Lembar Sat Brimob Polda Sumbar

CIKAL BAKAL

A. Sekolah Polisi Istimewa

Sejak awal tahun 1946, bersamaan dengan dipindahkannya Markas Kepolisian Daerah Sumatera Barat dari Padang ke Bukittinggi, Komisaris Polisi II Kaharudin Dt Rangkayo Basa mengemukakan pembentukan Polisi Istimewa berdasarkan Skep KKN No. 12 / 78 / 91/ 1946. maka sejak 18 Mei 1946 di kota sejuk ini dibuka Sekolah Polisi Istimewa dengan kampusnya terletak di Birugo (Komplek SMA 2 sekarang) dan beliau diangkat menjadi Kepala Sekolahnya, yang dikukuhkan dengan Surat Residen Sumatera Barat No. : R / 78 / P2 tanggal 15 Juni 1946.

Pada acara peresmian Sekolah Polisi Istimewa yang berlangsung pada tanggal 18 Mei 1946, Komisaris Polisi II Kaharudin Dt.Rangkayo Basa yang ditetapkan sebagai Direktur sekolah ini menetapkan maksud dan tujuan pendidikan sekolah tersebut, sebagai berikut :

  1. Polisi Istimewa Negara Republik Indonesia, khusus dipandang sebagai garis depan Polisi Sumatera Barat.
  2. Dan merupakan Korps yang Mobil dari Polisi Negara Republic Indonesia di Sumatera Barat yang bergerak cepat, bila diperlukan penugasannya juga dapat diluar tempat kedudukan kesatuannya.
  3. Bertanggung jawab untuk ketertiban dan keamanan dimasa damai dan ikut serta berjuang dimasa perang.

Adinegoro yang mewakili sebagai pemerintah untuk Sumatera, menegaskan bahwa Polisi Istimewa sebagai pasukan Pelopor patut berpenampilan penuh gaya dan Sekolah Polisi Istimewa melaksanakan pendidikan yang berlangsung selama 3 bulan dan pada tanggal 17 Agustus 1946 dilantik sebanyak 10 orang Pembantu Inspektur dan 134 agen Polisi.

Dalam penugasan ternyata Polisi Istimewa ini lebih mudah beradaptasi dengan masyarakat ketimbang polisi 3 zaman sebelumnya. Lulusan Sekolah Polisi Istimewa awalnya banyak ditugaskan di Padang, namun kemudian disebar keberbagai tempat, kelak mereka bergabung dalam apa yang disebut Barisan Istimewa Polisi (BIP).

B. Barisan Istimewa Polisi

BIP dibentuk pada bulan September 1946 di Bukittinggi, Polisi yang tergabung didalamnya diasramakan , ini dimaksud agar penempaan dan latihan biar lebih terkonsentrasi dan terarah, terutama dalam pemakaian beraneka macam persenjataan. Tugas yang diemban kepada BIP. Mengatasi kerusuhan, memulihkan keadaan bila ada kekacauan, mengawasi lalu lintas  barang dan orang. Satuan-satuan BIP ini ditempatkan di Sijunjung, tanjung Simalidu, Bangkinang, Danau Bingkuang, Pariaman, serta perbatasan dengan Sumatera Utara.

Karena tugas BIP yang tidak ringan diperlukan senjata yang memadai, sementara persenjataan di Sumbar tidak mencukupi, maka harus dicari kedaerah lain. Pada saat ini diperoleh informasi oleh Kepala Polisi Sumbar bahwa Tapanuli menyimpan senjata eks Jepang yang hendak dijual oleh Residen, meski rakyat setempat tidak menghendaki, maka ditugaskan Kaharudin bersama Dewan Polisi Sumbar beserta empat orang agen polisi berangkat ke Sibolga untuk membelinya. Rombongan disambut dengan sukacita oleh Residen Tapanuli DR.F.Lumantobing, dan Tapanuli Selatan menjual 66 pucuk US, Caraben, 3 pucuk senapan mesin beserta amunisi juga sejumlah granat tangan. Penambahan senjata ini melengkapi persenjataan BIP di Bukittinggi, hal ini menaikkan moril anggota dalam pengaplikasian tugas, dan ditegaskan oleh Residen Mr.Rasyid untuk tidak adanya keraguan dalam pencapaian tujuan pendidikan Polisi Istimewa, sebagai organisasi Semi Militer  dibawah pimpinan Komisaris Polisi II Kaharudin Dt.Rangkayo Basa.

C. Mobile Brigade (Mobrig)

Pada tanggal 1 Agustus 1947, nama BIP diganti dengan Mobiele Brigade (Mobrig). Anggota Mobrig direkrut dari mantan anggota BIP ditambah dari Polisi tugas umum dan lascar rakyat yang pisiknya mengijinkan.

Mobrig yang merupakan pasukan khusus itu , langsung dibawah kendali Kepala Polisi Keresidenan Sumatera Barat. Sejak Januari 1947 hingga tahun 1950, Komandan Mobrig Sumbar adalah Inspektur Polisi I Amir Machmud. Ketangguhan pasukan Mobrig ini dalam perang gerilya, terbukti selama Agresi Militer II Belanda.

Setelah Agresi Militer Belanda II berakhir, dibentuklah coordinator-koordinator Mobrig, termasuk di Sumbar yang terbagi 3 koordinator Mobrig yaitu :
a. Koordinator Mobil Brigade Bukittinggi.
b. Koordinator Mobil Brigade Solok.
c. Koordinator Mobil Brigade Padang Panjang.

Pada tahun 1951, nama “coordinator” dirubah menjadi “Kompi”.

Mobrig dalam Mempertahankan Kemerdekaan

 A. Pengamanan Wakil Presiden

Pada awal Juni 1947 Wakil Presiden Republik Indonesia Bung Hatta atas undangan KNI (Komite Nasional Indonesia) Sumatera, berangkat dari Yogyakarta dengan rombongan berjumlah besar, inilah kunjungan pertama Wakil Presiden RI ke Sumatera. Selama keberadaannya di Sumatera (Juni 1947 s/d Februari 1948) Wakil Presiden menetap dirumah tamu agung kemudian dikenal dengan Gedung Negara Tri Arga (Istana Bung Hatta sekarang), selain sebagai kediaman, gedung ini juga dipakai sebagai Istana Wakil Presiden RI di Bukittinggi dari sinilah beliau memimpin perjuangan, di Sumatera pada umumnya di Sumbar pada khususnya.

Dengan dilancarkannya agresi militer I oleh Belanda, di Sumbar ketegangan semakin meningkat. Dengan sasaran terbatas yaitu memperluas daerah kedudukan Belanda dari Padang Luar kota sampai ke Tapakis dekat Lubuk Alung. Selama 7 bulan Wakil Presiden RI berada di Bukittinggi, Kepolisian RI mendapat kehormatan sebagai Pasukan Pengawal Wakil Presiden. Waktu itu kesatuan Mobrig Sumbar dibawah pimpinan Inspektur Polisi II Mandagi K.Situmorang.

B. Pengkhianatan Perjanjian Linggarjati oleh Belanda.

Pada tanggal 21 Juli 1947 Agresi militer Belanda I yang merupakan pengkhianatan Belanda atas perjanjian Linggarjati yang ditandatangani pada tanggal 15 November 1946, pasukan Belanda ingin menduduki kota-kota penting di RI.

Pada saat itu kebencian rakyat Indonesia terhadap Belanda memang semakin memuncak, apalagi melihat gelagat tentara Belanda yang berambisi besar sekali untuk kembali bercokol dibumi pertiwi. Maka pada tanggal 25 Juli 1947 dengan taktik perang gerilya Pasukan Mobrig yang bermarkas di Padang  dibawah pimpinan Inspektur I Basri Bakar bergabung dengan Batalyon Kuranji Pimpinan Mayor Achmad Husein beserta kekuatan lascar rakyat memporak porandakan Konvoi Militer Belanda di Lubuk Peraku, dalam pertempuran itu ada juga tentara dan Mobrig kita yang terluka.

C. Menjaga Batas Renville/Insiden Tapakis

Para pimpinan di Sumatera yang terpusat di Bukittinggi sudah memperkirakan akan meletusnya kembali peperangan dan Belanda akan mengkhianati Perjanjian Renville yang disahkan pada tanggal 17 Januari 1948, yang kemudian dikenal dengan Agresi Militer Belanda II. Pada hari Sabtu pukul 23.30 Wib tanggal 18 Desember 1948, Wakil Walikota Tinggi Belanda telah menyatakan bahwa Belanda tidak lagi terkait dengan perjanjian Renville, pada malam yang sama sebuah pesawat jenis mustang meraung raung diatas kota Bukittinggi, dengan menjatuhkan selembaran pamphlet.

1. Menyusuri jalan raya Padang-Kayutanam seterusnya Via Lembah Anai Formasi tempur dengan perlengkapan Tank baja menerobos ke Padang Panjang dan selanjutnya menuju Bukittinggi.
2. Dengan menggunakan pesawat Cathalina dan mendaratkannya diperairan Danau Singkarak.
3. Kedaulatan garis Renville Indarung di front timur dan seterusnya Via Subang menuju Solok, Belanda dapat bergerak dengan cepat tanpa mendapat perlawanan yang berarti sehingga berhasil menduduki kota Solok.

Dalam organisasi Kepolisian Sumatera Tengah, pasukan Mobrig Sumatera Barat dengan personil 234 orang.

Mobrig merupakan salah satu kekuatan inti yang menjadi garis terdepan pada 3 front sesuai Perjanjian Renville, front utara bermarkas di Sicincin, satuan-satuan Mobrig ditempatkan di Batang Tapakis Ringan-ringan Sintuk Toboh Baru sedangkan di front selatan bermarkas di Painan, yang bertugas disekitar Siguntur Pasar Sungai Durian.

Pasukan Belanda dikirim keutara Via Lubuk Alung dan Kayu Tanam mendapat rintangan difront Tapakis, tempat dimana satuan Mobrig memfloting sejumlah pasukan penjaga batas Perjanjian Renville untuk memperingatkan tentara Belanda untuk tidak melewati perbatasan, namun sebagai jawabannya Belanda menyerang pasukan Mobrig yang ada di Tapakis, terjadilah pertempuran tidak seimbang.

Dalam pertempuran ini gugur dua orang prajurit terbaik Mobrig sebagai Pahlawan Bangsa.
1. Agen Polisi Baharuddin
2. Agen Polisi M.Nur

Kedua pahlawan Mobrig ini dimakamkan ditempat terjadinya pertempuran, tepatnya di desa Tapakis Lubuk Alung Padang Pariaman. Sebagai penghargaan dan untuk mendoakan, mengenang serta meneladani jasa kedua pahlawan bangsa tersebut pada setiap HUT Brimob tanggal 14 November selalu diadakan ziarah kepemakaman Tapakis.

D. Pertempuran Palupuh

Kesatuan tempur yang mempertahankan front Palupuh yang terdiri dari Pasukan Mobrig Brigade Polisi yang merupakan kesatuan antara Mobrig Sumatera Tengah, Sumatera Barat dan Polisi Tugas Umum dibawah komando Kepala Kepolisian Sumatera Tengah PKBP Soelaiman Efendi, berkekuatan 400 personil, terdiri dari pasukan yang pindah dari Bukittinggi, ditambah pasukan Mobrig dari front Tapakis Lubuk Alung, Batu Tebal Padang Panjang, Ladang Padi/Air Sirah dan Siguntur Muda berkumpul dengan induk pasukan didaerah Palupuh. Untuk mencapai daerah Palupuh pasukan Mobrig harus melewati rintangan, dimana Belanda sudah menguasai daerah Padang Panjang, Solok, Payakumbuh, Batusangkar. Melalui hutan jalan solusi terbaik untuk ditempuh, terkadang terpaksa ambil resiko melintasi wilayah patroli pasukan Belanda.

Tugu Perjuangan Palupuah Sisa Perjuangan Brimob di Palupuah

Hari Rabu pada tanggal 22 Desember 1948 Belanda yang berkedudukan di Padang Panjang menyerang kota Bukittinggi, karena tidak ada perlawanan Belanda ingin menghancurkan Bonjol.Dalam perlawanan menuju Bonjol Belanda dihadang pasukan Mobrig yang membangun pertahanan didaerah Palupuh, yang bertugas membendung gerak laju Belanda.

Pada hari Jumat 24 desember 1948 telah terjadi pertempuran sengit antara pasukan Mobrig dengan Belanda selama 1 jam. Dengan menggunakan  1 buah Panser dan 3 buah truk Belanda  merembuk pertahanan pasukan republic. Pasukan Mobrig dibawah komando Inspektur Polisi TK I Amir Machmud dan Inspektur Polisi TK I Raden Yusuf yang bergabung dengan TNI dan tentara pelajar. Diantara tentara pelajar yang tergabung dalam pertempuran ini seorang pemuda bernama Awaluddin Djamin, yang akhirnya pernah menjabat Kapolri yang ke VIII (1978-1982) serta Adrian Kahar anak dari Komisaris Polisi Kaharudin Dt. Rangkayo Basa yang pernah menjabat Panglima Daerah Kepolisian Sumatera Barat dari tanggal 17 Mei 1958 sampai 17 Agustus 1965, dengan berbekal senjata seadanya, antara lain jenis Bren MK 3, US, Caaraben, Hamburg MSG, Lee & Field 7,7 dan Granat tangan, bertahan menghadapi Belanda.

Bunyi rentetan senjata antara dua belah pihak membelah Batang Palupuh, dengan medan perbukitan, posisi pasukan Mobrig jauh lebih menguntungkan , dengan mudah musuh kelihatan. Tentara Belanda berloncatan keluar truk dan merayap dijalan menghadapi penghadangan ini. Dalam pertempuran sengit ini 10 orang tentara Belanda gugur, posisi Belanda tidak menguntungkan, mereka terdesak dan menambah jumlah pasukannya dari Bukittinggi. Disinilah seorang prajurit terbaik Mobrig gugur dengan membawa kebanggaan kecintaan tanah air  dan bangsa, ia adalah Agen Polisi Achmad Loge dikenal dengan kenekatannya. Sebagai penghargaan atas jasa dan pengorbanan beliau oleh Komisaris Polisi Soelaiman Effendi selaku Kepala Daerah Kepolisian Sumatera Tengah dibangun monument perjuangan Mobrig di Palupuh.

Monument tersebut mulai dibangun tanggal 26 Juli 1949 dan diresmikan pada HUT RI ke 4 tanggal 17 Agustus 1949 oleh Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Tengah Soelaiman Effendi. Kemudian Monumen Palupuh mengalami pemugaran tahun 1982 dan diresmikan oleh Kapolri Jenderal Polisi Awaluddin Djamin,MPA pada tanggal 13 Agustus 1982.

E. Pemberontakkan PRRI

Pada tahun 1985 sampai 1961 di Sumatera Tengah pecah pemberontakkan PRRI, dibawah Komando Dewan Banteng yang dipimpin oleh Kolonel Achmad Husein yang berkedudukan di Padang. Pasukan Mobrig dalam situasi ini dalam kebimbangan, berpihak kepada PRRI atau tetap membela NKRI. Hal ini membuat kegiatan Mobrig menjadi vakum (konsolidasi). Pemerintahan pusat mengirimkan pasukan yang namanya APRI ke Sumatera Tengah untuk memadamkan pemberontakan PRRI yang juga disertakan pasukan Mobrig yang berasal dari Jawa Tengah. Dalam situasi perang

Pada tahun 1961, PRRI kembali kepangkuan Ibu Pertiwi, menyerah dan masuk NKRI. Mobrig yang BKO dari Jawa Tengah sebagian dimutasi menjadi organic Mobrig Sumatera Tengah.

Sumber : disini

2 Tanggapan

  1. Saya Putra pertamà dari alm Mayjen Mandagi Kaliamsyah Situmorang,baru membaca tulisan ini semoga bermanfaat bagi generasi muda trmks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: