aman karena nagari Padang Gantiang tidak termasuk Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung.
Orang-orang kampung juga membantu kami.
Bila ada situasi yang mencurigakan, mereka segera memberi tahu kami.
Hampir setiap hari kami naik ke bukit, yang sebenarnya untuk menyembunyikan diri, seolah-olah sedang mencari kayu api.
Dengan demikian terkumpul banyak sekali kayu api di rumah gadang tempat kami mengungsi.

Suasana Kehidupan di Pengungsian

Di tempat pengungsian sekali-sekali Bapak datang, dan beliau membawa cerita baru.
Adakalanya Bapak datang dan berunding dengan para tokoh PRRI (militer, sipil, adat dan agama).
Kadang kadang sempat menginap semalam, dalam situasi seperti itu, orang rundo atau hansip di sekitar rumah jaga-jaga.
Bila ada orang yang dicurigai, Bapak segera lari ke seberang sungai di belakang rumah.

Kalau tentara Pusat datang, kami tidak boleh menampakkan diri, kecuali saya.
Kenapa demikian ?
Katanya, saya adalah orang yang paling hitam kulitnya dalam keluarga dan tidak langsung mencirikan Bapak.
Kakak dan adik-adik biasanya naik ke loteng rumah gadang.

Di pengungsian sering sekali terjadi bakutembak, dan saya sering melihat para tentara pelajar, anak-anak kita yang masih muda muda dengan semangat tinggi, memakai baju seragam hijau-hijau.
Mereka semua memanggul senjata, ada juga senjatanya besar dan baru.
Para tentara pelajar itu sebenarnya calon intelektual Minang, tidak sedikit mereka yang tewas.
Kadang terjadi, hari ini saya melihat wajahnya, dan besoknya sudah ada kabar bahwa mereka sudah tertembak, sungguh menyedihkan kalau di ingat-ingat.

Di pengungsian kami sebenarnya kurang nyaman, dan merasa tidak enak dengan penduduk setempat.
Karena selama kami di pengungsian, sepertinya daerah itu menjadi agak terganggu.

Tentara Pusat mulai sering datang ke tempat pengungsian kami karena mereka sepertinya sudah tahu kalau kami mengungsi ke sana.
Suasana ini sudah tidak nyaman lagi, dan kami sudah dua bulan mengungi di sana.
Orang tua saya memutuskan bahwa kami akan mengungsi ke tempat lain.

Ada juga yang surprise, di pengungsian kami ketemu dengan keluarga yang sudah agak jauh.
Konon setelah ditelusuri mereka adalah belahan bako dari Mak Etek sepupu saya yang bernama Jusbar.
Salah seorang anaknya ternyata sudah menikah dengan Mak Etek selama bergolak itu.

Isterinya yang pertama tidak mau diajak mengungsi, saya tidak sempat berjumpa dengan Mak etek itu.
Dia itu terkenal dengan pasukannya, yang gagah berani dan disegani di tempat lain.
Memang Mak Etek saya komandan Batalyon dari tentara Dewan Banteng yang mobil gerakannya ke daerah lain seperti Kiliran Jao.
Sebelum pergolakan Mak Etek itu bertugas di Bukittinggi.

Orang Minang memang malu kalau tidak pandai, maka dalam situasi perangpun masyarakat sempat membuka sekolah-sekolah darurat yang biasanya dsebut sebagai Sekolah Penampungan.

Karena saya telah menjadi murid SMA sebelum PRRI meletus, maka saya pun sempat ikut sekolah di SMA darurat itu, walaupun jurusannya beda.
Situasi ini berjalan tidak lama.
Hanya sekitar dua bulan.

Bapak Tertangkap

Beberapa waktu kemudian, di suatu hari kebetulan malam-malam Bapak pulang, dan malam itu seperti biasanya beliau berunding dengan tiga tokoh, ada komandan tentara.
Saya masih ingat yaitu Kol Zein Yatim, Drs Mawardi Yunus (Kepala Jawatan Agama), paman Burhan Jusuf.

Setelah berunding malam itu, mereka langsung berpisah.
Rupanya kepulangan Bapak telah tercium oleh tentara pusat.
Pagi-pagi sekali Bapak dikasih tahu bahwa tentara pusat sudah masuk ke Padang Gantiang.
Bapak segera lari ke seberang sungai di belakang rumah.
Dalam kondisi seperti itu, seperti biasanya saudara-saudara saya segera bersembunyi di loteng.
Apa daya, malang tidak dapat ditolak mujur tak dapat diraih, rupanya tentara pusat sudah menunggu Bapak diseberang sungai.

Bapak segera tertangkap dan digiring lalu dibawa ke jalan besar.
Kakak saya yang biasa mengintip gerak–gerik tentara pusat dari loteng melihat Bapak sedang digiring, maka kontan teriak-teriak, histeris… Bapak… Bapak….
Bapak tertangkap.

Bukan main kagetnya kami, rencana ditangan kita, keputusan Allah yang menentukan.
Senanglah tentara pusat waktu itu.
Saya sangat bersedih, apalagi ibu hanya terduduk lemah melihat kami berteriak-menangis agar Bapak dibebaskan.
Itulah suasana yang sangat mengharukan.
Saya ingat waktu itu tanggal 2 September 1959.
Berarti kami di pengungsian ada sekitar 2,5 bulan, padahal kami telah berencana mengungsi ketempat lain.

Proklamasi pembentukan PRRI terjadi pada tanggal 15 Februari 1958, dan ketika Bapak tertangkap nampaknya sudah banyak daerah PRRI yang dikuasai tentara pusat.

Bapak dibawa ke Sawahlunto dan dimasukkan ke dalam penjara.
Kami dalam waktu-waktu tertentu bisa melihat Bapak di penjara.
Selama di penjara Sawahlunto kami berusaha agar Bapak bisa dibebaskan.

Konon banyak juga di pihak orang Minang yang berkhianat, dan umumnya mereka dari golongan anggota PKI.
Ada di pihak keluarga bako saya, keluarga Bapak saya yang ingin menjadi Penghulu artinya ingin merebut gelar Bapak.
Secara adat, mereka itu masih jauh, belum berhak, tapi dia kepingin.

Ini juga provokator bagi Bapak saya.
Saudaranya itu berada di pihak organisasi Pemuda Rakyat, yang merupakan onderbow dari PKI.
Dia ingin agar Bapak dihukum terus, karena dia berfikir bahwa dengan demikian dia bisa merebut gelar tersebut.

Tepat 24 Desember 1959, pada hari ulang tahun saya yang ke-17, Bapak dibawa ke penjara Padang.
Kami tidak boleh datang menjenguk ke penjara Padang, bahkan sanak famili juga melarang.

Ini terjadi karena kami semua perempuan, takut kalau terjadi apa-apa.
Perjalanan dari kampung saya ke Padang yang jaraknya sekitar 130 km cukup rawan ketika itu.

Tentara bertebaran, ada dimana-mana dan tidak jelas mana tentara lawan dan mana tentara kawan.
Selama 3 bulan ibu masih sempat memonitor keadaan Bapak di penjara Padang.
Kadang kadang berkomunikasi lewat surat dan ibu mengirim makanan seperti Rendang, Samba Lado Tanak.

Suatu ketika Samba Lado Tanak yang dikirim ibu kembali, dan tidak ada khabar apa-apa.
Kakak saya yang jadi anggota Angkatan Laut mencari Bapak ke penjara di Padang.
Tidak ketemu Bapak, dokumen dan arsippun tidak ada.
Wallahu’alam.

Suatu kepedihan yang tiada taranya dan kami tidak dapat berbuat apa-apa.
Konon Bapak saya hilang bertiga, sejak awal ketangkap memang bertiga bersama pengawal pribadi Bapak, dan Bapak Mawardi Yunus, kepala Jawatan agama Sawahlunto.

Akhirnya kami tahu juga bahwa para tokoh yang berunding malam-malam dengan Bapak sebelum tertangkap, ternyata nasibnya serupa tapi tak sama.
Bapak saya hilang tiada tahu rimbanya, hanyut tiada tahu muaranya.
Kol Zain Jatim konon tertembak oleh tentara pusat.
Paman Burhan Jusuf menyerah ke tentara pusat.

Kelak setelah PRRI turun dari rimba dan kampung telah aman, paman Burhan Jusuf sempat menjadi sekretaris Gubernur.
Akan tetapi sewaktu gagalnya kudeta Gerakan 30 September/PKI beliau ditangkap dan masuk penjara, tanpa diadili, kemudian sempat dibebaskan dan akhirnya meninggal karena sakit.

Bantuan Dari Jawatan Sosial

Setelah Bapak ketangkap, kami semua kembali ke Talawi, ke runah kami.
Selama itu juga masih sering tentara Pusat datang ke rumah kami, mereka ingin mangambil semua barang kantor yang masih ada di rumah.
Pernah suatu ketika rumah saya didatangi tentara pusat dan menanyakan segala sesuatu kepada ibu dan ibu menjawab dengan ramah dan penuh wibawa.

Ada juga saya lihat, ibu mengembalikan beberapa alat tulis seperti mesin tik.
Menurut ibu barang-barang itu adalah milik negera maka harus dikembalikan.

Suatu ketika saya kesal melihat kelakuan tentara-tentara itu, mereka terlalu sering mendatangi rumah saya, lalu saya marah dan menggentak mereka.
ibu saya jadi khawatir, karena tentara itu marah dan mengancam saya.
ibu mengatakan kepada mereka dengan lembut dan sopan walaupun getir.
…..Maafkan pak, dia kan anak-anak, dia tidak mengerti dan takut.
Mereka jawab …..Kalau takut bukan seperti itu, diam sajalah !

Ibu dan adik saya tinggal di Talawi dan adik saya bersekolah di Talawi.
Saya melanjutkan pendidikan SMA di kota Sawahlunto.
Saya bersekolah di SMA di sana pada tahun 1959-1960.
Waktu itu berkat bantuan Pak Onga (suami adik Bapak), saya mendapat bantuan dari Jawatan Sosial Rp. 120.000,- per bulan.
Tiap bulan saya mengambil ke kantor Jawatan Sosial, lumayan untuk biaya sekolah.

Tapi tidak lama karena Mak Etek saya (adik ibu) yang bernama Lukmanulhakim, kebetulan juga anggota Angkatan laut yang tinggal di Jakarta, pulang ke kampung memohon kepada ibu, agar diizinkan untuk membawa saya ke Jakarta.

Tahun 1960, saya berangkat ke Jakarta bersama Mak Etek.
Karena Mak Etek itu memakai baju tentara, maka saya diisukan di kampung bahwa saya dibawa oleh tentara Pusat !

Diskriminasi Untuk Anak eks PRRI di SMA Budi Utomo Jakarta

Saya dimasukkan ke SMAN I Budi Utomo Jakarta.
Ternyata cukup banyak juga anak-anak ex-PRRI yang bersekolah disitu.

Karena kami sudah berantakan, namanya saja kami anak-anak yang datang dari daerah bergolak.

SMA I Budi Utomo ketika itu adalah sekolah yang terpopuler dan terbaik di Jakarta.
Untuk bisa mengikuti pelajaran saya terpaksa mengambil kursus ekstra.
Di SMA Budi Utomo saya mendapat kesempatan belajar seperti siswa lainnya, dan kamipun dapat meminjam buku di perpustakaan sekolah.

