Tugu Untuk Mengingat PRRI di Nagari Muaro Paneh

Dikarang oleh : H. si Am Dt. Soda

Pendahuluan

Untuk melengkapi bukti sejarah
Syair ditulis dengan Bismillah
Membuat catatan bermacam kisah
Sekitar perang berdarah darah

Ada petuah orang Yunani
Sering dikutip para ahli
Ini merupakan sebagai motivasi
Ketika menuliskan syair ini

Historia vero testis temporum = sejarah adalah saksi zaman
Lux veritatis = sinar kebenaran
Vita memoriae = kenangan hidup
Magistra vitae = guru kehidupan
Nuntia vetustatis = pesan dari masa silam

Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM)

Mohon dimaafkan dengan ikhlas
Seandainya cerita kurang jelas
Mungkin kalimat terlalu keras
Atau kisah tidak tuntas

Jangan jadikan bahan olok-olok
Kalau data tidak cocok
Lakukan survey, pergilah tengok
Itulah sikap yang lebih elok

Walau isinya merupakan fakta
Membaca syair jangan tergesa
Karena menyangkut masalah rasa
Setiap orang berbeda-beda

Penulis bukan seorang Doktor
Tidak pula berprofesi motivator
Hanyalah pensiunan pegawai kantor
Orang awam, bisa teledor

Ibarat cenderamata Oleh-oleh
Kalau berkunjung ke Muaro Paneh
Ada tugu bentuknya aneh
Bukti sejarah perlu ditoleh

Orang membaca masa lalu
Dari tonggak disebut Tugu
Bentuknya mirip seperti peluru
Karena dibuat penguasa serdadu

Melihat tugu tegak berdiri
Di simpang jalan menuju Kinari
Pesan penting memberi inspirasi
Menulis syair, kaba PRRI

Setelah nagari kalah ditaklukkan
Di setiap tempat, kota kecamatan
Dibangun tugu sebagai peringatan
Menandai peristiwa tanggal kejadian

Jurnalis Labuah Basa

Narasumber bergelar Labuah Basa
Manusia langka nyawa tersisa
Di tubuh tersimpan peluru senjata
Difoto ronsen tampak tiga

Ketika luka telah sembuh
Peluru tertanam di dalam tubuh
Tiada sakit bila disentuh
Terlihat peluru masih utuh

Di Sikapuah daerah Palangki
Bukit Putuih berhutan sepi
Basis penting pejuang PRRI
Di situ Jurnalis hampir mati

Ketika Jurnalis seorang diri
Menjemput makanan untuk konsumsi
Tentara Pusat telah menanti
Dia ditembak berkali kali

Jurnalis terkejut tak bisa menghindar
Lalu berlari menyusup belukar
Sambil mengucap kalimat istigfar
Astagfirullah, Allohu akbar

Walau kepala sedikit pusing
Jurnalis berlari ke arah tebing
Ke tepi bukit agak miring
Kemudian melompat berguling-guling

Musuh melacak ke dalam hutan
Mengikuti tetes darah berceceran
Tapi takdir pertolongan Tuhan
Darah dibersihkan oleh hujan

Ketika dicari tentara pusat
Jurnalis sembunyi, tidak terlihat
Hutan rimba sangat lebat
Telah terbukti sangat bermanfaat

Tanda bukti orang beriman
Tidak menduakan kehendak Tuhan
Walaupun berat memikul beban
Anggaplah itu datang Cobaan

Sebelum ajal, berpantang mati
Jurnalis selamat sampai kini
Hidup di kampung sebagai petani
Menjadi sumber kisah PRRI

Basa bernama Engku Jurnalis
Mantan Kokam, anti Komunis
Dunsanak senagari Irlan Idris
Orang Kinari kawan penulis

Waktu negara dalam bahaya
Soekarno berbuat semena mena
Jurnalis berusia masih remaja
Dia berniat masuk tentara

Pergi mendaftar anggota DBI
Pasukan khusus bagian Infantri
Mampu menembak sambil berlari
Latihannya berat petang dan pagi

Sebagai wakil komandan Regu
Jurnalis ingat tanpa ragu
Nomor Register tercatat di buku
0181

