Trikora: “Dua Hari Gempuran, Menang”

Suasana di Antonov Room, Klub Eksekutif Persada Halim siang itu awal September, terasa emosional. Kalau biasanya hanya dihadiri para purnawirawan TNI AU yang tergabung dalam Perhimpunan Purnawirawan AURI (PP-AURI), maka siang itu, seorang kolonel purnawirawan yang selama 34 tahun “lenyap” seperti ditelan Bumi, hadir di hadapan mereka. Kolonel (Pur) Theodorus Hendrikus Gottschalk, kelahiran Semarang 25 Maret 1918, dengan hangat menyapa dan memeluk erat setiap purnawirawan yang menghampiri maupun yang dihampirinya.

Bisa dikata, tidak satupun penerbang TNI AU angkatan Kalijati periode 1950-an yang tidak kenal Gottschalk. Dialah instruktur pertama sekolah penerbang Lanud Kalijati (sekarang Lanud Suryadarma) setelah dipindahkan dari Lanud Andir, Bandung (sekarang Lanud Hussein Sastranegara). Sementara komandan pertama Mayor Ahmadi.

Sebagai realisasi Konferensi Meja Bundar 1949, Belanda mengeluarkan maklumat yang berisi himbauan kepada seluruh personel militer Belanda di Indonesia untuk membuat pilihan: bergabung dengan TNI atau kembali ke Belanda. Sersan Penerbang Th. H. Gottschalk memilih himbauan pertama. Penerbang P-40N Kitty Hawk Skadron 120 Militaire Luchtvaart diterima AURIS 10 Mei 1959.

Gottschalk mengisahkan secara khusus masa-masa indahnya selama mengabdi di TNI AU kepada Adrianus Darmawan, Beny Adrian, dan Donna CH. Asri. Wawancara sedianya berlangsung di Klub Eksekutif Persada Halim. Karena banyaknya teman-teman lamanya yang ingin bercengkerama sampai mengganggu jalannya wawancara, kami akhirnya sepakat untuk melanjutkan obrolan santai ini esoknya di sebuah guest house, masih di Halim Perdanakusuma. Dengan bahasa Indonesianya yang sedikit “rumit”, Angkasa menyajikan petikan wawancaranya berikut ini.

T : Anda disebut-sebut sebagai orang yang paling berjasa dalam merintis Sekolah Penerbang. Bisa diceritakan?

J : Suatu hari saya dipanggil Pak Surya (Komodor Suryadarma, KSAU pertama, red). Dia bilang, jalankan (tugas sebagai kepala sekolah, red) baik-baik. Padahal saya sendiri tidak punya bekal yang cukup walau semasa di KNIL pernah jadi instruktur. Kurikulum tidak ada, referensi juga tidak. Namun pegangan saya yang utama adalah murid itu sendiri, pesawat yang kedua dan ketiga baru instrukturnya. Seperti pernah disodorkan kepada saya beberapa nama untuk di wash out. Saya bilang, jangan dulu. Saya cek mereka, memang anaknya kurang berani tapi saya lihat kalau naik sepeda motor kok berani. Saya bilang, ‘Kamu laki-laki atau di celana kamu ada apa?’ Eh, dia marah. Hasilnya, dia jadi berani hingga akhirnya terbang.

T : Tapi sebelum di Kalijati, katanya pendidikan dilakukan di Andir, Bandung?

J : Betul, hanya dua bulan dengan siswa Mulyono, Pracoyo dan Hadi Sapandi. Mereka fighter dan merupakan angkatan pertama fighter. Setelah itu baru saya diperintahkan segera ke Kalijati untuk membentuk flying school. Angkatan pertama saya terbang dengan 20 murid diantaranya Pedet Sudarman, Sompil Basuki, Waluyo, dan Sutopo. Pagi dengan kelas bintara sore kelas perwira.

T : Sebenarnya apa modal Anda hingga berani menerima tugas berat itu?

J : Saya tidak tahu. Waktu masih di ML, baru terima brevet penerbang saya sudah jadi instruktur. Di sini juga, hingga akhirnya saya jadi Komandan Sekolah Instruktur Penerbang pertama tahun 1958. Namun yang paling penting adalah starting point murid untuk jadi penerbang itu karena apa. Itu sangat mempengaruhi keterampilannya.

 

T : Alasan Anda sendiri memilih bergabung dengan AURI?

J : Diawali dari pertemuan saya dengan Wiweko Supono dan Ashadi Tjahyadi di Andir Bandung. Kedua orang ini ditugasi mengurusi pesawat-pesawat B-25 Mitchell, P-51 Mustang, AT-16 Harvard, dan C-47 Dakota yang dihibahkan Belanda ke AURI. Wiweko dan Ashadi tidak tahu siapa yang harus menerbangkan. Beliau meminta sukarelawan penerbang Belanda tapi tidak ada yang mau. Hanya saya yang bersedia. Karena ini teman-teman Belanda panggil saya pembelot. Wiweko tanya, you mau masuk AURI? Saya gembira sekali, karena saya tidak suka kembali ke Belanda dan ini kesempatan bagi saya untuk tinggal di Indonesia. Kalau ke Belanda sebagai instruktur, itu berarti tugas. Kalau tinggal di Indonesia, saya ikut membangun AURI. Lebih menarik dan tantangan besar. Saya tidak suka kembali, ayah juga sudah jadi WNI. Di sini saya membangun sesuatu yang besar, sebuah angkatan udara.

T : Bisa Anda sebutkan satu-dua misi operasi di AURI?

J : Saya ikut hampir semua misi dengan Harvard, bukan Mustang karena kebetulan saya di pendidikan. Kenapa Harvard yang sebenarnya pesawat latih? Ceritanya waktu Kalijati tidak aman dari gerakan DI/TII, saya minta bantuan Mustang menyerang. Sayang Mustang telat dan mereka telah lari. Saya berpikir, kenapa tidak Harvard dipersenjatai dengan senapan mesin dan pelucur roket. Insiatif ini ternyata membawa keuntungan. Buktinya ketika Permesta meletus di Sulawesi, Harvard diperintahkan Pak Surya ke Sumatera untuk menggantikan tugas Mustang yang harus digeser ke Timur. Waktu itu penerbangnya masih berstatus kadet. Saya pimpin sendiri para siswa.

T : Apakah Anda tidak khawatir mengingat penerbang masih berstatus siswa?

J : Cerita ini menarik. Malah sebelum ke Sumatera, kami beroperasi juga di Flores dan Timor. Problem saya waktu ke Sumatera adalah murid-murid yang masih baru dengan rata-rata baru mengantongi 30 jam terbang serta belum tahu cara menembak. Sebelum ke Medan, mereka saya latih penembakan dari udara di Palembang. Hidung pesawat kami cat warna-warni. Operasi ini sempat membuat kaget pihak asing. Mereka pikir, Mustang dan B-25 dipindahkan ke Timur, kok, malah sekarang muncul pesawat-pesawat lain? Tapi saya mau katakan, sebenarnya pelajaran penembakan udara yang masuk dalam kurikulum sekolah waktu itu tidak betul. Materi itu adalah porsinya training operational, bukan sekolah penerbang. Namun ini semua karena kebutuhan yang mendesak.

Theodorus Hendrikus Gottschalk merupakan satu dari jutaan saksi mata Perang Pasifik. Saat itu dia ditempatkan di Skadron 120 Militaire Luchtvaart yang dibentuk tahun 1943 dan berpangkalan di Merauke sebelum dipindahkan ke Biak 19 Juni 1945. Gottschalk meraih Groot Militaire Brevet dan Waarnemer Brevet Kalijati Juli 1941. Karena Kalijati semakin tidak aman dari Jepang, mereka dikirim ke Australia dengan kapal laut (1942). Australia pun sama. Jadilah mereka dikirim ke Jackson Mississippi, AS hingga mendapat brevet penerbang operasional. Tahun 1943 Gottschalk dikirim ke Inggris untuk memperkuat korps udara Sekutu dalam menghadapi AU Jerman. Hanya dua bulan, Spitfire tidak sempat diterbangkannya hingga dikembalikan ke AS. Di AS Gottschalk menjadi instruktur penerbang Belanda selama enam bulan. Setelah itu dia kembali ke Australia. Akhir 1945, bersama 39 penerbang lainya Gottschalk menerbangkan ferry 40 North American P-51 Mustang dari Brisbane ke Jakarta dengan rute Brisbane-Darwin-Kupang-Jakarta. Pada 10 Mei 1950, Gottschalk resmi pindah ke AURIS dan pangkatnya dinaikkan jadi letnan udara I pada 1 Juli 1950. Gottschalk pernah menjadi Panglima Korud IV, Biak, Papua selama empat tahun (1963-1967). Tahun 1968, Gottschalk diberhentikan dengan hormat setelah menjabat Ditjen Litbangau. Tidak lama kemudian dia meninggalkan Indonesia.

T : Menarik juga menerawangi peran dan posisi Anda ketika kampanye Trikora di Irian Barat?

J : Untung Anda menanyakannya. Waktu itu saya Pamen (perwira menengah) Urusan Persiapan Staff College (cikal bakal Seskoau) yang akan didirikan di Lembang. Tiba-tiba saya dapat surat untuk menghadap Leo Wattimena, Panglima AULA (Angkatan Udara Mandala). Leo bilang, you ikut ke Irian bantu kami buat rencana operasi, khususnya penyerangan Biak. Saya akhirnya jadi staf oprasi Pak Leo.

T : Apakah ada yang meragukan “loyalitas” Anda, mengingat Anda indo-Belanda?

J : Pak Leo sendiri yang tanya soal ini. Saya bilang bahwa tidak ada keraguan pada diri saya, saya setia kepada AURI dan Indonesia.

T : Bisa Anda sampaikan pandangan Anda jika konflik berubah jadi perang terbuka?

J : Kepada perwira operasi saya sampaikan bahwa fighter Belanda hanya day fighter bukan night fighter. Kita punya bomber Tu-16 untuk bom landasan mereka. AURI punya B-25 dan P-51, tapi itu bukan tandingannya (jet Hawker Hunter). Juga muncul kekhawatiran Tu-16 bakal ditembak Hunter. Saya bilang tidak mungkin karena Belanda tidak punya airborne radar. Serangan ke Biak sebagai pusat pertahanan Belanda dapat dilaksanakan dengan airborne assault yang mendahului pendaratan armada laut dan pasukan darat. Teori ini akhirnya diakui. Saya berdebat lama dengan Leo.

T : Bagaimana dengan kapal induk Karel Doorman?

J : Kapan berangkatnya kapal itu kami tidak tahu. Buat apa takut, Tu-16 punya guidance bom dan Karel Doorman merupakan “baja besar” yang dengan gampang dihantam rudal. Mereka pasti mati!

T : Kesimpulannya?

J : Kita pasti menang, itu analisa saya. Dalam dua hari gempuran, keunggulan di udara akan diraih. Mereka hanya punya dua landasan di Biak dan Sorong yang dengan gampang bisa dihancurkan Tu-16 agar fighter-nya tidak sempat naik. Begitu juga dengan pasukan darat mereka. Coba lihat ketika PGT dan RPKAD diterjunkan di pedalaman. Itu kan propaganda. Namun Belanda terpancing dan mengejar hingga Biak kosong. Kita bisa lihat peta kekuatan dari sini. Ketika saya balik ke Belanda, saya dengar dari beberapa veteran bahwa tentara Belanda yang dikirim ke Papua ternyata bukan professional soldier tapi milisia.

T : Ada yang meragukan kesiapan AURI saat itu. Katanya untuk Tu-16, yang disiapkan penerbang Rusia?

J : Itu tidak benar. Memang ada orang Rusia, tapi kami sudah sepenuhnya operasional.

T : Mengenang masa lalu, momen apa yang paling hebat dalam hidup Anda sebagai fighter?

J : Perang Dunia II dan di Irian Barat.

T : Maksud Anda tentu Perang Pasifik. Sebagai penerbang P-40, apakah Anda tidak khawatir menghadapi Zero?

J : Tidak, malah saya berharap sekali bisa ketemu. Kami diajarkan dogfight menghadapi Zero. Zero (A6M Mitsubishi “Zero”) itu manuvernya baik sekali pada kecepatan 400 mil per jam, jangan fight di bawah kecepatan itu, you akan kalah. Jadi harus fight dengan kecepatan di atas 400.

Eks KNIL (Pasukan Belanda yang menjajah Indonesia) jadi republiken... (Sumber)
Iklan

Pelaku Sejarah Di Kampung Masjid

“Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”. Nama yang ditinggalkan oleh seseorang berbagai macam bentuknya. Ada yang meninggalkan karya nyata yang sangat bermanfaat bagi orang lain, ada yang meninggalkan sikap kepeloporan yang dapat dijadikan teladan.

Sikap kepahlawanan adalah sikap yang mempunyai keberanian yang luar biasa, berjuang tanpa pamrih untuk kepentingan bangsa dan negara.  Sikap kepahlawanan itulah yang diperlihatkan oleh para pejuang-syuhada bangsa. Mereka gugur menyiram darahnya di persada ibu pertiwi. Mereka tidak sempat melihat “wajah” negerinya merdeka, tetapi anak cucu mereka menikmati kemerdekaan yang mereka perjuangkan. Banyak juga pejuang dan pahlawan yang mengalami pasang surut kemerdekaan serta cakar-cakaran merebut kekuasaan.

Di antara pejuang pelaku sejarah yang melihat dan mengalami perjalanan dan perkembangan negeri ini adalah alm. Kapten H.R. Asmadi (Letkol Purn). Beliau adalah KomAndan Pertempuran yang berhasil memporak-porandakan kedudukan Pasukan Belanda di Kampung Masjid (70 km dari Rantau Prapat). 18  Tentara Belanda ditewaskan 18 orang lainnya ditawan, tetapi tawanan itu tidak dianiaya apalagi dibunuh, malah dikembalikan ke induk pasukannya di Labuhan Bilik. Selebihnya sempat melarikan diri. Senjata yang berhasil dirampas 12 pucuk senjata LE, Stengun, 1 pucuk brengun MK III, satu unit radio penghubung, berpeti-peti peluru dan granat berhasil diangkut oleh pasukan H.R. Asmadi. Sedangkan di pihak pejuang hanya seorang yang gugur bernama Marwan dan beberapa orang luka berat dan ringan.

Pelaku  Sejarah Itu Telah Tiada

Asmadi adalah tokoh pejuang Komandan Pertempuran dalam penyerangan terhadap kubu Belanda di Kampung Masjid. Selaku pimpinan pejuang berhasil menyelundupkan 40 orang garilyawan menjadi buruh anemer Perkebunan Padang Halaban. Mereka siang hari menjadi buruh perkebunan yang dikuasai Belanda, sedangkan malam menjadi gerilyawan menyerang pos-pos pengawal Belanda untuk merebut senjata dan peluru. Mereka dikoordinir oleh Asisten Kebun  Kasdi dan pimpinan gerilyawan itu Sersan  Hamzah Johan, mereka hanya bergerak pada malam hari saja. Persenjataan mereka disembunyikan di suatu tempat hanya anggota gerilyawan itu yang tahu.

Pada hari Jumat sekitar pukul 08.20 pagi tanggal 15 Februari 2008 pelaku sejarah H.R. Asmadi telah berpulang ke Rahmatullah tutup usia 82 tahun, Pemberangkatan jenazahnya ke Taman Makam Pahlawan dari di rumah duka Jalan D.I.Panjaitan 164 Medan sekitar pukul 5 sore. Dengan diantar oleh karabat handai taulan, jenazah dimakamkan di Taman Pahlawan Jalan Sisingamangaraja Medan, yang dilanjutkan dengan upacara militer.
H.R. Asmadi lahir tanggal 27 Juli 1926 di Tanjung Balai meninggalkan seorang isteri bernama Rasdiana Siagian (80) dan 7 orang anak masing-masing bernama :

1.    Ir. Asmady Gentaran Siregar
2.    Hj. Roswita  Hanny Siregar
3.    Hartati Siregar
4.    Flora Sari Siregar, Dra.Apt
5.    Godang Riadi Siregar,SH
6.    Alm. Muda Yuda Siregar
7.    Achira Berti Siregar

Peristiwa Itu Dilestarikan

Peristiwa-peristiwa heroik di Labuhan Batu di antaranya penyerbuan terhadap kubu Belanda di tepi Sungai Kualuh  tanggal 5 Juni 1949 telah dilestarikan dan direkam dalam beberapa buku. Di antaranya adalah buku “Gerilya di Asahan Labuhan Batu 1947-1949” yang ditulis oleh pelaku sejarah Letkol Mansur (1977), dalam buku “Kadet Brastagi” oleh Ikatan Kadet Brastagi (1980), dalam buku “Api Berkobar di Kampung Mesjid” yang diterbitkan oleh Yayasan Pelestarian Fakta Perjuangan Kemerdekaan R.I.(1995) dan buku lainnya.

Bukan saja peristiwa sejarah ini direkam dalam buku tetapi tokoh-tokoh penjuang dan para pelaku peristiwa sejarah itu, foto-foto mereka ukuran besar selalu ditampilkan dalam pameran-pameran “Foto Perjuangan” yang ditampilkan  dalam pameran itu, antara lain Kapten H.R Asmadi, Letnan Kelowo, Letnan Murad Hasyim, Letnan Zainuddin Zein, Letnan Hamid Zein dan lain-lain. Pameran foto-foto perjuangan telah dilakukan pada hari-hari bersejarah sejak tahun 1990.

Dengan dilestarikan peristiwa sejarah Kampung Masjid baik dalam bentuk buku maupun bentuk gambar jelaslah, bahwa peristiwa itu tidak akan hanyut dibawa oleh arus perjalanan masa dan tidak akan tertimbun oleh lumpur perjalanan waktu.

Strategi Penyerangan

Sebagai ilustrasi perlu kami ungkapkan mengenai strategi penyerangan terhadap kedudukan Belanda dari tepi Sungai Kualuh itu. Serangan direncanakan, dilakukan dari belakang asrama Belanda dan harus didesak sedemikian rupa agar Belanda mengundurkan diri ke arah sungai kemudian serdadu Belanda itu mencebur ke dalam sungai.

Kompi H.R. Asmadi menyerang dari tengah dengan dibantu oleh Letnan S. Guntur Harun Sakti dan Cek Mah. Kompi Letnan Nurdin dipimpin oleh Abdullah  Musa Letnan Murad Hasyim, Letnan Hamid Zein, Letnan Bustami, dan Letnan Zainuddin  Zein, sedangkan Kompi Letnan Kelowo, dibantu oleh Letnan Maryono, Sersan Jamin Sudarman, dan Sersan Saut.

Pasukan ini juga dibantu oleh rakyat dan turut melakukan penyerangan, persenjataan  pasukan cukup memadai dan peluru lebih dari cukup, karena peluru-peluru dan persenjataan banyak direbut dalam pertempuran-pertempuran yang dilakukan terhadap tentara Belanda dan Barisan Pengawal yang mengawal Perkebunan Belanda.

Komandan Pertempuran H.R. Asmadi telah menetapkan hari “H” penyerbuan adalah tanggal 5 Juni 1949 (malam). Semua pasukan berkumpul di Kuala Bangka, setelah makan malam mereka berangkat dengan menggunakan 30 buah perahu sesuai dengan formasi masing-masing sebagai  mana telah ditetap oleh Kamandan Pertempuran.  Telah ditetapkan “titik” untuk berpencar adalah Kampung Sungai Pinang. Pasukan ini sampai di tempat tersebut setelah melakukan perjalanan selama 2 jam dengan perahu.

Menyerang  Waktu Belanda Lengah

Ketika seluruh pasukan telah sampai di Kampung Sungai Pinang yang merupakan “titik” pencar, jam menunjukkan pukul 22.30. Pasukan mulai bergerak mengharungi rawa. Tidak diperkirakan dari semula pada jam tersebut air sedang pasang. Akibat air pasang sampai di pinggang menyebabkan gerakan pasukan sangat lamban sekali. Ketika jam  menunjukkan pukul  01.00, Kapten H.R.Asmadi belum memberi aba-aba penyerangan, padahal kubu Belanda makin dekat.

Setelah pasukan berada dalam jarak 20 meter jelas dilihat dalam kesamaran, penjagaan telah ditarik dari box-box yang ada. Tentara Belanda itu ada yang sedang tidur, ada yang bercelana kolor, pergi mandi dan sebagainya. Waktu itulah Kapten Asmadi memberi aba-aba dengan tembakan pistol tiga kali tanda penyerangan dimulai. Waktu itu jam menunjukkan 05.30.

Segera disusul dengan tembakan penindasan yang cukup gencar. Timbul kegaduhan yang luar biasa dari pihak musuh. Mereka mencoba menempati box mereka dalam keadaan bercelana kolor, tembakan brengun Belanda seperti hujan layaknya tidak ada henti-hentinya. Kemudian para gerilyawan berhasil masuk ke dalam box-box musuh dan berkelahi seorang lawan seorang, popor mulai bicara menghantam kepala musuh demikian juga pisau dan parang ikut bicara. Di tengah kesibukan dan kekalutan penyerangan itu terdengar teriakan kami menyerah “jangan bunuh aku,”

Pertempuran baru berakhir pukul 09.30 musuh yang masih hidup menyerah semua, ada juga yang sempat melarikan diri, di antaranya seorang Belanda bernama Smurrenburg. Mereka melarikan diri dengan perahu menuju Panei. Karena kedudukan Belanda sudah hancur maka bendera Belanda diturunkan, dirobek birunya dan tinggal Merah Putih dinaikkan ke puncak tiang.

Penghargaan Kepada Pejuang

Dari uraian yang sederhana ini jelaslah betapa perjuangan yang telah dilakukan oleh pejuang Labuhan Batu. Untuk sekadar mengenang jasa mereka, maka kami menyarankan agar nama H.R. Asmadi ditabalkan pada salah satu jalan di kota Rantau Parapat. Penghargaan ini berarti penghargaan kepada seluruh  pejuang Labuhan Batu umumnya dan pejuang yang menghancurkan kubu Belanda di Kampung Masjid khususnya.

Oeh : Muhammad TWH 

Sumber : Waspada Online