Kira-kira 2 bulan sebelum ujian, semua siswa disuruh mengembalikan buku yang dipinjam.
Kamipun dengan patuh mengembalikan buku-buku itu hanya siswa terheran-heran, kita mau ujian kok disuruh mengembalikan buku.
Ternyata pengembalian buku itu adalah adalah satu tahapan, untuk mengeluarkan kami siswa eks PRRI oleh kepala sekolah.
Tidak lama setelah urusan buku selesai, kami siswa eks PRRI dipanggil dan diberi surat, agar kami semua siswa eks PRRI disuruh pindah ke sekolah lain.

Konon sang kepala sekolah takut nanti, kami-kami siswa eks PRRI tidak akan lulus dan dapat menjatuhkan prosentasi kelulusan sekolahnya.
Ini adalah suatu hal yang sangat menyakitkan.
Mereka hanya mempertahankan nama sekolahnya.
Dalam kondisi seperti itu tiba-tiba tante saya Rostinah mengirimkan tiket garuda pulang pergi untuk saya, saya disuruh datang ke Tanjung Pinang.

Sampai di Tanjung Pinang, setelah berunding dengan abang saya yang tadinya di Medan, kebetulan juga sedang beada di Tanjung Pinang.
Diputuskan kalau saya sekolah saja dan menamatkannya SMA di Tanjung Pinang.

Berarti saya harus mengulang di kelas III B, dan selama 1 tahun saya di Tanjung Pinang, mengikuti ujian dan lulus pada tahun 1961.
Dari kejadiaan semacam ini jelas sekali bahwa sekolahpun takut sama anak-anak PRRI.
Namun apakah mereka sadar bahwa reformasi yang kita gulirkan pada tahun 1998 itu adalah perjuangan PRRI, 40 tahun yang lalu ? Artinya dibalik kesedihan kami, terselip suatu kebanggan menjadi orang Minang yang tahu dengan heriang jo gendiang, alun takilek alah takalam, merasa malu kalau tidak pandai dan pandai memprediksi jauh ke depan.
Inilah barangkali berkat filosofi urang Minang Alam takambang manjadi guru, Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (AlQuran).

Selama di kota Tanjung Pinang saya tinggal dengan tante saya, uang sekolah dibayari oleh abang saya.
Saya masuk SMA Negeri jurusan B.
Kebetulan saya hanya satu-satunya perempuan dalam kelas saya.
Dengan modal nekat serta uang pemberian Abang, saya cari tiket kapal laut untuk berangkat ke Jakarta.
Dalam pelayaran di atas kapal laut, saya dititipkan kepada teman pak Etek Azwaer Rauf (suami Etek saya Rostinah).

Dengan berbagai usaha akhirnya saya berhasil masuk Pertguruan Tinggi Fakultas Pertanian UI, yang sekarang berubah menjadi IPB.
Enam bulan pertama saya dibantu oleh tante saya untuk bayar indekos.
Untung setelah itu saya dapat asrama Yayasan, dan biaya lumayan agak ringan, Selama setahun saya dibantu oleh mak Etek saya.
Setelah itu saya diberi biaya ikatan Dinas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Tak lama kemudiaan saya masuk asrama putri IPB.

Abang saya membantu menguruskan pensiun untuk ibu karena Bapak memang seorang anggota pegawai negeri.
Beberapa tahun kemudian ibu mendapat uang pensiun, dan ibu saya minta kerelaan kepada saudara saya, mengikhlaskan uang pensiun semuanya dikirimkan untuk saya.
Itu tentang saya, tentang kakak dan tentang adik-adik saya, disekolahkan oleh ibu, kebetulan kakak saya yang perempuan tertua sudah menjadi guru.

Kakak saya perempuan yang kedua dapat masuk SGA di Bukittinggi.
ibu saya relatif masih muda saat ditinggal oleh Bapak, tanpa ada harta atau simpanan untuk menyekolahkan anak-anak.
ibu yang berumur 45 tahun, yang menjadi janda, mencari uang untuk biaya hidup dan sekolah saudara-saudara saya dengan membuat dan menjual kue-kue.

Membuat Kacang Tojin yang ditumpangkan di kedai-kedai serta menjadi perias penganten, yah apa sajalah yang dapat menghasilkan uang.
Memang tidak mudah, kadangkala ibu mengantarkan kue-kue itu ke kedai yang lumayan jauh dengan berjalan kaki atau naik sepeda.
Kakak saya perempuan yang paling tua bernama Zoerni, untung masih mau tinggal dan menjadi guru di kampung, sehingga bisa mendampingi ibu dalam mangarungi hidup.

Jasa kakak Zoerni ini cukup besar dan saya bersaudara sangat berterima kasih kepada beliau.
Disamping itu juga sekali-sekali biaya hidup dibantu oleh abang saya yang bernama Imran.

Itulah suatu perjuangan ibu saya, tidak mudah dan tidak lancar, tetapi dapat dilewati.
Perjuangan yang memerlukan keteguhan hati.
Semua itu dijalani dengan lapang dada.
ibu berprinsip, yang penting semua anak-anaknya sekolah dan kebetulan menjadi pegawai negeri.

Karena ibu saya mempunyai pemikiran yang moderen, bagi beliau merasa penting untuk memberikan pendidikan kepada anak anaknya.
Bagi ibu saya, semua anak-anak perlu mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain atau tidak menyusahkan orang lain.
Bapak hilang tak tahu rimbanya, hanyut tak tahu muaranya

Kalau dipikir, kenapa tujuan PRRI itu sangat bagus, akan tetapi malah menimbulkan perang saudara.
Perang yang menimbulkan banyak sekali kerugian, baik fisik, materi maupun sumberdaya manusia.
Sangat banyak cendekiawan Minang yang menjadi korban, belum lagi korban calon intelektual Minang, bahkan korban sosial budaya yang tidak terukur nilainya.

Karena perang saudara pasti memakan anak sendiri, hilangnya satu generasi.
Bapak saya, orangnya sangat jujur, disiplin dan rajin serta penuh tanggung jawab.
Beliau sangat disegani di kampung saya.
Oleh karena itu ketika zaman pendudukan tentara Jepang, konon bapakku disayang dan dipercaya oleh bosnya.

Bapak Tak Jadi Ditembak Belanda, Karena Beliau Tokoh Adat

Sewaktu zaman Belanda agresi ke 2, bapakku ditangkap oleh Belanda.
Beliau ditodong dengan senjata, bapakku pasrah kepada Allah.
Ternyata Allah berkehendak lain, sebelum ditembak, Bapak digeledah dan menemukan identitas bahwa Bapak adalah seorang tokoh adat.
Alhamdulillah akhirnya dibebaskan.
Tetapi di zaman PRRI kenapa Bapakku sudah ketangkap dan dipenjarakan oleh tentara pusat, malah hilang tidak tahu rimbanya, hanyut tiada tahu muaranya…! Wallahuallam.

Salah satu masalah yang membuat ibu sedih adalah rusaknya rumah gadang berukir yang sudah tua.
Kerusakan itu dipercepat karena rumah gadang itu dijadikan asrama oleh tentara pusat.
Didepan rumah gadang kami dulunya ada Balai-Balai.
Tapi kini Balai-Balai itu juga sudah tiada, dan berganti dengan rumah biasa.
Rumah Gadang kami sudah dibangun kembali, tanpa ada Balai-Balai, tapi tiada yang memelihara dengan baik.
Ini karena pada umumnya keluarga kami sudah merantau.

Sekarang hanya tinggal 2 keluarga di kampung.
Satu kampung itu bernama Patapang Gurun, kampung yang strategis di desa kami, peninggalan nenek-nenek kami.
ibu saya sangat risau dengan Rumah gadang, dan beliau selalu berpesan agar rumah gadang dipelihara baik-baik.
Karena ibu tahu bahwa rumah gadang itu merupakan lambang keluarga besar dan diharapkan dapat mempersatukan keluarga besar.

Memang sudah sepantasnya ibu saya mendapat penghargaan.
ibu tinggal di kampung, sewaktu mudanya tidak boleh melanjutkan sekolah ke rantau oleh bapaknya karena bapaknya seorang angku palo, jadi tidak boleh anak gadisnya pergi merantau.
ibu menikah dengan Bapak saya, yang sebelumnya tidak kenal.
Hal semacam ini terjadi karena suami adalah pemberian dari orang tua.
Bapak saya juga pernah menjadi angku palo di Sijantang Talawi.

Ketika ibu ditinggal suami, sedangkan anak yang perlu diurus enam orang perempuan yang memerlukan biaya besar.
Untung saja ibu tinggal di kampung, biaya rumah, makan tidak masalah.
Bapak sudah membuatkan rumah untuk kami.
ibu punya sawah ladang sendiri.
ibu pernah mendapat penghargaan sebagai ibu teladan di kampung sampai dua kali dari Kecamatan, sayangnya penghargaan itu tidak ada sertifikatnya.
Alangkah baiknya bila sertifikat itu ada, dapat dilihat-lihat oleh anak, cucunya nanti di kemudian hari.

Pasca PRRI, Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi

Saya melihat dan merasakan bahwa orang Minangkabau sudah hampir kehilangan idealismenya.
Orang Minang itu sangat malu kalau tidak pandai.
Sekarang kelihatannya hal ini sudah mulai luntur.
Banyak orang Minang yang dapat disebut terlantar terutama di kota Jakarta di tempat saya bermukim sekarang.
Banyak sekali orang Minang yang datang kepada saya untuk minta bantuan, bahkan boleh dikatakan termasuk kategori mengemis.

Mereka minta bantuan modal untuk usaha, nanti modalnya habis terpakai, lalu minta lagi.
Bahkan cukup banyak yang saya bantu dengan sebutan sebagai pinjaman yang akan dikembalikan.
Mereka harus berusaha untuk menyicil mengembalikan modal itu kepada saya dengan maksud agar kita bisa membantu yang lainnya.
Tapi apa daya tidak satupun yang menepati janji untuk kembali guna menyicil.
Sungguh ironis rasanya.

Dulu yang saya tahu semiskin-miskinnya orang Minang, pastilah untuk makan dan tempat tinggal mereka tidak masalah.
Tetapi sekarang, ya betul-betul miskin, untuk makan saja susah.
Saya sarankan agar mereka kembali ke kampung halamannya.
Spontan mereka jawab bahwa kalau pulang ke kampung akan bertambah susah, tidak ada lagi yang akan dimakan disana, tidak ada lagi yang dapat diharapkan di sana.

Amboi saya semakin miris saja, ada juga yang bolak balik menghubungi saya, bahwa dia itu katanya sebatang kara, pernah tinggal di kolong jembatan.
Kadang dari musholla ke musholla, dia itu ke luar masuk penjara, ketangkap karena terpaksa nyopet atau mencuri untuk mencari makan. Saya suruh pulang ke kampungnya, jawabannya sama saja, bahwa di kampung lebih sulit lagi, sudah gak ada lagi yang kenal dia.

Setelah beberapa tahun dia tidak datang atau menghubungi saya lagi, tiba-tiba dia mengirim SMS, minta bantuan untuk modal usaha.
Katanya dia baru keluar dari penjara, saya tidak memenuhinya.
Dan tiga tahun kemudian dia datang lagi kepada saya, minta bantuan untuk pulang ke kampung, katanya dia sudah menikah dan punya seorang anak.
Sekarang dia sudah pulang ke kampung, mungkin kekampung isterinya.

Surau Bisa Dimasukkan Teknologi Masa Kini

Organisasi orang Minang cukup banyak di rantau di mana saja.
Hampir semua kenagarian punya organisasi.
Seperti di Jakarta ada juga organisasi yang besar, bahkan ingin memayungi semua organisasi Minang itu.
Banyak usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan orang Minang, namun nampaknya hanya tertuju untuk membangun di ranah Minang.

Sebenarnya orang Minang itu masih pandai, di manapun ia berada pada awalnya dia melihat-lihat dahulu, kemudian apabila dia sudah mendapat kesempatan maka dia akan menjadi dominan dalam arti positif.
Banyak usaha orang Minang kini, tapi masih akan memakan waktu yang cukup lama, untuk menghasilkannya.

Intelektual Minang banyak yang meninggalkan ranahnya, bahkan banyak sekali yang sudah berasimilasi dengan suku bangsa selain orang Minang, dimana mereka bermukim.
Ninik Mamak urang Minang sudah sulit didengar oleh kemenakannya, karena ninik mamak itu sudah tidak berwibawa lagi.
Begitu pula banyak surau-surau yang sudah terbengkalai, tidak ada lagi yang mengunjunginya, dan akhirnya roboh sendiri.

Kini kita harus bangkit kembali, tidak hanya dengan wacana-wacana akan tetapi terutama bagaimana surau itu bangun kembali.
Dalam situasi moderen kini, ke surau bisa dimasukkan teknologi masakini, sehingga dapat menarik anak kemenakan mengunjunginya sambil belajar dan mengaji al Quran.
Dengan melengkapi surau dengan komputer, anak anak bisa mengaji dengan baik.
Ciptakan hal-hal lain yang dapat membangkit motivasi anak kemenakan.
Itu bagi anak kemenakan yang tinggal di ranah Minang.

Bagi yang merantau juga tingkatkan surau, sesuai dengan tuntutan di tempat mereka berada, paling tidak pagi sekolah, sore hari ada guru ngaji yang datang ke rumah sekitar 2x seminggu.
Siapkan kurikulumnya, tingkatkan motivasi mereka untuk belajar ngaji sendiri.
Kita harus memikirkan bagaimana agar terjadi sinergi antar Ipteks (ilmu pengetahuan, teknologi dan seni) dan Imtaq (Iman dan taqwa) untuk setiap insan, khususnya anak Minang.

Jakarta, 14 Maret 2011
Prof. DR. Ir. Zoer’ni Djamal Irwan, MS

Peringatan penting

Sudah terbukti ketika perang
tempat berlindung orang Minang
bukan di dataran tanah lapang
tapi di rimba Hutan yang lengang

Sumber

Boelongan, Sepenggal Perjalanan Masa Silam

Seorang penyelam, Sabtu (29/12/2012), berupaya mendokumentasikan salah satu sisi bangkai kapal yang diduga kuat sebagai Boelongan pada kedalaman sekitar 20 meter di perairan Teluk Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. | KOMPAS/INGKI RINALDI

Oleh Ingki Rinaldi

Rabu, 28 Januari 1942, lepas waktu dzuhur di Nagari Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Anas Malin Randah yang ketika itu berusia remaja tengah bersantai di pondok perladangan di atas kawasan perbukitan.

Ayahnya masih menanam padi di ladang saat satu skuadron pesawat tempur Jepang seperti meraung-raung di atas kepalanya. ”Jumlahnya 12 pesawat,” kata Anas, yang kini berusia 83 tahun, pekan lalu. Tak lama berselang, bunyi bom bersahutan seperti hendak memecah gendang telinganya. Anas beserta tiga kakak dan seorang adiknya bergegas menuju ke goa batu untuk berlindung.

Anas masih mampu merekam jalannya serangan. Pesawat tempur Jepang itu membombardir kapal Belanda, yang diduga sebagai Boelongan. Serangan berlangsung sekitar tiga jam hingga sore menjelang. Delapan pesawat tempur baru menggantikan peran 12 pesawat sebelumnya. Serangan ditutup oleh enam pesawat berikutnya.

Kapal Boelongan tenggelam setelah dibom pada bagian haluan, buritan, dan persis di cerobong asapnya. Anas pun melihat sejumlah awak Boelongan yang meninggalkan kapal dengan sekoci.

”Orang Belanda itu kabur,” ujar Anas. Boelongan tenggelam dengan posisi mendatar. Seluruh badannya rusak parah.

Saat dibom, Boelongan pada posisi terbuka di Teluk Mandeh, yang jaraknya sekitar 200 meter dari daratan terdekat dan sekitar 70 kilometer dari Kota Padang. Kawasan ini merupakan salah satu rute pelayaran pantai barat Sumatera yang sangat ramai pada masa silam.

Anas ingat Boelongan berada di kawasan itu sejak sekitar sepekan sebelumnya. Boelongan mula-mula masuk dari pintu muara di Nagari Sungai Nyalo Mudik Aie yang bertetangga dengan Teluk Mandeh. Lalu, Boelongan berlindung di Teluk Dalam di antara Pulau Cubadak dan Pulau Taraju yang masih di kawasan perairan Mandeh.

Saat bersamaan, sekitar 350 km dari Teluk Mandeh, Jatar (87) tengah mengadu nasib di Aie Bangis, Kabupaten Pasaman Barat, Sumbar. Jatar yang juga berasal dari Nagari Mandeh memutuskan pulang setelah tahu pengeboman itu. Beberapa bulan kemudian, Jepang mencari pemuda di nagari itu. ”Sebagian dipekerjakan untuk membuat kapal di Nagari Sungai Pinang, Pesisir Selatan, dan sebagian dikirim ke Logas, Kabupaten Sijunjung, Sumbar,” paparnya.

Pengiriman ke Logas terkait kerja paksa membangun jaringan rel kereta api. Itu berhubungan dengan rencana pengangkutan batubara dari Ombilin, Sawahlunto ke Logas, sebelum dilanjutkan menuju Riau.

Ujung pelarian

Kisah Boelongan yang dimiliki Koninklijke Paketvaart-Maatschappij tak bisa dipisahkan dengan tenggelamnya kapal Van Imhoff II di sebelah barat Kepulauan Nias, Sumatera Utara, setelah dibom Jepang pada 19 Januari 1942. Kapal itu membawa 400 tawanan asal Jerman.

Horst H Geerken dalam buku berjudul A Magic Gecko: Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno (2011) menjelaskan, pada 20 Januari 1942, Boelongan terlihat di lokasi tenggelamnya Van Imhoff II. Namun, karena yang tersisa hanya sekoci berisi tawanan Jerman, Boelongan yang berada di bawah kendali Kapten ML Berveling putar haluan tanpa memberikan pertolongan.

Keputusan Berveling diduga terkait peta Perang Dunia II saat Jerman tergabung dalam poros kekuatan bersama Jepang dan Italia. Di sisi lain, Belanda ikut kubu Sekutu yang di antaranya digerakkan Inggris dan Amerika Serikat. Sebelumnya, Jerman memorakporandakan Rotterdam di Belanda dengan pengeboman pada Mei 1940.

Boelongan yang berperan sebagai pengiring Van Imhoff diduga kembali ke selatan menuju Padang untuk terus ke pesisir selatan mengarah ke Batavia atau Australia. Ini terbukti dari posisi kapal itu saat tenggelam.

Pada penyelaman yang dilakukan Kompas, pekan lalu di lokasi tenggelamnya Boelongan, haluan bangkai kapal terlihat pada sisi barat daya. Adapun buritannya terletak di arah timur laut yang mengindikasikan kapal itu sedang menuju selatan.

Dinding kabin anjungan tampak rebah ke atas dek di kedalaman sekitar 20 meter. Menurut Kepala Subseksi Pelayanan Teknis Loka Penelitian Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir Kementerian Kelautan dan Perikanan Nia Naelul Hasanah, kesimpulan bangkai kapal itu adalah Boelongan didasarkan pada pengukuran detail.

Panjang kapal diketahui 74 meter dengan lebar bagian tengah 11 meter, lebar buritan 13 meter, lebar haluan 10 meter, dan tinggi 8 meter. Tinggi kapal terukur belum mewakili ukuran sesungguhnya karena sebagian badan kapal terbenam sedimen.

Hasil pengukuran itu serupa dengan data spesifikasi Boelongan dalam sejumlah referensi. Kapal lain yang tenggelam di alur itu dalam periode yang sama, Buijskes dan Elout, memiliki dimensi lebih besar. Selain sebagai kapal transpor, kata Nia, Boelongan juga kerap dipakai pejabat kolonial Belanda saat berkunjung ke Kesultanan Bulungan di Kalimantan Timur.

Periode kritis

Sejarawan dari Universitas Negeri Padang, Prof Dr Mestika Zed, mengatakan, tenggelamnya Boelongan dan invasi Jepang itu menandai periode kritis kekuasaan Belanda di Indonesia. Serangan cepat Jepang tak disangka-sangka Belanda.

Periode Desember 1941-Februari 1942 ditandai dengan serangan udara yang dilakukan Jepang secara bertubi-tubi. Menurut Mestika, gempuran pesawat dengan pola bunuh diri seperti yang dilakukan Jepang terhadap Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat Pearl Harbor, Hawaii, lazim dilakukan selama periode itu.

Hampir 71 tahun seusai Boelongan karam, warga di daerah sekitarnya cenderung tak beroleh manfaat. Padahal, dengan sejarah yang melingkupinya, kapal karam itu bisa menjadi obyek wisata dan obyek penelitian yang tak hanya bermanfaat bagi warga sekitar, tetapi juga bagi ilmu pengetahuan….

Sumber

Ternyata Amerika Memiliki Hutang 57ribu Ton Emas Kepada Indonesia

“The Green Hilton Memorial Agreement” di Geneva pada 14 November 1963

Inilah perjanjian yang paling menggemparkan dunia. Inilah perjanjian yang menyebabkan terbunuhnya Presiden Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy (JFK) 22 November 1963. Inilah perjanjian yang kemudian menjadi pemicu dijatuhkannya Bung Karno dari kursi kepresidenan oleh jaringan CIA yang menggunakan ambisi Soeharto. Dan inilah perjanjian yang hingga kini tetap menjadi misteri terbesar dalam sejarah ummat manusia.

Perjanjian “The Green Hilton Memorial Agreement” di Geneva (Swiss) pada 14 November 1963

Dan, inilah perjanjian yang sering membuat sibuk setiap siapapun yang menjadi Presiden RI. Dan, inilah perjanjian yang membuat sebagian orang tergila-gila menebar uang untuk mendapatkan secuil dari harta ini yang kemudian dikenal sebagai “salah satu” harta Amanah Rakyat dan Bangsa Indonesia. Inilah perjanjian yang oleh masyarakat dunia sebagai Harta Abadi Ummat Manusia. Inilah kemudian yang menjadi sasaran kerja tim rahasia Soeharto menyiksa Soebandrio dkk agar buka mulut. Inilah perjanjian yang membuat Megawati ketika menjadi Presiden RI menagih janji ke Swiss tetapi tidak bisa juga. Padahal Megawati sudah menyampaikan bahwa ia adalah Presiden RI dan ia adalah Putri Bung Karno. Tetapi tetap tidak bisa. Inilah kemudian membuat SBY kemudian membentuk tim rahasia untuk melacak harta ini yang kemudian juga tetap mandul. Semua pihak repot dibuat oleh perjnajian ini.

Perjanjian itu bernama “Green Hilton Memorial Agreement Geneva”. Akta termahal di dunia ini diteken oleh John F Kennedy selaku Presiden AS, Ir Soekarno selaku Presiden RI dan William Vouker yang mewakili Swiss. Perjanjian segitiga ini dilakukan di Hotel Hilton Geneva pada 14 November 1963 sebagai kelanjutan dari MOU yang dilakukan tahun 1961. Intinya adalah, Pemerintahan AS mengakui keberadaan emas batangan senilai lebih dari 57 ribu ton emas murni yang terdiri dari 17 paket emas dan pihak Indonesia menerima batangan emas itu menjadi kolateral bagi dunia keuangan AS yang operasionalisasinya dilakukan oleh Pemerintahan Swiss melalui United Bank of Switzerland (UBS).

Pada dokumen lain yang tidak dipublikasi disebutkan, atas penggunaan kolateral tersebut AS harus membayar fee sebesar 2,5% setahun kepada Indonesia. Hanya saja, ketakutan akan muncul pemimpinan yang korup di Indonesia, maka pembayaran fee tersebut tidak bersifat terbuka. Artinya hak kewenangan pencairan fee tersebut tidak berada pada Presiden RI siapa pun, tetapi ada pada sistem perbankkan yang sudah dibuat sedemikian rupa, sehingga pencairannya bukan hal mudah, termasuk bagi Presiden AS sendiri.

Account khusus ini dibuat untuk menampung aset tersebut yang hingga kini tidak ada yang tahu keberadaannya kecuali John F Kennedy dan Soekarno sendiri. Sayangnya sebelum Soekarno mangkat, ia belum sempat memberikan mandat pencairannya kepada siapa pun di tanah air. Malah jika ada yang mengaku bahwa dialah yang dipercaya Bung Karno untuk mencairkan harta, maka dijamin orang tersebut bohong, kecuali ada tanda-tanda khusus berupa dokumen penting yang tidak tahu siapa yang menyimpan hingga kini.

Menurut sebuah sumber di Vatikan, ketika Presiden AS menyampaikan niat tersebut kepada Vatikan, Paus sempat bertanya apakah Indonesia telah menyetujuinya.

Kabarnya, AS hanya memanfaatkan fakta MOU antara negara G-20 di Inggris dimana Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut menanda tangani suatu kesepakatan untuk memberikan otoritas kepada keuangan dunia IMF dan World Bank untuk mencari sumber pendanaan alternatif. Konon kabarnya, Vatikan berpesan agar Indonesia diberi bantuan. Mungkin bantuan IMF sebesar USD 2,7 milyar dalam fasilitas SDR (Special Drawing Rights) kepada Indonesia pertengahan tahun lalu merupakan realisasi dari kesepakatan ini, sehingga ada isyu yang berkembang bahwa bantuan tersebut tidak perlu dikembalikan.

Oleh Bank Indonesia memang bantuan IMF sebesar itu dipergunakan untuk memperkuat cadangan devisa negara. Kalau benar itu, maka betapa nistanya rakyat Indonesia. Kalau benar itu terjadi betapa bodohnya Pemerintahan kita dalam masalah ini. Kalau ini benar terjadi betapa tak berdayanya bangsa ini, hanya kebagian USD 2,7 milyar. Padahal harta tersebut berharga ribuan trilyun dollar Amerika.

Aset itu bukan aset gratis peninggalan sejarah, aset tersebut merupakan hasil kerja keras nenek moyang kita di era masa keemasan kerajaan di Indonesia.

Asal Mula Perjanjian “Green Hilton Memorial Agreement”

Setelah masa perang dunia berakhir, negara-negara timur dan barat yang terlibat perang mulai membangun kembali infrastrukturnya. Akan tetapi, dampak yang telah diberikan oleh perang tersebut bukan secara materi saja tetapi juga secara psikologis luar biasa besarnya. Pergolakan sosial dan keagamaan terjadi dimana-mana. Orang-orang ketakutan perang ini akan terjadi lagi. Pemerintah negara-negara barat yang banyak terlibat pada perang dunia berusaha menenangkan rakyatnya, dengan mengatakan bahwa rakyat akan segera memasuki era industri dan teknologi yang lebih baik. Para bankir Yahudi mengetahui bahwa negara-negara timur di Asia masih banyak menyimpan cadangan emas. Emas tersebut akan di jadikan sebagai kolateral untuk mencetak uang yang lebih banyak yang akan digunakan untuk mengembangkan industri serta menguasai teknologi. Karena teknologi Informasi sedang menanti di zaman akan datang.

Sesepuh Mason yang bekerja di Federal Reserve (Bank Sentral di Amerika) bersama bankir-bankir dari Bank of International Settlements / BIS (Pusat Bank Sentral dari seluruh Bank Sentral di Dunia) mengunjungi Indonesia. Melalui pertemuan dengan Presiden Soekarno, mereka mengatakan bahwa atas nama kemanusiaan dan pencegahan terjadinya kembali perang dunia yang baru saja terjadi dan menghancurkan semua negara yang terlibat, setiap negara harus mencapai kesepakatan untuk mendayagunakan kolateral Emas yang dimiliki oleh setiap negara untuk program-program kemanusiaan. Dan semua negara menyetujui hal tersebut, termasuk Indonesia. Akhirnya terjadilah kesepakatan bahwa emas-emas milik negara-negara timur (Asia) akan diserahkan kepada Federal Reserve untuk dikelola dalam program-program kemanusiaan. Sebagai pertukarannya, negara-negara Asia tersebut menerima Obligasi dan Sertifikat Emas sebagai tanda kepemilikan. Beberapa negara yang terlibat diantaranya Indonesia, Cina dan Philippina. Pada masa itu, pengaruh Soekarno sebagai pemimpin dunia timur sangat besar, hingga Amerika merasa khawatir ketika Soekarno begitu dekat dengan Moskow dan Beijing yang notabene adalah musuh Amerika.

Namun beberapa tahun kemudian, Soekarno mulai menyadari bahwa kesepakatan antara negara-negara timur dengan barat (Bankir-Bankir Yahudi dan lembaga keuangan dunia) tidak di jalankan sebagaimana mestinya. Soekarno mencium persekongkolan busuk yang dilakukan para Bankir Yahudi tersebut yang merupakan bagian dari Freemasonry.

Tidak ada program-program kemanusiaan yang dijalankan mengunakan kolateral tersebut. Soekarno protes keras dan segera menyadari negara-negara timur telah di tipu oleh Bankir International.

Akhirnya Pada tahun 1963, Soekarno membatalkan perjanjian dengan para Bankir Yahudi tersebut dan mengalihkan hak kelola emas-emas tersebut kepada Presiden Amerika Serikat John F.Kennedy (JFK). Ketika itu Amerika sedang terjerat utang besar-besaran setelah terlibat dalam perang dunia. Presiden JFK menginginkan negara mencetak uang tanpa utang.

Karena kekuasaan dan tanggung jawab Federal Reserve bukan pada pemerintah Amerika melainkan di kuasai oleh swasta yang notabene nya bankir Yahudi. Jadi apabila pemerintah Amerika ingin mencetak uang, maka pemerintah harus meminjam kepada para bankir yahudi tersebut dengan bunga yang tinggi sebagai kolateral. Pemerintah Amerika kemudian melobi Presiden Soekarno agar emas-emas yang tadinya dijadikan kolateral oleh bankir Yahudi di alihkan ke Amerika. Presiden Kennedy bersedia meyakinkan Soekarno untuk membayar bunga 2,5% per tahun dari nilai emas yang digunakan dan mulai berlaku 2 tahun setelah perjanjian ditandatangani. Setelah dilakukan MOU sebagai tanda persetujuan, maka dibentuklah Green Hilton Memorial Agreement di Jenewa (Swiss) yang ditandatangani Soekarno dan John F.Kennedy. Melalui perjanjian itu pemerintah Amerika mengakui Emas batangan milik bangsa Indonesia sebesar lebih dari 57.000 ton dalam kemasan 17 Paket emas.

Melalui perjanjian ini Soekarno sebagai pemegang mandat terpercaya akan melakukan reposisi terhadap kolateral emas tersebut, kemudian digunakan ke dalam sistem perbankan untuk menciptakan Fractional Reserve Banking terhadap dolar Amerika. Perjanjian ini difasilitasi oleh Threepartheid Gold Commision dan melalui perjanjian ini pula kekuasaan terhadap emas tersebut berpindah tangan ke pemerintah Amerika. Dari kesepakatan tersebut, dikeluarkanlah Executive Order bernomor 11110, di tandatangani oleh Presiden JFK yang memberi kuasa penuh kepada Departemen Keuangan untuk mengambil alih hak menerbitkan mata uang dari Federal Reserve. Apa yang pernah di lakukan oleh Franklin, Lincoln, dan beberapa presiden lainnya, agar Amerika terlepas dari belenggu sistem kredit bankir Yahudi juga diterapkan oleh presiden JFK. salah satu kuasa yang diberikan kepada Departemen keuangan adalah menerbitkan sertifikat uang perak atas koin perak sehingga pemerintah bisa menerbitkan dolar tanpa utang lagi kepada Bank Sentral (Federal Reserve)

Tidak lama berselang setelah penandatanganan Green Hilton Memorial Agreement tersebut, presiden Kennedy di tembak mati oleh Lee Harvey Oswald. Setelah kematian Kennedy, tangan-tangan gelap bankir Yahudi memindahkan kolateral emas tersebut ke International Collateral Combined Accounts for Global Debt Facility di bawah pengawasan OITC (The Office of International Treasury Control) yang semuanya dikuasai oleh bankir Yahudi. Perjanjian itu juga tidak pernah efektif, hingga saat Soekarno ditumbangkan oleh gerakan Orde baru yang didalangi oleh CIA yang kemudian mengangkat Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia. Sampai pada saat Soekarno jatuh sakit dan tidak lagi mengurus aset-aset tersebut hingga meninggal dunia. Satu-satunya warisan yang ditinggalkan, yang berkaitan dengan Green Hilton Memorial Agreement tersebut adalah sebuah buku bersandi yang menyembunyikan ratusan akun dan sub-akun yang digunakan untuk menyimpan emas, yang terproteksi oleh sistem rahasia di Federal Reserve bernama The Black screen. Buku itu disebut Buku Maklumat atau The Book of codes. Buku tersebut banyak di buru oleh kalangan Lembaga Keuangan Dunia, Para sesepuh Mason, para petinggi politik Amerika dan Inteligen serta yang lainnya. Keberadaan buku tersebut mengancam eksistensi Lembaga keuangan barat yang berjaya selama ini.

Sampai hari ini, tidak satu rupiah pun dari bunga dan nilai pokok aset tersebut dibayarkan pada rakyat Indonesia melalui pemerintah, sesuai perjanjian yang disepakati antara JFK dan Presiden Soekarno melalui Green Hilton Agreement.

Padahal mereka telah menggunakan emas milik Indonesia sebagai kolateral dalam mencetak setiap dollar.

Hal yang sama terjadi pada bangsa China dan Philipina. Karena itulah pada awal tahun 2000-an China mulai menggugat di pengadilan Distrik New York. Gugatan yang bernilai triliunan dollar Amerika Serikat ini telah mengguncang lembaga-lembaga keuangan di Amerika dan Eropa. Namun gugatan tersebut sudah lebih dari satu dasawarsa dan belum menunjukkan hasilnya. Memang gugatan tersebut tidaklah mudah, dibutuhkan kesabaran yang tinggi, karena bukan saja berhadapan dengan negara besar seperti Amerika, tetapi juga berhadapan dengan kepentingan Yahudi bahkan kabarnya ada kepentingan dengan Vatikan. Akankah Pemerintah Indonesia mengikuti langkah pemerintah Cina yang menggugat atas hak-hak emas rakyat Indonesia yang bernilai Ribuan Trilyun Dollar… (bisa untuk membayar utang Indonesia dan membuat negri ini makmur dan sejahtera)?

Sumber : disini

Perang-Perang di Indonesia

B-25 Mitchell

PRRI/Permesta – Dalam sejarah TNI AU, pembumihangusan separatis PRRI/Permesta, (1958), menorehkan peperangan udara “spektakuler”. P-51 Mustang dan B-25 mencabik-cabik pertahanan PRRI/Permesta di Padang dan Manado. PRRI diembrioi dengan lahirnya Dewan Gajah dan Dewan Banteng, 20 dan 22 Desember 1955. Gerakan separatis ini disikapi Jakarta dengan membekukan Komando Daerah Militer Sumatera Tengah. Sikap Jakarta inilah yang dibalas “pemberontak” dengan mendirikan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), 15 Februari 1958.

Memang seperti penyakit menular. Letkol Ventje Sumual mengumumkan SOB yang sekaligus menandai proklamasi Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), 2 Maret 1957. Jakarta segera membentuk operasi gabungan APRI. Di Sumatera digelar operasi “17 Agustus”, di Sulawesi digelar operasi “Merdeka”. P-51, B-25, dan C-47 Dakota disiapkan untuk operasi ini. Dari kedua kelompok, Permestalah yang menakutkan AURI. Karena memiliki beberapa P-51 dan B-26 yang diterbangkan pilot-pilot bayaran dari Amerika, Taiwan, dan Filipina.

Dalam menghadapi PRRI, AURI menyiapkan hingga 40 pesawat hampir seluruh kekuatan di Tanjung Pinang. Berturut-turut dalam operasi perebutan, B-25 dan P-51 menghujani dengan senapan mesinnya Lanud Simpang Tiga Pekanbaru (12 Maret), kota Medan (17 Maret), serta kota Padang (17 April). 17 hari kemudian, Bukittinggi juga jatuh ke tangan pasukan APRI.

Di Selebes, kembali AURI menggelar operasi dengan menidurkan radio Permesta di Manado (22 Februari 1958), merebut keunggulan udara di Mapanget, Tasuka, Morotai, dan Jailolo (5 Mei), hingga mandulnya Permesta 23 Mei. Begitu gencarnya pertempuran di darat maupun dari udara, sempat memancing pesawat Lockheed U-2 Dragon Lady. Pesawat ini pernah dimanfaatkan mengintai pulau Natuna yang disiapkan untuk menggempur Jakarta. Buntut perang ini memperburuk hubungan Jakarta-Washington. CIA ternyata berada dibelakang semua aksi itu.

P-51 Mustang

Lewat perang ini pula lahir ace kalau boleh menyebut pertama Indonesia. P-51 Mustang yang diterbangkan Kapten Udara IGN Dewanto menembak jatuh B-26 Permesta yang diterbangkan Allen Lawrence Pope. Peristiwa heroik ini terjadi 18 Mei 1958.

Trikora – Dengan lantang, di depan rapat raksasa di Yogyakarta, 19 Desember 1961, Presiden Soekarno menyerukan, “… oleh karena Belanda masih melanjutkan kolonialisme di tanah air kita…, maka kami perintahkan kepada rakyat Indonesia, juga yang berada di Irian Barat, untuk melaksanakan Tri Komando.” Tiga tahap rencana operasi : infiltrasi, penghancuran, dan konsolidasi, segera disusun. Pesawat, kapal perang, radar, tank, senjata, disiapkan.

Guna memuluskan operasi, dibentuklah Komando Mandala yang membawahi unsur AD, AL, AU, dan Kohanudgab Mandala, 11 Januari 1962. Sebagai panglima komando mandala yang berada langsung di bawah Panglima KOTI Presiden Soekarno, dipercayakan kepada Mayjen Soeharto. Adapun wakil panglima mandala ditunjuk Komodor Laut Soebono dan Komodor Udara Leo Wattimena.

AU Belanda diperkuat 24 pesawat buru sergap Hawker Hunter Mk-06 yang berpangkalan di Biak, enam helikopter Aloutte, 10 Neptune, setengah skadron C-47 serta dua unit radar tipe 15 Mk-IV di Numfor dan pulau Wundi. Terbatasnya daya jangkau MiG-17 dan P-51, menjadi kendala bagi AURI, karena AU Belanda masih didukung AD dan AL.

Namun begitu, operasi-operasi pengintaian dan infiltrasi telah dilaksanakan. Seperti mengejar kapal selam di Morotai, menembak kapal asing, menyerang kapal Belanda di pulau Gag di perairan Irian Barat, sampai menerjunkan PGT dan RPKAD. Operasi penyusupan ini diberi nama Banteng Ketaton.

Dalam operasi penerjunan, pesawat C-47 selalu mendapat pengawalan dari P-51 dan B-25/26. Berhadapan dengan kekuatan udara Belanda pun sudah terjadi di sini. Seperti usai penerjunan di Kaimana, jatuh korban. Pesawat angkut C-47 yang diterbangkan Kapten Djalaluddin Tantu, ditembak jatuh ke laut dalam penerbangan pulang oleh Neptune Belanda. Namun begitu, AURI boleh berbangga. Karena secara keseluruhan, keunggulan udara dapat diraih.

Sekiranya AURI tidak siap, tentu tidak mungkin keunggulan di udara dicapai sehingga penyusupan-penyusupan lewat udara dapat dilakukan yang tidak jarang dilaksanakan juga dengan formasi C-130. Untuk menghadapi Operasi Jayawijaya, AURI sengaja menyiapkan unsur udaranya secara besar-besaran. Lihat saja, bomber (10 Tu-16 dan 10 Tu-16 KS), enam B-25 dan B-26 (empat cadangan), delapan IL-28 dengan dua cadangan. Unsur angkut dan SAR masing-masing delapan C-130 dengan dua cadangan, 20 C-47 Dakota, enam Mi-4 dan Bell-204, lima UF Albatros serta dua Twin Otter. Unsur serang pertahanan udara dan serang darat masing-masing disiapkan tujuh P-51, dan 18 MiG-17 Fresco. Disamping itu, AURI juga menyiapkan dua batalion pasukan tempurnya yang sangat disegani kala itu, Pasukan Gerak Tjepat (PGT). Radar-radar turut ditempakan di Morotai, Bula, dan Saparua.

Walau perang terbuka urung berkecamuk, beberapa pesawat AURI mengalami kecelakaan. Tercatat 2 P-51, 2 MiG-17, 1 C-47, 1 Albatros, 2 Il-28, dan 1 B-26, mengalami kecelakaan dalam operasi pembebasan Irian Barat. Peristiwa ini, memakan korban lebih kurang 20 penerbang beserta awak-nya. Beberapa kali penerjunan yang dilakukan di Kaimana, Fak Fak, Sorong, Klamono, Teminabuan, dan Merauke, juga mengakibatkan gugurnya 94 prajurit PGT.

Setelah Irian Barat kembali ke pangkuan RI, di propinsi paling timur ini muncul gerombolan yang menamakan dirinya Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Lodewyk Mandatjan. Operasi kembali di gelar. Sebuah B-25 diterbangkan LU I Suwadji dan B-26 diterbangkan Letkol P Soedarman, menggempur OPM di desa Tindowi, 90 km dari Manokwari, Agustus 1965. Masih di bulan Agustus, B-26 mendapat tugas mengamankan sekaligus menolong satu regu Kopasgat dan Polisi yang dikepung 12.000 anggota OPM. Operasi sukses. Tidak ada yang terluka, Alhasil, operasi pembebasan Irian Barat menjadi catatan sejarah penting sebagai operasi gabungan terbesar yang pernah dirancang dan dilaksanakan ABRI (sekarang TNI).

Dwikora – Belum hilang penat dari bumi cendrawasih (konflik dihentikan 18 Agustus 1962), AURI sudah dihadapkan lagi kepada “pilihan politik” untuk menyiapkan alutsistanya menghadapi negara jiran Malaysia. Ini berawal dari pidato Soekarno yang mengatakan ingin membantu rakyat Kalimantan Utara yang menentang pembentukan Federasi Malaysia. Ajakan “perang” Soekarno yang terkenal dengan Dwikora ini, diucapkannya di Jakarta, 3 Mei 1964.

Tidak kalah hebat dengan Trikora, 8 Tu-16, 4 P-51, 9 B-25, 2 C-130, 11 C-47, serta 4 Il-14, dinyatakan siap. ALRI juga menyatakan kesiapannya dengan menempatkan ratusan kapal didukung pesawat terbang serta beberapa batalion marinir. Celakanya, kekuatan AURI harus berhadapan dengan AU Inggris dan AU Australia yang melindungi negara persemakmurannya. Kekuatan gabungan Inggris-Australia diduga terdiri dari 50-an bomber, 24 Hawker Hunter, 24 Gloster Javelin, 30 F-86 Sabre, serta 6 skadron pesawat angkut dan 12 helikopter. Belum dihitung skadron rudal Blood Hound serta 2 skadron pesawat stand by di Australia. Pertahanan Malaysia makin sempurna dengan dukungan pasukan darat dan laut (27 batalion, 16 batalion artileri, belasan kapal, serta pasukan Gurkha).

Sekali lagi, gelar pasukan segitu besar harus diakhiri di meja perundingan, seperti halnya Trikora. Meletusnya pemberontakan G 30S/PKI, telah menyita perhatian publik serta militer yang memaksa para elit negara harus segera menghentikan konfrontasi. Pasukan segera ditarik. Sebuah C-130 Hercules AURI diterbangkan Mayor Djalaluddin Tantu yang sekiranya menerjunkan 1 kompi PGT di Malaka, hilang pada tanggal 1 September 1964.

Penerjunan di Dili – Menurut beberapa pengamat militer Indonesia, operasi penerjunan di kota Dili, 7 Desember 1974, merupakan operasi lintas udara (Linud) terbesar yang pernah dilaksanakan TNI. Satu batalion pasukan tempur terdiri dari Grup-1 Kopassandha dan Brigade 18/Linud Kostrad yang sebagian besar dari Batalion-502/Raiders Jawa Timur, diterjunkan di pagi buta dari sembilan pesawat angkut berat C-130 Hercules Skadron Udara 32 TNI AU.

