Hari-Hari Akhir Si Pitung

Betawi Oktober 1893. Rakyat Betawi di kampung-kampung tengah berkabung. Dari mulut ke mulut mereka mendengar si Pitung atau Bang Pitung meninggal dunia, setelah tertembak dalam pertarungan tidak seimbang dengan kompeni. Bagi warga Betawi, kematian si Pitung merupakan duka mendalam. Karena ia membela rakyat kecil yang mengalami penindasan pada masa penjajahan Belanda. Sebaliknya, bagi kompeni sebutan untuk pemerintah kolonial Belanda pada masa itu, dia dilukiskan sebagai penjahat, pengacau, perampok, dan entah apa lagi.

jagoan_pitung_1024x768_resolusi 

Jagoan kelahiran Rawa Belong, Jakarta Barat, ini telah membuat repot pemerintah kolonial di Batavia, termasuk gubernur jenderal. Karena Bang Pitung merupakan potensi ancaman keamanan dan ketertiban hingga berbagai macam strategi dilakukan pemerintah Hindia Belanda untuk menangkapnya hidup atau mati. Pokoknya Pitung ditetapkan sebagai orang yang kudu dicari dengan status penjahat kelas wahid di Betawi.

Bagaimana Belanda tidak gelisah, dalam melakukan aksinya membela rakyat kecil Bang Pitung berdiri di barisan depan. Kala itu Belanda memberlakukan kerja paksa terhadap pribumi termasuk ‘turun tikus’. Dalam gerakan ini rakyat dikerahkan membasmi tikus di sawah-sawah disamping belasan kerja paksa lainnya. Belum lagi blasting (pajak) yang sangat memberatkan petani oleh para tuan tanah.

Si Pitung, yang sudah bertahun-tahun menjadi incaran Belanda, berdasarkan cerita rakyat, mati setelah ditembak dengan peluru emas oleh schout van Hinne dalam suatu penggerebekan karena ada yang mengkhianati dengan memberi tahu tempat persembunyiannya. Ia ditembak dengan peluru emas oleh schout (setara Kapolres) van Hinne karena dikabarkan kebal dengan peluru biasa. Begitu takutnya penjajah terhadap Bang Pitung, sampai tempat ia dimakamkan dirahasiakan. Takut jago silat yang menjadi idola rakyat kecil ini akan menjadi pujaan.

Si Pitung, berdasarkan cerita rakyat (folklore) yang masih hidup di masyarakat Betawi, sejak kecil belajar mengaji di langgar (mushala) di kampung Rawa Belong. Dia, menurut istilah Betawi, ‘orang yang denger kate’. Dia juga ‘terang hati’, cakep menangkap pelajaran agama yang diberikan ustadznya, sampai mampu membaca (tilawat) Alquran. Selain belajar agama, dengan H Naipin, Pitung –seperti warga Betawi lainnya–, juga belajar ilmu silat. H Naipin, juga guru tarekat dan ahli maen pukulan.

Suatu ketika di usia remaja –sekitar 16-17 tahun, oleh ayahnya Pitung disuruh menjual kambing ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dari kediamannya di Rawa Belong dia membawa lima ekor kambing naik gerobak. Ketika dagangannya habis dan hendak pulang, Pitung dibegal oleh beberapa penjahat pasar. Mulai saat itu, dia tidak berani pulang ke rumah. Dia tidur di langgar dan kadang-kadang di kediaman gurunya H Naipan. Ini sesuai dengan tekadnya tidak akan pulang sebelum berhasil menemukan hasil jualan kambing. Dia merasa bersalah kepada orangtuanya. Dengan tekadnya itu, dia makin memperdalam ilmu maen pukulan dan ilmu tarekat. Ilmu pukulannya bernama aliran syahbandar. Kemudian Pitung melakukan meditasi alias tapa dengan tahapan berpuasa 40 hari. Kemudian melakukan ngumbara atau perjalanan guna menguji ilmunya. Ngumbara dilakukan ke tempat-tempat yang ‘menyeramkan’ yang pasti akan berhadapan dengan begal.

Salah satu ilmu kesaktian yang dipelajari Bang Pitung disebut Rawa Rontek. Gabungan antara tarekat Islam dan jampe-jampe Betawi. Dengan menguasai ilmu ini Bang Pitung dapat menyerap energi lawan-lawannya. Seolah-olah lawan-lawannya itu tidak melihat keberadaan Bang Pitung. Karena itu dia digambarkan seolah-olah dapat menghilang. Menurut cerita rakyat, dengan ilmu kesaktian rawa rontek-nya itu, Bang Pitung tidak boleh menikah. Karena sampai hayatnya ketika ia tewas dalam menjelang usia 40 tahun Pitung masih tetap bujangan.

Si Pitung yang mendapat sebutan ‘Robinhood’ Betawi, sekalipun tidak sama dengan ‘Robinhood’ si jago panah dari hutan Sherwood, Inggris. Akan tetapi, setidaknya keduanya memiliki sifat yang sama: Selalu ingin membantu rakyat tertindas. Meskipun dari hasil rampokan terhadap kompeni dan para tuan tanah yang menindas rakyat kecil.

Sejauh ini, tokoh legendaris si Pitung dilukiskan sebagai pahlawan yang gagah. Pemuda bertubuh kuat dan keren, sehingga menimbulkan rasa sungkan setiap orang yang berhadapan dengannya. Dalam film Si Pitung yang diperankan oleh Dicky Zulkarnaen, ia juga dilukiskan sebagai pemuda yang gagah dan bertubuh kekar. Tapi, menurut Tanu Trh dalam ‘Intisari’ melukiskan berdasarkan penuturan ibunya dari cerita kakeknya, Pitung tidak sebesar dan segagah itu. ”Perawakannya kecil. Tampang si Pitung sama sekali tidak menarik perhatian khalayak. Sikapnya pun tidak seperti jagoan. Kulit wajahnya kehitam-hitaman, dengan ciri yang khas sepasang cambang panjang tipis, dengan ujung melingkar ke depan.”

Menurut Tanu Trh, ketika berkunjung ke rumah kakeknya berdasarkan penuturan ibunya, Pitung pernah digerebek oleh schout van Hinne. Setelah seluruh isi rumah diperiksa ternyata petinggi polisi Belanda ini tidak menemukan si Pitung. Setelah van Hinne pergi, barulah si Pitung secara tiba-tiba muncul setelah bersembunyi di dapur. Karena belasan kali berhasil meloloskan diri dari incaran Belanda, tidak heran kalau si Pitung diyakini banyak orang memiliki ilmu menghilang. ”Yang pasti,” kata ibu, seperti dituturkan Tanu Trh, ”dengan tubuhnya yang kecil Pitung sangat pandai menyembunyikan diri dan bisa menyelinap di sudut-sudut yang terlalu sempit bagi orang-orang lain.” Sedang kalau ia dapat membuat dirinya tidak tampak di mata orang, ada yang meyakini karena ia memiliki kesaksian ‘ilmu rontek’. (Sumber)

Perang-Perang di Indonesia

I/Permesta – Dalam sejarah TNI AU, pembumihangusan separatis PRRI/Permesta, (1958), menorehkan peperangan udara “spektakuler”. P-51 Mustang dan B-25 mencabik-cabik pertahanan PRRI/Permesta di Padang dan Manado. PRRI diembrioi dengan lahirnya Dewan Gajah dan Dewan Banteng, 20 dan 22 Desember 1955. Gerakan separatis ini disikapi Jakarta dengan membekukan Komando Daerah Militer Sumatera Tengah. Sikap Jakarta inilah yang dibalas “pemberontak” dengan mendirikan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), 15 Februari 1958.

Memang seperti penyakit menular. Letkol Ventje Sumual mengumumkan SOB yang sekaligus menandai proklamasi Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), 2 Maret 1957. Jakarta segera membentuk operasi gabungan APRI. Di Sumatera digelar operasi “17 Agustus”, di Sulawesi digelar operasi “Merdeka”. P-51, B-25, dan C-47 Dakota disiapkan untuk operasi ini. Dari kedua kelompok, Permestalah yang menakutkan AURI. Karena memiliki beberapa P-51 dan B-26 yang diterbangkan pilot-pilot bayaran dari Amerika, Taiwan, dan Filipina.

Dalam menghadapi PRRI, AURI menyiapkan hingga 40 pesawat hampir seluruh kekuatan di Tanjung Pinang. Berturut-turut dalam operasi perebutan, B-25 dan P-51 menghujani dengan senapan mesinnya Lanud Simpang Tiga Pekanbaru (12 Maret), kota Medan (17 Maret), serta kota Padang (17 April). 17 hari kemudian, Bukittinggi juga jatuh ke tangan pasukan APRI.

Di Selebes, kembali AURI menggelar operasi dengan menidurkan radio Permesta di Manado (22 Februari 1958), merebut keunggulan udara di Mapanget, Tasuka, Morotai, dan Jailolo (5 Mei), hingga mandulnya Permesta 23 Mei. Begitu gencarnya pertempuran di darat maupun dari udara, sempat memancing pesawat Lockheed U-2 Dragon Lady. Pesawat ini pernah dimanfaatkan mengintai pulau Natuna yang disiapkan untuk menggempur Jakarta. Buntut perang ini memperburuk hubungan Jakarta-Washington. CIA ternyata berada dibelakang semua aksi itu.

 Pesawat pencegat P-51 Mustang Skadron-3 AURI/Dispen AU 
Lewat perang ini pula lahir ace kalau boleh menyebut pertama Indonesia. P-51 Mustang yang diterbangkan Kapten Udara IGN Dewanto menembak jatuh B-26 Permesta yang diterbangkan Allen Lawrence Pope. Peristiwa heroik ini terjadi 18 Mei 1958.

Trikora – Dengan lantang, di depan rapat raksasa di Yogyakarta, 19 Desember 1961, Presiden Soekarno menyerukan, “… oleh karena Belanda masih melanjutkan kolonialisme di tanah air kita…, maka kami perintahkan kepada rakyat Indonesia, juga yang berada di Irian Barat, untuk melaksanakan Tri Komando.” Tiga tahap rencana operasi : infiltrasi, penghancuran, dan konsolidasi, segera disusun. Pesawat, kapal perang, radar, tank, senjata, disiapkan.

Guna memuluskan operasi, dibentuklah Komando Mandala yang membawahi unsur AD, AL, AU, dan Kohanudgab Mandala, 11 Januari 1962. Sebagai panglima komando mandala yang berada langsung di bawah Panglima KOTI Presiden Soekarno, dipercayakan kepada Mayjen Soeharto. Adapun wakil panglima mandala ditunjuk Komodor Laut Soebono dan Komodor Udara Leo Wattimena.

AU Belanda diperkuat 24 pesawat buru sergap Hawker Hunter Mk-06 yang berpangkalan di Biak, enam helikopter Aloutte, 10 Neptune, setengah skadron C-47 serta dua unit radar tipe 15 Mk-IV di Numfor dan pulau Wundi. Terbatasnya daya jangkau MiG-17 dan P-51, menjadi kendala bagi AURI, karena AU Belanda masih didukung AD dan AL.

Namun begitu, operasi-operasi pengintaian dan infiltrasi telah dilaksanakan. Seperti mengejar kapal selam di Morotai, menembak kapal asing, menyerang kapal Belanda di pulau Gag di perairan Irian Barat, sampai menerjunkan PGT dan RPKAD. Operasi penyusupan ini diberi nama Banteng Ketaton.

Dalam operasi penerjunan, pesawat C-47 selalu mendapat pengawalan dari P-51 dan B-25/26. Berhadapan dengan kekuatan udara Belanda pun sudah terjadi di sini. Seperti usai penerjunan di Kaimana, jatuh korban. Pesawat angkut C-47 yang diterbangkan Kapten Djalaluddin Tantu, ditembak jatuh ke laut dalam penerbangan pulang oleh Neptune Belanda. Namun begitu, AURI boleh berbangga. Karena secara keseluruhan, keunggulan udara dapat diraih.

Sekiranya AURI tidak siap, tentu tidak mungkin keunggulan di udara dicapai sehingga penyusupan-penyusupan lewat udara dapat dilakukan yang tidak jarang dilaksanakan juga dengan formasi C-130. Untuk menghadapi Operasi Jayawijaya, AURI sengaja menyiapkan unsur udaranya secara besar-besaran. Lihat saja, bomber (10 Tu-16 dan 10 Tu-16 KS), enam B-25 dan B-26 (empat cadangan), delapan IL-28 dengan dua cadangan. Unsur angkut dan SAR masing-masing delapan C-130 dengan dua cadangan, 20 C-47 Dakota, enam Mi-4 dan Bell-204, lima UF Albatros serta dua Twin Otter. Unsur serang pertahanan udara dan serang darat masing-masing disiapkan tujuh P-51, dan 18 MiG-17 Fresco. Disamping itu, AURI juga menyiapkan dua batalion pasukan tempurnya yang sangat disegani kala itu, Pasukan Gerak Tjepat (PGT). Radar-radar turut ditempakan di Morotai, Bula, dan Saparua.

Walau perang terbuka urung berkecamuk, beberapa pesawat AURI mengalami kecelakaan. Tercatat 2 P-51, 2 MiG-17, 1 C-47, 1 Albatros, 2 Il-28, dan 1 B-26, mengalami kecelakaan dalam operasi pembebasan Irian Barat. Peristiwa ini, memakan korban lebih kurang 20 penerbang beserta awak-nya. Beberapa kali penerjunan yang dilakukan di Kaimana, Fak Fak, Sorong, Klamono, Teminabuan, dan Merauke, juga mengakibatkan gugurnya 94 prajurit PGT.

Setelah Irian Barat kembali ke pangkuan RI, di propinsi paling timur ini muncul gerombolan yang menamakan dirinya Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Lodewyk Mandatjan. Operasi kembali di gelar. Sebuah B-25 diterbangkan LU I Suwadji dan B-26 diterbangkan Letkol P Soedarman, menggempur OPM di desa Tindowi, 90 km dari Manokwari, Agustus 1965. Masih di bulan Agustus, B-26 mendapat tugas mengamankan sekaligus menolong satu regu Kopasgat dan Polisi yang dikepung 12.000 anggota OPM. Operasi sukses. Tidak ada yang terluka, Alhasil, operasi pembebasan Irian Barat menjadi catatan sejarah penting sebagai operasi gabungan terbesar yang pernah dirancang dan dilaksanakan ABRI (sekarang TNI).

Dwikora – Belum hilang penat dari bumi cendrawasih (konflik dihentikan 18 Agustus 1962), AURI sudah dihadapkan lagi kepada “pilihan politik” untuk menyiapkan alutsistanya menghadapi negara jiran Malaysia. Ini berawal dari pidato Soekarno yang mengatakan ingin membantu rakyat Kalimantan Utara yang menentang pembentukan Federasi Malaysia. Ajakan “perang” Soekarno yang terkenal dengan Dwikora ini, diucapkannya di Jakarta, 3 Mei 1964.

Tidak kalah hebat dengan Trikora, 8 Tu-16, 4 P-51, 9 B-25, 2 C-130, 11 C-47, serta 4 Il-14, dinyatakan siap. ALRI juga menyatakan kesiapannya dengan menempatkan ratusan kapal didukung pesawat terbang serta beberapa batalion marinir. Celakanya, kekuatan AURI harus berhadapan dengan AU Inggris dan AU Australia yang melindungi negara persemakmurannya. Kekuatan gabungan Inggris-Australia diduga terdiri dari 50-an bomber, 24 Hawker Hunter, 24 Gloster Javelin, 30 F-86 Sabre, serta 6 skadron pesawat angkut dan 12 helikopter. Belum dihitung skadron rudal Blood Hound serta 2 skadron pesawat stand by di Australia. Pertahanan Malaysia makin sempurna dengan dukungan pasukan darat dan laut (27 batalion, 16 batalion artileri, belasan kapal, serta pasukan Gurkha).

Sekali lagi, gelar pasukan segitu besar harus diakhiri di meja perundingan, seperti halnya Trikora. Meletusnya pemberontakan G 30S/PKI, telah menyita perhatian publik serta militer yang memaksa para elit negara harus segera menghentikan konfrontasi. Pasukan segera ditarik. Sebuah C-130 Hercules AURI diterbangkan Mayor Djalaluddin Tantu yang sekiranya menerjunkan 1 kompi PGT di Malaka, hilang pada tanggal 1 September 1964.

Penerjunan di Dili – Menurut beberapa pengamat militer Indonesia, operasi penerjunan di kota Dili, 7 Desember 1974, merupakan operasi lintas udara (Linud) terbesar yang pernah dilaksanakan TNI. Satu batalion pasukan tempur terdiri dari Grup-1 Kopassandha dan Brigade 18/Linud Kostrad yang sebagian besar dari Batalion-502/Raiders Jawa Timur, diterjunkan di pagi buta dari sembilan pesawat angkut berat C-130 Hercules Skadron Udara 32 TNI AU.

Perebutan Dili diputuskan Menhankam/Pangab Jenderal TNI M Panggabean, 4 Desember di Kupang. Sebelum perebutan Dili, Fretilin sudah terlibat baku tembak dengan pasukan TNI dalam perebutan Benteng Batugade (17 Oktober). Garis besarnya, operasi ini dilakukan dalam tiga sortie. Sortie pertama dari Lanud Iswahyudi Madiun, dengan droping zone (DZ) Dili. Diterjunkan Grup-1 Kopassandha dan Yon Linud 501. Sortie berikutnya diberangkatkan dari Penfui Kupang dengan DZ Komoro. Ikut dalam sortie ini Yon 502 dan Baret Merah yang menurunkan Denpur-1, disebut Nanggala-5. Sortie terakhir, direncanakan juga dari Kupang.

Kalau selama Trikora, airborne operation bisa sukses karena didukung pesawat tempur. Nah, di Dili, ini masalahnya. Bantuan tembakan udara tidak bisa diharapkan dari P-51 karena digrounded. Sementara T-33-Bird dan F-86 belum dipersenjatai. Dari tujuh bomber B-26, hanya dua yang serviceable. Pilotnya juga sebanyak pesawatnya. Ujung-ujungnya, dua C-47 disulap menjadi AC-47 gunship dilengkapi tiga senapan mesin kaliber 7,62 mm di sisi, mendampingi B-26.

Begitulah. Tepat pukul 05.45, peterjun pertama melompat keluar dari ramp door pesawat. Beberapa prajurit langsung gugur, karena ketika masih melayang di udara disambut timah panas Fretilin dari bawah. Termasuk pesawat. Empat C-130 terkena dihantam senapan mesin ringan dari bawah. Bahkan load master T-1312, Pelda Wardjijo, gugur karena peluru menembus badan pesawat.

Pasukan yang diterjunkan dengan cepat menguasai Dili. Pukul 07.45, kembali sortie kedua diterjunkan di Komoro. Petang itu juga, pemerintah segera mengumumkan bahwa Dili telah dibebaskan.

Bagi Kopasgat TNI AU, operasi ini penting. Gelar Kopasgat terjadi dua hari kemudian, 9 Desember, ketika delapan C-130 kembali menerjunkan Kostrad, Kopassus, dan 156 Kopasgat pukul 07.25. B-26 melindungi penerbangan kali ini. Tugas Kopasgat adalah membebaskan lapangan terbang Baucau, atau lebih populer dengan Vila Salazar Baucau dalam bahasa Portugis.

Detasemen Kopasgat dipimpin Kapten (Psk) Afendi. Operasi ini sekaligus membuktikan kemampuan Kopasgat melaksanakan Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara Depan (OP3UD). Hanya bertahan 23 tahun, propinsi termuda ini lepas dari RI setelah jajak pendapat, 30 Agustus 1999. Sebuah perjuangan yang dramatis sekaligus menyisakan sejuta pertanyaan. (Sumber)

Reorganisasi Tentara Indonesia 1945-1946

Pada tanggal 22 Agustus 1945 PPKI mengumumkan berdirinya sebuah “Badan Penolong Keluarga Korban Perang” yang di dalamnya mencakup sebuah Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang berfungsi memelihara keamanan bersama-sama dengan rakyat dan badan-badan negara yang lain. BKR secara organisasi ditempatkan di bawah KNIP sementara cabang-cabangnya di bawah KNI Daerah.

Pemuda-pemuda dengan berbagai macam latar belakang diperkenankan untuk mendaftarkan diri ke BKR, namun demikian kebanyakan pemuda yang mendaftarkan diri ke BKR adalah para pemuda mantan PETA, dan bisa dipastikan bahwa pimpinan-pimpinan BKR yang berada di pusat maupun daerah kebanyakan berada di tangan mantan perwira-perwira mantan PETA.

Korps perwira BKR dengan cepat merasa terikat dengan pemerintah, dan disiplin mereka pada umumnya jauh lebih baik dibandingkan organisasi-organisasi kelaskaran yang menolak melebur ke dalam BKR dan secara umum bersikap enggan menerima perintah dari pemerintah.

Sedangkan hambatan paling besar bagi BKR adalah tidak adanya sebuah komando yang terpusat yang dapat mengangkat anggota-anggota korps perwira. Seringkali kesatuan-kesatuan memilih komandan mereka sendiri, sehingga sebagai akibatnya kedudukan para komandan itu tidak lebih sebagai “primus inter pares” (yang pertama diantara sesama).

Pada tanggal 5 Oktober 1945, BKR dirubah namanya menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang memiliki fungsi memelihara keamanan. Dan karena statusnya meningkat menjadi tentara maka struktur organisasinya mengalami perubahan. Disinilah peran utama dari mantan perwira-perwira KNIL yang bergabung di dalam TKR, yang secara fungsi dan ilmu ketentaraan lebih berpengalaman dibandingkan para mantan PETA terutama pendidikan ke-staf-an, seperti pengorganisasian dan perencanaan militer.

Ketika pembentukan TKR diumumkan, pada hari itu juga bekas Mayor KNIL, Oerip Soemohardjo diangkat sebagai Kepala Markas Besar Umum TKR. Dan karena di kalangan orang-orang bekas PETA, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terdapat perasaan kurang senang terhadap mantan opsir KNIL maka ia tidak diangkat sebagai Panglima Tentara, jabatan yang pada hari berikutnya diserahkan kepada Suprijadi, pemimpin legendaris pemberontakan PETA di Blitar. Tetapi pengangkatan itu hanyalah simbolis, karena sejak pemberontakan dalam Bulan Februari itu Suprijadi tak pernah muncul lagi.

Di lapangan dibentul 4 komandemen, Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kepada mereka diberikan komando taktis, baik atas kesatuan TKR yang regular maupun atas sekian banyaknya badan perjuangan kelaskaran. Namun demikian diantara 4 komandemen yang dibentuk, hanya komandemen Jawa Baratlah yang berfungsi cukup baik yang pada waktu itu dipimpin oleh bekas Kapten KNIL Didi Kartasasmita dan “Kadet Bandung” Abdul Harris Nasution yang sampai tingkat tertentu menerapkan disiplin dan perencanaan militer menurut norma-norma militer Belanda.

Ketika sekutu benar-benar sampai ke pedalaman Jawa dan Sumatera untuk melucuti tentara-tentara Jepang dan membebaskan interniran Eropa, para perwira TKR mendesak pemerintah untuk segera secara permanen mengisi jabatan Panglima dan Menteri Keamanan (Peratahanan). Karena pemerintah tidak menanggapi permintaan mereka, maka Oerip Soemohardjo pada tanggal 12 November 1945 memanggil semua panglima divisi dan resimen TKR untuk menghadiri sebuah rapat di Jogjakarta untuk mengisi kedudukan panglima dan menteri keamanan.

Dalam rapat itu terpilihlah Soedirman, seorang bekas opsir PETA, sebagai panglima TKR. Oerip menjadi orang kedua dan karena kecewa dia lalu mengundurkan diri dari kedudukan sebagai kepala staf Markas Besar TKR. Rupanya pada mulanya Oerip berharap ialah yang terpilih untuk menduduki jabatan puncak itu. Dia jauh lebih tua daripada Soedirman yang ketika itu berusia 33 tahun dan tak diragukan lagi bahwa dia merupakan perwira staf yang paling memenuhi persyaratan yang tersedia di Indonesia.

Segera setelah ia terpilih, Soedirman bergerak secara bijaksana dan luwes untuk mengkonsolidasikan kedudukannya. Berbeda dengan Oerip yang mengutamakan masalah teknis dan organisasi, maka Soedirman membaktikan diri terutama kepada masalah-masalah politik dalam mempersatukan tentara dan memberinya suatu pandangannya yang terpadu mengenai peranannya dalam revolusi.

Sidang itu juga memutuskan untuk memilih Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Menteri Keamanan. Namun dua hari kemudian pada tanggal 14 November 1945 Perdana Menteri Sjahrir menetapkan Amir Sjarifuddin sebagai Menteri Keamanan dalam kabinetnya.

Tanggal 1 Januari 1946, Kementrian Keamanan diubah namanya menjadi Kementrian Pertahanan dan TKR dirubah namanya menjadi “Tentara Keselamatan Rakyat”. Tanggal 24 Januari 1946, “Tentara Keselamatan Rakyat” dirubah lagi namanya menjadi “Tentara Republik Indonesia” (TRI). Selain itu dibentuk pula sebuah Panitia Besar untuk reorganisasi tentara dengan Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo sebagai ketuanya dengan tugas mencari jalan untuk meningkatkan efisiensi tentara.

Panitia ini didominasi oleh bekas opsir KNIL yang reputasinya sebagai ahli organisasi pada umumnya pun diakui oleh pemerintah atau pun oleh bekas opsir-opsir PETA. Dan pada tanggal 17 Mei 1946 menyampaikan hasil kerjanya kepada kabinet berupa usulan reorganisasi ketentaraan. Cara kerja panitia yang cukup baik itu membuktikan bahwa orang seperti Oerip hampir-hampir tak tergantikan dalam tentara, sehingga pemerintah lalu mengangkatnya kembali menjadi kepala staf tentara.

Sebelumnya pada tanggal 19 Februari 1946, Kementrian Pertahanan dibawah Amir Sjarifuddin juga membentuk Staf Pendidikan Politik untuk tentara yang gunanya adalah menghapuskan “jejak-jejak” kolonialisme-feodalisme bagi mantan perwira KNIL dan fasisme bagi mantan perwira PETA. Staf pendidikan tersebut diantaranya terdiri dari Soekono Djojopraktinjo (Partai Sosialis), Anwar Tjokroaminoto (Masyumi), Wijono (Partai Sosialis), Mustopo (non-partisan), Farid Ma’roef (Masyumi) dan Soemarsono (Partai Sosialis). Dalam kelompok ini Partai Sosialis dan Masyumi diwakili secara baik, sementara organisasi-organisasi politik yang lainnya tidak.

Kemudian rapat tentara yang kedua diadakan pada tanggal 23 Mei 1946 yang dihadiri oleh para perwira markas besar dan semua panglima divisi serta resimen. Rapat menerima usul-usul reorganisasi yang diajukan oleh Oerip dan menyambut baik pengangkatannya kembali sebagai Kepala Staf. Dan salah satu hasil rapat yang penting adalah membentuk 10 Divisi Teritorial yang diberi nomer dan nama yang berkaitan dengan sejarah pra-kolonial serta mitologi Indonesia sebagai berikut :

(1) Divisi I Siliwangi, dengan panglimanya adalah Mayjend A.H. Nasution, bermarkas di Tasikmalaya
(2) Divisi II Sunan Gunung Jati, Mayjen Abdul Kadir, untuk daerah Cirebon hingga Pekalongan
(3) Divisi III Diponegoro, Mayjen Soedarsono, bermarkas di Jogjakarta
(4) Divisi IV Senopati, Mayjen Soediro, untuk daerah Solo dan sekitarnya
(5) Divisi V Ronggolawe, Mayjen Djatikoesoemo, untuk daerah Cepu dan sekitarnya (awalnya di Mantingan)
(6) Divisi VI Narotama, Mayjend Mayjend Soengkono, untuk daerah Kediri dan sekitarnya
(7) Divisi VII Suropati, Mayjend Imam Soedjai, untuk daerah Malang dan sekitarnya
(8) Divisi VIII Garuda, Kolonel Simbolon, untuk daerah Sumatera Selatan
(9) Divisi IX Banteng, Kolonel Ismail Lengah, untuk daerah Sumatera Tengah
(10) Divisi X Gajah, untuk daerah Sumatera Utara

Sumber Bacaan :

(1) Politik Militer Indonesia. Ulf Sundhaussen. LP3ES. 1986.
(2) Revoloesi Pemoeda. Ben Anderson. Sinar Harapan. 1988.

(Sumber)

Munculnya PRRI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Selama ini kita mengenal PRRI (pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) sebagai suatu pemberontakan yang merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesian (NKRI). Selama ini kita diajarkan untuk menganggap apapun kekuatan yang mengganggu gugat kekuasaan negra dianggap sebagai suatu pemberontakan yang mutlak dianggap salah.Kita tidak pernah melihat ada apa dibalik pemberontakan tersebut dan apa yang menyebabkannya muncul. Selama ini kita hanya disuguhi suatu doktrin yang menganggap semua gerakan yang memprotes dan tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat dianggap sebagai suatu gerakan makar.

Ini juga terjadi pada gerakan PRRI. Selama ini kita tidak tahu atau tepatnya kurang peduli ada apa dibalik munculnya gerakan ini dan mengapa kita mengenalnya hanya sebagai pemberontakan yang membahayakan kedaulatan NKRI. Adakah suatu permainan dibalik ini, apakah PRRI benar-benar sebagai suatu gerakan pemberontakan ataukah PRRI merupakan suatu perjuangan bangsa untuk menegakkan demokrasi. Semua itu masih menjadi bahan perdebatan dari kalangan-kalangan yang memiliki suatu pandangan yang berbeda.

B. Tujuan Pembahasan Masalah

Selama ini kita hanya menganggap bahwa suatu gerakan pemberontakan adalah suatu gerakan yang harus dihancurkan demi keutuhan NKRI lain itu kita kurang peduli. Harusnya kita lebih bijak dalam melihat suatu pemberontakan, agar kita dapat mengambil hikmah dari pemberontakan tersebut. Untuk itu kita harus melihat suatu pemberontakan dari berbagai sudut pandang. Kita harus tahu apa latar belakang pemberontakan ini sehingga kita dapat menentukan apakah ini benar-benar suatu pemberontakan ataukah hanya sebuah reaksi dari bangsa Indonesia dari penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh pemerintah pusat sehingga kita tidak akan gegabah dalam menentukan sikap kita pada gerakan ini dan tidak salah bertindak. Maka jatuhnya korban tak bersalah dapat dihindari sehingga tidak muncul trauma dalam diri penerus bangsa Indonesia yang mungkin saja dapat memunculkan pemberontakan baru. Dengan demikian kita dapat menjaga persatuan seluruh banhsa Indonesia.

C. Perumusan Masalah

Dalam makalah ini kita akan membahas tentang PRRI yang selama ini kita anggap mutlak sebagai suatu pemberontakan. Kita akan membahas apakah benar PRRI adalah pemberontakan. Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang:
1. Bagaimana PRRI muncul?
2. Bagaimana reaksi Pemerintah Pusat pada keberadaan PRRI?
3. Dapatkah PRRI dianggap sebagai suatu pemberontakan?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Munculnya PRRI

Munculnya PRRI atau Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia adalah suatu reaksi dari bangsa Indonesia atasa ketidak puasan pada pemerintah pusat. Pergolakan pertama kali terjadi di Sumatra pada akhirnya 1956. Pada awal 1957, muncul Dewan Banteng di Sumatra Tengah (Sumatra Barat dan Riau) dipimpin Letkol Ahmad Husein, Dewan Gajah di Sumatra Utara dipimpin Kolonel M Simbolon dan Dewan Garuda di Sumatra Tengah dipimpin oleh Letkol Barlian kesemuanya tergabung dalam PRRI.

Dewan-dewan ini lahir sebagai reaksi dari situasi bangsa dan negara ketika itu. Awal pemberontakan PRRI di Sumatra Tengah terjadi menjelang pembentukan Republik Indonesia Serkat (RIS) pada tahun 1949. Penciutan Divisi Banteng pada Oktober 1949 menjadi satu brigade terdiri atas batalyon-batalyon besar di Sumatra Tengah. Akibatnya sejumlah prajurit terpaksa pulang kampung termasuk Ahmad Husein. Selain itu, pembangunan di Sumatra Tengah terasa sangat lambat dan menghadapi masalah.

Keadaan ini juga menggugah hati sejumlah perwira bekas Divisi Banteng yang masih bertugas. Selain itu juga menggugah berbagai tokoh politik dan sasta yang pernah bergabung dengan Divisi Banteng. Keprihatinan ini melahirkan gagasan mencari penyelesaian dengan mengadakan pertemuan pada 21 September 1956 di kompleks perumahan Persari milik Jamaludin Malik di Jakarta. Kemudian disusul dengan reuni di Padang 11 Oktober 1956 dan menyusul pertemuan-pertemuan yang lain. Reuni divisi Banteng ini menghasilkan keputusan untuk menyelesaikan masalah-masalah negara terutama perbaikan progressive di tubuh angkatan darat diantaranya adalah dengan menetapkan peabat-pejabat daerah yang jujur dan kreatif, menuntut agar diberi otonomi luas untuk daerah Sumatra tengah serta menuntut ditetapkannya eks Divisi Banteng Sumatra Tengah yang diciutkan menjadi kesatuan pelaksana Proklamasi sebagai satu korps dalam angkatan darat.

Pada tanggal 22 Desember 1956 Kolonel Simbolon pemimpin Dewan Gajah melalui RRI Medan mengumumkan pemutusan hubungan wilayah bukit barisan dengan pemerintah pusat. Ia mengubah nama kodam TT I menjadi Kodam TT I Bukit Barisan. Dia melihat pada permasalahan kesejahteraan danb perumahan prajurit yang sangat memprihatinkan. Karena keterbatasan dana dari pusat maka Kolonel Simbolon mencari jalan sendiri membangun asrama dan perumahan prajurit. Dia mencari dana sendiri namun sayang cara yang digunakan adalah cara illegal. Dia menjual secara illegal hasil perkebunan di wilayah Sumatra Utara. Ekspor hasil perkebunan dijual melalui Teluk Nibungh di Muara Sungai Asahan Tanjung Balai. Namun, pers ibukota memberitakan penyulundupan itu dan kasad memerintahkan pemeriksaan pada ksus ini. Kasad pun bermaksud menggantikan panglima TT I Bukit Barisan dengan kolonel Lubis. Melihat situasi yang gawat, simbolon mengadakan rapat perwira yang disebut “Ikrar 4 Desember 1956”. Pada 27 Desember 1956 subuh, simbolon menerima berita ada pasukan yang diperintahkan menangkapnya. Dengan perlindungan dari Batalyon 132 dibawah Kapten Sinta Pohan, dia bergerak ke Tapanuli bergabung dengan Resimen III Mayor J Samosir.

Di Sumatra Selatan Dewan Garuda menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertemuan tokoh-tokoh militer di wilayah tersebut. Ini berlangsung menjelang Musyawarah Nasional September 1957 dan melahirkan Piagam Palembang sebagai dasar perjuangan bersama dari daerah-daerah bergolak. Namun sebenarnya dalam tubuh Dewan garuda terjadi keretakan. Dewan Garuda bersifat mendua. Ini disebabkan tokoh-tokoh militer masih berhubungan dengan kasad sehingga segala perkembangan Dewan garuda Dapat diketahui oleh pemerintah pusat di Jakarta. Tetapi dilain fihak Dewan Garuda juga memihak pada dewan Banteng. Keretakan ini juga mengakibatkan pada saat konflik bersenjata antara PRRI dengan pemerintash pusat Dewan Garuda memihak pada pemerintah Pusat.

PRRI membentuk Dewan Perjuangan dan tidak mengakui kabinet Djuanda. Dewan Perjuangan PRRI membentuk Kabinet baru, Kabinet Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (Kabinet PRRI). Pembentukan kabinet ini berlangsung saat Persiden Soekarno sedang berada di Tokyo, Jepang. Pada tanggal 10 Februari 1958 sebuah Dewan Perjuangan melalui RRI Padang mengeluarkan pernyataan “Piagam Jakarta” yang berisi sejumlah tuntutan yang ditujukan pada Persiden Soekarno agar “bersedia kembali kepada kedudukan yang konstitusional menghapus segala akibat dan tindakan yang melanggar UUD 1945 serta membuktikan kesediaannya itu dengan kata dan perbuatan…”. Tuntutan tersebut diantaranya adalah:
1. Supaya kabinet Djuanda mengundurkan diri dan mengembalikan mandatnya pada Persiden.
2. Agar pejabat persiden Sartono membentuk kabinet baru Zaken kabinet nasional yang bebas dari pengaruh komunis dibawah Mohammad Hatta dan Hamengkubuwono IX.
3. Agar kabinet baru diberi mandat sepenuhnya untuk bekerja sampai pemilihan umum yang akan dating.
4. Agar Persiden Soekarno membetasi diri menurut konstitusi.
5. Apabila tuntutan diatas tidak dipenuhi dalam tempo 5×24 jam maka Dewan Perjuangan akan mengambil langkah kebijakan sendiri.

Tuntutan-tuntutan ini ditolak oleh pemerintah pusat. Reaksi dari PRRI adalah dengan mengumumkan pendirian Pemerintahan Tandingan yaitu Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) lengkap dengan kabinetnya pada tanggal 15 Februari 1958. Susunan Kabinet PRRI adalah sebagai berikut:
1. Syarifuddin Prawiranegara sebagai Perdana Mentri dan Mentri Keuangan.
2. M Simbolon sebagai Mentri Luar Negri.
3. Burhanudin Harahap sebagai Mentri Pertahanan dan mentri kehakiman.
4. Dr. Sumitro Djojohadikusumo sebagai Mentri Perhubungan/Pelayaran.

B. Reaksi Pemerintah Pusat

Tuntutan Dewan Perjuangan ini dikumandangkan saat Persiden Soekarno sedang tidak ada di tempat. Beliau sedang berada di Tokyo, Jepang. Maka Kabinet Djuanda segera mengambil keputusan. Tuntutan PRRI ini ditolak dan sehari setelah pengambilan keputusan, keputusan disiarkan melalui radio dan perintah-perintah selanjutnya dikeluarkan yakni semua tuntutan Dewan Perjuangan ditolak dan sejalan dengan itu diambil keputusan memutuskan hubungan darat dan udara dengan Sumatra. Kemudian diikuti dengan pembekuan komando militer di Sumatra (TT I Sumatra Utara dan TT II Sumatra Selatan) dan seterusnya.

Setelah Persiden Soekarno kembali dari luar negri pada 16 Februari 1958 Persiden Soekarno menyatakan “Kita harus menghadapi penyelewengan tanggal 5 Februari 1958 di Padang dengan segala kekuatan yang ada pada kita”. Diputuskan akan menggunakan kekerasan senjata untuk menghadapi Dewan Kabinet PRRI. Persiden Soekarno memerintahkan untuk menangkap tokoh-tokoh PRRI. Hubungan darat maupun udara dengan Sumatra Tengah dihentikan.

Tidak semua tokoh dalam pemerintah pusat setuju dengan keputusan ini. Salah seorang yang menentang keputusan ini adalah Mohammad Hatta. Sebagai Wakil Persiden dia muncul ke depan menentang keputusan ini. Dia mengirim utusan ke Padang untuk menemui Ahmad Husein dan meminta agar Dewan Banteng menghindari konflik bersenjata dengan pemerintah pusat namun entah mengapa utusan ini tidak pernah sampai ke Padang. Karena pengiriman utusan gagal maka Mohammad Hatta berusaha untuk mendekati Persiden Soekarno agar mengurungkan niatnya agar tidak meletus perang saudara. Namun usaha ini juga gagal. Pada tanggal 20 dan 21 Februari 1958 serangan ke Padang dimulai. Serangan dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani dengan diangkat menjadi Komandan Komando Operasi 17 Agustus. PRRI mendapat dukungan rakyat Sumatra Tengah.

Serangan dilaksanakan. Pemerintah pusat menyerantg Padang. Padang dijatuhi bom-bom yang mengakibatkan kota ini hancur. Banyak rakyat padang yang mengungsi ke daerah Solok dengan membawa barang-barang seadanya yang dapat ibawa. Tokoh-tokoh PRRI ditangkap. PRRI mendapat dukungan Permesta. Akhirnya PRRI dapat ditumpas. Setelah PRRI berhasil ditumpas maka untuk mencegah munculnya pemberontakan serupa Suprapto diangkat menjadi Deputi Republik Indonesia Staf Angkatan Darat Untuk Wilayah Sumatra yang bermarkas di Medan. Peristiwa ini meninggalkan trauma bagi rakyat Sumatra.

C. Antara Perjuangan dan Pemberontakan

Batas antara benar dan salah sangatlah tipis, tergantung dari sudut pandang mana kita melihat. Demikian juga batas antara perjuangan dan pemberontakan. Mungkin akan lebih mudah bila kita hanya melihat dari satu sudut pandang saja. Perkara seakan-akan terlihat jelas dan mutlak. Namun masalah akan muncul saat kita melihatnya dari berbagai sudut pandang. Bisa saja pendapat satu dengan pendapat yang lain dapat berbeda. Demikian juga dalam perjuangan dan pemberontakan. Jika kita melihat hanya dari satu sudut pandang saja akan mudah menentukan suatu gerakan sebagai pemberontakan maupun perjuangan. Namun jika kita melihatnya dari berbagai sudut pandang akan sangat sulit menentukan apakah itu suatu perjuangan atau pemberontakan.

Keadaan ini juga muncul dalam kajian tentang gerakan PRRI. Dari sudut pandang pemerintah pusat jelaslah itu suatu pemberontakan namun jika kita melihatnya dari sudut pandang PRRI kita akan melihatnya sebagai suatu perjuangan.

PRRI adalah hasil akumulasi kekecewaan daerah terhadap pemerintah pusat dan juga kekecewaan anggota resimen 6 Divisi IX Banteng yang dibonsaikan oleh pemerintah pusat. PRRI menganggap terjadi kesenjangan pembangunan antara Jawa dan Luar Jawa. Keadaan ini menimbulkan kekecewaan dalam diri perwira-perwira PRRI. Namun sebenarnya kesenjangan ini dapat difahami memngingat umur RI yang masih tergolong muda untuk suatu negara pada saat itu tidaklah mungkin untuk melakukan pembangunan secara merata pada seluruh wilayah Indonesia. Selain keterbatasan waktu, keterbatasan dana juga mempengaruhi kesenjangan ini.

Karena perekonomian RI pada masa itu masih lemah maka RI terfokus terlebih dahulu pada Jawa sebagai pusat pemerintahan Indonesia. Jadi alasan ini kurang tepat digunakan PRRI untuk melegalkan gerakannya, apalagi pada masa itu masih ada daerah-daerah di Jawa yang belum tersentuh pembangunan. Selain itu pemberontakan PRRI muncul karena terjadi penciutan divisi Banteng menjadi satu brigade. Sebenarnya penciutan ini bukan tanpa alasan. Pemerintah pusat menganggap jumlah prajurit pada waktu itu di Indonesia terlampau banyak sehingga pemerintah tidak dapat mendanainya maka diperlukan adanya perampingan jumlah prajurit.

Kurang bijak jika PRRI menggunakan alasan ini untuk melakukan gugatan pada pemerintah. Namunm kesalahan Pemerintah pusat adaklah mengapa pemerntah pusat menghapus komando dari divisi Banteng. Padahal selama ini di daerah Sumatra Barat divisi inil;ah yang terbesar dan sangat berjasa bagi perjuangan Indonesia. Seharusnya Pemerintah Pusat tetap mempertahankan komando dari Divisi Banteng ini walaupun jumlahnya diperkecil. Dengan demikian akan dapat mewngurangi konflik yang akan muncul.

Alasan lain dari munculnya PRRI ini adalah pelanggaran konstitusi oleh pemerintah pusat dan Persiden Soekarno. Alasan ini lebih relevan jika digunakan oleh PRRI untuk melegalkan gerakannya, mengingat Persiden Soekarno yang melakukan eksperimen politik untuk menemukan bentuk pemerintahan yang cocok dengan bangsa Indonesia. Namun Persiden Soekarno tidak sadar bahwa berganti-gantinya bentuk pemerintahan ini tidak sepenuhnya dapat diikuti oleh bangsa Indonesia sehingga terjadi berbagai pelanggaran pada UUD1945 sebagai dasar bangsa Indonesia Merdeka. Pelanggaran-pelanggaran inilah yang memunculkan ketidak puasaan daerah. Muncul keinginan daerah untuk meluruskan kembali pemerintah pusat sehuinggta muncul gerakan-gerakan. Keadaan menjadi semakin parah dengan merasuknya pengaruh komunis dalam pemerintah pusat yang terlihat dalam faham nasakom yang dicanangkan oleh Persiden Soekarno.

Keadaan inilah yang menjadikan gerakan PRRI muncul. PRRI sangat anti pada komunis. PRRI menyampaikan tuntutannya dalam Piagam perjuangan. Tuntutan-tuntutan tersebut bersifat memaksa maka pemerintah pusat menganggapnya sebagai ultimatum, namun PRRI tidak menganggap tuntutan tersebut sebagai ultimatum. Dari kalimat “Apabila tuntutan diatas tidak dipenuhi dalam tempo 5×24 jam, maka Dewan Perjuangan akan mengambil langkah kebijakan sendiri” terlihat bahwa tuntutan ini bersifat memaksa dan tepat jika dikatakan sebagai sebuah ultimatum, walaupun PRRI tidak mengakuinya. Daerah berani mengultimatum pemerintah pusat itu sudah merupakan pemberontakan pada kekuasaan pusat . Maka pemerintahpun bereaksi keras. Namun reaksi pemerintahpun kurang bijak. Harusnya pemerintah pusatpun harus instropeksi diri terlebih dahulu. Pemerintah pusat hanya melakukan sedikit usaha damai yang tidak ada artinya sama sekali sehingga pnumpasanpun dilaksanakan.

Disini dapat kita lihat fihak sentral yang bertikai adalah pemerintah pusat dan daerah. Ketidakpuasan daerah pada kebijakan pusat mengakibatkan kekecewaan yang mendalam dalam diri daerah. Ketika kekecewaan daerah memuncak. Daerah berani mengajukan tuntutannya pada pusat yang bersifat ultimatum. Jelaslah pemerintah pusat menganggapnya sebagai pemberontakan. Apalagi PRRI berani mendirikan pemerintah tandingan lengkap dengan susunan kabinetnya. Pembentukan pemerintah tandingan ini juga sebagai salah satu tanda suatu pemberontakan. Tidak ada dalam satu negara memiliki dua pemerintah pusat. Hanya ada satu pemerintah yang syah sedangkan sisanya ilegal. Ini merupakan suatu usaha kudeta. Jelaslah ini suatu pemberontakan pada pemerintah pusat.

Namun jika gerakan ini disebut sebagai pemberontakan tampaknya juga kurang tepat. Jika ini suatu pemberontakan maka mereka akan berusaha untuk membentuk pemerintahan baru dan menggulingkan Sang Penguasa. Namun disini PRRI tidak berusaha untuk menggulingkan Pesiden Soekarno. Tepatkah gerakan ini dianggap sebagai gerakan pemberontakan. Apalagi gerakan ini tidak hanya berasal dari golongan politik dan militer saja tetapi juga berasal dari golongan-golongan lain misalnya golongan pendidikan. Gerakan ini hanya berusaha untuk memperbaiki keadaan Indonesia, meluruskan pemerintah pusat agar sejalan dengan cita-cita bangsa Indonesia merdeka.

Pada masa sebelumnya di Wilayah Sumatra tengah inilah Indonesia dapat mempertahankan kemerdekaannya dari tangan pemerintah Hindia Belanda yang berusaha merangkul kembali Indonesia menjadi Negara jajahannya. Di daerah inlah dibentuk Pemrintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) untuk mengisi kevakuman pemerintah Pusat di Yogyakarta sehingga Republik Indonesia tetap memiliki pemerintahan sendiri walaupun para pemimpinnya sedang ditahan sehingga Indonesia tetap merdeka. Dengan perannya selama ini Padang masih merasa memiliki hak untuk melakukan koreksi pada pemerintah pusat. Dengan demikian PRRI merasa memiliki hak untuk mengkoreksi Pemerintah Pusat yang kebijakannya dianggap salah oleh PRRI. PRRI merasa apa yang dilakukannya tidak bertentangan dengan hukum dan bukan merupakan suatu pemberontakan.

PRRI hanya menginginkan perbaikan dalam tubuh pemerintah dan tentara yang menurutnya tidak adil dan telah terkontaminasi oleh faham-faham komunis. Dilihat dari sini kita akan melihat bahwa PRRI merupakan suatu perjuangan untuk melaksanakan cita-cita bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang demokratis yang memiliki pemerintahan yang adil. Hanya saja Pemerintah Pusat beranggapan lain. Pemerintah Pusat menganggap Padang tidak lagi memiliki hak untuk mengkoreksi pemerintah pusat. Jika ingin mengkoreksi ada jalur tersendiri. Rakyat bisa menyalurkannya lewat wakil-wakilnya, namun pada masa itu jalur itu memang kurang dapat berjalan dengan baik. Akibatnya pemerintah pusat menganggap gerakan ini sebagai gerakan pemberontakan. Anggapan ini diperkuat dengan indikasi adanya bantuan Amerika Serikat pada PRRI (walau saat pergolakan terjadi bantuan dihentikan). Tanpa berpikir panjang Pemerintah Pusat melakukan penumpasan.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa dari sudut pandang yang berbeda akan diperoleh jawaban yang berbeda pula. Dari sudut pandang pemerintah pusat PRRI jelaslah sebagai suatu pemberontakan. Jika dilihat dari sudut pandang PRRI maka PRRI merupakan sebuah perjuangan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Awal tahun 1957 muncul Dewan Banteng, Dewan Gajah dan Dewan Garuda semuanya bergabung dalam PRRI. Awal pemberontakan ini mulai muncul menjelang pembentukan RIS pada tahun 1949. Ini terjadi saat Divisi banteng diciutkan. Faktor lain yang mendorong munculnya pemberontakan ini adalah kesenjangan pusat dan daerah selain itu juga adanya pengaruh PKI dalam pemerintah pusat yang menimbulkan kekecewaan daerah yang bereaksi menjadi suatu pemberontakan. PRRI tidak mengakui Dewan Djuanda. PRRI membentuk Dewan Revolusioner yang mengajukan tuntutan pada pemerintah pusat yang kemudian ditolak. PRRI membentuk Pemerintahan tandingan lengkap dengan kabinetnya. PRRI memperoleh dukungan rakyat dan permesta. Pada gerakan ini pemerintah pusat bereaksi keras. Pemerintah pusat melakukan penumpasan. Akibatnya timbul trauma dalam masyarakat Sumatra teryutama Padang.

Sebenarnya gerakan ini merupakan reaksi dari kekecewaan daerah pada pusat. Ini karena pemerintah pusat memfokuskan pembangunannya di pulau Jawa. Selain itu juga terjadi pengurangan jumlah tentara dan PKI telah merasuk dalam pemerintah pusat. Keadaan ini diperparah dengan pelanggaran konstitusi oleh pejabat-pejabat di dalam pemerintah pusat tidak terkecuali Persiden Soekarno. Dengan perannya sebelumnya sebagai daerah dimana PDRI berada maka PRRI merasa memiliki hak untuk melakukan koreksi pada pemerintah pusat walaupun sebenarnya pemerintah pusat tidak lagi beranggapasn seperti itu. Walaupun alasan dari gerakan ini benar namun jalan yang digunakan PRRI kurang tepat. PRRI menuntut pada pemerintah dengan nada paksaan sehingga tuntutannya lebih bersifat ultimatum. Ini menimbulkan kesan PRRI adalah sebuah pemberontakan. Namun begitu PRRI kurang tepat jika dikatakan sebagai pemberontakan karena PRRI tidak bertujuan untuk menggulingkan pemerintah pusat namun hanya ingin melakukan perbaikan pada diri pemerintah pusat.

C. Saran

Dalam menyikapi gerakan ini kita harus lebih bijaksana. Usahakan jalan damai untuk menyelesaikannya. Pemerintah harus instrospeksi diri, apa yang salah dalam pemerintahannya lalu memperbaikinya. Namun PRRI juga harus memahami keadaan Negara jadi PRRI jangan terlalu menuntut pada pemerintah jika keadaan kurang memungkinkan.

DAFTAR PUSTAKA

G. Moedjanto, M.A, Drs. 1988. Indonesia Abad Ke 20 Dari Perang Kemerdekaan Pertama Kemerdekaan Pertama Sampai PELITA III. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Syamdani. 2001. Kontroversi Sejarah di Indonesia. Jakarta: P.T. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Id.wikipedia.org.
Kontak.club. Fr/ Renungan.

(Sumber)

Laksamana Muda John Lie

JOHN LIE lahir dari keluarga Tionghoa di Manado 9 Maret 1911 ini awalnya merupakan mualim pada pelayaran niaga milik Belanda, Koninklijke Paketvaart Maatchappij (KPM), yang kemudian bergabung dengan ALRI. Pada masa John Lie bertugas di Cilacap, beliau berhasil membersihkan ranjau yang ditanam oleh Jepang untuk menghalau pasukan sekutu, sehingga atas jasanya ini, pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor. Dengan menggunakan kapal motor cepat bernama “The Outlaw”, dengan gagah beraninya beliau menembus blokade laut yang dilakukan AL Belanda di sekitar perairan Selat Malaka. Antara kurun waktu 1947 hingga 1949, John Lie berhasil memasok sejumlah besar senjata, amunisi dan obat-obatan kepada para pejuang dan rakyat di Sumatera. Berkat keberaniannya tersebut, “The Outlaw” dijuluki Radio BBC Inggris sebagai “The Black Speedboat” karena kemampuannya beroperasi di malam hari tanpa penerangan dan tidak pernah tertangkap Belanda. Paling sedikitnya sebanyak 15 kali John Lie berhasil melakukan operasi menembus Blokade Belanda.

Semangat Patriotisme

“Siapakah orang pribumi dan non pribumi itu? Orang pribumi adalah orang–orang yang jelas–jelas membela kepentingan negara dan bangsa. Sedangkan non pribumi adalah adalah mereka yang suka korupsi, suka pungli, suka memeras dan melakukan subversi. Mereka itu sama juga menusuk kita dari belakang. Pada hakikatnya mereka tidak mementingkan apalagi membela nasib bangsa kita. Mereka adalah pengkhianat–pengkhianat bangsa. Jadi soal pribumi dan non pribumi bukannya dilihat dari suku bangsa dan keturunan melainkan dari sudut pandang kepentingan siapa yang mereka bela.” Pendapat tersebut diungkapkan oleh seorang anak bangsa Laksamana Muda John Lie yang melalui Keputusan Presidium Kabinet No.127/U/Kep/12/1966 dirubah namanya menjadi Jahja Daniel Dharma.

Jiwa nasionalismenya tumbuh seperti apa yang dikatakan Lie dalam majalah LIFE, 26 Oktober 1949:

“When I was a boy, Lie says, “I did wrong. The Lord told me to move on, and I went to the sea. I spent 15 years on Dutch sailing between Durban and Shanghai. But I saw Dutch did wrong, so once again I moved on. I went to the Holy Land. The Gold told me to go home and help make Indonesia a Garden of Eden.” It is this that keeps Lie shuttling back and forth on his dangerous voyage, running in arms and bringing out raw materials such as rubber to pay for them.

Selanjutnya Roy Rowan dalam majalah tersebut mengatakan:

His stand recalled the basic government, which begun shortly after the war ended in the Pacific, over whether the Dutch were imposing a trade restriction or a blockade againts Indonesia. Believeng the Dutch were trying to struggle Indonesian Independence, Lie begun his smuggling career. He prays that his country will some day be transformed from “wild jungle” into a “Garden of Eden”. But he declares vehemntly “there can be no Dutchmen in a Garden of Eden”.

John Lie berpikir, seandainya nanti Indonesia diserang siapa yang akan membela? Siapa lagi kalau bukan putra putrinya! Oleh karena itu beliau sempatkan belajar di Singapura untuk: belajar dari Royal Navy tentang pengamanan dan penyapuan ranjau, belajar taktik pertempuran laut dengan mengingat kembali Perang Dunia II yang meliputi: peranan dan tugas dalam logistic ship, taktik perang laut dimana beliau juga menanamkan pentingnya indonesia memiliki kapal–kapal yang bisa digunakan untuk bergerilya di lautan, serta belajar bergaul dan bersahabat dengan tujuan untuk mempertahankan kemerdekaan RI yang dapat menggugah semangat para pemuda untuk bersukarela berjuang melawan penjajah.

Penumpasan RMS

Menyikapi kegagalan misi perdamaian dan sikap membangkang yang ditunjukan oleh RMS, pemerintah memerintahkan untuk menumpas pemberontakan tersebut. Pada tanggal 1 Mei 1950 Menpangal R.Soebijakto memerintahkan kapal perang ALRI untuk melaksanakan blokade di perairan Ambon. Pelaksanaan blokade oleh kapal–kapal korvet RI Rajawali dengan Komandan Mayor (P) John Lie, RI Pati Unus dengan Komandan Kapten S.Gino, RI Hang Tuah dengan Komandan Mayor Simanjuntak. Pendaratan di P.Buru dilaksanakan tanggal 13 Juli 1950 dan ALRI mengerahkan kekuatan eskader-eskader ALRI di bawah Komando Mayor Pelaut John Lie, dilanjutkan dengan pendaratan di P.Seram dan P.Piru. Melalui tiga titik pendaratan ini yang dibantu dengan kekuatan gabungan TNI, pasukan RMS mulai terdesak, tetapi ada sebagian kota pesisir yang masih mereka kuasai.

Akhirnya pendaratan penyerbuan dilaksanakan melibatkan ketiga angkatan. Dari ALRI di bawah Komandan Mayor (P) John Lie, terdiri dari RI Rajawali, RI Hangtuah, RI Banteng, RI Patiunus, RI Namlea, RI Piru, RI Andhis, RI Anggang, RI Amahi, kapal rumah sakit, 10 LCVP, 3 buah LCM, 2 LST, 3 KM. Pada tanggal 15 November 1950, pembersihan dalam kota Ambon selesai.

Penumpasan DI/TII

Pemberontakan Darul Islam / Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pertama kali muncul di Jawa Barat pada tahun 1949 di bawah pimpinan Kartosuwiryo. Namun kemudian pengaruh DI meluas hingga ke Aceh pada tahun 1950 dipimpin oleh Teuku Daud Beureuh dan di Sulawesi Selatan pada tahun 1953 di bawah pimpinan Abdul Qahhar Mudzakkar. Untuk menumpas pemberontakan tersebut, pemerintah menggelar operasi militer dan operasi pemulihan keamanan yang melibatkan seluruh elemen pertahanan terkait, termasuk ALRI yang menggelar operasi patroli pantai dipimpin oleh Mayor (P) John Lie.

Operasi penumpasan di Sulawesi adalah Operasi Tri Tunggal, Operasi Malino dan Operasi Jaya Sakti bulan Oktober 1955. Dalam operasi ini, ALRI melibatkan beberapa kapal perang, di antaranya RI Rajawali dan 1 kompi KKO AL serta didukung oleh sebuah kapal angkut milik jawatan pelayaran. Dalam Operasi Tri Tunggal, diadakan pendaratan di sekitar Sungai Wawo, Sulawesi Tenggara. Operasi keamanan di Malino dilaksanakan oleh Datasemen KKO AL untuk mengamankan jalan raya antara Makassar dengan Malino. Operasi Jaya Sakti bertujuan untuk melaksanakan patroli keamanan wilayah dan pembersihan sisa-sisa pengikut DI/TII oleh 1 kompi pasukan KKO AL.

Penumpasan PRRI / Permesta

Pemerintah menggelar operasi untuk menumpas Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia di Sumatera dan Perjuangan Semesta di Sulawesi tahun 1958 dengan Komandan Operasi Kolonel Ahmad Yani, Wadan I Letkol (P) John Lie, Wadan II Letkol (U) Wiriadinata. Pada dasarnya terdapat 3 kegiatan pokok operasi pendaratan untuk menumpas PRRI yaitu Operasi Tegas, Operasi 17 Agustus dan Operasi Kurusetra. Operasi Tegas merupakan operasi gabungan untuk merebut Riau Daratan. Dalam proses ini ALRI membentuk Amphibious Task Group-27 I (ATG-27 I). Unsur ALRI yang terlibat diantaranya RI Banteng, RI Sawega, 2 kapal baru selam, 3 Penyapu Ranjau serta 1 kompi KKO AL. Operasi 17 Agustus bertugas menghancurkan pemberontak di Sumatra Barat. Dalam Operasi ini ALRI membentuk Amphibious Task Force-17 (ATF-17) yang dipimpin Letkol (P) John Lie, dan melibatkan RI Gajah Mada, RI Banteng, RI Pati Unus, RI Cepu, RI Sawega dan RI Baumasepe, serta 1 Yon KKO AL. Kapal-kapal melakukan bombardemen sekitar Kota Padang dan kemudian mengadakan operasi pendaratan pasukan KKO AL. Operasi Kurusetra merupakan operasi pembersihan sisa-sisa pemberontak di Air Bangis, Sasak dan Pasaman. Untuk pendaratan di tempat tersebut, ALRI membentuk Amphibious Task Unit-42 (ATU-42). Unsur ALRI yang terlibat di antaranya RI Katula, RI Lajuru, RI Lapai dan 1 kompi KKO AL. Pasukan KKO AL berhasil menghancurkan basis pemberontak di sepanjang Air Bangis dan Pasaman. Operasi-operasi tersebut berhasil menghancurkan kekuatan moril dan militer PRRI.

Setelah Permesta 1958 – 1959, John Lie setahun berada di India dalam tugas belajar di Defence Service Staff College, Wellington South India. Tahun 1960, John Lie menjadi anggota DPR GR dari Angkatan Laut. Tahun 1960 – 1966 menjadi Kepala Inspektur Pengangkatan Kerangka – Kerangka Kapal di seluruh Indonesia. Sebelumnya, pada Tanggal 5 Oktober 1961, Presiden Soekarno menganugerahkan tanda jasa Pahlawan kepadanya.

Itulah John Lie, pejuang prajurit dan prajurit pejuang, yang walaupun hanya lulusan akademi revolusi fisik dan tak pernah menduduki bangku Akademi Angkatan Laut, Seskoal dan Lemhanas, namun telah berjasa amat besar bagi bangsa dan negara.

Kesimpulan

Semangat patriotisme John Lie yang sebelum masuk Angkatan Laut sudah berjuang menyelundupkan senjata untuk perjuangan bangsa membuatnya dijuluki “The Great Smuggler with Bible”.

John Lie adalah seorang nasionalis yang mencintai dan menempatkan negara dan bangsa di atas segala–galanya dan rela mengorbankan jiwa dan raganya dalam melawan blokade Belanda, penumpasan RMS & PRRI/Permesta. John Lie dikenal sebagai orang yang jujur, sederhana dan sangat memperhatikan kesejahteraan anak buahnya. (Sumber)

Harimau Kuranji

Peristiwa Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) diberi stigma pemberontakan”; sesuatu yang setidaknya hingga akhir tahun 1970-an menimbulkan perasaan traumatik dalam diri masyarakat Sumatera Barat. Perasaan rendah diri sebagai komunitas yang telah dikalahkan dan dengan sendirinya selalu dipojokkan. Mentor dari peristiwa itu, Ahmad Husein, dalam pelajaran di sekolah-sekolah dicap sebagai “pemberontak”.
***
Ahmad Husein dilahirkan di Padang pada 1 April 1925, dalam lingkungan keluarga usahawan Muhammadiyah. Pada tahun 1943 di usia yang masih sangat muda (18 tahun), Husein bergabung dengan Gyugun. Berkat kecerdasan dan keterampilannya, ia menjadi perwira termuda Gyugun di Sumatera Barat. Pada saat revolusi, Husien aktif merekrut anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan menjadikan rumah orangtuanya sebagai markas sementara BKR.

Selanjutnya, perannya dalam perjuangan makin menonjol ketika ia menjadi Komandan Kompi Harimau Kuranji dan kemudian Batalyon I Padang Area. Pasukan Harimau Kuranji begitu populer karena keberaniannya di medan pertempuran menghadapi Inggris dan Belanda.

Meroketnya Divisi IX/banteng sebagai kesatuan terbaik di Sumatera pada masa revolusi fisik. Pada pertengahan tahun 1947 terjadi reorganisasi tentara, Husein dipromosikan menjadi Komandan Resimen III/Harimau Kuranji yang membawahi tiga ribu pasukan.

Kekecewaan Ahmad Husein dan kawan-kawan bermula ketika Tentara Republik Indonesia (TRI) berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Konsekuensinya, terjadi efisiensi berupaya penyusutan jumlah anggota besar-besaran.

Husein sendiri merelakan dirinya turun pangkat dari Letkol ke Mayor. Pada masa agresi militer Belanda II, Husein bersama anak buahnya berhasil mengamankan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dari serangan Belanda. Kontak bersenjata menghadapi Belanda beberapa kali terjadi. Dalam pertempuran di Lubuak Selasih 11 Januari 1949, pasukan Husein memperoleh kemenangan.

Di sela-sela perjuangan itulah pada tahun 1951 Husein memasuki fase kedua kehidupannya dengan menyunting Desmaniar, putri Jaksa Idroes.

Prakondisi Peristiwa PRRI yang terjadi sesungguhnya dapat dilacak ketika terjadinya polarisasi Jawa-luar Jawa, dalam realitas politik nasional waktu itu. Hasil Pemilu 1955 menunjukkan bahwa hanya empat partai saja yang memiliki suara yang cukup signifikan, yakni PNI 22 persen, Masyumi 21 persen, NU 18 persen, dan PKI 16 persen.

Tiga partai rulling minorities, PNI, NU, dan PKI adalah partai yang memiliki basis massa yang kuat di Jawa. Sementara, Masyumi untuk sebagian besar memiliki banyak pendukung di luar Jawa.

Konfigurasi dan polarisasi politik Indonesia hasil Pemilu 1955 ini, kelak dapat memberikan penjelasan ketika terjadi pergolakan daerah, di mana terjadi konflik politik-dan juga militer-antara pemerintah pusat di Jawa dengan daerah-daerah di Sumatera dan Sulawesi (PRRI/ Permesta).

Dewan Banteng adalah jembatan yang mengantarkan Husein masuk ke jajaran elite daerah yang memiliki akses ke tingkat nasional. Reuni eks Divisi Banteng beralih pada persoalan yang lebih luas. Peserta menuntut dilaksanakannya segera perbaikan-perbaikan yang progresif dan radikal di segala lapangan, terutama di dalam pimpinan negara dengan jaminan-jaminannya demi keutuhan Negara Republik Indonesia.

Ahmad Husein mengambil alih kekuasaan pemerintahan di Sumatera Tengah pada tanggal 20 Desember 1956. Tindakan Husein segera memancing daerah lain; Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sulawesi, dan Kalimantan, untuk melakukan langkah serupa.

Tanggal 10 Februari 1958, Ahmad Husein atas nama Dewan Perjuangan mengeluarkan “Piagam Perjuangan” yang ditujukan kepada pemerintah pusat. Di dalamnya, ada limit waktu yang harus diperhatikan oleh pusat.

Setelah limit waktu yang diberikan terlewati, lima hari kemudian melalui siaran RRI Husein mengumumkan PRRI. Eksperimentasi Dewan Banteng dalam menjalankan roda pemerintahan secara darurat dalam beberapa hal meningkatkan perekonomian masyarakat.

Perlawanan Husein terhadap pemerintah pusat bukanlah untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan membentuk negara sendiri. Sebagaimana dilaporkan Kedutaan Besar Amerika di Jakarta kepada Departemen Luar Negeri di Washington, Husein mengatakan kepada Hatta, “Kami di Sumatera Tengah, akan berjuang terus untuk mencari Indonesia yang adil dan makmur. Kami akan membuktikan kepada mereka yang tidak percaya bahwa gerakan ini justru mendukung Negara Kesatuan Indonesia (Sumber).

Betulkan Orang Minang Tidak Berani Perang ?

“””Para soldadu PRRI asli Minang ini ternyata hanya pandai berperang  mulut ketimbang bertempur dengan senapan dan sangkur. Mengapa? Karena, kata tetangga itu, mereka lari terbirit-birit mendengar letusan senapan dari pihak tentara Diponegoro. Padahal orang Jawa Tengah ini punya type lebih lembut. Sampai sekarang orang Minang tidak berbakat menjadi manggalayudha (panglima perang). Bukan stereotipikasi ya, lihat saja perawakan orang dari provinsi Sumatra Barat, terlalu lembek, pasti tidak pas untuk jadi anggota militer (meski memang ada beberapa orang asli sini yang jadi jenderal).”””

Sang:

Mesti gimanakah saya menanggapi statement anda Tuan Amir? Duh saya  merasa terhenyak jiwaku dgn ungkapan kalimat demi kalimat anda ttg penilaian bahwa tidak adanya bakat militer orang Minang. Harga diri kami orang Minang terlihat seperti anda pertanyakan� apa telah anda dalami benar sejarah Minangkabau sedalam-dalamnya tuan Amir yg terhormat? Apa sudah dipelajari benar segi militer orang Minang? Apakah sudah diselidiki valid tidaknya segala yg anda dengar itu?

OK-lah, saya nyadari opini anda adalah hasil dari estafet pendapat dari satu mulut ke mulut lain.. Orang Minang emang sepintas  lalu terlihat lembek( sebagian barangkali), lembut dan kurang tegap( apa bener ya?) .. lebih condong ke dagang yg perlu jiwa simpatik dan empatik pada konsumen daripada sifat garang model militer�  Akan tetapi tidakkah anda menyadari ada jiwa dinamis ekspressif proaktif dalam jiwa orang Minang?

Oleh karena itulah tulisan yg lumayan panjang ini akan mencoba menanggapi statement dan komentar anda , apa benar demikian.. terima kasih kalau bersedia membaca hingga akhir tulisan ..

Saya akan bawa anda kepada sejarah masa awal Nusantara , dimulai dari Sriwijaya.. semasa Sriwijaya terbentuk di Palembang tahun 683 M di kedukan Bukit tertera “Dapunta Hyang dari Minanga Tamwan membawa bala tentara dua laksa( dua puluh ribu orang) menuju pelimpang( Palembang) dan membuat wanua( kota)”� Minanga ini menurut orang Palembang adalah daerah pasemah dgn bukit siguntang mahameru , sebagian sejarahwan palembang mengatakan orang palembang sndiri yg melakukan ekspedisi militer bukan sebaliknya, tetapi para arkeolog ( purbacaraka yg sejarahwan Jawa, westenenk sejarawan Belanda)menyatakan bahwa yg dimaksud “MINANGA” adalah daerah antara pertemuan sungai Kampar kiri dan kanan didaerah perbatasan Sumbar, Riau dan Sumut..  Dan tidak mungkin Prasasti ditegakkan ditempat awal mula sebuah ekspedisi perjalanan Militer tetapi mesti ditempat keberhasilan ekspedisi tsb..

Minanga itu adalah daerah Minangkabau Timur dulunya semasa Dapunta  Hyang melakukan ekspedisi militer ke palembang� artinya ORANG MINANGKABAU DAN MELAYU RIAU MELAKUKAN EKSPEDISI MILITER untuk menundukkan Palembang dan membikin kerajaan disana, itulah yg dinamakan ” SRIWIJAYA”�

Sekarang kita ke sejarah Majapahit, thn 1275 M prajurit Jawa Singosari melakukan Ekspedisi pamalayu dan mengadakan persekutuan Militer dgn Melayu, lalu melawatlah dua orang Putri Melayu ke Jawa yaitu Dara Petak dan Dara Jingga asal kerajaan Darmasraya Melayu Minangkabau untuk dipilih oleh Penguasa Jawa jadi Permaisuri demi mengikat persaudaraan, Dara Jingga dipersunting Raden wijaya dan dijadikan permaisuri utama, lahirlah Jayanegara selaku raja majapahit yg ke 2, dia adalah blasteran darah jawa dan melayu Minangkabau.. artinya ada RAJA JAWA MAJAPAHIT BERDARAH MELAYU MINANGKABAU dan kala itu Majapahit mulai melakukan ekspansi militer keberbagai daerah sep Pahang , dompo, borneo, pasai, Palembang, Bali, Celebes, irian, timor.. Siapa yg melakukan? Yaitu Gajah Mada yg bertekad ” Sumpah Palapa”dgn prajurit Jawa, Madura dan  dgn bantuan MANGGALAYUDHA ADITIYAWARMAN YG JAWA MINANGKABAU dgn barisan-barisan Melayu, Minangkabau dan Palembang membantu jawa meluaskan kekuasaan kesegenap penjuru Nusantara.. artinya: KONTRIBUSI PETARUNG MILITER MINANGKABAU IKUT MEMBERI ANDIL BAGI MELUASNYA KEKUASAAN MAJAPAHIT JAWA.. ini yg tidak diketahui kebanyakan orang yg mengira majapahit hanyalah atas usaha orang Jawa semata tanpa bantuan siap-siapa.. Bahkan ketika terjadi pemberontakan Sadeng dan Kuti di Jawa ,prajurit asal melayu dan Minangkabau dikerahkan untuk menumpas sdg prajurit majapahit sudah tidak sanggup mengatasi..  Aditiawarman kembali pulang ke tanah leluhur yaitu Minangkabau dan mendirikan kerajaan baru yaitu PAGARRUYUNG . Tetapi Majapahit mulai berusaha mencengkram lebih keras Pagarruyung  Minangkabau YG AWALNYA ADALAH PARTNER DAN SEKUTU yg semula dipimpin oleh Aditiawarman yg berjasa besar bagi majapahit � selanjutnya apa yg terjadi? Majapahit perang dgn Minangkabau dan melakukan invasi militer ke Pagarruyung Minang tahun 1300an sekian dan dihadang didaerah dekat sawahlunto sijunjung , HASILNYA PRAJURIT MAJAPAHIT JAWA HANCUR BINASA, daerah itu begitu busuknya oleh mayat prajurit Jawa akhirnya dinamakan PADANG SIBUSUK (Aditiawarman sudah lama meninggal kala perang terjadi).. ARTINYA INVASI MILITER MAJAPAHIT GAGAL TOTAL DITANAH MINANG..
 
Nah, mulailah berdatangan pelaut-pelaut asing yaitu Portugis, Belanda,  Inggris dan Prancis ke wilayah Nusantara.. Minangkabau yg berjiwa  pelayar mulai mendapat saingan dagang dari org-org asing.. termasuk padang mulai dilirik VOC Belanda, dan tahun 1665M VOC dgn bantuan org Bugis Mkssar melakukan tindakan militer di padang , dan ditantang oleh orang Pauh Minang dgn sokongan pelaut2 Aceh.. Belanda berhasil di Padang tetapi apa yg terjadi. Apa Belanda enakan dapat hasil jajahan di Padang? Tidak , yg muncul malahan PERANG TERUS MENERUS SELAMA LEBIH 1 ABAD DGN PENDEKAR-PENDEKAR PAUH , KOTO TENGAH, PARIAMAN, PAINAN DAN AIRBAGIS.. perang skala menengah itu terjadi lebih dari 25 kali dr thn 1665 hingga 1789 demi merebut kembali padang, Pariaman, painan dari tangan Belanda VOC.. Usaha ini gagal-berhasil lalu gagal emang tapi hal ini menunjukkan ada SEMANGAT PERANG TINGGI DARI ORANG2 MINANG SELAMA VOC BERKUASA..

Lalu VOC bubar diganti Hindia Belanda abad ke 18.. Paderi Islam fanatik berkuasa di pedalaman Minang sejak thn 1803M,dan ini membikin Kerj.Belanda iri dan bersekutu dgn kaum Adat dilakukan serangan pada basis militer Paderi thn 1821, pecahlah perang yg berlangsung selama 24 thn hingga 1845 , sedang benteng Bonjol pertahanan terkuat Paderi telah jatuh thn 1837M, jadi bukan 16 thn perang berlangsung tp 24 thn yg merupakan SALAH SATU PERANG PALING BERAT BAGI BELANDA SELAMA PERLUASAN KEKUASAAN DI NUSANTARA..

Ada 3 medan perang yg berat bagi Belanda dan bisa menghancurkan kekuatan Militer Hindia Belanda yaitu

  1. Perang Aceh dari thn 1873-1904 bahkan hingga kejatuhan Belanda dari jepang.
  2. Perang Jawa dr thn 1825 hingga 1830, yg memakan korban 15ribu tewas dipihak Belanda.
  3. Perang Paderi di Minangkabau yg dgn susah payah dan kalah- menang juga perlu kerahkan kekuatan penuh selama 24 thn akhirnya belanda baru berhasil kuasai seluruhnya. Semasa perang paderi, belanda perlu mengerahkan tentara Eropa (Tentara belanda sendiri, bekas serdadu napoleon di Jawa, serdadu Inggris bekas bawahan rafless, serdadu bayaran dr Jerman, Prancis, Luxemburg, belgia dll), serdadu Africa( Ghana dan Africa selatan) dan plus petarung2 dari daratan Jawa( barisan Sentot), Pelaut dan warrior Bugis, Ambon, Madura, Batak Animisme dan kaum Adat minang sekutu belanda� Sedang dipihak paderi Islam barisan Tuanku Imam Bonjol dibantu oleh kaum adat berpihak ke Paderi, lalu pelaut Aceh, barisan Batak mandailing Islam dibawah kepemimpinan Tuanku Rao, barisan Riau melayu dipimpin Tuanku Tambusai dan sebagian dari barisan Sentot asal jawa yg berpihak ke Paderi..

Belanda perlu kerahkan 25-35rb pasukan baik reguler, campuran dan  pribumi nusantara dan perlu menurunkan 5 jenderalnya demi menundukkan
Minangkabau yaitu Kom Jend Van Den Bosch( si tanam paksa), Letnan Jend Riesz (jagoan perang Diponegoro), Jend Major Clearens ( yg nangkap Diponegoro) dan Jend major Coghius( panglima paling tinggi Angkatan Darat Hindia Belanda) dan Jend major Hendriks..Barulah ditangan Jend major Coghius ,Belanda berhasil merebut benteng Bonjol thn 1837, dan perang masih berlanjut dlm skala kecil hingga 1845 dgn Jend Major Hendriks selaku pimpinan Militer..  Artinya PETARUNG-PETARUNG MINANG TELAH MEMPERLIHATKAN KEBOLEHAN PERANG SELAMA 24 THN WALAU MENGHADAPI KEKUATAN GABUNGAN EROPA, AFRIKA DAN PRIBUMI NUSANTARA.. APAKAH 24 THN PERANG ADALAH BUKTI TIDAK ADANYA
POTENSI PERANG ORANG MINANG?

Disaat VOC berkuasa di Sulawesi Selatan tanahnya Bugis makassar akibat kemenangan VOC dibantu Arung Palakka menguasai kerajaan Goa Sultan Hasanuddin thn 1669, dan mulailah diaspora dan pelayaran pelaut-pelaut Bugis keluar dari GOA yg menjadikan mereka seperti pelaut kalap dan garang di lautan Nusantara.. Pelaut Bugis mkssr telah jadi warrior yg menakutkan dilautan Nusantara, termasuk di Semenanjung malaysia, Pelaut Bugis mencari daerah baru untuk dikuasai, dan ketahuilah agressi bugis ini mendapat tantangan dari Orang-orang Minangkabau..

Disemenanjung, tepatnya di Johor terjadi bentrokan keras antara Bugis dan Melayu Minang, juga di selangor, trengganu, Pahang , negeri Sembilan dan pulau Penang� warrior mengerikan Bugis yg begitu ditakuti berhasil dibersihkan oleh orang Minang dari negeri sembilan dan Pulau Penang, tetapi wilayah Johor, trengganu dan Pahang, Bugis pegang kendali.. Perseteruan Minangkabau�Bugis dalam menguasai semenanjung menjadikan dua suku bangsa ini adalah tukang-tukang perang di Sumatera dan Malaysia selama abad ke 17 dan 18M

Ada 5-6 suku bangsa di Nusantara ini yg dikenal tukang-tukang perang diabad pertengahan yaitu Jawa yg terus bergolak sejak abad ke 6M dalam perang saudara, perang agresi, perang pertahanan wilayah plus konfrontasi dgn Belanda, lalu Aceh yg adalah agressor perang di semenanjung malaya juga pantai-pantai Sumatera melawan Belanda dan Portugis, Bugis dgn pelaut-pelaut warrior menakutkan yg melayari lautan Nusantara, lalu  Ambon yg berperang dgn beringas dipihak Belanda.  Berikutnya Madura dgn keahlian Perang istimewa yg bikin mereka adalah pasukan bayaran Hindia belanda dan Minangkabau yg sejak era Sriwijaya adalah petarung-petarung beladiri yg dipakai oleh orang Sriwijaya, Orang Majapahit saat perluasan wilayah Nusantara, Orang Aceh semasa menyerbu Portugis di Malaka, Sultan Hasannuddin ketika mempertahankan GOA dalam gabungan aliansi Bugis GOA-Melayu, juga Perang di Palembang ketika Sultan Badarruddin perang dgn Belanda thn 1825 dan mengandalkan gabungan prajurit palembang dan pendekar perantau Minang di sungai musi, termasuk perang Pasemah di SumSel ketika Tuanku Imam Perdipo dgn barisan Paderi minang dan penduduk setempat mempertahankan Pasemah, dan perlawanan Sisingamangaraja di tanah batak dgn bantuan petarung Minang kerja sama dgn Aceh, dan Perang aceh dimana perantau Minang keturunan Aceh-Minang pahlawan Aceh Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien yg berdarah Minang..

Sekarang dimasa perjuangan kemerdekaan.. Terlihat orang Minang banyak yg telibat perjuangan politik yaitu Hatta, Syahrir, Tan Malaka dan H Agus Salim� terlihat tidak ada perjuangan bersenjata yg dilakukan orang Minang.  Apa tidak ada  samasekali perang kemerdekaan di Minangkabau? Orang cuman tahu perang mulut diplomatik dilakukan pejuang Minang , tetapi sejarah tidak menuliskan apa-apa ttg perjuangan bersenjata di Sumatera Barat kenapa? JAWABANNYA ADALAH STRATEGI POLITIK PUSAT KEKUASAAN JAWA ..