Komandan regu bernama Edi Kapoyos
Orang Minahasa bersifat polos
Di Ladang Padi mendirikan Pos
Guna menghambat musuh menerobos

Penjagaan di Ladang belum siap
Menghadapi musuh bersenjata lengkap
Pertahanan jatuh dalam sekejap
Kapoyos terkepung lalu ditangkap

Waktu ditangkap di Ladang Padi
Kopoyos diikat sambil diinterogasi
Menjadi sumber banyak informasi
Tentang anggota pasukan DBI

Karena komandan telah hilang
Jurnalis mundur ke arah Talang
Untuk terus ikut berperang
Melawan Pusat ikhlas berjuang

Akhir 59 di Solok Kinari
Kapoyos disertakan dalam operasi
Jurnalis ditanyakan kemana pergi
Penduduk menjawab sesuka hati

Serangan Udara di Kinari

Kisah di ceritakan Angku Warneri
Serangan udara di Nagari Kinari
Ketika dia seorang diri
Duduk di Lapau menunggu pembeli

Masih langka tinta Dawat
Tanggal peristiwa tidak dicatat
Hanya Warneri selalu ingat
Karena dirinya telah selamat

Angku Murad Dubalang Sati
Ayah kandung saudara Warneri
Termasuk aktivis partai Masyumi
Pendukung setia perjuangan PRRI

Karena mendukung kelompok perjuangan
Tokoh Masyumi masuk catatan
Menjadi target perlu dihancurkan
Dengan Bom atau tembakan

Warneri berusia delapan tahun
Karena mengantuk baru bangun
Menjaga warung sambil melamun
Kampung ditembak tanpa ampun

Walau tidak asrama tentara
Bukan pula tanpa sengaja
Telah digambar di dalam peta
Menjadi target serangan udara

Ketika peluru mengenai drum minyak
Warneri terkejut, lalu berteriak
Memanggil Ibu serta Bapak
Begitulah sifat anak-anak

Bahan bakar minyak tanah
Harga sekaleng sepuluh Rupiah
Kena peluru menjadi tumpah
Lantai lapau semuanya basah

Sesudah minyak tumpah ke lantai
Warneri sigap tiada lalai
Dia melompat ke luar Kedai
Menatap langit, mata mengintai

Tampak di langit ada pesawat
Terbang rendah sangat cepat
Begitu jelas mudah terlihat
Angkatan Udara tentara Pusat

Sumber barang selundupan dari kota Solok

Pasar gelap tempat jual beli
Ada di nagari Sungai Lasi
Lima belas kilo dari Kinari
Melewati rimba hutan yang sepi

Nagari Sungai Lasi kalau disebut
800 meter di atas laut
Ketika pagi sering berkabut
Kalau malam tidur berselimut

Dari Kinari ke Sungai Lasi
Bukit Tandang dan Bukit Bai
Banyak bukit yang harus didaki
Lima jam berjalan kaki

Minyak tanah kebutuhan pokok
Pecah belah garpu dan sendok
Termasuk Citi merek rokok
Barang selundupan dari Solok

Inilah pekerjaan yang tidak ringan
Sambil menjunjung beratnya beban
Berjalan kaki pelan-pelan
Bukit dan Lurah harus ditaklukkan

Besar resiko orang Dagang
Nyawa di badan bisa melayang
Saat membawa beratnya barang
Bisa terjatuh masuk jurang

Asrama tentara Permesta di tanah orang Koto

Kebaikan hati orang Kinari
Rumah yang kosong boleh ditempati
Tempatnya berada kampung Ponti
Agak ke pinggir dari nagari

Walaupun jauh kampung halaman
Datang ke Ranah membantu perjuangan
Tentara Permesta lalu dikirimkan
Guna melatih anggota pasukan

Banyak tentara dari Sulawesi
Ada yang membawa anak isteri
Mereka dianggap keluarga sendiri
Termasuk Kapten Fam Polii

Letak asrama di tanah Koto
Dari kampung seperempat kilo
Lokasi sepi tiada toko
Hanya Lapau tempat berdomino

Kelak terjadi di lain waktu
Di tengah tangis tersedu-sedu
Rumah di Koto dijadikan abu
Saat Apri datang menyerbu

Karena OPR marah besar
Ada perempuan yang ditampar
Rumah Nurdin segera dibakar
Dalam sekejap api membesar

Inilah peristiwa sangat tragis
Agar tak lupa perlu ditulis
Lima rumah dibakar habis
Oleh oknum simpatisan Komunis

Dt. Tan Bandaro

Narasumber lainnya Dt. Tan Bandaro
Mantan prajurit bekas Heiho
Pangulu di Cupak dekat Salayo
Wajahnya jelas tampak di foto

Datuk Tan Bandaro bernama Agussamin
Tokoh masyarakat, seorang pemimpin
Biasa hidup penuh disiplin
Ceritanya benar, bisa dijamin

Bekas Heiho tentara Jepang
Setelah proklamasi ikut berjuang
Saat Bergolak ikut berperang
Sebagai prajurit batalyon Lembang

Batalyon Lembang, tentara PRRI
Anggotanya banyak lima Kompi
Menjaga kampung setiap nagari
Termasuk Parambahan serta Kinari

Buya Okok atau Kapten Nurdin Usman
Memilih markas di sekitar Parambahan
Di sana tersedia bahan makanan
Untuk logistik konsumsi pasukan

Nagari Parambahan di Kabupaten Solok
Jalannya kecil berbelok-belok
Pemandangan alam sangat elok
Di sana markas Buya Okok

Bergotong-royong membuat Hambatan, pohon-pohon ditebang

Di Parambahan terjadi pertempuran hebat
Antara Pejuang dengan tentara Pusat
Orang tua tua pasti ingat
Peristiwa berlangsung hari Jum’at

Pasukan Badai pimpinan Bachtiar
Anggotanya banyak Tentara Pelajar
Punya tanggung jawab sangat besar
Diberi tugas tiada menghindar

Hari Jum’at ada penyergapan
Di tepi jalan menuju Parambahan
Tentara Soekarno jadi ketakutan
Mereka mundur meninggalkan korban

Pertempuran di Parambahan berlangsung sengit
Menimbulkan korban tidak sedikit
Pasukan Badai di lereng bukit
Musuh berlindung di parit – parit


Jembatan di atas Batang Air Alim, di jalan menuju nagari Parambahan
Anak sungai ini bermuara ke Batang Lembang

Karena Allah telah mengatur
Di pihak pejuang seorang gugur
Namanya Burhanuddin alias Uda Bur
Jenazah disholatkan lalu dikubur

Kalau tiada lupa sholat
Orang yang tewas di hari Jum-at
Ketika berjuang membela rakyat
Semoga nabi memberi safaat

Ada berita yang penulis dengar
Entah salah, entah benar
Kabar burung banyak beredar
Batang Lembang jadi tercemar

Airnya busuk tak bisa dipakai
Banyak mayat hanyut di sungai
Kondisinya rusak, perut terburai
Akibat tembakan pasukan Badai

Saat tentara menyerbu Parambahan
Orang Muaro Paneh tidak memperhatikan
Jalan melingkar Apri lakukan
Mereka lewat melalui Panyakalan

Kalau melewati nagari Kinari
Jalan utama, tak lagi berfungsi
Parit menganga 300 senti
Kenderaan militer terpaksa berhenti

Karena korban banyak yang tewas
Markas Komando menjadi cemas
Ingin segera menuntut balas
Kompi Badai harus dilibas

Inilah petuah menurut Adat
Celaka bersilang, tuah sepakat
Penduduk bekerja dengan semangat
Membuat parit cepat-cepat

Dalam keadaan ngeri mencekam
Hari gelap sangat kelam
Bergotong royong diwaktu malam
Menggali parit berjam-jam

Walau kehidupan sedang susah
Karena sepakat menjaga Tuah
Masyarakat bekerja tanpa diupah
Membantu perjuangan tiada lelah

Bukti masyarakat ikut berjuang
Dengan ikhlas ikut menyumbang
Batang pohon telah ditebang
Tanpa diminta ganti uang

Karena mendapat hambatan besar
Manuver musuh tak lagi lancar
Di jalan utama banyak tersebar
Pohon rebah dan batu-batu besar

Pembakaran rumah di Parambahan pada hari Sabtu.


Hari Sabtu, musuh kembali
Tiada ditemukan penduduk laki-laki
Ope-er dan tentara marah sekali
Mereka berteriak memaki maki

Berkeliling kampung berteriak-teriak
Rakyat dilarang membantu pemberontak
Siapa melawan akan ditembak
Tidak peduli Niniak-Mamak

Rumah Gadang saling berjejeran
Di tepi jalan berhadap-hadapan
Di kaki bukit nagari Parambahan
Rancak dilihat dari kejauhan

Ketika rumah akan dibakar
Para penghuni disuruh keluar
Musuh membentak secara kasar
Yang membantah langsung ditampar

Ada nenek andung-andung
Menjatuhkan diri bergulung-bergulung
Lalu menangis meraung-raung
Melihat musibah terjadi di kampung

Perlu diketahui anak cucu
Nagari Parambahan menjadi abu
Tiada tersisa satu pintu
Pembakaran terjadi di hari Sabtu

Belum didata secara benar
300 bangunan perhitungan kasar
Rumah Surau serta Langgar
Habis musnah karena dibakar

Sudah ketetapan ilahi Robbi
Hanya mesjid tetap berdiri
Bisa selamat sampai kini
Menjaga iman anak nagari

Sesudah musuh kembali ke Solok
Orang berunding dalam kelompok
Tentang bantuan yang mungkin cocok
Untuk dibawa saat menengok

Ketika melawan perbuatan batil
Walaupun tidak menyandang bedil
Semua orang merasa terpanggil
Ikut pula Muchlis kecil

Muchlis Hamid dan kawan kawan
Pergi menjenguk ke nagari Parambahan
Sambil membawa sedikit bantuan
Nasi bungkus serta pakaian

Tampak hewan banyak yang mati
Ada Kerbau, Kambing dan Sapi
Hangus terpanggang nyala api
Karena dikebat tak bisa lari

Beginilah sifat anak-anak
Kalau berkawan ajak-mengajak
Perjalanan lanjut ke Batu Karak
Lokasi ijok Bapak-bapak

Karena Parambahan menjadi abu
Batu Karak tempat yang baru
Pengungsi datang satu persatu
Disertai Ulama dengan pangulu

Di jalan sepi sangat lengang
Tiada banyak terlihat orang
Tampak satu-dua para pedagang
Membawa kebutuhan bermacam barang

Di tepi jalan menuju nagari Parambahan.

Pemandangan umum yang jelas tampak
Sarana jalan telah dirusak
Konvoi musuh sering terjebak
Menjadi objek sasaran tembak

Di Batu Karak Muchlis bertanya
Tentang Engku Mudo Yahya
Guru mencakup sebagai Ulama
Biasa dipanggil sebagai Buya

Syukur alhamdullillah Buya selamat
Dalam kondisi sehat walafiat
Hanya sedikit tampak pucat
Kurang tidur, bekerja berat

Di tempat umum Buya berceramah
Mengenai kondisi, keadaan pemerintah
Presiden Soekarno dipihak yang salah
Berkonco erat, dengan Kaum Merah

Dinding rumah diberi Kode serta pesan indoktrinasi

Pasti diketahui orang Jakarta
Dinding rumah ditulis B III
Kalau mau tahu maksud artinya
Kasih tahu nggak yaaaaa !!

Akibat B III, kampung dibakar
Hak azasi telah dilanggar
Kini disebut perbuatan makar
Itulah dosa yang sangat besar

Untuk kecamatan Bukit Sundi
Tulisan B III lalu diganti
Dengan lambang tanda kali
Warnanya hitam, jelas sekali

Rumah diberi tanda silang
Bisa dilihat semua orang
Bukti penghuninya ikut berperang
Menyandang bedil atau senapang

Perintah Soekarno tak habis-habis
Membuat semboyan bermacam jenis
Dinding rumah dianggap strategis
Banyak indoktrinasi harus ditulis

Rumah yang bagus atau jelek
Berdinding papan atau gedhek
Milik kakek atau nenek
Harus ditulis Manipol Usdek

Cerita dialihkan ke nagari Cupak
Penuturan Agussalim yang disimak
Rumah dibakar juga banyak
Hanya terjadi tidak serentak

Di jorong Sungai Rotan 20
Di jorong Balai Pandan 5
Di Jorong Panjalai 7

Di dalam adat budaya kita
Rumah Gadang mengumpulkan keluarga
Hangus terbakar, tiada tersisa
Kalau dijumlah 32

Menurut falsafah tahu di nan Empat
Sebagai kebiasaan Adat yang Teradat
Rumah Gadang adalah Pusat
Tegak berdiri, harus terlihat

Engku Sawi ditembak, Orang Muaro Paneh merasa Kehilangan

Setiap Apri melakukan patroli
Sawi diincar dicari-cari
Ketika bertemu di daerah Kinari
Sawi ditembak, dibunuh mati

Nama lengkapnya Sawi Renyu
Sopan santunnya patut ditiru
Takutnya hanya kepada ibu
Sangat memuliakan para tamu

Punya anak bernama Emi
Gadis kecil lucu sekali
Sudah lancar kalau mengaji
Dilatih langsung oleh Umi

Orang kampung semua kenal
Setiap waktu Sawi beramal
Mencari uang secara halal
Dengan sedikit persiapan modal

Dahulu Pasar, kini Market
Sawi berjualan tak pakai target
Tiada pula istilah Omzet
Apalagi bisnis memakai internet

Tak semua orang bisa mampu
Membuat sandal dan sepatu
Mengolah sendiri bahan baku
Dari jangat kulit Lembu

Banyak kerabat saudara sendiri
Terkadang berutang, dibayar nanti
Menunggu panen, hasil Padi
Atau dibayar, sekarung Ubi

Pedoman hidup orang Muaro Panas
Dalam melaksanakan setiap aktivitas
Hablumminallah Wahamblumminannas
Sawi memahaminya secara luas

Tiba waktunya masa perang
Inilah petuah adat Minang
Tuah sakato, celaka bersilang
Sawi berperan di garis belakang

Mencari simpati dengan halus
Ketika berjuang dengan tulus
Memakai sarana orkes gambus
Iramanya terdengar sangat bagus

Begini lirik lagu si Sawi
Anti Indonesia billadi
Anti’ul wanul faqoma

Kalau ditafsirkan kira kira begini
Indonesia negara kami
Di sanalah aku tegak berdiri

Menurut pesan orang tua-tua
Malang terjadi dalam seketika
Waktu Sawi mengayuh sepeda
Terjadi sesuatu tidak dikira

Niat dihati menemui kerabat
Di Kinari yang cukup dekat
Ada patroli tentara Pusat
Sawi berhenti karena dicegat

Dia bernasib sangat malang
Disuruh berjongkok tangan kebelakang
Lalu ditodong pakai senapang
Bedil meletus, nyawa melayang

Ketika korban ditembak mati
Dalam jarak dekat sekali
Peluru menembus pembuluh nadi
Darah mengalir tak mau henti

Jenazah dibawa ke rumah panjang
Di Muaro Paneh di Pasar Usang
Mantari Udin segera datang
Melihat kepala telah berlubang

Kepala berlubang mengeluarkan darah
Terus mengalir tak bisa dicegah
Karena arteri banyak yang pecah
Disumbat kapas langsung basah

Kisah diceritakan kepada penulis
Oleh dunsanak bernama Muchlis
Melihat sendiri peristiwa sadis
Perbuatan oknum simpatisan Komunis

Bermacam suku ikut PRRI

Piagam PRRI anti Komunis
Bukan gerakan bersifat separatis
Diikuti suku berbagai jenis
Ada Minahasa, Ambon serta Bugis

Orang Ambon bernama Kapten Petrus
Di Sibakua bernasib bagus
Ada perempuan bersedia mengurus
Dijadikan suami dengan tulus

Kapten Polii orang Minahasa
Divisi Banteng bagian Personalia
Mundur ke Kinari dapat celaka
Polii ditangkap lalu ditanya

Ketika Apri melakukan operasi
Dari Solok menuju Kinari
Diwaktu subuh pagi sekali
Polii terkepung tak bisa lari

Dia ditangkap jadi tawanan
Dipaksa menjawab berbagai pertanyaan
Tentang jumlah besar pasukan
Polii bersumpah, pantang membocorkan

Sebagai komadan perwira sejati
Punya kehormatan harga diri
Meskipun diintrogasi berhari hari
Tetap bungkam berdiam diri

Jauh dari Minahasa tanah leluhur
Walau tidak sdang bertempur
Di tepi pantai Teluk Bayur
Polii ditembak sampai gugur

Wali Perang

Waktu terjadi perang saudara
Nagari Kinari pimpinannya dua
Angku Samsudin wali pertama
Inyiak Sarai wali yang kedua

Wali Perang bernama Samsudin
Dipilih masyarakat sebagai pemimpin
Melaksanakan amanah penuh disiplin
Karena berjuang dengan yakin

Ketika perang hujat-menghujat
Pekerjaan Samsudin sangat berat
Lokasi musuh sangat dekat
Menjadi musibah setiap saat

Memimpin masyarakat yang sedang susah
Terkadang muncul bermacam fitnah
Bisa berakibat dapat musibah
Nyawa di badan bisa berpisah

Dapur Umum

Hasil musyawarah dengan kesepakatan
Tiada seorang yang berkeberatan
Setiap rumah menyumbang makanan
Waktunya diatur secara giliran

Bukan pengemis peminta-minta
Tegak menunggu di depan tangga
Para perempuan tenaga sukarela
Mereka bertugas lillahi ta-ala

Ibarat bunga kembang sekuntum
Para perempuan di Dapur Umum
Ikhlas bekerja dengan senyum
Mengatur jatah pembagian ransum

Nasi bungkus pagi dan sore
Untuk pasukan anggota T.P.
Berisi lauk seiris tempe
Terkadang disertai sepotong kue

Walau menu selalu berganti
Tempe goreng sangat disenangi
Sumbernya mudah bisa dicari
Banyak dijual di pasar Kinari

OPR menggunakan bahasa Minang-Indonesia

Sebagai OPR yang taat perintah
Buyung Saram masuk ke rumah-rumah
Loteng dan kamar dia geledah
Tiada orang yang berani mencegah

Karena tak mahir bahasa Indonesia
Kedengaran lucu membuat tertawa
Saat OPR lakukan razia
mencari radio dengan senjata

Bukan menghibur anak-anak
Kalimatnya lucu seperti melawak
Buyung bertanya sambil membentak
Senjata dikokang siap tembak

Dia ingin terlihat pandai
Bahasa Indonesia yang dia pakai
Bunyinya aneh tidak sesuai
Ibarat Kuda disebut Keledai

Menurut pengakuan seorang saksi
Orang kampung penduduk asli
Kalau teringat merasa geli
Kalimat OPR di bawah ini

Siapa yang punya radia di sika
Kalau bersua saya sita
Saya tidak bergara-gara
Jangan main-main dengan saya

Keterangan:
Bersua = bertemu
Disiko (Minang) = disini
Bergara-gara (Minang) = main-main
Buyung: panggilan terhadap anak laki laki orang MK

Wali nagari tandingan

Ketika perang belum berdamai
Apri memilih mitra yang sesuai
Dari golongan anggota partai
Oknumnya bernama Inyiak Sarai

Bukan sembunyi pergi ijok
Inyiak berlindung di kota Solok
Kampung halaman tak lagi ditengok
Dengan dunsanak tetap elok

Waktu pertempuran mulai berkurang
Pasukan PRRI mundur ke belakang
Menuju nagari Batu Bajanjang
Barulah Inyiak kembali pulang

Rangkayo Rahmah El Yunusiah
Tokoh pendidikan disebut tarbiyah
Kepada Apri tak mau menyerah
Ijok ke Talaok ibarat Hijrah

Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: