Akhir Tragis Sang Penyelamat Republik

Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tanggal 30 September 1965 tidak terlepas dari melemahnya kekuatan Islamis dan semakin condongnya rezim Soekarno pada komunisme. Kesempatan besar itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Partai Komunis Indonesia untuk merebut tampuk kekuasaan dalam rangka mencengkeram Republik dengan paham atheisme dan komunisme.

Jauh sebelum memiliki kesempatan untuk memberontak secara nasional, PKI memiliki musuh yang tangguh, yakni kelompok yang membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia dan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PDRI dan PRRI) . Kami nukilkan secara utuh sejarahnya dari Majalah Suara Hidayatullah edisi November 2008.

***

PDRI terbentuk, ketimpangan antara daerah dan pusat malah mencolok. Pusat acuh tak acuh kepada daerah. Protes pun menjadi marak

Dalam untaian sejarah Indonesia, PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) dan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) tak bisa dipisah satu sama lain. Kedua peristiwa ini bagai mata rantai yang saling melengkapi.

PDRI dibentuk pada 19 Desember 1948 di Bukittingi, Sumatera Barat, oleh Syafruddin Prawiranegara. Sedang PRRI dicetuskan 10 tahun kemudian, tepatnya tanggal 15 Pebruari 1958, di Padang, Sumatera Barat, oleh Ahmad Husein. Syafruddin sendiri kemudian diangkat sebagai Perdana Menteri dalam pemerintahan yang baru ini.

Ihwal terbentuknya PDRI bermula ketika Belanda melancarkan agresi kedua dengan menduduki ibukota negara yang saat itu berkedudukan di Yogyakarta. Ketika itu, Belanda juga menawan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Beberapa jam sebelum ditawan, Soekarno sempat menyurati Syafruddin selaku Menteri Kemakmuran RI yang saat itu sedang menjalankan tugas di Bukittinggi, Sumatera Barat. Surat itu berisi mandat kepada Syafruddin agar segera membentuk PDRI. Tanpa ada hambatan, sehari setelah itu, pemerintahan darurat terbentuk.

Perjalanan PDRI selanjutnya jelas tak mulus. Syafruddin dan kawan-kawan terus diburu Belanda yang tak senang dengan berdirinya pemerintahan baru. Roda pemerintahan terpaksa digerakkan dengan cara bergerilya di hutan-hutan Sumatera Barat.

Upaya Syafruddin menyelamatkan bangsa dari ketiadaan pemerintahan boleh dikata berhasil. Melalui pemancar radio di Koto Tinggi, PDRI telah membukakan mata internasional untuk mengakui kedaulatan RI.

Agresi militer Belanda berhenti. Soekarno dan Hatta dibebaskan. PBB mengakui kedaulatan Indonesia.

Seiring keberhasilan ini, cerita tentang PDRI juga ditutup dengan happy anding yang mengharu-biru. Setelah dijemput oleh Muhammad Natsir ke Payakumbuh, Syafruddin berangkat ke Yogyakarta untuk mengembalikan mandat pemerintahan kepada Presiden Soekarno.

Di Lapangan Koto Kaciak, keberangkatan Syafruddin dilepas dengan tangis haru ribuan masyarakat dan para pejuang yang telah berbulan-bulan keluar masuk hutan demi menyelamatkan PDRI. Selama berada di hutan, mereka mengandalkan budi baik masyarakat yang kerap mengirimi mereka nasi bungkus untuk menunjang hidup.

Sejarawan Dr Mestika Zed menyatakan, negara dan pemerintahan Indonesia tidak akan ada tanpa PDRI. “PDRI adalah pemerintah darurat yang dipimpin Syafruddin Prawiranegara sebagai bentuk kesuksesan orang daerah menyelamatkan negara dari ancaman disintegrasi bangsa dan kembali menyerahkan tampuk kekuasaan setelah tugasnya selesai.” kata Mestika.

Pengembalian mandat PDRI oleh Syafruddin kepada Soekarno ternyata bukan awal bagi terwujudnya pemerintahan yang sesuai dengan cita-cita proklamasi. Sebaliknya, ketimpangan pembangunan antara pusat dan daerah kian menganga.

Ketika Presiden Soekarno menggulirkan proyek pembangunan Tugu Monas serta berhala-berhala lain di Jakarta, rakyat di daerah, baik di Jawa maupun di luar Jawa, justru kian dibelenggu oleh kemiskinan, kelaparan, dan didera penyakit tukak dan cacing tambang.
Akibat ketimpangan itu, gelombang ketidakpuasan di daerah mulai membesar. Di Bukittinggi, bekas ibukota PDRI, misalnya, untuk pertamakali terjadi unjuk rasa yang diikuti 10 ribu orang. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan “Demontrasi Nasi Bungkus”.

Istilah “Nasi Bungkus” menggambarkan simbol bahwa rakyatlah yang dulu mendukung tentara dengan logistik sehingga tetap bisa mempertahankan PDRI hingga bangsa ini bisa terselamatkan.

Berawal dari Dewan Banteng

Bersamaan dengan kian memuncaknya protes atas ketimpangan pembangunan wilayah pusat dan daerah, pada Desember 1956 berdirilah Dewan Banteng di Sumatera Tengah, Dewan Gajah di Sumatera Utara, dan Dewan Garuda di Sumatera Selatan.

Bermunculannya dewan-dewan itu merupakan wujud ketidakpuasan daerah kepada pemerintah pusat atas penciutan struktur militer dan kian diberi tempatnya PKI di pemerintahan. Saat itu Soekarno dinilai lebih condong ke “kiri“.

Menurut Kahin (1979), Resimen 6 Devisi IX Banteng sebelumnya merupakan pasukan terbaik di Sumatera. PRRI kala itu menunjuk Ahmad Husein sebagai panglima pasukan ini.
Namun, nasib Divisi Banteng menjadi kucar-kacir ketika pemerintah Soekarno melaksanakan penyerderhanaan struktur militer secara nasional.

Kemudian, perwira Akademi Militer Hukum di Jakarta, Jusuf Nur dan Djamhuri Djamin, pengusaha Ramawi Izhar, serta Badar Gafar dari pusat pendidikan infanteri, berencana menggelar reuni mantan Divisi Banteng, baik yang masih aktif maupun yang tidak.

Rencana reuni dimatangkan dalam dua kali pertemuan. Pertama, di Jakarta pada 21 September 1956. Kedua, di Padang, Sumatera Barat, pada 11 Oktober 1956.

Reuni akhirnya terlaksana di Padang tanggal 20 hingga 24 Nopember 1956. Reuni ini membahas masalah politik dan sosial ekonomi rakyat di Sumatera Tengah.

Reuni dihadiri sekitar 612 perwira aktif dan pensiunan. Reuni membuat sejumlah rekomendasi, yakni perbaikan masalah kepimpinan negara secara progresif dan radikal, perbaikan kabinet yang telah dimasuki unsur komunis, penyelesaian perpecahan di tubuh Angkatan Darat, pemberian otonomi seluas-luasnya kepada Sumatera Tengah, serta menghapuskan birokrasi sentralistik. Rekomendasi ini dinamakan tuntutan Dewan Banteng.

Selain itu dibentuk pula dewan yang bertugas menindaklanjuti dan memperjuangkan hasil reuni ini. Dewan tersebut bernama Dewan Banteng, terdiri dari unsur militer, pemerintah daerah, alim ulama, dan pemuka adat. Jumlahnya ada 17 orang, mengacu pada semangat proklamasi 17 Agustus 45.

Tetapi oleh PKI dan sebagian tokoh PNI, rumusan perjuangan Dewan Banteng itu dicap sebagai pemberontakan. Ahmad Husein, ketua Dewan Banteng, langsung membantah tuduhan ini. Ia berpidato di depan corong Radio Republik Indonesia Padang, mengutarakan bahwa perjuangan Dewan Banteng bukan untuk memberontak, justru untuk membela keutuhan Republik Indonesia dan menegakan konstitusi.

Dewan Banteng menilai Soekarno telah mengkhianati konstitusi dengan membubarkan konstituante. Soekarno juga dikecam karena kian memihak kepada komunis. Puncaknya adalah mundurnya Bung Hatta sebagai Wakil Presiden RI pada 1 Desember 1956. Ia tidak setuju dengan cara Soekarno mengatasi keadaan negara.

Sayangnya, peristiwa itu tak membuat Soekarno mengoreksi sikapnya. Malah, aksi pelemparan granat pada malam 30 Nopember 1957, di saat Soekarno menghadiri ulang tahun sekolah Cikini, tempat anaknya bersekolah, dijadikan alasan untuk menangkapi lawan-lawan politiknya dan mengeluarkan Dekrit Presdien 5 Juli 1959. Dekrit ini berisi permintaan agar konstituante hasil Pemilu 1955 dibubarkan.

Pasca peristiwa Cikini, Jakarta menjadi bara api yang setiap saat siap membakar para lawan politik Soekarno, terlebih bagi siapa saja yang sejak awal telah menentang keberadaan PKI. Surat kabar yang menjadi corong PKI seperti Harian Rakyat, Warta Bhakti, Bintang Timur dan Harian Pemuda menuding sejumlah tokoh politik dari partai Masyumi dikait-kaitkan dengan peristiwa Cikini. Mereka kemudian diteror dan diancam akan dihabisi.

Rumah Mohammad Rum sempat dikepung massa. Untunglah Rum dan keluarganya selamat. Demikian juga rumah Natsir. Para politisi dari partai Masyumi merasa tidak aman lagi tinggal di Jakarta. Satu demi satu mereka ‘hijrah’ ke daerah. Bahkan, Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo, politisi Partai Sosialis Indonesia (PSI), turut hijrah ke Padang.

Jadi, kedatangan Muhammad Natsir, Syafruddin Prawiranegara, dan Burhanuddin Harahap ke Padang sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan terbentuknya Dewan Banteng atau berbagai gerakan protes yang sedang marak di daerah.

“Pak Natsir dan sejumlah tokoh Masyumi murni mengungsi ke daerah untuk menyelamatkan diri dari aksi penculikan,” ungkap Dt Tankabasaran, pengawal Natsir pada waktu itu.

Namun, Soekarno tidak peduli. Para tokoh Masyumi tetap dianggap ikut memberontak.

Pemberontakan Setengah Hati

Tokoh Masyumi mampu meredam keinginan masyarakat untuk memisahkan diri dari NKRI. Namun, Soekarno tetap menilainya sebagai pemberontak.

Gagasan melawan Soekarno yang dituduh kian condong pada PKI semakin menguat ketika para tokoh militer dan politisi sipil mengadakan rapat rahasia di Sungai Dareh, Sumatera Barat. Rapat rahasia itu berlangsung dalam dua putaran.

Putaran pertama tanggal 8 Januari 1958, dihadiri tokoh-tokoh militer plus seorang politisi sipil Soemitro Djojohadikoesoemo. Rapat putaran pertama ini penuh semangat ‘kemarahan’ kepada pemerintah pusat. Bahkan, sempat terlontar beberapa kali ancaman akan memisahkan diri dari NKRI dan mendirikan negara Sumatera jika pemerintah pusat tak mau berbenah.

Untunglah, dalam rapat kedua tanggal 10 Januari 1958, tokoh sipil seperti Muhammad Natsir, Syafruddin Prawiranegara, dan Boerhanuddin Harahap, bisa meredam keinginan itu. Pertemuan tertutup yang disebut rapat rahasia Sungai Dareh itu cuma menyempurnakan susunan pengurus Dewan Perjuangan.

Sebulan setelah rapat rahasia berlangsung, tepatnya tanggal 10 Pebruari 1958, Ahmad Husein, selaku Ketua Dewan Perjuangan, menyampaikan ultimatum kepada pemerintahan Soekarno melalui Radio Republik Indonesia Padang. Ultimatum yang disebut Piagam Perjuangan ini berisi 8 poin tuntutan. Intinya, menuntut agar dalam waktu 5 x 24 jam sejak diumumkannya ultimatum ini, presiden segara membubarkan Kabinet Djuanda.

Tuntutan lainnya, pemerintah harus membentuk Zaken Kabinet Nasional yang jujur dan bersih dari unsur-unsur PKI. Kemudian, Soekarno harus memberi dukungan kepada Zaken Kabinet, dan Hatta bersama Hamengku Buwono harus diberi mandat untuk bertugas di Zaken Kabinet ini.

Jika ternyata Soekarno enggan memenuhi tuntutan ini dan tidak memberikan kesempatan kepada Zaken Kabinet untuk bekerja, maka Dewan Perjuangan menyatakan terbebas dari kewajiban taat kepada Soekarno sebagai kepala negara.

Tak ada satu kalimat pun dalam ultimatum yang menyatakan bakal memisahkan diri dari Republik Indonesia. Saat ditanya oleh Kapten Zaidin Bakry apa yang akan dilakukan Dewan Perjuangan ke depan, Husein sama sekali tak menjawab bakal mendirikan negera sendiri. Ia hanya menjawab, “Kita buat organisasi. Kita gertak Soekarno sampai kelak dia undang kita untuk membicarakan nasib bangsa ini.”

Namun, ultimatum yang hanya sekadar ”gertakan sambal” itu tidak membuahkan hasil. Esok harinya, 11 Februari 1958, di Jakarta, Djuanda mengumumkan menolak ultimatum Dewan Perjuangan. Bahkan, ia memerintahkan KSAD untuk memecat Letkol Ahmad Husein dan Kolonel Simbolon dari kemiliteran, membekukan Komando Daerah Militer Sumatera Tengah (KDMST), serta memutuskan hubungan darat dan udara dengan Sumatera Tengah.

Sikap yang ditunjukkan Djuanda ini jelas memberi jawaban bahwa ultimatum tak akan dipenuhi. Bahkan, Djuanda memberikan reaksi yang sangat keras.

Itu berarti, tak ada lagi jalan menuju negosiasi. Tindakan harus segera dilakukan. Maka, pada tanggal 15 Pebruari 1958, Husein segera membentuk ”kabinet tandingan” yang berkedudukan di Padang. Mereka juga mengumumkan tak mengakui lagi kabinet Djuanda.

Kabinet baru itu bernama Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Dalam kabinet itu, Mr Syafruddin Prawiranegara diamanahi sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri Keuangan. Maludin Simbolon menjabat Menteri Luar Negeri., Kolonel Dahlan Djambek menjabat Menteri Dalam Negeri. Mr Burhanuddin Harahap menjadi Menteri Pertahanan sekaligus Menteri Kehakiman. Dr Soemitro Djojohadikoesemo menjabat Menteri Perhubungan dan Pelayaran.

Adapun Menteri Agama dijabat Saleh Lintang. Menteri Penerangan dijabat Saleh Lahade. Menteri Sosial dijabat A. Gani Usman. Menteri Pertanian dijabat S. Sarumpaet. Menteri Pembangunan dijabat JF Warouw. Dan, Menteri PP&K dijabat Mohammad Syafei.

Tak lama kemudian terjadilah ”tragedi”. Tragedi ini berawal saat Presiden Soekarno pulang dari lawatan ke Eropa Timur dan Peking pada 16 Pebruari 1958. Djuanda langsung menghadap Soekarno dan melaporkan gerakan yang ia sebut ‘pemberontakan’ PRRI di Sumatera Tengah dan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) di Sulawesi. Hari itu juga keluar perintah Soekarno agar menangkap para tokoh PRRI dan Permesta.

Ancaman penangkapan “dijawab” oleh Ahmad Husein dengan mengelar Rapat Umum PRRI di Padang pada 20 Pebruari 1958. Di hadapan peserta rapat, Husein menyatakan tidak gentar dengan ancaman Soekarno. Sambil melemparkan tanda pangkatnya ke tanah, Husein berkata, “Apabila saudara-saudara tidak mendukung perjuangan PRRI, maka saat ini juga saudara-saudara boleh menangkap saya dan menyerahkan saya ke pemerintahan Soekarno.”

Beberapa tokoh lalu menenangkan Husein. Tanda pangkat yang tadi dilempar, diambil lagi dan dilekatkan kembali ke tempatnya.

Sejak saat itu dukungan terus mengalir kepada PRRI. Bahkan dilaporkan, sekitar 400 mahasiswa dan pelajar Minang yang sedang kuliah di Jawa memutuskan pulang untuk bergabung bersama Tentara Pelajar (TP), sebuah kekuatan penyeimbang terhadap OPR (Organisasi Pemuda Rakyat) dan OKR (Organisasi Keamanan Rakyat) bentukan PKI.

Dukungan mayoritas dari masyarakat Sumatera Tengah dan Sumatera Barat terhadap PRRI adalah wajar. Sebab, wilayah ini merupakan basis Masyumi. Tokoh-tokoh Masyumi sendiri banyak yang menjadi tokoh PRRI.

Lagi pula, di Sumatera Tengah, partai Masyumi meraih kemenangan mutlak (58 persen) pada Pemilu 1955, jauh meninggalkan PNI, apa lagi PKI.

Para tokoh PRRI di daerah Sumatera Tengah juga ‘menjawab’ ultimatum Soekarno dengan melancarkan operasi penangkapan terhadap ratusan tokoh ‘kiri’ dan anggota PKI. Mereka ditahan di tiga tempat: Muaro Labuh, Situjuh, dan Suliki.

Keesokan harinya, tanggal 21 Pebruari 1958, Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) mulai melancarkan operasi penumpasan PRRI dengan kekuatan penuh. Operasi ini diberi sandi “Operasi 17 Agustus”, dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani.

Pesawat AURI langsung menghujani Kota Padang dan Bukittinggi dengan bom. Bersamaan dengan itu, puluhan kapal perang membombardir Pantai Padang.

Anehnya, tak ada perlawan dari pihak ”pemberontak”. Tak ada serangan balasan meski mereka bertubi-tubi diserang APRI. Tak ada satu pun ”pemberontak” yang berusaha meletuskan senjatanya. Ada apa gerangan?

Rupanya sehari setelah ”rapat rahasia Sungai Dareh” ditutup, Natsir memberi perintah agar PRRI menerapkan ‘gerakan tanpa perang’ untuk melawan pemerintah Soekarno. Seruan ini betul-betul diikuti.

PRRI bukannya membalas serangan tapi justru mundur ke kampung-kampung, terus ke hutan-hutan. Rute gerakan mundur ini tak jauh berbeda dengan rute perjuangan PDRI dulu, yaitu belantara di sekitar Agam, Pasaman, Payakumbuh, dan Solok.

Inilah adegan ”pemberontakan setengah hati” PRRI.

Balas Dendam Si Palu Arit

Karena PRRI sangat memusuhi komunis, PKI ikut serta dalam operasi penumpasan garakan ini. Korban pun berjatuhan.

Sejatinya, bukan hanya faktor kesenjangan yang menyebabkan PRRI lahir. Namun, hadirnya komunis di Indonesia juga menjadi salah satu sebabnya. Ini bisa diketahui dari ultimatum PRRI yang dikeluarkan tanggal 10 Februari 1958. Isi ultimatum tersebut antara lain menuntut agar pemerintah pusat membersihkan kabinetnya dari unsur-unsur PKI.

Nuansa anti-PKI juga terlihat dari respon pribadi para tokoh PRRI terhadap gerakan komunisme. Simbolon, panglima Tentara dan Teritorium I (TT-I) Bukit Barisan, yang menjabat Menteri Luar Negeri PRRI, misalnya, sejak awal sudah menyadari bahaya komunis mengintai Sumatera Timur.
Perkebunan-perkebunan raksasa yang saat itu berada di bawah pengawasannya rawan untuk disusupi komunis. Sebab, para buruh merupakan ”ladang emas” bagi mereka untuk digarap.

Para buruh yang sudah terasuki paham komunis ini mendirikan organisasi bernama SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia). Organisasi ini bertugas melumpuhkan usaha perkebunan, transportasi, dan pelabuhan di Belawan, Sumatera Utara, sehingga pemasukan negara terhambat dan pemerintah mengalami kesulitan ekonomi. Rencana berikutnya, mereka akan menuntut kekuasaan.
Begitu pula Saleh Lahade yang menjabat Menteri Sosial di kabinet PRRI. Kewaspadaan perwira yang mendapat tugas mengurusi transmigrasi ini terhadap gerakan komunis sudah ia perlihatkan lewat sebuah tulisan pada 15 Oktober 1957.

Dalam tulisan itu ia tumpahkan semua konsep mengenai cara mengatasi problem yang menimpa Angkatan Darat. Cara itu, menurutnya, menumpas sumber masalah yang menyebabkan pertikaian dalam militer terjadi. Sumber masalah itu tak lain adalah komunis. Tulisan itu selanjutnya ia sampaikan ke Panitia 7 di Jakarta.

Sedangkan Syafruddin Prawinagera yang menjabat Perdana Menteri PRRI, Burhanuddin Harahap yang menjabat Menteri Pertahanan, serta Natsir, adalah tokoh-tokoh Masyumi yang memang amat keras menentang komunis.

Jadi, bisa dimaklumi jika mereka semua kemudian bergabung dengan PRRI ketika “hijrah” ke Padang.

Bahkan, PRRI pernah pula mendapat bantuan persenjataan dari CIA (Central Intelligence Agency) Amerika Serikat karena memusuhi komunis. RZ Leirissa dalam buknya PRRI Permesta, Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis menilai hubungan ini terbangun karena PRRI dan CIA sama-sama memiliki kepentingan. PRRI memerlukan senjata untuk menghadapai serangan pemerintah pusat, sedangan CIA perlu saluran untuk menggertak Soekarno. Ini bisa dipahami karena Barat sangat memusuhi komunis.
Akan tetapi, setelah AS melihat masih ada sekelompok orang yang anti-komunis di jajaran pemerintahan, dukungan terhadap PRRI dialihkan kepada kelompok ini.

Balas dendam

Dendam PKI kepada PRRI kian lama kian membuncah. Kesempatan untuk membalaskan dendam ini terbuka lebar ketika terjadi operasi penumpasan PRRI. Apalagi setelah Kolonel Pranoto diangkat menggantikan Kolonel Ahmad Yani sebagai Panglima Kodam III dan Komandan Operasi 17 Agustus.

Syafrudin Bahar, dalam Kaharoeddin Gubernur di Tengah Pergolakan, 1998, memaparkan bagaimana Pranoto mengerahkan sekitar 6.341 OKR (Organisasi Keamanan Rakyat) dan OPR (Organisasi Pemuda Rakyat) untuk menyerang PRRI. Jumlah ini hampir setara dengan sembilan batalyon tentara.
Kenyataannya, OKR menjelma menjadi Pemuda Rakyat yang dijadikan ujung tombak PKI melakukan berbagai teror, intimidasi, dan tindakan brutal. Banyak korban berjatuhan di Minang. Mereka semua pendukung PRRI.

Kebiadaban kian menjadi-jadi dengan ikutnya Mayor Latif sebagai Perwira Seksi I/Intelijen, Letnan Untung (kelak memimpim kudeta G30S/PKI) sebagai Komandan Kompi, dan anggota Biro Khusus Komite CC-PKI, Djajusman. Jadilah penumpasan PRRI sebagai ajang balas dendam menghabisi mereka yang dulu gencar menuntut pembubaran PKI.

Tiap daerah punya cerita hampir sama tentang kekejaman PKI. Pendukung PRRI yang tidak lari ke hutan sering ditemukan dalam karung tanpa kepala atau mata. Di Matur Mudik, tentara pelajar yang dijemput malam oleh OPR banyak yang tak pernah kembali lagi.

Di Mahek Suliki, anggota PRRI yang bersiap kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi ditembaki hingga tewas. Di desa Lariang, Bonjol Pasaman, Kolonel Dahlan Djambek yang bersiap turun gunung memenuhi panggilan pemerintahan Soekarno pada 13 September 1961 diberondong sampai tewas.

Dengan adanya kasus-kasus itu, Amnesti Umum berupa pengampunan dan jaminan keselamatan bagi anggota PRRI yang bersedia keluar hutan, seperti diumumkan Presiden Soerkarno melalui Kepres No 332 tanggal 22 Juni 1961, omong kosong.

Kebiadaban demi kebiadan yang dialami masyarakat Minang benar-benar menimbulkan trauma yang mendalam sampai hari ini. Masyarakat Minang kehilangan inisiatif dan daya kritis. Demikian parahnya rasa trauma itu sampai-sampai tradisi pemberian nama yang berbau Minang sempat dihapus. Banyak putra Minang yang lahir pasca penumpasan PRRI diberi tambahan nama Prayitno, Sutarjo, atau Hamiwanto.

Setelah PRRI jatuh, posisi PKI semakin menguat. Pada tahun 1965, tepatnya tanggal 30 September, partai komunis semakin berani bergerak. Enam pejabat tinggi militer dan seorang pengawal mereka bunuh. Peristiwa ini tersohor dengan sebutan Gerakan 30 September. Rupanya, inilah akhir dari cerita kekejaman ”Si Palu Arit”.

Sumber

Iklan

KENANGAN MASA PRRI (1)

1. Awal Cerita

Aku memanggilnya mak etek. Mak etek Jun. Namanya Junaidi. Usianya sudah lebih tujuh puluh tahun. Tapi sosok tubuhnya masih gagah. Giginya masih utuh. Kecuali rambut ikalnya yang sudah hampir putih semuanya, beliau terlihat lebih muda dari usianya. Mak etek Jun adalah seorang pensiunan guru. Terakhir, sebelum pensiun, beliau menjadi kepala sekolah dasar di kampung kami.

Kalau lagi pulang kampung, aku suka sekali berkunjung ke rumah mak etek Jun. Selalu saja menarik berbincang-bincang dengan orang tua ini. Cerita apa saja. Masalah keadaan kampung, masalah pendidikan anak-anak, masalah politik ala kadarnya, masalah korupsi. Karena beliau memang seorang pengamat yang baik untuk hal-hal semua itu. Namun yang paling aku sukai adalah cerita tentang pengalaman masa muda beliau ketika ikut bergerilya di jaman PRRI.

Pada kunjunganku terakhir aku melihat sebuah foto hitam putih berukuran besar tergantung di dinding. Foto seorang laki-laki bagurambeh. Berjanggut dan bercambang lebat. Itu adalah foto beliau di waktu muda, karena sangat jelas terlihat wajahnya meski dibalut cambang dan janggut seperti itu.

‘Kok baru kelihatan foto yang satu ini, mak etek?’ aku berkomentar.

‘He..he..he.. Itu foto kenang-kenangan waktu baru balik dari rimba dulu. Si Pinto yang menemukan, lalu diperbesarnya dengan komputer, jadilah seperti itu. Dia pula yang membingkai dan meletakkan di situ,’ jawab mak etek Jun.

Pinto adalah cucu kesayangan mak etek yang sudah duduk di kelas tiga SMP.

Aku mendekat ke dinding tempat foto itu tergantung untuk mengamatinya lebih jelas. Ada catatan tanggal dan tahun di bawah foto itu.

‘Tahun 1961? Belum pernah ambo melihat mak etek seperti dalam foto itu. Bagaimana pula ceritanya sampai bergurambeh lebat begitu?’ tanyaku.

‘Di hutan itu di mana pula ada pisau cukur. Paling ada gunting kecil untuk memangkas misai. Karena bertahun-tahun dibiarkan, jadilah seperti itu,’ jawab mak etek tersenyum.

‘Gagah dan berwibawa terlihatnya,’ aku menambahkan.

‘Mungkin maksudmu mengerikan ha..ha..ha… ‘ mak etek terbahak-bahak.

Aku tersenyum.

‘Semua teman mak etek di luar seperti itu?’

‘Tentu tidak…. Ada yang memang berbakat. Badannya penuh bulu. Tapi banyak juga yang kelimis.’

‘Sampai seperti yang di foto itu…. Sudah berapa lama itu tidak dicukur?’

‘Sejak lari ke luar hanya dua atau tiga bulan pertama saja masih sempat mengurusnya. Sesudah itu tidak pernah lagi.’

‘Ulang pulalah cerita mak etek tentang lari ke luar itu. Masih ada yang belum ambo dengar. Bagaimana awalnya mak etek sampai ikut?’ tanyaku.

Mak etek Jun menarik nafas. Matanya sedikit menerawang. Mungkin sedang menjemput ingatan lama.

‘He..he..he.. Begini….,’ beliau mengawali.

Aku mempererat duduk, bersiap mendengar cerita yang biasanya akan cukup panjang.

‘Aku sudah mengajar di sekolah rakyat ketika perang pecah. Dulu, tamat dari SGB kami sudah diangkat jadi guru. Aku mengajar di Lambah. Berjalan kaki menyeberangi jalan kereta api dan jalan raya di Biaro. Pernah pada suatu siang, pulang sekolah, aku dihentikan tentara APRI di jalan raya itu. Mereka baru berani beroperasi di jalan raya, belum berani masuk ke jalan-jalan kampung. Mereka banyak sekali. Ada empat buah truk tentara dan tiga buah jip Rusia berhenti di tepi jalan. Mereka memeriksa dan membentak-bentak. Setiap penumpang bendi yang datang dari arah Bukit Tinggi disuruh turun. Barang belanjaan ibu-ibu diperiksa. Entah apa yang mereka cari. Ada beberapa orang laki-laki yang disuruh naik ke atas truk. Untungnya, kami guru-guru selalu membawa surat keterangan dari kepala sekolah yang menyatakan bahwa kami adalah guru. Waktu surat itu aku perlihatkan, tentara yang tadinya membentak-bentak sambil menyorongkan bedilnya ke arah dadaku, tidak lagi marah-marah dan aku dibiarkan meneruskan perjalanan pulang ke rumah.

Beberapa waktu kemudian, saat kami sedang liburan sekolah. Kami sedang mengirik padi di sawah di Bandar Panjang. Kecuali aku, yang bekerja siang itu semua orang tua-tua yang sudah berumur lebih lima puluh tahun. Kira-kira jam sebelas kami dengar derung mobil tentara di kejauhan. Mamakku, mak Endah menyuruh aku pergi bersembunyi. Tapi ada pula mamak yang lain, mak Malin menyuruh tinggal. ‘Kalau kau lari, bertemu di jalan, alamat kau akan dibedilnya. Lebih baik kau di sini saja,’ kata mak Malin.

Akupun lebih memilih untuk tidak pergi. Beberapa saat kemudian kami dengar beberapa kali bunyi tembakan. Mamak-mamak itu sama bergumam, mempertanyakan entah siapa pula yang sudah kena tembak. Tiba-tiba saja, telah muncul tiga orang tentara APRI, menuju ke arah kami sambil menodongkan senjata. ‘Angkat tangan,’ perintahnya. Aku memberi contoh bagaimana mengangkat tangan, karena ada di antara mamak-mamak itu yang tidak faham.

‘Kau…..! Kesini kau!’ perintahnya padaku. Akupun mendekat.

‘Kau pemberontak!’ hardiknya. Ujung bedilnya menempel di pelipisku. Aku berusaha tenang. Lalu aku jawab, bahwa aku seorang guru.

‘Bohong kau! Mana surat-surat!’ hardiknya pula.

‘Kami sedang bergotong royong. Saya tidak membawa surat-surat,’ jawabku.

‘Bohong!’ bentaknya lagi.

Kali ini aku ditamparnya, persis di mukaku. Bukan main sakitnya. Tapi yang lebih sakit adalah hatiku. Tentara itu mungkin seumur denganku. Dan aku ditampar perai saja. Mana mungkin aku membalas. Pondok kami diusainya. Mungkin dia curiga kalau-kalau ada senjata tersembunyi di sana. Mamak-mamak yang lain ditanyainya pula satu persatu. Mak Endah, mamakku yang memang terlihat tegap juga ditamparnya. Entah apa masalahnya aku tidak tahu.

Aku dan dua orang dari mamak-mamak itu dibawa mereka pergi. Agak kecut juga hatiku kalau-kalau aku akan dibedilnya pula. Rupanya kami dibawa ke Lasi. Di sana kami disuruh menggali lobang di sekitar sebuah rumah. Rumah itu mereka rampas untuk jadi markas. Ada puluhan orang yang bekerja paksa di sana, semua orang-orang yang mereka tangkap hari itu dari beberapa kampung.

Sorenya mak ditemani mak tuoku datang ke Lasi membawa surat keteranganku. Komandan mereka lebih ramah kepada orang-orang tua itu. Aku dipanggil anak buahnya untuk menghadap. Tentara itu minta maaf atas perlakuan anak buahnya kepada kami. Dan sore itu kami semua diizinkan pulang.

Tapi maaf tinggallah maaf. Hatiku sudah bulat. Selama bekerja membuat lobang itu otakku berpikir keras tentang pergi bergabung dengan tentara luar. Aku akan segera melakukannya. Aku akan membalas kekurangajaran tentara-tentara keparat ini. Yang telah menamparku. Memaksaku bekerja. Mereka adalah manusia-manusia tidak tahu sopan santun. Main bentak dan main tampar bahkan terhadap orang-orang tua yang pada hal adalah rakyat sipil. Dan entah berapa orang pula orang kampung yang mereka tembaki hari itu. Mereka memang tentara-tentara bengis dan semena-mena.

Dalam perjalanan pulang mak tuo bercerita bahwa di kampung kami saja siang hari itu empat orang anak muda lagi mati tertembak. Anak-anak muda yang berusaha menghindar waktu bersirobok dengan mereka. Anak-anak muda yang diteriaki supaya mengangkat tangan tapi tidak segera mengangkatnya. Mereka ditembak dari belakang. Ada yang kepalanya pecah. Yang dadanya rengkah. Yang perutnya terburai. Darahku tambah mendidih saja mendengar cerita itu. Meskipun sampai sejauh ini aku selamat berkat surat keterangan guru, bukan tidak mungkin, jika aku tetap bertahan di kampung besok atau lusa mereka akan menembakku pula.

Sesudah makan malam hari itu, secara tidak langsung aku beritahu mak bahwa aku akan ikut tentara luar. Beliau tidak setuju. Tapi aku jelaskan betapa besarnya resiko bagiku untuk tetap tinggal di kampung. ‘Apakah mak mau ambo mati serupa si Pudin pula?’ kataku. Si Pudin adalah kemenakan ayah yang ditembak tentara beberapa hari sebelumnya. Mak menangis malam itu. Beliau sangat faham tentang resiko dan kemungkinan itu.

Malam itu juga aku pergi menemui tuan Asmar. Beliau ini wali jorong. Tuan Asmar adalah penghubung dengan komandan tentara luar. Beberapa anak muda dari kampung kami yang sudah lebih dahulu pergi, memulai kontaknya melalui tuan Asmar. Kepada tuan Asmar aku sampaikan niatku itu. ‘Sebenarnya kalau kau siap, malam ini juga kau bisa ikut dengan mereka. Kau tunggulah disini. Biasanya mereka datang lewat tengah malam. Tapi kalau kau belum siap, biarlah aku sampaikan saja dulu niatmu itu kepada Tan Basa. Nah! Bagaimana pendapat kau?’ tanya tuan Asmar. Waktu itu sebenarnya aku siap saja. Tapi terpikir pula bahwa aku belum minta izin dengan bersungguh-sungguh kepada mak. Aku yakin beliau akan mengizinkan sesudah aku menjelaskan niatku tadi. Kusampaikan seperti itu dan tuan Asmar memahaminya.

Dua hari kemudian aku sudah benar-benar siap. Mak mengizinkan meski dengan tangis dan air mata. Jam sembilan malam aku berangkat dari rumah menuju rumah tuan Asmar. Dan malam itu aku ikut rombongan mak Tan Basa. Nama beliau Harun. Tentara berpangkat letnan. Sejak saat itu resmilah aku menjadi anak buah beliau.’

Aku mendengar cerita panjang mak etek Jun dengan mata tak berkedip.

‘Langsung diangkat jadi tentara? Maksud ambo, mak etek langsung diberi senjata?’

‘Tidaklah. Aku dilatih dulu. Bukan latihan baris berbaris, tapi latihan mempergunakan senjata. Sejak dari cara membersihkan sampai cara mempergunakannya.’

‘Berapa lama latihannya itu?’

‘Hanya beberapa pekan saja.’

Terdengar azan asar. Kami mengakhiri obrolan sampai di situ.

Sumber