Enam Peluru Sang Baret Merah

|

Jumat siang itu aku menyempatkan waktuku untuk pergi ke Cijantung, sebuah kota sebelah Tenggara dari Jakarta Pusat. Tempat di mana aku bisa mewawancarai seorang tokoh sejarah sekaligus pelaku sejarah. Dia tinggal di perumahan Kopasus Cijantung, berpintu masukkan persis di depan Mall Cijantung. Kala itu waktu menunjukkan pukul 12 kurang 5 menit, saat aku sampai di sana sambil disambut baik oleh keluarganya, yang juga saudara dari pihak ayahku. Namun tak terlihat batang hidungnya, kutanya Uwa (panggilan untuk yang lebih tua dalam bahasa Sunda, RED) Asih, dia sudah pergi ke masjid untuk sholat Jumat. Karena waktu memang memanggilku untuk beribadah, lhasil, aku pergi meninggalkan tas dan plastik berisikan gudeg yang kubeli di warung jalan, sebagai tanda bertamuku di rumahnya, dan pergi sebentar untuk sholat Jumat.

Hari itu terasa panas, suhu saat itu mungkin 39 derajat celcius. Seusai sholat Jumat, kembali tak terlihat batang hidungnya keluar dari Musholla. Padahal aku ingin menyapanya dan berjalan bersama ke rumahnya, bercengkrama seperti adegan film mungkin. Apa boleh buat, sambil beralaskan sandal hitam yang kupinjam dari keluarganya, aku kembali ke rumahnya, mungkin dia sudah pulang terlebih dahulu.

“ Dreppp ,“ bunyi kakiku di depan pintu gerbang rumahnya yang berwarna hitam, saat itu juga aku disambut beliau dengan berbajukan koko hijau yang melihatku. Aku bersalaman dengannya, tapi dengan gaya hormat, tak sembrono di depan pahlawan itu. “Apa kabar Wa? ,“ Bilangku kepadanya. “ Wah dah gede Aa Ugi,yok masuk-masuk ,” jawabnya berkata dengan senyum khas perjuangan ’45. Beliaulah Uwa Om, panggilan keluarga besar kami untuknya. Aku dan beliau tergolong bersaudara, karena istri beliau adalah kakak dari ayahku. Yap, saudaraku adalah pahlawan, pelaku serta tokoh sejarah. Kulihat beliau, masih segar dengan muka berbahagia , tak kulihat raut wajahnya yang cemberut, seperti orang tua lainnya mungkin yang cemberut terkadang juga mengeluh dalam akhir hayat hidupnya. Tingginya sekitar 165 cm, lebih pendek dariku. Tapi badannya tegak, tak bongkok osteoroporosis atau bongkok seribu jenis lainnya. Masih tegak layaknya tentara yang sedang baris-berbaris. Rambutnya segar, wajahnya segar, badannya fit , terlintas sejenak dalam pikiranku “, Ini pasti buah dari perjuangannya sebagai Kopasus dulu! “. Beliau bernama Bapak Syafei Hamsyah. Bapak yang telah berumur 78 tahun itu adalah seorang pejuang veteran dari Kopasus angkatan 6, yang kala itu bernama RPKAD. Yang telah berjuang dalam kemerdekaan Indonesia, khususnya Orde Lama. Banyak cerita yang akan disampaikan oleh beliau, mengingat tujuanku di sini untuk mengobrol dengannya sekaligus wawancara dengan beliau. “ Ayo gi makan dulu ,” Cetus Uwa Asih, sang istri beliau, mengajakku dan beliau yang sedang berada di teras rumah untuk makan . Tak mungkin kutolak, bukan ? Apalagi mereka saudara saya, Hehe.

Setelah makan siang itu, kami bercengkrama di teras rumah. Bukan hanya aku saja yang berada di ruang teras, ada pula Mang Iyan, anak beliau, dan bapakku yang menemaniku menemui sang pahlawan. Disundutnya korek api pada sebatang rokok, Dji Sam Soe. Ditancapkannya pada sebuah gading gajah kecil, sebagai tempat untuk merokok, persis ala tentara yang digambarkan di novel-novel. Waktu kubilang aku mau mewawancarai beliau akan pengalamannya, dia tertawa geli mengingat masa lalu, mungkin. Mulai dia bercerita satu persatu pengalamannya, kami mendengarkan.

1.1 Habis merdeka? Siapa bilang sudah merdeka?

RPKAD

Perjalanan beliau sebagai Kopasus dimulai dari diterimanya Uwa Om pada pendidikan RPKAD. Kala itu RPKAD belum bernama Kopasus. Uwa Om sendiri berasal dari Kodam Kalimantan. Dari 256 tentara seluruh Kalimantan kala itu, hanya 6 yang diterima, termasuk beliau. “ Cuman 6 orang yang diterima, ketat itu! Haha, habis itu langsung ke Jakarta,” Ceritanya sambil menghisap rokok. Kopasus kala itu memang benar-benar pasukan yang baru. Ijon Jambi bersama A.H Nasution, termasuk orang yang mencetuskan berdirinya pasukan khusus itu, di mana kondisi Indonesia seperti ombak berombang-ambing, datang konflik dari sana sini. Ada lah pemberontakan, ada juga lah serangan Belanda.


Uwa Om Muda

Ijon Jambi

Uwa Om yang sampai di Jakarta, kemudian dikirim ke Jombang, waktu itu tempat latihannya bernama Batalion 2 Jombang. “ Sampai di sana, wah bingung ini! Kenapa baretnya merah-merah? ,” Cerita Uwa Om sambil mengekspresikan kebingungannya, tertawa geli beliau. Pendidikan RPKAD waktu itu juga masih dibina oleh Ijon Jambi. Seorang Belanda kelahiran Kanada, yang berperan dalam perjuangan Indonesia meraih kedaulatannya. “ Ijon Jambi yang ngebina, bahasanya otomatis Bahasa Belanda. Nah tapi kitanya gak ngerti tuh Bahasa Belanda,” bahasnya. Cuman 6 bulan pendidikan di Jombang, setelah itu? Pendidikan di medan perang, apa itu? Operasi DI/TII di Jawa Barat.

Sedikit flashback tentang gerakan Darul Islam, yang diberantas oleh operasi tersebut. Sekar Marijan Kartosuwiryo mendirikan Darul Islam (DI) dengan tujuan menentang penjajah Belanda di Indonesia. Akan tetapi, setelah makin kuat, Kartosuwiryo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pada tanggal 17 Agustus 1949 dan tentaranya dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII). Upaya penumpasan dengan operasi militer yang disebut Operasi Bharatayuda.

Misi pertama, sekaligus dalam masa pendidikan Uwa Om kala itu adalah pemberantasan DI/TII di Jawa Barat, di era 50 akhir, sekitar tahun 1958 akhir. Bersama batalyonnya, dibagi menjadi beberapa pleton, kemudian beberapa kelompok regu. Memang sudah standar tentara sepertinya dalam medan peperangan, dibagi menjadi beberapa regu.

Penumpasan NII kala itu dirasakan oleh beliau sebagai salah satu yang tersulit dari beberapa misinya. Pasalnya, pergerakkan NII licik dan susah dilacak. Siang menjadi petani, malam menjadi pemberontak. Dari Cirebon, berangkatlah Uwa Om bersama kelompok regunya, melintasi Gunung Cireme. “ NII ini pinter, Kartosuwiryo susah dilacak. Kata Intel ada di Cirebon, eh taunya ada di Garut ,” Ceritanya. Dalam berperang, NII tergolong sadis dan licik. Ketika ada seseorang yang dianggapnya memihak pada pemerintah dalam wilayah mereka, tak segan-segan satu keluarganya dibunuh oleh mereka. Siang Intel, malam tentara. Tak peduli anak kecil atau orang dewasa sekalipun.

“ Ketika mereka kami kejar, mereka pintar. Mereka bergerak dengan jalan mundur sambil menutupi jejak mereka. Makanya Kartosuwiryo pas itu susah ditangkep,” Ceritanya kembali.

Pengejaran melintasi Gunung Cireme, dimulai dari titik Cirebon. Guna melacak dan menangkap Kartosuwiryo. Perjuangannya? Tak seperti sekarang di mana “bantuan logistik” sudah mudah. “ Dulu mah gak kaya sekarang, dulu kita miskin! Jangankan untuk makanan, untuk amunisi yang penting saja cuma dikasih 6 peluru! 1 peluru, 1 nyawa! Hahaha ,” Tawanya geli sambil mengenang. Kala itu, jangankan bantuan logistik, peluru saja susah, di saat Indonesia sedang mengalami titik kemiskinannya, hingga akan terjadi inflasi besar-besaran pada tahun 1965.

Saat melintasi Gunung Cireme, di sanalah beliau merasakan spirit perang tentara , tapi di saat masa latihan. “ Widih, waktu di Gunung Cireme itu emang paling menderita, “ tuturnya dengan gaya bicaranya. Perjalanannya di Gunung Cireme memang salah satu dari tersusah baginya. Logistik kurang, serta jarang ditemukannya air di gunung itu. Gunung Cireme yang terletak di Cirebon, sekarang berada di Kabupaten Cirebon, likunya seperti buah Cireme, naik turun naik turun. Ditambah lagi memang mayoritas tumbuhan yang tumbuh di gunung itu adalah Pohon Pinus, tak seperti gunung-gunung yang berada di selatan Jawa Barat. “ Mau masak gimana? Air pun tak ada? ,” katanya. Selama satu minggu, bersama regunya beliau berjalan melintasi gunung tersebut. Dengan persediaan air yang minim, persis seperti para khafilah yang berjalan di gurun pasir tanpa ada air, namun versi beliau ini berjalan melintasi wilayah hutan tropis, miris.

“ Waktu mau sampe di Kuningan, baru tuh terdengar air. Teman ada yang bilang ‘, BUNYI AIR ITU BUNYI AIR!!’. Aku bilang ‘, DIAM-DIAM ssstt!!!! ‘. Wah ternyata memang bunyi air betulan! Langsung kita lari, NYEMPLUNG minum air sepuasnya. Hahahaha ,” Katanya sambil geli “, Minum airlah kita itu sampe Kenyang, perut kembung, haha. Kubilang ‘, awas ini kalau ada DI TII! Kita habisi mereka sudah ngerepotin kita!’ ,“ lanjutnya.

Dari gunung, melintasi darat, ada juga melintasi kereta api. “ Bosan juga ketika melintasi rel kereta api, seharian itu melulu. Apalagi ketika melewati jembatan kereta, begitu ada kereta lewat, kita semua bergelantungan. Wah haha ngeri juga tuh, “ Ceritanya sambil digerakan tangannya. Ketika melewati terowongan , badan satu regu dipempetkan di dinding terowongan, muka berubah menjadi hitam oleh asap cerobong kereta api yang masih menggunakan batu bara. “ Mukamu kok hitam? Lho mukaku juga? , “ Sahut menyahut satu regu yang diceritakan Uwa Om seperti pengalamannya waktu itu. Kadang aku juga berpikir, seru juga jadi tentara.

Perjuangannya di wilayah Jawa Barat itu berakhir, setelah Kartosuwiryo ditangkap oleh pasukan Siliwangi . “ Sakit kuning dia waktu itu. Jadi pas mereka dikepung, mereka yang menyerahkan diri. Mereka bilang dia sedang sakit kuning, di sebuah gubuk di Garut. Ditangkap lah dia, dan langsung kabari ke pusat. ,” flashback nya”, Kalau bukan sakit kuning susah tertangkap mungkin. Gerakannya diam-diam, lincah , dan susah terlacak. Tertangkapnya juga karena taktik pagar betis, dikepung.”. Kartosuwiryo ditangkap dalam keadaan lemas tak berdaya. Jadi kalau ada buku sejarah di kalangan sekolah yang bilang dia ditembak mati oleh tentara , berarti ada salah tulis buku itu.

1.2 Operasi Permesta, Operasi Perang Saudara

Cuti didapat Uwa Om kelar dari penugasan operasi DI TII. Sekitar 14 hari pulang ke markas batalyon. Bersantai sejenak, tanpa ada kesulitan air atau logistik. Walau waktu itu Indonesia masih miskin. Nasib tentara pun tidak sesubur sekarang, dari gaji sampai jatah makanan harian. “ Tentara sekarang gaji gede, kalau dulu cuman 415 perak, dulu kita makan dijatah lebih dikit,” Ceritanya. Tentara seperti Uwa Om,yang masih berpangkat prajurit, memang termasuk yang paling merasakan krisisnya Indonesia kala itu. Untuk makan pagi dijatah 150 gram, siang sekitar 250 gram, malam baru 400 gram. Kalau dihitung-hitung cuman 4 sendok. “ Sehat aja, tapi gak kenyang, haha. Perut itu masih kruyuk-kruyuk rasanya. , “kenangnya “, Gaji saja waktu itu, sekali dapet, langsung habis buat jajan bersama teman-teman. Makan sate ayam, yah cuman 415 perak. Gak seperti sekarang udah gede-gede gajinya.”. Ya, itulah perjuangan tentara jaman Indonesia berusaha meraih kedaulatannya.

Baru sekitar 6 hari beliau cuti, kembali beliau dipanggil tugas, kali ini operasinya di luar pulau Jawa. Yap, tahun 1959 awal, beliau dipanggil bertugas untuk menumpas gerakan Permesta di Manado, yang dipimpin oleh Alex Evert Kawilarang, mantan tentara lawan tentara.

Berangkat dari Tanjung Priok menggunakan kapal angkut, bukan pesawat. Pesawat milik Auri untuk mengangkut masih terbilang minim di jaman itu. Adapula pesawat Dakota, namun nasib berkata lain pada pesawat itu yang tertembak jatuh lantaran perang. Selama 7 hari 7 malam perjalanan mengarungi laut menuju Manado, dengan mampir terlebih dahulu di Surabaya.

Perdjuangan Semesta atau Perdjuangan Rakjat Semesta disingkat Permesta adalah sebuah gerakan militer di Indonesia. Gerakan ini dideklarasikan oleh pemimpin sipil dan militer Indonesia Timur pada 2 Maret 1957 yaitu oleh Letkol Ventje Sumual. Pusat pemberontakan ini berada di Makassar yang pada waktu itu merupakan ibu kota Sulawesi. Awalnya masyarakat Makassar mendukung gerakan ini. Perlahan-lahan, masyarakat Makassar mulai memusuhi pihak Permesta. Setahun kemudian, pada 1958 markas besar Permesta dipindahkan ke Manado, dipimpin oleh A.E Kawilarang. Disini timbul kontak senjata dengan pasukan pemerintah pusat sampai mencapai gencatan senjata. Masyarakat di daerah Manado waktu itu tidak puas dengan keadaan pembangunan mereka. Pada waktu itu masyarakat Manado juga mengetahui bahwa mereka juga berhak atas hak menentukan diri sendiri (self determination) yang sesuai dengan sejumlah persetujuan dekolonisasi. Di antaranya adalah Perjanjian Linggarjati, Perjanjian Renville dan Konferensi Meja Bundar yang berisi mengenai prosedur-prosedur dekolonisasi atas bekas wilayah Hindia Timur.

“ Di Manado inilah, kita benar-benar melintasi gunung, tinggal di gunung, makan di gunung, selama 8 bulanan. Permesta itu gerakan yang kejam, walau tak sekejam DI/TII. Tapi di Manado ini, benar-benar perang kontak senjata terus-menerus, “ Cerita Uwa Om.

Tinggal di gunung selama 8 bulan bukanlah hal yang gampang. Walau sekarang logistik lebih terjamin, tapi musuh juga lebih tersenjatai. Evert Kawilarang sendiri sebenarnya adalah bagian dari tentara Indonesia kala itu, bahkan termasuk dalam orang yang berjuang di tahun ’45. Dari September 1956 hingga Maret 1958 Kawilarang menjabat sebagai atase militer pada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, DC, Amerika Serikat, dengan pangkat brigadir jenderal. Ketika pemberontakan PRRI/Permesta meletus di tanah air, Kawilarang segera melepaskan jabatannya sebagai atase militer lalu minta pensiun. Ia kembali ke tanah air dan langsung ke Sulawesi Utara untuk menjabat sebagai Panglima Besar/Tertinggi Angkatan Perang Revolusi PRRI (1958) dan Kepala Staf Angkatan Perang APREV (Angkatan Perang Revolusi) PRRI, dengan pangkat mayor jenderal dari Februari 1959 hingga Februari 1960. Banyak yang bilang bahwa latar belakang Kawilarang bergabung dengan Permesta, salah satunya adalah ketidakpuasan mereka terhadap pembangunan di Indonesia tahun-tahun itu. Juga sebagai bentuk protes atas keberadaan komunis di Jawa.

Namun apa daya, latar belakang tersebut menimbulkan perang ‘saudara’ yang besar kala itu. Permesta tidak seperti pemberontak DI/TII, yang takut-takutan kalau siang. Siang hari justru terjadi kontak dengan pihak TNI.

Bermodalkan pakaian tentara ala kadarnya, Uwa Om bersama regunya tinggal di gunung. Dalam satu wilayah yang terbagi atas 1 pleton, setiap pleton dibagi atas 5 regu. Masing-masing regu berjumlahkan 10 orang sebagai anggotanya. Pleton RPKAD Uwa Om menerima wilayah Gunung Hulu sebagai penjagaannya dalam pembagian wilayah. Di Gunung Hulu itu, terdapat 5 regu yang menjaga, di mana setiap regu dipimpin oleh Komandan Regu, bermodalkan kompas dan radio macam P.C.R. 2, yang ukurannya sekarang seperti telpon umum di trotoar.

“ Di Manado itu perang bener-beneran paling terasa. Setiap hari ada kontak senjata. Pihak Permesta juga terlatih. Karena ya itu tadi, banyak tentara yang ikut andil dalam pihak Permesta ,” Katanya.

Untuk bergerak pun harus hati-hati, Permesta pintar dalam taktik perang, karena banyak bekas tentara yang bermain andil dalam gerakan tersebut. Ranjau misalnya, ranjau yang dipakai bukan ranjau bom, tapi ranjau bambu. Bambu yang diruncingkan, seruncingnya, kemudian dikuburkan dalam tanah, ditutupi oleh rumput. Banyak tentara yang terluka karenanya, kebanyakan dari Pasukan Kodam Diponegoro. “ Jadi sate itu kalau kena, hehe ,” ceritanya sambil geli. Dalam perangnya pun Permesta cenderung tidak mengenal etika. Beberapa pasukan RPKAD yang terjun ditembak terlebih dahulu sebelum menyentuh tanah, padahal hal tersebut menentang dari Etika Perang hasil dari Konvensi Jenewa. “ Yah namanya perang, daripada mereka mati, ya mereka tembak duluan saja, haha,” katanya.

Uwa Om dan regu pun juga pernah jahil dalam berperang. Pernah suatu ketika saat mendatangi suatu desa Permesta, para tentara Permesta yang sedang beristirahat kabur kelabakan. Di dekat botol-botol minum pasukan Permesta, ada penggorengan besar yang sedang dipenuhi dengan gula aren yang dimasak. “ Gula aren kan kalau kering beku tuh? Nah kita masukin aja ke botol tuh pasukan, biar tahu rasa mereka! Gak bisa minum! Haha ,” Ceritanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Tapi yang namanya nasib tentara saat perang, celana robek-robek, badan lecet, kaki sakit menimpa ransel sekaligus senapan laras panjang AK-47, itulah yang dirasakan beliau ketika berada di perang Manado. “ Ya itulah namanya tentara, “ cetusnya. 8 bulan hidup di hutan, kadang malah dikasihani oleh penduduk setempat untuk mampir ke rumah mereka. “ Gak bisa lah tapi, tugas tetep tugas, “ cetusnya.

Pertempuran puncak yang beliau alami adalah ketika penyerbuan Lapangan Mapanget. Lapangan Mapanget sangat dijaga ketat oleh pihak Permesta. Peluru berkaliber 12,7 siap mencoba menembus pasukan tentara gabungan Indonesia waktu itu. “ Gak bisa ditembus! Benar-benar dijaga ketat oleh mereka, pelurunya juga 12,7. Kalau kena kepala, bisa putus tuh ,” Ceritanya. Persenjataan mereka lengkap, berpeluru udara dan darat. Jika dilihat dari sejarahnya, senjata tersebut merupakan peninggalan KNIL dan donasi dari pihak sekutu. “ Baru ditembus ketika diakali oleh pilot AURI, Liawatimena namanya. Jadi dia terbang-terbang pake pesawat Mustang di atas lapangan yang dijaga ketat itu, kemudian pura-pura jatuhlah dia. Pas sudah gak ditembaki karena dikira jatuh, baru dia ngebom lapangan itu. ,” Tuturnya mengingat jasa sang pilot ‘, Baru kita masuk serbu tuh lapangan, kalau gak ada dia, wah susah itu masuk ke lapangan’ , lanjutnya. Lapangan Mapenget berhasil direbut tanggal 5 Mei 1959.

Walau begitu, Evert Kawilarang tidak mau menyerah sebelum RPKAD yang menangkapnya. Mungkin karena begitu kecewanya dia terhadap jalannya pemerintahan Indonesia. Begitulah yang diceritakan Uwa Om. “ Makanya Jendral Nasution datang waktu itu ke Manado. Ketika datang, maka menyerahlah si Kawilarang itu. Turun dia dari gunung sambil berkuda, bersalaman lah dia dengan Nasution. Begitu juga dengan pasukannya yang menyerah. Bahkan ada sebagian dari mereka yang mengenal satu sama lain dengan anggota RPKAD. Mungkin karena dulunya satu akademi. ,“ Kenangnya.

Pergerakan Permesta resmi berakhir pada tahun 1961.

1.3 Belum Selesai! Masih Ada Tri dan Dwi, dari Kora!

Misi bersejarah sang Uwa Om belum selesai, masih ada 2 misi yang ia jalani, Trikora dan Dwikora.

“ Kalau Trikora, kita RPKAD belum sempat benar-benar perang. Karena ketika sampai di Irian Barat, langsung dipanggil dari pusat untuk balik ke Jakarta,” Katanya. Memang sebenarnya peristiwa Trikora malah yang membuat Belanda ketar-ketir akan kekuatan Indonesia yang dibantu oleh Uni Soviet saat itu. Bagaimana tidak, Belanda masih mengandalkan pesawat perang dunia kedua, sementara Indonesia sudah menggunakan pesawat bermesinkan jet turbin. Walau banyak peristiwa besar yang terjadi seperti Perang Laut Uru. Di dalam sejarah tercatat peristiwa Trikora terjadi 19 Desember 1961 – 15 Agustus. Ada juga sabotase yang dilakukan pihak Intel Belanda waktu itu. Ketika sampai di Jakarta saat pemeriksaan kantong terjun, ternyata talinya putus semua, diputus tepatnya. “Untung saja satu batalyon juga tidak terjun waktu itu, kalau terjun bisa mati semua itu,” Tuturnya.

Sekedar informasi, pada tanggal 15 Agustus 1962, perundingan antara Indonesia dan Belanda dilaksanakan di Markas Besar PBB di New York atas jalan keluar konflik Trikora. Pada perundingan itu, Indonesia diwakili oleh Soebandrio, dan Belanda diwakili oleh Jan Herman van Roijen dan C.W.A. Schurmann. Isi dari Persetujuan New York adalah:
• Belanda akan menyerahkan pemerintahan Papua bagian barat kepada United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), yang didirikan oleh Sekretaris Jenderal PBB. UNTEA kemudian akan menyerahkan pemerintahan kepada Indonesia.
• Bendera PBB akan dikibarkan selama masa peralihan.
• Pengibaran bendera Indonesia dan Belanda akan diatur oleh perjanjian antara Sekretaris Jenderal PBB dan masing-masing pemerintah.
• UNTEA akan membantu polisi Papua dalam menangani keamanan. Tentara Belanda dan Indonesia berada di bawah Sekjen PBB dalam masa peralihan.
• Indonesia, dengan bantuan PBB, akan memberikan kesempatan bagi penduduk Papua bagian barat untuk mengambil keputusan secara bebas melalui
1. musyawarah dengan perwakilan penduduk Papua bagian barat
2. penetapan tanggal penentuan pendapat
3. perumusan pertanyaan dalam penentuan pendapat mengenai kehendak penduduk Papua untuk tetap bergabung dengan Indonesia; atau
memisahkan diri dari Indonesia
4. hak semua penduduk dewasa, laki-laki dan perempuan, untuk ikut serta dalam penentuan pendapat yang akan diadakan sesuai dengan standar internasional
• Penentuan pendapat akan diadakan sebelum akhir tahun 1969.
Sehingga dengan itu, berakhirlah konflik Trikora, Indonesia mulai meraih kedaulatannya dengan genggaman tangan penuh.

1.4 Konflik Kedua Buatan Sekutu, Adek dari Trikora, Dwikora~

Ada yang bilang peristiwa Dwikora dilakukan Soekarno karena Malaysia dianggap sudah tidak menghormati Indonesia melalui aksi demonstrasi anti Indonesia pada tanggal 17 September 1963 di Kuala Lumpur dengan cara menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang Negara Garuda Pancasila ke hadapan Tuanku Abdul Rahman Perdana Menteri Malaysia saat itu dan memaksanya untuk menginjak Garuda. Sejak saat itulah kemarahan Soekarno atas Malaysia mencapai puncaknya yang pada akhirnya memunculkan komando Dwikora.

Awal konflik Indonesia – Malaysia ini diawali oleh peristiwa klaim federasi Malaysia atas wilayah Brunei, Sabah, Serawak dan Singapura yang akan digabung menjadi persekutuan tanah Melayu (tahun 1961). Peristiwa ini membuat presiden Soekarno dan beberapa negara lain kecewa. Soekarno menganggap pembentukan Federasi Malaysia ini sebagai proyek Nekolim (Neo-Kolonialisme dan Imperialisme) baru di kawasan Asia Tenggara yang dipimpin Inggris serta tidak sesuai dengan perjanjian Manila (Manila Accord).

Pasca demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, pada tanggal 20 januari 1963 Indonesia melalui Mentri Luar Negeri Soebandrio menyatakan sikap bermusuhan terhadap Malaysia. sejak saat itulah kemudian muncul istilah “Ganyang Malaysia” dan “Dwikora” yang disebut oleh Soekarno sebagai upaya menjaga martabat Negara Republik Indonesia.

Sehingga seusai Operasi Mandala Trikora kemudian pada tahun 1963, RPKAD kembali mendapat perintah untuk melaksanakan misi Dwikora. Tugasnya mengganyang Pemerintahan Malaysia yang pada waktu itu dipimpin oleh Tengku Abdurahman. Yang meliputi daratan Malaka, Sarawak, Singapura dan Sabah (yang pada waktu itu masih tergabung dengan Malaysia). Operasi dilakukan pada tanggal 15 Maret 1964, seluruh anggota tim mendapat penjelasan dari Komandan Kopaska bahwa mereka secara administrasi telah dikeluarkan dari Kedinasan Angkatan Laut dengan tujuan bila mereka tertangkap dikemudian hari Angkatan Laut bisa mengelak dari keterlibatanya.

Uwa Om ditugaskan untuk menyusup ke daerah Kalimantan Timur, perbatasan antara Indonesia dan negara yang bakal jadi itu, Malaysia.

Ada fakta yang unik yang saya dapatkan dari pengalaman Uwa Om yang satu ini tentang peristiwa Dwikora. Dari seorang Uwa Om, bagian dari RPKAD yang terjun langsung ke medan pertempuran. Faktanya adalah? Tidak ada tentara Malaysia yang ikut berperang dalam peristiwa Dwikora. Lantas siapa yang berperang? Mereka adalah tentara bayaran Inggris, suku dari Tibet bernama Gurkha.

Inggris waktu itu juga tidak mau kehilangan negara bawahannya begitu saja. Namun di lain sisi takut akan kekuatan Indonesia yang kala itu militernya menjadi salah satu yang terkuat di dunia. Apalagi Malaysia yang kecil dan tak berdaya pada saat peristiwa itu terjadi. Inggris pun mengirimkan tentara bayarannya, yang dibayar mahal. Hal ini yang agak banyak terluput dari buku pelajaran sekolah.

Sedikit informasi mengenai Gurkha. Gurkha, juga dieja gorkha, adalah orang-orang dari Nepal yang mengambil namanya dari orang suci Hindu abad ke-18, Guru Gorakhnath. Pengikutnya, Bappa Rawal, lahir dengan nama Prince Kalbhoj, merupakan orang Gurkha pertama. Gurkha dikenal terutama karena keberanian dan kekuatannya dalam Brigade Gurkha dalam Angkatan Darat Britania Raya. Mereka juga terkenal karena pisau khas mereka yang disebut kukri. Mereka terkenal dengan kemampuannya bertarung dengan sebilah Kukrinya, kadang bisa dilempar kadang bisa ditebas spesial unutk musuhnya.

Tapi ada juga yang unik, apa itu? “ Mereka takut tentara Indonesia,” Kata Uwa Om “, Walau waktu itu kita memang berbekal pas-pasan. Tapi kita dapat bekal dari mereka. Mereka suka meninggalkan bekal mereka untuk kita, haha”, lanjutnya. Sebelum turun dari helikopter misalnya, mereka takut untuk langsung turun. Alhasil mereka menembaki dulu sekitar hutan di atas tempat mereka akan mendarat, lalu baru turun dari helikopter untuk mengkontrol keadaan. Untuk berperang? Tak pernah regu Uwa Om berperang kontak senjata secara harafiah. Mereka lah yang mencoba untuk kontak Senjata. “ Biar mereka habis peluru, gampang tuh caranya. Jadi pada pagi hari, kita pancing mereka dengan satu tembakan,’DOORR’. Mereka pasti balas itu tembakan, tapi balasnya mereka tembak ke mana saja dengan peluru lengkap mereka. Dari meriam lontar sampai senjata mesin. Pohon-pohon jatuh bertumbangan, tembak menembak mereka ke mana saja. Nah kita? Yah kita diam saja, orang mereka takut. Hahaha ,” Kenang Uwa Om, aku pun geli mendengar ceritanya.

Bahkan malah tentara bayaran dengan gaya khas topi miring itu pernah melambai-lambai teriak”, Oiii oii” menandakan mereka tak mau berperang dengan RPKAD.

“ Mereka suka ninggalin rokok kalengan ampe susu bekas tuh, disangkutin ke pohon-pohon besar. Jadi kalau ketemu, kita ambil, makan deh haha,” cerita Uwa Om sambil tertawa.

Memang sebuah cerita yang lucu menggelikan mendengarnya langsung dari sumber. Tapi sayangnya tak pernah dipublikasikan di ajaran buku sekolah. Entah mengapa, padahal itu pasti menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita, yang mempelajari sejarah, mendengar cerita tersebut. Betapa militer kita merupakan salah satu yang terkuat dan ditakuti kala itu, di jaman Presiden Soekarno masih memimpin.

Uwa Om kemudian dipulangkan dari misi Dwikora setelah konflik itu berakhir, terutama karena munculnya gerakan PKI yang membuat Indonesia semakin terombang-ambing oleh krisis karakter negara.

1.5 Sekarang pun Masih Bugar

Uwa Om termasuk sebagai orang yang sederhana dalam menjalani hidupnya. Senyum dan penuh gelak tawa mengalir dalam kehidupannya sehari-hari. Belum pernah sepertina kulihat beliau cemberut, atau sakit-sakitan . Seperti yang kukatakan di awal-awal cerita ini.

Sekarang beliau sudah pensiun, tinggal di Cijantung bersama 2 orang anaknya. Satu sudah berkeluarga memiliki 2 anak, satu lagi belum menikah. Pangkat terakhirnya adalah Sersan Kepala, berbekaskan veteran perang Kopasus Angkatan tahun 1959, atau angkatan 6. Berbagai penghargaan pernah diterima beliau sebagai pahlawan perang. Dari penghargaan oleh Menteri Pertahanan, sampai oleh A.H Nasution.

Beliau adalah seseorang yang hebat, patut dicontoh. Dari hidup beliau juga menceritakan, bahwa “masa mudamu adalah masa tuamu”. Bahwa ketika kita menyia-nyiakan masa muda, seperti gaya hidup yang buruk, atau bermalas-malasan, atau merusak diri kita dengan rokok, maka tak heran masa tua kita adalah cerminan masa muda kita. Dari hal itu juga menggambarkanku, bahwa aku sebagai anak muda jaman sekarang harus bersyukur. Perang sudah tidak ada seperti dulu, krisis makanan , atau inflasi tak kualami, atau sedikitnya belum kualami. Walau tantangan sebagai anak muda jaman sekarang berbeda ,seperti sedang gempar-gemparnya perang terhadap terorisme. Tapi pelajaran yang paling penting adalah , bahwa aku harus bermental baja dalam menjalani hidup ini. Tak boleh mudah menyerah dan harus terus berusaha. Seperti kata pepatah , “ bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” , Atau “Ganbatte” seperti kata orang Jepang.

Aku pamit pada beliau sekitar jam setengah 3 sore, cuaca mendung waktu itu. Tak lupa sebelumnya aku berfoto dengannya, sebagai bukti bahwa aku pernah bertemu dengan seorang pahlawan. Seorang pahlawan yang cinta akan tanah airnya, seorang pahlawan yang tak mudah menyerah, dan bermental baja.

Yah, dia benar-benar memberikanku semangat baru untuk menjalani kehidupan melihat dari sejarah masa lalu. Tak heran, Soekarno pernah bilang, “ Jangan sekali-sekali melupakan sejarah “, JAS MERAH! [MUGI]



Uwa Om Bersama Teman(Palign atas), Penghargaan dari Menteri Pertahanan dan A.H Nasution


Iklan

Sang Letnan Itu Kini Mengemis (2)

Terhitung sejak bulan Januari 2008 lalu, sesuai dengan keputusan Presiden RI dalam kongres Veteran ke-7 tahun 2007. Sebanyak 5.134 veteran yang ada di Sumbar akan mendapat tunjangan dana kehormatan senilai Rp. 250.000. Penghargaan terhadap perjuangan yang mereka lakukan dalam membela Indonesia sekaligus sebagai figur yang turut andil dalam merebut kemerdekaan bangsa ini. Namun, bagaimana dengan Anwar?. Sang Letnan yang tak mendapat apapun dari perjuangannya?.

Pembaca tentu masih ingat dengan Anwar?. Letnan Satu yang kisahnya Penulis angkat menjadi tulisan bersambung dalam tiga edisi. Dia (Anwar) masih seperti dulu. Menengadahkan tangannya untuk mencari sesuap nasi. Di Simpang Potong, Anwar masih berkutat dengan riak kemelaratan. Kecuali hari Sabtu dan Minggu, Anwar pasti ada di Simpang Potong.

pengemisjalanan18
Di saat teman-teman seperjuangannya berbahagia dengan tunjangan-tunjangan yang didapatkan untuk mengisi hari tuanya. Anwar malah terabaikan. Bahkan Ketua LVRI Sumbar (Legium Veteran Republik Indonesia) Drs H Adrin Kahar Ph .D secara tegas mengungkapkan kalau Anwar belum tentu pejuang. Mungkin saja, dengan mengatas namakan pejuang, Anwar berniat untuk mengeruk keuntungan.

“Secara terang-terangan saya mengungkapkan kalau Anwar belum tentu Veteran. Kalau emang dia veteran, pasti dia punya nomor legium veteran atau surat-surat yang menyatakan dia pejuang. Contohnya, surat Bintang Gerilya. Tapi kenyataannya tak ada kan?. Kami (LVRI) selalu memperjuangkan hak-hak veteran. Tapi yang kami perjuangkan itu adalah mereka yang nyata ikut berjuang. Pembuktiannya, ya dengan surat keterangan,” tegas Sang Ketua.

Kata-kata LVRI seakan menjadi cambuk bagi Anwar. Anwar tenggelam. Keputus asaan seolah semakin kuat melekat. Sudah pasti, tak akan ada penghargaan ataupun tunjangan yang akan diterima Anwar. Minim lencana Veteran. Anwar semakin kuat menapak di atas trotoar panas. Memang, Anwar tak punya apa-apa untuk “diperagakan” kepada Pemerintah kalau dia adalah bekas pejuang kemerdekaan dua periode. Semua surat-surat Anwar hilang. Maklum, semenjak istrinya meninggal, Anwar tak punya rumah. Hidupnya hanya numpang.

pengemisjalanan11

“Biarlah orang bicara saya bukan pahlawan. Tapi sejarah tak dapat dipungkiri. Dari dulu saya bilang kalau saya tak butuh tunjangn gono-gini. Saya hanya ingin melihat kibaran merah putih tanpa gangguan serta hanya butuh sesuap nasi untuk makan. Itu sudah cukup,”ulas Anwar untuk kesekian kalinya pada Penulis.

Jam sudah menunjukkan angka 12 siang. Matahari semakin panas. Dengan langkah tertatih Anwar mulai meninggalkan dua onggok bata yang jadi topangan tubuhnya. Anwar melangkah menuju simpang Alang Laweh. Menaiki Angkot jurusan Mato Aia, Anwar menuju rumah tumpangannya.

Rasa keingin tahuanlah yang menyeret langkah penulis untuk mengikuti mobil angkot biru tumpangan Anwar. Terus menguntit, akhirnya angkot berhenti di depan rumah bercat putih. Bangunan sederhana yang terletak di Kelurahan Koto Baru, Kecamatan Lubuak Bagaluang, Padang. Rumah mungil yang bersebelahan dengan bengkel variasi mobil. Itulah kediaman Anwar sejak tahun 1975.

Sang empunya rumah, Shally (50) menyambut kedatangan Anwar dengan cemas. “Pak Gaek (panggilan Anwar) memang kurang enak badan, kami sudah melarangnya pergi kerja tapi wataknya sangat keras. sulit sekali melarangnya pergi,”terang Shally dengan wajah ragu.

Anwar tampak mengaso di atas sofa yang sudah lusuh. Mencoba menetralisir kembali nafasnya yang turun naik. Sementara Anwar mengaso, POSMETRO mencoba bercakap dengan Shally, orang yang berbaik hati menampung Anwar.

Wajah ramah Shallypun tampak mengerut, mencoba mengingat hari pertama Anwar datang ke rumah sederhananya. Sesat berpikir, akhirnya Shally mulai bercerita. Tarikan panjang nafasnya, memulai penuturan itu.

“Pak gaek datang awal 1975, bersam seorang temannya bernama Rustam (telah meninggal). Mereka adalah sahabat Ayah saya. Ayah bernama (Syamsudin). Ayahlah yang pertama memperkenalkan pak gaek dengan kami. Mereka adalah tiga sekawan yang tak dapat dipisahkan. Namun, akhirnya, ajal merenggut bapak dan Rustam. Tinggalah Pak Tua sendirian. Kami sudah menganggapnya bagian keluarga sendiri,”celoteh Shally melirik “Pak Gaek” yang menyeruput segelas air putih.

Rumah Shally memang sangat sederhana. Cat putihnya sudah terkelupas, dihuni empat keluarga. Ditambah Anwar, rumah itu kelihatan penuh sesak!. Tak hanya itu, ternyata, Label RTM (Rumah Tangga Miskin)pun tertempel di jendela rumah tersebut. Maklum, dengan empat keluarga, hanya suami Shally, Mak Tum (52) yang menjadi tulang punggung keluarga. Mak Tumpun hanyalah pekerja bengkel di Simpang Nipah. “Suami membuka bengkel kecil-kecilan. Kami termasuk penerima bantuan BLT dari Pemerintah. Kami juga hidup dengn sederhana. Tapi kedatangan pak gaek bukan beban bagi kami. Malah, kami bahagia. Pak Gaek sering mengajarkan bahasa Inggris dan jepang pada anak-anak,”tambah Shally.

Menurut Shally, di hari Tua-nya Pak Gaek tak pantas mengemis. “Pak Gaek adalah seorang pahlawan. Tapi dia seakan terabaikan. Saya pernah mengurus bantuan Veterannya, tapi tak ada hasil. Pak gaek luar biasa, dia bisa tiga bahasa. Bahkan dia juga bahasa jawa dan batak. Saya percaya dia pahlawan Walaupun hanya dengar cerita dari mendiang Ayah dan Pak Rustam. Tapi kenapa Pak Gaek terabaikan,”lemah Shlly menutur.

Ah, dunia memang terlalu kejam buat sang Letnan. Jeritan sepatah iklan TV Swasta menglir ditelinga Penulis. “Tanah yang Kita Pijak adalah bukti dari perjuangan Pahlawan yang membentuk kita menjadi manusia merdeka. Pahlawan yang bertamengkan rasa nasionalisme yang tinggilah semua ini tercipta. Hargai Pahlawan, sebagai peringatan tertinggi buat mereka. Kita bangsa besar, lahir dari cipratan darah sang revolusioner. Bangga ku dengan perjuanganmu”. Memang mungkin itu hanya sebaris iklan. Hanya perkataan belaka. Kalau itu kenyataan, mengapa hingga detik ini Anwar semakin murung?. Kapan secerca harapan menghmpiri tubuh ringkihnya, sementara pintu ajal semakin menganga menyambut kedatangan Sang Letnan.

1530437_10202821843810985_1686026205_n

Link terkait : Sang Letnan Itu Kini Mengemis (1)

Sumber

Sang Letnan Itu Kini Mengemis (1)

SENIN 28 Juli 2008, Simpang Potong, Kota Padang. Sebentuk tubuh tua ringkih, tampak terduduk lesuh. Tanpa alas di atas trotoar berwarna coklat. Tubuhnya hanya terbungkus kemeja buram. Kepalanya, juga tertutup kopiah hitam yang tampak sudah digerogoti usia. Kopiah itu, seolah setia menutupi rambutnya yang memutih.

Lelaki tua itu bernama Anwar berumur 94. Tanah Kuranji adalah tempat pertama yang menyambut kelahiran Anwar. Wajahnya keriput, dipenuhi bulu-bulu kasar berwarna abu-abu. Dengan gigi yang hanya tinggal dua, mulut Pak tua tampak komat-kamit, menyeringai. Sesekali, tangannya menengadah, pada setiap manusia yang berlalu. Berharap belas kasihan dan secarik uang untuk pengisi perutnya yang mulai minta diisi. Namun semua tampak acuh. Anwar tak putus asa, tangannya semakin dijulurkan.

pengemisjalanan18

Anwar tak punya rumah. Hidupnya hanya numpang di rumah warga Koto Baru, orang yang berbaik hati menampung tubuh ringkihnya. Hidup sendirian di hari tua ternyata membuat Anwar harus mengalah pada kerasnya dunia. 10 tahun sudah Anwar jadi pengemis. Hanya menengadahkan tangannya, itulah cara Anwar bertahan hidup. Maklum, usia yang hampir satu abad tak ada yang bisa dikerjakannya. Tulangnya rapuh.

Jangan tanyakan keluarga pada Anwar, sebab, itu hanya akan membuatnya menangis. “Saya tak punya keluarga. Istri saya sudah meninggal tahun 1960. Bersama bayi yang dikandungnya. Mati karena kurangnya gizi” terang Anwar. Air mata bening menjalar di pipi keriputnya.

Tak seperti pengemis lainnya, yang kebanyakan terbelakang dan tak pernah mengenyam pendidikan. Anwar lain. Tiga bahasa asing, Bahasa Jepang, Ingris dan Belanda dikuasainya. Bahkan waktu berdialog dengan POSMETRO sesekali lontaran ucapan berbahasa Belanda pun diucapkannya. Anwar fasih, lidah tuanya seakan sudah biasa melafazkan ucapan bahasa asing tersebut.

Semakin penasaran dengan “Pak Tua Simpang Potong” itu, Penulis pun mulai menjejeri langkah Anwar. Mencoba mengorek lebih dalam tentang dirinya. Siapa gerangan Anwar, sudah rapuh tapi kuasai tiga bahasa? Ada sesuatu cerita tersembunyi dari lembar hidup Pak tua dan itu membuat hasrat penasaran penulis kambuh!. Dua hari menyatroni Anwar di simpang Potong, akhirnya Penulis tahu kalau Anwar bukan pengemis sembarangan. Catatan sejarah terpampang dari celoteh Pak Tua itu.

Memang sekarang Anwar hanyalah pengemis tua yang menyedihkan. Hidupnya tak tentu arah. Tapi, jika merunut sejarah “tempo doeloe” Anwar adalah pemuda gagah yang ikut mengokang senjata melawan para penjajah. Pangkat yang disandang Anwarpun tak main-main, Letnan Satu, Komandan Kompi 3 Sumatra Bagian Selatan. Itulah daerah Anwar waktu menjabat sebagai serdadu bangsa untuk mengusir penjajah. Bukankah luar biasa “si Anwar Muda”?.

“Saya bekas tentara Sumatra Selatan. Di bawah pimpinan Bagindo Aziz Chan (Pejuang Pakistan -+) saya menjadi komandan Kompi 3 untuk berpetualang, melintasi medan demi menyerang Belanda. Tak terkira berbagai kisah pilu yang saya alami saat perang bergejolak. Tapi, untuk bangsa itu semua belum apa-apa. Hanya satu hal yang membuat kami bangga waktu pulang dari medan perang. Bangga jika membawa topi serdadu Belanda, itu jadi kebanggaan tersendiri dan membuat kita merasa terhormat,”ulas Anwar menatap kosong.

Lubang kecil bekas hantaman peluru yang menghiasi kaki kananya, menjadi bukti keikutsertaan Anwar berjuang untuk bangsa.

“Kaki ini ditembus peluru di Jalan Jakarta (sekarang bernama Simpang Presiden). Waktu itu hari masih pagi. Bangsa kita baru saja membuat perjanjian dengan Belanda (Perjanjian Linggar Jati). Tapi Aziz Chan menentang perjanjian itu. Belanda marah dan mengamuk. Menyerang membabi buta di tengah Kota. Hasilnya, ya kaki ini kena tembak waktu mau pulang ke Posko,” terang Anwar.

Bukan sekali Anwar kena tembak, bahkan, pengap dan lembabnya dinding jeruji besi pun telah dua kali Anwar rasai. “Empat tahun saya dibui. Tertangkap waktu bergerilya, dari Padang dengan tujuan Payokumbuah yang waktu itu (tahun 1946) sedang bergejolak. Tapi sial, melewati Padangpanjang saya tertangkap Belanda. Waktu itu, peluru habis sementara kaki saya masih terbalut secarik kain yang menutupi lubang timah panas. Saya digiring, kaki dirantai, diberi golongan besi, “ ungkap Anwar mencoba merunut kembali petualangan masa lalunya.

Di Panjang Panjang, Anwar diperlakukan tak senonoh oleh tentara Belanda. Hantaman bokong senjata, sayatan belati sampai minum air kencing “sang meneer” pun hampir tiap hari menyinggahi kerongkongan Anwar. Namun Sang Letnan tetap tegar. Kepalanya tetap tegak, walau kucuran darah dari pelipisnya tak pernah berhenti.

“Penjara dulu, bukan seperti sekarang. Dulu, tangan di ikat kawat berduri, kaki di ikat dengan rantai yang diberi golongan besi. Saban hari kena pukul. Bahkan, Untuk minum, mereka memberi air putih yang di campur kencing,” celoteh Anwar.

Soal Nasiolisme, Anwar bak ” Si Naga Bonar ” walau tua tapi kecintaannya pada Indonesia tak pernah surut. Terus berkobar. “Saya pernah ditanya belanda, apakah saya berjuang dan jadi tentara karena hanya sekedar kedudukan dan jabatan semata?. Saya jawab aja apa adanya, ” “Aku berjuang untuk Negara, bukan kedudukan. Bila kelak aku mati di sini. Aku bangga, karena itu demi negara,” ulas Anwar mengingat kembali peristiwa hidup yang masih segar dalam ingatannya.

Kemerdekaanpun sepenuhnya diraih Indonesia. Namun tak begitu bagi Anwar, tak ada penghargaan yang diterimanya. Pengorbanan dan perjuangannya yang dikibarkannya seorang Anwar seakan dilupakan. Anwar hilang di tengah gegap gempita eforia kemerdekaan. Ditambah kematian istri, seolah pembawa petaka. Anwar kehilangan semangat hidup. Sempat terjerumus ke dunia hitam. Anwar tobat. Tapi, hidup memang tak pernah berpihak pada Anwar. Semakin terlunta-lunta. Hingga jalan sebagai pengemispun jadi pilihan terakhirnya.

pengemisjalanan11

Tak ada tanda jasa, tak ada lencana penghormatan yang diterima Anwar dari Pemerintah. Bahkan gelar pahlawan veteranpun tak singgah pada Anwar. “Saya tak butuh apapun. Dulu, saya berjuang bukan untuk mendapatkan tanda jasa. Saya berjuang untuk negara. Tak perlu tanda jasa apalagi uang. Biarlah hidup begini, asal tak menganggu orang lain. Saya rela. Memang, angkatan saya yang ikut mengangkat senjata kebanyakan tenang dan menjalani masa tuanya dengan glamauran harta. Saya tak suka itu, bagi saya berjuang bukan untuk kemapanan masa tua, tapi untuk kemerdekaan bangsa. Biarlah orang memandang saya hina. Asal saya bisa tenang. Biarlah hanya makan sehari yang penting bangsa ini merdeka,”jawab Anwar tegar, segera berdiri, pergi minta segelas air kepada pedagang di depan Masjid AL-Mubarah, Sawahan.

Hari ini , Jumat (1/8) Penulis kembali berniat menemui Anwar. Namun, “Sang Letnan” menghilang dari Simpang Kandang. Dua onggok batu yang biasanya jadi sandaran Anwar kehilangan tuannya. Anwar raib. Padahal hari masih pagi, jarum jam baru berada di angka sembilan. Kemana Anwar?.

Kecewa dengan hilangnya Anwar, penulis mencoba menelusuri RTH (Ruang Terbuka Hijau) Imam Bonjol. Tempat biasanya Anwar tidur ketika penat datang mendera tubuh rentanya. Benar juga, tubuh renta Anwar tergolek diantara rumpun hijau Imam Bonjol. Namun ada yang lain dari penampilan Anwar hari ini. Bajunya tak hanya buram seperti kemarin, tapi lebih parah, kemeja biru yang dipakainya sudah tak berbuah. Mempertontonkan tulang-tulangnya yang kelihatan menonjol dibalut kulit keriput. Perutnya kempis. Sandalnyapun berlainan warna, hijau dan biru berbalut seutas tali plastik warna putih.

Mencoba mendekat, ternyata Anwar tertidur. Dadanya terlihat turun naik beraturan, membusung. Tulang dadanya semakin menonjol. Perlahan mata Anwar terbuka. Sesaat pandangannya kosong. “Tadi Saya pingsan nak, perut lapar. Padahal saya belum dapat apa-apa. Saya tak kuat berdiri. Untunglah ada seorang tukang becak yang kasihan pada saya. Membelikan saya sebungkus nasi telur. Tapi badan ini masih lemas,” terang Anwar lesu.

Seperti sebelumnya, Walaupun tubuh rentanya masih lemah, Anwar tetap bercerita panjang lebar tentang kerasnya hidup yang dilewatinya selama 10 tahun hidup dijalanan. “Saya hanya kuat berdiri di simpang ini sampai pukul 11 siang. Tubuh ini sudah terlalu tua untuk lama-lama berdiri. Matahari terlalu garang. Berlainan benar waktu muda dulu, beratnya medan tempur selalu bisa saya taklukkan. Ah, sampai kapan tubuh ini bisa bertahan menunggu kepingan logam. Saya tak tahu,” Anwar menerawang.

Perlahan, rentetan-rentetan kehidupan Anwar mulai terkuak. Celoteh panjang Anwar menguak tabir tersebut. Rupanya, Anwar juga pernah menjadi awak kapal barang berbendera Jerman. Lulus di Sekolah Sembilan (Belakang Tangsi) tahun 1930. Anwar mulai berpetualang. Dari tahun 1932 sampai 1939 Anwar berlayar. Dalam kurun waktu itu tak sedikit keragaman budaya yang dilihat Pak Tua.

“Saya lulus sekolah Belakang Tangsi 1930. Selanjutnya berlayar tujuh tahun mengelilingi Asia sampai ke Australia. Kemudian pulang untuk berjuang. Saya tak mau bersenang-senang di atas Kapal, sementara Bangsa kita sedang berjuang merebut kemerdekaan. Naluri kebangsaanlah yang memanggil jiwa ini untuk ikut berjuang,” terang Anwar.

Anwar berpetualang, menyelusuri setiap pelosok Tanah Indonesia untuk berjuang mengusir Sang Meneer dari Indonesia. Awalnya hanya bermodalkan bambu runcing. Anwar akhirnya mendapatkan senjata rampasan dari tentara Belanda. Senjata ditangan, Anwar muda mulai merengsek. Memuntahkan pelurunya di barisan terdepan pejuang Indonesia.

“Pada awalnya tak ada senjata. Kami hanya bermodalkan bambu. Namun, dari tangan belanda yang berhasil kami bunuh, kami nisa memperoleh senjata. Dengan itulah kami menyerbu musuh. Mengambil topinya sebagai “cinderamata” dari medan tempur,”;lanjut Anwar.

Hingga Akhirnya Indonesia merdeka. Belanda pergi dari tanah Bangsa. Tentu, kemerdekaan itu adalah hasil perjuangan pahlawan kita. Termasuk Si Anwar yang berjuang di dua episode perang tersebut. Anwar bertarung dengan gagah. Namun apa yang didapatkan sang Letnan?. Hingga detik ini Anwar masih berstatus pahlawan bangsa yang terabaikan. Pahlawan yang menyongsong hari tuanya dengan melakoni profesi sebagai pengemis. Indonesia merdeka, namun Anwar masih tetap “terjajah oleh hidup”!!.

Memang, dulu Anwar pernah diberi secarik kertas bertuliskan penganugrahan sebagai pejuang oleh Pemerintah. Namun karena jalan hidupnya yang sering berpindah tempat “surat wasiat” itu raib entah kemana. Padahal, surat itu adalah sebagai landasan Anwar untuk menerima haknya sebagai Veteran.”

“Memang dulu saya diberi surat oleh Pemerintah. Kalau tak salahnya surat Bintang Grelya. Tapi surat itu sudah hilang. Kata orang surat itu adalah syarat untuk menerima tunjangan dari pemerintah. Tpi tak apalah, saya juga tak perlu itu. Kan sudah saya katakan kalau saya berjuang bukan untuk uang apalagi jabatan. Walaupun meminta-minta tapi saya tak menyusahkan orang lain. Saya sudah pernah hidup senang di atas kapal. Sekarang saatnya susah. Hidup seperti roda nak. Kadang di bawah. Sekali lagi, saya berjuang untuk Indonesia. Melihat Merah Putih berkibar tanpa gangguan itu adalah suatu kebanggaan tersendiri. Tak ada yang membuat saya bahagia kecuali melihat kibaran bendera Indonesia,” celoteh Anwar.

Letnan Kolonel Anwar, pahlawan bangsa kini tak ubah hanyalah tubuh tua dekil, tak ada yang peduli. Anwar semakin pupus di tengah sibuknya Kota Bengkuang. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para Pahlawannya” kata Bung Karno. Namun itu hanyalah barisan kata, bukan kenyataan. Tak percaya? tanyakan itu semua pada Anwar. Pahlawan kita yang hinggga saat ini masih menengadahkan tangan untuk bertahan hidup.Memang Anwar tak minta apa-apa dari perjuangannya. Tapi, apakah kita tega melihat orang yang melepaskan kita dari jeratan penjajah harus terlunta. Mengemis untuk hidup. Tanah kemerdekaan yang kita pijak adalah hasil dari muntahan peluru Pahlawan mengusir penjajah. Namun kenapa kita menutup mata untuk itu. Apakah rasa penghormatan kepada para Pahlawan sudah pudar dihantam terjangan zaman. Sekali lagi, jangan lupakan Anwar yang telah gigih perjuangkan bangsa. Pemerintah? mungkin lupa juga akan nasib Sang Kapten.

Link terkait : Sang Letnan Itu Kini Mengemis (2)

Sumber