Fakta sejarah di Minangkabau adalah perjuangan bersenjata tidak kalah dgn perjuangan mulut diplomatik Politis.. semasa Agresi Militer Belanda I  tgl 21 juni 1947, tentara RI di minangkabau malahan berhasil menghadang laju perluasan wilayah di tiga front sekaligus yaitu di Padang luar kota daerah Kepala Datar, Siguntur Pesisir Selatan dan Lubuk Alung di Padang pariaman.. malahan tgl 27juni 1947 DI KEPALA DATAR DEKAT PABRIK SEMEN PADANG , TENTARA BELANDA MENGALAMI KEHANCURAN MASSIF dan terpaksa kembali ke kota padang dgn sisa-sisa kekuatan..

KENAPA  PRESTASI MILITER ORANG MINANG ini tidak tercatat dalam buku pelajaran sejarah Umum Pelajar kita???? Kenapa peristiwa kekalahan Belanda di Ambarawa thn 1947 di tangan Jend Sudirman dijadikan hafalan dlm buku pelajaran sejarah??? Kenapa sejarah kota Pahlawan Surabaya begitu berkibar-kibar??? JAWABANNYA ADALAH SENTRA KEKUASAAN DI JAWA TIDAK INGIN DAERAH TERKHUSUS MINANGKABAU TERLIHAT MENONJOL DALAM SEJARAH MILITER..

Agresi militer Belanda yg ke II adalah tgl 18 desember 1948 dan jatuhlah Jogja dalam tempo 4 jam saja dlm sebuah penyerbuan sistem blitzkriek( serbuan kilat), dan di Sumatera barat yg pusat ibukota Sumatera, Bukittinggi yg diserbu pada tgl yg sama dan sistem serbu yg sama( blitzkriek) baru jatuh ke tangan belanda tgl 24 Des 1948, artinya bukittinggi DIPERTAHANKAN 4 HARI LEBIH LAMA oleh divisi XI Banteng dikomandoi letkol Dahlan Djambek, dibanding Ibukota Negara Jogja yg terdapat divisi Diponegoro yg kesohor dgn  Letkol Soeharto ada disana. ..Jogja jatuh hanya 4 jam penyerbuan kilat lewat udara dan darat, sedang Bukittinggi jatuh 4 hari dgn upaya mati-matian Belanda lewat darat dan udara padahal segi persenjataan kalah jauh dibanding mesin-mesin Perang Belanda..apa ini bukan prestasi lagi????? Kenapa tidak dijadikan hafalan anak sekolah? JAWABNYA SENTRA KEKUASAAN DI JAWA TIDAK INGIN TERLIHAT LEMAH DLM SEJARAH MILITER DIBANDING DAERAH� maka didiamkan saja fakta keras ini..

Lalu Soekarno, Hatta dan syahrir tertawan dan dikirim ke Rantau Prapat dekat Toba Samosir.. Kenapa kok kedaerah Sumatera utara? Jawabnya sebab di daerah sekitar danau Toba dam Prapat aman dari serangan gerilyawan Republik, yg berarti juga tidak ada perlawanan gerilya berarti di Sumatera utara oleh Pejuang-pejuang Medan sekitarnya.. arti lainnya bahwa tidak ada perlawanan berarti di Sumatera utara.. Lho kan orang Batak jago perang? Di Film NagaBonar terlihat orang Batak begitu garang berperang dgn Belanda.. fakta keras adalah bahwa gerilyawan di tanah batak sibuk perang sesama mereka, bukannya berjuang melawan Belanda. Barisan mayor Malao dgn barisan mayor bejo dan Saragih Ras juga Gerombolan Naga terbang di Sumatera Utara saling serbu dan menghambur-hamburkan peluru sesama mereka, sehingga Belanda menjadi gampang mengatasi gerilyawan Batak.. Dan yg lebih aneh lagi malahan banyak orang Batak yg diangkat jadi jenderal semasa Soekarno dan Soeharto, diantarnya AH Nasution yg Jend bintang 5 setara dgn Sudirman dan Soeharto sendiri, lalu TB Simatupang jend penuh, Maraden Pangabean dan Feisal Tanjung jend penuh..

Beda dgn di Sumatera barat yg ibukota Sumatera kala itu, perjuangan gerilya begitu gencarnya sejak agresi ke II Belanda tgl 18 Des 1948 itu hingga akhir oktober 1949, perjuangan bersenjata disini bikin belanda merasa PUTUS ASA, sebabnya kesatuan orang Minang begitu solit dgn tekad mempertahankan PDRI ( PEMERINTAHAN DARURAT REPUBLIK INDONESIA) yg berpusat di daerah Koto Alam 50 Kota.. sementara itu Pemerintahan RI sudah ditawan Belanda. Maka Militer Minang Divisi IX Banteng begitu keras dlm berupaya mengacaukan formasi belanda di Minangkabau dan Belanda tidak mampu membikin Negara Boneka di Minangkabau sebagaimana di daerah lain, di Jawa terdapat Negara pasundan dan negara Jawa Timur. Di Sumatera: Negara Sumatera Timur dgn Medan pusatnya, negara Sumatera Selatan dgn Palembang ibukotanya. Akan tetapi di Minangkabau Belanda gagal total sebab perjuangan Gerilya begitu gencar dan upaya Politik gagal diterapkan.. Apa ini bukan Prestasi militer? Kenapa ngak dihafalkan dibuku sejarah umum pelajar kita? Jawabnya: SENTRA KEKUASAAN DI JAWA TIDAK INGIN TERLIHAT TIDAK BERDAYA SECARA MILITER DIBANDING MINANGKABAU..

Lalu datang masa kemerdekaan, Pemerintahan Soekarno dalam tawanan Belanda lebih disambut rakyat daripada Pemerintahan darurat PDRI dalam Gerilya bersenjata, perjanjian Roem-Royen menghasilkan dikembalikannya pemerintahan Jogja dan PDRI dipandang sebelah mata, lalu Divisi tangguh Minang yaitu Divisi IX Banteng dibubarkan sebab karena ketakutan Pusat pada Minangkabau jika Militer Minang terlalu kuat nantinya.. Dari 23ribu Militer Minang sekarang disusutkan jadi hanya 4000 tentara dlm 4 batalyon saja ,lalu AH Nasution memutuskan Minangkabau dibawah Militer Medan yg tidak mampu berperang dgn Belanda kecuali perang sesama mereka dan ditempatkan dibawah Medan dalam Divisi Bukit Barisan. Orang Minang yg bertempur pahit getir dan bikin banyak korban tewas di pihak Belanda malahan ditempatkan dibawah Medan yg cuma bisa perang dgn sesama Batak.. APA INI BUKAN PENGHINAAN?????

Maka muncullah Gerakan PRRI tahun 1958 sebagai akibat dari ketidak puasan atas keputusan Pemerintahan Pusat Soekarno yg otoriter tanpa ingat jasa Militer Minang mempertahankan Pemerintahan Darurat( PDRI) semasa soekarno dalam tawanan Belanda.. Apalagi Bung Hatta mengundurkan diri thn 1956 akibat sikap Soekarno yg cenderung Diktator totaliter, juga bangkitnya PKI yg jelas2 pernah menikam RI dari Belakang dgn pemberontakan PKI di madiun, maka membikin Militer Minang jadi kembali bangkit dan menantang pemerintahan Soekarno supaya membubarkan Kabinet Djuanda yg sarat orang-orang Komunis dan Hatta diminta kembali ke Pemerintahan..

Militer Minang sebetulnya tidak sungguh-sungguh dalam menantang Pusat,
pernyataan PRRI lebih kepada gerakan moral dan gertakan Politik dibanding pemberontakan bersenjata.. Thn 1958 itu lahirlah Ultimatum PRRI oleh Syafruddin Prawiranegara dan Ahmad Hussein selaku pimpinan Militer yg marah pada Soekarno, sebab ketika Pemerintahan darurat PDRI semasa perang gerilya thn 1949 bertempur dgn darah, keringat dan rasa sakit menghadapi agresi Belanda, sementara Soekarno asyik bernyanyi-nyanyi dalam tawanan Belanda dan tidak bersedia berkeringat memanggul senjata ..

Akhirnya PRRI direaksi Pemerintahan Soekarno dgn mengirim Tentara dari pusat sebanyak 7500-10000 tentara dari Kodam Diponegoro, Siliwangi, Brawijaya dan elit Banteng Raiders juga KKO khusus Marinir AL ke Minangkabau dgn 5-7 Kapal Perang juga Pesawat Tempur peninggalan Belanda dgn Kolonel Ahmad Yani selaku pimpinan tempur dgn sandi Operasi 17 Agustus.. artinya ultimatum atau tepatnya “gertakan”PRRI akan dijawab dgn serbuan dari darat, laut dan udara dgn segala  peralatan militer Pusat.

APA YG TERJADI DI TANAH MINANG ?  Terjadi perpecahan dan keragu-raguan apa orang Minang akan perangi tentara Pusat atau gimana? Yang diperangi adalah rekan seperjuangan semasa invasi Belanda.. Sebagian tentara Sumatera Barat lantas mengundurkan diri dari PRRI dan berpihak pada Pusat, termasuk Kepala Kepolisian Sumbar berpihak pada Pusat di Jawa .. Sedang yg siap perang malahan mundur sebab tidak tega membunuh sesama orang Indonesia. Teluk bayur dibiarkan dimasuki tentara Pusat tanpa ada letusan senjata sama sekali dari pihak PRRI, sebab tidak ada pembenaran moril untuk membunuh tentara RI.. Padang dan Bukittinggi juga demikian, dikosongkan pihak pemberontak dan dimasuki Tentara pusat dgn tanpa ada perlawanan sama sekali..

APA LANTAS ORANG MINANG DI CAP TIDAK BERANI PERANG???  Bukan!!!
Ketidak tegaan itulah yg jadi alasan mundurnya tentara pemberontak kepedalaman Minangkabau.. Tentara PRRI  tidak tega membunuh sesama tentara Nasional sebab PRRI adalah gerakan yg terburu-buru (prematur)tanpa ada kebenaran moril untuk apa perang? Untuk apa menumpahkan darah?? Buat apa memecah kesatuan Militer Nasional? Apa gunanya merobek kesatuan Republik? Akhirnya pemberontak PRRI mengalah dan seluruh sumatera barat dikuasai pusat tanpa ada perlawanan berarti.. Inilah fakta keras bukan omongan estafet !!! Dan pemberontakan ini menghasilkan kemunduran spirit Politik dan Militer orang Minang hingga kini. 

Lalu anda pak Amir mencap orang Minang tidak berani perang.. betul-betul membikin memori saya bekerja lumayan keras membuka sejarah perang orang Minang sejak awal Peradaban nusantara ini.. Terima kasih atas komentar kontroversial anda. Saya tidak menyalahkan anda dan tidak akan meminta anda mohon maaf pada orang Minang. TIDAK! Hanya saya minta bapak lebih teliti kalau mengomentari ttg sejarah kalau perlu disertai bahan-bahan sejarah yg valid. OK! Tulisan lumayan panjang ini khusus untuk menjawab statement anda bukan untuk menyalahkan tetapi untuk menjernihkan saja.. Saya selaku putra Minang asli punya kewajiban untuk menegakkan benang basah dan meletakkan sejarah Minang ketempat yg semestinya..  maaf bagi suku bangsa yg saya tulis dgn tidak menjadikan ini selaku SARA yg memecah-belah dan thanks  jika ada tanggapan

Sang ( A man from Minangkabau)

Psn: Bersatu kita teguh-Bercerai kita runtuh.. akibat terpecahnya kita sesama suku bangsa maka penjajah mudah menguasai .. (Sumber)