Pelaku Sejarah Di Kampung Masjid

“Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”. Nama yang ditinggalkan oleh seseorang berbagai macam bentuknya. Ada yang meninggalkan karya nyata yang sangat bermanfaat bagi orang lain, ada yang meninggalkan sikap kepeloporan yang dapat dijadikan teladan.

Sikap kepahlawanan adalah sikap yang mempunyai keberanian yang luar biasa, berjuang tanpa pamrih untuk kepentingan bangsa dan negara.  Sikap kepahlawanan itulah yang diperlihatkan oleh para pejuang-syuhada bangsa. Mereka gugur menyiram darahnya di persada ibu pertiwi. Mereka tidak sempat melihat “wajah” negerinya merdeka, tetapi anak cucu mereka menikmati kemerdekaan yang mereka perjuangkan. Banyak juga pejuang dan pahlawan yang mengalami pasang surut kemerdekaan serta cakar-cakaran merebut kekuasaan.

Di antara pejuang pelaku sejarah yang melihat dan mengalami perjalanan dan perkembangan negeri ini adalah alm. Kapten H.R. Asmadi (Letkol Purn). Beliau adalah KomAndan Pertempuran yang berhasil memporak-porandakan kedudukan Pasukan Belanda di Kampung Masjid (70 km dari Rantau Prapat). 18  Tentara Belanda ditewaskan 18 orang lainnya ditawan, tetapi tawanan itu tidak dianiaya apalagi dibunuh, malah dikembalikan ke induk pasukannya di Labuhan Bilik. Selebihnya sempat melarikan diri. Senjata yang berhasil dirampas 12 pucuk senjata LE, Stengun, 1 pucuk brengun MK III, satu unit radio penghubung, berpeti-peti peluru dan granat berhasil diangkut oleh pasukan H.R. Asmadi. Sedangkan di pihak pejuang hanya seorang yang gugur bernama Marwan dan beberapa orang luka berat dan ringan.

Pelaku  Sejarah Itu Telah Tiada

Asmadi adalah tokoh pejuang Komandan Pertempuran dalam penyerangan terhadap kubu Belanda di Kampung Masjid. Selaku pimpinan pejuang berhasil menyelundupkan 40 orang garilyawan menjadi buruh anemer Perkebunan Padang Halaban. Mereka siang hari menjadi buruh perkebunan yang dikuasai Belanda, sedangkan malam menjadi gerilyawan menyerang pos-pos pengawal Belanda untuk merebut senjata dan peluru. Mereka dikoordinir oleh Asisten Kebun  Kasdi dan pimpinan gerilyawan itu Sersan  Hamzah Johan, mereka hanya bergerak pada malam hari saja. Persenjataan mereka disembunyikan di suatu tempat hanya anggota gerilyawan itu yang tahu.

Pada hari Jumat sekitar pukul 08.20 pagi tanggal 15 Februari 2008 pelaku sejarah H.R. Asmadi telah berpulang ke Rahmatullah tutup usia 82 tahun, Pemberangkatan jenazahnya ke Taman Makam Pahlawan dari di rumah duka Jalan D.I.Panjaitan 164 Medan sekitar pukul 5 sore. Dengan diantar oleh karabat handai taulan, jenazah dimakamkan di Taman Pahlawan Jalan Sisingamangaraja Medan, yang dilanjutkan dengan upacara militer.
H.R. Asmadi lahir tanggal 27 Juli 1926 di Tanjung Balai meninggalkan seorang isteri bernama Rasdiana Siagian (80) dan 7 orang anak masing-masing bernama :

1.    Ir. Asmady Gentaran Siregar
2.    Hj. Roswita  Hanny Siregar
3.    Hartati Siregar
4.    Flora Sari Siregar, Dra.Apt
5.    Godang Riadi Siregar,SH
6.    Alm. Muda Yuda Siregar
7.    Achira Berti Siregar

Peristiwa Itu Dilestarikan

Peristiwa-peristiwa heroik di Labuhan Batu di antaranya penyerbuan terhadap kubu Belanda di tepi Sungai Kualuh  tanggal 5 Juni 1949 telah dilestarikan dan direkam dalam beberapa buku. Di antaranya adalah buku “Gerilya di Asahan Labuhan Batu 1947-1949″ yang ditulis oleh pelaku sejarah Letkol Mansur (1977), dalam buku “Kadet Brastagi” oleh Ikatan Kadet Brastagi (1980), dalam buku “Api Berkobar di Kampung Mesjid” yang diterbitkan oleh Yayasan Pelestarian Fakta Perjuangan Kemerdekaan R.I.(1995) dan buku lainnya.

Bukan saja peristiwa sejarah ini direkam dalam buku tetapi tokoh-tokoh penjuang dan para pelaku peristiwa sejarah itu, foto-foto mereka ukuran besar selalu ditampilkan dalam pameran-pameran “Foto Perjuangan” yang ditampilkan  dalam pameran itu, antara lain Kapten H.R Asmadi, Letnan Kelowo, Letnan Murad Hasyim, Letnan Zainuddin Zein, Letnan Hamid Zein dan lain-lain. Pameran foto-foto perjuangan telah dilakukan pada hari-hari bersejarah sejak tahun 1990.

Dengan dilestarikan peristiwa sejarah Kampung Masjid baik dalam bentuk buku maupun bentuk gambar jelaslah, bahwa peristiwa itu tidak akan hanyut dibawa oleh arus perjalanan masa dan tidak akan tertimbun oleh lumpur perjalanan waktu.

Strategi Penyerangan

Sebagai ilustrasi perlu kami ungkapkan mengenai strategi penyerangan terhadap kedudukan Belanda dari tepi Sungai Kualuh itu. Serangan direncanakan, dilakukan dari belakang asrama Belanda dan harus didesak sedemikian rupa agar Belanda mengundurkan diri ke arah sungai kemudian serdadu Belanda itu mencebur ke dalam sungai.

Kompi H.R. Asmadi menyerang dari tengah dengan dibantu oleh Letnan S. Guntur Harun Sakti dan Cek Mah. Kompi Letnan Nurdin dipimpin oleh Abdullah  Musa Letnan Murad Hasyim, Letnan Hamid Zein, Letnan Bustami, dan Letnan Zainuddin  Zein, sedangkan Kompi Letnan Kelowo, dibantu oleh Letnan Maryono, Sersan Jamin Sudarman, dan Sersan Saut.

Pasukan ini juga dibantu oleh rakyat dan turut melakukan penyerangan, persenjataan  pasukan cukup memadai dan peluru lebih dari cukup, karena peluru-peluru dan persenjataan banyak direbut dalam pertempuran-pertempuran yang dilakukan terhadap tentara Belanda dan Barisan Pengawal yang mengawal Perkebunan Belanda.

Komandan Pertempuran H.R. Asmadi telah menetapkan hari “H” penyerbuan adalah tanggal 5 Juni 1949 (malam). Semua pasukan berkumpul di Kuala Bangka, setelah makan malam mereka berangkat dengan menggunakan 30 buah perahu sesuai dengan formasi masing-masing sebagai  mana telah ditetap oleh Kamandan Pertempuran.  Telah ditetapkan “titik” untuk berpencar adalah Kampung Sungai Pinang. Pasukan ini sampai di tempat tersebut setelah melakukan perjalanan selama 2 jam dengan perahu.

Menyerang  Waktu Belanda Lengah

Ketika seluruh pasukan telah sampai di Kampung Sungai Pinang yang merupakan “titik” pencar, jam menunjukkan pukul 22.30. Pasukan mulai bergerak mengharungi rawa. Tidak diperkirakan dari semula pada jam tersebut air sedang pasang. Akibat air pasang sampai di pinggang menyebabkan gerakan pasukan sangat lamban sekali. Ketika jam  menunjukkan pukul  01.00, Kapten H.R.Asmadi belum memberi aba-aba penyerangan, padahal kubu Belanda makin dekat.

Setelah pasukan berada dalam jarak 20 meter jelas dilihat dalam kesamaran, penjagaan telah ditarik dari box-box yang ada. Tentara Belanda itu ada yang sedang tidur, ada yang bercelana kolor, pergi mandi dan sebagainya. Waktu itulah Kapten Asmadi memberi aba-aba dengan tembakan pistol tiga kali tanda penyerangan dimulai. Waktu itu jam menunjukkan 05.30.

Segera disusul dengan tembakan penindasan yang cukup gencar. Timbul kegaduhan yang luar biasa dari pihak musuh. Mereka mencoba menempati box mereka dalam keadaan bercelana kolor, tembakan brengun Belanda seperti hujan layaknya tidak ada henti-hentinya. Kemudian para gerilyawan berhasil masuk ke dalam box-box musuh dan berkelahi seorang lawan seorang, popor mulai bicara menghantam kepala musuh demikian juga pisau dan parang ikut bicara. Di tengah kesibukan dan kekalutan penyerangan itu terdengar teriakan kami menyerah “jangan bunuh aku,”

Pertempuran baru berakhir pukul 09.30 musuh yang masih hidup menyerah semua, ada juga yang sempat melarikan diri, di antaranya seorang Belanda bernama Smurrenburg. Mereka melarikan diri dengan perahu menuju Panei. Karena kedudukan Belanda sudah hancur maka bendera Belanda diturunkan, dirobek birunya dan tinggal Merah Putih dinaikkan ke puncak tiang.

Penghargaan Kepada Pejuang

Dari uraian yang sederhana ini jelaslah betapa perjuangan yang telah dilakukan oleh pejuang Labuhan Batu. Untuk sekadar mengenang jasa mereka, maka kami menyarankan agar nama H.R. Asmadi ditabalkan pada salah satu jalan di kota Rantau Parapat. Penghargaan ini berarti penghargaan kepada seluruh  pejuang Labuhan Batu umumnya dan pejuang yang menghancurkan kubu Belanda di Kampung Masjid khususnya.

Oeh : Muhammad TWH 

Sumber : Waspada Online

Rahasia Nama-Nama Kampung Betawi

Boplo di kawasan Menteng/Cikini yang berasal dari nama NV De Bouwploeg, sebuah perusahaan real estate yang membangun kawasan Menteng tahun 192-1930-an diganti jadi Jl RP Panji Suroso. Nama Kampung Sawah Besar yang hampir seusia kota Jakarta diganti jadi Jl Samanhudi, Jakarta Pusat.

Hampir bersamaan dengan itu hilang pula Kampung Jaga Monyet di kawasan antara Harmoni dan Petojo. Kini jadi Jl Sukardjo Wiryopranoto. Banyak yang tidak kenal siapa tokoh yang dijadikan nama jalan yang menghubungkan Jakarta Barat dan Jakarta Pusat ini. Padahal Jaga Monyet sudah ada sejak zaman VOC.

Saat Batavia sering diserang gerilyawan Islam Banten dari arah Grogol dan Tangerang, maka Belanda membangun benteng. Karena lebih sering menghadapi monyet-monyet yang berkeliaran, katimbang musuh, maka tempat penjagaan itu dinamai Jaga Monyet. Sekaligus jadi nama kampung di sekitarnya.

Ada lagi nama tempat di Jakarta yang sudah berusia ratusan tahun, yakni Paal Meriam. Terletak di antara perapatan Matraman dan Jatinegara. Asal usul nama tempat ini tahun 1813. Pada waktu itu terjadi pertempuran sengit antara pasukan artileri meriam Inggris dengan pasukan Belanda/Prancis. Pasukan meriam Inggris disiapkan di daerah ini untuk melakukan penyerangan ke kota Batavia. Peristiwa tersebut sangat terkesan bagi masyarakat sehingga disebut Pal Meriam.

Versi lain menyebutkan, ketika ketika gubernur jenderal Daendels membuka jalan Anyer (Banten) – Panarukan (Jatim) sejauh 1000 km, daerah pal mariam ini merupakan rute jalan trans Jawa tersebut. Di lokasi pal meriam di pasang patok jalan yang terbuat dari meriam yang tidak terpakai. Masyarakat yang melihat meriam tersebut sebagai patok jalan menyebut daerah itu Pal Meriam. Sayang nama bersejarah ini diganti dengan Jl KH Ahmad Dachlan. Padahal nama ini sudah banyak diabadikan untuk nama jalan di Jakarta.

Di dekat Pal Meriam, terdapat kampung Solitude, yang juga penduduknya kebanyakan warga Betawi. Solitude berasal dari kata bahasa Inggris yang berarti ‘kesunyian’. Karena kala itu banyak anggota tentara Inggris yang mati ketika menggempur Batavia. Mayatnya bergeletakan di rawa-rawa. Hingga dinamakan Rawa Bangke. Entah kenapa nama yang punya sejarah kota Jakarta diganti jadi Rawa Bunga.

Kalau kita ke Jakarta Kota, di wilayah Kelurahan Roamalaka, Kecamatan Tambora, terletak Jalan Tiang Bendera. Nama ini berasal dari bendera yang sehari-hari terpancang di depan rumah Kapiten Cina pada pertengahan zabad ke-18. Mulai 1743, tiap tanggal 1 penanggalan Masehi, pada tiang bendera di rumah tersebut dikibarkan bendera. Maksudnya untuk mengingatkan masyarakat Tionghoa untuk membayar pajak kepala, sewa rumah dan berbagai pajak lainnya. Bagi orang Cina di Batavia, tanggal 1 setiap bulan disebut dag der vlaghijsching (hari pengibaran bendera).

Mungkin banyak yang ingin tahu asal nama Kampung Petamburan, yang merupakan tetangga dari pusat pertokoan dan pebelanjaan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pada masa lalu rumah penduduk masih jarang dan banyak tumbuh pohon jati disekitarnya. Suatu ketika di daerah ini meninggal seorang penabuh tambur. Ia kemudian dimakamkan di bawah pohon jati, sehingga jadilah nama kampung Jatipetamburan.

Pejambon terkenal karena terletak Departemen Luar Negeri. Di sebelahnya, yang merupakan bagian dari Deplu (kini disebut Gedung Pancasila), tempat sidang Volksraad (parlemen Belanda berlangsung) . Di tempat inilah Bung Karno berpidato pada 1 Juni 1945 dan dikenal dengan hari kelahiran Pancasila. Sehari setelah kemerdekaan — 18 Agustus 1945 — Soekarno dan Hatta dilantik sebagai presiden dan wakil presiden. Pada waktu bersamaan disahkan UUD 1945.

Kampung Pejambon baru ada sejak Daendels membuka daerah ini dengan sebutan Weltevreden. Kata ‘pejambon’ berasal dari kata ‘penjaga Ambon’. Penjagaan tersebut berada di sebuah jembatan yang melintasi kali Ciliwung dan penjaganya orang Ambon. Pejambon juga tempat tinggal Nyai Dasima ketika dia menjadi nyai (istri piaraan) tuan Willem, seorang pembesar Inggris. Dia kemudian menjadi istri Samiun, tukang sado dari Kwitang, dan dibunuh oleh Bang Puase, jagoan Kwitang, atas perintah Hayati, istri tua Samiun.

Kawasan Pluit di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara dikenal dengan perumahan mewahnya, yang hanya dapat dibeli oleh orang-orang yang benar-benar tajir. Banyak pedagang di Glodok yang omzetnya miliaran rupiah per hari memiliki perumahan di Pluit, di samping perumahan mewah lainnya. Menurut peta Topographish Bureau Batavia (1903), sebutan bagi kawasan ini adalah Fluit. Lengkapnya Fluit Muarabaru. Menurut kamus Belanda Indonesia (Wojowasito) , fluit berarti suling, bunyi suling dan roti panjang sempit.

Rupanya nama kawasan itu tidak ada hubungbannya dengan sulit, atau pluit, semacam pluit wasit sepakbola atau polisi. Ternyata nama kawasan tersebut berasal dari fluit, lengkapnya fluitschip yang berarti kapal (layar) panjang berlunas ramping.

Sekitar 1660 di pantai sebelah timur muara Kali Angke diletakkan sebuah fluitschip, bernama Het Whitte Paert, yang sudah tidak laik laut. Dijadikan kubu pertahanan untuk membantu Benteng Vijfhoek di pinggir Kali Grogol, sebelah timur Kali Angke, dalam rangka menanggulangi serangan-serangan sporadis pasukan Banten. Kubu tersebut kemudian dikenal dengan sebutan De Fluit, yang kemudian jadi Pluit hingga sekarang. (Sumber)

Dikoetip dari toelisannja Alwi Shihab di koran Repoeblika
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.