Perebutan Dili diputuskan Menhankam/Pangab Jenderal TNI M Panggabean, 4 Desember di Kupang. Sebelum perebutan Dili, Fretilin sudah terlibat baku tembak dengan pasukan TNI dalam perebutan Benteng Batugade (17 Oktober). Garis besarnya, operasi ini dilakukan dalam tiga sortie. Sortie pertama dari Lanud Iswahyudi Madiun, dengan droping zone (DZ) Dili. Diterjunkan Grup-1 Kopassandha dan Yon Linud 501. Sortie berikutnya diberangkatkan dari Penfui Kupang dengan DZ Komoro. Ikut dalam sortie ini Yon 502 dan Baret Merah yang menurunkan Denpur-1, disebut Nanggala-5. Sortie terakhir, direncanakan juga dari Kupang.

Kalau selama Trikora, airborne operation bisa sukses karena didukung pesawat tempur. Nah, di Dili, ini masalahnya. Bantuan tembakan udara tidak bisa diharapkan dari P-51 karena digrounded. Sementara T-33-Bird dan F-86 belum dipersenjatai. Dari tujuh bomber B-26, hanya dua yang serviceable. Pilotnya juga sebanyak pesawatnya. Ujung-ujungnya, dua C-47 disulap menjadi AC-47 gunship dilengkapi tiga senapan mesin kaliber 7,62 mm di sisi, mendampingi B-26.

Begitulah. Tepat pukul 05.45, peterjun pertama melompat keluar dari ramp door pesawat. Beberapa prajurit langsung gugur, karena ketika masih melayang di udara disambut timah panas Fretilin dari bawah. Termasuk pesawat. Empat C-130 terkena dihantam senapan mesin ringan dari bawah. Bahkan load master T-1312, Pelda Wardjijo, gugur karena peluru menembus badan pesawat.

Pasukan yang diterjunkan dengan cepat menguasai Dili. Pukul 07.45, kembali sortie kedua diterjunkan di Komoro. Petang itu juga, pemerintah segera mengumumkan bahwa Dili telah dibebaskan.

Bagi Kopasgat TNI AU, operasi ini penting. Gelar Kopasgat terjadi dua hari kemudian, 9 Desember, ketika delapan C-130 kembali menerjunkan Kostrad, Kopassus, dan 156 Kopasgat pukul 07.25. B-26 melindungi penerbangan kali ini. Tugas Kopasgat adalah membebaskan lapangan terbang Baucau, atau lebih populer dengan Vila Salazar Baucau dalam bahasa Portugis.

Detasemen Kopasgat dipimpin Kapten (Psk) Afendi. Operasi ini sekaligus membuktikan kemampuan Kopasgat melaksanakan Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara Depan (OP3UD). Hanya bertahan 23 tahun, propinsi termuda ini lepas dari RI setelah jajak pendapat, 30 Agustus 1999. Sebuah perjuangan yang dramatis sekaligus menyisakan sejuta pertanyaan.

Sumber: angkasa-online.com

Pemberontakan PETA : di Ngacar Kediri, Supriyadi Menghilang

PETA

detik.com – Pemberontakan PETA Blitar pecah pada 14 Februari 1945. Sejatinya, pemberontakan dilakukan lebih awal, yakni 5 Februari 1945 saat dilakukan latihan bersama (Daidan) batalyon PETA Jawa Timur di Tuban. Namun, rencana ini gagal, karena Jepang mendadak membatalkan jalannya latihan. Perwira PETA yang terlanjur datang ke Tuban dipulangkan masing-masing ke kotanya. Rencana pemberontakan PETA sendiri sesungguhnya datang dari akumulasi kekecewaan para kadet PETA terhadap Jepang. Di lapangan, mereka kerap menjumpai tindak sewenang-wenang tentara Jepang kepada pribumi, sementara dalam latihan ketentaraan, Jepang selain keras juga melakukan diskriminasi, seperti keharusan menghormat tentara Jepang meski pangkatnya lebih rendah.

Supriyadi

Adalah Supriyadi yang menjadi motor rencana pemberontakan. Sebetulnya ia hanya seorang Shudanco (komandan peleton). Atasannya masih ada Cudanco (komandan kompi) Ciptoharjono dan Daidanco (komandan batalyon) Soerahmad. Namun, tak bisa dipungkiri, inisiatif dan otak pemberontakan ada di tangan Supriyadi. Ia menggandeng beberapa rekan Shudanco yang sepaham. Syahdan pada 9 Februari 1945, Supriyadi menemui guru spiritualnya, Mbah Kasan Bendo. Ia mengutarakan maksud untuk melawan Jepang. Konon, saat itu Kasan Bendo memintanya untuk bersabar dan menunda gerakan hingga 4 bulan. “Tapi kalau ananda mau juga melawan tentara Jepang sekarang, saya hanya dapat memberikan restu kepadamu, karena perjuanganmu itu adalah mulia.”

Pesan itu disampaikan Supriyadi kepada rekan-rekannya. Setelah sempat menemui pimpinan PUTERA, Soekarno dan gagal mendapat restu, Supriyadi mengadakan rapat terakhirnya 13 Februari 1945 di kamar Shudanco Halir Mangundjidjaja. Hadir Shudanco Moeradi, Chudanco Ismangil, Bundanco Soenanto dan Bundanco Soeparjono. Hasilnya, pemberontakan akan dilakukan besok. Mereka masing-masing tahu risikonya bila gagal, paling ringan disiksa dan paling berat hukuman mati. Rencana ini terkesan tergesa-gesa karena Supriyadi dan rekan-rekannya khawatir tindak tanduk mereka telah dimonitor Jepang. Shudanco Halir menceritakan di Blitar baru saja datang satu gerbong anggota Kempetai yang baru datang dari Semarang. Mereka menginap di Hotel Sakura. Supriyadi cs menduga, kedatangan Kempetai untuk menangkap dirinya dan rekan-rekannya.

14 Februari 1945, pukul 03.00, senjata dan peluru dibagi-bagikan ke anggota PETA. Jumlah yang ikut serta 360 orang. Setengah jam kemudian, Bundanco Soedarmo menembakkan mortir ke Hotel Sakura. Hotel direbut dan tentara PETA menurunkan slogan “Indonesia Akan Merdeka” (janji proganda Jepang) dan menggantinya dengan spanduk “Indonesia Sudah Merdeka.” Merah putih juga dikibarkan. Pasukan PETA melucuti senjata para polisi dan membebaskan tawanan dari penjara. Beberapa orang Jepang yang ditemui dibunuh. Mereka lalu bergerak menyebar ke tempat yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun entah kenapa, rencana penyebaran malah gagal. Seluruh pasukan PETA seusai serangan justru berkumpul di Hutan Ngancar, perbatasan Kediri.

Sejak awal, Jepang berhati-hati dalam menangani pemberontakan PETA. Mereka tidak terlalu ofensif dan cenderung menggunakan jalan persuasif untuk menjinakkan Supriyadi dan rekan-rekannya. Hal ini dilakukan demi menghindari tersulutnya kemarahan Daidan (Batalyon) PETA yang lain yang bisa saja malahan membuat pemberontakan meluas dan merembet ke mana-kemana. Setelah kota Blitar berhasil diduduki kembali, langkah diplomasi pun dibuat. Kolonel Katagiri yang ditunjuk untuk memimpin operasi penumpasan mendatangi pasukan Supriyadi yang bertahan di Hutan Ngancar, perbatasan Kediri. Di Sumberlumbu, Katagiri bertemu dengan Muradi, salah satu pemimpin pemberontak. Pasukan PETA menawarkan penyerahan diri bersyarat. Adapun syaratnya adalah:

1. Mempercepat kemerdekaan Indonesia,
2. Para tentara PETA yang terlibat pemberontakan takkan dilucuti senjatanya,
3. Aksi tentara PETA yang dilakukan pada 14 Februari 1945 di Kota Blitar takkan dimintai pertanggungjawaban.

Katagiri menyetujui syarat tersebut. Sebagai tanda sepakat, ia menyerahkan pedang perwiranya kepada Muradi untuk disimpan. Muradi beserta seluruh pasukannya kembali ke Blitar. Nah, pada saat kembali dari Ngancar inilah, Supriyadi terakhir kali terlihat. Persisnya ia hilang di dukuh Panceran, Ngancar. Ada dugaan bisa diculik secara diam-diam dan dibunuh Jepang di Gunung Kelud, namun berkembang juga isu bahwa ia sengaja melarikan diri. Mungkin ia memang sudah tak yakin Jepang akan memenuhi syarat yang diajukan PETA.

Jika itu yang ia rasakan, Supriyadi benar. Kesepakatan Sumberlumbu ternyata tak diakui oleh pimpinan tentara Jepang di Jakarta. Mereka meminta Kempetai tetap memproses para pelaku diproses. Dari hasil pilah memilah dan negosiasi, diberangkatkanlah 78 tentara PETA ke Jakarta untuk menghadapi pengadilan militer Jepang. Hasil dari sidang militer, sebanyak 6 orang dijatuhi hukuman mati, 6 orang diganjar hukuman seumur hidup dan sisanya dihukum antara beberapa bulan sampai beberapa tahun. Tak lama kemudian, Shudanco Moeradi, Chudanco Ismangil, Shudanco Halir Mangkoedjidjaja, Bundanco Soenanto dan Bundanco Soeparjono dipenggal kepalanya di Eereveld, Ancol.

Bagaimana dengan Supriyadi? Sejak ia menghilang, ia tak pernah menunjukkan batang hidungnya kembali. Supriyadi sendiri pernah berpesan kepada ibunya beberapa hari sebelum pecahnya pemberontakan, apabila ia tidak kembali ke rumah dalam waktu 5 tahun, itu tandanya dirinya sudah meninggal dunia. Apa benar Supriyadi telah gugur? Yang jelas, fakta bahwa jasadnya tak pernah diketemukan berbanding dengan penunjukannya sebagai panglima tentara Indonesia yang pertama menjadi bahan menarik sebagai komoditi misteri hingga kini. Komoditi yang juga sama dengan kasus raibnya Tan Malaka sebelum dipecahkan oleh sejarawan Belanda, Dr Harry Poeze.

Sumber

Tugu Untuk Mengingat PRRI di Nagari Muaro Paneh

Dikarang oleh : H. si Am Dt. Soda

Pendahuluan

Untuk melengkapi bukti sejarah
Syair ditulis dengan Bismillah
Membuat catatan bermacam kisah
Sekitar perang berdarah darah

Ada petuah orang Yunani
Sering dikutip para ahli
Ini merupakan sebagai motivasi
Ketika menuliskan syair ini

Historia vero testis temporum = sejarah adalah saksi zaman
Lux veritatis = sinar kebenaran
Vita memoriae = kenangan hidup
Magistra vitae = guru kehidupan
Nuntia vetustatis = pesan dari masa silam

Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM)

Mohon dimaafkan dengan ikhlas
Seandainya cerita kurang jelas
Mungkin kalimat terlalu keras
Atau kisah tidak tuntas

Jangan jadikan bahan olok-olok
Kalau data tidak cocok
Lakukan survey, pergilah tengok
Itulah sikap yang lebih elok

Walau isinya merupakan fakta
Membaca syair jangan tergesa
Karena menyangkut masalah rasa
Setiap orang berbeda-beda

Penulis bukan seorang Doktor
Tidak pula berprofesi motivator
Hanyalah pensiunan pegawai kantor
Orang awam, bisa teledor

Ibarat cenderamata Oleh-oleh
Kalau berkunjung ke Muaro Paneh
Ada tugu bentuknya aneh
Bukti sejarah perlu ditoleh

Orang membaca masa lalu
Dari tonggak disebut Tugu
Bentuknya mirip seperti peluru
Karena dibuat penguasa serdadu

Melihat tugu tegak berdiri
Di simpang jalan menuju Kinari
Pesan penting memberi inspirasi
Menulis syair, kaba PRRI

Setelah nagari kalah ditaklukkan
Di setiap tempat, kota kecamatan
Dibangun tugu sebagai peringatan
Menandai peristiwa tanggal kejadian

Jurnalis Labuah Basa

Narasumber bergelar Labuah Basa
Manusia langka nyawa tersisa
Di tubuh tersimpan peluru senjata
Difoto ronsen tampak tiga

Ketika luka telah sembuh
Peluru tertanam di dalam tubuh
Tiada sakit bila disentuh
Terlihat peluru masih utuh

Di Sikapuah daerah Palangki
Bukit Putuih berhutan sepi
Basis penting pejuang PRRI
Di situ Jurnalis hampir mati

Ketika Jurnalis seorang diri
Menjemput makanan untuk konsumsi
Tentara Pusat telah menanti
Dia ditembak berkali kali

Jurnalis terkejut tak bisa menghindar
Lalu berlari menyusup belukar
Sambil mengucap kalimat istigfar
Astagfirullah, Allohu akbar

Walau kepala sedikit pusing
Jurnalis berlari ke arah tebing
Ke tepi bukit agak miring
Kemudian melompat berguling-guling

Musuh melacak ke dalam hutan
Mengikuti tetes darah berceceran
Tapi takdir pertolongan Tuhan
Darah dibersihkan oleh hujan

Ketika dicari tentara pusat
Jurnalis sembunyi, tidak terlihat
Hutan rimba sangat lebat
Telah terbukti sangat bermanfaat

Tanda bukti orang beriman
Tidak menduakan kehendak Tuhan
Walaupun berat memikul beban
Anggaplah itu datang Cobaan

Sebelum ajal, berpantang mati
Jurnalis selamat sampai kini
Hidup di kampung sebagai petani
Menjadi sumber kisah PRRI

Basa bernama Engku Jurnalis
Mantan Kokam, anti Komunis
Dunsanak senagari Irlan Idris
Orang Kinari kawan penulis

Waktu negara dalam bahaya
Soekarno berbuat semena mena
Jurnalis berusia masih remaja
Dia berniat masuk tentara

Pergi mendaftar anggota DBI
Pasukan khusus bagian Infantri
Mampu menembak sambil berlari
Latihannya berat petang dan pagi

Sebagai wakil komandan Regu
Jurnalis ingat tanpa ragu
Nomor Register tercatat di buku
0181

Komandan regu bernama Edi Kapoyos
Orang Minahasa bersifat polos
Di Ladang Padi mendirikan Pos
Guna menghambat musuh menerobos

Penjagaan di Ladang belum siap
Menghadapi musuh bersenjata lengkap
Pertahanan jatuh dalam sekejap
Kapoyos terkepung lalu ditangkap

Waktu ditangkap di Ladang Padi
Kopoyos diikat sambil diinterogasi
Menjadi sumber banyak informasi
Tentang anggota pasukan DBI

Karena komandan telah hilang
Jurnalis mundur ke arah Talang
Untuk terus ikut berperang
Melawan Pusat ikhlas berjuang

Akhir 59 di Solok Kinari
Kapoyos disertakan dalam operasi
Jurnalis ditanyakan kemana pergi
Penduduk menjawab sesuka hati

Serangan Udara di Kinari

Kisah di ceritakan Angku Warneri
Serangan udara di Nagari Kinari
Ketika dia seorang diri
Duduk di Lapau menunggu pembeli

Masih langka tinta Dawat
Tanggal peristiwa tidak dicatat
Hanya Warneri selalu ingat
Karena dirinya telah selamat

Angku Murad Dubalang Sati
Ayah kandung saudara Warneri
Termasuk aktivis partai Masyumi
Pendukung setia perjuangan PRRI

Karena mendukung kelompok perjuangan
Tokoh Masyumi masuk catatan
Menjadi target perlu dihancurkan
Dengan Bom atau tembakan

Warneri berusia delapan tahun
Karena mengantuk baru bangun
Menjaga warung sambil melamun
Kampung ditembak tanpa ampun

Walau tidak asrama tentara
Bukan pula tanpa sengaja
Telah digambar di dalam peta
Menjadi target serangan udara

Ketika peluru mengenai drum minyak
Warneri terkejut, lalu berteriak
Memanggil Ibu serta Bapak
Begitulah sifat anak-anak

Bahan bakar minyak tanah
Harga sekaleng sepuluh Rupiah
Kena peluru menjadi tumpah
Lantai lapau semuanya basah

Sesudah minyak tumpah ke lantai
Warneri sigap tiada lalai
Dia melompat ke luar Kedai
Menatap langit, mata mengintai

Tampak di langit ada pesawat
Terbang rendah sangat cepat
Begitu jelas mudah terlihat
Angkatan Udara tentara Pusat

Sumber barang selundupan dari kota Solok

Pasar gelap tempat jual beli
Ada di nagari Sungai Lasi
Lima belas kilo dari Kinari
Melewati rimba hutan yang sepi

Nagari Sungai Lasi kalau disebut
800 meter di atas laut
Ketika pagi sering berkabut
Kalau malam tidur berselimut

Dari Kinari ke Sungai Lasi
Bukit Tandang dan Bukit Bai
Banyak bukit yang harus didaki
Lima jam berjalan kaki

Minyak tanah kebutuhan pokok
Pecah belah garpu dan sendok
Termasuk Citi merek rokok
Barang selundupan dari Solok

Inilah pekerjaan yang tidak ringan
Sambil menjunjung beratnya beban
Berjalan kaki pelan-pelan
Bukit dan Lurah harus ditaklukkan

Besar resiko orang Dagang
Nyawa di badan bisa melayang
Saat membawa beratnya barang
Bisa terjatuh masuk jurang

Asrama tentara Permesta di tanah orang Koto

Kebaikan hati orang Kinari
Rumah yang kosong boleh ditempati
Tempatnya berada kampung Ponti
Agak ke pinggir dari nagari

Walaupun jauh kampung halaman
Datang ke Ranah membantu perjuangan
Tentara Permesta lalu dikirimkan
Guna melatih anggota pasukan

Banyak tentara dari Sulawesi
Ada yang membawa anak isteri
Mereka dianggap keluarga sendiri
Termasuk Kapten Fam Polii

Letak asrama di tanah Koto
Dari kampung seperempat kilo
Lokasi sepi tiada toko
Hanya Lapau tempat berdomino

Kelak terjadi di lain waktu
Di tengah tangis tersedu-sedu
Rumah di Koto dijadikan abu
Saat Apri datang menyerbu

Karena OPR marah besar
Ada perempuan yang ditampar
Rumah Nurdin segera dibakar
Dalam sekejap api membesar

Inilah peristiwa sangat tragis
Agar tak lupa perlu ditulis
Lima rumah dibakar habis
Oleh oknum simpatisan Komunis

Dt. Tan Bandaro

Narasumber lainnya Dt. Tan Bandaro
Mantan prajurit bekas Heiho
Pangulu di Cupak dekat Salayo
Wajahnya jelas tampak di foto

Datuk Tan Bandaro bernama Agussamin
Tokoh masyarakat, seorang pemimpin
Biasa hidup penuh disiplin
Ceritanya benar, bisa dijamin

Bekas Heiho tentara Jepang
Setelah proklamasi ikut berjuang
Saat Bergolak ikut berperang
Sebagai prajurit batalyon Lembang

Batalyon Lembang, tentara PRRI
Anggotanya banyak lima Kompi
Menjaga kampung setiap nagari
Termasuk Parambahan serta Kinari

Buya Okok atau Kapten Nurdin Usman
Memilih markas di sekitar Parambahan
Di sana tersedia bahan makanan
Untuk logistik konsumsi pasukan

Nagari Parambahan di Kabupaten Solok
Jalannya kecil berbelok-belok
Pemandangan alam sangat elok
Di sana markas Buya Okok

Bergotong-royong membuat Hambatan, pohon-pohon ditebang

Di Parambahan terjadi pertempuran hebat
Antara Pejuang dengan tentara Pusat
Orang tua tua pasti ingat
Peristiwa berlangsung hari Jum’at

Pasukan Badai pimpinan Bachtiar
Anggotanya banyak Tentara Pelajar
Punya tanggung jawab sangat besar
Diberi tugas tiada menghindar

Hari Jum’at ada penyergapan
Di tepi jalan menuju Parambahan
Tentara Soekarno jadi ketakutan
Mereka mundur meninggalkan korban

Pertempuran di Parambahan berlangsung sengit
Menimbulkan korban tidak sedikit
Pasukan Badai di lereng bukit
Musuh berlindung di parit – parit


Jembatan di atas Batang Air Alim, di jalan menuju nagari Parambahan
Anak sungai ini bermuara ke Batang Lembang

Karena Allah telah mengatur
Di pihak pejuang seorang gugur
Namanya Burhanuddin alias Uda Bur
Jenazah disholatkan lalu dikubur

Kalau tiada lupa sholat
Orang yang tewas di hari Jum-at
Ketika berjuang membela rakyat
Semoga nabi memberi safaat

Ada berita yang penulis dengar
Entah salah, entah benar
Kabar burung banyak beredar
Batang Lembang jadi tercemar

Airnya busuk tak bisa dipakai
Banyak mayat hanyut di sungai
Kondisinya rusak, perut terburai
Akibat tembakan pasukan Badai

Saat tentara menyerbu Parambahan
Orang Muaro Paneh tidak memperhatikan
Jalan melingkar Apri lakukan
Mereka lewat melalui Panyakalan

Kalau melewati nagari Kinari
Jalan utama, tak lagi berfungsi
Parit menganga 300 senti
Kenderaan militer terpaksa berhenti

Karena korban banyak yang tewas
Markas Komando menjadi cemas
Ingin segera menuntut balas
Kompi Badai harus dilibas

Inilah petuah menurut Adat
Celaka bersilang, tuah sepakat
Penduduk bekerja dengan semangat
Membuat parit cepat-cepat

Dalam keadaan ngeri mencekam
Hari gelap sangat kelam
Bergotong royong diwaktu malam
Menggali parit berjam-jam

Walau kehidupan sedang susah
Karena sepakat menjaga Tuah
Masyarakat bekerja tanpa diupah
Membantu perjuangan tiada lelah

Bukti masyarakat ikut berjuang
Dengan ikhlas ikut menyumbang
Batang pohon telah ditebang
Tanpa diminta ganti uang

Karena mendapat hambatan besar
Manuver musuh tak lagi lancar
Di jalan utama banyak tersebar
Pohon rebah dan batu-batu besar

Pembakaran rumah di Parambahan pada hari Sabtu.


