Enola Gay

DALAM pertemuan di Gedung Putih tanggal 18 Juni 1945, Kepala Staf AD Jenderal George C Marshall mendesak agar Jepang diserbu untuk mengakhiri perang, dan Presiden Harry S Truman juga memberikan persetujuan. Namun, meski mendukung invasi, Marshall juga menyadari kemungkinan jatuhnya korban tentara AS dalam jumlah besar, diperkirakan 69.000 orang dari kekuatan penyerbuan sebesar 190.000.

Enola Gay

Dengan latar belakang seperti itu, pertanyaan yang jelas bisa dikemukakan adalah: ”Perlukah sebenarnya invasi ke Jepang, bahkan dengan tanpa penggunaan Bom-A pun?”

Jadi, apa alternatif untuk memaksa Jepang menyerah, tetapi tanpa invasi? Satu ide yang juga disinggung dalam sidang Gedung Putih tanggal 18 Juni 1945 adalah sekitar hasil Proyek Manhattan, yang menyebut bahwa dua bom atom bisa diperoleh untuk penggunaan operasional pada akhir Juli.

Enola Gay

Mengantisipasi penggunaan senjata revolusioner ini, Angkatan Udara AS pun mempersiapkan pesawat dan perlengkapan lain yang dibutuhkan. Grup Komposit 509 telah diaktifkan sejak Desember 1944 di bawah komando Kolonel Paul W Tibbets Jr, di mana di dalamnya ada Skuadron Pengebom 393 yang diperkuat dengan pengebom jarak jauh B-29 Superfortress, satu-satunya pesawat Amerika yang cukup besar untuk mengangkut Bom-A pertama.

Awak skuadron ini telah berlatih di Wendover, Utah, dan pada bulan April dan Mei 1945 dipindahkan ke North Field di Pulau Tinian di Kepulauan Mariana.

Baik dalam penerbangan latihan maupun familiarisasi ke Jepang, Grup 509 telah menjatuhkan bom bercat oranye berisi 10.000 pon (sekitar 4,5 ton) TNT, yang dari segi bentuk menyerupai Bom-A Fat Man.

Enola Gay

Komite Sasaran pada Proyek Manhattan memberi pilihan kota-kota Jepang yang akan menjadi sasaran Bom-A pertama, yakni Kokura, Hiroshima, Niigata, dan Kyoto. Akan tetapi, Menteri Perang AS Henry L Stimson melarang dilakukannya serangan terhadap Kyoto mengingat kebudayaannya yang antik sehingga kemudian dipilih kota lain.

Seiring dengan itu, berita tentang kemajuan pembuatan Bom-A terus mengalir, termasuk ke Presiden Truman. Ringkas kata, Bom-A telah siap digunakan. Sebagian besar Uranium-235 yang dibutuhkan untuk bom Little Boy diangkut dengan kapal penjelajah Indianapolis ke Tinian pada tanggal 26 Juli. Pada tanggal 2 Agustus muncul perintah operasi top secret Misi Pengeboman Khusus dengan Hiroshima sebagai sasaran primer, Kokura sasaran sekunder, dan Nagasaki sasaran tersier.

Kembali kepada misi pengeboman, misi ini harus merupakan pengeboman visual, mengandalkan pada pengamatan mata langsung, sehingga sebelumnya harus dilakukan penerbangan observasi oleh pesawat cuaca yang juga dari jenis B-29.

Pada Minggu sore, 5 Agustus, ada pemberitahuan bahwa cuaca di atas Jepang mulai cerah dan kondisi Senin pagi akan cerah untuk melaksanakan serangan siang hari secara visual. Dari sejak itu, tampaknya hitung mundur misi telah dilakukan. Awak mendapat brifing terakhir dan semuanya telah disiapkan untuk tinggal landas pra-fajar.

Waktu yang ditetapkan (Jam-J), Senin, 6 Agustus 1945, telah datang. Kolonel Tibbets membawa Enola Gay ke landasan pacu North Field dan dengan suara mesin menderu, pengebom ini tinggal landas pada pukul 02.45. Saat tinggal landas, berat kotor Enola Gay mencapai 65 ton, 8 ton di atas berat pengebom normal B-29, dan itu sebagian karena bom Little Boy sendiri beratnya sekitar empat ton.

Ketika pesawat yang terbang pada ketinggian 31.600 kaki diarahkan ke kota sasaran ini pada pukul 08.06, persiapan untuk menjatuhkan bom Little Boy yang misterius itu pun semakin intens. Semua tampak tegang dan tidak ada yang berbicara, kecuali awak pengebom (bombardier) kepada pilot. Pilot juga hanya menjawab ringkas, ”Roger.”

Tiba-tiba, suara ”Bom telah meluncur (Bomb away)!” terdengar di inter. Bom Little Boy diarahkan ke jembatan di dekat pusat kota.

Begitu bom meluncur, seketika itu juga pesawat membelok tajam. Prosedur ini telah dipraktikkan berkali-kali sebelumnya. Dengan setiap detik berlalu, ketegangan pun meningkat. Apa yang akan terjadi? Apakah senjata baru yang aneh ini akan bekerja? Jawaban yang ditunggu pun sesaat kemudian muncul.

Tepatnya 17 detik setelah pukul 08.15 pagi itu, satu kilatan sinar berwarna putih kebiruan yang murni membutakan karena terangnya dan sangat kuat membelah langit. Itu diikuti dengan tebaran panas yang luar biasa, ledakan bak ribuan petir, dan akhirnya dentuman yang mengguncangkan bumi, diikuti dengan awan debu dan puing yang bergolak membubung hingga ketinggian sekitar 50.000 kaki.

Itulah saat terjadinya apa yang oleh warga Hiroshima yang selamat disebut dengan pikadon, dari ”pika” (kilat), diikuti dengan ”don” (geledek). Bom meledak pada ketinggian di bawah 2.000 kaki atau sekitar 600 meter.

Saat itulah semua orang yang berada di dalam pesawat menyadari bahwa mereka tengah menyaksikan digunakannya senjata baru yang mengerikan, yang bisa dengan mudah mengakhiri perang. Enola Gay lalu terbang memutari Hiroshima yang pasti telah hancur, lalu mulai menjauh. Saat mereka telah berada sejauh 300 kilometer pun, awan cendawan di atas sasaran masih terlihat.

Mereka telah menyaksikan debut senjata atom. Senjata yang kemudian diketahui berkekuatan 17.000 ton TNT itu diperkirakan telah membinasakan wilayah seluas sekitar 11 kilometer persegi dari pusat ledakan (langsung di bawah ledakan bom).

Sekitar 60.000 dari 90.000 bangunan di dalam area 23 kilometer persegi hancur atau rusak berat. Hanya sedikit saja penduduk yang bisa berlindung di tempat perlindungan, dan angka korban tewas yang sebenarnya di Hiroshima tak akan pernah diketahui.

Pihak Jepang berikutnya mencantumkan nama 61.443 orang yang dipastikan tewas di tugu peringatan yang didirikan di pusat ledakan. Tiga hari kemudian, AS melakukan pengeboman terhadap kota Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945.

Kontroversi Bom Atom

Sejarah memang telah terukir, tetapi kontroversi mengenai penjatuhan bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki terus berlangsung hingga lama sesudah Perang Dunia II berakhir. Pertanyaan mendasar yang acap dimunculkan tentu saja, ”Perlukah sebenarnya Jepang dibom atom?”

Dr Taro Takemi, yang pernah menjabat sebagai Presiden Himpunan Dokter Jepang, misalnya, satu kali menyebutkan bahwa penggunaan Bom-A Amerika untuk mengakhiri Perang Dunia II ”bisa jadi justru menyelamatkan Jepang”.

Menjelang berakhirnya perang, ia menulis, ”Pihak militer telah membawa Jepang ke tingkat di mana kalau tidak menang, tidak akan menyerah.”

Padahal, menurut keyakinan Dr Takemi, Jepang pasti akan kalah dan banyak orang akan menderita bila Bom-A tidak dijatuhkan.

Bila orang meninjau bahwa Jepang akan mengorbankan seluruh bangsa seandainya tak ada serangan Bom-A, bom itu bisa dianggap sebagai penyelamat Jepang.

Mantan Duta Besar AS untuk Jepang (1961-1966) Edwin O Reischauer dan salah seorang ahli Jepang terkemuka mengatakan, ia ragu sebagian besar rakyat Jepang setuju dengan apa yang dikemukakan oleh Dr Takemi.

Ia sendiri berpandangan bahwa penggunaan Bom-A merupakan satu kesalahan pada saat itu, tetapi ia sudah berubah pendapat (karena alasan yang sama dengan Dr Takemi).

Seperti dikatakan oleh saksi uji peledakan Trinity, Bom-A sungguh mengerikan sehingga yang bisa ia pikirkan hanyalah implikasi moral bila bom itu digunakan dalam peperangan. Tapi, juga ada yang mengatakan, bukankah bangsa Jepang sendiri yang mengundang digunakannya bom itu. Kalau mereka tak melakukan serangan ke Pearl Harbor, tidak akan ada serangan Bom-A ke Hiroshima dan Nagasaki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: