Enam Peluru Sang Baret Merah

|

Jumat siang itu aku menyempatkan waktuku untuk pergi ke Cijantung, sebuah kota sebelah Tenggara dari Jakarta Pusat. Tempat di mana aku bisa mewawancarai seorang tokoh sejarah sekaligus pelaku sejarah. Dia tinggal di perumahan Kopasus Cijantung, berpintu masukkan persis di depan Mall Cijantung. Kala itu waktu menunjukkan pukul 12 kurang 5 menit, saat aku sampai di sana sambil disambut baik oleh keluarganya, yang juga saudara dari pihak ayahku. Namun tak terlihat batang hidungnya, kutanya Uwa (panggilan untuk yang lebih tua dalam bahasa Sunda, RED) Asih, dia sudah pergi ke masjid untuk sholat Jumat. Karena waktu memang memanggilku untuk beribadah, lhasil, aku pergi meninggalkan tas dan plastik berisikan gudeg yang kubeli di warung jalan, sebagai tanda bertamuku di rumahnya, dan pergi sebentar untuk sholat Jumat.

Hari itu terasa panas, suhu saat itu mungkin 39 derajat celcius. Seusai sholat Jumat, kembali tak terlihat batang hidungnya keluar dari Musholla. Padahal aku ingin menyapanya dan berjalan bersama ke rumahnya, bercengkrama seperti adegan film mungkin. Apa boleh buat, sambil beralaskan sandal hitam yang kupinjam dari keluarganya, aku kembali ke rumahnya, mungkin dia sudah pulang terlebih dahulu.

“ Dreppp ,“ bunyi kakiku di depan pintu gerbang rumahnya yang berwarna hitam, saat itu juga aku disambut beliau dengan berbajukan koko hijau yang melihatku. Aku bersalaman dengannya, tapi dengan gaya hormat, tak sembrono di depan pahlawan itu. “Apa kabar Wa? ,“ Bilangku kepadanya. “ Wah dah gede Aa Ugi,yok masuk-masuk ,” jawabnya berkata dengan senyum khas perjuangan ’45. Beliaulah Uwa Om, panggilan keluarga besar kami untuknya. Aku dan beliau tergolong bersaudara, karena istri beliau adalah kakak dari ayahku. Yap, saudaraku adalah pahlawan, pelaku serta tokoh sejarah. Kulihat beliau, masih segar dengan muka berbahagia , tak kulihat raut wajahnya yang cemberut, seperti orang tua lainnya mungkin yang cemberut terkadang juga mengeluh dalam akhir hayat hidupnya. Tingginya sekitar 165 cm, lebih pendek dariku. Tapi badannya tegak, tak bongkok osteoroporosis atau bongkok seribu jenis lainnya. Masih tegak layaknya tentara yang sedang baris-berbaris. Rambutnya segar, wajahnya segar, badannya fit , terlintas sejenak dalam pikiranku “, Ini pasti buah dari perjuangannya sebagai Kopasus dulu! “. Beliau bernama Bapak Syafei Hamsyah. Bapak yang telah berumur 78 tahun itu adalah seorang pejuang veteran dari Kopasus angkatan 6, yang kala itu bernama RPKAD. Yang telah berjuang dalam kemerdekaan Indonesia, khususnya Orde Lama. Banyak cerita yang akan disampaikan oleh beliau, mengingat tujuanku di sini untuk mengobrol dengannya sekaligus wawancara dengan beliau. “ Ayo gi makan dulu ,” Cetus Uwa Asih, sang istri beliau, mengajakku dan beliau yang sedang berada di teras rumah untuk makan . Tak mungkin kutolak, bukan ? Apalagi mereka saudara saya, Hehe.

Setelah makan siang itu, kami bercengkrama di teras rumah. Bukan hanya aku saja yang berada di ruang teras, ada pula Mang Iyan, anak beliau, dan bapakku yang menemaniku menemui sang pahlawan. Disundutnya korek api pada sebatang rokok, Dji Sam Soe. Ditancapkannya pada sebuah gading gajah kecil, sebagai tempat untuk merokok, persis ala tentara yang digambarkan di novel-novel. Waktu kubilang aku mau mewawancarai beliau akan pengalamannya, dia tertawa geli mengingat masa lalu, mungkin. Mulai dia bercerita satu persatu pengalamannya, kami mendengarkan.

1.1 Habis merdeka? Siapa bilang sudah merdeka?

RPKAD

Perjalanan beliau sebagai Kopasus dimulai dari diterimanya Uwa Om pada pendidikan RPKAD. Kala itu RPKAD belum bernama Kopasus. Uwa Om sendiri berasal dari Kodam Kalimantan. Dari 256 tentara seluruh Kalimantan kala itu, hanya 6 yang diterima, termasuk beliau. “ Cuman 6 orang yang diterima, ketat itu! Haha, habis itu langsung ke Jakarta,” Ceritanya sambil menghisap rokok. Kopasus kala itu memang benar-benar pasukan yang baru. Ijon Jambi bersama A.H Nasution, termasuk orang yang mencetuskan berdirinya pasukan khusus itu, di mana kondisi Indonesia seperti ombak berombang-ambing, datang konflik dari sana sini. Ada lah pemberontakan, ada juga lah serangan Belanda.


Uwa Om Muda

Ijon Jambi

Uwa Om yang sampai di Jakarta, kemudian dikirim ke Jombang, waktu itu tempat latihannya bernama Batalion 2 Jombang. “ Sampai di sana, wah bingung ini! Kenapa baretnya merah-merah? ,” Cerita Uwa Om sambil mengekspresikan kebingungannya, tertawa geli beliau. Pendidikan RPKAD waktu itu juga masih dibina oleh Ijon Jambi. Seorang Belanda kelahiran Kanada, yang berperan dalam perjuangan Indonesia meraih kedaulatannya. “ Ijon Jambi yang ngebina, bahasanya otomatis Bahasa Belanda. Nah tapi kitanya gak ngerti tuh Bahasa Belanda,” bahasnya. Cuman 6 bulan pendidikan di Jombang, setelah itu? Pendidikan di medan perang, apa itu? Operasi DI/TII di Jawa Barat.

Sedikit flashback tentang gerakan Darul Islam, yang diberantas oleh operasi tersebut. Sekar Marijan Kartosuwiryo mendirikan Darul Islam (DI) dengan tujuan menentang penjajah Belanda di Indonesia. Akan tetapi, setelah makin kuat, Kartosuwiryo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pada tanggal 17 Agustus 1949 dan tentaranya dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII). Upaya penumpasan dengan operasi militer yang disebut Operasi Bharatayuda.

Misi pertama, sekaligus dalam masa pendidikan Uwa Om kala itu adalah pemberantasan DI/TII di Jawa Barat, di era 50 akhir, sekitar tahun 1958 akhir. Bersama batalyonnya, dibagi menjadi beberapa pleton, kemudian beberapa kelompok regu. Memang sudah standar tentara sepertinya dalam medan peperangan, dibagi menjadi beberapa regu.

Penumpasan NII kala itu dirasakan oleh beliau sebagai salah satu yang tersulit dari beberapa misinya. Pasalnya, pergerakkan NII licik dan susah dilacak. Siang menjadi petani, malam menjadi pemberontak. Dari Cirebon, berangkatlah Uwa Om bersama kelompok regunya, melintasi Gunung Cireme. “ NII ini pinter, Kartosuwiryo susah dilacak. Kata Intel ada di Cirebon, eh taunya ada di Garut ,” Ceritanya. Dalam berperang, NII tergolong sadis dan licik. Ketika ada seseorang yang dianggapnya memihak pada pemerintah dalam wilayah mereka, tak segan-segan satu keluarganya dibunuh oleh mereka. Siang Intel, malam tentara. Tak peduli anak kecil atau orang dewasa sekalipun.

“ Ketika mereka kami kejar, mereka pintar. Mereka bergerak dengan jalan mundur sambil menutupi jejak mereka. Makanya Kartosuwiryo pas itu susah ditangkep,” Ceritanya kembali.

Pengejaran melintasi Gunung Cireme, dimulai dari titik Cirebon. Guna melacak dan menangkap Kartosuwiryo. Perjuangannya? Tak seperti sekarang di mana “bantuan logistik” sudah mudah. “ Dulu mah gak kaya sekarang, dulu kita miskin! Jangankan untuk makanan, untuk amunisi yang penting saja cuma dikasih 6 peluru! 1 peluru, 1 nyawa! Hahaha ,” Tawanya geli sambil mengenang. Kala itu, jangankan bantuan logistik, peluru saja susah, di saat Indonesia sedang mengalami titik kemiskinannya, hingga akan terjadi inflasi besar-besaran pada tahun 1965.

Saat melintasi Gunung Cireme, di sanalah beliau merasakan spirit perang tentara , tapi di saat masa latihan. “ Widih, waktu di Gunung Cireme itu emang paling menderita, “ tuturnya dengan gaya bicaranya. Perjalanannya di Gunung Cireme memang salah satu dari tersusah baginya. Logistik kurang, serta jarang ditemukannya air di gunung itu. Gunung Cireme yang terletak di Cirebon, sekarang berada di Kabupaten Cirebon, likunya seperti buah Cireme, naik turun naik turun. Ditambah lagi memang mayoritas tumbuhan yang tumbuh di gunung itu adalah Pohon Pinus, tak seperti gunung-gunung yang berada di selatan Jawa Barat. “ Mau masak gimana? Air pun tak ada? ,” katanya. Selama satu minggu, bersama regunya beliau berjalan melintasi gunung tersebut. Dengan persediaan air yang minim, persis seperti para khafilah yang berjalan di gurun pasir tanpa ada air, namun versi beliau ini berjalan melintasi wilayah hutan tropis, miris.

“ Waktu mau sampe di Kuningan, baru tuh terdengar air. Teman ada yang bilang ‘, BUNYI AIR ITU BUNYI AIR!!’. Aku bilang ‘, DIAM-DIAM ssstt!!!! ‘. Wah ternyata memang bunyi air betulan! Langsung kita lari, NYEMPLUNG minum air sepuasnya. Hahahaha ,” Katanya sambil geli “, Minum airlah kita itu sampe Kenyang, perut kembung, haha. Kubilang ‘, awas ini kalau ada DI TII! Kita habisi mereka sudah ngerepotin kita!’ ,“ lanjutnya.

Dari gunung, melintasi darat, ada juga melintasi kereta api. “ Bosan juga ketika melintasi rel kereta api, seharian itu melulu. Apalagi ketika melewati jembatan kereta, begitu ada kereta lewat, kita semua bergelantungan. Wah haha ngeri juga tuh, “ Ceritanya sambil digerakan tangannya. Ketika melewati terowongan , badan satu regu dipempetkan di dinding terowongan, muka berubah menjadi hitam oleh asap cerobong kereta api yang masih menggunakan batu bara. “ Mukamu kok hitam? Lho mukaku juga? , “ Sahut menyahut satu regu yang diceritakan Uwa Om seperti pengalamannya waktu itu. Kadang aku juga berpikir, seru juga jadi tentara.

Perjuangannya di wilayah Jawa Barat itu berakhir, setelah Kartosuwiryo ditangkap oleh pasukan Siliwangi . “ Sakit kuning dia waktu itu. Jadi pas mereka dikepung, mereka yang menyerahkan diri. Mereka bilang dia sedang sakit kuning, di sebuah gubuk di Garut. Ditangkap lah dia, dan langsung kabari ke pusat. ,” flashback nya”, Kalau bukan sakit kuning susah tertangkap mungkin. Gerakannya diam-diam, lincah , dan susah terlacak. Tertangkapnya juga karena taktik pagar betis, dikepung.”. Kartosuwiryo ditangkap dalam keadaan lemas tak berdaya. Jadi kalau ada buku sejarah di kalangan sekolah yang bilang dia ditembak mati oleh tentara , berarti ada salah tulis buku itu.

1.2 Operasi Permesta, Operasi Perang Saudara

Cuti didapat Uwa Om kelar dari penugasan operasi DI TII. Sekitar 14 hari pulang ke markas batalyon. Bersantai sejenak, tanpa ada kesulitan air atau logistik. Walau waktu itu Indonesia masih miskin. Nasib tentara pun tidak sesubur sekarang, dari gaji sampai jatah makanan harian. “ Tentara sekarang gaji gede, kalau dulu cuman 415 perak, dulu kita makan dijatah lebih dikit,” Ceritanya. Tentara seperti Uwa Om,yang masih berpangkat prajurit, memang termasuk yang paling merasakan krisisnya Indonesia kala itu. Untuk makan pagi dijatah 150 gram, siang sekitar 250 gram, malam baru 400 gram. Kalau dihitung-hitung cuman 4 sendok. “ Sehat aja, tapi gak kenyang, haha. Perut itu masih kruyuk-kruyuk rasanya. , “kenangnya “, Gaji saja waktu itu, sekali dapet, langsung habis buat jajan bersama teman-teman. Makan sate ayam, yah cuman 415 perak. Gak seperti sekarang udah gede-gede gajinya.”. Ya, itulah perjuangan tentara jaman Indonesia berusaha meraih kedaulatannya.

Baru sekitar 6 hari beliau cuti, kembali beliau dipanggil tugas, kali ini operasinya di luar pulau Jawa. Yap, tahun 1959 awal, beliau dipanggil bertugas untuk menumpas gerakan Permesta di Manado, yang dipimpin oleh Alex Evert Kawilarang, mantan tentara lawan tentara.

Berangkat dari Tanjung Priok menggunakan kapal angkut, bukan pesawat. Pesawat milik Auri untuk mengangkut masih terbilang minim di jaman itu. Adapula pesawat Dakota, namun nasib berkata lain pada pesawat itu yang tertembak jatuh lantaran perang. Selama 7 hari 7 malam perjalanan mengarungi laut menuju Manado, dengan mampir terlebih dahulu di Surabaya.

Perdjuangan Semesta atau Perdjuangan Rakjat Semesta disingkat Permesta adalah sebuah gerakan militer di Indonesia. Gerakan ini dideklarasikan oleh pemimpin sipil dan militer Indonesia Timur pada 2 Maret 1957 yaitu oleh Letkol Ventje Sumual. Pusat pemberontakan ini berada di Makassar yang pada waktu itu merupakan ibu kota Sulawesi. Awalnya masyarakat Makassar mendukung gerakan ini. Perlahan-lahan, masyarakat Makassar mulai memusuhi pihak Permesta. Setahun kemudian, pada 1958 markas besar Permesta dipindahkan ke Manado, dipimpin oleh A.E Kawilarang. Disini timbul kontak senjata dengan pasukan pemerintah pusat sampai mencapai gencatan senjata. Masyarakat di daerah Manado waktu itu tidak puas dengan keadaan pembangunan mereka. Pada waktu itu masyarakat Manado juga mengetahui bahwa mereka juga berhak atas hak menentukan diri sendiri (self determination) yang sesuai dengan sejumlah persetujuan dekolonisasi. Di antaranya adalah Perjanjian Linggarjati, Perjanjian Renville dan Konferensi Meja Bundar yang berisi mengenai prosedur-prosedur dekolonisasi atas bekas wilayah Hindia Timur.

“ Di Manado inilah, kita benar-benar melintasi gunung, tinggal di gunung, makan di gunung, selama 8 bulanan. Permesta itu gerakan yang kejam, walau tak sekejam DI/TII. Tapi di Manado ini, benar-benar perang kontak senjata terus-menerus, “ Cerita Uwa Om.

Tinggal di gunung selama 8 bulan bukanlah hal yang gampang. Walau sekarang logistik lebih terjamin, tapi musuh juga lebih tersenjatai. Evert Kawilarang sendiri sebenarnya adalah bagian dari tentara Indonesia kala itu, bahkan termasuk dalam orang yang berjuang di tahun ’45. Dari September 1956 hingga Maret 1958 Kawilarang menjabat sebagai atase militer pada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, DC, Amerika Serikat, dengan pangkat brigadir jenderal. Ketika pemberontakan PRRI/Permesta meletus di tanah air, Kawilarang segera melepaskan jabatannya sebagai atase militer lalu minta pensiun. Ia kembali ke tanah air dan langsung ke Sulawesi Utara untuk menjabat sebagai Panglima Besar/Tertinggi Angkatan Perang Revolusi PRRI (1958) dan Kepala Staf Angkatan Perang APREV (Angkatan Perang Revolusi) PRRI, dengan pangkat mayor jenderal dari Februari 1959 hingga Februari 1960. Banyak yang bilang bahwa latar belakang Kawilarang bergabung dengan Permesta, salah satunya adalah ketidakpuasan mereka terhadap pembangunan di Indonesia tahun-tahun itu. Juga sebagai bentuk protes atas keberadaan komunis di Jawa.

Namun apa daya, latar belakang tersebut menimbulkan perang ‘saudara’ yang besar kala itu. Permesta tidak seperti pemberontak DI/TII, yang takut-takutan kalau siang. Siang hari justru terjadi kontak dengan pihak TNI.

Bermodalkan pakaian tentara ala kadarnya, Uwa Om bersama regunya tinggal di gunung. Dalam satu wilayah yang terbagi atas 1 pleton, setiap pleton dibagi atas 5 regu. Masing-masing regu berjumlahkan 10 orang sebagai anggotanya. Pleton RPKAD Uwa Om menerima wilayah Gunung Hulu sebagai penjagaannya dalam pembagian wilayah. Di Gunung Hulu itu, terdapat 5 regu yang menjaga, di mana setiap regu dipimpin oleh Komandan Regu, bermodalkan kompas dan radio macam P.C.R. 2, yang ukurannya sekarang seperti telpon umum di trotoar.

“ Di Manado itu perang bener-beneran paling terasa. Setiap hari ada kontak senjata. Pihak Permesta juga terlatih. Karena ya itu tadi, banyak tentara yang ikut andil dalam pihak Permesta ,” Katanya.

Untuk bergerak pun harus hati-hati, Permesta pintar dalam taktik perang, karena banyak bekas tentara yang bermain andil dalam gerakan tersebut. Ranjau misalnya, ranjau yang dipakai bukan ranjau bom, tapi ranjau bambu. Bambu yang diruncingkan, seruncingnya, kemudian dikuburkan dalam tanah, ditutupi oleh rumput. Banyak tentara yang terluka karenanya, kebanyakan dari Pasukan Kodam Diponegoro. “ Jadi sate itu kalau kena, hehe ,” ceritanya sambil geli. Dalam perangnya pun Permesta cenderung tidak mengenal etika. Beberapa pasukan RPKAD yang terjun ditembak terlebih dahulu sebelum menyentuh tanah, padahal hal tersebut menentang dari Etika Perang hasil dari Konvensi Jenewa. “ Yah namanya perang, daripada mereka mati, ya mereka tembak duluan saja, haha,” katanya.

Uwa Om dan regu pun juga pernah jahil dalam berperang. Pernah suatu ketika saat mendatangi suatu desa Permesta, para tentara Permesta yang sedang beristirahat kabur kelabakan. Di dekat botol-botol minum pasukan Permesta, ada penggorengan besar yang sedang dipenuhi dengan gula aren yang dimasak. “ Gula aren kan kalau kering beku tuh? Nah kita masukin aja ke botol tuh pasukan, biar tahu rasa mereka! Gak bisa minum! Haha ,” Ceritanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Tapi yang namanya nasib tentara saat perang, celana robek-robek, badan lecet, kaki sakit menimpa ransel sekaligus senapan laras panjang AK-47, itulah yang dirasakan beliau ketika berada di perang Manado. “ Ya itulah namanya tentara, “ cetusnya. 8 bulan hidup di hutan, kadang malah dikasihani oleh penduduk setempat untuk mampir ke rumah mereka. “ Gak bisa lah tapi, tugas tetep tugas, “ cetusnya.

Pertempuran puncak yang beliau alami adalah ketika penyerbuan Lapangan Mapanget. Lapangan Mapanget sangat dijaga ketat oleh pihak Permesta. Peluru berkaliber 12,7 siap mencoba menembus pasukan tentara gabungan Indonesia waktu itu. “ Gak bisa ditembus! Benar-benar dijaga ketat oleh mereka, pelurunya juga 12,7. Kalau kena kepala, bisa putus tuh ,” Ceritanya. Persenjataan mereka lengkap, berpeluru udara dan darat. Jika dilihat dari sejarahnya, senjata tersebut merupakan peninggalan KNIL dan donasi dari pihak sekutu. “ Baru ditembus ketika diakali oleh pilot AURI, Liawatimena namanya. Jadi dia terbang-terbang pake pesawat Mustang di atas lapangan yang dijaga ketat itu, kemudian pura-pura jatuhlah dia. Pas sudah gak ditembaki karena dikira jatuh, baru dia ngebom lapangan itu. ,” Tuturnya mengingat jasa sang pilot ‘, Baru kita masuk serbu tuh lapangan, kalau gak ada dia, wah susah itu masuk ke lapangan’ , lanjutnya. Lapangan Mapenget berhasil direbut tanggal 5 Mei 1959.

Walau begitu, Evert Kawilarang tidak mau menyerah sebelum RPKAD yang menangkapnya. Mungkin karena begitu kecewanya dia terhadap jalannya pemerintahan Indonesia. Begitulah yang diceritakan Uwa Om. “ Makanya Jendral Nasution datang waktu itu ke Manado. Ketika datang, maka menyerahlah si Kawilarang itu. Turun dia dari gunung sambil berkuda, bersalaman lah dia dengan Nasution. Begitu juga dengan pasukannya yang menyerah. Bahkan ada sebagian dari mereka yang mengenal satu sama lain dengan anggota RPKAD. Mungkin karena dulunya satu akademi. ,“ Kenangnya.

Pergerakan Permesta resmi berakhir pada tahun 1961.

1.3 Belum Selesai! Masih Ada Tri dan Dwi, dari Kora!

Misi bersejarah sang Uwa Om belum selesai, masih ada 2 misi yang ia jalani, Trikora dan Dwikora.

“ Kalau Trikora, kita RPKAD belum sempat benar-benar perang. Karena ketika sampai di Irian Barat, langsung dipanggil dari pusat untuk balik ke Jakarta,” Katanya. Memang sebenarnya peristiwa Trikora malah yang membuat Belanda ketar-ketir akan kekuatan Indonesia yang dibantu oleh Uni Soviet saat itu. Bagaimana tidak, Belanda masih mengandalkan pesawat perang dunia kedua, sementara Indonesia sudah menggunakan pesawat bermesinkan jet turbin. Walau banyak peristiwa besar yang terjadi seperti Perang Laut Uru. Di dalam sejarah tercatat peristiwa Trikora terjadi 19 Desember 1961 – 15 Agustus. Ada juga sabotase yang dilakukan pihak Intel Belanda waktu itu. Ketika sampai di Jakarta saat pemeriksaan kantong terjun, ternyata talinya putus semua, diputus tepatnya. “Untung saja satu batalyon juga tidak terjun waktu itu, kalau terjun bisa mati semua itu,” Tuturnya.

Sekedar informasi, pada tanggal 15 Agustus 1962, perundingan antara Indonesia dan Belanda dilaksanakan di Markas Besar PBB di New York atas jalan keluar konflik Trikora. Pada perundingan itu, Indonesia diwakili oleh Soebandrio, dan Belanda diwakili oleh Jan Herman van Roijen dan C.W.A. Schurmann. Isi dari Persetujuan New York adalah:
• Belanda akan menyerahkan pemerintahan Papua bagian barat kepada United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), yang didirikan oleh Sekretaris Jenderal PBB. UNTEA kemudian akan menyerahkan pemerintahan kepada Indonesia.
• Bendera PBB akan dikibarkan selama masa peralihan.
• Pengibaran bendera Indonesia dan Belanda akan diatur oleh perjanjian antara Sekretaris Jenderal PBB dan masing-masing pemerintah.
• UNTEA akan membantu polisi Papua dalam menangani keamanan. Tentara Belanda dan Indonesia berada di bawah Sekjen PBB dalam masa peralihan.
• Indonesia, dengan bantuan PBB, akan memberikan kesempatan bagi penduduk Papua bagian barat untuk mengambil keputusan secara bebas melalui
1. musyawarah dengan perwakilan penduduk Papua bagian barat
2. penetapan tanggal penentuan pendapat
3. perumusan pertanyaan dalam penentuan pendapat mengenai kehendak penduduk Papua untuk tetap bergabung dengan Indonesia; atau
memisahkan diri dari Indonesia
4. hak semua penduduk dewasa, laki-laki dan perempuan, untuk ikut serta dalam penentuan pendapat yang akan diadakan sesuai dengan standar internasional
• Penentuan pendapat akan diadakan sebelum akhir tahun 1969.
Sehingga dengan itu, berakhirlah konflik Trikora, Indonesia mulai meraih kedaulatannya dengan genggaman tangan penuh.

1.4 Konflik Kedua Buatan Sekutu, Adek dari Trikora, Dwikora~

Ada yang bilang peristiwa Dwikora dilakukan Soekarno karena Malaysia dianggap sudah tidak menghormati Indonesia melalui aksi demonstrasi anti Indonesia pada tanggal 17 September 1963 di Kuala Lumpur dengan cara menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang Negara Garuda Pancasila ke hadapan Tuanku Abdul Rahman Perdana Menteri Malaysia saat itu dan memaksanya untuk menginjak Garuda. Sejak saat itulah kemarahan Soekarno atas Malaysia mencapai puncaknya yang pada akhirnya memunculkan komando Dwikora.

Awal konflik Indonesia – Malaysia ini diawali oleh peristiwa klaim federasi Malaysia atas wilayah Brunei, Sabah, Serawak dan Singapura yang akan digabung menjadi persekutuan tanah Melayu (tahun 1961). Peristiwa ini membuat presiden Soekarno dan beberapa negara lain kecewa. Soekarno menganggap pembentukan Federasi Malaysia ini sebagai proyek Nekolim (Neo-Kolonialisme dan Imperialisme) baru di kawasan Asia Tenggara yang dipimpin Inggris serta tidak sesuai dengan perjanjian Manila (Manila Accord).

Pasca demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, pada tanggal 20 januari 1963 Indonesia melalui Mentri Luar Negeri Soebandrio menyatakan sikap bermusuhan terhadap Malaysia. sejak saat itulah kemudian muncul istilah “Ganyang Malaysia” dan “Dwikora” yang disebut oleh Soekarno sebagai upaya menjaga martabat Negara Republik Indonesia.

Sehingga seusai Operasi Mandala Trikora kemudian pada tahun 1963, RPKAD kembali mendapat perintah untuk melaksanakan misi Dwikora. Tugasnya mengganyang Pemerintahan Malaysia yang pada waktu itu dipimpin oleh Tengku Abdurahman. Yang meliputi daratan Malaka, Sarawak, Singapura dan Sabah (yang pada waktu itu masih tergabung dengan Malaysia). Operasi dilakukan pada tanggal 15 Maret 1964, seluruh anggota tim mendapat penjelasan dari Komandan Kopaska bahwa mereka secara administrasi telah dikeluarkan dari Kedinasan Angkatan Laut dengan tujuan bila mereka tertangkap dikemudian hari Angkatan Laut bisa mengelak dari keterlibatanya.

Uwa Om ditugaskan untuk menyusup ke daerah Kalimantan Timur, perbatasan antara Indonesia dan negara yang bakal jadi itu, Malaysia.

Ada fakta yang unik yang saya dapatkan dari pengalaman Uwa Om yang satu ini tentang peristiwa Dwikora. Dari seorang Uwa Om, bagian dari RPKAD yang terjun langsung ke medan pertempuran. Faktanya adalah? Tidak ada tentara Malaysia yang ikut berperang dalam peristiwa Dwikora. Lantas siapa yang berperang? Mereka adalah tentara bayaran Inggris, suku dari Tibet bernama Gurkha.

Inggris waktu itu juga tidak mau kehilangan negara bawahannya begitu saja. Namun di lain sisi takut akan kekuatan Indonesia yang kala itu militernya menjadi salah satu yang terkuat di dunia. Apalagi Malaysia yang kecil dan tak berdaya pada saat peristiwa itu terjadi. Inggris pun mengirimkan tentara bayarannya, yang dibayar mahal. Hal ini yang agak banyak terluput dari buku pelajaran sekolah.

Sedikit informasi mengenai Gurkha. Gurkha, juga dieja gorkha, adalah orang-orang dari Nepal yang mengambil namanya dari orang suci Hindu abad ke-18, Guru Gorakhnath. Pengikutnya, Bappa Rawal, lahir dengan nama Prince Kalbhoj, merupakan orang Gurkha pertama. Gurkha dikenal terutama karena keberanian dan kekuatannya dalam Brigade Gurkha dalam Angkatan Darat Britania Raya. Mereka juga terkenal karena pisau khas mereka yang disebut kukri. Mereka terkenal dengan kemampuannya bertarung dengan sebilah Kukrinya, kadang bisa dilempar kadang bisa ditebas spesial unutk musuhnya.

Tapi ada juga yang unik, apa itu? “ Mereka takut tentara Indonesia,” Kata Uwa Om “, Walau waktu itu kita memang berbekal pas-pasan. Tapi kita dapat bekal dari mereka. Mereka suka meninggalkan bekal mereka untuk kita, haha”, lanjutnya. Sebelum turun dari helikopter misalnya, mereka takut untuk langsung turun. Alhasil mereka menembaki dulu sekitar hutan di atas tempat mereka akan mendarat, lalu baru turun dari helikopter untuk mengkontrol keadaan. Untuk berperang? Tak pernah regu Uwa Om berperang kontak senjata secara harafiah. Mereka lah yang mencoba untuk kontak Senjata. “ Biar mereka habis peluru, gampang tuh caranya. Jadi pada pagi hari, kita pancing mereka dengan satu tembakan,’DOORR’. Mereka pasti balas itu tembakan, tapi balasnya mereka tembak ke mana saja dengan peluru lengkap mereka. Dari meriam lontar sampai senjata mesin. Pohon-pohon jatuh bertumbangan, tembak menembak mereka ke mana saja. Nah kita? Yah kita diam saja, orang mereka takut. Hahaha ,” Kenang Uwa Om, aku pun geli mendengar ceritanya.

Bahkan malah tentara bayaran dengan gaya khas topi miring itu pernah melambai-lambai teriak”, Oiii oii” menandakan mereka tak mau berperang dengan RPKAD.

“ Mereka suka ninggalin rokok kalengan ampe susu bekas tuh, disangkutin ke pohon-pohon besar. Jadi kalau ketemu, kita ambil, makan deh haha,” cerita Uwa Om sambil tertawa.

Memang sebuah cerita yang lucu menggelikan mendengarnya langsung dari sumber. Tapi sayangnya tak pernah dipublikasikan di ajaran buku sekolah. Entah mengapa, padahal itu pasti menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita, yang mempelajari sejarah, mendengar cerita tersebut. Betapa militer kita merupakan salah satu yang terkuat dan ditakuti kala itu, di jaman Presiden Soekarno masih memimpin.

Uwa Om kemudian dipulangkan dari misi Dwikora setelah konflik itu berakhir, terutama karena munculnya gerakan PKI yang membuat Indonesia semakin terombang-ambing oleh krisis karakter negara.

1.5 Sekarang pun Masih Bugar

Uwa Om termasuk sebagai orang yang sederhana dalam menjalani hidupnya. Senyum dan penuh gelak tawa mengalir dalam kehidupannya sehari-hari. Belum pernah sepertina kulihat beliau cemberut, atau sakit-sakitan . Seperti yang kukatakan di awal-awal cerita ini.

Sekarang beliau sudah pensiun, tinggal di Cijantung bersama 2 orang anaknya. Satu sudah berkeluarga memiliki 2 anak, satu lagi belum menikah. Pangkat terakhirnya adalah Sersan Kepala, berbekaskan veteran perang Kopasus Angkatan tahun 1959, atau angkatan 6. Berbagai penghargaan pernah diterima beliau sebagai pahlawan perang. Dari penghargaan oleh Menteri Pertahanan, sampai oleh A.H Nasution.

Beliau adalah seseorang yang hebat, patut dicontoh. Dari hidup beliau juga menceritakan, bahwa “masa mudamu adalah masa tuamu”. Bahwa ketika kita menyia-nyiakan masa muda, seperti gaya hidup yang buruk, atau bermalas-malasan, atau merusak diri kita dengan rokok, maka tak heran masa tua kita adalah cerminan masa muda kita. Dari hal itu juga menggambarkanku, bahwa aku sebagai anak muda jaman sekarang harus bersyukur. Perang sudah tidak ada seperti dulu, krisis makanan , atau inflasi tak kualami, atau sedikitnya belum kualami. Walau tantangan sebagai anak muda jaman sekarang berbeda ,seperti sedang gempar-gemparnya perang terhadap terorisme. Tapi pelajaran yang paling penting adalah , bahwa aku harus bermental baja dalam menjalani hidup ini. Tak boleh mudah menyerah dan harus terus berusaha. Seperti kata pepatah , “ bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” , Atau “Ganbatte” seperti kata orang Jepang.

Aku pamit pada beliau sekitar jam setengah 3 sore, cuaca mendung waktu itu. Tak lupa sebelumnya aku berfoto dengannya, sebagai bukti bahwa aku pernah bertemu dengan seorang pahlawan. Seorang pahlawan yang cinta akan tanah airnya, seorang pahlawan yang tak mudah menyerah, dan bermental baja.

Yah, dia benar-benar memberikanku semangat baru untuk menjalani kehidupan melihat dari sejarah masa lalu. Tak heran, Soekarno pernah bilang, “ Jangan sekali-sekali melupakan sejarah “, JAS MERAH! [MUGI]



Uwa Om Bersama Teman(Palign atas), Penghargaan dari Menteri Pertahanan dan A.H Nasution


Akhir Tragis Sang Penyelamat Republik

Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tanggal 30 September 1965 tidak terlepas dari melemahnya kekuatan Islamis dan semakin condongnya rezim Soekarno pada komunisme. Kesempatan besar itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Partai Komunis Indonesia untuk merebut tampuk kekuasaan dalam rangka mencengkeram Republik dengan paham atheisme dan komunisme.

Jauh sebelum memiliki kesempatan untuk memberontak secara nasional, PKI memiliki musuh yang tangguh, yakni kelompok yang membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia dan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PDRI dan PRRI) . Kami nukilkan secara utuh sejarahnya dari Majalah Suara Hidayatullah edisi November 2008.

***

PDRI terbentuk, ketimpangan antara daerah dan pusat malah mencolok. Pusat acuh tak acuh kepada daerah. Protes pun menjadi marak

Dalam untaian sejarah Indonesia, PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) dan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) tak bisa dipisah satu sama lain. Kedua peristiwa ini bagai mata rantai yang saling melengkapi.

PDRI dibentuk pada 19 Desember 1948 di Bukittingi, Sumatera Barat, oleh Syafruddin Prawiranegara. Sedang PRRI dicetuskan 10 tahun kemudian, tepatnya tanggal 15 Pebruari 1958, di Padang, Sumatera Barat, oleh Ahmad Husein. Syafruddin sendiri kemudian diangkat sebagai Perdana Menteri dalam pemerintahan yang baru ini.

Ihwal terbentuknya PDRI bermula ketika Belanda melancarkan agresi kedua dengan menduduki ibukota negara yang saat itu berkedudukan di Yogyakarta. Ketika itu, Belanda juga menawan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Beberapa jam sebelum ditawan, Soekarno sempat menyurati Syafruddin selaku Menteri Kemakmuran RI yang saat itu sedang menjalankan tugas di Bukittinggi, Sumatera Barat. Surat itu berisi mandat kepada Syafruddin agar segera membentuk PDRI. Tanpa ada hambatan, sehari setelah itu, pemerintahan darurat terbentuk.

Perjalanan PDRI selanjutnya jelas tak mulus. Syafruddin dan kawan-kawan terus diburu Belanda yang tak senang dengan berdirinya pemerintahan baru. Roda pemerintahan terpaksa digerakkan dengan cara bergerilya di hutan-hutan Sumatera Barat.

Upaya Syafruddin menyelamatkan bangsa dari ketiadaan pemerintahan boleh dikata berhasil. Melalui pemancar radio di Koto Tinggi, PDRI telah membukakan mata internasional untuk mengakui kedaulatan RI.

Agresi militer Belanda berhenti. Soekarno dan Hatta dibebaskan. PBB mengakui kedaulatan Indonesia.

Seiring keberhasilan ini, cerita tentang PDRI juga ditutup dengan happy anding yang mengharu-biru. Setelah dijemput oleh Muhammad Natsir ke Payakumbuh, Syafruddin berangkat ke Yogyakarta untuk mengembalikan mandat pemerintahan kepada Presiden Soekarno.

Di Lapangan Koto Kaciak, keberangkatan Syafruddin dilepas dengan tangis haru ribuan masyarakat dan para pejuang yang telah berbulan-bulan keluar masuk hutan demi menyelamatkan PDRI. Selama berada di hutan, mereka mengandalkan budi baik masyarakat yang kerap mengirimi mereka nasi bungkus untuk menunjang hidup.

Sejarawan Dr Mestika Zed menyatakan, negara dan pemerintahan Indonesia tidak akan ada tanpa PDRI. “PDRI adalah pemerintah darurat yang dipimpin Syafruddin Prawiranegara sebagai bentuk kesuksesan orang daerah menyelamatkan negara dari ancaman disintegrasi bangsa dan kembali menyerahkan tampuk kekuasaan setelah tugasnya selesai.” kata Mestika.

Pengembalian mandat PDRI oleh Syafruddin kepada Soekarno ternyata bukan awal bagi terwujudnya pemerintahan yang sesuai dengan cita-cita proklamasi. Sebaliknya, ketimpangan pembangunan antara pusat dan daerah kian menganga.

Ketika Presiden Soekarno menggulirkan proyek pembangunan Tugu Monas serta berhala-berhala lain di Jakarta, rakyat di daerah, baik di Jawa maupun di luar Jawa, justru kian dibelenggu oleh kemiskinan, kelaparan, dan didera penyakit tukak dan cacing tambang.
Akibat ketimpangan itu, gelombang ketidakpuasan di daerah mulai membesar. Di Bukittinggi, bekas ibukota PDRI, misalnya, untuk pertamakali terjadi unjuk rasa yang diikuti 10 ribu orang. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan “Demontrasi Nasi Bungkus”.

Istilah “Nasi Bungkus” menggambarkan simbol bahwa rakyatlah yang dulu mendukung tentara dengan logistik sehingga tetap bisa mempertahankan PDRI hingga bangsa ini bisa terselamatkan.

Berawal dari Dewan Banteng

Bersamaan dengan kian memuncaknya protes atas ketimpangan pembangunan wilayah pusat dan daerah, pada Desember 1956 berdirilah Dewan Banteng di Sumatera Tengah, Dewan Gajah di Sumatera Utara, dan Dewan Garuda di Sumatera Selatan.

Bermunculannya dewan-dewan itu merupakan wujud ketidakpuasan daerah kepada pemerintah pusat atas penciutan struktur militer dan kian diberi tempatnya PKI di pemerintahan. Saat itu Soekarno dinilai lebih condong ke “kiri“.

Menurut Kahin (1979), Resimen 6 Devisi IX Banteng sebelumnya merupakan pasukan terbaik di Sumatera. PRRI kala itu menunjuk Ahmad Husein sebagai panglima pasukan ini.
Namun, nasib Divisi Banteng menjadi kucar-kacir ketika pemerintah Soekarno melaksanakan penyerderhanaan struktur militer secara nasional.

Kemudian, perwira Akademi Militer Hukum di Jakarta, Jusuf Nur dan Djamhuri Djamin, pengusaha Ramawi Izhar, serta Badar Gafar dari pusat pendidikan infanteri, berencana menggelar reuni mantan Divisi Banteng, baik yang masih aktif maupun yang tidak.

Rencana reuni dimatangkan dalam dua kali pertemuan. Pertama, di Jakarta pada 21 September 1956. Kedua, di Padang, Sumatera Barat, pada 11 Oktober 1956.

Reuni akhirnya terlaksana di Padang tanggal 20 hingga 24 Nopember 1956. Reuni ini membahas masalah politik dan sosial ekonomi rakyat di Sumatera Tengah.

Reuni dihadiri sekitar 612 perwira aktif dan pensiunan. Reuni membuat sejumlah rekomendasi, yakni perbaikan masalah kepimpinan negara secara progresif dan radikal, perbaikan kabinet yang telah dimasuki unsur komunis, penyelesaian perpecahan di tubuh Angkatan Darat, pemberian otonomi seluas-luasnya kepada Sumatera Tengah, serta menghapuskan birokrasi sentralistik. Rekomendasi ini dinamakan tuntutan Dewan Banteng.

Selain itu dibentuk pula dewan yang bertugas menindaklanjuti dan memperjuangkan hasil reuni ini. Dewan tersebut bernama Dewan Banteng, terdiri dari unsur militer, pemerintah daerah, alim ulama, dan pemuka adat. Jumlahnya ada 17 orang, mengacu pada semangat proklamasi 17 Agustus 45.

Tetapi oleh PKI dan sebagian tokoh PNI, rumusan perjuangan Dewan Banteng itu dicap sebagai pemberontakan. Ahmad Husein, ketua Dewan Banteng, langsung membantah tuduhan ini. Ia berpidato di depan corong Radio Republik Indonesia Padang, mengutarakan bahwa perjuangan Dewan Banteng bukan untuk memberontak, justru untuk membela keutuhan Republik Indonesia dan menegakan konstitusi.

Dewan Banteng menilai Soekarno telah mengkhianati konstitusi dengan membubarkan konstituante. Soekarno juga dikecam karena kian memihak kepada komunis. Puncaknya adalah mundurnya Bung Hatta sebagai Wakil Presiden RI pada 1 Desember 1956. Ia tidak setuju dengan cara Soekarno mengatasi keadaan negara.

Sayangnya, peristiwa itu tak membuat Soekarno mengoreksi sikapnya. Malah, aksi pelemparan granat pada malam 30 Nopember 1957, di saat Soekarno menghadiri ulang tahun sekolah Cikini, tempat anaknya bersekolah, dijadikan alasan untuk menangkapi lawan-lawan politiknya dan mengeluarkan Dekrit Presdien 5 Juli 1959. Dekrit ini berisi permintaan agar konstituante hasil Pemilu 1955 dibubarkan.

Pasca peristiwa Cikini, Jakarta menjadi bara api yang setiap saat siap membakar para lawan politik Soekarno, terlebih bagi siapa saja yang sejak awal telah menentang keberadaan PKI. Surat kabar yang menjadi corong PKI seperti Harian Rakyat, Warta Bhakti, Bintang Timur dan Harian Pemuda menuding sejumlah tokoh politik dari partai Masyumi dikait-kaitkan dengan peristiwa Cikini. Mereka kemudian diteror dan diancam akan dihabisi.

Rumah Mohammad Rum sempat dikepung massa. Untunglah Rum dan keluarganya selamat. Demikian juga rumah Natsir. Para politisi dari partai Masyumi merasa tidak aman lagi tinggal di Jakarta. Satu demi satu mereka ‘hijrah’ ke daerah. Bahkan, Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo, politisi Partai Sosialis Indonesia (PSI), turut hijrah ke Padang.

Jadi, kedatangan Muhammad Natsir, Syafruddin Prawiranegara, dan Burhanuddin Harahap ke Padang sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan terbentuknya Dewan Banteng atau berbagai gerakan protes yang sedang marak di daerah.

“Pak Natsir dan sejumlah tokoh Masyumi murni mengungsi ke daerah untuk menyelamatkan diri dari aksi penculikan,” ungkap Dt Tankabasaran, pengawal Natsir pada waktu itu.

Namun, Soekarno tidak peduli. Para tokoh Masyumi tetap dianggap ikut memberontak.

Pemberontakan Setengah Hati

Tokoh Masyumi mampu meredam keinginan masyarakat untuk memisahkan diri dari NKRI. Namun, Soekarno tetap menilainya sebagai pemberontak.

Gagasan melawan Soekarno yang dituduh kian condong pada PKI semakin menguat ketika para tokoh militer dan politisi sipil mengadakan rapat rahasia di Sungai Dareh, Sumatera Barat. Rapat rahasia itu berlangsung dalam dua putaran.

Putaran pertama tanggal 8 Januari 1958, dihadiri tokoh-tokoh militer plus seorang politisi sipil Soemitro Djojohadikoesoemo. Rapat putaran pertama ini penuh semangat ‘kemarahan’ kepada pemerintah pusat. Bahkan, sempat terlontar beberapa kali ancaman akan memisahkan diri dari NKRI dan mendirikan negara Sumatera jika pemerintah pusat tak mau berbenah.

Untunglah, dalam rapat kedua tanggal 10 Januari 1958, tokoh sipil seperti Muhammad Natsir, Syafruddin Prawiranegara, dan Boerhanuddin Harahap, bisa meredam keinginan itu. Pertemuan tertutup yang disebut rapat rahasia Sungai Dareh itu cuma menyempurnakan susunan pengurus Dewan Perjuangan.

Sebulan setelah rapat rahasia berlangsung, tepatnya tanggal 10 Pebruari 1958, Ahmad Husein, selaku Ketua Dewan Perjuangan, menyampaikan ultimatum kepada pemerintahan Soekarno melalui Radio Republik Indonesia Padang. Ultimatum yang disebut Piagam Perjuangan ini berisi 8 poin tuntutan. Intinya, menuntut agar dalam waktu 5 x 24 jam sejak diumumkannya ultimatum ini, presiden segara membubarkan Kabinet Djuanda.

Tuntutan lainnya, pemerintah harus membentuk Zaken Kabinet Nasional yang jujur dan bersih dari unsur-unsur PKI. Kemudian, Soekarno harus memberi dukungan kepada Zaken Kabinet, dan Hatta bersama Hamengku Buwono harus diberi mandat untuk bertugas di Zaken Kabinet ini.

Jika ternyata Soekarno enggan memenuhi tuntutan ini dan tidak memberikan kesempatan kepada Zaken Kabinet untuk bekerja, maka Dewan Perjuangan menyatakan terbebas dari kewajiban taat kepada Soekarno sebagai kepala negara.

Tak ada satu kalimat pun dalam ultimatum yang menyatakan bakal memisahkan diri dari Republik Indonesia. Saat ditanya oleh Kapten Zaidin Bakry apa yang akan dilakukan Dewan Perjuangan ke depan, Husein sama sekali tak menjawab bakal mendirikan negera sendiri. Ia hanya menjawab, “Kita buat organisasi. Kita gertak Soekarno sampai kelak dia undang kita untuk membicarakan nasib bangsa ini.”

Namun, ultimatum yang hanya sekadar ”gertakan sambal” itu tidak membuahkan hasil. Esok harinya, 11 Februari 1958, di Jakarta, Djuanda mengumumkan menolak ultimatum Dewan Perjuangan. Bahkan, ia memerintahkan KSAD untuk memecat Letkol Ahmad Husein dan Kolonel Simbolon dari kemiliteran, membekukan Komando Daerah Militer Sumatera Tengah (KDMST), serta memutuskan hubungan darat dan udara dengan Sumatera Tengah.

Sikap yang ditunjukkan Djuanda ini jelas memberi jawaban bahwa ultimatum tak akan dipenuhi. Bahkan, Djuanda memberikan reaksi yang sangat keras.

Itu berarti, tak ada lagi jalan menuju negosiasi. Tindakan harus segera dilakukan. Maka, pada tanggal 15 Pebruari 1958, Husein segera membentuk ”kabinet tandingan” yang berkedudukan di Padang. Mereka juga mengumumkan tak mengakui lagi kabinet Djuanda.

Kabinet baru itu bernama Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Dalam kabinet itu, Mr Syafruddin Prawiranegara diamanahi sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri Keuangan. Maludin Simbolon menjabat Menteri Luar Negeri., Kolonel Dahlan Djambek menjabat Menteri Dalam Negeri. Mr Burhanuddin Harahap menjadi Menteri Pertahanan sekaligus Menteri Kehakiman. Dr Soemitro Djojohadikoesemo menjabat Menteri Perhubungan dan Pelayaran.

Adapun Menteri Agama dijabat Saleh Lintang. Menteri Penerangan dijabat Saleh Lahade. Menteri Sosial dijabat A. Gani Usman. Menteri Pertanian dijabat S. Sarumpaet. Menteri Pembangunan dijabat JF Warouw. Dan, Menteri PP&K dijabat Mohammad Syafei.

Tak lama kemudian terjadilah ”tragedi”. Tragedi ini berawal saat Presiden Soekarno pulang dari lawatan ke Eropa Timur dan Peking pada 16 Pebruari 1958. Djuanda langsung menghadap Soekarno dan melaporkan gerakan yang ia sebut ‘pemberontakan’ PRRI di Sumatera Tengah dan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) di Sulawesi. Hari itu juga keluar perintah Soekarno agar menangkap para tokoh PRRI dan Permesta.

Ancaman penangkapan “dijawab” oleh Ahmad Husein dengan mengelar Rapat Umum PRRI di Padang pada 20 Pebruari 1958. Di hadapan peserta rapat, Husein menyatakan tidak gentar dengan ancaman Soekarno. Sambil melemparkan tanda pangkatnya ke tanah, Husein berkata, “Apabila saudara-saudara tidak mendukung perjuangan PRRI, maka saat ini juga saudara-saudara boleh menangkap saya dan menyerahkan saya ke pemerintahan Soekarno.”

Beberapa tokoh lalu menenangkan Husein. Tanda pangkat yang tadi dilempar, diambil lagi dan dilekatkan kembali ke tempatnya.

Sejak saat itu dukungan terus mengalir kepada PRRI. Bahkan dilaporkan, sekitar 400 mahasiswa dan pelajar Minang yang sedang kuliah di Jawa memutuskan pulang untuk bergabung bersama Tentara Pelajar (TP), sebuah kekuatan penyeimbang terhadap OPR (Organisasi Pemuda Rakyat) dan OKR (Organisasi Keamanan Rakyat) bentukan PKI.

Dukungan mayoritas dari masyarakat Sumatera Tengah dan Sumatera Barat terhadap PRRI adalah wajar. Sebab, wilayah ini merupakan basis Masyumi. Tokoh-tokoh Masyumi sendiri banyak yang menjadi tokoh PRRI.

Lagi pula, di Sumatera Tengah, partai Masyumi meraih kemenangan mutlak (58 persen) pada Pemilu 1955, jauh meninggalkan PNI, apa lagi PKI.

Para tokoh PRRI di daerah Sumatera Tengah juga ‘menjawab’ ultimatum Soekarno dengan melancarkan operasi penangkapan terhadap ratusan tokoh ‘kiri’ dan anggota PKI. Mereka ditahan di tiga tempat: Muaro Labuh, Situjuh, dan Suliki.

Keesokan harinya, tanggal 21 Pebruari 1958, Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) mulai melancarkan operasi penumpasan PRRI dengan kekuatan penuh. Operasi ini diberi sandi “Operasi 17 Agustus”, dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani.

Pesawat AURI langsung menghujani Kota Padang dan Bukittinggi dengan bom. Bersamaan dengan itu, puluhan kapal perang membombardir Pantai Padang.

Anehnya, tak ada perlawan dari pihak ”pemberontak”. Tak ada serangan balasan meski mereka bertubi-tubi diserang APRI. Tak ada satu pun ”pemberontak” yang berusaha meletuskan senjatanya. Ada apa gerangan?

Rupanya sehari setelah ”rapat rahasia Sungai Dareh” ditutup, Natsir memberi perintah agar PRRI menerapkan ‘gerakan tanpa perang’ untuk melawan pemerintah Soekarno. Seruan ini betul-betul diikuti.

PRRI bukannya membalas serangan tapi justru mundur ke kampung-kampung, terus ke hutan-hutan. Rute gerakan mundur ini tak jauh berbeda dengan rute perjuangan PDRI dulu, yaitu belantara di sekitar Agam, Pasaman, Payakumbuh, dan Solok.

Inilah adegan ”pemberontakan setengah hati” PRRI.

Balas Dendam Si Palu Arit

Karena PRRI sangat memusuhi komunis, PKI ikut serta dalam operasi penumpasan garakan ini. Korban pun berjatuhan.

Sejatinya, bukan hanya faktor kesenjangan yang menyebabkan PRRI lahir. Namun, hadirnya komunis di Indonesia juga menjadi salah satu sebabnya. Ini bisa diketahui dari ultimatum PRRI yang dikeluarkan tanggal 10 Februari 1958. Isi ultimatum tersebut antara lain menuntut agar pemerintah pusat membersihkan kabinetnya dari unsur-unsur PKI.

Nuansa anti-PKI juga terlihat dari respon pribadi para tokoh PRRI terhadap gerakan komunisme. Simbolon, panglima Tentara dan Teritorium I (TT-I) Bukit Barisan, yang menjabat Menteri Luar Negeri PRRI, misalnya, sejak awal sudah menyadari bahaya komunis mengintai Sumatera Timur.
Perkebunan-perkebunan raksasa yang saat itu berada di bawah pengawasannya rawan untuk disusupi komunis. Sebab, para buruh merupakan ”ladang emas” bagi mereka untuk digarap.

Para buruh yang sudah terasuki paham komunis ini mendirikan organisasi bernama SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia). Organisasi ini bertugas melumpuhkan usaha perkebunan, transportasi, dan pelabuhan di Belawan, Sumatera Utara, sehingga pemasukan negara terhambat dan pemerintah mengalami kesulitan ekonomi. Rencana berikutnya, mereka akan menuntut kekuasaan.
Begitu pula Saleh Lahade yang menjabat Menteri Sosial di kabinet PRRI. Kewaspadaan perwira yang mendapat tugas mengurusi transmigrasi ini terhadap gerakan komunis sudah ia perlihatkan lewat sebuah tulisan pada 15 Oktober 1957.

Dalam tulisan itu ia tumpahkan semua konsep mengenai cara mengatasi problem yang menimpa Angkatan Darat. Cara itu, menurutnya, menumpas sumber masalah yang menyebabkan pertikaian dalam militer terjadi. Sumber masalah itu tak lain adalah komunis. Tulisan itu selanjutnya ia sampaikan ke Panitia 7 di Jakarta.

Sedangkan Syafruddin Prawinagera yang menjabat Perdana Menteri PRRI, Burhanuddin Harahap yang menjabat Menteri Pertahanan, serta Natsir, adalah tokoh-tokoh Masyumi yang memang amat keras menentang komunis.

Jadi, bisa dimaklumi jika mereka semua kemudian bergabung dengan PRRI ketika “hijrah” ke Padang.

Bahkan, PRRI pernah pula mendapat bantuan persenjataan dari CIA (Central Intelligence Agency) Amerika Serikat karena memusuhi komunis. RZ Leirissa dalam buknya PRRI Permesta, Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis menilai hubungan ini terbangun karena PRRI dan CIA sama-sama memiliki kepentingan. PRRI memerlukan senjata untuk menghadapai serangan pemerintah pusat, sedangan CIA perlu saluran untuk menggertak Soekarno. Ini bisa dipahami karena Barat sangat memusuhi komunis.
Akan tetapi, setelah AS melihat masih ada sekelompok orang yang anti-komunis di jajaran pemerintahan, dukungan terhadap PRRI dialihkan kepada kelompok ini.

Balas dendam

Dendam PKI kepada PRRI kian lama kian membuncah. Kesempatan untuk membalaskan dendam ini terbuka lebar ketika terjadi operasi penumpasan PRRI. Apalagi setelah Kolonel Pranoto diangkat menggantikan Kolonel Ahmad Yani sebagai Panglima Kodam III dan Komandan Operasi 17 Agustus.

Syafrudin Bahar, dalam Kaharoeddin Gubernur di Tengah Pergolakan, 1998, memaparkan bagaimana Pranoto mengerahkan sekitar 6.341 OKR (Organisasi Keamanan Rakyat) dan OPR (Organisasi Pemuda Rakyat) untuk menyerang PRRI. Jumlah ini hampir setara dengan sembilan batalyon tentara.
Kenyataannya, OKR menjelma menjadi Pemuda Rakyat yang dijadikan ujung tombak PKI melakukan berbagai teror, intimidasi, dan tindakan brutal. Banyak korban berjatuhan di Minang. Mereka semua pendukung PRRI.

Kebiadaban kian menjadi-jadi dengan ikutnya Mayor Latif sebagai Perwira Seksi I/Intelijen, Letnan Untung (kelak memimpim kudeta G30S/PKI) sebagai Komandan Kompi, dan anggota Biro Khusus Komite CC-PKI, Djajusman. Jadilah penumpasan PRRI sebagai ajang balas dendam menghabisi mereka yang dulu gencar menuntut pembubaran PKI.

Tiap daerah punya cerita hampir sama tentang kekejaman PKI. Pendukung PRRI yang tidak lari ke hutan sering ditemukan dalam karung tanpa kepala atau mata. Di Matur Mudik, tentara pelajar yang dijemput malam oleh OPR banyak yang tak pernah kembali lagi.

Di Mahek Suliki, anggota PRRI yang bersiap kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi ditembaki hingga tewas. Di desa Lariang, Bonjol Pasaman, Kolonel Dahlan Djambek yang bersiap turun gunung memenuhi panggilan pemerintahan Soekarno pada 13 September 1961 diberondong sampai tewas.

Dengan adanya kasus-kasus itu, Amnesti Umum berupa pengampunan dan jaminan keselamatan bagi anggota PRRI yang bersedia keluar hutan, seperti diumumkan Presiden Soerkarno melalui Kepres No 332 tanggal 22 Juni 1961, omong kosong.

Kebiadaban demi kebiadan yang dialami masyarakat Minang benar-benar menimbulkan trauma yang mendalam sampai hari ini. Masyarakat Minang kehilangan inisiatif dan daya kritis. Demikian parahnya rasa trauma itu sampai-sampai tradisi pemberian nama yang berbau Minang sempat dihapus. Banyak putra Minang yang lahir pasca penumpasan PRRI diberi tambahan nama Prayitno, Sutarjo, atau Hamiwanto.

Setelah PRRI jatuh, posisi PKI semakin menguat. Pada tahun 1965, tepatnya tanggal 30 September, partai komunis semakin berani bergerak. Enam pejabat tinggi militer dan seorang pengawal mereka bunuh. Peristiwa ini tersohor dengan sebutan Gerakan 30 September. Rupanya, inilah akhir dari cerita kekejaman ”Si Palu Arit”.

Sumber

KENANGAN MASA PRRI (1)

1. Awal Cerita

Aku memanggilnya mak etek. Mak etek Jun. Namanya Junaidi. Usianya sudah lebih tujuh puluh tahun. Tapi sosok tubuhnya masih gagah. Giginya masih utuh. Kecuali rambut ikalnya yang sudah hampir putih semuanya, beliau terlihat lebih muda dari usianya. Mak etek Jun adalah seorang pensiunan guru. Terakhir, sebelum pensiun, beliau menjadi kepala sekolah dasar di kampung kami.

Kalau lagi pulang kampung, aku suka sekali berkunjung ke rumah mak etek Jun. Selalu saja menarik berbincang-bincang dengan orang tua ini. Cerita apa saja. Masalah keadaan kampung, masalah pendidikan anak-anak, masalah politik ala kadarnya, masalah korupsi. Karena beliau memang seorang pengamat yang baik untuk hal-hal semua itu. Namun yang paling aku sukai adalah cerita tentang pengalaman masa muda beliau ketika ikut bergerilya di jaman PRRI.

Pada kunjunganku terakhir aku melihat sebuah foto hitam putih berukuran besar tergantung di dinding. Foto seorang laki-laki bagurambeh. Berjanggut dan bercambang lebat. Itu adalah foto beliau di waktu muda, karena sangat jelas terlihat wajahnya meski dibalut cambang dan janggut seperti itu.

‘Kok baru kelihatan foto yang satu ini, mak etek?’ aku berkomentar.

‘He..he..he.. Itu foto kenang-kenangan waktu baru balik dari rimba dulu. Si Pinto yang menemukan, lalu diperbesarnya dengan komputer, jadilah seperti itu. Dia pula yang membingkai dan meletakkan di situ,’ jawab mak etek Jun.

Pinto adalah cucu kesayangan mak etek yang sudah duduk di kelas tiga SMP.

Aku mendekat ke dinding tempat foto itu tergantung untuk mengamatinya lebih jelas. Ada catatan tanggal dan tahun di bawah foto itu.

‘Tahun 1961? Belum pernah ambo melihat mak etek seperti dalam foto itu. Bagaimana pula ceritanya sampai bergurambeh lebat begitu?’ tanyaku.

‘Di hutan itu di mana pula ada pisau cukur. Paling ada gunting kecil untuk memangkas misai. Karena bertahun-tahun dibiarkan, jadilah seperti itu,’ jawab mak etek tersenyum.

‘Gagah dan berwibawa terlihatnya,’ aku menambahkan.

‘Mungkin maksudmu mengerikan ha..ha..ha… ‘ mak etek terbahak-bahak.

Aku tersenyum.

‘Semua teman mak etek di luar seperti itu?’

‘Tentu tidak…. Ada yang memang berbakat. Badannya penuh bulu. Tapi banyak juga yang kelimis.’

‘Sampai seperti yang di foto itu…. Sudah berapa lama itu tidak dicukur?’

‘Sejak lari ke luar hanya dua atau tiga bulan pertama saja masih sempat mengurusnya. Sesudah itu tidak pernah lagi.’

‘Ulang pulalah cerita mak etek tentang lari ke luar itu. Masih ada yang belum ambo dengar. Bagaimana awalnya mak etek sampai ikut?’ tanyaku.

Mak etek Jun menarik nafas. Matanya sedikit menerawang. Mungkin sedang menjemput ingatan lama.

‘He..he..he.. Begini….,’ beliau mengawali.

Aku mempererat duduk, bersiap mendengar cerita yang biasanya akan cukup panjang.

‘Aku sudah mengajar di sekolah rakyat ketika perang pecah. Dulu, tamat dari SGB kami sudah diangkat jadi guru. Aku mengajar di Lambah. Berjalan kaki menyeberangi jalan kereta api dan jalan raya di Biaro. Pernah pada suatu siang, pulang sekolah, aku dihentikan tentara APRI di jalan raya itu. Mereka baru berani beroperasi di jalan raya, belum berani masuk ke jalan-jalan kampung. Mereka banyak sekali. Ada empat buah truk tentara dan tiga buah jip Rusia berhenti di tepi jalan. Mereka memeriksa dan membentak-bentak. Setiap penumpang bendi yang datang dari arah Bukit Tinggi disuruh turun. Barang belanjaan ibu-ibu diperiksa. Entah apa yang mereka cari. Ada beberapa orang laki-laki yang disuruh naik ke atas truk. Untungnya, kami guru-guru selalu membawa surat keterangan dari kepala sekolah yang menyatakan bahwa kami adalah guru. Waktu surat itu aku perlihatkan, tentara yang tadinya membentak-bentak sambil menyorongkan bedilnya ke arah dadaku, tidak lagi marah-marah dan aku dibiarkan meneruskan perjalanan pulang ke rumah.

Beberapa waktu kemudian, saat kami sedang liburan sekolah. Kami sedang mengirik padi di sawah di Bandar Panjang. Kecuali aku, yang bekerja siang itu semua orang tua-tua yang sudah berumur lebih lima puluh tahun. Kira-kira jam sebelas kami dengar derung mobil tentara di kejauhan. Mamakku, mak Endah menyuruh aku pergi bersembunyi. Tapi ada pula mamak yang lain, mak Malin menyuruh tinggal. ‘Kalau kau lari, bertemu di jalan, alamat kau akan dibedilnya. Lebih baik kau di sini saja,’ kata mak Malin.

Akupun lebih memilih untuk tidak pergi. Beberapa saat kemudian kami dengar beberapa kali bunyi tembakan. Mamak-mamak itu sama bergumam, mempertanyakan entah siapa pula yang sudah kena tembak. Tiba-tiba saja, telah muncul tiga orang tentara APRI, menuju ke arah kami sambil menodongkan senjata. ‘Angkat tangan,’ perintahnya. Aku memberi contoh bagaimana mengangkat tangan, karena ada di antara mamak-mamak itu yang tidak faham.

‘Kau…..! Kesini kau!’ perintahnya padaku. Akupun mendekat.

‘Kau pemberontak!’ hardiknya. Ujung bedilnya menempel di pelipisku. Aku berusaha tenang. Lalu aku jawab, bahwa aku seorang guru.

‘Bohong kau! Mana surat-surat!’ hardiknya pula.

‘Kami sedang bergotong royong. Saya tidak membawa surat-surat,’ jawabku.

‘Bohong!’ bentaknya lagi.

Kali ini aku ditamparnya, persis di mukaku. Bukan main sakitnya. Tapi yang lebih sakit adalah hatiku. Tentara itu mungkin seumur denganku. Dan aku ditampar perai saja. Mana mungkin aku membalas. Pondok kami diusainya. Mungkin dia curiga kalau-kalau ada senjata tersembunyi di sana. Mamak-mamak yang lain ditanyainya pula satu persatu. Mak Endah, mamakku yang memang terlihat tegap juga ditamparnya. Entah apa masalahnya aku tidak tahu.

Aku dan dua orang dari mamak-mamak itu dibawa mereka pergi. Agak kecut juga hatiku kalau-kalau aku akan dibedilnya pula. Rupanya kami dibawa ke Lasi. Di sana kami disuruh menggali lobang di sekitar sebuah rumah. Rumah itu mereka rampas untuk jadi markas. Ada puluhan orang yang bekerja paksa di sana, semua orang-orang yang mereka tangkap hari itu dari beberapa kampung.

Sorenya mak ditemani mak tuoku datang ke Lasi membawa surat keteranganku. Komandan mereka lebih ramah kepada orang-orang tua itu. Aku dipanggil anak buahnya untuk menghadap. Tentara itu minta maaf atas perlakuan anak buahnya kepada kami. Dan sore itu kami semua diizinkan pulang.

Tapi maaf tinggallah maaf. Hatiku sudah bulat. Selama bekerja membuat lobang itu otakku berpikir keras tentang pergi bergabung dengan tentara luar. Aku akan segera melakukannya. Aku akan membalas kekurangajaran tentara-tentara keparat ini. Yang telah menamparku. Memaksaku bekerja. Mereka adalah manusia-manusia tidak tahu sopan santun. Main bentak dan main tampar bahkan terhadap orang-orang tua yang pada hal adalah rakyat sipil. Dan entah berapa orang pula orang kampung yang mereka tembaki hari itu. Mereka memang tentara-tentara bengis dan semena-mena.

Dalam perjalanan pulang mak tuo bercerita bahwa di kampung kami saja siang hari itu empat orang anak muda lagi mati tertembak. Anak-anak muda yang berusaha menghindar waktu bersirobok dengan mereka. Anak-anak muda yang diteriaki supaya mengangkat tangan tapi tidak segera mengangkatnya. Mereka ditembak dari belakang. Ada yang kepalanya pecah. Yang dadanya rengkah. Yang perutnya terburai. Darahku tambah mendidih saja mendengar cerita itu. Meskipun sampai sejauh ini aku selamat berkat surat keterangan guru, bukan tidak mungkin, jika aku tetap bertahan di kampung besok atau lusa mereka akan menembakku pula.

Sesudah makan malam hari itu, secara tidak langsung aku beritahu mak bahwa aku akan ikut tentara luar. Beliau tidak setuju. Tapi aku jelaskan betapa besarnya resiko bagiku untuk tetap tinggal di kampung. ‘Apakah mak mau ambo mati serupa si Pudin pula?’ kataku. Si Pudin adalah kemenakan ayah yang ditembak tentara beberapa hari sebelumnya. Mak menangis malam itu. Beliau sangat faham tentang resiko dan kemungkinan itu.

Malam itu juga aku pergi menemui tuan Asmar. Beliau ini wali jorong. Tuan Asmar adalah penghubung dengan komandan tentara luar. Beberapa anak muda dari kampung kami yang sudah lebih dahulu pergi, memulai kontaknya melalui tuan Asmar. Kepada tuan Asmar aku sampaikan niatku itu. ‘Sebenarnya kalau kau siap, malam ini juga kau bisa ikut dengan mereka. Kau tunggulah disini. Biasanya mereka datang lewat tengah malam. Tapi kalau kau belum siap, biarlah aku sampaikan saja dulu niatmu itu kepada Tan Basa. Nah! Bagaimana pendapat kau?’ tanya tuan Asmar. Waktu itu sebenarnya aku siap saja. Tapi terpikir pula bahwa aku belum minta izin dengan bersungguh-sungguh kepada mak. Aku yakin beliau akan mengizinkan sesudah aku menjelaskan niatku tadi. Kusampaikan seperti itu dan tuan Asmar memahaminya.

Dua hari kemudian aku sudah benar-benar siap. Mak mengizinkan meski dengan tangis dan air mata. Jam sembilan malam aku berangkat dari rumah menuju rumah tuan Asmar. Dan malam itu aku ikut rombongan mak Tan Basa. Nama beliau Harun. Tentara berpangkat letnan. Sejak saat itu resmilah aku menjadi anak buah beliau.’

Aku mendengar cerita panjang mak etek Jun dengan mata tak berkedip.

‘Langsung diangkat jadi tentara? Maksud ambo, mak etek langsung diberi senjata?’

‘Tidaklah. Aku dilatih dulu. Bukan latihan baris berbaris, tapi latihan mempergunakan senjata. Sejak dari cara membersihkan sampai cara mempergunakannya.’

‘Berapa lama latihannya itu?’

‘Hanya beberapa pekan saja.’

Terdengar azan asar. Kami mengakhiri obrolan sampai di situ.

Sumber

Ditemukan Bunker Nuklir Rahasia Peninggalan Nazi

Terowongan peninggalan Nazi.

Sebuah labirin terowongan bawah tanah rahasia, yang diyakini telah digunakan oleh Nazi untuk mengembangkan bom nuklir telah ditemukan. Fasilitas, yang meliputi wilayah hingga 75 hektar, ditemukan di dekat kota St Georgen an der Gusen, Austria pekan lalu.

Penggalian situs tersebut dilakukan, setelah peneliti mendeteksi tingkat radiasi yang tinggi di daerah tersebut–di mana orang-orang yang pernah mendukung Nazi mengklaim bahwa terowongan ini digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir.

Pembuat film dokumenter Andreas Sulzer, yang memimpin penggalian itu mengatakan kepada Sunday Times bahwa, situs tersebut kemungkinan besar adalah fasilitas produksi senjata rahasia terbesar dari era Reich Ketiga.

Hal ini diyakini atas terhubungnya ke pabrik bawah tanah B8 Bergkristall, di mana Messerschmitt Me 262–jet tempur pertama kali dioperasionalkan–dibangun. Ada juga yang memberikan saran, jika terowongan ini terhubung ke kamp konsentrasi Mauthausen-Gusen.

Terowongan peninggalan Nazi.

Diperkirakan bunker ini dibangun oleh tenaga kerja paksa dari kamp kedua kompleks–di mana sebanyak 320.000 narapidana dipekerjakan dalam kondisi tanah yang keras.

Tapi situs Bergkristall yang dieksplorasi oleh Sekutu dan Rusia setelah perang, tampaknya Nazi telah melalui masa yang panjang untuk menyembunyikan terowongan yang baru ditemukan tersebut.

Pintu masuk yang kecil danhanya satuitu terungkap, setelah tim penggalian, yang meliputi sejarawan dan ilmuwan, dan informasi dalam dokumen intelijen Declassified dan kesaksian dari para saksi dikumpulkan.

Para ahli berusaha untuk mengetahui, apakah ada hubungan antara St Georgen dan situs di Jerman di mana para ilmuwan berkumpul selama Reich Ketiga, dalam upaya untuk menaklukkan Amerika dengan membangun senjata pamungkas.

Pada bulan Juni 2011, limbah atom dari program nuklir rahasia Hitler diyakini telah ditemukan di sebuah tambang tua dekat Hanover.

Lebih dari 126.000 barel bahan nuklir dikubur dan disimpan lebih dari 2.000 meter di bawah tanah di tambang garam tua.

Rumorlan mengatakan bahwa, mayat ilmuwan nuklir yang bekerja pada program Nazi juga ada, tubuh mereka dibakar secara rahasia oleh orang-orang Nazi dan disumpah untuk menjaga rahasia.

Penyerbuan Tabing

OLEH: DASRIELNOEHA

Air Tawar terletak kira-kira 7 kilometer dari Padang arah jalan ke Bukittinggi.
Disini terletak dua kampus perguruan tinggi yaitu Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang, dan Universitas Andalas (Unand).
Kedua kampus ini berdampingan ibarat saudara kembar.

IKIP mendidik mahasiswanya menjadi guru, sedangkan Unand mendidik mahasiswa menjadi sarjana beberapa ilmu terapan seperti Ilmu dan Teknologi Pertanian, Ilmu dan Teknologi Peternakan, Ilmu Pasti dan Ilmu Alam.

Sedangkan untuk sarjana Hukum terletak di Muaro, Kedokteran di Pondok dan Jati, serta Ekonomi juga di Jati.

Pada tahun 1957, saat akan meletus peristiwan PRRI, mahasiswa IKIP dan Unand sedang asyik-asyiknya kuliah.
Namun, semuanya berubah setelah adanya pengumuman di Sungai Dareh atas berdirinya PRRI.
Ahmad Husein menghimbau partisipasi generasi Sumatera Barat untuk ikut andil mempertahankan martabat daerah yang sedang diinjak-injak oleh pemerintah pusat.
Dalam pidatonya di lapangan sepak bola di depan Fakultas Peternakan, pada bulan January 1958, apa apel mahasiswa Unand, Husein berpidato berapi-rapi akan perlunya Sumbar bangkit untuk memajukan daerah termasuk Unand dan IKIP, yang dikatakan sedang dianak tirikan oleh Pusat dibanding dengan UI, Gajahmada di Jawa.
Makanya kita harus berani melawan pusat untuk menuntut hak kita, demikian Husein membakar semangat mahasiswa waktu itu.

Makanya setelah 15 February, dilakukan pendaftaran besar-besaran tentara pelajar yang diikuti oleh ratusan mahasiswa Unand dan IKIP serta ada juga pelajar STM dan SMA di beberapa kota di Sumbar, ramai diikuti oleh mereka.

Terbentuklah beberapa kompi pelajar, yang dilatih secara kilat bagaimana cara menggunakan senjata dan bertempur.

Sebenarnya waktu latihan yang pendek itu hanya lebih banyak pada kegiatan baris berbaris dan pidato untuk membangkitkan semangat bertempur, belumlah cukup untuk menguasai ilmu perang dan kemiliteran secara benar.

*
Anisah, gadis kelahiran Solok, ikut mendaftar jadi anggota palang merah.
Waktu itu Anisah masih kuliah di IKIP jurusan Bahasa Indonesia.

Kemaren ia pulang kampung.
Ayah Anisah, Mak Kari yang jadi guru sekolah rakyat di Solok juga ikut PRRI. Kari diajak oleh mamak rumahnya kopral Salim yang telah jadi tentara dan anak buah Pak Husien.
Waktu Anisah mengatakan dan minta ijin ajahnya mau ikut palang merah di Padang, ayahnya menyetujuinya.
Hanya ibunya yang keberatan. Maklumlah Anisah adalah putri satu-satunya. Adiknya masih duduk di SMA Solok dan itu laki-laki.

Tapi setelah Anisah mengatakan bahwa tugas palang merah adalah hanya di rumah sakit dan tidak ikut perang, ibunya akhirnya mengalah.

Anisah mempunyai pomle seorang mahasiswa fakultas Peternakan Unand bernama Rustam. Rustam anaknya ganteng. Rambut ikal lebat dan dagunya kekar dengan sedikit brewok. Maklumlah ia anak seoarng nelayan dari Naras dan juga pesilat tangguh.

Mereka saling mencintai satu sama lain.

Sebelum Anisah meminta ijin ayahnya untuk masuk palang merah, ia telah mendiskusikan hal itu dengan Rustam kekasihnya.

*
Pantai Padang sore itu kembali ramai oleh pasangan anak muda yang menikmati deburan ombak pantai.
Deburan ombak itu membawa alunan suara cinta yang merasuk kedalam sukma para pasangan remaja yang menikmatinya dengan duduk di loneng tembok pantai, di kerimbunan pepohonan yang tumbuh di pantai itu.
Mereka sedang berpomlean.

Para nelayan juga sibuk mempersiapkan perahu mereka untuk melaut.
Setiap sore sebuah perahu nelayan yang dimuati dengan bekal untuk perjalanan semalam dan sebuah lampu sitarongkeng dinaiki oleh tiga orang nelayan.
Setelah didorong ketengah air, lalu mereka mendayung sekitar satu jam ketengah untuk memancing ikan ambu-ambu dan ikan pinang-pinang yang pada musimnya banyak di laut.

Sore itu pulang kuliah di Pantau Padang di Muaro.
Sepasang muda mudi sedang asyik duduk makan rujak di kedai di pinggir pantai Padang yang terkenal itu.
Ada banyak kedai rujak dan limun yang dibangun oleh para isteri nelayan di pantai itu.

Rustam dan Anisah, seperti pasangan lainnya sedang memandang indah deburan ombak pantai Padang yang seakan nyanyian asmara yang mengalun indah.

Rustam mengajak Anisah turun ke air.
Sambil berjalan memainkan ombak di kaki dan bergandengan tangan dua muda mudi yang dimabuk asmara itu berjalan gontai.

”Sah, saya telah mendaftar menjadi tentara kemaren”, kata Rustam memecah kesunyian mereka.

Suara Rustam terdengar seperti getaran petir di telinga Anisah. Suara itu diselingi oleh gempuran ombak pantai yang berdebur dengan suara gemuruh.
Suara ombak pantai Padang memang spesifik. Sering dijadikan madah buat lagu asmara.

”Uda, sudah mendaftar kemaren”, Anisah mengulang dengan pertanyaan.

”Ya Sah, saya dan enam orang teman mendaftar di Dodik Simpang Haru. Minggu depan kami akan menjalani latihan di Padang Besi Indarung. Ada banyak juga mahasiswa Unand yang mendaftar. Juga banyak temanmu dari IKIP yang ikut”, kata Rustam.

Anisah hanya terdiam. Sambil mempererat genggamannya di tangan Rustam, ia berhenti melangkah.

Sekarang di pipinya yang bak pauh dilayang, mengalir dua butir air bening. Ia tahu apa artinya mendaftar jadi tentara pelajar. Minggu lalu sewaktu Letkol Husein berpidato di lapangan sepakbola didepan kampus IKIP, ia mendengar bahwa sekarang perjuangan suci mengadapi perang dengan tentara pusat seakan menjadi panggilan bagi para mahasiswa.
Perang, ya perang, berulang Husien mengatakan kata-kata itu dalam pidatonya.

Perang berarti menggunakan senjata untuk saling bunuh.
Akankah nantinya Rustam ikut terbunuh?
Itu yang ada dibenak Anisah sekarang.

”Anisah, kenapa kenapa Isah menagis”, tanya Rustam.

”Saya tidak mau kehilangan uda Rustam”, kata Anisah pelan.

”Saya tidak akan terbunuh sayang. Dan lagi soal mati hidup, kan ada di tangan Tuhan. Isah tidak usah ragu melepas uda”, kata Rustam membujuk.

”Da, perang ini tidak tahu kapan usainya. Yang jelas pasti tentara pusat akan segera kemari. Uda akan bertempur. Dan uda akan jadi korban..

Air mata Anisah semakin deras. Rustam mengambil ujung selendang Anisah. Ia mengusap pipi lembut kekasihnya. Basah selendang itu kini.

”Kalau begitu, Anisah minta ijin uda untuk daftar jadi palang merah. Kemaren Putri mengajak Anisah untuk mendaftar”, kata Anisah.

”Jangan sayang, kamu tinggal di kampus sajalah. Kasihan kuliahmu kan tinggal setahun lebih saja lagi.

”Uda, aku juga mau turut menyumbangkan tenagaku untuk daerah kita. Toh sudah pasti kuliah akan tutup selama pergolakan”, kata Anisah.

Mereka kembali ke pondok jualan.
Rujak yang tadi mereka pesan telah hampir habis.
Rustam memanggil Etek Ami penjual rujak. Dan ia membayar dua piring rujak yang mereka pesan.

”Kamu pasti tidak akan diijinkan oleh ayahmu. Sudah minta ijin belum”, tanya Rustam.

”Belum da, besok rencananya Isah mau pulang. Putri juga pulang. Sekalian siap-siap untuk latihan di Rumah Sakit tentara Simpang Haru.

”Ya, kalau memang ayahmu mengijinkan, baiklah mari kita sama-sama berjuang. Kalau umur kita sama panjang, dan jodoh kita direstui Tuhan, kita akan tetap ketemu”, kata Rustam sambil merangkul bahu Anisah.

”Yang jelas saya tidak mau kehilangan kamu dewiku”, kata Rustam.

Hari semakin petang. Sebentar lagi maghrib akan datang. Rembang petang matahari mau turun di ujung kaki langit di lepas laut sana memang indah.
Warna langit yang kuning kemasan bercampur kemerahan perlahan turun ke kaki langit.

Mereka beranjak pergi. Naik oplet kearah Air Tawar.
Dua sejoli itu duduk terdiam di atas oplet tua jeep Wilis yang rumah-rumahnya terbuat dari kayu.
Sebentar lagi mereka akan berpisah. Dipisahkan oleh pergolakan daerah yang mereka akan turut ambil bagian di dalamnya.

*
Hari baru jam sembilan di Air Tawar.
Hanya beberapa mahsiswa IKIP yang terlihat pergi kuliah pada pagi itu.
Unand telah dua minggu libur. Karena beberapa dosen ada yang ikut latihan di Padang Besi.
Yang tidak mendaftar jadi tentara memilih pulang kampung.

”Assalamualaikum”.

”Wa alaikum salam, eh uda Rustam”.

Rustam muncul pagi itu di tempat kos Anisah di Air Tawar.

Anisah sudah memakai pakaian putih-putih. Ia bersiap akan menuju Simpang Haru rumah sakit tentara tempat ia kini mulai bertugas jadi perawat yang disebut anggota palang merah.

”Sudah mau berangkat Sah”, tanya Rustam.
”Ya da, saya barusan mau menyetop oplet ke Simpang Haru”, kata Anisah.

Rustam datang dengan pakaian tentaranya. Sebuah senjata LE tersandang dibahunya.

”Uda kelihatan gagah dengan seragam ini”, kata Anisah.

”Isah juga makin cantik dengan pakaian palang merah”, balas Rustam.

”Sah, keadaan semakin genting. Tadi malam kami di berikan briefing oleh komandan di asrama Simpang Haru. Semua pasukan disiagakan. Kita sedang siaga satu menghadapi peperangan. Aku diperintahkan bersama kompi B Mawar bertugas di sekitar lapangan Tabing. Dan kompi A Melati bertugas di sepanjang pantai Ulak Karang.
Menurut berita intelijen, akan ada pendaratan pasukan APRI hari ini.
Sah, keadaan serius sekarang.
Kalau terjadi sesuatu pada kita, saya mohon kerelaan Isah”.

Rustam mengeluarkan sebuah bungkusan dari kantong celananya. Ia berikan kepada Anisah.
Anisah mulai basah matanya. Ia mengerti ari kata Rustam barusan. Akan ada perang sebentar lagi.

Ah, kenapa harus ada perang? Kenapa Husein tidak mau mengalah dengan pemerintah pusat? Kenapa pula harus berontak? Pertanyaan itu menggayut di benak Anisah. Seperti itu pula pertanyaan di sebahagian tentara PRRI muda yang di gabung dalam kompi pelajar itu.

”Sah, ini sebuah cincin yang saya beli di toko emas di Padang kemaren. Isah simpanlah cicncin itu. Cincin itu bertuliskan nama kita. Ia menjadi saksi cinta kita berdua”.

”Uda, kita harus segera bicara dengan ayah saya. Juga kita harus ketemu mak dan abak uda. Kita bicarakan ke pada mereka. Mari kita langsung bertunangan saja.
Ibu saya pernah menanyakannya kemaren sewaktu minta ijin menjadi palang merah”, kata Anisah.

”Sebenarnya memang baiknya begitu Sah. Tapi sekarang waktunya kelihatannya tidak mungkin lagi. Pakailah cincin itu. Anggaplah kita sudah berikatan”.

Anisah membuka kotak beledru biru itu. Sebuah cincin emas seberat 8 gram berkilauan. Di bagian dalam bertuliskan ”Anisah-Rustam”.
Rustam memasukkan cincin itu ke jari Anisah.
Cincin polos berbentuk ring itu pas benar di jari manis Anisah.

Tiba-tiba terdengar sayup-sayup dengungan pesawat terbang. Makin lama deru mesinnya makin keras.
Rustam melihat kelangit arah ke Gunung Padang. Dari sana di balik awan kelihatan iringan pesawat terbang.

”Isah, cepat sembunyi. Mereka telah datang. Aku harus segera gabung dengan pasukanku”.

”Jaga diri uda”.

”Assalamualaikum”.

Rustam terus berlari ke arah mudik. Larinya cepat menuju ke lapangan udara Tabing bergabung dengan pasukannya.

Ada lima pesawat terbang berputar-putar disepanjang pantai antara Ulak Krang dengan Tabing.
Kelihatan dengan jelas dari perut pesawat keluar pasukan payung terjun dari udara.
Paling banyak diterjunkan di sekitar lapangan udara Tabing.
Segera saja terjadi pertempuran di sana.

Rupanya itu adalah pasukan payung tiruan. Ternyata yang diterjunkan yang pertama itu adalah boneka kayu yang didandani mirip tentara yang berbaju loreng.
Pasukan PRRI yang kebanyakan anggotanya adalah mahasiswa dan pelajar itu tertipu. Mereka menembaki boneka kayu itu.
Peluru banyak yang mereka habiskan percuma.
Komandan kompi becarut bungkang.

”APRI kalera, dikicuhnya awak”.

Danki segera berlari sambil menunduk, dan bersusah payah mengumpulkan anak buahnya sekitar Tabing.
Segera ia kembali mengumpulkan pasukan untuk konsolidasi.

Lima pesawat yang pertama kedengaran menjauh. Tetapi segera diganti dengan kedatangan tiga pesawat pembom dan dua pesawat penerjunan pasukan.
Kembali pasukan payung terjun di seputar bandara.
Kali ini lapangan udara Tabing dihujani oleh bom dari pesawat.

Pasukan loreng yang terjun kali ini benar pasukan dari APRI.
Kembali terjadi tembakan seru. Pertempuran kembali pecah. Pasukan APRI yang terlatih perang dari kesatuan lintas udara Brawijaya dan Siliwangi berhadapan dengan pasukan PRRI yang terdiri dari mahasiswa dan pelajar yang masih hijau dengan suasana pertempuran.
Sungguh tidak seimbang keadaan perang siang itu. PRRI segera menjadi sasaran empuk pasukan APRI.

Hanya lima belas menit lapangan udara Tabing dikuasai oleh pasukan pemerintah pusat.

Para pasukan kompi B dan kompi A banyak yang menjadi korban. Yang luka dan masih hidup segera di tawan. Mereka dikumpulkan di hanggar lapangan udara.

*
Sejak mendengar bunyi pesawat pagi itu, dan setelah Rustam lari kearah Tabing, Anisah kembali masuk ke kamarnya.
Ia mengambil tas palang merah. Ia tidak jadi ke rumah sakit di Simpang Haru.

Anisah menyetop oplet menuju ke Tabing.
Setelah turun dari oplet, Anisah berlari kearah lapangan terbang.
Pertempuran terjadi di sana.

Banyak korban berjatuhan di pihak PRRI. Tentara yang masih muda-muda itu meringis dan meregang nyawa tersambar pecahan peluru mortir.
Mereka diserbu oleh pasukan APRI.

Anisah segera menolong para korban pertempuran itu. Baju putihnya kini sudah terpercik oleh darah para korban.

Di ujung landasan, dibawah pohon ketapang, seseorang menyeret badannya yang telah berlumuran darah.

”Tolong”, panggil orang itu.

Anisah segera berlari kearah orang itu.
Disampingnya empat mayat telah tercabik pecahan bom.

”Uda”, Anisah terpekik manakala melihat yang terluka berat itu adalah Rustam kekasihnya.

”Sah”, kata Rustam parau. Dari mulutnya keluar darah. Punggungnya robek kena pecahan bom.

Anisah segera membuka tas palang merahnya. Perbannya sudah habis terpakai untuk membalut luka para korban.
Sambil menangis ia membuka baju Rustam. Air matanya makin deras melihat dada bidang kekasihnya berlumuran darah.
Dua botol obat merah yang masih tersisa ia tuangkan ke luka Rustam. Rustam terluka parah. Ia kebatkan baju Rustam ke punggungnya yang ternganga. Darah terus mengalir.

Kaki kirinya juga patah dan terlihat tulang keringnya. Anisah membuka bajunya. Ia tidak peduli walau hanya tinggal kutang saja. Kulit putihnya belepotan darah Rustam. Kaki itu ia balut dengan robekan bajunya.

”Sah, jaga dirimu. Aku sudah tidak tahan lagi. Mataku mulai kabur Sah”, kata Rustam tertahan-tahan.
Rustam kehilangan banyak darah. Itu membuatnya lemah dan hampir pingsan.

”Uda luka parah, jangan banyak bicara dulu”, kata Anisah sambil menangis.
Anisah memeluk tubuh kekasihnya.
Jemarinya ia sisirkan ke rambut ikal Rustam.
Rustam tersenyum kepada kekasihnya.

Kabut mesiu masih tebal di seputar lapangan terbang. Tembakan masih terdengar sayup-sayup di pantai. Rupanya ada pertempuran juga di sana. Pasukan katak angkatan laut mendarat di pantai Tabing.
Mereka segera mengadakan pembersihan dan memburu para PRRI yang ada di pantai.

”Sah, aku cinta padamu. Selamat ting…gal..Sah”.

Sambil tersenyum di bibirnya akhirnya Rustam menutup matanya.
Rustam membawa cinta Anisah bersama nyawanya yang melayang ke angkasa di lapangan udara Tabing. Rustam terkorban oleh pertempuran pagi itu.

Anisah meraung sambil tetap memeluk jasad Rustam.

”Udaaaa”.

Tragedi itu telah terjadi.
Dua kekasih itu telah terpisahkan oleh maut. Maut itu sungguh cepat datangnya. Pagi jam sembilan tadi mereka masih saling tersenyum menyatakan cinta mereka. Mereka masih saling mencium cincin pemberian Rustam.
Kini salah satu telah tiada.

Perang memang kejam. Perang hanya menyisakan duka dan nestapa. Cinta dua anak manusia, Anisah dan Rustam terenggut siang itu.

Rustam telah pergi. Ia menjadi korban pertempuran di lapangan udara Tabing antara PRRI dengan APRI.

Anisah memandang tubuh Rustam yang telah kaku. Ia menggenggam tangan kekasihnya itu.
Air matanya makin deras.

”Udaaa”, suara Anisah parau. Separau cintanya yang kandas.

Ia memandang muka Rustam. Sesungging senyuman terbayang di bibirnya. Wajah ganteng kekasihnya itu mulai kelihatan membeku. Anisah mengusap muka itu. Ia memegang brewok yang mulai tumbuh lebat di wajah itu.
Tangan Rustam ia lipatkan di dadanya.
Tangan Anisah berlumuran darah Rustam, di jari manisnya lekat sebuah cincin yang diberikan Rustam tadi pagi, terbungkus darah Rustam sendiri.
Rustam telah pergi selamanya membawa cinta mereka berdua.

Pesawat udara AURI telah menghilang.
Bekas pemboman meninggalkan lobang di landasan pacu. Asap mesiu bekas pertempuran masih tercium.

Anisah masih terpana dan berlinang air mata.
Ia masih memangku jasad Rustam.
Jasad yang masih tersenyum dan berkata-kata jam sembilan pagi tadi. Sekarang telah hilang nyawanya bersama cinta mereka yang telah dihancurkan oleh peperangan.

Sumber

Mawar Lereng Tandikek

Masa pergolakan PRRI banyak menggoreskan cerita.

Ada cerita sedih, tentang banyak pemuda kampung yang diseret oleh OPR dan disiksa di pos. Kemudian mereka meregang nyawa dan mayatnya dibuang di selokan.

Ada pemuda yang ketakutan waktu razia di kampung, mereka ditembak dari belakang, dan mayatnya tersungkur persis di jalan di depan rumah orang tuanya.

Ada juga wanita yang suaminya ikut lari ijok ke hutan, dijemput oleh tentara malam hari, diinapkan di kantor Kodim, kemudian setelah pulang menjadi lusuh dan kuyu. Banyak yang tahu bahwa para wanita ini, digilir oleh para tentara itu di pos. Dan ada juga yang tidak tahan malu, lalu terjun ngarai bunuh diri.

Ada juga yang tidak pulang-pulang ke rumah, kabar beritanya mereka di bawa ke Jawa oleh para tentara yang pulang, dan hidup disana tanpa kembali lagi kekampung.

Ada anak yang terpisah dengan ayahnya. Ada mamak yang kehilangan kemenakannya.

Ada ibu yang kehilangan anak gadis.

Penderitaan yang perih dirasakan masyarakat Sumatera barat selama peritiwa hampir tiga tahun pergolakan PRRI itu dari tahun 1958 sampai penyerahan tahun 1961.

*

Ini kisah lain yang tergores.

Ini kisah dua orang remaja yang bertemu karena di landa peristiwa peperangan antara PRRI dengan tentara pusat.

Bahar, adalah tadinya seorang mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang.

Karena terjadi peristiwa PRRI, bulan Maret tahun 1958, Bahar bergabung jadi tentara PPRI dan ikut latihan di Solok. Kuliah waktu itu terhenti sama sekali.

Banyak teman Bahar dari fakultas lain seperti Peternakan, FIPIA, Kedokteran, Hukum, dan Ekonomi yang ikut bergabung dengan PPRI.

Pada waktu Bahar dan pasukannya berkonsentrasi di Tandikek, mereka memunyai tukang masak seorang ibu yang suaminya datuak Panduko ikut jadi tentara PPRI.

Mak Sarinam menjadi tukang masak pasukan.

Neti, anak gadis mak Sarinam, yang tadinya adalah murid SMA Negeri Padangpanjang, karena sekolah ditutup akibat pergolakan, ikut ibunya di hutan kaki gunung di Tandikek, untuk bergabung dengan pasukan PRRI menjadi tukang masak.

Neti, adalah gadis cantik tinggi semampai. Kulitnya kuning dan hidungnya mancung. Rambut hitam sampai pinggang, tegerai indah bila selesai keramas di lubuk Batang Nanguih, dibalik kerimbunan pohon betung di tepi sungai.

Neti adalah kembang mawar di lereng Gunuang Tandikek.

Banyak anggota pasukan PRRI yang tertarik dan diam-diam menaruh hati pada Neti.

Tapi banyak yang hanya menyimpan perasaan saja, karena mereka juga segan dan takut pada Datuk Panduko ayah Neti yang menjadi komandan kompi di situ.

Datuak Panduko adalah tetua kampung lereng Tandikek itu. Nama kecilnya adalah Hamid.

Hamid adalah bekas tentara Siliwangi sewaktu mudanya. Ia ikut berjuang bersama temannya sewaktu jadi TKR di Pariaman. Temannya Adnan sesama mendaftar TKR di Pariaman dan menempuh pelatihan di Padang. Kemudian mereka ikut dikirim pendidikan di Batujajar dan di Cimahi. Akhirnya mereka bergabung dengan pasukan Siliwangi yang terkenal itu.

Adnan di BKO kan ke pasukan di Riau untuk menumpas sisa pasukan Belanda tahun lima puluhan. Sedangkan Hamid tetap di Jawa Barat.

Oleh karena luka dipertempuran di Ciamis dengan DI-TII, dimana pahanya kena pecahan granat yang parah, ia selama tiga bulan dirumah sakit menyembuhkan tulang pahanya yang retak. Akhirnya ia minta pensiun cepat dari Siliwangi dengan pangkat letnan dan pulang ke kampung di Tandikek.

Di kampung ia menjadi guru ngaji di Surau. Dan oleh sukunya Koto ia diangkat jadi penghulu dengan gelar Datuak Panduko di Rajo. Tapi ia paling terkenal dengan sebutan datuak Panduko.

Selain sebagai penghulu dia juga menjadi pengurus surau di desa itu.

Ia mengaji tafsir dan sifat dua puluh. Dan banyak muridnya.

Maka, ketika PRRI menyatakan perang dengan pemerintah pusat, ia tadinya tidak setuju dengan sikap ini. Datuak orangnya cinta damai.

Namun, pendiriannya berubah manakala adanya organisasi baru yaitu OPR yang terbentuk atau dibuat oleh tentara pusat untuk melawan PPRI.

Banyak anggota OPR diambil dari anggota Pemuda Rakyat dan Barisan Tani Indonesia (BTI), dan juga Serikat Buruh Kendaraan Bermotor atau preman loket oto, yaitu ormas dibawah PKI yang komunis.

Juga banyak preman, tukang copet, bekas maling yang direkrut dan dilatih menjadi OPR.

Makanya dengan adanya OPR, maka banyaklah orang kampung jang jadi korban, Harta yang ada dalam rumah yang ditinggalkan oleh penghuninya yang ijok ke hutan mereka rampas.

Banyak kepala desa diganti dengan orang yang berhaluan komunis.

Semua rumah yang salah satu anggotanya ijok ikut PRRI ditandai dengan sebuah papan kecil yang dipakukan didepan diinding rumah, dengan nama yang lari ke hutan.

Semua rumah ini menjadi incaran OPR.

Bila ada isteri atau anak gadis yang ditinggal suami atau bapak yang lari ke hutan, maka wanita ini akan di bon oleh tentara, dan dijemput oleh OPR malam hari.

Mereka biasanya diinapkan di kantor Kodim atau kantor Buterpra. Ada yang tiga hari, ada yang seminggu. Dan ada pula yang tidak pernah pulang sama sekali.

Cerita seperti ini banyak ditemui di daerah Agam seperti IV Koto, Baso, Ampek Angkek, Solok juga, dan Batusangkar.

Semua anggota preman itu memang diam-diam menaruh dendam pada Datuak Panduko. Karena gerak mereka dibatasi oleh aturan di pasar yang banyak dipakai atas masukan dari Datuak Panduko.

Judi dan main koa dilarang. Mancilok dan mengganggu anak gadis orang kalau ketahuan akan ditangkap oleh anak buah datuak Panduko. Dan kalau tertangkap pasti akan dimandikan di tebat semalam suntuk dan ditobatkan di surau.

Akibatnya preman menjadi benci pada Datuak Panduko.

Setelah terbentuknya OPR, maka Datuak Panduko menjadi target utama untuk dibunuh.

Datuak mengetahui ini. Makanya sebelum ia kedahuluan, ia mengajak isterinya lari ke hutan bergabung dengan PRRI. Ia langsung ditunjuk oleh Ahmad Husein menjadi komandan kompi Tandikek. Karena Husein tahu betul siapa Letnan Hamid di kompi B Siliwangi di Ciamis. Perwira ini tidak diragukan lagi semangat tempurnya.

Neti, akhirnya juga menjadi incaran OPR.

Setelah sekolah ditutup sementara, dari Padangpanjang Neti dengan dibantu teman sekelasnya tidak menuju kampungnya. Tapi ia berbelok melalui Maninjau. Di Maninjau Neti dijemput oleh anak buah Datuak untuk bergabung dengan ibunya di dapur umum pasukan.

*

Bahar, yang menjadi komandan regu dengan pangkat sersan, adalah diantara pemuda yang jatuh hati pada Neti.

Bahar orangnya juga alim. Tidak pernah tinggal sembahyangnya. Walaupun dalam keadaan perang, kalau masuk waktu shalat, pasti dia menyelinap untuk menunaikan ibadahnya.

Bahar adalah anak seorang ulama dari Kayutanam. Setelah lulus SMA di Pariaman ia melanjutkan ke Fakultas Pertanian Unand di Padang.

Peristiwa PRRI-lah yang buat sementara memutus kuliahnya.

Bahar orangnya rendah hati. Ia lebih suka menolong teman.

Kalau makan bersama pasukan, dia memeriksa anggota pasukannya dulu. Kalau sudah semuanya makan baru dia makan.

”Bahar, kamu sudah makan”, kata datuak Panduko senja itu.

”Saya masih kenyang pak datuak”, jawab Bahar.

”Makanlah, kalau jatah pasukanmu, habis, minta lagi sama makmu. Atau minta Neti masak lagi”, kata datuak Panduko.

”Masih ada jatah saya pak datuak”, kata Bahar.

Pada hal ketiding nasi sudah kosong karena dipecerabutkan oleh anggota pasukannya.

Walau mereka hanya makan dengan uok terung dan samba lado campur ikan asin, makan anggota pasukan PRRI itu selalu kelihatan lahap.

Maklumlah mereka masih muda-muda. Umur mereka baru sekitar dua puluh tiga tahun. Ada yang mahasiswa tingkat akhir seperti Bahar. Ada juga yang baru masuk kuliah, yang masih berumur sembilan belas tahun. Pada umur segini anak muda pasti makannya sedang banyak-banyaknya.

Nasi seketiding tidak sampai sepuluh menit habis tandas.

”Pak Datuak, saya permisi untuk periksa pos pengintaian di Batang Nanguih, assalamualaikum”.

”Wa alaikum salam”, datuak memandangi punggung Bahar yang menyandang ransel. Sebalik pinggangnya terlilit gantungan peluru brent. Di pinggang itu juga tergantung sebuah pistol yang masih baru. Ia menyandang Brent di bahunya yang bidang.

Pasukan datuak memang baru saja dapat droping amunisi dari Pekanbaru yang sampai dua minggu lalu. Amunisi ini diselundupkan lewat Perawang dari Singapur. Dari Perawang dibawa ke Bukittinggi dengan beberapa buah truk. Di Bukittinggi senjata ini dibagi oleh Letkol A. Husein keseluruh pasukan.

Entah negara mana yang membantu PPRI, datuak tidaklah perlu benar mengetahuinya. Yang penting kompinya cukup mempunyai amunisi buat bertempur tiga bulan ke depan.

Alangkah gagahnya anak ini dalam pakaian hijau tentara. Diam-diam datuak Panduko mengagumi anak buahnya yang satu ini.

Topi waja bertengger erat di kepala Bahar. Sersan Bahar yang seharusnya enam bulan lagi menjadi insinyur pertanian, sekarang bergerilya di tengah hutan. Ia ikut mempertahankan daerahnya Minangkabau dari ketidak adilan pemerintah pusat. Demikian ia mendengar pidato Letkol Ahmad Husein di Solok tempo hari.

Datuak Panduko suka kepada Bahar.

Orangnya pemberani, alim dan cerdas.

Pernah waktu penyergapan, pasukan Datuak Panduko ini terkepung oleh pasukan raiders dan OPR di pinggir jalan di kelok beringin ditepi batang Nanguih itu.

Rupanya keberadaan mereka dilaporkan oleh pengkhianat atau tukang tunjuk.

Perang berkecamuk. Tiga orang anggota pasukan diterjang peluru.

Bahar keluar dari persembunyian, sambil berlari dia menembaki raider dan OPR itu dengan brent-gun, dan ia juga melempar granat.

Akhirnya pasukan raiders itu mundur dan menaiki truk reo mereka. Mereka lari dan cigin kerarah Maninjau.

Lengan kiri Bahar tesambar peluru. Tapi lukanya ringan saja.

Malamnya luka itu dibalut oleh palang merah, dan dibantu oleh Neti.

Datuak Panduko berniat akan menjodohkan Bahar dengan Neti kelak bila perang sudah usai.

Waktu mata Bahar ketemu dengan mata Neti, disitulah panah asmara bertemunya.

Tangan Neti yang lembut ikut membalutkan perban ke lengan Bahar yang terluka.

Bahar membuang mukanya. Neti menunduk malu. Hati keduanya berdetak kencang.

Kopral Udin, si kepala palang merah hanya mendehem.

”Sudah Din, terima kasih kata Bahar. Saya harus segera ke pasukan.

”Tidak san, sesuai perintah Pak Datuak, sersan harus istirahat di sini barang seminggu menunggu luka bekas peluru ini kering. Baru boleh gabung pasukan lagi.

”Tidak Din, saya harus ada dalam pasukan saya. Kamu kan tahu sekarang OPR lagi gans-ganasnya patroli disini. Aku tidak mau pasukanku kedapatan.

”Uda sebaiknya istirahat dulu da”, Neti ikut mencoba menahan Bahar.

”Terima kasih Net, saya cukup kuat. Tidak apa-apa, ini kan cuma luka keserempet peluru saja. Tak apalah, terima kasih atas pertolongan Neti.

*

Kampung dibawah lereng itu namanya kampuang Nanguih. Hampir semua laki-laki di kampuang ini ikut ijok menjadi pasukan PRRI. Semuanya bergabung dengan kompi Tandikek dibawah komando datuak Panduko.

Hanya orang tua saja yang tinggal. Perempuan muda dan gadis juga ikut ijok. Mereka tahu kalau mereka tetap di kampuang pasti akan dipecundangi oleh tentara loreng, demikian mereka menyebut tentara pusat. Dan pasti juga mereka akan dijemput OPR.

Biarlah, kalau mati di hutan mereka rela. Mereka adalah penganut ajaran agama Islam yang taat. Mereka tahu, bahwa mati hanya sekali. Lebih baik mati berjuang dengan suami dan anak mereka, dari pada dipemalukan oleh tentara yang memperkosa dan menghinakan mereka.

Hati mereka memang pekat. Walau pendidikan mereka hanya sampai madrasah di Lubuak Basuang, namun kemulian hati menjadi modal utama pergaulan di kampung itu. Apa lagi adanya datuak Panduko, orang yang mereka hormati di kampung menjadi komandan pasukan.

Bahar ditugaskan datuak untuk selalu mengawasi kampung dari gangguan OPR.

Pertempuran kemaren terjadi karena pasukan Bahar bersirobok dengan pasukan raider yang bergerak dari Naras ke Lubuak Basung. Mereka berputar kekiri dengan melewati Tandikek.

Ketemulah mereka di desa Nanguih itu.

Pertempuran singkat itu cukup seru. Dua anak buah Bahar ikut menjadi korban.

Sebaliknya enam OPR berhasil ditewaskan. Termasuk Nipon seorang seorang preman makan masak matah. Nipon adalah tadinya agen loket di Bukitting Aue Tajungkang. Ia terkenal tukang peras di terminal. Kalau ada penunmpang oto dari Pekanbaru dan Medan yang banyak membawa barang pasti jadi perasan Nipon.

Setengah jam kemudian pasukan tentara pusat raider itu kembali ke Naras.

Datuak Panduko mempertimbangkan bahwa pasti akan ada serangan balasan dari tentara pusat. Atas pertimbangan itu maka konsentrasi kompi dipindahkan 2 kilometer ke mudik batang Nanguih.

Malam itu semua komandan regu dikumpulkan oleh datuak.

Perintah kewaspadaan ditingkatkan terutama oleh adanya tukang tunjuk.

Semua pendatang sekitar Kampung Mudik, tempat konsentrasi pasukan yang baru harus diketahui identitasnya. Kalau ada orang baru harus diketahui oleh kepala intelijen, Letnan Musa.

Team intelijen harus rajin turun ke jalan raya. Mereka menyamar jadi gembala kerbau dan penyabit rumput. Mereka mematai-mati gerakan raider dari Pariaman dan dari Bukittinggi.

Hubungan dengan induk pasukan di leter W tidak boleh putus.

Segera dikirim dua orang kurir ke leter W untuk memberitahukan pemindahan pasukan ini.

Selesai briefing singkat itu, datuak memanggil Bahar ke pondoknya.

”Bahar, saya mau bicara dengan kamu”, kata datuak.

”Siap, baik pak. Ada apa”, tanya Bahar.

”Sekarang pasukan kita mulai terjepit. Hubungan dengan induk pasukan di hutan sekitar Bukittinggi dan Solok mulai susah. Karena tentara pusat sudah membuat pos dimana-mana.

Saya dapat pesan dari Ahmad Husein, untuk mengambil sikap yang perlu untuk menyelamatkan pasukan. Aku disuruh untuk menghindari pertempuran. Kalau perlu kita menyingkir terus. Aku sendiri juga tidak atau kurang mengerti dengan perintah begini. Memang amunisi kita mulai menyusut. Tapi aku tidak mau menyerah, sebelum kita memberi pelajaran berharga ke semua OPR.

”Saya mengerti perasaan pak Datuak. Saya juga seperti itu. Biarlah kita bertempur dulu. Kalau kita kalah tidak apa. Asal yang hak di tanah Minang ini kita tegakkan.

Saya mau juga melibar OPR ini. Saya cukup malu mendengar ibuk-ibuk kita di bon dan di kerjai di pos-pos mereka. Sungguh biadab mereka. Saya baru senang kalau kepala mereka terbang dihantam peluru brent saya”, Bahar emosi menjawab apa yang dibahas datuak.

”Aku juga mendapat laporan dari intel kita bahwa ada sikap agak berubah dari komandan. Kelihatannya komandan agak berbeda pendapat dengan komandan nomor satu kita Pak Dahlan Djambek.

Pak Dahlan tidak mau menyerah. Sekarang beliau sudah menyingkir ke arah Lasi. Dan sekarang tempat ijok beliau disekitar Batang Masang bersama Pak Imam”, urai datuak lebih lanjut.

”Saya tidak mengerti pak datuak. Apakah maksudnya kita akan menyerah kalah ke tentara pusat”, tanya Bahar.

”Saya menangkap tanda itu Bahar. Sehingga ada pesan ke saya dari Pak Husein kalau saya boleh memutuskan untuk mengambil sikap demi menyelamatkan anak buah. Menyelamatkan dalam artian kamus tentara kan kamu tahu, bahwa itu tanda untuk menyerah. Mengibarkan bendera putih”, kata datuak agak pelan.

Bahar tahu, bahwa datuak sebenarnya tidak mau menyerah. Kalau menyerah berarti sekaligus mau menerima segala konsekwensi dari penyerahan. Termasuk ”penghinaan” dari OPR nantinya. Ini yang tidak mau di lakukan oleh datuak.

”Bahar, saya mau menitipkan pesan padamu”, kata datuak melanjutkan.

”Ada apa pak datuak”, tanya Bahar.

”Kalau dalam pertempuran berikutnya saya mendahului kamu, tolong selamatkan amak dan Neti. Bawalah mereka menyingkir. Kalau kamu harus menyerah ke tentara pusat, jagalah amak dan Neti jangan sampai dihina dan dipermalukan”, kata datuak.

”Tidak pak datuak, bapak harus bersama kita. Saya akan menjaga bapak dalam setiap pertempuran. Bapak tidak boleh mati. Kalau kita harus mati, mari kita hancur bersama pasukan kita”, kata Bahar dengan geram sambil mengokang brentnya.

”Tidak Bahar, kamu harus bisa tetap hidup. Kamu akan jadi saksi sejarah kelak. Biar orang tahu kalau saya perang karena membela kampung kita dari perlakuan jahat OPR dan penjajahan oleh tentara pusat. Saya bukan melawan pemerintah Republik. Tapi saya melawan tentara yang mau menghancurkan alam Minang yang saya cintai. Juga ada satu maksud saya yang lain”, kata datuak sambil menghirup dan menghabiskan sisa kopinya di galuak.

”Apa pesan pak datuak satu lagi itu”, tanya Bahar.

”Saya serahkan Neti kepadamu. Kelak kalau perang usai, mintalah kepada orang tuamu ijin, bahwa mak akan melamarmu untuk Neti”, demikian datuak mengungkapkan pesan utamanya.

Bahar terdiam. Ia tidak menyangka akan pengakuan komandannya ini.

Terus terang ia memang mencintai Neti. Dan ia juga tahu bahwa Neti juga menyenanginya.

”Pak datuak, bapak sudah saya anggap orang tua saya sendiri. Baiklah, saya pegang petuah bapak. Tapi ijinkan saya untuk menyelesaikan sekolah saya kalau Unand masih mau memberi kesempatan untuk saya kuliah lagi. Skripsi saya sudah hampir selesai. Mungkin sekitar enam bulan lagi saya sudah bisa ujian sarjana. Sesudah itu baru saya akan bicarakan soal perjodohan dengan abak saya di Kayutanam”, kata Bahar.

”Oh ya itu baik juga Bahar. Jangan lupa sampaikan salam saya sama Engku Malin ayahmu.

”Baik pak datuak”.

Bahar berpikir jernih. Mawar Tandikek yang ia idamkan telah diserahkan pemilik kebunnya untuk ia miliki. Mawar itu kini memang terancam dengan suasana peperangan yang tidak menentu ini.

Kemaren ia mengajarkan bagaimana cara menembak kalau terdesak kepada Neti. Neti diberikan sebuah senjata sten untuk menjaga diri dan emaknya.

Neti tidak boleh ikut perang. Ia digaris belakang di dapur. Aku akan menjagamu Neti, gumam Bahar dalam hatinya. Kalau kau ditakdirkan mati dalam pertempuran, engkau harus selamat mawarku, gumamnya lagi.

*

Terjadi lagi kontak senjata.

Sore setelah shalat ashar dilembah dibawah persembunyian dan pondok datuak Panduko.

Datuak dan dua orang komandan regu memeriksa perlengkapan pasukan di lembah yang tersembunyi.

Lembah itu adalah pos terdepan yang berhadapan langsung dengan jalan raya menuju Tanjung Mutiara sebelum Maninjau.

Tiba-tiba dari kelokan behamburan serobongan raider dan banyak OPR.

Kontak senjata tidak terelakkan.

Terjadi pertempuran hidup mati di lembah itu.

Lima belas orang pasukan PPRI di hadang lima puluh orang raider dan OPR. Tidak seimbang kedua pasukan ini bertempur. Korban banyak berjatuhan di pihak PRRI.

Datuak Panduko tersungkur keparit setelah dua peluru bersarang di dada dan lehernya.

Bahar melihat itu dan dengan membabi buta melemparkan granat dan tembakan brent-nya.

Pasukan raider dan OPR kembali menaiki truk mereka dan meluncur ke arah Maninjau.

Hanya tiga orang yang tersisa. Bahar dan dua orang anak buahnya. Dua belas orang termasuk pak datuak gugur untuk mempertahankan ranah bunda.

*

Di tanah kering di sudut kerimbunan pohon alaban.

Jenazah para suhada yang sepuluh orang adalah bekas mahasiswa dan pelajar itu akan di kuburkan. Jenazah datuak komandan mereka, dan jenazah Sersan Thamrin yang komandan regu kancil, didahulukan memasuki lobang kubur para suhada itu.

Suara burung pampeho mengiringi kepergian jenazah ke liang lahat yang hanya dibuat satu lubang. Burung itu adalah burung pertanda. Pampeho adalah jenis burung murai yang terbangnya malam. Bila pampeho terbang siang dan menceracau dekat pondok, itu tanda akan ada halangan datang. Biasanya mereka akan meningkatkan kewaspadaan.

Satu hari sebelumnya pampeho terbang tepat tengah hari diatas bubungan pondok datuak Panduko. Sejak saat itu datuak mahfum bahwa akan terjadi sesuatu.

Itulah dia peristiwa yang mengorbankan banyak anggota tentara kompi Tandikek dibawah pimpinan datuak Panduko, termasuk dia sendiri.

Malin Basa membacakan doa, dan menjadi imam shalat jenazah.

Mak Sarinam dan Neti tidak hentinya mennangis. Sarinam kehilangan suami yang ia cintai. Neti kehilangan bapak yang ia sayangi dan kagumi.

Sambil tetap menyandang sten di bahu Neti menyiramkan bunga sikajuik yang ia genggam ketanah timbunan terakhir pandam pekuburan para suhada itu.

”Selamat jalan yah, perjuangan ayah tidak sia-sia. Saya akan lanjutkan perjuangan ini. Do’a Neti dan emak menyertaimu. Sampai ketemu di syurga yah”, bisik Neti sambil menangis.

Hujan turun rintik-rintik. Tanah sekitar lobang mulai becek. Satu persatu jenazah kawan seperjuangan mereka turunkan dengan tali memasuki liang peristirahatan terakhir.

Bahar menyampaikan ucapan belasungkawa yang terakhir kepada teman-teman seperjuangan yang telah mendahului mereka.

Setelah upacara penguburan malam itu di halaman pondok, Bahar mendekati mak yang masih menangis tersedu sedan.

Neti memangku emaknya.

”Mak, besok kita harus menyingkir lagi. Tempat ini sudah diketahui musuh, Tidak aman kita disini. Pak datuak telah mendahului kita, Moga Allah menempatkan datuak di syurga, karena datuak berjuang menegakkan kebenaran.

Saya telah diberi petaruh oleh bapak untuk menjaga emak dan Neti.

Tiba-tiba datang seorang tani yang rupanya kurir dari Pariaman. Ia tergesa untuk menyampaikan sepucuk surat.

Bahar menerima surat itu. Rupanya surat dari komandan di Solok. Letkol Husein menyuruh pasukan untuk menyerah ke Kodim terdekat.

Alasannya untuk menyelamatkan pasukan.

Bahar terdiam.

Rupanya petuah datuak Panduko tempo hari menjadi kenyataan.

PRRI harus menyerah ke tentara pusat.

Perjuangan telah berakhir.

Korban berjatuhan untuk mempertahankan martabat ranah Bundokanduang.

Itulah fakta yang terjadi.

Bahar kembali membathin untuk kesekian kalinya.

*

Hari Senin, April, 1961.

Bahar membawa pasukannya ke Sungai Geringging untuk menyerah.

Kini mereka hanya tingggal dua puluh tujuh orang. Sebagian ada yang sudah turun duluan menyerahkan diri di kantor Buterpra di sekitar Naras.

Sebanyak sembilan belas orang anggota kompi Tandikek gugur di medan juang.

Neti si mawar Tandikek dan emaknya termasuk pasukan yang menyerah.

Setelah surat penyerahan ditanda tangani oleh Komandan Kodim, mereka dengan di kawal oleh raider sampai ke Pariaman.

Dari Pariaman dengan menumpang bus APD mereka bertiga pulang ke Tandikek. Neti dan emaknya hanya ke rumah pamannya Mak Lenggang. Mereka tidak bisa kembali ke rumah sendiri karena rumah datuak Panduko telah musnah dibakar habis oleh OPR. Ladang kopi dan sawah juga dihancurkan.

Untunglah masih hidup paman Neti. Mak Lenggang menangis menerima saudaranya yang disangkanya telah mati dalam pertempuran.

Esoknya Bahar minta diri dan menumpang bus Alima ke Bukittinggi, dan melanjutkan perjalanan dengan kereta api ke kampungnya di Kayutanam.

”Net, nanti uda akan kembali ke sini. Uda akan bawa abak dan ibu jumpa emak Neti dan Pak Lenggang untuk mempertautkan kita”, kata Bahar malam itu di beranda rumah.

”Neti tunggu uda datang”, kata Neti lembut.

”Uda pasti datang. Uda akan menyelesaikan kuliah yang teringgal. Setelah itu kita akan hidup bersama. Tinggallah Neti buat sementara”, kata Bahar dengan nada sendu.

Disinilah masanya kelak mereka akan menikah, sesuai petaruh dari ayah Neti, datuak Panduko yang telah gugur sebagai komandan kompi Tandikek.

Mawar Tandikek akan segera menjadi isterinya. Nanti, setelah ia meraih gelar sarjana pertanian yang sempat kececer karena peristiwa PRRI.

Mawar Tandikek yang cantik telah menimbulkan kesan cinta yang dalam sejak jari jemarinya yang lembut mengoleskan obat luka di lengan Bahar.

Bekas cinta itu masih ada kini. Parut luka itu menyembunyikan asmara di balik kulitnya.

Sumber

Bekas Pemberontak

OLEH: DASRIELNOEHA

Ia telah tua kini.
Sudah tujuh puluh lima tahun umurnya.
Selesai shalat maghrib ia duduk diteras rumahnya yang sederhana.
Secangkir kopi panas yang dihidangkan oleh isterinya menemaninya di senja itu.
Setiap senja ia menikmati duduk santai dengan ditemani kopi yang dibuat sendiri oleh isterinya. Mereka mempunyai kebun kopi sendiri. Tidak luas tapi cukup buat kebutuhan sendiri dan sebagian bisa dijual.

Ia kini hanya hidup berdua saja dengan siterinya. Anak-anaknya tiga orang perempuan semuanya sudah menikah dan tinggal di kota lain bersama suami mereka masing-masing.

Rumahnya menghadap ke jalan raya antara Padang dan Bukittinggi. Jalan raya itu selalu sibuk oleh kendaraan hilir mudik. Bercampur antara truk, bus dan kendaraan kecil milik pribadi. Sepeda motor juga banyak.

Matanya tertumbuk pada sebuah sepeda motor yang dituntun oleh dua orang berpakaian loreng. Rupanya ban sepeda motor itu kempes. Tentara itu mendorong sepeda motornya ke bengkel yang tidak jauh dari rumahnya.

Ya dua orang tentara telah memasuki alam kenangannya senja itu. Ia teringat tentang masa menjadi tentara dulu.

Tentara berbaju loreng yang dulu menjadi musuhnya. Tentara dengan seragam loreng itu mereka sebut dengan tentara pusat.

*
Sambil menghirup kopi panas ia memasuki alam kenangannya.
Angin sejuk senja yang semilir melintasi bulir-bulir padi yang mulai menguning di sawak belakang rumahnya ikut menghanyutkan kenangan lelaki tua itu.

Masa dulu sewaktu ia menjadi tentara.
Dulu, ditahun 1957, di Padang setelah menamatkan sekolah teknik menengah di Pariaman, ia diterima jadi tentara di Padang. Setelah menjalani latihan militer selama empat bulan dia ditempatkan sebagai bintara bagian perbengkelan dan peralatan Angkatan Darat di Muaro.

Ia masih bujang ketika masuk tentara itu. Oleh karenanya ia tinggal di asrama Ganting.
Ia senang dengan pekerjaannya memperbaiki mobil jeep, truck, dan juga memelihara senjata yang ditempatkan di gudang.
Pangkatnya waktu itu sudah sersan dua.

Namun, sebuah peristiwa nasional telah merubah peruntungannya.
Pada tanggal 15 Februari tahun 1958, beberapa perwira angkatan darat dan beberapa orang tokoh sipil membentuk dan memproklamirkan sebuah pemerintahan tandingan di Sungai Dareh yaitu Pemerintah Revolusioner Rakyat Indonesia (PRRI).

Dengan cepat berita ini telah dikonsolidasikan ke segenap unit militer di Sumatera Barat. Ada perintah umum oleh Letkol Ahmad Husen bahwa semua unit harus melapor ke masing komandan untuk menyatukan tekad melawan pemerintah pusat dan bergabung dengan tentara PRRI.

Ia melapor ke atasannya langsung. Letnan Mukhtar atasannya menasihatinya supaya tetap di bengkel. Tidak usah mengikuti ajakan untuk memberontak.
Namun, Mukhtar mengatakan kepadanya bahwa sekarang pilihan terserah kemauan masing-masing.

Akhirnya ia dengan empat orang temannya bergabung dengan pasukan PPRI di Seberang Padang.

*
Suatu pagi jam sembilan, kira-kira bulan April tahun 1958.
Sebuah pesawat terbang meraung-raung di atas kota Padang.
Pesawat itu menerjunkan pasukan di sekitar Bandar Udara Tabing.
Terjadi tembak menembak terjadi disana. Di Tabing pasukan PRRI hanya berintikan tentara mahasiswa Universitas Andalas yang memang markasnya di Air Tawar.
Pasukan PPRI yang memang tentara organik hanya beberapa orang. Karena seminggu yang lalu pasukan dikonsentrasikan di Kuranji dan Muaro serta Seberang Padang dan juga sekitar Bungus.

Banyak tentara mahaiswa ini yang jadi korban.
Tabing dan Air Tawar segera dikuasai oleh tentara pusat.

Begitu juga di pantai Tabing. Beberapa pasukan tentara pusat telah mendarat dengan menggunakan kapal kecil milik penduduk.
Dan mereka juga mendaratkan pasukan di Ulak Karang.
Pasukan Marinir mendarat dengan kapal amphibi.
Pasukan payung Banteng Raiders mendarat di pelabuhan udara Tabing.

Pasukan APRI tersebut segara menguasai keadaan. Tidak ada perlawanan dari PRRI.
Pada bulan July tahun 1958 itu terjadi tembakan besar-besaran dari kapal angkatan laut APRI ke pantai Padang dan Muaro.
Begitu juga di pelabuhan Teluk Bayur.
Teluk Bayur juga segera jatuh.

Tentara PPRI malahan mundur kearah Indarung dan terus ke Solok.
Tidak ada perlawanan. Jadi waktu itu bukan terjadi perang sebenarnya. Walaupun ada beberapa pertempuran kecil antara tentara rimba sebutan untuk tentara PPRI dengan tentara pusat untuk sebutan tentara APRI, namun selalu PRRI melarikan diri.
Yang terjadi adalah penumpasan tentara pemberontak oleh tentara pemerintah Sukarno yang dipimpin oleh Ahmad Yani yang terkenal dengan Operasi 17 Agustus.

Rupanya pendaratan dan penyerbuan ini sudah diketahui oleh pasukan Ahmad Husein. Mereka menyingkir ke Singkarak dan Solok untuk menghindari pertempuran di kota Padang, yang bilamana terjadi akan banyak megorbankan penduduk sipil.

Ia dan temannya satu regu segera menaiki bukit di belakang Seberang Padang. Mereka terus ke Gunung Pangilun. Dan terus naik ke Solok. Dan terakhir mereka menyusuri Danau Singkarak. Dan berhenti di sebuah desa yaitu Sumpur.

*
Sebuah penyerangan.
Malam hari oleh komandan yang berpangkat kapten diadakan rapat darurat disebuah hutan di seberang Batang Anai.
Mereka merencanakan sebuah penghadangan.
Ia sendiri lupa tanggalnya peristiwa itu, kalau tidak salah sekitar bulan Oktober tahun 1958.
Mereka ada sekitar tiga ratus orang lebih. Mereka gabungan dari pasukan ex mahasiswa dan tentara asli. Dan mereka juga memanggil beberapa bekas tentara Heiho jaman Jepang tahun 1945. Seperti Pak Karya yang terkenal dengan penembak jitu sewaktu jadi Heiho.

Oleh komandan mereka diperintahkan malam ini harus bergerak ke sebuah titik di daerah BTT.
Mereka sudah dapat laporan intelijen bahwa sepasukan mobrig akan berangkat pagi-pagi dari Padangpanjang menuju Padang.
Mereka akan menghadang dan menghancurkan mobrig itu dan merebut senjata mereka.

Ia ingat betul malam itu.
Mereka berangkat dari sebuah kampung dan menyeberangi Batang Anai dari Anduring terus mudik ke Lubuak Gadang.
Pada malam hari sewaktu kendaraan sepi mereka menyeberangi jalan raya menuju rel kereta api.
Jalan raya itu adalah jalan raya yang persis didepan rumahnya sekarang.

Dari rel kereta api mereka menuju stasiun Kandang Empat.
Mereka sampai di stasiun jam dua belas tengah malam. Di sini pasukan istirahat melepas lelah.
Sekitar satu jam kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju titik yang telah ditentukan.
Mereka sampai persis jam satu tengah malam di tempat disitu.
Kembali komandan mengingatkan akan tugas mereka. Mereka lalu disebar ke beberapa titik penghadangan. Pasukan inti ditempatkan di seberang bukit persis di depan pohon Kubang. Disitu ada dua pohon Kubang.
Yang lain ditempatkan setiap lima puluh meter di sisi utara. Dan pasukan terakhir sebagai pasukan penyapu ditempatkan di parit di tanjakan jalan.

Ia berada pada pasukan penyapu.

Ia ingat betul sekitar jam setengah enam telah terdengar deru mesin truk pembawa pasukan mobrig melewati kelok setelah air terjun Lembah Anai.
Kemudian terjadilah penghadangan itu. Segera terjadi tembak menembak. PPRI dibalik bukit dan semak, sedangkan mobrig di sepanjang jalan setelah berlompatan dari atas truk.
Truck mobrig mereka tembaki dengan bazooka dan senapan mesin.
Korban berjatuhan pada mobrig. Mereka tidak menyangka akan dihadang ditempat itu. Puluhan yang menjadi korban.

Setelah selesai penghadangan, semua pasukan kembali bergerak ke arah Tandikek.
Dan akhirnya terus melanjutkan perjalanan ke pos terakhir PRRI sekitar gunung leter W di atas danau Maninjau.
Disinilah ia bertempat tinggal dengan lima belas orang anggotanya menunggu perintah selanjutnya.

Disini ia ingat terjadi peristiwa lain yang amat membekas di hatinya.

*
Ia punya seorang pemuda yang merupakan sepupunya di kampung.
Aripin namanya.
Aripin bersekolah di STM di Bukittinggi. Karena terjadi peristiwa pemberontakan, buat sementara sekolah di liburkan.
Aripin kembali ke kampungnya di Kandang Empat.
Suatu hari sepasukan OPR melakukan pembesihan di desa Kandang Ampek.
Aripin dan berapa pemuda pengangguran sedang main kartu domino di kedai nasi Dibawa Untung.
Letnan Bahar Kirai, komanda OPR turun dari jeep. Dia diikuti lima orang anak buahnya.
Aripin dan teman-teman ditanyai tentang PPRI. Apakah mereka ikut pasukan PPRI. Mereka menjawab bukan, mereka adalah pemuda kampung biasa yang kerja di kedai nasi itu.
Aripin yang kelihatan gagah, maklum ia seorang pelajar STM, menjawab dengan lancar. Dan ia mengatakan bapak jangan asal menuduh kami pemberontak.
Rupanya jawaban Aripin membuat Letnan Bahar Kirai tersinggung. Ia segera menampar pipi Aripin dua kali. Aripin kesakitan dan lari kesudut ruangan. Seorang anak buah Bahar segera mau menembak Aripin. Tapi untunglah senjatanya ditepis Bahar dan selamatlah jiwa Aripin waktu itu.

Peristiwa itu rupanya membakar semangat Aripin untuk ikut memberontak.
Kebetulan Mansur, demikian nama orang tua itu waktu masih jadi tentara pulang kerumah ibunya di Kandang Ampek.
Aripin diberi tahu oleh adiknya Syamsuar bahwa uda Mansur lagi ke kampung malam ini. Aripin segera minat ijin ibunya mak Newar untuk lari ijok ke hutan. Mak Newar tidak mengijinkan waktu itu. Dia menangis menahan anak laki-laki sulungnya itu.
Tapi Aripin yang sudah dendam kesumat di dadanya akibat ditampar komandan OPR tempo hari, sudah tidak bisa dilarang lagi.

”Indak usahlah waang ikut ijok ke rimba Pin”, kata Mak Newar mencoba menahan langkah anak tuanya ini.

”Mak, hati awak sakik dek ditampar oleh OPR itu. Awak harus balaskan mak. Indak sanang hati awak sebelum dendam ini terbalas”, kata Aripin malam itu kepada ibunya.

”Hati mak, badatak Pin. Mak tidak mau terjadi apa-apa dengan waang”, kata Mak Newar sambil menangis.

”Jangan mak menangis. Awak sudah besar. Awak tahu menjaga diri. Lagi pula awak tidak takut mati mak. Kapan saja mati kata Tuhan, maka kita harus pergi. Lepaslah awak dengan do’a ya mak”, kata Aripin dengan mantap.

Akhirnya Aripin diam-diam menemui Mansur. Ia mengatakan akan bergabung dengan PPRI.
Akhirnya Aripin malam itu ikut dengan uda Mansur ke Tandikek. Dan mereka melapor ke markas di gunung leter W.

Selama tiga bulan Aripin berlatih memegang senjata dan cara berperang gerilya.

Memang ia melepaskan dendamnya segera. Sewaktu operasi di Tanjung Mutiara dan Bayur, ia membunuh banyak tentara OPR.
Aripin segera menjadi terkenal sebagai seorang prajurit PPRI yang pemberani.
Ia segera memegang sebuah senjata berat Brent.

*
Pak tua mengangkat mangkok kopinya. Udara senja mulai dingin. Pada bual-bulan mau memasuki bulan suci ini di kampung itu sering turun hujan. Malahan hujan turun setelah maghrib sampai tengah malam. Seakan hujan itu menguji keimanan penduduk desa itu untuk kepatuhan menunaikan shalat tarawih di mesjid.
Walaupun hujan penduduk terus dengan bertudungkan daun pisang menuju mesjid. Hujan dijadikan sebagai rahmat Tuhanyang harus disyukuri. Hujan mengairi swah yang terhampar luas di sekitar rumah.

Sudah lima puluh tahun kurang lebih peristiwa pemberontakan yang ia ikut berperan didalamnya itu terjadi.
Ia ingat betul sebuah peristiwa telah terjadi di sebuah tempat pos pengintaian di kaki gunung letter W.

Peristiwa yang menuntaskan sebuah dendam seorang pemuda yang telanjut sakit hati karena sebuah peristiwa besar. Yaitu peristiwa pemberontakan di Sumatera Barat itu. Karena peristiwa itulah yang melahirkan Organisasi Perlawanan Rakayt atau OPR bentukan tentara APRI untuk melawan tentara pemberontak.
Karena ditampar oleh komandan OPR Pariamanlah yang menyebabkan sebuah dendam terjadi.

Komandan pos B di dibalik munggu di bawah pohon lamin itu adalah kopral Aripin.
Ia membawahi lima orang anak buahnya. Mereka bertugas mengintai keberadaan APRI kalau ada operasi.

Hari itu tentara pusat atau APRI, sedang mengadakan sebuah operasi pembersihan.
Ia waktu itu sedang naik ke atas bukit untuk sebuah rapat konsolidasi.

Kira-kira jam tiga sore terdengar suara tembakan bersahutan di pinggang bukit dibawah. Ia tahu persis bahwa itu posisinya pos pengintai regu Aripin.
Tembak menembak memang tidak lama. Cuma kira-kira lima belas menit. Kemudian tembakan berhenti sama sekali.

Sejam kemudian kira-kira memasuki jam lima sore turun hujan lebat sekali di pinggang bukit itu.
Air hujan membuat jalan menurun kebawah menjadi licin.
Dengan mengendap-endap ia menuruni bukit melihat apa yang kejadian. Ia menyiagakan pandangan yang mulai tertutup kabut. Senjata Sten ditangannya siap untuk ditembakkan.
Kira-kira lima meter dari pos yang sudah habis terbakar, dia melihat sesosok tubuh tertelungkup. Darah masih mengalir dibawa air hujan dari tubuh itu.

Rupanya tentara APRI telah meninggalkan tempat itu.
Dia mendekat. Terlihatlah mayat seorang pemuda yang sudah cabik-cabik oleh peluru. Di punggungnya terlihat luka menganga lebar sekali. Baju cokelat seragamnya telah compang camping tertembus peluru. Celana hitam selutut yang jadi kebanggaan pemuda itu berlumuran darah.
Aripin telah gugur bersama dendamnya sore itu.

Kemana temannya yang lain?
Rupanya mereka sempat meloloskan diri melalui parit dibelakang pondok. Merka segera melarikan diri ke hutan lebat di pinggang bukit itu dan terus naik keatas menemui induk pasukan.
Merekalah yang bercerita bahwa mereka diserang sepasukan loreng APRI dengan tiba-tiba. Mereka mau lari dan mengajak komandannya Aripin.
Namun, Aripin menolak pergi. Ia mengatakan bahwa ia akan menuntaskan dendamnya sore itu.
Dan ia berdiri sambil menunggu pasukan loreng itu dengan menembakinya dengan Brent Gun. Ada beberapa anggota APRI yang terkena. Tetapi Aripin dihujani peluru banyak sekali oleh tentara pusat itu.

Akhirnya gugurlah ia sebagai seorang bekas pemberontak yang telah lunas membayar dendamnya sejak ditampar oleh OPR dulu.

Ia kembali keatas bukit untuk membawa beberapa anggota untuk memberi penghormatan terakhir kepada kopral Aripin yang gugur.
Jasad Aripin mereka kuburkan lengkap dengan bajunya yang berlumuran darah itu dibawah sebuah pohon lamin tua di bukit itu.
Nama Aripin mereka goreskan dengan sebuah bayonet pada batang lamin itu, berikut tanggal terjadinya peristiwa itu.

Munggu,17 April 1960. Disini dikuburkan kawan kami, Kopral Aripin.

Demikian goresan kenangan itu telah tertulis.

*
”Uda lagi mengapa kok minum gelas kosong”, tiba-tiba ia dikejutkan isterinya yang datang dari dalam rumah.

Upik, isterinya tahu bahwa suaminya melamun lagi. Upik tahu bahwa melamun peristiwa kenagan semasa pemberontakan dulu menjadi keasikan sendiri bagi suaminya. Kadang-kadang malahan suaminya menceritakan lengkap semua peristiwa yang dialami selama ijok ke hutan dulu.

Kedatangan Upik membuatnya tersenyum.
Ia sedang melamun tentang masa ketentaraannya dulu. Masa tatkala ia berjuang di hutan sebagai seorang pasukan pemberontak.
Masa pemberontakan yang berakhir atas penyerahan tanpa syarat seluruh anggota pasukan PRRI yang tersisa.
Ia yang juga ikut menyerahkan diri di Sungai Geringging tahun 1961.

Kemudian ia kembali ke kampung. Ia menjadi petani setelah itu.
Kemudian ia menikahi Upik, seorang putri Ulama di kampung itu.
Ia hidup di Kandang Ampek sebagai seorang bekas pemberontak.
Upik menemaninya sampai kini.
Hidup itu ia jalani dengan damai sampai masa tuanya.

Kenangan masa pemberontakan memang sewaktu-waktu datang menghampirinya.
Sama seperti kenangan senja ini. Yang terpicu ketika melihat dua orang berbaju loreng melintas di depan rumahnya.
Ia mulai beringsut.
Ia menuju ke tebat di belakang rumah untu mengambil wudhu.

Lalu ia shalat isya.
Sesudah shalat ia berdo’a.
Ia berdo’a untuk kawan-kawannya yang gugur selama masa pemberontakan.
Untuk Aripin ia berdo’a juga.
Tak terasa dua bulir air mata menetes di pipinya yang sudah keriput.

Sumber

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.