Hari Sabtu, musuh kembali
Tiada ditemukan penduduk laki-laki
Ope-er dan tentara marah sekali
Mereka berteriak memaki maki

Berkeliling kampung berteriak-teriak
Rakyat dilarang membantu pemberontak
Siapa melawan akan ditembak
Tidak peduli Niniak-Mamak

Rumah Gadang saling berjejeran
Di tepi jalan berhadap-hadapan
Di kaki bukit nagari Parambahan
Rancak dilihat dari kejauhan

Ketika rumah akan dibakar
Para penghuni disuruh keluar
Musuh membentak secara kasar
Yang membantah langsung ditampar

Ada nenek andung-andung
Menjatuhkan diri bergulung-bergulung
Lalu menangis meraung-raung
Melihat musibah terjadi di kampung

Perlu diketahui anak cucu
Nagari Parambahan menjadi abu
Tiada tersisa satu pintu
Pembakaran terjadi di hari Sabtu

Belum didata secara benar
300 bangunan perhitungan kasar
Rumah Surau serta Langgar
Habis musnah karena dibakar

Sudah ketetapan ilahi Robbi
Hanya mesjid tetap berdiri
Bisa selamat sampai kini
Menjaga iman anak nagari

Sesudah musuh kembali ke Solok
Orang berunding dalam kelompok
Tentang bantuan yang mungkin cocok
Untuk dibawa saat menengok

Ketika melawan perbuatan batil
Walaupun tidak menyandang bedil
Semua orang merasa terpanggil
Ikut pula Muchlis kecil

Muchlis Hamid dan kawan kawan
Pergi menjenguk ke nagari Parambahan
Sambil membawa sedikit bantuan
Nasi bungkus serta pakaian

Tampak hewan banyak yang mati
Ada Kerbau, Kambing dan Sapi
Hangus terpanggang nyala api
Karena dikebat tak bisa lari

Beginilah sifat anak-anak
Kalau berkawan ajak-mengajak
Perjalanan lanjut ke Batu Karak
Lokasi ijok Bapak-bapak

Karena Parambahan menjadi abu
Batu Karak tempat yang baru
Pengungsi datang satu persatu
Disertai Ulama dengan pangulu

Di jalan sepi sangat lengang
Tiada banyak terlihat orang
Tampak satu-dua para pedagang
Membawa kebutuhan bermacam barang

Di tepi jalan menuju nagari Parambahan.

Pemandangan umum yang jelas tampak
Sarana jalan telah dirusak
Konvoi musuh sering terjebak
Menjadi objek sasaran tembak

Di Batu Karak Muchlis bertanya
Tentang Engku Mudo Yahya
Guru mencakup sebagai Ulama
Biasa dipanggil sebagai Buya

Syukur alhamdullillah Buya selamat
Dalam kondisi sehat walafiat
Hanya sedikit tampak pucat
Kurang tidur, bekerja berat

Di tempat umum Buya berceramah
Mengenai kondisi, keadaan pemerintah
Presiden Soekarno dipihak yang salah
Berkonco erat, dengan Kaum Merah

Dinding rumah diberi Kode serta pesan indoktrinasi

Pasti diketahui orang Jakarta
Dinding rumah ditulis B III
Kalau mau tahu maksud artinya
Kasih tahu nggak yaaaaa !!

Akibat B III, kampung dibakar
Hak azasi telah dilanggar
Kini disebut perbuatan makar
Itulah dosa yang sangat besar

Untuk kecamatan Bukit Sundi
Tulisan B III lalu diganti
Dengan lambang tanda kali
Warnanya hitam, jelas sekali

Rumah diberi tanda silang
Bisa dilihat semua orang
Bukti penghuninya ikut berperang
Menyandang bedil atau senapang

Perintah Soekarno tak habis-habis
Membuat semboyan bermacam jenis
Dinding rumah dianggap strategis
Banyak indoktrinasi harus ditulis

Rumah yang bagus atau jelek
Berdinding papan atau gedhek
Milik kakek atau nenek
Harus ditulis Manipol Usdek

Cerita dialihkan ke nagari Cupak
Penuturan Agussalim yang disimak
Rumah dibakar juga banyak
Hanya terjadi tidak serentak

Di jorong Sungai Rotan 20
Di jorong Balai Pandan 5
Di Jorong Panjalai 7

Di dalam adat budaya kita
Rumah Gadang mengumpulkan keluarga
Hangus terbakar, tiada tersisa
Kalau dijumlah 32

Menurut falsafah tahu di nan Empat
Sebagai kebiasaan Adat yang Teradat
Rumah Gadang adalah Pusat
Tegak berdiri, harus terlihat

Engku Sawi ditembak, Orang Muaro Paneh merasa Kehilangan

Setiap Apri melakukan patroli
Sawi diincar dicari-cari
Ketika bertemu di daerah Kinari
Sawi ditembak, dibunuh mati

Nama lengkapnya Sawi Renyu
Sopan santunnya patut ditiru
Takutnya hanya kepada ibu
Sangat memuliakan para tamu

Punya anak bernama Emi
Gadis kecil lucu sekali
Sudah lancar kalau mengaji
Dilatih langsung oleh Umi

Orang kampung semua kenal
Setiap waktu Sawi beramal
Mencari uang secara halal
Dengan sedikit persiapan modal

Dahulu Pasar, kini Market
Sawi berjualan tak pakai target
Tiada pula istilah Omzet
Apalagi bisnis memakai internet

Tak semua orang bisa mampu
Membuat sandal dan sepatu
Mengolah sendiri bahan baku
Dari jangat kulit Lembu

Banyak kerabat saudara sendiri
Terkadang berutang, dibayar nanti
Menunggu panen, hasil Padi
Atau dibayar, sekarung Ubi

Pedoman hidup orang Muaro Panas
Dalam melaksanakan setiap aktivitas
Hablumminallah Wahamblumminannas
Sawi memahaminya secara luas

Tiba waktunya masa perang
Inilah petuah adat Minang
Tuah sakato, celaka bersilang
Sawi berperan di garis belakang

Mencari simpati dengan halus
Ketika berjuang dengan tulus
Memakai sarana orkes gambus
Iramanya terdengar sangat bagus

Begini lirik lagu si Sawi
Anti Indonesia billadi
Anti’ul wanul faqoma

Kalau ditafsirkan kira kira begini
Indonesia negara kami
Di sanalah aku tegak berdiri

Menurut pesan orang tua-tua
Malang terjadi dalam seketika
Waktu Sawi mengayuh sepeda
Terjadi sesuatu tidak dikira

Niat dihati menemui kerabat
Di Kinari yang cukup dekat
Ada patroli tentara Pusat
Sawi berhenti karena dicegat

Dia bernasib sangat malang
Disuruh berjongkok tangan kebelakang
Lalu ditodong pakai senapang
Bedil meletus, nyawa melayang

Ketika korban ditembak mati
Dalam jarak dekat sekali
Peluru menembus pembuluh nadi
Darah mengalir tak mau henti

Jenazah dibawa ke rumah panjang
Di Muaro Paneh di Pasar Usang
Mantari Udin segera datang
Melihat kepala telah berlubang

Kepala berlubang mengeluarkan darah
Terus mengalir tak bisa dicegah
Karena arteri banyak yang pecah
Disumbat kapas langsung basah

Kisah diceritakan kepada penulis
Oleh dunsanak bernama Muchlis
Melihat sendiri peristiwa sadis
Perbuatan oknum simpatisan Komunis

Bermacam suku ikut PRRI

Piagam PRRI anti Komunis
Bukan gerakan bersifat separatis
Diikuti suku berbagai jenis
Ada Minahasa, Ambon serta Bugis

Orang Ambon bernama Kapten Petrus
Di Sibakua bernasib bagus
Ada perempuan bersedia mengurus
Dijadikan suami dengan tulus

Kapten Polii orang Minahasa
Divisi Banteng bagian Personalia
Mundur ke Kinari dapat celaka
Polii ditangkap lalu ditanya

Ketika Apri melakukan operasi
Dari Solok menuju Kinari
Diwaktu subuh pagi sekali
Polii terkepung tak bisa lari

Dia ditangkap jadi tawanan
Dipaksa menjawab berbagai pertanyaan
Tentang jumlah besar pasukan
Polii bersumpah, pantang membocorkan

Sebagai komadan perwira sejati
Punya kehormatan harga diri
Meskipun diintrogasi berhari hari
Tetap bungkam berdiam diri

Jauh dari Minahasa tanah leluhur
Walau tidak sdang bertempur
Di tepi pantai Teluk Bayur
Polii ditembak sampai gugur

Wali Perang

Waktu terjadi perang saudara
Nagari Kinari pimpinannya dua
Angku Samsudin wali pertama
Inyiak Sarai wali yang kedua

Wali Perang bernama Samsudin
Dipilih masyarakat sebagai pemimpin
Melaksanakan amanah penuh disiplin
Karena berjuang dengan yakin

Ketika perang hujat-menghujat
Pekerjaan Samsudin sangat berat
Lokasi musuh sangat dekat
Menjadi musibah setiap saat

Memimpin masyarakat yang sedang susah
Terkadang muncul bermacam fitnah
Bisa berakibat dapat musibah
Nyawa di badan bisa berpisah

Dapur Umum

Hasil musyawarah dengan kesepakatan
Tiada seorang yang berkeberatan
Setiap rumah menyumbang makanan
Waktunya diatur secara giliran

Bukan pengemis peminta-minta
Tegak menunggu di depan tangga
Para perempuan tenaga sukarela
Mereka bertugas lillahi ta-ala

Ibarat bunga kembang sekuntum
Para perempuan di Dapur Umum
Ikhlas bekerja dengan senyum
Mengatur jatah pembagian ransum

Nasi bungkus pagi dan sore
Untuk pasukan anggota T.P.
Berisi lauk seiris tempe
Terkadang disertai sepotong kue

Walau menu selalu berganti
Tempe goreng sangat disenangi
Sumbernya mudah bisa dicari
Banyak dijual di pasar Kinari

OPR menggunakan bahasa Minang-Indonesia

Sebagai OPR yang taat perintah
Buyung Saram masuk ke rumah-rumah
Loteng dan kamar dia geledah
Tiada orang yang berani mencegah

Karena tak mahir bahasa Indonesia
Kedengaran lucu membuat tertawa
Saat OPR lakukan razia
mencari radio dengan senjata

Bukan menghibur anak-anak
Kalimatnya lucu seperti melawak
Buyung bertanya sambil membentak
Senjata dikokang siap tembak

Dia ingin terlihat pandai
Bahasa Indonesia yang dia pakai
Bunyinya aneh tidak sesuai
Ibarat Kuda disebut Keledai

Menurut pengakuan seorang saksi
Orang kampung penduduk asli
Kalau teringat merasa geli
Kalimat OPR di bawah ini

Siapa yang punya radia di sika
Kalau bersua saya sita
Saya tidak bergara-gara
Jangan main-main dengan saya

Keterangan:
Bersua = bertemu
Disiko (Minang) = disini
Bergara-gara (Minang) = main-main
Buyung: panggilan terhadap anak laki laki orang MK

Wali nagari tandingan

Ketika perang belum berdamai
Apri memilih mitra yang sesuai
Dari golongan anggota partai
Oknumnya bernama Inyiak Sarai

Bukan sembunyi pergi ijok
Inyiak berlindung di kota Solok
Kampung halaman tak lagi ditengok
Dengan dunsanak tetap elok

Waktu pertempuran mulai berkurang
Pasukan PRRI mundur ke belakang
Menuju nagari Batu Bajanjang
Barulah Inyiak kembali pulang

Rangkayo Rahmah El Yunusiah
Tokoh pendidikan disebut tarbiyah
Kepada Apri tak mau menyerah
Ijok ke Talaok ibarat Hijrah

Sumber

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.