Bumi Margahayu

Pangkalan TNI AU Sulaiman, Bandung merupakan salah satu pangkalan pendidikan di jajaran TNI AU. Pangkalan ini besar sekali andilnya dalam pangadaan, pembinaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia TNI Angkatan Udara. Letaknya di Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Berada di tepi jalan raya menghubungkan kota Bandung dengan kota Kabupaten Bandung, Soreang.

Bumi Margahayu di Zaman Penjajahan

Bumi Margahayu yang luasnya sekitar 385 hektar di zaman penjajahan Belanda, merupakan perkampungan yang dikelilingi sawah pertanian palawija seperti padi, dan sayuran, ladang singkong serta jagung. Di zaman itu hawanya sejuk dan nyaman karena masih subur tanamannya, juga masih terdapat huma hutan kayu berbagai jenis di antaranya bambu. Sebagian besar masyarakatnya adalah pemeluk agama Islam yang taat. Sebagai bukti dapat dilihat, banyaknya mesjid, mushola, pesantren, kyai dan tokoh agama. Masyarakat setempat juga mencintai dan menjunjung seni budaya khas Sunda. Di mana-mana sering terdengar dengung irama degung, pergelaran wayang golek dan tari-tarian ketuk tilu yang dikembangkan menjadi tarian “Jaipongan” yang terkenal sampai luar Bandung.

Penguasa Belanda menyukai sekali tanah Margahayu. Oleh karenanya, tahun 1938 Pemerintah Penjajah Belanda membeli, tujuannya ingin mendirikan “Kota Paris” di daerah Bandung Selatan. Setelah melalui penelitian dan perundingan antara pemilik tanah dengan pihak Belanda lewat perantara Kepala Desa waktu itu panggilannya “Juragan Lurah” akhirnya dapat ditentukan tentang harganya bervariasi sesuai letak dan kelasnya, mulai dari 0,5 gulden sampai tiga gulden. Beberapa kampung yang tanahnya dibeli dan dibebaskan oleh Penguasa Belanda kala itu adalah kampung Cedok, Paguyuban Badak, Cibadak, Cibodas, Pesantren, Cikahiyangan, Renggaswates, Cimariuk, Masara, Cembul, Bantar Muncang, Leuwi Korod dan Cilisung.

Kampung-kampung ini lalu dijadikan kompleks perumahan, kantor, rumah sakit, landasan, lapangan tembak, depo, beberapa fasilitas pendukung lapangan terbang lainnya. Ditambah lagi sebagian tanah dari Kecamatan Bojongloa seperti Kampung Jembatan, Cilokotot, dan Palgeuneup. Penduduk yang tanahnya dibeli, pindah ke berbagai tempat antara lain Bandung, Garut, Sumedang dan wilayah Jawa Barat lainnya.

Untuk menyulap daerah pertanian menjadi kota elit di masa itu, Penguasa Belanda mengerjakan dengan mengerahkan peralatan modern. Mulai awal tahun 1942, pembangunan Kota Paris dimulai. Tempat untuk menyimpan peralatan dan bahan bangunan, dibangun bedeng-bedeng di kampung Cedok dan sekitarnya. Namun rencana tersebut gagal total, berhubung Jepang mengambil alih kekuasaan dan menjajah Indonesia.

Jepang Menguasai Kalijati

Akhir Februari 1942, serdadu Nipon mendarat di Pantai Eretan Wetan dekat Indramayu, pantai Banten, dan di pantai utara Jawa Tengah. Mengetahui Pangkalan Udara Kalijati di masa itu sudah termasuk kuat, maka Jepang segera merebutnya dengan segala kekuatan.

Pada mulanya pasukan Hindia Belanda memberikan perlawanan gencar juga. Namun serangan Jepang yang kuat dan besar-besaran tidak terbendung. Setelah perlawanan berlangsung beberapa hari, akhirnya bala tentara Belanda tidak berdaya. Pada tanggal 8 Maret 1942, di salah satu rumah dinas Angkatan Udara Belanda di Pangkalan Udara Kalijati, Kabupaten Subang, Penguasa Belanda yang sudah berkuasa 350 tahun di Indonesia, menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Jepang. Hari itu merupakan peristiwa bersejarah yang amat penting bagi rakyat dan bangsa Indonesia yaitu peristiwa serah terima kekuasaan dari penjajah Belanda kepada Jepang.

Di masa Jepang menduduki Indonesia, di dunia tengah berkecamuk perang akbar dalam sejarah umat manusia, yaitu Perang Dunia Kedua. Begitu berkuasa, dengan malang melintang Jepang melakukan apa saja terutama menyangkut penyusunan kekuatan militer. Lapangan udara di berbagai tempat di Tanah Air dikuasai Jepang. Lalu ditingkatkan kemampuan operasinya di samping membuat baru, di antaranya membangun lapangan udara di Margahayu, suatu wilayah yang semula akan dibangun Kota Paris oleh penguasa Belanda.

Dengan Darah dan Keringat

Untuk membuat pangkalan udara terutama landasan dan fasilitas pendukung, Jepang mengandalkan kekuasaan sebagai penjajah dan mengerahkan segala fasilitasnya. Pekerjaan dilakukan siang dan malam. Orang yang dipaksa kerja keras, makan seadanya, didatangkan dari tempat-tempat lain, tidak hanya masyarakat Margahayu dan sekitarnya. Bersamaan sibuk membangun pangkalan, juga membuat barak untuk menampung tawanan perang orang-orang Belanda. Pohon-pohon ditebangi, tanah-tanah diratakan secara besar-besaran. Selain makan minum sembarangan, para pekerja paksa mendapat siksaan semena-mena. Pukulan dan cambuk silih berganti walaupun tidak bersalah. Keringat karena terik matahari sering bercampur dengan darah yang membasahi tubuh.

Art_200556_14845

Salah seorang pribumi yang diikutsertakan dalam pembangunan lapangan udara tersebut adalah R. Didi Permana, tinggalnya di Kampung Sayati. Oleh penguasa Nipon, ia dipekerjakan di Kantor Pekerjaan Umum menurut bahasa Jepangnya “Kobayasi”. Ia merasa lebih ringan dan tidak mengalami siksaan berat seperti orang-orang pekerja kasar di lapangan. Didi bertugas dibagian bendahara pembangunan yang biayanya sampai 380 juta zen.

Tahun 1943 pertama-tama Jepang membangun landasan pacu (Yudiro) dan taxi way (Ipangdoro). Siang malam para tenaga kerja dipaksa untuk melaksanakan perintah. Beberapa tokoh Jepang yang menangani pembuatan pangkalan udara di Margahayu mengerahkan ahli sipil dan militer. Dari kalangan sipil antara lain Ano, Suzuki, Imatzu. Tim ahli dari militer adalah Isisang, Kiroda, Ojima, dan Mawoso. Tak hanya landasan dan fasilitas dibuat secara terburu buru, Jepang masih sempat pula membangun tempat-tempat perlindungan, baik untuk menyimpan pesawat maupun personel. Bangunannya yang tinggi dan kokoh, berbentuk “telapak kuda”.

Karena situasi perang dunia terus berkecamuk dan kian memanas, pangkalan udara di Margahayu buru-buru digunakan kendati belum sempurna betul. Di pertengahan tahun 1945 pangkalan udara di Margahayu sudah dioperasikan. Tiap hari rata rata enam pesawat tinggal landas atau mendarat di Margahayu. Waktu itu di Bandung ada dua pangkalan udara, di Margahayu dan Andir. Karena berada di Margahayu, kemudian terkenal dengan nama Pangkalan Udara Margahayu.

Posisi Jepang pada perang dunia kedua makin sulit, bahkan akhirnya lumpuh menyusul Nagasaki di bom oleh Amerika tanggal 6 Agustus 1945 pukul 10 pagi dan Hiroshima di bom, tanggal 9 Agustus 1945. Akhirnya Jepang menyerah pada Sekutu. Kekuasaannya di timur jauh terutama di Indonesia tidak bisa dipertahankan. Bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 memproklamasikan kemerdekaannya. Mau tidak mau penguasa Jepang beserta bala tentaranya di Indonesia harus kembali ke negara leluhurnya. Namun bala tentara Jepang tidak segera meninggalkan Indonesia. Sehingga di beberapa tempat banyak pejuang Indonesia menentang penguasa Jepang, misalnya di Bandung antara lain di Lapangan Udara Andir. (Sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: