Serdadu Bukit Barisan

Tokoh “Nagari Kapau “Veteran Angkatan ’45

 

Oleh: Zulfadli Aminuddin

Aminuddin (Engku Dotor) Dt. Bagindo Basa
Pejuang Yang Tak Dikenang …

aminoeddindtbagindobasa

”…apapun yang akan terjadi, saya yang akan bertanggung jawab penuh, hanya saya meminta kepada Inyik dan Bapak semua seandainya diantara kami ada yang sakit maka kepada Inyik dan Bapaklah kami mengadu dan melaporkannya…”

Engku Dotor

Menemui kawan Nostalgia

Inyiak A.Datuk Bagindo Basa Pejuang

Yang Tak Dikenang

Di-Kapau …

—————————————-

Medan, tanggal, 5 Mei 1989

Salam Nostalgia

= H.SJAMSUDDIN ZUL =

Muqaddimah

            Generasi muda sekarang barangkali banyak yang tidak tahu dan tidak begitu mengenal Aminuddin yang terkenal dengan julukan Angku Dotor atau Engku Dotor yang kemudian bergelar Datuk Bagindo Basa atau Inyiak Indo. Karena beliau bukanlah seorang tokoh yang punya pangkat serta jabatan penting di tingkat nasional, bukan seorang pejabat dan bukan pula seorang yang hartawan serta bukan pula pahlawan yang mendapat banyak tanda jasa.

Tapi nilai peranan dan perjuangannya boleh dikatakan lebih dari itu meskipun memiliki skala yang lebih kecil, mulai dari zaman Belanda, zaman Jepang, zaman Mempertahankan Kemerdekaan, zaman PRRI dan zaman Mengisi Kemerdekaan serta zaman Orla dan Orba sampai ke zaman Reformasi, peranan beliau sangat menonjol sebagai pejuang yang sebenarnya dan berpengaruh pada zaman-zaman tersebut di nagarinya pada khususnya dan juga kabupaten dan propinsi pada umumnya.

Dalam segala hal penulis tetap objektif dalam menilai sosok beliau karena sebagai manusia Aminuddin tidak luput dari kelemahan dan kekurangan. Dari segi ini tidak mungkin ditutup-tupi sepanjang tidak merupakan aib yang akan menjadi fitnah nantinya. Sebab beliau tidak hanya tokoh dalam satu bidang tapi tokoh perjuangan multi zaman di berbagai bidang, militer, politik, sosial budaya, adat, agama dan pendidikan. Disamping itu juga piawai dalam berdiplomasi sehingga beliau selalu menjadi rujukan masyarakat Kapau pada masanya, apapun persoalan adat dan kemasyarakatan.

Mempunyai kepribadian yang keras dan memiliki prinsip dalam bertindak. Beliau mempunyai falsafah yang benar itu benar dan yang salah itu salah, tidak plin plan tapi selalu memiliki karakter, tegas dan pragmatis dalam mengambil keputusan, tapi kadang-kadang cepat menjadi pemarah apabila seseorang melakukan sesuatu kesalahan atau tidak sesuai menurut semestinya.

Dan yang terpenting adalah keberaniannya mengambil keputusan bagaimanapun sulitnya. Tapi Aminuddin seorang yang tidak pendendam dan mau memberi maaf. Perjuangan yang dilakukannya bukan untuk gagah-gagahan dan bukan pula untuk mengharapkan harta, pangkat dan jabatan, tetapi dengan satu tujuan yaitu ketulusan hati. Berbuat untuk orang banyak dan berhasil menolong banyak orang adalah kepuasan tersendiri baginya.

Dua hal yang merupakan kelebihan atau keistimewaan pada diri Aminuddin, yaitu bahwa beliau mempunyai ingatan yang sangat kuat dan mempunyai kemampuan bercerita yang tidak habis-habisnya. Kekuatan ingatan sampai akhir hayatnya, sehingga beliau masih mampu mengingat dan menceritakan peristiwa-peristiwa yang dialaminya puluhan tahun yang lalu sampai kronologis apa saja peristiwa atau kejadian tersebut. Hal ini jarang dimiliki setiap orang mungkin hanya satu dari seribu orang. Saya sudah mendengar dan melihat bagaimana beliau mampu bercerita selama berjam-jam tanpa putus dan tanpa kehabisan bahan untuk diceritakan. Dan menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang mendengarkannya tanpa bosan.

Pemikirannya yang orisinil mampu diterjemahkan kepada lawan bicaranya sehingga mudah dicerna dan difahami, sehingga pendengar terhipnotis seolah-olah ikut mengalami kejadian seperti yang diceritakannya.

Tapi ada satu hal yang menarik dan masih membekas dalam ingatan saya, di tahun 1995 ketika beliau jatuh sakit dan masuk hospital di Malaysia melawat anak dan cucu, di saat dokter datang memeriksa, maka dokter keturunan India itu berkata:

”Apakah Bapak merokok…”

”Iya, Pak Dokter..”

Dokter termenung agak lama, wajahnya berubah menjadi serius,

”Sebaiknya Bapak tidak merokok” katanya pelan tapi tegas, kemudian dokter itu pun berlalu.

Mendengar dokter berkata demikian, Aminuddin meng eja kalimat, Se-ba-ik-nya.. se-ba-ik-nya.., beliau berfikir, kalau merokok tentu seburuknya. Kalau seburuknya tentu akan berakibat fatal bagi kesehatannya.

Beliau memang seorang perokok berat sejak muda mulai dari rokok putih Kansas sampai ketika itu rokok kretek Gudang Garam Merah. Mulai saat itu beliau bertekad untuk tidak merokok dan sepulang dari hospital beliau langsung mencoba berhenti merokok dan Alhamdulillah beliau mampu berhenti merokok hingga akhir hayatnya di tahun 2000. Bila ingin sukses maka kemauan dari hati itu nampaknya bukan diucapkan saja tapi mesti dilaksanakan.

Banyak ketegasannya disalah artikan oleh sebagian orang padahal itu adalah untuk kebaikan karena dia mempunyai prinsip bahwa suatu kebenaran itu harus diungkapkan, sehingga banyak pula yang merasa tidak senang secara pribadi dengan Aminuddin. Dan menganggap beliau sebagai ’musuh’ yang berbahaya, bahkan dengan memberi julukan Dt. Bagindo Bala. Demikianlah kehidupan di dunia, segala sesuatunya dijadikan oleh Tuhan serba dua, ada yang mempunyai niat baik dan ada pula yang mempunyai niat buruk, begitulah seterusnya.

Tapi ada dua hal yang sangat menonjol pada diri Aminuddin, yang pertama yaitu ingatannya yang sangat kuat, ini terbukti apabila beliau bercerita suatu pengalaman atau peristiwa yang terjadi puluhan tahun yang lalu, dengan lancar ibarat air mengalir mampu dipaparkannya. Yang kedua adalah pantang menyerah pada suatu keadaan, bagaimana pun sulitnya suatu permasalahan maka apabila sudah berada di tangan beliau selalu ditemukannya jalan keluar.

Aminuddin adalah pribadi yang unik, karena dia mempunyai satu prinsip dalam hidup yaitu ingin jadi orang bebas, maksudnya adalah beliau tidak ingin terikat ke dalam suatu institusi dimana di dalamnya dia diperintah dan harus patuh kepada pimpinan. Inilah yang tidak disukainya. Hal ini bukan tanpa sebab, di masa mudanya pernah menjadi Tentara Heiho yang mempunyai disiplin yang sangat keras dan kepatuhan yang kaku terhadap komandan. Sehingga secara tidak langsung ikut merubah cara pandangnya di kemudian hari.

Teman-temannya sesama bekas pasukan Heiho semua menjadi tentara, hanya dia yang tidak mau menjadi tentara. Begitu pula ketika kesempatan untuk menjadi pegawai terbuka pada tahun-tahun lima puluhan, maka beliau tidak mau ikut serta. Berbeda dengan kakaknya Rasjidin dan adiknya yang bungsu Ali Amran, keduanya menjadi pegawai di Departemen Agama. Tetapi beliau tidak pernah menyesal atas semua itu dan menghadapi hidup dengan santai dan apa adanya, karena tidak pernah terikat dengan institusi apapun.

Tulisan ini hanyalah sebagian kecil dari demikian banyak kisah dan sejarah kehidupan yang berkaitan dengan Aminuddin yang dijuluki Angku Dotor yang kemudian bergelar Datuk Bagindo Basa yang dapat penulis goreskan melalui pena. Oleh karena tidak secara keseluruhan yang dapat penulis sampaikan sehubungan dengan keterbatasan penulis, maka dengan segala kerendahan hati penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan penulis juga mohon maaf kepada sidang pembaca apabila ada sesuatu yang diletakkan tidak pada tempatnya atau ada pemuka masyarakat yang tidak sempat disebutkan, padahal ikut mempunyai peranan dan andil yang besar.

Karena semua itu bukan karena kesengajaan tapi karena kealpaan penulis. Dan penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua fihak yang telah membantu memberikan referensi yang sangat tinggi nilainya. Dan akhirnya marilah kita berserah diri kehadhirat Allah SWT, karena sebagai manusia kita bersifat Khilaf dan hanya Allah yang maha bersifat Qadim.

{ 01 }

Masa Kanak-Kanak

Aminuddin dilahirkan pada hari Ahad tanggal 10 Agustus 1924 M bertepatan dengan tanggal 9 Muharram 1343 H, di sebuah rumah gadang di Dusun Koto Panjang Hilir Kelarasan Kapau Luhak Agam, atau terkenal dengan dusun Surau Sirah. Ayahnya Haji Abbas dan Ibu Sada, beliau adalah anak yang keempat dari dari tujuh orang bersaudara. Dilahirkan dari keluarga sederhana namun terpandang dari segi intelektual.

Ayah beliau adalah  salah seorang yang telah pandai tulis baca huruf latin dari sedikit sekali orang Kapau yang demikian, sehingga tidak mengherankan banyak orang yang belajar kepada beliau. Beliau juga menguasai ilmu falak dan berhitung. Haji Abbas terkenal seorang yang saleh dan merupakan tokoh terkemuka di nagari Kapau ketika itu, beliau juga salah seorang pendiri Sekolah Agama Perti atau Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Kapau pada tahun 1929.

Dari segi nasab atau garis keturunan menurut ayah maka Aminuddin termasuk keturunan dari Kepala Laras (Lareh) Kapau yang bernama Sabar gelar Datuk Rajo Labiah, beliau mempunyai dua orang anak yaitu Ahmad Chatib seorang guru di sekolah rendah atau sekolah desa dan seorang lagi bernama Nurdin. Ahmad Chatib ini adalah ayah dari Haji Abbas. Beliau-beliau itu adalah orang-orang yang disegani karena merupakan orang yang terpelajar.

Pada tahun 1926 terjadi gempa yang dahsyat di Padang Panjang yang getarannya sampai juga ke Kapau. Ketika gempa terjadi Aminuddin sedang dalam gendongan ibunya yang disaat itu baru saja sebelah kaki ibunya melangkah ke rumah gadang, tiba-tiba dapur rumah gadang tersebut runtuh karena gempa, tapi alhamdulillah Aminuddin dan Ibunya selamat tanpa mengalami cedera sedikitpun.

Setelah menginjak usia tujuh tahun Aminuddin disekolahkan di Sekolah Desa (Volkschool) yang terletak kurang dari satu km dari rumahnya  yaitu di Pandam Basasak dekat pasar Kapau, yang berlangsung selama 3 tahun. Kemudian dilanjutkan ke sekolah Sambungan (Gubernemen) di dusun Cingkaring. Di sekolah, Aminuddin tumbuh menjadi anak yang cukup cerdas demikian pula di rumah ia mendapat pendidikan yang keras dari orang tuanya terutama ayah beliau Haji Abbas. Teman sekelasnya antara lain Kuratul’ain, Abdul Hadi dan Muhammad Noer Amin. Yang terakhir ini adalah anak dari Nurdin dan Nurdin merupakan adik dari Ahmad Chatib yang berarti Muhammad Noer Amin ukuran paman dari Aminuddin. Muhammad Noer Amin ini adalah teman sepermainan sewaktu kecil dengan Aminuddin apalagi beliau berdua sama-sama satu kampung.

Pernah suatu ketika tatkala kedua bersahabat ini sedang bermain di dekat kolam di Surau Sirah, maka entah kenapa Muhammad Noer Amin terperosok dan jatuh ke dalam kolam besar dan cukup dalam. Melihat temannya timbul tenggelam seketika itu pula Aminuddin panik dan segera memanggil kakaknya yang tua yaitu Tajuddin yang dipanggilnya dengan panggilan Wandang, wan artinya tuan dan dang artinya gadang / besar. Tajuddin yang waktu itu sudah remaja segera datang dan langsung terjun ke kolam melakukan penyelamatan dan alhamdulillah Manoer begitu beliau dipanggil dapat diselamatkan.

Di sekolah umumnya teman-teman Aminuddin merasa segan kepadanya karena tabiatnya yang berani dan suka menolong. Keberaniannya bukan isapan jempol karena pernah suatu ketika seorang temannya yang gareseh mengadu-adunya dengan teman yang lain. Dasar Aminuddin tidak mau diadu domba, maka temannya ini mengejek, ia memasukkan jarinya ke mulut Aminuddin. Sakit hati diperlakukan demikian Aminuddin menggigit jari temannya itu sehingga temannya itu menjerit sangat keras, oo.. amak ooi… oo.. amak ooi…. memanggil-manggil ibunya, tapi Aminuddin tidak mau melepaskan gigitannya, kabarnya ada orang lain yang melepaskan dan barulah gigitan tersebut terlepas.

Dikenal keras hati dan mudah marah tapi cepat memaafkan adalah tipe Aminuddin yang menurun dari ayahnya. Ayahnya Haji Abbas adalah cendekiawan di zamannya, dalam keadaan biasa adalah seorang penyabar yang suka menolong. Suatu kali seorang tetangga meminjam kapak kepada beliau dan beliau dengan senang hati meminjamkannya, setelah selesai dikembalikanlah kapak tersebut namun apa yang terjadi ternyata mata kapak tersebut sumbing. Saat itu juga beliau berkata ”manyeso den harato den” menyiksa saya harta saya, sambil melemparkan kapak tersebut ke dalam sebuah kolam. Melihat situasi seperti itu tetangga yang meminjam kapak tadi sangat ketakutan. Akan tetapi setelah amarah beliau kembali reda maka diambillah kembali kapak yang telah dibuang ke dalam kolam dan kemudian beliau asah kembali.

Aminuddin adalah seorang anak yang pandai bergaul sehingga dia disenangi oleh teman-temannya bahkan oleh orang yang lebih tua darinya, terutama adalah karena dia pintar atau bijak berbicara atau maota dan teman-temannya dan semua orang menjadi suka. Dia pun seorang anak yang tidak dimanjakan oleh kedua orang tuanya ketika kecil sehingga dia tumbuh sebagai anak yang mandiri dan mempunyai pendirian. Didikan orang tuanya telah membentuk kepribadiannya menjadi pribadi yang pandai berhemat dan sederhana. Belanja yang diberikan oleh orang tuanya ketika sekolah hanyalah satu rimih atau serimih uang Belanda. Kalau sekarang hanya dapat pembeli setengah piring lontong atau sepotong kue.

Dalam berinteraksi dengan siapapun selalu dilakukannya dengan mengamalkan nasehat dari orang tuanya Haji Abbas “kok manyauak di hilia-hilia, kok bakato di bawah-bawah”artinya kalau mengambil air di hilir-hilir, kalau berkata di bawah-bawah, maksudnya adalah kalau bergaul dengan orang banyak maka harus hati-hati dalam berbicara dan bertindak. Di lain pihak pandai mengambil hati orang sehingga orang tidak merasa tersakiti oleh sikap serta perkataan dan memang itu adalah modal utama dalam pergaulan sehari-hari.

Disamping itu dia tidak suka membantah dengan kata-kata yang tidak pantas, juga dengan senang hati suka membantu. Begitu juga hubungan dengan keluarga dari pihak ayah atau bako sangat baik. Aminuddin suka bermain-main ke Parak Maru Pasir di rumah neneknya di pihak ayah, dimana neneknya ini sangat sayang kepada Aminuddin.

Pada suatu ketika Aminuddin memasakkan nasi untuk neneknya yang sudah tua yang seluruh gigi beliau sudah tanggal dan mata juga sudah rabun, jadi oleh karena gigi beliau sudah tidak ada maka dimasaklah nasi yang lunak atau nasi lambiak. Ketika memakan nasi tersebut neneknya marah-marah dan menggerutu. Kemudian Aminuddin menjelaskan kepada neneknya bahwa dia yang memasak dan nasinya dilunakkan karena gigi neneknya sudah tidak ada. Mengetahui bahwa sang cucu yang memasak maka redalah kemarahan nenek. Rupanya nenek memakan nasi yang biasa dengan tunggul giginya yang sudah keras dan sudah menjadi pengganti gigi beliau yang seluruhnya sudah ompong. Nenek ini mempunyai putra dua orang yaitu Haji Abbas dan Dt. Pangulu Basa nan Kuniang, sehingga kalau menurut ranji / silsilah Minangkabau apabila tidak mempunyai anak perempuan, maka keluarga tersebut menjadi pudua atau pudur, yang maksudnya adalah punah menurut system matrilineal.

{ 02 }

Heiho Rikugun Bioying

Perang Dunia II telah merobah kondisi dunia, juga telah merobah nasib rakyat di pelosok negeri seperti di nagari Kapau. Munculnya Jepang sebagai kekuatan militer baru menyebabkan para prajuritnya terdampar ke negeri yang bernama Indonesia yang pada waktu itu sedang dijajah Belanda dan dinamakan Hindia Belanda. Sehingga dengan secepat kilat Indonesia berhasil ditaklukkan dan Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Pada mulanya rakyat Indonesia menyambut Jepang dengan harapan Jepang dapat merobah nasib bangsa Indonesia dan membawa kepada kemerdekaan Indonesia.

Demikianlah, di Bukittinggi Tentara Jepang berhasil mendirikan Pemerintahan Militer dan dijadikan markas besar tentaranya dibawah panglima tentara Jepang se-Sumatera Letnan Jenderal Watanabe Murikata dengan markasnya di kota Bukittinggi. Jepang mempropagandakan dan menjanjikan akan memberi kemerdekaan kepada Indonesia. Di masa Jepang timbul semangat untuk merdeka. Tapi Jepang ternyata tidak memberikan cek kosong, di balik itu mereka ingin bangsa Indonesia berhutang budi kepada Jepang karena telah membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda, artinya bangsa Indonesia harus membantu Jepang dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Salah satu program Jepang adalah membentuk Pasukan Heiho dari penduduk pribumi. Pasukan Heiho ini adalah pasukan khusus Jepang dalam Perang menghadapi Amerika dan Sekutu-sekutunya, yang akan ditempatkan di garis depan. Maka dibukalah pendaftaran bagi bangsa Indonesia untuk diangkat menjadi prajurit Heiho. Salah seorang yang mendaftar masuk tentara Heiho adalah seorang pemuda bernama Aminuddin. Setelah melalui tes layaknya masuk tentara, Aminuddin dan beberapa teman satu kampungnya akhirnya diterima sebagai prajurit Heiho dan beliau memilih prajurit bagian kesehatan.

Menjadi prajurit Heiho merupakan babak baru bagi Aminuddin dalam kehidupannya. Berbekal latihan serta disiplin militer yang keras membentuk watak dan kepribadian yang juga keras bagi Aminuddin. Semua itu mempunyai pengaruh yang kuat dalam kehidupan beliau di kemudian hari. Berbeda dengan sebagian orang sipil yang tidak dibekali dengan disiplin dan teknik-teknik militer maka akan mudah dipengaruhi serta memiliki mental yang lemah. Disamping dilatih secara militer, Aminuddin juga diajari bahasa Jepang, sehingga beliau faham bahasa Jepang sehari-hari untuk berkomunikasi dengan tentara Jepang.  Salah seorang temannya seperjuangan dalam pasukan Heiho yang merupakan teman satu kampung ialah Sjahmenan.

Salah satu propaganda Jepang yang terkenal adalah mengajarkan lagu-lagu perjuangan mereka  yang menambah semangat patriotisme para prajuritnya. Bahkan lagu tersebut ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan wajib diajarkan di sekolah-sekolah. Sehingga banyak anak-anak setingkat SD yang hafal lagu-lagu tersebut. Lagu-lagu seperti Mi Oto Kaino, A Kaichi, Maere Netsu dan lain-lain selalu dinyanyikan dalam setiap latihan gerak jalan pasukan Heiho yang dilakukan di jalan-jalan utama kota Bukitinggi.

Berikut ini dua buah cuplikan syair lagu Jepang yang dihafal Aminuddin :

Mi oto kai no so raa kete

Kio kuji tuta kaku kang gaya keba

Ten cino se iki ha suro suto

Ki bao doru oya sima

O sa iro no asa gu moni

                                                            So doru uzino su ngata koso

                                                            King wu ome getsu yu rigin nagi

                                                            Wa gani.. pong no

                                                            Wa ka dinare

Ta tei ka ino ungi miyo

Ikari toto ani itada kite

Sing ming wa rera mi noto moni

Mi zu dese ahu dai si mehi

Yo ke ahak ko wu iye tonasi

                                                            Mi kari no he towo mi cibi kite

                                                            Ta dasi tun ta iwa n tata ta n

Ri sowa.. han nato

Sagi ka oru

———————————————–

A kai chi sio noyo ka ren no

Na natsu botang uwa

sakura ni hikari

ki ono to butong obu

ka suming nahu ra nya

re ka ichi sio no

su mo nga waku

A ho bu sem pa iyo ka ren no

Hu de waku rongane

ko koro ai dama

sato su rate eba

arau miko ete

yo ku zute keju ku

na gori gomi

I no chiyo sima nuyo Ka ren no

Yo tsu natsu basawa

So hori nat su basa

Hun to nere ere

Tat tisan nasa ising

Ya ma toda ma singa

Te kiwa nai

Ada beberapa organisasi yang dibentuk Jepang di Indonesia yaitu : Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA)

Tawaran kerja sama yang ditawarkan pemerintahan Jepang pada masa itu, disambut hangat oleh para pemimpin bangsa. Sebab menurut perkiraan mereka, suatu kerja sama di dalam situasi perang adalah cara terbaik. Pada masa ini, muncul empat tokoh nasionalis yang dikenal dengan sebutan Empat Serangkai, mereka adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hattta, K.H. Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara. Empat tokoh nasionalis ini lalu membentuk sebuah gerakan baru yang dinamakan Pusat Tenaga Rakyat (Putera).Putera resmi didirikan pada tanggal 16 April 1943. Gerakan yang didirikan atas dasar prakarsa pemerintah Jepang ini bertujuan untuk membujuk kaum nasionalis sekuler dan kaum intelektual agar dapat mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk usaha perang negara Jepang. Gerakan ini ini tidak dibiayai pemerintahan Jepang. Walaupun demikian, pemimpin bangsa ini mendapat kemudahan untuk menggunakan fasilitas Jepang yang ada di Indonesia, seperti radio dan koran. Dengan cara ini, para pemimpin angsa dapat berkomunikasi secara leluasa kepada rakyat. Sebab, pada masa ini radio umum sudah banyak yang masuk ke desa-desa. Pada akhirnya, gerakan ini ternyata berhasil mempersiapkan mental masyarakat Indonesia untuk menyambut kemerdekaan pada masa yang akan datang.

Gerakan Tiga A

Gerakan Tiga A yang memiliki tiga arti, yaitu Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia, dan Jepang Cahaya Asia. Pada awal gerakan ini dikenalkan kepada masyarakat Indonesia, terlihat bahwa pemerintah Jepang berjanji bahwa saudara tua nya ini dapat mencium aroma kemerdekaan.
Pada awal gerakannya, pemerintah militer Jepang bersikap baik terhadap bangsa Indonesia, tetapi akhirnya sikap baik itu berubah. Apa yang ditetapkan pemerintah Jepang sebenarnya bukan untuk mencapai kemakmuran dan kemerdekaan Indonesia, melainkan demi kepentingan pemerintahan Jepang yang pada saat itu sedang menghadapi perang. Tetapi setelah pemerintah Jepang mengetahui betapa besarnya pengharapan akan sebuah kemerdekaan, maka mulai dibuat propaganda-propaganda yang terlihat seolah-olah Jepang memihak kepentingan bangsa Indonesia.
Dalam menjalankan aksinya, Jepang berusaha untuk bekerja sama dengan para pemimpin bangsa (bersikap kooperatif). Cara ini digunakan agar para pemimpin nasionalis dapat merekrut massa dengan mudah dan pemerintah Jepang dapat mengawasi kinerja para pemimpin bangsa.
Tetapi gerakan ini tidak bertahan lama. Hal ini dikarenakan kurang mendapat simpati di kalangan masyarakat Indonesia. Sebagai penggantinya, pemerintah Jepang menawarkan kerja sama kepada tokoh-tokoh nasional Indonesia.
Dengan kerja sama ini, pemimpin-pemimpin Indonesia yang ditahan dapat dibebaskan, di antaranya Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Sutan Syahrir, dan lain-lain.

Seinendan

Seinendan adalah organisasi semi militer yang didirikan pada tanggal 29 April 1943. Orang-orang yang boleh mengikuti organisasi ini adalah pemuda yang berumur 14-22 tahun. Tujuan didirikannya Seinendan adalah untuk mendidik dan melatih para pemuda agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah airnya dengan menggunakan tangan dan kekuatannya sendiri. Tetapi, maksud terselubung diadakannya pendidikan dan pelatihannya ini adalah guna mempersiapkan pasukan cadangan untuk kepentingan Jepang di Perang Asia Timur Raya.
Fujunkai

Fujinkai dibentuk pada bulan Agustus 1943. Organisasi ini bertugas untuk mengerahkan tenaga perempuan turut serta dalam memperkuat pertahanan dengan cara mengumpulkan dana wajib. Dana wajib dapat berupa perhiasan, bahan makanan, hewan ternak ataupun keperluan-keperluan lainnya yang digunakan untuk perang.

MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia)

Golongan nasionalis Islam adalah golongan yang sangat anti Barat, hal itu sesuai dengan apa yang diinginkan Jepang. Jepang berpikir bahwa golongan ini adalah golongan yang mudah dirangkul. Untuk itu, sampai dengan bulan Oktober 1943, Jepang masih mentoleransi berdirinya MIAI. Pada pertemuan antara pemuka agama dan para gunseikan yang diwakili oleh Mayor Jenderal Ohazaki di Jakarta, diadakanlah acara tukar pikiran. Hasil acara ini dinyatakan bahwa MIAI adalah organisasi resmi umat Islam. Meskipun telah diterima sebagai organisasi yang resmi, tetapi MIAI harus tetap mengubah asas dan tujuannya. Begitu pula kegiatannya pun dibatasi. Setelah pertemuan ini, MIAI hanya diberi tugas untuk menyelenggarakan peringatan hari-hari besar Islam dan pembentukan Baitul Mal (Badan Amal). Ketika MIAI menjelma menjadi sebuah organisasi yang besar maka para tokohnya mulai mendapat pengawasan, begitu pula tokoh MIAI yang ada di desa-desa.
Lama kelamaan Jepang berpikir bahwa MIAI tidak menguntungkan Jepang, sehingga pada bulan Oktober 1943 MIAI dibubarkan, lalu diganti dengan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan dipimpin oleh K.H Hasyim Asy’ari, K.H Mas Mansyur, K.H Farid Ma’ruf, K.H. Hasyim, Karto Sudarmo, K.H Nachrowi, dan Zainul Arifin sejak November 1943.

Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa)

Selang beberapa waktu, ternyata pemerintah Jepang mulai menyadari bahwa, gerakan Putera lebih banyak menguntungkan rakyat Indonesia dan kurang menguntungkan pihaknya. Untuk itu, Jepang membentuk organisasi baru yang dinamakan Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa). Tujuan pendirian organisasi ini adalah untuk penghimpunan tenaga rakyat, baik secara lahir ataupun batin sesuai dengan hokosisyin (semangat kebaktian). Adapun yang termasuk semangat kebaktian itu di antaranya: mengorbankan diri, mempertebal persaudaraan, dan melaksanakan sesuatu dengan bukti.
Organisasi ini dinyatakan sebagai organisasi resmi pemerintah. Berarti, organisasi ini diintegrasikan ke dalam tubuh pemerintah. Organisasi ini mempunyai berbagai macam hokokai profesi, di antaranya Izi hokokai (Himpunan Kebaktian Dokter), Kyoiku Hokokai (Himpunan Kebaktian Para Pendidik), Fujinkai (Organisasi Wanita), Keimin Bunka Syidosyo (Pusat Budaya) dan Hokokai Perusahaan.
Struktur kepemimpinan di dalam Jawa Hokokai ini langsung dipegang oleh Gunseikan, sedangkan di daerah dipimpin oleh Syucohan (Gubernur atau Residen). Pada masa ini, golongan nasionalis disisihkan, mereka diberi jabatan baru dalam pemerintahan, akan tetapi, segala kegiatannya memperoleh pengawasan yang ketat dan segala bentuk komunikasi dengan rakyat dibatasi.
Keibodan
Organisasi ini didirikan bersamaan dengan didirikannya Seinendan, yaitu pada tanggal 29 April 1943. Anggotanya adalah para pemuda yang berusia 26 45 tahun. Tujuan didirikannya organisasi ini adalah untuk membantu polisi dalam menjaga lalu lintas dan melakukan pengamanan desa.

Heiho

Anggota Heiho adalah para prajurit Indonesia yang ditempatkan pada organisasi militer Jepang. Mereka yang tergabung di dalamnya adalah para pemuda yang berusia 18-25 tahun.                

Ketika menjadi prajurit Heiho maka harus siap dengan disiplinnya yang sangat ketat dan keras dan sanksi yang berat apabila melanggarnya. Ketika diadakan latihan baris berbaris dan latihan lain layaknya latihan militer tentara sekarang, maka setiap para prajurit harus taat terhadap aturan dan perintah komandan dan kesalahan kecil sekalipun akan dihukum berat. Seperti kancing baju yang lepas ketika latihan harus dicari sampai ketemu kembali, dan kancing baju itu sangat sederhana terbuat dari tempurung kelapa. Hukuman yang diberikan adalah berlari mengelilingi lapangan kantin atau bukit ambacang sebanyak yang diingini oleh komandannya.

Tugas yang dilalui oleh Aminuddin sebagai prajurit Heiho tidaklah begitu berat, seperti dikirimkan ke garis depan pertempuran, oleh karena kesatuannya adalah di kesatuan kesehatan. Berbeda dengan pasukan infantri dan kavaleri yang ditugaskan ke daerah lain yang jauh, dimana pertempuran terjadi. Tapi meskipun demikian sewaktu-waktu ada juga tugas-tugas berat yang dilakukan oleh Aminuddin dan Kawan-kawan. Seperti misalnya ditugaskan membuat terowongan atau terkenal dengan nama Lobang Jepang.

Suatu saat Aminuddin dan prajurit lainnya dalam satu kesatuan ditugaskan menggali terowongan di bawah kebun binatang sekarang. Baru beberapa meter digali terjadi longsor dan menimbun beberapa orang, tapi untunglah prajurit yang lain cepat memberikan pertolongan sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Oleh karena tanah yang labil dan membahayakan maka terowongan tersebut akhirnya dihentikan pengerjaannya dan tidak pernah dilanjutkan lagi.

Orang Jepang mempunyai kepercayaan menyembah matahari dan bendera negaranya pun bergambar matahari. Suatu kewajiban bagi seluruh prajurit setiap pagi untuk sikerei, yaitu hormat kearah matahari terbit dengan cara membungkukkan badan. Itu adalah suatu kepercayaan yang tidak saja diberlakukan untuk orang Jepang tapi juga diwajibkan bagi bumiputera yang menjadi prajuritnya, bahkan juga diwajibkan di sekolah-sekolah pada waktu itu. Tentu saja banyak yang menentang terutama para ulama karena sangat berkaitan dengan akidah seseorang. Sehingga tidak sedikit bagi yang menentang ditumpas dengan cara kekerasan dan banyak pula yang dibunuh.

Demikian juga dengan prosesi kematian dimana apabila ada orang Jepang yang mati, maka jenazahnya dibakar dengan upacara yang dibuat secara besar-besaran. Ada peristiwa unik dan menarik, pada waktu itu ada seorang perwira Jepang yang meninggal dunia, setelah dilakukan upacara pembakaran maka abu jenazah tersebut dimasukkan ke dalam sebuah guci kemudian dikuburkan. Di atas kuburan tersebut kemudian diletakkan berbagai macam makanan yang disukai oleh si mati, berupa buah-buahan, roti, rokok dan sebagainya. Setelah selesai dan beberapa keluarga si mati berdo’a menurut kepercayaannya maka mereka pun segera pulang dan tanpa menoleh lagi ke belakang.

Sementara itu dari kejauhan Aminuddin dan beberapa temannya mengintip proses pemakaman dari awal sampai akhir. Ketika orang-orang yang menghadiri pemakaman beranjak pulang, maka Aminuddin dan kawan-kawan segera ke makam yang diatasnya dipenuhi oleh berbagai macam makanan. Dan mereka mengambil makanan yang diletakkan tadi tanpa takut ketahuan, karena keluarga dan orang-orang yang telah meninggalkan pemakaman tidak pernah menoleh lagi ke belakang, karena hal itu sudah menjadi adat kebiasaan bagi mereka.

Ketika Jepang kalah dalam perang dunia kedua, dan berita belum beredar ke masyarakat banyak, tetapi berita ini dengan cepat sampai ke seluruh tentara Jepang, maka tidak sebagaimana biasanya panglima pasukan Jepang mengumpulkan seluruh tentaranya di lapangan kantin. Panglima kemudian berpidato dengan terbata-bata dan tidak ada yang faham isi pidatonya di kalangan penduduk pribumi, kecuali mungkin sedikit bagi yang berpendidikan.

Selesai berorasi dalam bahasa Jepang, suasana menjadi hening dan semua pasukan termasuk panglima dan para komandan mengeluarkan sapu tangan dan menyeka air mata mereka masing-masing. Aminuddin meskipun tidak begitu paham dengan bahasa Jepang, tapi dengan nalurinya dia menilai, tentu ada sesuatu yang telah terjadi kenapa semua orang menangis. mungkin Jepang menyerah kalah kepada sekutu, fikir Aminuddin. Ternyata beberapa hari kemudian beredarlah khabar bahwa Jepang telah menyerah kalah kepada sekutu, dimana sebelumnya  diawali oleh Amerika yang menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Para tentara Jepang mulai dari perwira sampai prajurit  memang memiliki jiwa kesatria dan semangat yang sangat tinggi dalam kepatuhan kepada kaisar dan negaranya. Kekalahan dalam perjuangan adalah sesuatu yang sangat memalukan bagi mereka untuk hidup dan kematian lebih baik, karena itu adalah sesuatu yang mulia. Maka tidak mengherankan bila banyak yang melakukan hara-kiri atau bunuh diri untuk meraih predikat mulia tadi. Bahkan dalam pertempuran pun prajurit jepang sering menyerang musuh dengan cara berjibaku yang artinya juga adalah bunuh diri.

{ 03 }

Memenuhi Panggilan Tugas

            Kemerdekaan Indonesia akhirnya diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan disambut dengan sukacita seluruh bangsa Indonesia. Akan tetapi mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih itu bukanlah perkara mudah. Dan ini terbukti tidak lama setelah itu Belanda datang kembali dengan membonceng dengan tentara Sekutu, ingin mencaplok kembali bekas jajahannya dari Jepang yang telah kalah dalam perang. Babak baru pasca kemerdekaan maka yang akan dihadapi oleh tentara Indonesia dan segenap rakyat Indonesia adalah tentara Belanda dan para sekutunya.

Sebagai mantan prajurit Heiho, adalah modal bagi Aminuddin untuk melatih para pemuda untuk berjuang membela bayi yang baru lahir. Bayi itu bernama Republik Indonesia yang diibaratkan bayi yang baru saja lahir. Maka dikumpulkanlah para pemuda Kapau untuk dilatih secara militer dalam rangka perang melawan Belanda dan pelatihnya adalah Aminuddin  beserta teman-teman seperjuangan lainnya.

Kemudian dibentuk suatu Badan Keamanan nagari yang diberi nama Badan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK). Selanjutnya  dibentuk pula di nagari Kapau sebuah pasukan yang diberi nama Pasukan Mobil Teras (PMT) dan Aminuddin sebagai komandannya. PMT ini beranggotakan pemuda dari seluruh kampung yang ada di nagari Kapau. Pasukan ini terdiri dari pasukan inti yang  berjumlah 70 orang dan sekitar 250 orang anggota cadangan.

Salah satu gagasan beliau dalam menghadapi perang gerilya menghadapi Belanda adalah membangun kembali tempat perlindungan sekaligus benteng pertahanan yaitu berupa parit perlindungan di dusun Ladang Laweh. Parit ini adalah peninggalan nenek moyang ketika terjadi peperangan waktu itu. Parit itu pada asalnya mempunyai panjang lebih kurang tujuh ratus meter, tinggi dua meter dan lebar satu setengah meter. Sehingga siapapun yang berdiri maupun berlari di dalamnya tidak akan kelihatan oleh musuh.

Suatu ketika ada salah seorang pemuda yang terjatuh dari kendaraannya di dekat sebuah jembatan di Induring, dia terluka cukup parah dan perlu segera mendapat perawatan maka Aminuddin segera mengobatinya dengan standar perawatan dengan alat-alat medis yang telah tersedia, dan memang Aminuddin telah mendapat pendidikan selama menjadi anggota pasukan Heiho di bidang kesehatan. Sehingga mulai saat itu oleh teman-temannya Aminuddin diberi gelar Engku Dotor/Angku Dotor atau Amin Dotor.

Ketika sedang bertugas melatih para pemuda pejuang, terjadi suatu peristiwa kecelakaan yang dialami oleh Aminuddin yang kemudian sering dipanggil Angku Dotor, yaitu luka yang diderita akibat terpijak sepotong kayu runcing sebesar kelingking yang menembus telapak kakinya dan potongan kayu tersebut tanpa disadari ternyata tertinggal di dalam kakinya.

Luka akibat tertembus potongan kayu telah diobati dan dalam waktu lebih kurang seminggu telah sembuh. Namun potongan kayu yang tertinggal di dalam telapak kakinya tersebut lama kelamaan mengalami infeksi sehingga Angku Dotor tidak mampu lagi berjalan. Setelah sekian lama hanya diobati dengan obat tradisional membuat kakinya menjadi kaku dan tidak bisa diluruskan.

Segala macam obat tradisional dan tukang urut telah didatangkan untuk mengobati kakinya namun tidak membawa hasil yang menggembirakan. Hal ini membuat ibunya yang masih hidup waktu itu dan saudara-saudaranya menjadi cemas sehingga akhirnya Angku Dotor dibawa ke Dr Ilyas di Bukittinggi. Berkat penanganan dari Dr Ilyas kaki Angku Dotor berhasil dioperasi dengan mengeluarkan potongan kayu tersebut. Kemudian kakinya yang kaku dan tidak dapat diluruskan disarankan oleh Dr Ilyas supaya dia sendiri yang mengobati dengan minyak kelapa secara sedikit demi sedikit tapi jangan dipaksakan.

Saran dari Dr Ilyas dilakukanlah oleh Amin Dotor sendiri tanpa bantuan dari orang lain, beliau mengurut kakinya mulai dari lutut kemudian diluruskan sedikit demi sedikit selama berhari hari. Setelah lurus diangkat lagi sedikit demi sedikit begitulah terus sehingga menuntut kesabaran yang tinggi, sampai kakinya berhasil digerakkan.

Setelah sembuh dari penyakit yang dideritanya selama berbulan-bulan, tidak berapa lama kemudian Angku Dotor secara tiba-tiba mengalami penyakit muna atau tidak mau berbicara dan gangguan penglihatan yang berakibat apa yang dilihatnya menjadi berubah-ubah, serta menjadi pemarah. Penyakit aneh ini muncul secara tiba-tiba dan diluar dugaan banyak orang. Bayangkan saja Angku Dotor yang selama ini ceria dan banyak bicara serta penuh humor mendadak menjadi sangat pendiam. Ini menjadi tanda tanya seluruh keluarga dan teman-temannya, sehingga dicarilah orang pintar atau dukun yang mampu mengobati penyakit aneh ini.

Diperkirakan penyakit aneh ini diderita oleh Angku Dotor selama berbulan-bulan pula, mungkin sekitar tujuh bulan atau lebih. Setelah diobati dengan berbagai cara akhirnya Alhamdulillah Angku Dotor kembali sembuh sebagaimana sediakala tak kurang suatu apapun juga sama seperti sebelum dia jatuh sakit.

Selama lebih kurang satu tahun lebih Angku Dotor absen dari tugas-tugas perjuangan, pada waktu itu adalah awal kemerdekaan bangsa Indonesia sekitar tahun 1945-1946 dan perjuangan menghadapi tentara Sekutu dan Belanda. Akhirnya dia kembali ke medan perjuangan bergabung dengan kawan-kawan seperjuangannya yang telah menunggu dengan harap-harap cemas selama ini. Aktifnya kembali Angku Dotor telah menambah darah dan semangat baru para pemuda pejuang dibawah kepemimpinannya.

Agresi militer Belanda yang pertama pada tahun 1947 menjadi tantangan bagi Angku Dotor untuk menunjukkan semangat perjuangannya dalam menghadapi penjajah. Disamping menjadi komandan Pasukan Mobil Teras, beliau kemudian aktif pula di dalam Lasjkar Muslimin Indonesia (Lasjmi) dibawah komandan Sofjan Siradj dengan pangkat Letnan Muda. Lasjmi ini merupakan Lasykar yang dibentuk oleh Partai Islam Perti sebagai wujud dalam membela tanah air. Pada waktu itu Angku Dotor beserta Pasukan Lasjmi ditugaskan ke kota Padang dan bermarkas di Belimbing Kuranji. Lasjmi juga aktif membantu Pasukan Harimau Kuranji melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Selama beberapa bulan bergabung dengan pasukan Harimau Kuranji, karena telah terjadinya perjanjian gencatan senjata dengan Belanda, Angku Dotor pulang ke Bukittinggi, bergabung kembali dengan pasukan Front Agam untuk bersiap siaga menghadapi perjuangan selanjutnya apabila sewaktu-waktu Belanda melanggar perjanjian dengan Pemerintah Republik Indonesia. Dan memang benar Belanda melanggar perjanjian dan kembali melakukan agresi militernya ke wilayah Republik Indonesia, dengan melakukan Agresi kedua pada bulan Desember 1948.

{ 04 }

Tragedi di Pasar Kapau

            Tahun 1948-1949 adalah masa Agresi Militer Belanda yang kedua ke Negara Indonesia yang telah merdeka. Demikianlah yang terjadi di Nagari Kapau, karena Kapau adalah sebuah nagari yang sangat strategis dan salah satu pintu masuk dari Bukittinggi ke daerah Kamang yang menjadi basis pertahanan Pejuang Kemerdekaan. Namun Belanda tahu bahwa di Kapau juga adalah tempat berkumpulnya para pejuang dalam mengatur strategi perjuangan. Maka Belanda telah menjadikan Kapau sebagai salah satu  target utama dalam rangka membersihkan para pejuang yang disebutnya ekstremis.

Hal yang sangat meresahkan Belanda dan membuat mereka geram adalah adanya gangguan dari para pejuang terhadap konvoi pasukannya. Pejuang sering menghambat gerakan pasukan Belanda dengan memblokir jalan raya dengan batang kayu, batang kelapa, batu-batuan dan sebagainya. Sebagai contoh terjadi di jorong Cingkaring Kapau, para pejuang menebangi pohon kelapa dan dibelintangkan di atas jalan untuk menghambat konvoi serdadu Belanda. Namun apa yang terjadi, setelah Belanda datang ternyata mereka murka dan membakar seluruh rumah yang berada di tepi jalan. Ada sekitar tujuh buah rumah gadang yang musnah terbakar oleh aksi serdadu Belanda.

Pasar Kapau adalah pasar rakyat yang ramai setiap hari Selasa dan Jum’at, bagi yang berada di daerah kaki gunung Marapi mudah sekali bagi mereka menandai daerah Kapau, karena ada sebuah pohon Katapiang (Kenari) yang sangat besar tumbuh dekat pasar tersebut. Pemuda Pejuang dari daerah Kamang dan sekitarnya sudah biasa berkumpul di sekitar pasar Kapau, mereka berjumlah puluhan dan berikat kepala merah.

Suatu ketika di saat hari pasar terdengarlah bunyi pesawat capung (Pengintai) Belanda terbang rendah berputar-putar beberapa menit di atas pasar Kapau. Kenyataan ini diprediksi oleh Komandan Pasukan Mobil Teras (PMT) waktu itu yaitu Aminuddin (Angku dotor), bahwa ini menandakan suatu saat akan ada serangan ke pasar Kapau. Maka diberitahukanlah melalui orang per orang untuk mengosongkan pasar karena Belanda akan menyerbu pasar Kapau.

Pada hari yang diperkirakan akan terjadi penyerbuan ke pasar Kapau, komandan PMT melakukan pengamatan ke daerah Patanangan dengan salah seorang anggotanya. Ketika itulah bertemu dengan seorang wanita tua yang berjalan tergesa-gesa mengabarkan bahwa tentara Belanda berada dibelakangnya. Sang komandan dan temannya segera bersembunyi di sebuah tebing sebuah sungai kecil, dan berpikir bahwa perkiraannya benar akan ada serangan ke pasar Kapau dan tentara Belanda inilah yang akan menyerang pasar Kapau. Saksi mata di daerah yang dilewati pasukan Belanda ini menyaksikan dari persembunyian bahwa mereka berbaris dengan rapi dengan senjata yang siap ditembakkan.

Belanda memang telah mengatur dengan rapi serangan ke pasar Kapau, dengan membagi pasukan infanteri atau jalan kakinya menjadi dua sayap, sayap pertama adalah dari Pakan Kamis menuju Gobah kemudian terus ke Giring-giring – Pasar Kapau dan yang kedua adalah Pakan Kamis menuju Patanangan terus ke Padang Canting – Pasar Kapau. Gerakan Pasukan ini nantinya akan diikuti oleh pesawat Capung. Tidak jelas informasinya berapa personil pasukan yang ditugaskan ini.

Hari itu, sebagian besar masyarakat yang ada setelah mengetahui pemberitahuan dari komandan PMT segera mematuhinya demi untuk keselamatan. Akan tetapi para pemuda pejuang dari daerah lain tetap berada di area pasar Kapau seolah-olah tidak mengetahui atau tidak percaya akan ada serangan Belanda ke pasar Kapau. Namun diluar dugaan para pejuang tersebut mereka dikejutkan dengan informasi akurat bahwa Belanda telah datang. Mendengar hal ini maka kepanikan yang luar biasa menghinggapi para pemuda pejuang, mereka semua berlari ke arah Utara daerah Surau Sirah karena mengira Belanda datang dari arah Barat yaitu Simpang Kapau.

Ternyata perkiraan para pejuang sama sekali melenceng karena justru mereka menyongsong serdadu Belanda yang datang dari Utara bukan dari Barat. Para pejuang yang tidak dibekali dengan persenjataan yang memadai memang tidak siap menghadapi tentara Belanda yang sudah sangat dekat hanya beberapa puluh meter, sehingga menjadi sasaran tembakan serdadu Belanda maka akhirnya peristiwa pembantaian yang sangat memilukan terjadi kepada para pemuda pejuang. Para Pejuang yang berjumlah sekitar tigapuluhan orang seketika itu juga gugur diberondong tanpa ampun oleh tembakan senapan mesin serdadu Belanda, dan ternyata pula semua pejuang berasal dari luar daerah Kapau, terutama dari Kamang.

Penyerbuan ke pasar Kapau ini tidak hanya dilakukan pasukan Infanteri Belanda tapi juga diikuti dan dilindungi oleh pesawat pengintai (capung) yang juga menembaki para pejuang dari udara. Pesawat ini mampu terbang rendah sehingga yang bersembunyi di dalam semak belukar dan di dalam rerimbunan padi sekalipun pun terlihat olehnya dan diberondong tembakan secara membabi buta. Pada waktu itu ada seorang penduduk lokal yang tewas oleh tembakan dari pesawat capung yang terbang rendah.

{ 05 }

Gerakan Pembebasan Wali Perang Kapau

Adalah suatu kisah heroik yang terjadi di saat bangsa Indonesia berjuang menghadapi agresor Belanda pada Perang Kemerdekaan tahun 1948-1949, ada beberapa orang anak bangsa yang diberi kekuasaan tapi menyalahgunakan kekuasaannya itu untuk nafsu kepentingan pribadi dan merusak persatuan antara anak bangsa seperjuangan, padahal seharusnya dia berada di barisan terdepan melawan musuh yang nyata, yaitu penjajah Belanda dan antek-anteknya. Mudah-mudahan dapat diambil hikmahnya bagi orang Kapau di manapun berada.

Alkisah pada waktu itu terjadilah penangkapan Inyiak Adjo yang menjabat Wali Nagari Kapau dimana pada waktu itu disebut dengan Wali Perang karena kondisi dan situasi negara dalam keadaan perang melawan agresi Belanda. Penangkapan beliau ini dilakukan oleh beberapa Oknum CPM (Corps Polisi Militer), Inyiak Adjo yang jujur dan mempunyai pendirian yang teguh ini dibawa ke daerah lain di luar nagari Kapau yakni tepatnya ke Patanangan Tilatang, tidak berapa jauh dari perbatasan nagari Kapau. Beliau dikurung atau katakanlah ditahan disebuah rumah dengan pengawalan dan penjagaan dari oknum-oknum CPM itu sendiri.

Khabar ditangkapnya Inyiak Adjo oleh oknum CPM ini tersiar dengan cepat ke seantero nagari Kapau, rakyat menjadi heboh dan menjadi bahan perbincangan tapi tidak ada yang berani mengambil sebarang tindakan, maklumlah para penangkap beliau ini mempunyai senjata, yang salah-salah sedikit nyawa taruhannya. Sebab kenapa demikian, karena dalam situasi perang seperti itu orang yang punya senjata bebas berbuat sekehendaknya tanpa dapat disentuh oleh hukum. Kata orang nyawa ayam lebih berharga daripada nyawa manusia.

Para tokoh nagari Kapau yang berada di pemerintahan menjadi gusar, mereka semua berpikir apa yang harus dilakukan. Maka akhirnya segera diadakan musyawarah MPRN (Majelis Permusyawaratan Rakyat Nagari) Kapau dengan mengundang seluruh unsur-unsur masyarakat yang ada untuk membicarakan persoalan ini. Musyawarah pun diadakan tanpa dapat mengambil suatu keputusan yang terbaik.

Namun demikian dalam keadaan kritis tersebut muncullah usulan dari seorang pemuda pemberani nama beliau Amin dengan julukan Amin dotor atau angku dotor yang waktu itu menjabat Komandan PMT (Pasukan Mobil Teras) di Kapau yang lebih kurang mengatakan; ”sebaiknya kita melucuti senjata oknum CPM tersebut bila ingin membebaskan Inyiak Adjo dan saya bersedia memimpin tugas ini dengan pasukan kita yang ada”, mendengar ucapan spontan tersebut forum musyawarah menjadi hening, namun usulan ini tidak serta-merta disetujui ataupun ditolak, terjadilah perdebatan mengingat resikonya sangat besar apabila misi ini gagal, karena telah terkenal pameo untuk aksi oknum CPM ini sebagai mambunuah indak mambangun, artinya bila mereka membunuh maka tidak akan tersentuh oleh hukum.

Para tetua dalam forum musyawarah cenderung untuk menolak usulan yang terkesan konyol ini, namun Amin dotor tetap mempunyai pendirian yang keras dan tegas dengan menyatakan; ”apapun yang akan terjadi, saya yang akan bertanggung jawab penuh, hanya saya meminta kepada Inyik dan Bapak semua seandainya diantara kami ada yang sakit maka kepada Bapak-bapaklah kami mengadu dan melaporkannya”. Akhirnya  musyawarah yang alot itu pun menjadi cair dan disepakatilah untuk segera membebaskan Inyik Adjo dari sekapan para oknum dengan mengerahkan pasukan pejuang dan para pemuda nagari.

Oleh karena di nagari Kapau telah ada lasykar perjuangan yang dinamakan Pasukan Mobil Teras (PMT) yang dikomandoi oleh Amin dotor, maka ditugaskanlah pasukan ini untuk segera membebaskan Inyik Adjo.

Dalam suatu pertemuan rahasia beberapa tokoh pejuang maka disepakatilah untuk melakukan penyerbuan ke ”markas” oknum CPM di Patanangan dengan satu tujuan yaitu membebaskan Inyiak Adjo Wali Perang Kapau. Pada dinihari sekitar jam dua di bulan Ramadhan dikumpulkanlah seluruh pasukan reguler PMT sebanyak 70 orang dan ditambah pasukan cadangan yang terdiri dari seluruh pemuda dan masyarakat Kapau yang laki-laki, maka terkumpullah sebanyak lebih kurang 300 an orang Kapau di dusun Padang Cantiang, sebagian besar bersenjatakan tongkat dan pisau dan lain-lain, hanya sebagian kecil yang bersenjata pistol dan laras panjang. Menurut cerita, dalam mengumpulkan orang sebanyak itu adalah dengan cara Japuik Tabao artinya bagi yang tidak datang dijemput ke rumah masing-masing.

Dalam malam yang gelap gulita bergeraklah 300 orang ini menuju Patanangan dengan jalan kaki meniti pematang sawah, karena jarak dari tempat berkumpul menuju ke Patanangan ini tidak sampai satu kilometer. Setelah menempuh perjalanan dalam masa yang tidak terlalu lama sampailah pasukan ini ke tempat tujuan dan langsung menuju ke rumah tempat penahanan Inyik Adjo berdasarkan info yang didapat sebelumnya. Keadaan rumah sepi dan hanya ada dua orang penjaga yang mengawal tempat itu, melihat ramainya yang datang dua orang penjaga ketakutan dan tanpa perlawanan mereka langsung menyerah. Akhirnya Inyik Adjo dapat dibebaskan dengan keadaan sehat wal’afiat.

Namun demikian ada target lain yang tak kalah pentingnya yaitu menangkap dan melucuti senjata Anggota CPM yang menjadi otak penangkapan dan penahanan Inyik Adjo yang sudah diketahui identitasnya oleh Angku dotor. Maka diperintahkanlah untuk menyisir beberapa rumah disekitarnya mencari target dimaksud, sehingga ada belasan rumah yang pintunya didobrak karena tidak mau membukakan pintu. Info yang diketahui belakangan ternyata masyarakat ketakutan karena mengira yang datang dalam malam gulita itu adalah serdadu Belanda, banyak yang berkata ”ampun tuan, ampun tuan”.

Target menangkap otak pelaku penangkapan tidak berhasil, namun keberhasilan membebaskan Inyik Adjo sebagai pemimpin Nagari Kapau sudah cukup membuat runtuhnya moril oknum CPM, dan membangkitkan semangat dan harga diri masyarakat.

{ 06 }

Komandan Seribu Nyawa

Keberhasilan membebaskan Inyik Adjo, merupakan sesuatu yang sangat menggembirakan bagi warga Kapau sekaligus mengkhawatirkan. Karena dalam suasana perang, apapun dapat dilakukan oleh seorang prajurit bersenjata untuk membalas dendam dan sakit hati apalagi ketika moral mereka dijatuhkan.

Kekhawatiran tersebut ternyata menjadi kenyataan karena tidak lama setelah peristiwa pembebasan Inyik Adjo, terdengar khabar bahwa oknum-oknum tentara CPM berniat akan membunuh Angku Dotor yang menjadi pemimpin penyerangan dan berhasil membebaskan Inyik Adjo. Maka dikirimkanlah seorang Mata-Mata ke Kapau untuk maksud tersebut. Secara kebetulan Mata-Mata yang dikirimkan ini bertemu dengan Angku Dotor di dekat rumah Tek Tim Pandan Banyak. Mereka saling berkenalan dan mata-mata yang menyamar ini menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya. Mata-mata ini terkejut ketika mengetahui bahwa yang ditemuinya adalah Angku Dotor, orang yang semestinya harus dibunuhnya sesuai dengan tugas yang diembannya. Tapi ia berusaha tenang dan tetap menjaga rahasia.

Angku Dotor tidak tahu bahwa yang dihadapinya adalah seorang mata-mata yang akan membunuhnya, ternyata dengan perkenalan ini berlanjut dengan bercerita kian kemari, karena Angku Dotor adalah jagonya bercerita, mata-mata tadi seolah-olah terhipnotis dan larut mendengarkan cerita demi cerita dari Angku Dotor.        Kemudian sambil Angku Dotor terus bercerita mereka berdua akhirnya melangkah dan terus berjalan kaki menuju kearah Pandam Basasak. Mereka terus berjalan dan kemudian tibalah di simpang Padang Cantiang, Angku Dotor mengemukakan niatnya akan menuju Padang Cantiang karena ada suatu keperluan. Mereka berdua berpisah Angku Dotor berbelok menuju Padang Cantiang dan Mata-Mata terus menuju Pandam Basasak. Mata-mata itu akhirnya tidak kesampaian dalam melaksanakan niatnya.

Kejadian ini memang sangat mengherankan entah apa ilmu yang dimiliki oleh Angku Dotor sehingga mampu menyebabkan seorang mata-mata akhirnya gagal membunuh target yang sudah didepan matanya sendiri. Angku Dotor bukan orang yang bodoh karena segera setelah peristiwa pembebasan Inyik Adjo dia pun telah memasang mata-mata pula, karena dia mafhum dan dengan firasatnya yang tajam telah diperkirakannya bahwa Oknum CPM tentu tidak akan tinggal diam. Angku Dotor akhirnya mengetahui dari mata-mata tersebut bahwa ada niat dari Oknum CPM berusaha untuk membunuhnya, sehingga Angku Dotor semakin waspada.

Mengetahui bahwa Mata-matanya gagal, Oknum CPM merasa geram dan mencari cara lain agar dapat melenyapkan Angku Dotor atau paling tidak hendaklah mampu menangkapnya. Akan tetapi berbagai cara untuk membunuh Angku Dotor tidak berhasil, jangankan untuk membunuh menangkapnya saja tidak mampu mereka lakukan. Mereka kemudian berembuk dan diambillah langkah lain yang menurut mereka lebih efektif yaitu aksi teror yaitu membakar rumah orang tua Angku Dotor di Surau Sirah. Usaha ini berhasil dilaksanakan dengan membakar rumah orang tuanya di Surau Sirah, tapi untunglah para tetangga sekitar segera tahu dan menolong memadamkan api yang mulai membesar tapi api terlanjur membakar habis dapur. Alhamdulillah tidak sampai menghanguskan rumah gadang.

Terjadinya peristiwa pembakaran rumah orang tuanya, Angku Dotor tidak tinggal diam, dia berusaha mencari siapa pelaku pembakaran dan apa motifnya. Berusaha untuk tetap tenang dan tidak menanggapi secara emosional. Akhirnya berdasarkan penyelidikannya dan dengan nalurinya yang tajam maka diketahuilah bahwa yang membakar rumahnya tidak lain adalah oknum CPM. Kemudian ada pula saksi yang dapat dipercaya bahwa pelaku pembakaran adalah dua orang oknum CPM.  Mungkin merupakan shock therapy oknum CPM supaya Angku Dotor muncul dan dengan mudah dapat ditangkap dan atau kemudian dibunuh.

Di suatu hari terdengar khabar bahwa ada dua orang oknum CPM sesuai keterangan saksi sedang minum di sebuah kedai kopi milik Etek Baya dan kedai kopi tersebut justru di kampungnya sendiri Surau Sirah. Mendengar khabar ini Angku Dotor menjadi semakin geram dan segera menyiapkan sepucuk pistol otomatis dan mengikatkannya di tangan dan tanpa fikir panjang segera menuju kedai dimaksud.

Melihat kedatangan Angku Dotor, salah seorang dari dua oknum CPM mengeluarkan pistolnya akan menembak Angku Dotor, tapi pistolnya tidak mau meletus alias macet. Kedua orang ini keluar dan perkelahian tidak terhindarkan lagi, dua lawan satu. Tanpa merasa gentar sedikitpun Angku Dotor berusaha meladeni kedua orang tersebut dengan tangan kosong karena pistol yang diikatkan di tangannya tadi disembunyikan di lengan bajunya. Perkelahian dua lawan satu terjadi dengan seru bak filem cowboy, salah seorang berusaha merebut pistol Angku Dotor yang terikat di tangan. Sementara terjadi rebutan pistol, yang seorang lagi menikam Angku Dotor dari belakang dengan sebilah pisau, namun Angku Dotor segera menyadari dan segera berkelit namun pisau hanya sempat merobek bajunya yang kebetulan dua lapis.

Melihat situasi kritis karena duel yang tidak seimbang tersebut datanglah seorang famili Angku Dotor membawa parambah pematang dan melontarkan ancaman kepada kedua oknum. Menyadari situasi yang tidak menguntungkan kedua orang ini akhirnya mengambil langkah seribu dari tempat itu. Di saat dua orang ini kabur melarikan diri Angku Dotor melepaskan beberapa kali tembakan tapi hanya mengenai telinga salah seorang.

Setelah kejadian ini nama Angku Dotor menjadi perbincangan luas di masyarakat. Salah seorang komandan pertempuran Front Agam yaitu Kapten Sidi Amir Hosen yang kebetulan tinggal di Kapau merasa kagum akan keberanian yang cukup luar biasa Angku Dotor ini, mereka pun berteman akrab. Disamping itu beliau juga adalah salah seorang komandan PMT yang paling dicari oleh tentara Belanda di daerah Tilatang Kamang namun tidak pernah berhasil menangkapnya karena sering berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Usaha pembunuhan terhadap dirinya tidak pernah membuahkan hasil, sampai berakhirnya perang kemerdekaan dan Negara Indonesia kembali aman. Kejadian demi kejadian yang menimpanya tidak menyebabkan beliau sombong tapi beliau semakin rendah hati dan bersahaja.

Nama Angku Dotor pun sempat singgah di telinga pasukan Belanda sehingga dijadikannya Angku Dotor sebagai salah satu targetnya karena dia merupakan komandan pejuang di Kapau. Pada suatu ketika di dekat pasar Kapau sejumlah tentara Belanda berkumpul dengan senjata di tangan yang siap untuk ditembakkan. Pada waktu itu dengan tenang Angku Dotor berjalan sambil memikul suatu beban di pundaknya melewati tentara Belanda yang sedang berkumpul. Salah seorang dari serdadu itu bertanya kepada Angku Dotor, apakah tahu dengan angku dotor pemimpin pejuang di Kapau. Seketika Angku Dotor menghentikan langkahnya, mendengar pertanyaan seperti itu Angku Dotor berusaha tetap tenang dan tidak panik sambil menggelengkan kepala. “Tidak tahu tuan” jawab Angku Dotor singkat, kemudian terus berlalu. Disini ternyata nama Angku Dotor telah dikenal oleh Belanda tapi mereka tidak tahu wajah angku dotor yang sebenarnya dan tidak pernah tahu sampai berakhirnya pendudukan Belanda di Indonesia yang ditandai dengan penyerahan kedaulatan Belanda kepada Republik Indonesia.

{ 07 }

Amanat Dari Kaum

Di Minangkabau terkenal pepatah ”kaciak babaduang kain, kok gadang babaduang adat, kok kaciak dibari bapak namo, kok gadang diagiah mamak gala”. Pada tahun 1950 Angku Dotor mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis yang bernama Fathimah sama dengan nama putri Nabi, seorang perempuan yang satu suku namun lain induk sukunya atau cabang suku tersebut. Kampung isteri beliau ini adalah Parak Maru.

Kalau di nagari Kapau boleh menikah dengan satu suku asalkan berbeda Induknya, karena yang dinamakan suku adalah nan barinduak atau nan barinyiak. Misalnya di dalam suku Jambak Gadang ada enam induak, maka anggota induak yang satu dengan induak yang lainnya boleh menikah, tapi dilarang menurut adat menikah dalam satu induak.

Pada waktu berhelat/kenduri atau baralek kawin diberikanlah gelar adat oleh mamak/paman atau kaum kepada Angku Dotor atau Aminuddin dengan gelar Sutan Rajo Bujang. Gelar ini adalah gelar menurut adat. Di Minangkabau semua laki-laki yang sudah menikah diberi gelar dan gelar inilah yang disebut apabila memanggil orang tersebut.

Keadaan nagari Kapau di awal tahun 1950 an cukup aman, sehingga kehidupan penduduk berjalan kembali dengan normal setelah berakhirnya perang kemerdekaan. Disamping aktifitasnya di nagari Angku Dotor juga kembali beraktifitas sebagai penduduk biasa, bertani di daerah tempat tinggalnya yang baru setelah menikah yaitu dusun Parak Maru. Kondisi nagari sehabis perang memang cukup sulit namun Angku Dotor dan Keluarganya menghadapi semua itu dengan baik-baik saja.

Ada suatu kesempatan yang didapatkan oleh beliau untuk merobah ekonomi keluarga yaitu mencoba berdagang kentang, maka kesempatan ini tidak disia-siakannya, maka digadaikanlah sepetak sawah untuk modal berdagang. Pada awalnya berkembang cukup menggembirakan, namun sangat disayangkan tidak bertahan lama usaha ini bangkrut. Salah satu faktornya adalah karena tidak adanya bakat dagang. Tahun berganti tahun, tapi keadaan kehidupannya biasa-biasa saja tidak ada perubahan yang berarti.

Pada tahun 1955 Angku Dotor yang bergelar Sutan Rajo Bujang diserahi amanah oleh kaumnya di Surau Sirah menjadi seorang penghulu atau pemimpin adat dengan gelar pusaka Datuk Bagindo Basa. Gelar datuk ini terdapat dalam persukuan Guci Datuk Bagindo (Koto Panjang Hilir) sebagai induk dengan 4 anggota-anggotanya Datuk Bagindo Basa (dusun Koto Panjang Hilir), Datuk Bagindo (Dangkek), Datuk Rajo Basa (Cubadak) dan Datuk Gadang Majolelo (Banau). Semua itu dinamakan Ninik Mamak satu induk artinya mereka satu keturunan menurut garis adat (Matrilineal) dan terkenal dalam adat barek sapikua ringan sajinjiang, artinya apabila terjadi baik dan buruk ditengah keluarga, maka semua keluarga dibawah penghulu itu saling bantu membantu.

Sebetulnya Datuk Bagindo (Induk) sudah/masih ada waktu itu yaitu paman Angku Dotor sendiri yaitu Abdul Muluk Dt Bagindo. Sedangkan Gelar Datuk Bagindo Basa ini sebenarnya tidak jatuh ke tangan Angku Dotor, akan tetapi yang benar-benar berhak memikul gelar ini tidak ada satu pun yang mau memikulnya, sehingga seluruh kaum sepakat bahwa gelar pusaka Datuk Bagindo Basa ini diberikan kepada Aminuddin (Angku Dotor). Sebab Angku Dotor sangat layak menerima gelar tersebut melihat karakter dan kiprahnya selama ini.

Pada awalnya Angku Dotor menolak pemberian gelar ini kepadanya secara halus, namun karena semua kaum telah sepakat termasuk mamak/pamannya sendiri Abdul Muluk Datuk Bagindo, akhirnya dia menerimanya dengan berat hati. Karena memikul gelar ini sebetulnya sangat berat, sebab merupakan tanggung jawab kepada anak kemenakan yang harus dipimpin.

Akhirnya Aminuddin diangkat menjadi Penghulu suku Guci dengan gelar Datuk Bagindo Basa dan diresmikanlah pada waktu itu di Balai Adat Kapau beserta sejumlah Penghulu lainnya. Maka mulai saat itu Angku Dotor resmi menjadi Datuk Bagindo Basa dengan panggilan Pak Datuk atau Inyik Datuk atau lebih sering dipanggil Inyik Indo. Kalau orang yang lebih tua darinya cukup memanggil Datuk saja.

Di tahun itu juga sekitar bulan Agustus Angku Dotor yang sekarang bergelar Pak Datuk Bagindo Basa ditunjuk sebagai utusan mengikuti Kongres Partai Islam Perti ke 8 di Jakarta, salah satu utusan dari Kabupaten Agam. Dari Bukittinggi berangkatlah rombongan ke Padang terus ke Teluk Bayur yang selanjutnya diberangkatkan dengan kapal api ke Jakarta. Ditengah perjalanan dengan kapal inilah ada usaha sistematis dari sekelompok orang yang tidak merasa senang dengan kepemimpinan Dewan Pimpinan Pusat Partai yaitu Buya H.Siradjuddin Abbas (Buya Siradj), dimana mereka berencana mendongkel kepemimpinan beliau.

Pak Datuk yang kenal dekat dan kader Buya Siradj sejak dahulunya, sangat menghormati beliau, mendengarkan dengan seksama perbincangan orang-orang tersebut, tapi mereka itu tidak tahu bahwa Pak Datuk adalah orang dekat Buya Siradj. Sehingga Pak Datuk berencana menyampaikan ini langsung setiba di Jakarta nantinya. Setiba di Jakarta maka Pak Datuk langsung menuju rumah Buya Siradj, disampaikanlah berita ini kepada Buya Siradj Mendengar berita ini beliau tetap tenang dan sangat berterimakasih mendapat berita ini, untuk lebih siap menghadapi acara kongres yang akan diadakan tidak lama lagi.

Peranan Pak Datuk di kampung halamannya juga semakin bertambah, disamping beraktifitas di nagari sekaligus juga memimpin kemenakan yang ada di persukuannya. Kecerdasannya dalam pengetahuan  adat dan kemasyarakatan bukan hanya ketika beliau telah menjadi Penghulu, tapi sudah diperolehnya sejak lama bahkan semenjak masih sekolah. Hal ini karena perhatiannya yang sangat tinggi terhadap adab-adab keseharian disamping sering bertanya persoalan masyarakat dan bagaimana cara mengatasinya kepada orang-orang tua. Sehingga dengan kemampuannya ini beliau diangkat sebagai Pamong urusan-urusan adat dan kemasyarakatan lainnya di nagari. Sehingga apapun persoalan krusial yang terjadi dan sulit untuk diselesaikan maka beliaulah yang mengurusnya untuk dicari jalan keluar yang terbaik.

{ 08 }

Wajib Bela Desa

Pemberontakan, adalah sesuatu yang asing dan tidak dikenal sebelumnya bagi orang Minangkabau karena orang Minang itu dimanapun dia berada mempuyai sifat egaliter dan mengutamakan musyawarah untuk mufakat. Namun Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang terbentuk di Sumatera Tengah pada 1958, selalu dikaitkan dengan pemberontakan, tapi sebetulnya adalah bentuk ketidakpuasan daerah kepada pemerintah yang berpusat di Jakarta.

Tanggal 15 Februari 1958 terjadi peristiwa bersejarah yang amat sangat penting di ranah Minang, yang mampu mengubah sejarah perkembangan kawasan ini pada masa berikutnya. Pada tanggal itu Dewan Perjuangan memproklamirkan berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, disingkat PRRI. Proklamasi ini merupakan puncak dari rentetan peristiwa-peristiwa sebelumnya, yang bermula dari rasa ketidak puasan daerah-daerah di luar Jawa atas ketimpangan pembangunan yang terjadi antara Jawa dan luar Jawa.

Tapi pada tanggal 17 April 1958, sekitar dua bulan setelah proklamasi PRRI, pemerintah pusat mulai mendaratkan pasukannya di pantai parupuk Tabing dibawah komando Kolonel Ahmad Yani dengan sandi “Operasi 17 Agustus”. Pasukan Gerak Tjepat (PGT) AURI diterjunkan dari pesawat udara di lapangan udara Tabing. Kemudian mereka bergerak menuju pusat kota dan pada sore itu juga kota Padang jatuh ke tangan tentara pusat tanpa perlawanan. Tentara Pusat terus mendesak tentara PRRI yang mengambil taktik mundur dari kota-kota dan bertahan di daerah pegunungan  dan perkampungan yang tidak akan dapat dijamah oleh tentara pusat.

Demikianlah pula dengan kota-kota lainnya seperti Bukittinggi juga jatuh ke tangan tentara pusat tanpa perlawanan yang berarti. Peluru Mortir dan Kanon ditembakkan dari Bukittinggi ke basis tentara PRRI yang telah mundur ke daerah Kamang melewati daerah Kapau, bunyi ledakan pun terdengar silih berganti. Kapau sebuah nagari yang selama ini aman sekarang penduduknya diliputi ketakutan.

Di sebuah rumah di daerah Kapau, Pak Datuk termenung sendirian, sebagai Ketua Keamanan sekaligus Komandan Wajib Bela Desa (WBD) dia berpikir keras, karena keamanan nagari dan warganya terletak di bawah tanggung jawabnya. Beliau sendiri pula yang berinisiatif membentuk suatu Pasukan di nagari Kapau pada tahun 1957 yang diberi nama Pasukan Saga Djantan (PSD) dan telah mendapat izin dari Kolonel Dahlan Djambek, yang setelah terbentuk PRRI tahun 1958 Pak Dahlan ini adalah Sekretaris Jenderal Dewan Perjuangan dan Menteri Dalam Negeri PRRI. Beliau sendiri yang berinisiatif mendatangi rumah Kol Dahlan Djambek (Pak Gaek) di Jalan Panorama Bukittinggi (sekarang museum perjuangan) untuk mendapatkan izin. Komandan PSD ini adalah adalah Letnan Satu Sjahmenan temannya satu kampung dan seperjuangan dan sama-sama pernah jadi tentara Heiho.

Perang tengah berlangsung, tapi yang dihadapi bukan penjajah Belanda tapi saudara satu bangsa. Yang sangat mengganggu fikiran Pak Datuk bukan menghadapi tentara pusat tapi bagaimana keamanan dan ketenteraman masyarakat Kapau yang dibawah tanggung jawabnya dapat terjamin dan tidak timbul korban jiwa pada masyarakat sipil. Nagari dan penduduknya sudah merupakan darah daging bagi Pak Datuk dan dia merasa tidak tenang bila nagarinya hancur karena perang saudara yang sudah di pelupuk mata.

Jarang ada laki-laki baik dia itu sipil apalagi militer yang sanggup terang-terangan tinggal di nagari Kapau (maksudnya tanpa bersembunyi di lobang persembunyian), berbeda dengan Pak Datuk dan anggota keamanan yang mau tidak mau telah dibekali keberanian ekstra selalu bergerilya, kenapa demikian karena Kapau adalah daerah yang sangat strategis karena terletak di front dan berbatasan langsung dengan kota Bukittinggi, sewaktu-waktu tentara pusat selalu datang secara mendadak. Semua pemuda, tentara dan para tokoh masyarakat menyingkir jauh ke pedalaman, hutan dan bukit-bukit yang kiranya tidak akan mungkin terjamah oleh tentara pusat. Kalaupun ada yang berani pulang hanya di waktu malam, karena khawatir bertemu dengan patroli atau razia yang dilakukan pasukan pusat ke rumah-rumah.

Tindakan Pak Datuk melakukan gerilya dari satu tempat ke tempat yang lain adalah suatu taktik dan strategi dalam menghadapi suatu peperangan. Tapi resiko maut akan selalu datang mengintai. Tidak jarang terjadi ledakan bom atau mortir yang banyak memakan korban jiwa.

Pada suatu ketika keberuntungan masih berpihak kepada Pak Datuk, sewaktu terjadi ledakan mortir di pinggir jalan Korong Tabik Kapau yang menimbulkan beberapa orang korban jiwa. Pak Datuk pada saat sebelum terjadi ledakan sedang mengayuh sepeda akan menuju Korong Tabik ini. Akan tetapi setelah sampai di simpang dekat pasar beliau merubah niat dan membelokkan sepedanya menuju Koto Panjang Hilir. Ketika baru saja bersepeda sejauh seratus meter terdengar olehnya ledakan mortir dari arah Korong Tabik. Ternyata jarak antara ledakan mortir dengan simpang tempat beliau berbelok tadi juga seratus meter. Maka dapat disimpulkan bila terus saja bersepeda dan tidak berbelok besar kemungkinan beliau terkena ledakan mortir.

Tidak sampai hitungan bulan satu kompi pasukan pusat atau APRI dibawah Komandan Kompi Letnan Satu (Lettu) TNI Djamil telah mampu mencapai Balai Panjang, suatu daerah Gadut di kecamatan Tilatang Kamang tiga kilometer sebelum Pakan Kamis dari Bukittinggi, mereka membangun pos atau basis pertahanan di sana. Sedangkan para pemimpin dan pasukan PRRI serta para sukarelawan terdesak mundur ke pedalaman dan hutan-hutan sekitarnya. Dalam hal ini menunjukkan PRRI mungkin mempunyai keterbatasan baik dari segi persenjataan maupun personil berhadapan langsung dengan tentara pusat yang memiliki persenjataan lengkap.

Setelah adanya pos pertahanan APRI di Balai Panjang maka secara teoritis pemerintah pusat sudah menguasai kecamatan Tilatang Kamang dan menguasai ibu kecamatan tinggal hanya menghitung hari. Memang sejak saat itu tidak pernah ada perlawanan yang berarti dari PRRI karena bagaimanapun tingginya semangat perjuangan tapi apabila tidak didukung logistik dan senjata yang cukup tentu sangat sulit bertahan apabila perang berlanjut dalam jangka waktu yang lama. Dan hal ini sering menjadi perhatian dan bahan renungan Pak Datuk karena jangkauan pemikiran-pemikirannya yang jauh ke depan yang tidak terjangkau oleh sebagian pemimpin pada waktu itu yang sering mengukur sesuatu dalam jangka menengah.

{ 09 }

Sahabat di Tengah Pergolakan

Desember 1958 di pagi yang cerah di dusun Balai Panjang, Pak Datuk menghentikan kayuhan sepeda ontelnya dan kemudian berhenti persis di depan pos penjagaan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), suasana tampak santai tidak tampak penjagaan yang berlebihan, hanya ada beberapa prajurit berseragam yang bersenjatakan laras panjang yang berjaga-jaga di tempat itu.

Disana ada beberapa lobang yang cukup besar dengan karung-karung pasirnya yang dilengkapi persenjataan layaknya sebuah kubu pertahanan. Dan memang daerah tersebut memang dirancang sebagai markas pertahanan. Dusun Balai Panjang ini adalah daerah yang sangat strategis terletak di pinggir jalan dari Kota Bukittinggi menuju Pakan Kamis ibu kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam, yang dikelilingi oleh persawahan.

”Mau kemana, Pak?” tanya salah seorang prajurit.

”Saya mau menemui mamak (paman) saya di rumah yang itu” sahut Pak Datuk sambil menunjuk ke arah sebuah rumah.

”Ya, silakan, Pak”

”Terimakasih, Pak” kata Pak Datuk dan kembali mengayuh sepedanya menuju rumah gadang yang tidak berapa jauh dari pos penjagaan tadi.

Rumah ini dimiliki oleh sanak famili yang masih satu suku dengan Pak Datuk yang dikenal dengan nama Balahan. Dari rumah gadang inilah terungkap cerita-cerita tentang keberadaan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) yang bermarkas di situ, mereka terkenal dengan sebutan Tentara Pusat. Markas mereka di Balai Panjang ini dinamakan Kompi B dengan daerah kekuasaan Kecamatan Tilatang Kamang dan sekitarnya, komandannya adalah Letnan Satu TNI Djamil.

Melalui sanak famili inilah Pak Datuk ingin sekali diperkenalkan dengan Komandan Kompi B Letnan Satu TNI Djamil. Pak Datuk dibawa paman beliau menuju sebuah rumah yang dijadikan kantor komandan kompi. Setelah sampai di sebuah ruangan komandan diperkenalkanlah Pak Datuk dengan Letnan Satu Djamil, sang komandan kompi. Mereka bersalaman.

”Oh, ya berarti Bapak seorang Datuk?”,

”Betul, Pak Letnan, Datuk Bagindo Basa, suku Guci”

”Ya, silakan duduk, Pak”

”Baik, Pak”

Sebagai seorang yang sangat pandai bercerita atau maota, sehingga Pak Datuk bercerita dan waktu berjalan tanpa terasa. Letnan Djamil mendengarkan dengan antusias, hal ini terlihat dari ekspresinya, sehingga timbul rasa senang dan suka akan kehadiran Pak Datuk.

Pada masa itu komandan kompi bertugas mengedarkan atau membagikan kartu penduduk di markas kompi kepada semua penduduk Tilatang Kamang yang akan masuk ke kota Bukittinggi, terutama para pedagang. Letnan Djamil sebagai komandan merasa penasaran kenapa pengedaran kartu penduduk tersendat-sendat, demikian juga bagi penduduk Kapau yang banyak berdagang ke pasar Bukittinggi.

Pak Dotor mempunyai pemikiran yang bijaksana dan brilian, hal ini disampaikannya kepada Letnan Djamil sebagai sebuah usulan, bahwa sebaiknya pembagian kartu penduduk ini dilakukan di Simpang Kapau dimana tempat itu sangat strategis dan ditempuh orang yang akan pergi ke kota Bukittinggi. Setelah dipertimbangkan baik dan tidaknya termakan juga dalam pemikiran Letnan Djamil, dan akhirnya usulan ini diterima dan tidak lama setelah itu langsung dilaksanakan dan ternyata masyarakat ramai yang meminta kartu penduduk di Simpang Kapau.

Disamping itu keberadaan beliau selama ini sebagai seorang tokoh penting PRRI di Kapau tidak diketahui sama sekali oleh Letnan Djamil, mungkin dia mengira Pak Datuk adalah seorang sipil biasa, dan mungkin juga dia mengira disamping Pak Datuk bukan tentara juga posisinya sebagai orang yang sangat berpengaruh di Kapau dan Tilatang Kamang dan sangat mengenal daerahnya inci demi inci sangat penting untuk didengarkan kata-katanya. Tapi yang sangat mengherankan dan sangat mencengangkan ada satu rahasia yang selalu dapat disimpan oleh Pak Datuk dengan sangat rapi dibalik hubungan kedekatannya dengan Komandan Kompi Letnan Djamil, apa rahasianya, inilah yang tak seorang pun tahu sampai bertahun-tahun setelah zaman PRRI.

Ada satu saran Pak Datuk yang betul-betul dilaksanakan oleh Letnan Djamil yaitu pengurangan opslap, operasi lapangan ke daerah-daerah tertentu untuk menghalangi dan menghalau tekanan dari tentara PRRI. Dalam setiap operasi militer Pak Datuk selalu diikutsertakan, dan konsep yang ada dalam benak Letnan Djamil adalah terwujudnya keamanan dan terhindar dari kontak senjata langsung dengan tentara PRRI yang akan berimplikasi lebih luas, dan ini terlaksana setelah Pak Datuk ”bergabung” dengan Tentara Pusat/APRI. Padahal dalam hal ini Pak Datuk telah mengirimkan kabar rahasia kepada tentara PRRI kapan akan adanya operasi lapangan tentara APRI, sehingga ada waktu bagi tentara PRRI yang sudah terdesak untuk mundur. Sehingga nyaris tidak ada kontak senjata antara kedua ”musuh” tersebut.

Khabar kedekatan Pak Datuk dengan Letnan Djamil yang notabene adalah Komandan Kompi B /APRI, beredar dengan cepat. Beberapa orang yang selama ini berseberangan secara politik dengan Pak Datuk mendapat kesempatan emas untuk menghantam Pak Datuk dengan telak, mereka menganggap Pak Datuk adalah seorang pengkhianat, ada yang berpandangan bermuka dua dan ada pula yang hati-hati menyikapi karena mereka tidak tahu ada apa dibalik semua itu.

Pro kontra terjadi di masyarakat, sehingga suatu saat terdengarlah berita bahwa keamanan keluarga Pak Datuk yang berada di Parak Maru terancam oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Pak Datuk menyikapi ini dengan tenang seraya mengatur strategi. Situasi ini disampaikanlah kepada Letnan Djamil yang langsung memerintahkan penyiapan sebuah bendi dan satu peleton tentara untuk menjemput keluarga beliau di Parak Maru, akhirnya keluarga Pak Datuk yang terdiri dari isteri dan anak-anaknya dijemput dan dibawa dengan aman ke Balai Panjang. Untuk sementara beliau tinggal di Balai Panjang sampai situasi kembali tenang.

Tinggalnya Pak Datuk di Balai Panjang sangat disyukuri oleh Letnan Djamil, karena setiap hari dapat bertemu dan lebih banyak menimba pengetahuan dari Pak Datuk dalam mengenal daerah Tilatang Kamang secara lebih jauh. Mengerti karakter masyarakatnya dalam mengatur strategi yang lebih baik. Selama ini Pak Datuk telah memberikan banyak masukan dan saran yang sangat penting bagi tentara pusat dan juga bagi rakyat yang tidak tahu apa-apa.

Figur Pak Datuk memang sangat dibutuhkan Letnan Djamil dalam situasi dan kondisi yang ada, seolah-olah layaknya seorang penasehat baginya. Hal ini tidak mengherankan karena dalam operasi yang dilakukan ke lapangan Pak Datuk sering diikutsertakan. Sampai-sampai anak buah Letnan Djamil banyak yang demikian hormatnya  kepada beliau. Kemanapun dia pergi selalu didampingi oleh Basita dan Restim, dua orang prajurit kepercayaan sang komandan kompi.

Pernah suatu hari dalam operasi yang dilakukan menyisiri kaki sebuah bukit terjadilah  kontak senjata pasukan pusat dengan pejuang PRRI, dimana terdengar beberapa letusan senjata pasukan PRRI dari balik sebuah bukit. Para prajurit sebanyak satu peleton secara serentak segera tiarap. Tapi Pak Datuk dan Letnan Djamil secara kebetulan tetap tenang dan tidak tiarap, karena mereka punya analisa dan menganggap tidak akan terkena tembakan, sebab arah tembakan diketahui secara alam bawah sadar seorang yang terlatih, karena baik Letnan Djamil dan Pak Datuk adalah tentara dan bekas tentara yang terlatih dan berpengalaman, jadi mempunyai insting yang lebih tajam.

”Nah, lihat oleh kalian Pak Datuk, tidak ikut tiarap padahal beliau seorang sipil tapi mengerti militer” ujar Letnan Djamil kepada prajuritnya.

”Kalian dapat belajar banyak dengan beliau” kata Letnan Djamil menambahkan.

Titik penting keberadaan Pak Datuk di Balai Panjang sangat terasa bagi tentara PRRI yang akan menyerah atau meletakkan senjata. Karena Perjuangan PRRI dari hari ke hari semakin berat karena hidup di hutan atau pedalaman dalam segala hal serba sangat kekurangan. Maka tidak ada jalan lain selain meletakkan senjata karena syarat utama menyerahkan diri kepada tentara pusat adalah setiap personil tentara yang akan menyerah harus memiliki senjata organik. Kalau tidak dia dianggap bersalah dan akan dikenai hukuman disiplin yang berat, sebab senjata bagi personil TNI menjadi satu kesatuan dengan personil tentara itu sendiri.

Tentara PRRI yang menyerah baik itu per kesatuan atau per personil itu sendiri telah sering terjadi. Disinilah peran Pak Datuk sebagai penghubung penyerahan tentara PRRI khususnya di daerah Tilatang Kamang. Salah satu peranan penting Pak Datuk adalah tatkala seorang kurir yang datang mengabarkan bahwa Jurubicara PRRI yang terkenal pada waktu itu Buya Zaidalani Chatib tidak sanggup lagi berjuang di hutan-hutan, beliau berniat untuk kembali ke kota menjalani kehidupan yang lebih baik.

Pak Datuk segera menjemput beliau dengan terlebih dahulu minta izin kepada Letnan Djamil, sehingga ditugaskanlah beberapa orang tentara bersama Pak Datuk dengan menaiki sebuah jeep militer. Mereka meluncur ke daerah Kamang Hilir untuk menjemput Buya Zaidalani dan berhasil membawa beliau sampai ke kota Bukitinggi dengan aman.

Demikian pula dengan orang lain bahkan yang tidak beliau kenal sekalipun dibantunya dalam memproses penyerahan diri ke komandan kompi. Pernah terjadi penangkapan oleh anggota tentara pusat terhadap salah seorang  yang masih satu kampung dengan Pak Datuk. Penangkapan ini karena kedapatan mempunyai kartu penduduk ganda yaitu PRRI dan Pusat. Pada waktu itu datanglah orang tua dari yang bersangkutan kepada Pak Datuk sambil menangis terisak-isak memohon supaya anaknya dibebaskan.

Pak Datuk segera ke markas kompi dan berbicara dengan Letnan Djamil supaya orang yang sekarang ditahan untuk dapat dibebaskan karena masih merupakan saudara atau adiknya. Letnan Djamil tanpa pikir panjang segera memerintahkan anak buahnya untuk membebaskan tahanan tersebut.

 

{ 10 }

Hari-hari Yang Mencekam

Di mata sebagian besar para pejuang dan para tokoh PRRI figur seorang Pak Datuk tidaklah pernah pudar, meskipun dia ‘membelot’ ke tentara pusat tapi ada suatu pesan rahasia bahwa keberadaan Pak Datuk di tengah-tengah pasukan APRI adalah suatu strategi yang sulit diterima akal masyarakat awam.

Pada suatu hari berkumpullah para tokoh-tokoh PRRI dalam suatu rapat yang diadakan di suatu tempat rahasia tapi tanpa dihadiri oleh Pak Datuk. Salah satu keputusan rapat adalah apabila PRRI menang dalam peperangan maka Pak Datuk akan diangkat sebagai Wali Nagari Kapau. Maka dibuatlah dalam notulen rapat seluruh keputusan yang diambil tersebut, semua nya disimpan dalam suatu dokumen rahasia yang harus dijaga jangan sampai jatuh ke tangan musuh. Dan memang dokumen hasil rapat tersebut tidak boleh jatuh ke tangan tentara pusat. Apabila sampai jatuh ke tangan tentara pusat maka akan sangat berbahaya bagi keselamatan Pak Datuk.

Dalam suatu operasi militer yang dilancarkan oleh tentara pusat ke suatu tempat persembunyian pejuang PRRI telah gagal menangkap para tokohnya yang telah berhasil melarikan diri. Akan tetapi dokumen rahasia yang berada di dalam sebuah tas ternyata tertinggal maka jatuhlah dokumen itu ke tangan tentara pusat. Berdasarkan isi dokumen rahasia tersebut terungkaplah rahasia Pak Datuk selama ini yang ternyata tetap menjalin komunikasi dengan para tokoh PRRI. Buktinya adalah adanya dokumen yang menyatakan akan mengangkat Aminuddin Dt Bagindo Basa sebagai Wali Nagari Kapau apabila PRRI menang dalam perang.

Pak Datuk sudah mencium adanya rencana penangkapan atas dirinya. Letnan Djamil sahabatnya yang mungkin dapat membantunya, tapi fikirannya dibuangnya jauh-jauh, mungkin sahabatnya sedang sibuk atau dia tidak ingin sahabatnya direpotkan masalah ini. Namun Pak Datuk tetap tegar walaupun usaha untuk melarikan diri dapat saja dilakukannya, tapi ia berfikir itu tidaklah kesatria.

Pak Datuk kemudian ditangkap dan dibawa ke markas Batalyon C1 APRI di Bukittinggi. Markas Batalyon ini terletak dekat Lapangan Kantin atau nama lainnya Lapangan Wirabraja. Di sana Pak Datuk diinterogasi oleh petugas dengan ratusan pertanyaan. Tidak ada jalan lain bagi Pak Datuk selain mengakui semua kebenaran dokumen tersebut.

Berdasarkan pengakuan Pak Datuk terhadap isi dokumen, maka tanpa melalui proses sidang di pengadilan Pak Datuk langsung dijebloskan ke dalam ruang tahanan yang ada di Markas Batalyon C1. Pak Datuk dibawa ke suatu kamar tahanan oleh petugas dan harus menjalani hari-harinya di penjara dengan pengawalan petugas yang cukup ketat. Di sana beliau bertemu dengan orang-orang lain yang merupakan tahanan politik juga sebagaimana dirinya.

Berdirinya PRRI juga merupakan reaksi terhadap kepemimpinan Presiden Soekarno yang condong ke blok komunis. Dan Partai Komunis Indonesia (PKI) semenjak pemilu 1955 telah menunjukkan eksistensinya di Indonesia sebagai partai terbesar. Mereka pun berkembang di Sumatera Tengah basis PRRI, dan PRRI sangat tegas anti komunis, sehingga tidak mengherankan sangat banyak orang komunis yang dibunuh di masa kekuasaan PRRI. Salah seorang tokoh PRRI Kolonel Dahlan Djambek bahkan membentuk suatu gerakan yang dinamakan Gerakan Bersama Anti Komunis (Gebak) di Padang.

Di nagari Kapau juga berkembang paham komunis ini, sehingga banyak juga anak nagari Kapau menjadi kader PKI. Di masa PRRI posisi mereka benar-benar terjepit, karena banyak para gembongnya yang tertangkap bahkan dibunuh. Salah satu tokoh PKI yang terbunuh adalah Pak Cimpam di daerah Rawang Kapau, mayatnya tergeletak di tepi jalan setelah diberondong tembakan oleh orang tak dikenal.

Berita tewasnya pak Cimpam berhembus sampai ke Markas Batalyon dimana tempat ditahannya Pak Datuk. Berita ini dibawa oleh salah seorang tokoh PKI Kapau yang menyatakan bahwa terjadinya peristiwa pembunuhan pak Cimpam adalah atas perintah halus dari Pak Datuk Bagindo Basa yang sekarang ditahan di markas batalyon. Berita yang dihembuskan oleh salah seorang tokoh PKI ini adalah fitnah belaka karena memang Pak Datuk sama sekali tidak tahu menahu mengenai peristiwa itu. Namun fitnah ini beredar bukan tanpa alasan karena Pak Datuk adalah seorang yang terang-terangan anti PKI. Sehingga berkemungkinan sakit hati maka dihembuskanlah kebohongan ini ke markas batalyon.

Komandan Batalyon yang menerima berita tersebut diduga berfaham komunis karena langsung percaya khabar yang dibawa oleh tokoh PKI ini, sehingga tanpa melalui proses apapun dia segera memerintahkan anak buahnya memasukkan Pak Datuk ke ruangan khusus. Pak datuk yang telah dua bulan meringkuk di tahanan sekarang akan dipindahkan ke ruangan khusus, seperti apakah ruangan itu. Ternyata ruangan khusus ini sangat tidak mencerminkan perikemanusiaan karena sangat sempit sekitar 2 meter x 3 meter dan sebelumnya telah diisi oleh tujuh orang tahanan, setelah Pak Datuk masuk maka menjadi delapan orang. Ruangan ini hanya ada satu pintu masuk dan satu ruang ventilasi udara.

Ruangan ini tidak mempunyai kasur dan juga dipan untuk tempat tidur serta tidak mempunyai wc untuk tempat buang air besar atau kecil, tapi hanya ditampung saja. Sulit untuk dibayangkan bagaimana situasi di didalam ruangan ini dihuni oleh delapan orang.

Ketika memasuki ruangan ini Pak Datuk melihat pemandangan yang sangat mengiris hati, ada tujuh orang yang sudah lebih dahulu masuk, entah sejak kapan mereka masuk. Ketujuh orang ini sangat lusuh dengan wajah pucat dan menerawang dengan tatapan kosong melompong. Tak ada suara, tak ada gumam sehingga hampir seperti tidak ada lagi kehidupan. Pak Datuk merasa kasihan dan iba melihat keadaan ini tapi apalah daya untuk menolong, diri sendiri pun tidak tertolong.

Kehadiran Pak Datuk sedikit demi sedikit dapat menghibur kepedihan kawan-kawan barunya ini, lantaran dia suka menghibur dengan kepandaiannya bercerita dan berjenaka. Ruangan yang pengap serta dikelilingi tembok yang angker tidak menciutkan nyali Pak Datuk untuk tetap tegar. Teman-temannya senasib seolah mendapat udara baru dengan kehadiran Pak Datuk, meskipun terkungkung di dalam tembok penjara yang sangat angkuh ini.

Berada di kamar sempit walau bagaimanapun, tetap mengandung kenestapaan yang tidak terkira karena masa depan penuh ketidakpastian, entah bagaimana nasib yang akan terjadi besok atau lusa, tidak seorang pun yang tahu. Masing-masing mungkin bermimpi akan dibawa ke regu tembak esok. Tapi semua penuh dengan teka-teki. Mungkinkah disesuaikan dengan kadar kesalahan atau bagaimana tidak ada yang tahu.

Tapi sudah rahasia umum di zaman perang seperti ini bahwa nyawa ayam mungkin lebih berharga daripada nyawa manusia. Karena sewaktu waktu mudah saja terjadi penculikan dan pembunuhan sehingga banyak kejadian orang yang hilang tidak tahu rimbanya atau ada pula yang ditemukan saja mayatnya tapi tidak tahu siapa pelaku pembunuhan terhadap si mayat. Kalaupun diketahui siapa pembunuhnya dari tentara atau orang sipil yang bersenjata sulit untuk disentuh oleh hukum.

{ 11 }

Kembalinya Seorang Sahabat

Letnan Satu Djamil telah kembali dari Jawa setelah berada di sana selama beberapa minggu. Secara kebetulan dia muncul di markas Batalyon dan mendengar bahwa Pak Datuk sahabatnya sedang ditahan di kamar sempit. Dia segera menuju ke ruangan yang dihuni Pak Datuk dan teman-teman senasibnya.

“Sabar, Pak Datuk, saya akan berusaha membantu”  kata Letnan Djamil meyakinkan.

“Tidak apa-apa Pak, sebelumnya terima kasih atas pertolongannya” sahut Pak Datuk dengan tetap bersikap tegar. Kemudian sambil menepuk pundak Pak Datuk, Letnan Djamil segera berbalik dan bergegas pergi, Pak Datuk mengikuti dengan pandangan sampai dia hilang dari ramainya orang yang lalu lalang.

Beberapa jam setelah kedatangan Letnan Djamil, tiba-tiba pintu dibuka. Secercah cahaya dari luar menerpa ruangan pengap yang agak gelap itu. Seorang petugas berseragam tentara muncul dan memanggil “pak Aminuddin Dt Bagindo Basa”. Mendengar namanya dipanggil Pak Datuk segera bangkit dari duduknya, kemudian petugas menyodorkan sebuah surat dan Pak Datuk mengambil dan membaca isinya yang menyatakan kebebasannya, alhamdulillah, matanya pun berkaca-kaca. Pak Datuk menoleh ke arah teman-teman senasibnya. Dari raut wajah dia tidak mampu menyembunyikan rasa sedih akan berpisah meskipun hanya sembilan hari bergaul, tapi selama itu kesan dalam batinnya sangat menyentuh. Teman-temannya pun tidak kuasa menahan tangis, semuanya menitikkan air mata, Pak Datuk juga demikian, mereka semua berangkulan.

Pak Datuk ditahan selama dua bulan di tahanan biasa dan sembilan hari di ruangan khusus atau terkenal dengan kamar sempit. Sekarang dia telah menghirup udara bebas, bebas dari tirani ke angkara murkaan. Semua berkat kebaikan sahabatnya yang tulus dalam membantu membebaskannya, Letnan  Djamil.

Kebebasan Pak Datuk dari penjara akan menjadi tantangan yang mungkin lebih berat. Keadaan di luar tahanan masih tidak menentu, penyerahan secara resmi pasukan PRRI belum terlaksana sepenuhnya. Masih banyak pasukan PRRI yang berada jauh di pedalaman, tapi dari hari ke hari semakin banyak saja dari kalangan PRRI yang menyerahkan diri, baik itu dari kalangan militer maupun sipil. Apalagi dengan turunnya Amnesti atau pengampunan umum dari Presiden Soekarno terhadap anggota PRRI. Pak Datuk yang sebelum masuk tahanan sudah menjadi penghubung penyerahan tentera PRRI ke tentara Pusat. Sekarang pun dia melakoni itu kembali.

Hari berganti hari dan berlalu dengan cepat, semakin hari semakin banyak juga tentara yang menyerah. Pak Datuk semakin sering pula dimintai tolong mengenai perkara ini. Beliau secara sukarela bersedia membantu, hanya sekedar membantu dan menolong dan tidak ada sedikitpun niatnya mengambil keuntungan dalam situasi seperti itu. Kalau lah beliau mempunyai niat memancing di air keruh, sekiranya dia minta tebusan berupa uang atau emas sekalipun tentu orang akan mau saja membayar berapa pun, asalkan orang-orang yang dicintai dapat diselamatkan nyawanya dan dijamin keamanannya.

Tapi ternyata Pak Datuk tidak demikian, dia tidak meminta hal-hal seperti itu. Pak Datuk masih mempunyai akal sehat, pikirannya jauh ke depan. Karena kalau itu yang dilakukannya, maka nanti di kemudian hari pasti nama baiknya akan tercoreng, keluarganya akan malu. Dan imej negatif tentu akan sering dialamatkan kepadanya.

Dalam hal penyerahan diri ini tidak semua anggota PRRI yang mau menyerah, baik sipil maupun militer. Ada seorang teman Pak Datuk yang bernama Dewan Sutan Basa, seorang yang pemberani atau bagak, dia sudah berada di Kapau. Dia telah dikirim pesan oleh Pak Datuk apabila mau menyerah maka keselamatannya akan dijamin. Pada awalnya dia tidak mau, namun setelah didesak dia berjanji dalam tiga hari akan menyerah setelah menyelesaikan panen sawahnya. Sebelumnya Camat Tilatang Kamang pada waktu itu Hasrul Datuk Rangkayo Basa yang pro pemerintah pusat telah mendesak Pak Datuk agar mempercepat penyerahan orang-orang tertentu termasuk Dewan St Basa, kalau tidak maka keselamatan orang-orang itu tidak terjamin.

Setelah jangka waktu yang dijanjikan Dewan St Basa sampai, ternyata dia tidak muncul untuk menyerahkan diri melalui Pak Datuk. Setelah dia tidak menepati janjinya Pak Datuk tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi setelah terdengar selentingan khabar dia tidak mau menyerahkan diri. Seminggu telah berlalu ternyata tidak ada tanda-tanda Dewan St Basa menyerahkan diri, pada suatu malam beberapa tentara menuju ke rumah Dewan St Basa di Parak Mingkah. Rumah dikepung. Dewan St Basa sudah mengetahui kedatangan tentara maka ia segera bersembunyi dibalik pintu dan telah siap dengan parangnya, apabila pintu didobrak dia berfikir akan segera memukulkan parangnya kepada orang yang memasuki rumah. Salah seorang tentara mendobrak pintu tapi dengan cerdik dia tidak masuk tapi keluar kembali.

Di saat itulah tentara yang telah siap dengan senapan memberi peringatan kepada Dewan St Basa agar menyerah. Akhirnya dia menyerah dan keluar dengan mengangkat tangan. Dia kemudian digiring ke dekat Surau Sirah sekitar dua ratus meter dari rumahnya. Sesampai di sana dia dipukuli oleh para tentara, sampai akhirnya dia mohon ampun, tapi tidak digubris sama sekali. Setelah puas melampiaskan kegeramannya dengan memukul dan menyiksa Dewan St Basa, para tentara akhirnya tanpa belas kasihan memberondong Dewan St Basa dengan tembakan dari jarak dekat sehingga ia tewas bersimbah darah. Saksi mata yang ada pada waktu tidak ada yang berani menolong karena takut dengan tentara yang bersenjata lengkap. Setelah mereka semua pergi barulah berdatangan untuk mengambil jenazah Dewan St Basa.

Di lain kesempatan teman seperjuangan Pak Datuk dan juga sama-sama mantan Heiho Letnan Satu Sjahmenan telah diketahui keberadaannya di sekitar daerah Tabek Patah Tanah Datar. Ceritanya lain lagi, Pak Datuk telah mengirim pesan kepada temannya ini agar tidak lari semakin jauh tapi disarankan untuk kembali ke kampung menyerahkan diri agar selamat. Beliau dengan seorang anak buahnya mendekati daerah Tabek Patah berniat hendak pulang kampung. Di suatu tempat karena ada satu keperluan, anak buahnya meminjam pistol yang memang satu-satunya milik Letnan Sjahmenan, dengan alasan untuk berjaga-jaga apabila terjadi sesuatu hal, oleh karena beliau adalah orang yang jujur dan lugu maka dipinjamkanlah pistol kepada anak buahnya tersebut.

Khabar yang diketahui kemudian ternyata anak buahnya tadi menyerahkan diri ke tentara pusat dengan modal pistol yang dipinjam kepada komandannya. Akan nasib Letnan Sjahmenan setelah dikibuli prajuritnya tidak diketahui dengan pasti mungkin tertangkap atau terbunuh oleh tentara Pusat. Tapi apabila tertangkap atau terbunuh biasa mudah diketahui dan mencari buktinya tapi beliau hilang tak tentu rimba dan hanyut tak tahu lautannya, sampai detik tulisan ini ditulis.

Nasib yang menyedihkan juga menimpa Kolonel Dahlan Djambek Sekjen Dewan Perjuangan dan Menteri Dalam Negeri PRRI. Sebelum melakukan penyerahan diri kepada tentara Pusat ketika itu beliau sedang berada di Laring mungkin di daerah Palupuh, maka diutuslah kurir supaya beliau dijemput oleh sepasukan tentara ke daerah Laring. Ketika sedang menunggu pasukan yang akan menjemput, datang pasukan lain yang diduga kuat berfaham komunis. Kolonel Dahlan Djambek tidak menduga sama sekali karena ternyata pasukan yang datang itu adalah pasukan pengkhianat bukan pasukan yang akan menjemputnya. Tokoh besar putra Syech M.Djamil Djambek ini akhirnya gugur setelah ditembak oleh pasukan yang tidak dikenal tersebut.

Berapa banyaknya yang hilang dan berapa banyaknya yang mati ketika peristiwa PRRI sungguh tidak terhitung lagi jumlahnya. Lembaran Kelam sejarah yang kita harapkan tidak terulang kembali mengingat korban jiwa yang sangat banyak dan belum lagi penderitaan bagi keluarga yang ditinggalkan.

{ 12 }

Dari Politikus Sampai Wakil Rakyat

Sejarah PRRI telah berakhir anti klimaks, ditandai dengan menyerahkan tokoh-tokoh penting sampai prajurit. Lembaran-lembaran sejarahnya yang mengakibatkan ribuan nyawa telah melayang akan tetap berbekas dan dikenang sepanjang masa. Sisanya menyerah dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Pak Datuk kembali ke kampung halaman dengan sehat wal afiat menjalani hari-harinya kembali menjalani kehidupan.

Sebagai seorang kader Persatuan Tarbiyah atau Perti sejak masa mudanya, Pak Datuk memiliki bekal untuk menjadi seorang tokoh yang disegani. Di saat masih duduk di bangku sekolah agama atau Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), yang waktu itu terdiri dari kelas satu sampai kelas tujuh, sekarang sama dengan tingkat Tsanawiyah dan Aliyah, Pak Datuk telah aktif berorganisasi dalam kepanduan Al-Anshar, suatu kepanduan yang dibentuk oleh organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) yang didirikan oleh Syech Sulaiman Ar-Rasuly (Inyik Canduang) dan kawan-kawan pada tahun 1928.

Setelah Indonesia merdeka, Perti berubah menjadi Partai Politik dengan nama Partai Islam Perti yang Pimpinan Pusat pertamanya diketuai Buya H.Siradjuddin Abbas anak dari Syech Abbas Qadhi Bangkaweh. Pak Datuk semenjak mudanya disamping berjuang mengangkat senjata menghadapi penjajah juga telah berjuang di politik, mulai dari Ketua Penerangan Perti dan Ketua Perti nagari Kapau, kemudian Ketua DPAC Partai Islam Perti Tilatang Kamang, dan Ketua DPC Partai Islam Perti Kabupaten Agam.

Terjadinya pemberontakan PKI, yang terkenal dengan Gerakan 30 September, G.30.S/ PKI tahun 1965. Merupakan masa transisi di tingkat pusat sampai ke daerah-daerah. Peranan Pak Datuk di kampungnya sangat menonjol terutama mengenai keamanan nagari yang berada di bawah tanggungjawabnya. Masyarakat Kapau yang kebetulan berfaham komunis masih cukup banyak tapi setelah peristiwa G.30.S mereka menjadi ketakutan dan tidak berani lagi mengaku secara terang-terangan sebagai anggota PKI.

Pak Datuk yang berfaham anti komunis sangat bijaksana dalam hal ini, beliau membiarkan para bekas anggota komunis atau PKI hidup sebagaimana layaknya. Sebab yang dipikirkannya adalah segi kemanusiaan berapa banyaknya anak dan isteri mereka yang akan terlantar. Dan menurut analisa Pak Datuk bekas anggota PKI di Kapau tidaklah berbahaya. Dengan keadaan transisi seperti ini karena penuh dengan resiko, terjadi kekosongan kekuasaan di nagari Kapau maka Pak Datuk dianggap cakap mengatasi situasi dan kondisi yang ada, maka beliau diangkat menjadi penjabat Wali Nagari Kapau.

Ketika beliau memimpin Partai Islam Perti Kabupaten Agam, keadaan Negara masih dalam suasana transisi yaitu beralihnya kepemimpinan dari Orde Lama kepada Orde Baru namun kondisi keamanan sudah lebih kondusif. Di dalam Partai politik semacam Perti terdapat pula konflik-konflik internal namun tidak terlalu meluas. Namun demikian ongkos yang harus dibayar adalah terjadinya benih-benih perpecahan di tubuh Partai Islam Perti. Namun di tengah situasi demikian Pak Datuk berhasil meredam kondisi di daerah khususnya Kabupaten Agam sehingga keberadaan Perti yang dipimpinnya tetap diakui oleh pemerintah Daerah maupun Pusat.

Tahun 1967 Kabupaten Agam dipimpin oleh Bupati Kamaruddin, pada waktu itu menurut aturan bahwa Bupati yang berhak memilih para politisi yang diusulkan untuk dipilih menjadi Anggota DPRD, yang pada waktu itu masih bernama DPRD-Gotong Royong atau DPRD-GR. Pak Datuk terpilih sebagai anggota DPRD-GR mewakili Partai Islam Perti.

Menjadi wakil rakyat di dalam DRPD-GR bukanlah tugas ringan, banyak tantangan dan rintangan baik di dalam maupun di luar kelembagaan tersebut. Disamping anggotanya yang berbeda latar belakang politik serta golongan juga mempunyai kepentingan yang berbeda satu sama lain antara masing-masing fraksi. Tapi itu menjadi suatu seni tersendiri bagi Pak Datuk karena beliau sudah tidak asing lagi berhadapan dengan siapa, mulai dari masyarakat banyak sampai kepada pejabat.

Beliau tidak memandang perbedaan fraksi, semua adalah teman meskipun berbeda pandangan yang tajam terhadap suatu pokok permaslahan, tapi secara pribadi tidak ada perbedaan. Sehingga pergaulan beliau dengan teman sesama anggota dewan sangat baik dan disukai oleh teman-teman dari fraksi lainnya. Pada waktu itu ada anggota dewan yang juga dari Kapau yaitu Bahar Ruska, beliau merupakan anggota dari Fraksi PNI.

Pada suatu kali diadakanlah sidang paripurna dewan dengan agenda acara pemilihan Sekretaris Daerah Kabupaten Agam. Pada waktu itu ada dua orang calon kandidat sekda yaitu Rahmadsyah dan Fahmy Rasyad. Setelah diadakan pemungutan suara oleh seluruh anggota dewan maka yang keluar sebagai pemenang adalah Rahmadsyah. Tapi sebelum hasil pemungutan suara disahkan Fahmy Rasyad yang kalah dalam pemilihan mengadukan nasibnya kepada pimpinan fraksi termasuk fraksi Perti pimpinan Pak Datuk. Fahmy Rasyad yang merupakan teman dekat Pak Datuk mengutarakan keluh kesahnya agar keputusan yang telah diambil tersebut dapat diubah.

Pak Datuk tidak sampai hati juga melihat posisi temannya dan memutar otak, maka dia  mengambil inisiatif, yaitu dengan melobi fraksi-fraksi lainnya untuk menggolkan Fahmy Rasyad sebagai Sekda, tapi bagaimana caranya. Langkah pertama yang dilakukannya adalah melobi Rahmadsyah agar bersedia memilih salah satu opsi yaitu  menjadi Sekda atau disekolahkan untuk memperoleh kenaikan pangkat.

Setelah dilakukan lobi ternyata Rahmadsyah memilih disekolahkan, berarti dia bersedia mundur dari jabatan Sekda Kabupaten Agam yang telah dimenangkannya. Kemudian Pak Datuk juga melobi para anggota dewan lainnya untuk dapat menerima pengunduran diri Rahmadsyah, dan secara otomatis mengesahkan Fahmy Rasyad menjadi Sekda Kabupaten Agam.

Semua hasil lobi Pak Datuk akhirnya membuahkan hasil dan Fahmy Rasyad kemudian resmi disahkan dalam sidang paripurna menjadi Sekretaris Daerah Kabupatem Agam. Upaya ini ternyata telah membuktikan bahwa Pak Datuk dalam perkara lobi ini sangat mahir melakukan pendekatan psikologis dan emosional sehingga diperhitungkan oleh para anggota dewan.

Konstelasi politik pasca meletusnya pemberontakan PKI tahun 1965, di tubuh partai Perti terjadi konflik internal. Bibit konflik ini sebetulnya telah terjadi ketika penyelenggaraan Kongres tahun 1955 dan ini tetap berlanjut sampai pasca Orde Lama dan beralih ke zaman Orde Baru. Pak Datuk selaku Ketua Umum DPC Perti kabupaten Agam menyikapi persoalan ini dengan hati-hati dan tetap memantau perkembangan partai di tingkat pusat.

Akhir kisruh di tubuh Perti menyebabkan terjadinya dualisme kepemimpinan di tingkat pusat, dalam arti kata menimbulkan perpecahan partai menjadi dua. Kondisi ini menyebabkan Cabang di daerah-daerah ikut mengalami kegoncangan juga sebagaimana yang terjadi di pusat.

Namun demikian, setelah menerima khabar yang valid dari pusat, Pak Datuk mengambil suatu sikap yang tegas dengan segala resikonya, yaitu memberikan salah satu pilihan dengan mengakui bahwa Dewan Pimpinan Pusat adalah yang dipimpin oleh Rusli Halil. Ini adalah untuk menjawab apa yang dipertanyakan oleh para kader di daerah, sehingga dengan demikian dapat menjawab kebingungan kader serta pemerintah daerah terhadap siapa pimpinan pusat yang sebenarnya.

Setelah masa peralihan dari zaman Orde Lama ke zaman Orde Baru inilah Partai Perti akhirnya terpecah menjadi dua. Yang satu kembali ke Khittah 1928 dan tidak lagi menjadi partai politik, tetapi afiliasi politik para kader disalurkan ke Organisasi Politik Golongan Karya (Golkar). Sedangkan pecahan yang satu lagi bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) bersama bekas Masyumi, NU, Parmusi dan PSII.

Ketika menjadi wakil rakyat ini, kehidupan Pak Datuk dengan keluarganya sangat baik begitu juga dengan saudara-saudaranya yang lain. Dalam kehidupan berkeluarga Pak Datuk sampai saat itu mempunyai isteri hanya satu orang. Sebagaimana kebiasaan sejak dahulu para tokoh masyarakat banyak yang mempunyai isteri lebih dari satu. Hal ini bukan tanpa alasan, salah satunya jumlah wanita dan para janda pada waktu itu cukup banyak dan alasan lain adalah mempunyai suami seorang yang terpandang dan berpengaruh adalah suatu kebanggaan bagi seorang wanita atau seorang janda.

Dan berpoligami tidak bertentangan dengan agama Islam sehingga masyarakat pada waktu itu  memandang hal ini wajar dan biasa saja. Haji Abbas ayah Pak Datuk juga mempunyai isteri dua orang, begitu juga saudara beliau Buya Rasyidin Kari Bagindo juga mempunyai isteri dua orang. Ketika itu Pak Datuk minta izin kepada Fatimah isteri beliau untuk menikah lagi dengan seorang janda di dusun Padang Canting. Janda dari teman beliau sendiri Sjahmenan, tentara yang hilang di masa PRRI dahulu. Janda Sjahmenan ini bernama Husnuddaiyar dan mempunyai anak lima orang.

Tentu untuk ukuran sekarang, kita mungkin tidak habis pikir kenapa beliau mempunyai motivasi ingin menikah dengan janda beranak lima sedangkan beliau sendiri mempunyai anak tiga orang dan yang satu masih mengalami penyakit lumpuh. Isteri beliau adalah seorang yang sangat taat dan setia pada suami dan mengizinkan Pak Datuk menikah lagi, meskipun pada waktu itu dua orang anak beliau yang remaja nampaknya tidak setuju.

Setelah menikah dan mempunyai isteri dua orang Pak Datuk memperlakukan kedua isterinya dengan adil bahkan sampai akhir hayat beliau. Dan yang sangat menarik dan mengherankan adalah bahwa hubungan beliau dengan kedua orang isteri dan antara kedua orang isteri beliau ini selalu rukun dan tidak pernah terjadi permasalahan.

Selama dua tahun menikah dengan isteri kedua, keinginan beliau mempunyai anak menjadi tidak terlaksana karena anak yang dikandung isteri beliau tersebut mengalami keguguran. Setelah menunggu selama dua tahun, pada tahun 1972 lahirlah seorang bayi yang berjenis kelamin laki-laki yang kemudian diberi nama Zulfadli. Anak ini merupakan anak laki-laki satu-satunya, karena isteri beliau kemudian tidak pernah lagi melahirkan anak. Anak dari Fatimah isteri beliau yang tua tiga orang, dua orang perempuan sedangkan yang laki-laki mengalami penyakit kelumpuhan yang sudah lama dan sulit untuk disembuhkan.

 

{ 13 }

Pemimpin Yang Terpilih

Jiwa kepemimpinan Pak Datuk tidak pernah luntur. Setelah tidak terpilih menjadi Anggota DPRD hasil pemilu 1971, beliau kembali ke kampung, nagari Kapau yang dicintainya. Memfokuskan diri memimpin anak kemenakan di kampung sendiri sebagai pemimpin adat di kaumnya suku Guci.

Pada tahun 1975 periode kepemimpinan Abdul Wahab Intan Batuah sebagai Wali Nagari Kapau hampir berakhir. Maka nagari Kapau bersiap untuk mengadakan pemilihan langsung Wali Nagari Kapau untuk periode lima tahun ke depan. Maka muncullah tiga orang calon yang akan memperebutkan kursi nomor satu di Kapau dan salah satunya adalah Pak Datuk. Ketiga calon tersebut adalah Abdul Wahab Intan Batuah, Aminuddin Dt Bagindo Basa dan Slamat SM. Setelah diadakan pemilihan langsung secara demokratis maka Aminuddin Dt Bagindo Basa berhasil memperoleh suara terbanyak mengalahkan dua pesaingnya.

Kepemimpinan Pak Datuk sebagai Wali Nagari Kapau membawa perubahan yang signifikan baik fisik maupun non fisik. Pembangunan fisik adalah pengelolaan Bantuan Desa atau Bandes pada waktu itu untuk memperbaiki infrastruktur jalan jorong se- kenagarian Kapau yang sudah banyak yang rusak dan sulit dilalui kendaraan. Pada waktu itu dilakukanlah renovasi jalan-jalan jorong secara besar-besaran dari dana Bandes dan swadaya masyarakat. Kemudian pembangunan jembatan Koto Panalok dan Jembatan Paninjauan. Juga pembangunan SD Inpres di Parak Maru Kapau dan penambahan ruang belajar di SD 2 Pandam Basasak.

Kapau termasuk salah satu nagari yang dibawah kepemimpinan Pak Datuk belum dialiri listrik, sehingga masyarakat masih memakai petromak atau lampu dinding atau lampu togok di malam hari. Pak Datuk mencari strategi agar Listrik Masuk Desa dapat segera diwujudkan di Kapau dengan jalan politik. Pada waktu itu Golongan Karya (Golkar) adalah organisasi politik pemerintah yang pada pemilu kedua zaman Orde Baru tahun 1971 belum mengalami kemenangan di Kapau.

Pak Datuk berusaha secara tidak langsung meyakinkan masyarakat agar memilih Golkar pada pemilu mendatang. Usaha ini berhasil dan terwujud pada pemilu tahun 1977, dimana Golkar menang mutlak di Kapau. Sehingga dengan demikian Listrik Masuk Desa di Kapau akhirnya dapat diwujudkan. Dan dengan tidak memakan waktu lama setelah selesainya pemilu, diresmikanlah pemancangan tiang pertama listrik masuk desa oleh Pemimpin PLN waktu itu Ir. Yanuar Muin yang bertempat di jorong Induring.

Pada tahun 1977 itu juga pemerintah pusat berencana akan membangun Sekolah Dasar untuk menunjang pemerataan sarana dan prasarana di bidang pendidikan. Karena pada waktu itu SD di Kapau baru dua buah yang terletak di sidang Induring dan sidang Pandam Basasak. Sedangkan sidang Pasir belum memiliki Sekolah Dasar. Sekolah ini berbentuk Instruksi Presiden yang dikenal dengan SD Inpres, dengan persyaratan bahwa pengadaan tanah untuk lokasi harus diusahakan oleh pemerintah nagari bersama masyarakat.

Adanya peluang akan dibangunnya SD Inpres ini disambut baik oleh Pak Datuk selaku Wali Nagari Kapau. Maka dalam waktu singkat Pak Datuk segera berembuk dengan tokoh masyarakat dan pemilik tanah dalam rangka misi mulia ini. Karena apabila tanah belum tersedia dalam jangka waktu yang ditentukan maka bisa jadi SD yang akan dibangun dipindahkan pembangunannya ke daerah yang lain.

Maka secara maraton diadakanlah negosiasi dengan pemilik tanah dimana tanah ini berlokasi di jorong Parak Maru, agar pemilik tanah bersedia mewakafkan tanahnya. Usaha ini cukup sulit karena lokasi pembangunan SD yang direncanakan dimiliki oleh banyak keluarga dan sebagian pemilik tanah berada di perantuan. Dan belum tentu mereka sepakat untuk mewakafkan tanahnya.

Pak Datuk berusaha bernegosiasi dan meyakinkan para pemilik tanah. Negosiasi berjalan alot dan memakan waktu yang cukup lama. Namun dengan sabar proses negosiasi terus dilanjutkan dan dengan upaya yang terus menerus tanpa mengenal lelah akhirnya para pemilik tanah berhasil diyakinkan. Dengan demikian prosedur telah dilalui untuk memuluskan pembangunan Sekolah Dasar yang sangat penting bagi pendidikan anak-anak. Kemudian diadakanlah goro massal pembersihan lokasi yang merupakan ladang yang sebagian besar ditumbuhi tanaman tua.

Keberhasilan pembangunan sekolah dasar inpres ini memang sangat ditentukan oleh kebersamaan antara pemimpin dan masyarakat, terutama bagaimana melakukan pendekatan yang komunikatif serta konstruktif sehingga masyarakat secara sukarela bersedia dan rela mengorbankan kepentingannya demi untuk kepentingan umum. Dan kesadaran masyarakat telah dibentuk secara intensif oleh suatu kepemimpinan yang melayani, sehingga masyarakat memahami bahwa arti kepentingan umum itu diatas kepentingan pribadi dan kelompok.

Pada tahun 1979 seorang perantau Kapau di Jakarta dan Pengusaha Rumah Makan Roda Group yaitu beliau Haji Hashuda pulang kampung dan bertemu dengan sahabat karibnya yang telah menjadi Wali Nagari Kapau. Maka terjadilah diskusi kecil membicarakan perihal kampung. Pembicaraan sampai kepada apa saja syarat adanya sebuah nagari.

Di dalam sebuah nagari itu harus “babalai bamusajik, batapian tampek mandi, bapandam bapakuburan, bapasa tampek manggalaeh” artinya mempunyai balai tempat bermusyawarah, mempunyai masjid, mempunyai MCK yang bersih dan bagus, mempunyai tempat pemakaman dan mempunyai pasar tempat berdagang.

Berdasarkan kenyataan waktu itu balai belum ada, dalam hal ini yang dimaksud  adalah Balai Adat untuk tempat bermusyawarah. Maka terpikirlah bagi mereka berdua kalau balai tidak ada tentu nagari Kapau  belum memenuhi syarat sebagai nagari atau persyaratan untuk menjadi suatu nagari itu belum lengkap. Kemudian muncul gagasan dari Pak Haji Hashuda bagaimana kalau dibangun Balai Adat untuk memenuhi persyaratan suatu nagari, dan beliau bersedia untuk membantu biayanya.

Mendengar respon positif dari beliau, Pak Datuk menyambut baik karena ini adalah kesempatan emas untuk mewujudkan impian masyarakat Kapau selama ini akan adanya sebuah balai pertemuan dan tempat musyawarah yaitu Balai Adat.

Dalam kepala Pak Datuk ada pula gagasan untuk menindaklanjuti rencana pembangunan gedung Balai Adat. Tanpa membuang waktu lama beliau segera menginstruksikan kepada Sekretaris Nagari Lukman St.Mudo untuk membuat undangan rapat seluruh Kepala Jorong,  LKMD jorong, Ninik Mamak dan Pemuka Masyarakat untuk membicarakan rencana pembangunan Balai Adat ini. Pada rapat yang diselenggarakan itu dikemukakanlah oleh Pak Datuk selaku Wali Nagari suatu gagasan pembangunan balai adat tersebut, kemudian juga diterangkan akan kesediaan beliau Haji Hashuda untuk membantu pendanaannya, disamping diharapkan juga dari dana pemerintah dan dana lainnya.

Untuk merealisasikan pembangunan untuk tahap awal, maka Pak Datuk mengusulkan bahwa dana Bantuan Desa atau Bandes (untuk satu tahun) pada tahun depan kita pergunakan untuk pembangunan balai adat ini. Setelah berbagai tanggapan dari peserta rapat yang mengemuka pada forum itu akhirnya seluruh peserta setuju bahwa dana bandes yang seharusnya untuk jorong dalam satu tahun dipergunakan mendanai pembangunan Balai Adat. Alhamdulillah, sesuatu yang patut diapresiasi dan diacungi jempol, ternyata peserta rapat sanggup mengedepankan kepentingan yang lebih besar dan menyampingkan kepentingan pribadi atau kepentingan kampungnya masing-masing.

Kemudian dibentuklah panitia pembangunan yang Ketua Umumnya adalah H.Hashuda dan Ketua Pelaksana kakak Pak Datuk sendiri yaitu Rasyidin Kari Bagindo. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, panitia bekerja dengan giat maka dimulailah pembangunan gedung Balai Adat secara Swadaya Masyarakat dan juga dari bantuan Pemerintah. Pembangunan gedung ini tidak main-main, karena berlantai dua lengkap dengan Balai Adat di lantai dua dan Kantor Wali Nagari dan Lembaga Nagari di lantai satu.

Dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama lebih kurang selama tiga tahun, selesailah pembangunan Balai Adat Nagari Kapau beserta kantor Wali Nagari berlantai dua yang megah dan representatif. Adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi anak nagari Kapau baik yang berada di kampung maupun yang berada di perantauan. Semua itu berkat kebersamaan antara pimpinan nagari dan lembaga dengan seluruh lapisan masyarakat. Kemudian direncanakanlah peresmian Balai Adat ini oleh Gubernur Sumatera Barat yang pada waktu itu adalah Brigjen TNI  Ir. H. Azwar Anas.

Pada waktu itu timbul pula rencana Pesta Batagak Penghulu atau Mambangkik Batang Tarandam dari Pak Datuk yang pada waktu itu juga selaku wakil Guci Pili dalam Kerapatan Ninik Mamak VI Suku dan kawan-kawan, yaitu suatu pesta mengangkat penghulu atau ninik mamak yang sudah meninggal dan sebagainya. Disamping itu Listrik Masuk Desa juga direncanakan untuk diresmikan. Sehingga tiga acara tersebut disatukan pelaksanaannya menjadi satu kesatuan, di medan nan bapaneh depan Balai Adat.

Pada saat acara dilaksanakan sangat terlihat kemeriahan yang luar biasa dan sangat jarang terjadi, karena acara yang sangat monumental ini memang baru pertamakali dilakukan di nagari Kapau semenjak tahun 1955, dimana pada waktu itu yang dilaksanakan  hanyalah acara batagak penghulu. Acara ini juga memiliki pengaruh yang luar biasa untuk lebih memperkenalkan Nagari Kapau ke tingkat yang lebih tinggi, karena pada waktu itu banyak para perantau yang pulang kampung menyaksikan acara besar ini. Dan media-media pun meliput acara ini sehingga Kapau tersosialisasi dengan baik bagaimana spesifikasi Kapau dengan adat dan kebiasaan yang berbeda dengan nagari-nagari lainnya.

{ 14 }

Galodo Yang Datang dari Hilir

Setelah tidak lagi menjabat lagi sebagai Wali Nagari Kapau, pemikiran Pak Datuk masih dibutuhkan oleh orang banyak. Terutama menyelesaikan persoalan-persoalan adat dan sosial kemasyarakatan. Pemerintah nagari masih merangkul beliau untuk tetap aktif memberikan gagasan dan pemikiran-pemikiran untuk kemajuan nagari.

Pada tahun 1986 kakak beliau Buya Rasyidin Kari Bagindo atau terkenal dengan Inyik Khatib berpulang ke Rahmatullah. Beliau adalah sosok ulama kharismatik yang sangat disegani di Kapau, selama hayatnya banyak jabatan yang dipegang beliau mulai dari Wali Nagari, Kepala KUA, Qadhi dan Ketua Pengurus atau Pengasuh Sekolah Agama di Kapau yang bernama Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Kapau.

Dengan meninggalnya Buya Rasyidin Kari Bagindo menimbulkan kekosongan kepemimpinan di MTI Kapau. Maka beberapa pengurus yang masih ada mengundang komponen masyarakat untuk rapat membahas perkembangan MTI untuk masa yang akan datang. Maka hadirlah banyak tokoh masyarakat waktu itu yang peduli terhadap MTI Kapau. Diantara yang hadir diantaranya beliau-beliau Umi Aisyah (Isteri Buya Rasyidin Kari Bagindo), H.M.Noer Amin St Mangkuto, Dt Rajo Basa, Dt Rajo Dilangik, A.H. St Kayo, Ibuk Sabidar, St Rajo Intan, Asfirman Rusad, SH, Drs. Suardi, AM (Kepala MTI Kapau) dan banyak kader Tarbiyah lainnya.

Dalam rapat tersebut diambillah suatu keputusan untuk memilih kepengurusan yang baru pasca meninggalnya Buya Rasyidin Kari Bagindo atau Inyik Khatib. Maka terpilihlah kepengurusan baru MTI Kapau secara aklamasi, termasuk Pak Datuk dengan susunan: Ketua I: H. Hashuda Dt Majo Nan Tuo, Ketua II: H. Daiman St Mangkuto dan Ketua III: Aminuddin Dt Bagindo Basa. Sekretaris : D. Dt Rajo Dilangik, Bendahara: Dt Rajo Basa. Dan lain-lain seperti H.M. Noer Amin St Mangkuto, H. Abdul Hadi St Kayo, dan lain-lain.

Pada awal terbentuknya kepengurusan baru ini, maka kepengurusan menjalankan tugasnya dengan baik untuk kemajuan pendidikan di MTI Kapau. Tapi setelah berjalan sekitar tiga tahun terjadilah persoalan intern dalam kepengurusan. Timbul fitnah yang mengadu domba antara seorang pengurus dengan pengurus yang lain. Sebelumnya telah diawali dengan persoalan intern pimpinan madrasah dengan beberapa orang guru, kemudian merembet kepada institusi kepengurusan disebabkan masalah-masalah yang tidak substansial menjadi masalah yang serius.

Salah seorang pengurus yang menjadi target utama fitnah itu adalah Pak Datuk sendiri sebagai Ketua III (hanya ketua III yang berada di kampung sedangkan ketua I dan II berada di Jakarta). Beliau dengan pengalamannya yang segudang maka menghadapi persoalan ini tetap tenang dan santai menghadapinya. Maka diadakanlah rapat pengurus lengkap dalam menjernihkan persoalan.

Pak Datuk telah memprediksi akan menjadi sasaran tuduhan kepada nya, tapi beliau telah menyiapkan amunisi apabila nanti diserang dalam rapat. Dan ternyata beliau diserang secara bertubi-tubi dengan tuduhan yang tidak beralasan. Salah satu tuduhan kepada beliau menyebutkan bahwa Ketua III telah dipengaruhi oleh pimpinan sekolah.

Mendengar tuduhan seperti itu, Pak Datuk yang sedang memimpin rapat menjadi sangat marah dan langsung menunjuk kepada orang yang menyampaikan tuduhan. “Apa kata anda, belum lahir anda ke dunia saya sudah berpolitik…”. Mendengar pak Datuk berkata seperti itu suasana rapat menjadi hening, tidak ada yang berani bersuara. “Terserah tuan tuan lah…” kata Pak Datuk dan terus meninggalkan ruang rapat. Rapat tidak dapat dilanjutkan dan tanpa menghasilkan keputusan. Beberapa saat kemudian para peserta rapat membubarkan diri.

Gagalnya rapat tidak membuat yang kontra terhadap kepemimpinan Pak Datuk menjadi tidak bersemangat tapi mereka mengatur strategi lain. Maka dikumpulkanlah semua tokoh-tokoh masyarakat kampung sampai perantauan untuk memilih kembali pengurus baru, akhirnya terpilih kepengurusan baru dimana Pak Datuk tetap dimasukkan dalam susunan pengurus tapi sebagai penasehat. Pernah suatu kali salah seorang ustadz yang mengajar di MTI menemui beliau di Padang Cantiang, pada waktu itu beliau sedang bekerja di sawah. Ustadz tadi merasa heran melihat Pak Datuk masih tenang-tenang saja bekerja, padahal di sekolah sudah heboh membicarakan persoalan MTI.

Pada suatu hari datanglah tiga orang tokoh masyarakat menemui Pak Datuk di Gedung MTI depan pasar, dalam rangka rekonsiliasi. Di luar telah banyak masyarakat yang duduk di kedai dan ada yang berkata “Tiga lawan satu…”. Rekonsiliasi yang dimaksud di sini adalah dengan memakai istilah yang populer “Siriah suruik ka gagangnyo, pinang baliak ka tampuaknyo”. Artinya beberapa pengurus yang yang telah mengundurkan diri kembali diajak.

Maka berkatalah Pak Datuk dengan kalimat yang terkenal “Sirih yang surut ke gagangnya dan pinang yang balik ke tampuknya itu hanya terpakai apabila ada orang semenda yang meninggalkan rumah “taganyuik”, dalam organisasi tidak ada istilah seperti itu, apabila difikirkan dengan jernih betapapun canggihnya kepandaian manusia mustahil daun sirih akan dapat disurutkan ke gagangnya, sirih akan tetap layu.

Mendengar jawaban seperti itu ketiga orang tadi hanya terpaku mendengarnya. Kemudian salah seorang berkata “Tapi Pak Datuk, bukankah MTI itu kepunyaan masyarakat…”. “Kepunyaan masyarakat.. masyarakat yang mana?” kata Pak Datuk memotong pembicaraan. “masyarakat PNI.. tidak, masyarakat Masyumi.. tidak, masyarakat PKI juga tidak, jadi masyarakat yang mana menurut anda…”. Suasana menjadi hening, tidak ada jawaban, akhirnya tiga orang tadi tidak mampu berdebat dengan Pak Datuk dan mohon diri dengan tidak membawa hasil apapun untuk dibawa pulang.

Persoalan MTI ini kemudian dibawa ke dalam Musyawarah Besar Nagari Kapau (Mubes) I pada bulan November 1991 untuk dibahas. Tapi usaha ini pun kandas tidak membawa hasil sama sekali. Akhirnya usaha menggoyang beliau dari Ketua III kepengurusan menjadi gagal total karena Pak Datuk tidak sedikitpun bergeming dari kedudukannya. Bagaimana nasib kepengurusan baru yang dibentuk tidak ada lagi kelanjutannya. Beberapa waktu kemudian salah seorang dari mereka sempat mengakui dengan mengatakan “Tidak ada dasar hukum bagi kita untuk mengambil alih kepemimpinan di MTI Kapau…”

Bagaimanapun persoalan yang terjadi di tubuh kepengurusan ini dapat diibaratkan “Galodo nan datang dari hilia, Batu nan maimpok dari bawah”. Beliau mampu menghadapinya dengan tenang dan santai, dan tidak ada sedikitpun ada celah bagi “lawannya” untuk mematahkan argumentasi yang beliau sampaikan.

Hal ini bukan karena apa-apa, tapi karena beliau betul-betul memahami setiap akar permasalahan yang terjadi. Dan yang terpenting adalah kemampuannya berkomunikasi secara efektif dengan mengolah logika berfikir yang sulit untuk bisa dibantah. Bahkan beliau tidak mempunyai keraguan dan kebimbangan sedikitpun dengan keputusan yang beliau tempuh tapi punya keyakinan bahwa sesuatu yang dilakukannya akan berhasil. Hal ini terbukti ketika suasana masih hangat-hangatnya mengenai permasalahan MTI Kapau, beliau malah berangkat ke Malaysia untuk kunjungan keluarga. Ternyata selama di Malaysia keadaan MTI aman-aman saja sehingga beliau kembali pulang ke kampong.

Keteguhan beliau memegang prinsip yang sudah diyakininya benar, terbukti mampu dipertahankannya sampai saat-saat terakhir, adalah luar biasa dan sangat dikagumi kawan maupun lawan, seolah-olah sebuah pilar yang begitu kokoh yang tidak goyah sedikitpun diterpa oleh ombak dan angin badai. Tapi yang sangat mengagumkan adalah sikap beliau dalam menghadapi persoalan begitu tenang dan tidak menampakkan sedikitpun gelisah apalagi kepanikan.

Dan sikap beliau ini hampir sesuai dengan bunyi pepatah; “anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu”. Namun anehnya orang yang pernah menjadi “musuh” nya, ternyata tidak sakit hati ataupun dendam, karena di kemudian hari secara lahiriah tetap bertegur sapa.  Kemampuan seperti ini tidak ditemui pada tokoh lain yang sezaman dengan beliau, entah kalau dikemudian hari akan muncul Pak Datuk atau Aminuddin – Aminuddin baru. Wallahu a’lam bish Shawab.

Setelahnya selesainya permasalahan di MTI, suasana pendidikan di MTI kembali berjalan normal dan lancar. Bahkan murid pun bertambah banyak seolah-olah sekolah tidak pernah mengalami suatu persoalan. Dan Pembangunan Asrama MTI yang telah dirancang sebelumnya tetap dilanjutkan dengan memanfaatkan dana dari donatur, yang tidak terpengaruh dengan konflik di dalam kepengurusan. Kepengurusan MTI dibawah kepemimpinan Pak Datuk tetap didukung oleh Pengurus lama yang masih tetap bertahan.

Ada satu hal yang menarik di balik problematika yang terjadi di kepengurusan MTI Kapau yang jarang diketahui orang, yaitu usaha fihak ketiga yang sakit hati ingin mengadu domba antara H.Hashuda Dt Majo Nan Tuo (ketua I) dengan A. Dt Bagindo Basa (ketua III), padahal semua orang tahu hubungan antara kedua orang ini sejak dahulu bersahabat dekat atau “konco palangkin”, sehingga hubungan kedua sahabat sempat kurang baik. Meskipun H.Hashuda Dt Majo Nan Tuo tidak lagi menjadi pengurus MTI Kapau setelah kejadian ini. Tapi secara pribadi di kemudian hari hubungan mereka tetap baik. Hal ini terbukti ketika Pak Datuk pada pertengahan tahun 90 an berkunjung ke Jakarta dan singgah ke Restoran Roda Group milik H.Hashuda Dt Majo Nan Tuo, ternyata beliau menyambut Pak Datuk dengan sangat baik tanpa adanya persoalan sebelumnya.

Di lain pihak sikap beliau yang tegas menimbulkan “ketakutan” bagi sebagian orang yang tidak paham, sehingga apabila diadakan suatu rapat dimana seharusnya beliau diundang untuk dimintai pendapat dan seterusnya, justru tidak diundang, istilah beliau “dikuliciak-an”. Padahal ini tidaklah beralasan, justru merugikan orang yang tidak mengundang tersebut, karena ilmu dan pengetahuan beliau terhadap pemecahan persoalan tidak jadi didapat. Sehingga banyak persoalan-persoalan nagari yang terkatung-katung, tapi lama kelamaan beliau juga yang dimohon untuk menyelesaikannya.

Pak Datuk sebagai bekas veteran pejuang kemerdekaan RI sudah selayaknya mendapatkan penghargaan berupa tunjangan di hari tuanya. Namun nasib baik belum berpihak kepadanya karena belum mendapat tunjangan dari negara, sedangkan teman-teman seperjuangan lainnya telah lebih dahulu mendapatkan Tuvet atau tunjangan veteran, bahkan ada yang minim peranannya dalam perjuangan atau tak ada telah lama mendapatkannya.

Pak Datuk tetap sabar meskipun dia telah cukup lama mengurus Tuvet. Terakhir teman seperjuangannya H. Sjamsuddin Zul atau pak Saud yang tinggal di Medan turut membantu mengurus Tuvet Pak Datuk dan berhasil, sehingga Pak Datuk bersyukur dan berterimakasih atas bantuan temannya tersebut.

Persoalan yang terkenal dan menghebohkan nagari adalah persoalan meruntuh pusako setelah Batagak Panghulu tahun 1996. Hal ini terjadi ketika Pucuak Bulek Suku Guci Pili yaitu A.Datuk Tandi Langik diruntuh pusakonya (Gelar Adat) oleh lima orang koleganya sendiri yang duduk di Kerapatan Ninik Mamak Enam Suku (Ninik Mamak Nan Baranam). Sedangkan Dt Tandilangik adalah pimpinan tertinggi Suku Guci Pili di nagari bersama lima suku lainnya (Cucu dari Pak Datuk menurut hukum adat / matriachart).

Datuk Bagindo Basa adalah orang tua yang sudah banyak pengetahuan adatnya selama puluhan tahun tidak pernah diundang untuk sekedar dimintai pendapat seputar masalah tersebut. Akhirnya persoalan ini berlarut-larut tidak pernah terselesaikan sampai lebih dari sepuluh tahun.

Persoalan ini muncul karena hal yang  sangat sederhana. Dimana ditengah rapat atau sidang Kerapatan di Balai Adat, terjadi perbedaan pendapat dan perdebatan yang berakhir dengan keluarnya Dt Tandi Langik sebagai pimpinan dari ruangan sidang. Hal ini dianggap oleh ninik mamak yang berlima sebagai “mahariak mahantam tanah”. Artinya sesuatu yang tidak dibolehkan dalam adat dilakukan oleh seorang penghulu atau pemimpin. Sehingga diadakanlah rapat oleh lima orang Ninik Mamak Nan Baranam, minus Dt.Tandilangik, dengan menghasilkan keputusan bahwa Pusako atau gelar adat Dt.Tandi langik runtuh.

Keputusan Ninik Mamak yang berlima ini ternyata menimbulkan kehebohan di nagari Kapau. Terjadi pro dan kontra di tengah masyarakat menyikapi keputusan ini karena keputusan seperti ini baru pertama kali terjadi. Terutama bagi yang paham tentang adat salingka nagari menganggap keputusan ini janggal karena Ninik Mamak Nan Baranam mempunyai kedudukan yang sama duduak samo randah, tagak samo tinggi, sehingga sebetulnya tidak dapat saling menjatuhkan hukuman menurut hukum adat lamo pusako usang. Sebagaimana biasa setiap keputusan adat di tingkat nagari diumumkan di masjid, maka keputusan ini pun diumumkan di tiga masjid yang ada di nagari Kapau.

Keputusan Ninik Mamak yang berlima mendapat penolakan dari persukuan Guci Pili sehingga timbul protes keras dari persukuan Guci Pili, supaya keputusan tersebut dicabut karena tidak sesuai dengan adat salingka nagari yang berlaku dan bertentangan dengan adagium adat “Maa adiaknyo nan marangkak dan maa kakaknyo nan baruban”, artinya tidak pernah ada terjadi keputusan seperti ini. Tapi Ninik Mamak yang berlima ini tak bergeming dan tetap pada keputusannya. Sehingga diambillah berbagai cara untuk menyelesaikan persoalan ini dengan mediasi dengan melibatkan perantauan dan sebagainya, atau di bawa ke aie nan janiah dan sayak nan landai. Tapi segala cara yang ditempuh tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Persoalan ini terkatung-katung sampai bertahun-tahun.

Kemudian dari itu setelah sekian lama segala upaya yang dilakukan tidak berhasil, dikirimlah surat kepada pangka tuo Guci Pili yaitu Pak Datuk, yang isinya meminta Ninik Mamak Guci Pili mewakili Dt Tandi Langik untuk duduk di Kerapatan Ninik Mamak Anam Suku. Pak Datuk membalas surat dari Ninik Mamak yang berlima yang isinya :

“…Surat saya ini adalah membalas surat saudara-saudara tertanggal 12 September 1999 yang isinya meminta wakil ninik mamak Guci Pili untuk duduk di Kerapatan Ninik Mamak VI Suku Nagari Kapau. Kami tidak akan mengirim wakil selain kami akan tetap mengirim Dt Tandi Langik langsung karena pusako Dt Tandi Langik tidak sumbiang dan tidak sakah.

Harap saudara baca kembali Piagam (Sumpah Satia) tahun 1955, dikuatkan lagi dengan Undang-Undang Nagari yang Saudara-saudara buat sendiri Nomor: 01/KAN-KP/NM/1997 tentang Peraturan Nagari Kapau tentang adat …, pada Bab II dinyatakan bahwa kepenghuluan itu tidak rusak atau tidak dapat dirusakkan berdasarkan pepatah alam Minangkabau: INDAK LAKANG DI PANEH, INDAK LAPUAK DI HUJAN, DIRANDAM INDAK BASAH, DIPANGGANG INDAK ANGUIH, DIBUBUIK INDAK MATI, DIASAK INDAK LAYUA” Kecuali kesalahannya sendiri, sebagai contoh: TALALAH TAKAJA, TAIKEK TAKABEK, TATANDO TABITI, TAPIJAK DI BARO ITAM TAPAK, TAPIJAK DI KAPUA PUTIAH TAPAK, maka pusako runtuh dengan sendirinya, dimana hal ini terkandung dalam Undang-Undang Duo Puluah ( 20 ).

Apakah Saudara-saudara mengerti maksud pepatah tersebut di atas, apabila tidak mengerti tanyakan kepada orang yang tahu. Kalau Saudara-saudara mengerti maka keputusan Saudara-saudara meruntuh atau merusak pusako Dt Tandi Langik, dengan sendirinya batal menurut Hukum Adat. Kalau kita teliti dengan pikiran yang jernih maka pusako saudara-saudara-lah yang runtuh karena melanggar Sumpah/Janji (Piagam tahun 1955).

Menurut adat, bahwa silang pendapat itu (bertukar buah pikiran) adalah masalah biasa. Sebagaimana kata pepatah: PINCALANG ANAK RANG TIKU, MANDAYUANG SAMBIE MANUNGKUIK, BASILANG KAYU DALAM TUNGKU, BAITU API MANGKO IDUIK. Ninik Mamak baalam laweh bapadang lapang, badama sasukek. Kalau terjadi beda pendapat batupang barasah, sarantak babandiang. Musti terjadi dakwa dan jawab, saksi dan bainat. Semuanya dikumpulkan kepada semacam Panitera dan Panitera menyerahkannya kepada Hakim. Maka Hakim lah yang memutuskan.

Ada lagi pepatah Minangkabau yang mengatakan: URANG MAKAH MAMBAO TARAJU, URANG BAGHDAD MAMBAO TALUA, TALUA DIMAKAN BULAN PUASO, RUMAH NAN BASANDI BATU, ADAT NAN BASANDI ALUA, ALUA ITULAH NAN KA GANTI RAJO.

Sekianlah semoga Saudara-saudara mencari jalan penyelesaiannya, KUSUIK BULU PARUAH MAISAI, KUSUIK KAPALO JANGKIE MAISAI. Dan dengan harapan Saudara-saudara dapat memakluminya…”.

                                                                                         Wassalam,

  1. Dt. Bagindo Basa

Namun surat tersebut tidak pernah ditindaklanjuti oleh Ninik Mamak yang Berlima. Mereka telah menunjukkan arogansi yang berlebihan sehingga nasehat dari orang tua yang telah lama makan asam garam masalah adat tidak pernah digubris sama sekali. Dan masalah ini menjadi berlarut-larut hingga Pak Datuk wafat, bahkan sampai tujuh tahun setelah Pak Datuk meninggal dunia.

Pada tahun 1997 Pak Datuk terserang stroke ringan terhadap tangan kirinya sehingga tidak dapat digerakkan. Setelah dirawat di RSUD Achmad Mochtar Bukittinggi selama 10 hari akhirnya beliau boleh pulang, dan stroke yang dialaminya berangsur-angsur sembuh.

Aktifitas beliau setelah mengalami stroke ringan lebih banyak mengurus MTI Kapau yang dilaksanakan sampai selama lebih kurang tiga tahun kemudian. Beliau memimpin kepengurusan MTI Kapau bersama kawan kawan yang sejalan terutama dengan H.M. Noer St Mangkuto dan H.D.S Mangkuto dengan aman dan tidak pernah lagi terjadi gejolak. Pada Tahun 1998 didirikanlah Yayasan MTI Kapau dengan Akta Notaris Yulfaisal, SH, dimana para pendirinya adalah: Aminuddin Dt.Bagindo Basa (Pak Datuk), H.Muhammad Noer Amin (Mantan Kepala SMP 1 Bukittinggi), H.Daiman Sutan Mangkuto (Pengusaha Rumah Makan Rindu Alam), H.Firdaus Efendi, AH (Mantan Kajati Riau), Ummi Aisyah dan Ibuk Sabidar. Ketua Umum Yayasan dipercayakan kepada Aminuddin Dt. Bagindo Basa yang tetap beliau pegang sampai akhir hayat.

Selama kepemimpinan beliau di yayasan yang meskipun hanya dua tahun tapi telah mampu mengelola dan membawa perkembangan pendidikan yang menggembirakan di MTI Kapau, baik kemajuan sarana dan prasarana maupun dukungan terhadap proses pembelajaran yang terjadi di madrasah.

Kami pernah bertanya kepada Pak Datuk pada suatu saat, seandainya beliau sudah tidak ada, bagaimana dengan nasib MTI Kapau siapa lagi yang akan mempertahankan dan membelanya sebagaimana beliau telah mempertahankannya selama ini. Dengan raut muka yang tidak menunjukkan kekhawatiran dan penuh optimisme beliau berkata “bagaimana pengurus nantinya maka dia yang akan menjadikan MTI mau dibawa kemana”.

Sepintas lalu apabila kita renungkan, kalimat yang beliau lontarkan seolah-olah tidak peduli apakah MTI ini akan mati atau tetap hidup. Tetapi ada makna yang tersirat yang terkandung di dalam kalimat tersebut. Ada suatu keyakinan dan kepercayaan bahwa MTI Kapau akan tetap eksis dan diakui keberadaannya. Padahal pada waktu itu beliau tidak pernah menyiapkan kader dalam menyambut tongkat estafet MTI Kapau sekiranya beliau atau para penerus yang juga sudah tua-tua sudah tidak ada. Dengan keyakinan beliau itulah Alhamdulillah sampai sekarang MTI Kapau tetap ada dan berjalan sebagaimana biasa.

Tantangan demi tantangan serta ujian yang dihadapinya dalam tugas kemasyarakatan dapat diibaratkan Galodo Yang Datang dari Hilir, artinya sesuatu kejadian yang menimpa datangnya tidak disangka-sangka, sehingga pepatah member tamsil demikian. Mana ada orang yang mengira galodo (banjir bandang) datangnya dari hilir. Tapi bagi Pak Datuk sesuatu yang tidak disangka-sangka itu mampu beliau hadapi dengan tenang dan secara cerdik mampu pula dihindarinya, seolah-olah beliau sudah siap kapan pun sehingga apabila suatu bencana yang datang dapat dihindari sehingga tidak menimpa dirinya.

{ 15 }

Akhir Dari Perjuangan

Ditandatanganinya Peraturan Pemerintah (PP) No. 84/1999 tentang Perubahan Batas Wilayah Kota Bukittinggi atau Perluasan Kota Bukittinggi ke sebagaian daerah Kabupaten Agam oleh Presiden B.J Habibie, ternyata telah menyebabkan terjadinya pro dan kontra di tengah masyarakat. Nagari Kapau dan Gadut adalah dua nagari di kecamatan Tilatang Kamang yang termasuk ke dalam rencana perluasan kota tersebut. Wacana perluasan kota ini sudah muncul sejak zaman Orde Baru dan wakil rakyat kedua daerah telah setuju.

Pak Datuk adalah seorang yang mempunyai pendirian yang teguh dan kokoh dan  mempunyai analisa yang tajam. Tidak ada maksud dan tujuan untuk kepentingan pribadinya. dari seluruh perjuangan yang dilakukan semasa hidupnya tapi hanya keikhlasan. Kalau dia berorientasi materi sejak dahulu tentu dia sudah kaya tapi ternyata beliau tetap bersahaja.

Pro dan kontra PP No. 84 Tahun 1999 tidak luput dari perhatiannya. Beliau pernah sebagai anggota Dewan di Kabupaten Agam selama lima tahun, dan telah dirasakannya suka duka bagaimana banyaknya persoalan yang dihadapi masyarakat Agam. Terutama daerah Agam Tuo atau Agam Timur, sejak dari dahulu adalah daerah yang minus sumber daya alam. Banyak terjadi berbagai macam konflik diantaranya persoalan pasar serikat dengan Bukittinggi, Air minum sungai tanang, sengketa masyarakat Jambak dan Sianok. Itu adalah sebagian kecil persoalan yang ada.

Pak Datuk berfikir menurut kacamata beliau, bahwa dengan telah keluarnya PP No. 84 Tahun 1999 maka itu patut disyukuri, karena akan mendatangkan kebaikan bagi kedua daerah, baik bagi Kabupaten Agam maupun bagi Kota Bukittinggi yang juga merupakan kota Rang Agam. Kenapa demikian karena daerah yang masuk ke dalam perluasan kota akan mengalami kemajuan secara jangka panjang. Dan bagi Kabupaten Agam akan mengurangi beban pembangunannya karena sebagian daerah Agam Timur merupakan daerah minus itu tadi.

Bagi kota Bukittinggi sebagai daerah yang standar ekonominya agak lebih tinggi akan lebih mudah dalam menata kota untuk lebih baik. Kalau ada yang mengatakan banyak kerugiannya bagi Agam, maka timbul pertanyaan dimana kerugiannya, toh dari segi ekonomi masyarakat Agam selalu mencari nafkah dan berusaha di Bukittinggi.

Dari segi sejarah dan sosiologis dan bahkan adat, kota Bukittinggi sejak nenek moyang merupakan Koto Rang Agam artinya tempat berbelanja dan berdagang bagi masyarakat Agam dan merupakan wilayah Agam  atau bagian dari Agam sejak dari dahulu kala. Baru setelah Indonesia merdeka dibuatlah batas-batas wilayah secara administratif pemerintahan. Maka timbul pertanyaan mengapa dipertentangkan?. Istilah yang terkenal dari Pak Datuk adalah “Angek tadah daripado cawan”. Karena memang pada awalnya yang menentang PP No. 84 tahun 1999 adalah rakyat diluar wilayah yang masuk perluasan kota itu sendiri.

Polemik tentang PP No. 84 tahun 1999 ini terus terjadi dan tidak berkesudahan. Sehingga semua orang berbicara mulai rakyat jelata sampai pejabat angkat bicara sehingga tidak ada lagi ujung pangkalnya. Semua media cetak maupun elektronik sering memberitakan dan membahasnya. Tapi tidak ada titik temu yang dapat diterima akal sehat.

Sebenarnya Pak Datuk sebagai seorang tokoh tua, ninik mamak dan juga cerdik pandai tidak mau terlalu memikirkan persoalan ini. Namun hati kecilnya tetap tidak merasa tenang dan ingin ikut memikirkannya. Pada suatu malam beliau menerima surat undangan dari kantor Camat Tilatang Kamang yang isinya Pertemuan Silaturrahmi dengan anggota DPRD Kabupaten Agam serta dengar pendapat mengenai PP No. 84 tahun 1999 yang akan dilaksanakan pada tanggal 18 Mei 2000, bertempat di Pakan Kamis. Setelah membaca surat undangan dari awal sampai akhir, semangat muda beliau kembali timbul dan berniat untuk hadir dalam pertemuan tersebut.

Pada pagi itu, hari Kamis berangkatlah beliau dengan angkutan desa / angdes menuju ke Pakan Kamis guna menghadiri pertemuan dengan anggota DPRD Agam. Pada waktu itu para pemuka masyarakat Kapau lainnya juga banyak yang hadir. Dalam pertemuan tersebut berbicaralah beliau dalam kapasitasnya sebagai tokoh masyarakat dan tokoh adat dengan pemikiran yang objektif. Kemudian berbicara pula tokoh lainnya. Ada dua pendapat yang berbeda mengenai persoalan yang dibahas pada waktu itu.

Tidak sebagaimana biasanya Pak Datuk merasa pusing beberapa saat setelah beliau berbicara, dan bersandar di kursi. Orang lain menganggap beliau tertidur, tapi sebenarnya dalam suatu pertemuan apapun beliau tidak pernah tertidur. Beberapa saat kemudian peserta rapat lainnya baru sadar bahwa beliau sudah tidak sadarkan diri. Pak Datuk langsung dibawa ke ruangan Camat dan dibaringkan di atas kursi roda menunggu petugas kesehatan. Setelah petugas kesehatan datang dan saya sendiri baru datang beberapa menit kemudian, disepakatilah supaya beliau dibawa ke UGD Rumah Sakit Dr. Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi.

Setelah sampai di RSAM beliau langsung dibawa ke ruang UGD untuk diambil tindakan selanjutnya. Beberapa saat kemudian setelah dilakukan tindakan medis beliau dimasukkan ke ruangan neuro atau syaraf, oleh karena ruangan syaraf penuh maka beliau dititipkan di ruangan jantung. Selama di ruangan jantung beliau masih koma, maka dokter menyarankan supaya beliau dirawat di ICCU. Pada hari Sabtu beliau dibawa ke ICCU untuk dirawat secara intensif.

Pada hari Senin tanggal 22 Mei 2000 jam 04.30 Pak Datuk menghembuskan nafas terakhir menghadap Sang Khalik. Pejuang Yang Tak Dikenang akhirnya berpulang ke Rahmatullah. Pagi itu juga jenazah itu dibawa ke Koto Panjang Hilir Kapau untuk disemayamkan. Berita meninggalnya Pak Dotor dengan cepat menyebar, para karib kerabat, handai taulan dan ratusan orang berbondong-bondong ke rumah tempat jenazah untuk memberikan doa dan melepas Almarhum untuk terakhir kalinya.

Tokoh Masyarakat, Teman-teman Almarhum, Kepala Desa se nagari Kapau, Camat Tilatang Kamang Sofyan Djas, S.Sos dan Staf, hingga Walikota Bukittinggi Drs. H.Djufri serta Ketua DPRD H.Zainal Djis, SH juga sempat hadir melayat Almarhum dan membacakan doa sebelum jenazah dimandikan. Menjelang shalat zuhur setelah dishalatkan di Masjid Jami’k Pandam Basasak beliau dimakamkan dengan selamat di dekat gerbang masjid dalam komplek MTI Kapau berdekatan dengan pusara kakaknya Rasjidin Kari Bagindo. Pada bulan Juni Bupati Agam Drs. H.Aristo Munandar, Wakil Bupati dan Kakandepag Agam Drs. H.Helmi Khatib, juga ikut menyempatkan diri menjenguk keluarga Almarhum di Koto Panjang Hilir Kapau.

Wafatnya Almarhum merupakan kehilangan terbesar bagi nagari Kapau. Tidak berlebihan kiranya apabila ada yang mengatakan telah padam pelita yang selama ini menerangi dalam kegelapan. Sebab sejak muda beliau telah berjuang dan sampai detik kehidupannya di dunia masih sempat menyumbangkan pemikiran yang konstruktif.

Dan besar kemungkinan sesudah beliau wafat  tidak ada lagi tokoh yang mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap nagari dan masyarakat, menyamai beliau dalam segi kemampuan multidimensi. Figur yang tidak banyak dipublikasikan dan tidak banyak dibicarakan sesudahnya tapi hasil peranan yang telah dilakukannya telah dirasakan banyak pihak.

{ 16 }

Daftar Riwayat Hidup

Nama/Gelar  :  AMINUDDIN DATUK BAGINDO BASA (Engku/Angku Dotor/Inyiak

Indo bin Haji Abbas bin Ahmad Chatib bin Sabar Datuk Rajo Labiah

(Laras Kapau)

Lahir               :  Koto Panjang Hilir Kapau, Ahad, 10 Agustus 1924

Wafat              :  Bukittinggi, Senin 22 Mei 2000 / 18 Shafar 1421 H  Jam 04.30 WIB

Usia                :  ± 76 Tahun

Agama           :  Islam

Suku              :  Guci

Anak dari       :  Haji Abbas (Ayah) dan Sada (Ibu)

Anak ke-        :  4 (empat) dari 7 (tujuh) bersaudara

Tadjuddin, Rasjidin, Bariah, Aminuddin, Alm, Naimah dan Ali

Amran

Keluarga        :  Nama Isteri : 1. Hj. Fatimah (Alm Th.2011)

  1. Husnuddaiyar

Nama anak-anak dari perkawinan dengan isteri :

Pertama :    1. Zulhasni

  1. Nurtety
  2. Jusrizal (Alm)
  3. Novayenti (Alm)

Kedua :       1. Zulfadli

Anak tiri : Yetmen (Alm), Masna, Masni, Mastati, dan Eliza

Riwayat Pendidikan

  1. Sekolah Desa (Volkschool) dan Sekolah Sambungan (Gubernemen), 1931-1935 dan berijazah
  1. Sekolah Tarbiyah Islamiyah PERTI, 1936-1943 dan berijazah

Riwayat Dalam Kehidupan Organisasi

  1. 1942-1943  Anggota Kepanduan Al Anshar di Bukittinggi
  2. 1944-1957  Ketua Dewan Penerangan Perti kenagarian Kapau
  3. 1957-1966  Ketua DPAC Partai Islam Perti Kecamatan Tilatang Kamang
  4. 1967-1969  Ketua Umum DPC Partai Islam Perti Kabupaten Agam
  5. 1969-1971  Wakil Ketua II DPC Partai Islam Perti Kabupaten Agam
  6. 1969-1971  Wakil Ketua IV DPD Partai Islam Perti Sumatera Barat
  7. 1988-1998  Ketua III Pengurus Madrasah Tarbiyah Islamiyah(MTI) Kapau
  1. 1998-2000  Ketua Umum Yayasan MTI Kapau

Riwayat Pekerjaan

  1. 1943-1945  Anggota Heiho Rikugun Bioyin Butai 10499 di Bukittinggi
  2. 1946-1947  Anggota Lasjmi (Lasykar Muslimin Indonesia) pangkat Letnan Dua kesehatan
  3. 1949-1950  Komandan PMT (Pasukan Mobil Teras) di Kapau Front Agam
  4. 1948-1949  Ketua BPNK (Badan Pengawal Nagari dan Kota)
  5. 1951-1960  Staf Wali Nagari Kapau
  6. 1958-1961  Ketua Keamanan / Komandan WBD (Wajib Bela Desa)
  7. 1961-1966  Pamong Urusan Adat Nagari Kapau
  8. 1964-1965  Pjs Wali Nagari Kapau
  9. 1967-1971  Anggota DPRD-GR Kabupaten Agam
  10. 1975-1971  Wali Nagari Kapau
  1. 1955-2000  Penghulu Suku Guci dengan Gelar Datuk Bagindo Basa

Riwayat Perjuangan

  1. Januari 1947- Mei 1947 Clash I di Padang sebagai anggota Lasjmi
  2. Februari 1949- Desember 1950 Clash II sebagai Komandan PMT (Pasukan Mobil Teras) di Front Agam

Riwayat lain-lain

  1. 1945-1946 Melatih seluruh pemuda  Kapau secara militer menghadapi perjuangan revolusi menghadapi Belanda
  2. 1957 Membentuk Pasukan Saga Djantan (PSD) di Kapau dengan pengakuan oleh Kolonel M. Dahlan Djambek
  3. 18 Mei 1998 Satu dari enam orang pendiri Yayasan MTI Kapau
  4. Ulama Tarbiyah Agam, NPAT: 01010000065
  5. Anggota Veteran Pejuang Kemerdekaan RI, NPV: 3.000.331, Piagam No.Skep/956/VIII/1981

Keahlian : 1. Tukang Jam   2. Kemasyarakatan

Pemikiran Tentang Adat dan Kemasyarakatan Antara Lain :

  • Adat di Minangkabau adolah Adat Basandi Syarak syarak basandi Kitabullah. Ma nan dahulu rumah daripado sandi (tamsil) jawabnyo adolah: Dahulu rumah, artinyo rumah ditagakkan dahulu baru sandi datang kamudian. Baa mako kini sandi dahulu daripado rumah? Itu adolah rumah ala Barat. Dahulu sabalun agamo (baca Islam) masuak ka Minangkabau, nan ado di Minangkabau adolah adat Jahiliyah, bajudi, manyabuang ayam dan lain-lain. Sasudah agamo datang adat jahiliyah tadi diluruihkan. Rumah nan masih tungkang tengkeng (alun data) tadi akhianyo dipadata oleh sandi nan datang kamudian tadi. Sahinggo disinanlah dinamokan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.
  • Adat nan tapakai di nagari Kapau adat Koto Pili (Kalarasan Koto Piliang) terkenal dengan istilah Lareh Nan Bunta, nan diwariskan oleh Datuak Katumangguangan. Tapi di dalam praktek terpakai istilah Koto Piliang inyo antah, Bodi Chaniago Inyo bukan, artinya: Adat Koto Piliang tidak sepenuhnya dilaksanakan karena bisa berubah sesuai dengan kesepakatan bersama “kato dahulu batapati, kato kudian kato bacari”. Kato mufakat bukan diambil dengan suara terbanyak tapi dengan suaro bulek (Aklamasi). Bila tidak tercapai kata mufakat maka batupang barasah, sarantak babandiang dan bajanjang naiak batanggo turun.
  • Panghulu di Minangkabau dipiliah manuruik Alua jo patuik sarato mungkin. Apobilo kurang salah satu diantaro tigo syarat, mako panghulu itu tidak sah.
  • Salah satu sifat seorang panghulu adolah Baalam laweh, bapadang lapang, badama sasukek.
  • Panghulu/Niniak Mamak di dalam suatu musyawarah tidak berani menyokong atau membantah pandapek urang lain, itulah nan dikatokan Niniak Ngangak. Sifat seoramg panghulu pandai/berani mangecek/bicara. Pandai mangaluakan pandapek dan pandai badebat mempertahankan kebenaran dalam sidang atau rapek.
  • Di dalam adat indak dikenal hukuman Skorsing. Apobilo ado Pangulu/Niniak Mamak na  basalah, mako ditimbang kadar kasalahannyo: Runtuah baamba, Kuma basasah, baabu bagantiak. Hukuman skorsing dikenal umpamo anak bola nan malanggar disiplin. Apobilo Niniak Mamak dihukum skorsing mako itu indak manuruik adat. Diumpamokan baju nan kuma atau kumuah, kamudian disimpan di dalam lamari salamo anam bulan misalnyo, apokoh baju bisa barasiah dengan sandirinyo?, sudah tantu indak.
  • Hukuman meruntuh/merusak pusako sudah dihapuskan sejak tahun 1955 (terkenal dengan Sumpah Satia), kecuali kesalahan yang dibuat niniak mamak itu sendiri, umpamo Talalah Takaja, Taikek Takabek, Tatando Tabiti, Tapijak di baro itam tapak, tapijak di kapua putiah tapak, nan tarangkum dalam Undang-Undang 20. Sumpah satia atau Piagam tahun 1955 nan manyabuik bahaso; “Kepenghuluan itu indak lakang di paneh, indak lapuak di hujan , dirandam indak basah, dipanggang indak hanguih, dibubuik indak mati, diasak indak layua”. Apabila dilanggar maka merupakan pengkhianatan terhadap Sumpah/janji atau Piagam tahun 1955.
  • Menurut adat, silang pandapek atau batuka buah pikiran adolah biaso dalam kehidupan. Sabagai kato papatah: Pincalang anak rang Tiku, badayuang sambia manungkuik, basilang kayu dalam tungku, disinan api makonyo iduik. Niniak mamak baalam laweh bapadang lapang badama sasukek. Bilo tajadi beda pandapek mako batupang barasah sarantak babandiang. Terjadi dakwa dan jawab, saksi dan bainat. Semua dikumpul dan diserahkan kepada Panitera, Panitera menyerahkan ke Hakim, maka Hakim lah yang memutuskan.
  • Di dalam manyalasaikan masalah dalam nagari: karuah mak janiah, kusuik mak salasai, handaklah dibao ka aie nan janiah ka sayak nan landai. Dalam adat dikenal dengan: apobilo kusuik kapalo mako jangkia maisai, apobilo kusuik bulu paruah maisai. Jangkie jo paruah adalah tamsilan suatu badan yang berwenang yang akan mendamaikan. Apabila hal itu diabaikan mako basuo kato papatah: Maa adiaknyo nan marangkak dan maa kakaknyo nan bauban artinya tidak pernah dilakukan dan terpakai dalam adat nagari.
  • Silang sangketo di dalam nagari nan indak salasai oleh pihak katigo (secara damai) mako dibao ka dalam Sidang Nagari dan Hakim lah yang berhak mamutuih parkaro berdasarkan Saksi dan Bainat.
  • Apobilo tajadi silang sangketo dalam pucuak pimpinan adat dalam nagari, tidak ado jalan nan bisa ditampuah melainkan dengan mengumpulkan Urang Ampek Jinih di suatu Sidang yaitu: Alim Ulama, Niniak Mamak, Cadiak Pandai (termasuk pemuda) dan Bundo Kanduang. Keputusan dalam sidang Ampek Jinih itulah yang berwenang membentuk suatu Dewan (Yudikatif) atau Badan yang dipilih berdasarkan Kecakapan serta Pengalaman dan memenuhi unsur Ampek Jinih. Badan tersebut berhak dan berkewajiban menyelesaikan perkara yang bersangkutan.
  • Seseorang atau calon Ninik Mamak kehilangan haknya menjadi ninik mamak, apabila terjadi Gugua di muluik larak di tangkai, artinya ada kesediaannya menyerahkan pusako kepada orang lain di dalam kaumnya, diluar hukum Alua di dalam adat. Begitu juga orang yang melanggar Undang-Undang Nan Duo Puluah. Umpama Tapijak di baro hitam tapak, tapijak di kapua putiah tapak, maka haknya menuntut pusako menjadi hilang.
  • Pimpinan adat di nagari berhak dan berkewajiban untuk menyelidiki, menindaklanjuti apabila ada diantara anak kemenakan nan Babuek sumbang salah dan sebagainya di lingkungan kekuasaannya dan menghukum apabila bersalah menurut undang-undang yang terpakai di nagari Kapau.
  • Adalah sah diangkatnya seorang Niniak Mamak nan Indak bakapak barembai, artinyo pudua indak badunsanak dan bakamanakan, dan tungkek “dipasisikkan”  di pinggang. Artinya tidak mempunyai panungkek.
  • Pimpinan adat harus aktif dan kreatif dalam mandanga, mancaliak setiap kejadian dan informasi yang sampai ke telinganya tentang tiap-tiap persoalan masyarakat, kemudian menindaklanjuti persoalan tersebut, mendamaikan yang bertikai, menghukum yang bersalah dan melindungi yang tidak bersalah.
  • Keputusan adat yang apabila memberatkan diri sendiri termasuk keputusan terhadap ninik mamak itu sendiri adalah keputusan hara kiri atau keputusan bunuh diri. Di dalam adat boleh diterapkan barek bakisa ka nan ringan, jauah bakisa ka nan ampie.
  • Persoalan yang timbul ke permukaan haruslah ibarat maremoh dalam sarang, maelo banang dari tapuang, banang indak putuih tapuang indak taserak. Indak manapuak aie di dulang, indak maangok kalua badan, indak maimbauan busuak ka langau dan ibarat mambuhua indak mangasan.
  • Di dalam organisasi tidak dikenal istilah Siriah suruik ka gagangnyo, pinang baliak ka tampuaknyo. Istilah itu terpakai apobilo ado Sumando taganyuik. Di dalam organisasi mustahil siriah suruik ka gagangnyo … betapapun canggihnya kepandaian manusia.
  • Istilah atau hukum utang piutang dan pagang gadai di dalam adat harus dipahami. Utang babaie, piutang batarimo dan dalam pagang gadai gadai pulangnyo batabuih si penggadai berhak menerima kembali barang yang tergadai sesudah ditebus ke si pemagang dan si pemagang berhak menerima tebusan dan berkewajiban menyerahkan barang yang dipagang.
  • Ada tiga macam sifat dan kebiasaan manusia  yang perlu kita jauhi dalam kehidupan sehari-hari : Yang pertama: Hiduik tangguang jan dipakai. Hiduik tangguang adolah ibarat kayu gadang tangguang bungkuak, ka bajak indak amuah, ka singka kok ampang amek, ka dapua kasudahannyo. Yang kedua: Urang nan salalu mancari kasalahan urang lain sedangkan kesalahan sendiri tidak nampak. Ibarat kato papatah: Si Manan upeh si kauik, baju rancak nan dipakainyo, kaciak kuman di baliak lauik, salalu tampak di matonyo, tapi arang kancah laweh tangango, tajarang di tungku ampek, gadang gajah di bawah mato, jarang bana nan diliek.Yang ketiga: Urang nan indak maharagoi dan indak tahu batarimo kasih kapado pangabdian pendahulu-pendahulunyo. Bak kato papatah: Indak ado sikiie nan babungo, antah kok daun tapak leman, jarang manusia nan mambaleh guno, antah kok tinam-tinaman.
  • Harato pusako indak dimakan bali, malainkan: rumah gadang katirihan, maik tabujua di tangah rumah, anak gadih alun balaki.
  • Seorang pemimpin harus memenuhi kriteria sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi SAW, yaitu : Shiddiq; Benar, Amanah; dipercayai, Tabligh; menyampaikan dan Fathanah; pintar atau pandai.
  • Orang yang Gadang daripado bumi dan tinggi daripado langik, ialah Nan anggan mancontoh ka nan sudah, indak amuah maambiak tuah ka nan manang, sagan baguru ka nan tahu, malu batanyo ka nan pandai. Suatu saat akan tiba kesulitan pada dirinya, sehingga: tacucuak hiduang baru baraie mato, diatai mako diatun, dirasai makonyo santun.

Ringkasan Pengalaman Semasa Hidup, beberapa diantaranya :

  • Mulai aktif di organisasi PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) yang kemudia menjadi Partai Islam PERTI. Yaitu aktif sebagai anggota kepanduan Al-Anshar (1942), Pemuda Perti Kapau, Dewan Penerangan Perti Kapau, Ketua Anak Cabang Partai Perti Tilatang Kamang, Ketua umum Partai Perti Agam, Ketua IV DPD Partai Perti Sumbar dan Majelis Pertimbangan Cabang (MPC) Tarbiyah Agam: 1942-2000
  • Menjadi anggota tentara HEIHO setelah lulus tes pada tahun 1943 dan ditugaskan di Rumah Saki Militer Jepang yang berlokasi di RSUD Dr. Achmad Mochtar sekarang. Dibawah pimpinan Panglima Tentara Jepang se-Sumatera Letnan Jenderal Watanabe Murikata yang bermarkas di Kota Bukittinggi: 1943-1945
  • Terjun ke kancah Revolusi Kemerdekaan melawan Belanda sebagai anggota Lasjkar Muslimin Indonesia (Lasjmi) dan ikut perang gerilya di Padang dengan markasnya di Belimbing Kuranji : 1946-1947
  • Sebagai Komandan Pasukan Mobil Teras (PMT) di Kapau dengan anggota tetap atau reguler sebanyak 70 orang  dan anggota cadangan lebih kurang 250 orang. Dan pelatih para anggota tersebut secara militer: 1947-1949
  • Mengerahkan dan memimpin lebih kurang 300 (tiga ratus) orang yang terdiri dari pemuda Kapau menuju Patanangan untuk membebaskan Inyiak Adjo – Wali Perang Kapau yang ditahan oleh Oknum CPM dan berhasil dibebaskan: 1949
  • Berhasil menangkap otak pelaku pembakaran SD No.2 Pandam Basasak Kapau, berkat laporan intelijen beliau: 1949
  • Memperkirakan akan adanya serangan serdadu Belanda ke pasar Kapau yang ditandai oleh pesawat capung yang terbang rendah. Penduduk segera diberitahu agar mengungsi pada hari yang diperkirakan. Perkiraan itu terbukti dengan datangnya serbuan pasukan Belanda. Lebih kurang 30 orang pemuda pejuang gugur yang tida mau mengungsi yang berasal dari daerah Tilatang Kamang : 1949
  • Membangun kembali benteng pertahanan dan tempat perlindungan, menghadapi perang gerilya menghadapi Belanda di Ladang Laweh-Kapau : 1948
  • Menghadiri Kongres Perti ke 8 tahun 1955 di Jakarta. Beliau mengabarkan kepada Buya H.Siradjuddin Abbas akan adanya rencama sejumlah pihak yang ingin menggoyang kedudukannya sebagai pimpinan partai. Keretakan partai dapat diantisipasi : Agustus 1955
  • Menyeberang ke pihak Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) dan menjalin persahabatan dengan Komandan Kompi B Letnan Satu TNI Djamil di Pos APRI Balai Panjang : Desember 1958
  • Menjaga keberadaan di pihak PRRI dan pihak APRI tanpa menimbulkan kecurigaan pada kedua belah pihak : 1958-1961
  • Berperanan penting sebagai penghubung antara tentara atau anggota PRRI yang akan menyerah / meletakkan senjata kepada APRI dengan jaminan keamanan tanpa adanya prosedur yang sulit : 1959-1961
  • Membebaskan banyak orang tanpa syarat yang sempat ditahan oleh APRI di Balai Panjang bila tidak mempunyai kesalahan yang berat : 1959-1961
  • Ikut serta dalam operasi militer APRI (pasukan kompi Lettu Djamil) tanpa menimbulkan kontak senjata yang berarti dengan pasukan PRRI (sebelum operasi dimulai beliau mengirim pesan supaya pasukan PRRI terlebih dahulu segera mengundurkan diri) : 1958-1959
  • Negosiator permasalahan Banda Tangah yang dihadiri oleh Kolonel Poniman : 1962
  • Menemui Letnan Kolonel M.Dahlan Djambek dalam upaya meminta persenjataan dan amunisi dalam rangka perjuangan menghadapi Belanda, atas perintah beliau persenjataan diperoleh di Tanjung Alam : 1949
  • Menemui Pak Dahlan Djambek guna meminta pengakuan beliau terhadap pembentukan Pasukan Saga Djantan (PSD) di nagari Kapau dan PSD diakui oleh Pak Dahlan : Juli 1957
  • Berhasil menemukan empat karung padi hasil curian sekelompok maling di Lungguk Muto IV Angkek. Hasil curian tersebut berasal dari sebuah lumbung padi di Kapau : 1960
  • Negosiator permintaan air bandar /kali dari wilayah Kapau oleh sejumlah pemuka masyarakat nagari tetangga, Koto Tangah Tilatang Kamang. Perundingan berakhir dengan damai tapi permintaan tersebut tidak dikabulkan dengan argumentasi masuk akal dari beliau : 1961
  • Berupaya meredakan kemarahan dan melunakkan hati beliau Inyik Candung (Syech Sulaiman Ar-Rasuly) terhadap Buya H.Siradjuddin Abbas dengan penjelasan yang dapat diterima oleh beliau Inyik Candung : 1962
  • Melakukan konsolidasi dan koordinasi serta mengisi kekosongan pimpinan (Ketua Umum) partai Perti Kabupaten Agam akibat perpecahan di tubuh partai, dengan mengakui kepemimpinan pusat partai dengan ketuanya Rusli Halil : 1967
  • Terpilih menjadi anggota DPRD-GR Kabupaten Agam, satu dari dua orang utusan Perti Agam : 1967-1971
  • Anggota Panitia Khusus (Pansus) DPRD-GR untuk masalah: pasar Serikat Bukittingi dan Agam, pembagian PDAM Sungai Tanang dengan Bukittinggi dan Masalah nagari Jambak dan Sianok dan lain-lain : 1969
  • Mempelopori kegiatan Study Tour (studi banding) Anggota DPRD-GR Agam ke Medan dalam masa reses, rombongan disambut oleh Walikota Medan Drs. Sjoerkani, meskipun kegiatan pada awalnya ditentang oleh beberapa anggota dewan dan media masa : 1969
  • Inisiator Lobi Politik kepada anggota DPRD-GR Agam dan berhasil, sehingga mengantarkan Drs. Fahmy Rasjad menjadi Sekda Agam : 1968
  • Melakukan lobi dan meyakinkan para Ulama Perti di Agam supaya dapat mengajak kader Perti untuk berafiliasi ke Golkar dalam menyalurkan hak politiknya. Terkenal istilah beliau “sakandang lai sabaun indak” apabila bergabung dengan partai yang sehaluan tapi berbeda prinsip : 1970
  • Terpilih sebagai Wali Nagari Kapau melalui pemilihan langsung yang demokratis, dengan memperoleh 521 suara mengalahkan dua orang saingan yaitu Abdul Wahab Intan Batuah (Guru/Pak Gaya) dengan 500 suara dan Slamat S.M yang mengumpulkan 176 suara : 1975
  • Diangkat menjadi Wali Nagari Kapau definitif, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Barat Prof. Drs. Harun Zain, No. 167/GSB/1975 tanggal 13 September 1975
  • Mengikuti Rapat Kerja (Raker) Wali Nagari se Sumatera Barat di kantor Gubernur. Memohon kepada Bpk Harun Zain sebagai Gubernur agar para peserta Raker di Balai Prajurit yang fasilitasnya kurang memadai dipindahkan. Permohonan ini dikabulkan segera oleh Gubernur dengan memindahkan semua peserta di Balai Prajurit  ke Hotel Tiga-Tiga : 1976
  • Menjadikan 12 Jorong yang ada di Kapau menjadi Desa, sehingga penduduk nagari Kapau yang hanya berpenduduk lebih kurang 3000 jiwa memiliki 12 Desa, meskipun pada awalnya ditentang oleh beberapa orang masyarakat : 1980
  • Mempelopori pembangunan SD Inpres di Parak Maru : 1977
  • Menyambut Gubernur Ir Azwar Anas dan Rombongan yang pulang dari kunjungan kerja ke Kamang. Gubernur dan Rombongan disambut dengan meriah di Pandam Basasak –Kapau. Meskipun tidak masuk dalam protokoler namun Bapak Gubernur dengan senang hati bersedia melihat ruangan Sekolah Agama atau MTI dimana lantainya masih dari tanah. Gubernur membantu 100 zak semen : 1977
  • Membangun jembatan di jorong Koto Panalok dan jembatan Paninjauan  melalui dana Bantuan Desa (Bandes) 1978/1979 serta memperbaiki seluruh jalan jorong di nagari Kapau yang rusak : 1978-1979
  • Mempelopori Bandes gabungan bersama dengan H.Hashuda Dt Madjo Nan Tuo. Dana  Bandes tersebut diambil dari 12 jorong untuk pembangunan gedung kantor Wali Nagari dan Balai Adat serta ditambah dana dari perantau (donatur) Bapak H. Hashuda Dt. Madjo Nan Tuo : 1978
  • Memprakarsai dan melaksanakan Alek Nagari Batagak Pangulu, Peresmian Balai Adat dan Peresmian Listrik Masuk Desa yang dilakukan oleh Gubernur Sumbar Ir Azar Anas : 1980
  • Memprakarsai Angkutan Pedesaan MERSI di Kapau, dengan konsekuensi timbul konflik perebutan lahan antara sopir MERSI dengan sopir PPMT (Perusahaan Pangangkutan Motor Kamang) yang menyebabkan satu orang korban tewas : 1981
  • Memberikan sumbangan fikiran dan tenaga untuk membangun kembali Masjid Jami’k Pandam Basasak – Kapau 1986-1988 dan pembangunan kembali Surau Sirah Koto Panjang Hilir – Kapau : 1998
  • Mempertahankan MTI Kapau dari upaya gagal total dari orang yang ingin memfitnah kepemimpinan yang sah di Kepengurusan MTI Kapau dan juga Pimpinan Madrasah : 1990
  • Membangun kampus baru MTI Kapau bersama pengurus yang lain secara bertahap dengan memanfaatkan dana dari donatur : 1990-2000
  • Menyumbangkan pemikiran dan jalan keluar dalam hal penyelesaian sengketa secara damai antara pengurus KAN dengan pemilik tanah (suku jambak) bekas tunggul pohon Katapiang. Di atas tanah tersebut direncanakan akan dibangun Puskesmas Kapau. Atas prakarsa A. Dt.Bagindo Basa, maka hasil musyawarah menetapkan bahwa tanah tersebut diakui milik kaum Pasukuan Jambak : 1991
  • Memprakarsai hukum adat “Barek bakisa ka nan ringan, jauah bakisa ka nan ampie” dalam hal pengangkatan penghulu/ ninik mamak secara bersama-sama. Menurut kebiasaan adat lamo pusako usang biayanya satu ekor kerbau untuk satu orang ninik mamak kaum diganti dengan bentuk iuran yang disepakati Kerapatan Adat Nagari, kecuali apabila peresmiannya di rumah sendiri. Sehingga hal ini menjadi preseden yang baik pada pengangkatan pangulu berikutnya : 1980
  • Mendirikan Yayasan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Kapau bersama dengan lima orang pendiri lainnya: Haji Muhammad Noer Amin, haji Daiman Sutan Mangkuto, Haji Firdaus Efendi A.H, Ny. Aisyah dan Ny. Sabidar : 18 Mei 1998
  • Ketua Umum Yayasan MTI Kapau, 18 Mei 1998 s/d 22 Mei 2000

Penutup

Kepergian Papa ke Rahmatullah pada hari Senin 22 Mei 2000 diluar dugaan saya, karena tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan berupa firasat apapun. Pada malam Kamis tanggal 17 Mei 2000 kira-kira sehabis maghrib di rumah yang beralamat di dusun Padang Cantiang Kapau, kami yang kebetulan hanya Papa dan saya yang berada di rumah sedangkan mak sedang berada di Malaysia ada keperluan keluarga.

Pada waktu itu datanglah dua orang yang mengantarkan surat undangan dengan sepeda motor, siapa orangnya saya sudah lupa dan saya sendiri yang menerima surat tersebut yang disodorkannya melalui jendela. Surat tersebut ditujukan kepada Papa A. Dt Bagindo Basa dan langsung saya berikan ke tangan Papa yang ketika itu sedang duduk menonton televisi.

Setelah beliau baca ternyata surat itu berasal dari Camat Tilatang Kamang untuk besoknya hari Kamis tanggal 18 Mei 2000, waktunya sekitar jam 14.00 WIB dengan acara Pertemuan Anggota DPRD Kabupaten Agam dengan Pemerintahan dan Masyarakat Kapau sehubungan dengar pendapat perihal PP No.84 Tahun 1999 tentang perubahan batas wilayah kota Bukittinggi ke sebagian wilayah Kabupaten Agam, termasuk Kapau.

Sekilas saya lihat ekspresi serius dari wajah Papa dan dengan bersemangat beliau menyatakan hadir dalam pertemuan tersebut. Saya sendiri sudah menduga apabila berbicara tentang PP tersebut beliau bersemangat sekali mendukung pelaksanaannya dengan alasan-alasan yang dapat diterima akal sehat. Dalam kacamata Papa penolakan sebagian orang terhadap  PP tersebut patut disesalkan karena proses politik sudah ditempuh dengan diterimanya rencana perluasan kota Bukittinggi oleh DPRD Kabupaten Agam sebelum masa reformasi. Untuk sekedar diketahui beliau sangat antusias mengikuti perkembangan perluasan kota melalui koran dan media lainnya. Sehingga beliau sempat menggunting berita tersebut  dari surat kabar untuk beliau jadikan kliping.

Beliau menduga penolakan tersebut disuarakan oleh orang-orang yang tinggal di daerah diluar perluasan kota, yang beliau sebut “angek tadah daripado cawan”. Disamping itu ketika Papa pernah menjadi anggota DPRD-GR Kabupaten Agam tahun 1967-1971, beliau tahu persis potensi Kabupaten Agam terutama daerah Agam Timur atau Agam Tuo adalah daerah minus Sumber Daya Alam. Maka apabila terjadi perluasan kota akan potensial menjadi daerah maju dari segi peningkatan ekonomi masyarakat.

Alasan sebagian orang bahwa pengaruh negatif yang tidak sesuai dengan adat istiadat akan mudah masuk ditepis oleh beliau dengan alasan; “Semua dapat dibentengi dengan kelembagaan adat nagari yang kuat dan sistem kemasyarakatan yang sudah ada turun temurun, bukan yang ada seperti sekarang ini. Dan ini bisa terbentuk hanya oleh adanya kemauan dari masyarakat Kapau dan pemimpinnya”.

Hari Kamis pagi kira-kira jam 09.00 WIB tanggal 18 Mei 2000, Dengan bersepeda Papa pergi ke rumah Kepala Desa Sidang Induring guna membayar rekening listrik. Setelah  membayar rekening listrik beliau kembali pulang, beberapa puluh meter menjelang sampai kembali ke rumah mendadak beliau pusing kepala seolah bumi berputar. Setiba di rumah beliau menceritakan kejadian ini kepada saya. Saya menyarankan apabila beliau pergi rapat nanti ke Pakan Kamis janganlah bersepeda dan beliau menyetujui. Sedikitpun tidak ada firasat saya akan terjadi sesuatu terhadap beliau. Setelah itu saya berangkat ke Bukittinggi untuk mengikuti Kursus atau Les Bahasa Inggris di BCC Bukittinggi dan pulang kira-kira jam 16.00 WIB.

Sekitar jam 14.00 WIB Papa sampai di Pakan Kamis guna menghadiri pertemuan. Kira-kira acara dimulai jam 14 30 atau 15.00 WIB. Hadir pada saat itu utusan dari kenagarian Kapau yaitu tiga orang Kepala Desa dan beberapa Tokoh masyarakat Kapau lainnya. Dalam acara tersebut beliau mendapat kesempatan berbicara sebagai peserta dan mengemukakan pendapat yang merupakan pendirian beliau mendukung pemberlakuan PP.No.84 Tahun 1999 dengan memberikan alasan-alasan yang relevan dan bertujuan demi kemajuan masyarakat.

Begitulah, kemudian ada pula peserta lain yang ikut berbicara menolak PP.No.84 Tahun 1999 dengan alasan-alannya pula. Sehingga dalam pertemuan itu terjadi perdebatan dengan argumentasi masing-masing dan bertahan dengan sikap yang diyakininya benar, sehingga tidak menghasilkan titik temu dan keputusan yang diharapkan.

Dengan kondisi seperti itu barangkali merupakan memberatkan fikiran bagi Papa. Sebenarnya beliau telah terbiasa menghadapi kondisi dan situasi seperti itu, tapi sayang Papa kebetulan mengidap penyakit darah tinggi, sehingga beliau merasakan pusing dan bersandar di kursi seolah-olah tertidur. Tak seorang pun hadirin yang menyadari karena semua menduga beliau tertidur, padahal dalam setiap rapat apapun beliau tidak pernah mengantuk apalagi tertidur. Setelah rapat usai barulah hadirin menyadari bahwa beliau sebenarnya pingsan atau tak sadarkan diri, sehingga beliau dibawa ke ruangan Camat.

Saya pulang dari Les Bahasa Inggris pada sore hari kira-kira pukul 16.00 (4 sore). Sekitar setengah jam kemudian datang sebuah mobil kijang memasuki halaman rumah, waktu itu saya sedang menyapu sampah di halaman samping rumah. Seorang penumpang keluar dari dalam mobil dan ternyata adalah uni Emi Iskandar yang langsung mengabarkan bahwa Papa dalam keadaan tidak sadar dan sekarang masih berada di kantor Camat. Saya juga agak terkejut tapi tanpa pikir panjang dan setelah ganti pakaian saya segera menumpang ke mobil dan kembali menuju kantor Camat di Pakan Kamis.

Setiba di kantor Camat saya mendapati Papa terbaring di kursi sofa ruangan Camat dan sedang dikelilingi pak Camat dan beberapa pegawai dan orang-orang lainnya. Melihat kedatangan saya beliau masih sempat mengucapkan kata-kata tapi tidak jelas karena lidah beliau nampaknya sudah kelu. Saya tidak mampu harus berbuat apa, tanpa banyak bicara saya langsung meminta supaya beliau segera di bawa ke rumah sakit umum.

Papa dibawa dengan mobil ambulan langsung ke bagian UGD Rumah Sakit Umum Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi. Setelah diperiksa di UGD diketahui bahwa beliau terserang Stroke yang cukup parah dan tekanan darah mencapai 280. Keadaan beliau antara sadar dan tidak, namun beberapa menit kemudian tidak sadarkan diri. Dari UGD beliau dipindahkan ke ruangan penyakit syaraf, karena ruangan penuh maka akhirnya dibawa ke ruangan penyakit jantung dan dirawat selama dua malam. Karena tidak mengalami perkembangan pada hari Sabtu sore beliau dipindahkan ke ruangan ICCU. Selama berada di ICCU kondisi beliau tetap tidak sadar atau koma.

Pukul 04.30 pagi Senin 22 Mei 2000 Papa menghembuskan nafas terakhir menghadap Allah Swt. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raaji’uun. Meninggalnya Papa menjadi beban berat bagi saya tapi saya menyadari sepenuhnya bahwa ini Kehendak Allah Swt, di luar kemampuan kita sebagai makhluk-Nya untuk menolak takdir yang sudah digariskan. Dan saya tidak ingin mengaitkan dengan sebab akibat yang dicari-cari yang justru kan mengurangi keimanan kita.

Tapi yang menjadi catatan penting bagi saya adalah pendirian  beliau dalam suatu hal berdasarkan pemikiran yang matang. Mustahil beliau akan rela membawa masyarakat atau nagari ke dalam jurang kesulitan. Karena justru selama masa perjuangan fisik, Agresi Belanda dan PRRI beliau menjadi ujung tombak penyelamat nagari dan masyarakatnya dari kesulitan dan kehancuran. Semua itu diakui oleh kawan maupun lawan. Sangat sulit mencari orang yang mempunyai kemampuan seperti beliau, sehingga tidak berlebihanlah kiranya orang mengatakan: “Telah padam pelita di nagari Kapau”.

 

Penulis

Sumber

 

Darah Pahlawan

Senin, 16 Juni 2014, 17:00 WIB

Letnan Jenderal Jamin Gintings layak dijadikan pahlawan nasional. Keputusannya menyerang sejumlah pos militer Belanda pada agresi militer kedua, mengangkat marwah Republik di mata internasional. Streteginya menyerang Belanda di Tanah Karo, membuat Belanda tidak bisa masuk ke wilayah Aceh.

Juni 1949. Seorang lelaki ber kulit sawo matang dengan pos tur tinggi sekitar 175 cm, me natap jauh dari atas pegu nung an di Tanah Karo. Mengenakan seragam militer berwarna krem, pakaian itu terlihat agak kebesaran dari ukuran tubuhnya yang ramping. Di kerah bajunya, ter semat pangkat mayor tentara. Lelaki serdadu berusia 28 tahun itu adalah Mayor Jamin Ginting Suka.

Ia kemudian lebih senang menying kat namanya dengan ejaan: Jamin Gin tings. Dia adalah Komandan Resimen IV atau dikenal juga dengan sebutan Re simen Rimba Raya (R3) yang merupakan bagian dari Divisi X Tentara Republik Indonesia (TRI). Setahun sebelumnya, ia adalah seorang perwira menengah dengan pangkat letnan kolonel.

Namun pada 1 Oktober 1948, Presi den Sukarno membuat keputusan reor ganisasi dan rasionalisasi TRI. Seluruh perwira diturunkan pangkatnya satu tingkat. Maka, Letkol Jamin Gintings pun menjadi Mayor Jamin Gintings. “Saya tidak peduli dengan pangkat dan jabatan. Yang paling penting, saya harus mengusir penjajah dari Bumi Indo nesia,” ungkap Jamin saat menghadapi pe nurunan pangkatnya.

Pak Kores, julukan nama yang diberikan anak buahnya, memang dike nal sebagai komandan lapangan. Kata kores, merupakan akronim dari koman dan resimen. (Pada era saat ini disebut Danmen). Sebagai komandan resimen, Jamin Gintings terkejut ketika menda patkan kabar pada 19 Desember 1948.

Pasukan militer Belanda telah me nyerang dan menduduki ibukota Re publik di Yogyakarta. Bukan itu saja, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta bersama sejumlah petinggi Republik telah ditawan tentara Belanda.

“Para prajurit, bintara dan perwira tentara Republik. Melalui siaran radio dari Yogyakarta, ternyata Belanda telah mengingkari janjinya dengan mendu duki Yogyakarta. Presiden dan Wapres kita, telah ditawan Belanda,” kata Jamin dalam pidatonya di halaman Markas Resimen IV di Macan Kumbang, pada 25 Desember 1948.

“Kita juga dapat kabar bahwa Sektor III di Dairi di bawah pimpinan Mayor Selamat Ginting sudah diserang Belanda. Saya belum dapat perintah dari atasan langsung di Divisi X. Tetapi demi keselamatan Negara Republik Indonesia, saya bertanggung jawab untuk mulai menyerang Belanda,” ujar Jamin dengan bersemangat.

Selaku Komandan Resimen IV, ia memerintahkan untuk menyerang dae rah-daerah yang diduduki Belanda, se belum Belanda menyerang lebih da hulu. “Pertama, kita duduki Marding ding dan Lau Baleng!” teriak Jamin dengan nada berapi-api, seperti tertulis dalam buku ‘Bukit Kadir’ oleh Jamin Gintings (1921- 1974), editor Payung Bangun, penerbit Elpres, cetakan kedua, tahun 2009.

Maka, berangkatlah anggota pasuk an Batalyon XIV dari asramanya di Ku ta cane ke Lau Baleng dengan berjalan ka ki melewati Lawe Sigala-gala, Lawe Dua, Lawe Perbunga, dan terus hingga ke Kampung Kalimantan. Pertempuran he bat sudah terjadi pada 27 Desember 1948.

Begitu juga pasukan dari Batalyon XV berangkat menuju Mardingding pa da 28 Desember 1948. Di bukit itulah me reka menyerang pos militer Belanda yang berada di bawahnya.

Namun de ngan bantuan panser dan mortir, pa suk an Belanda menggempur lereng bukit. Tujuh anak buah Jamin Gintings, gugur dalam pertempuran sengit itu. Salah satunya adalah Letnan Kadir Saragih. Bukit itu kemudian dinamakan sebagai Bukit Kadir.

Namun, Belanda juga kehilangan delapan prajuritnya dan dua orang yang berhasil ditawan, yakni Van Werven dan De Ruyter. Dalam buku Hans Post, Bed wongen Banjir, Medan, halaman 180-181, dalam terjemahannya berbunyi: Belanda mengakui Resimen Infanteri 5-10 mendapatkan serangan dari gerom bolan yang mengadakan infiltrasi di sebelah barat laut Kabanjahe. Bahkan sampai jarak 40 meter dari pos militer Belanda. Kampung Juhar, dekat Tiga binanga diduduki kaum ekstrimis.

Setelah pertempuran Mardingding, ia pun mulai mengubah pola gerilya. Jika pada masa agresi militer pertama mene rapkan pola gerakan mundur teratur sambil bertempur, maka pada agresi kedua, pasukannya melancarkan gerakan maju teratur. Ia memompa semangat pasukannya sambil menyanyi kan lagulagu perjuangan asal Tanah Karo.

Sergap konvoi
Sejak Januari 1949, dimulai taktik gerilya. Diawali dengan serangan pada 20 Januari 1949 menyergap iring-iringan konvoi pasukan Belanda di Tigakicat, dekat kampung Berastepu. Kemudian menyergap konvoi Belanda di jalan menuju kampung Kutabuluh Berteng. Satu panser dan truk militer Belanda rusak, enam orang serdadu Belanda tewas, dan beberapa lainnya mengalami luka parah akibat tembakan pasukan Jamin Gintings.

Sampai April 1949. Tercatat, terjadi pertempuran di Lau Solu dan Lau Mulgap yang menewaskan 13 personil militer Belanda. Tidak kurang dari 17 kali serangan terhadap konvoi pasukan Belanda dari Medan menuju Brastagi. “Serangan-serangan pasukan Jamin Gintings berpengaruh terhadap jalannya perundingan Indonesia dan Belanda, sehingga meningkatkan posisi tawar Indonesia,” kata Suprayitno, doktor sejarah dari Universitas Sumatra Utara (USU) di Medan, Senin (9/6/2014).

Begitulah, sejak Agresi Militer I dan II, pasukan Resimen IV yang dipimpin Jamin Gintings terus-menerus terlibat pertempuran dengan Belanda dari Medan Area, Tanah Karo, Tanah Alas, sampai Lang kat. Pasukannya telah ber operasi ra tusan kilometer jauhnya dari pang kal an pasukan untuk bertempur di Mar ding ding, Lau Baleng, Lau Mulgap, Buluh Pan cur, Tiga Bi nanga, Kineppen, Kinang kong, Sem ba he, Sibolangit, Kutu Buluh, Kuta Buluh Berteng, Barus Jahe, Tanjung Barus, Kuta Tengah, Lau Solu, Lau Ka pur, dan lain-lain.

Bagi Belanda, Jalan Lau Baleng dan Mardingding disebut sebagai ‘doden weg’ yang artinya jalan maut. Mereka menya takan sebagai pertempuran tujuh bulan yang berat.

Maut menjadi tamu di Tanah Karo. Sehingga mempengaruhi psikologi tentara Belanda akibat se rangan dadak an serta ranjau darat yang ditanam pasukan Resimen IV.

Dalam periode perang kemerdekaan itulah pasukan Resimen IV bergerilya di Tanah Alas, Tanah Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, dan Serdang Hulu. Gerakan pasukan Jamin Gintings itu membuk tikan kemampuannya menjaga keutuhan dan eksistensi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Serangan militer pasukannya ber hasil menyelamatkan marwah Republik Indonesia di mata dunia internasional. Serangan militer pasukannya, mampu menghalau gerak maju pasukan Belanda ke Tanah Alas,” ujar Usman Pelly, guru besar antropologo sosial budaya dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Selasa (10/6/2014).

Berdasarkan Perjanjian Renville, Januari 1948, Tanah Karo sampai per batasan Tanah Alas (Kutacane) dinyata kan sebagai daerah kekuasaan pasukan Belanda. Sehingga, markas Resimen IV Tanah Karo yang dipimpin Jamin Gintings harus hijrah ke Kutacane.

Akibatnya, daerah Aceh tengah ter bu ka untuk diserang langsung oleh ten tara Belanda. Jamin pun meng ubah strategi politik dan menjadikan Tanah Karo tetap sebagai daerah perta hanan terdepan bagi Aceh. Caranya, dengan menyerang langsung benteng pertahanan Belanda dan menciptakan perang gerilya.

Pasukan Belanda akhirnya berputarputar antara Brastagi-Mardingding-Lau Belang-Kaban Jahe dalam menghadapi serangan strategi gerilya Jamin Gintings dan mengalami kerugian sangat besar.

Sehingga Belanda tidak mampu meng gerakkan pasukannya sampai menjamah Aceh Tengah (Kutacane). “Dengan stra tegi tersebut, Aceh dapat dimanfaatkan sebagai daerah modal Republik Indo nesia,” ujar Usman Pelly.

Akibatnya, selama sekitar delapan bulan, sejak Januari hingga Agustus 1949, Belanda tertahan di Tanah Karo dan terpaksa melupakan serangan ke Ta nah Alas (Kutacane) sampai penyerah an kedaulatan pada 1950.

Strategi dan perjuangan Jamin Gintings, menurut Suprayitno, membuk tikan kepada dunia bahwa pemerintah Republik Indonesia tetap eksis walaupun Yogyakarta dan Pematang Siantar sebagai pusat pemerintahan RI di Jawa dan Sumatra diduduki Belanda. Sekali pun Sukarno dan Hatta pun ditawan Belanda.

Upaya Belanda menghapus RI dan Tentara Republik Indonesia tidak pernah berhasil sampai akhirnya permusuhan Indonesia dan Belanda pun diselesaikan melalui jalur perundingan. Dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 23 Agustus 1949, Provinsi Aceh secara utuh dapat didaftarkan sebagai salah satu negara bagian Republik Indonesia Serikat (RIS).

Putra kedua dari Lantak Ginting Su ka itu lahir di Desa Suka, Tanah Karo, 12 Januari 1921. Ia berhasil menye la mat kan Aceh sebagai daerah modal, sekali gus menyelamatkan martabat Re publik Indonesia di dunia internasional. “Di sinilah, antara lain letak kepah la wanan Jamin Gintings secara nasional. Iya layak dinobatkan sebagai pahlawan na sional,” cetus sejarawan Suprayitno.

oleh : Slamet Ginting

Kolonel Zulkifli Lubis

Catatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Eks Kolonel Zulkifli Lubis yang merupakan perwira intelijen Indonesia. Sumber: bin.go.id)

Eks Kolonel Zulkifli Lubis yang merupakan perwira intelijen Indonesia. Sumber: bin.go.id)

Membaca buku Kolonel Misterius di Tengah Pergolakan TNI AD yang ditulis Peter Kasenda (Kompas, 2012) ini, saya mendapat sedikit pencerahan tentang Kolonel Zulkifli Lubis. Siapa dia?

Tidak banyak literatur yang mengupas sosok Zulkifli. Sejak saya duduk di bangku SMP sampai SMA, saya hanya mendapati namanya sebagai dedengkot pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera.

Sejujurnya, meski tidak membenarkan pemberontakan ini, saya bersimpati kepada tokoh-tokohnya, termasuk Zulkifli Lubis. Namanya tenggelam dari panggung sejarah setelah PRRI dapat dipatahkan TNI.  

Namun, ada sisi lain yang menarik sang kolonel. Ia besar di Kampung Tamiang, tak jauh dari Bukit Tor Sijanggut, Sumut. Sesepuh TNI-AD Jenderal besar A.H. Nasution pernah menyebut bahwa Zulkifli Lubis pernah ditempa pendidikan gaya intel Jepang (A.H. Nasution, 1984, 310-311).

Saat pergolakan internal di tubuh Angkatan Darat, Zulkifli Lubis terlibat perselisihan dengan Nasution. Ini ironis. Sebab, keduanya masih sepupu. Nasution berasal dari Kampung Huta Pungkut, yang hanya dipisahkan Bukit Tor Sijanggut dari kampung halaman Zulkifli.

Sepanjang karirnya di militer, Zulkifli Lubis pernah menjabat sebagai wakil KSAD dan pejabat KSAD. Namun, tak ada yang lebih menghebohkan ketika dia (saat itu wakil KSAD) dan Kolonel A.E. Kawilarang memerintahkan penahanan terhadap Menlu Roeslan Abdul Gani pada 16 Agustus 1956. Roeslan dituduh terlibat perkara korupsi yang dilakukan Lie Hok Thay (wakil direktur Percetakan Negara). Saat itu Roeslan hendak menghadiri konferensi tingkat tinggi mengenai pengambilan Terusan Suez oleh Mesir.

Namun, istri Roeslan keburu menelepon Perdana Menteri Ali Sostroamidjojo untuk memberitahukan penangkapan itu. Ali segera mengabarkan ke KSAD Nasution yang tidak tahu-menahu peristiwa tersebut. Kemudian, Nasution memerintahkan Garnizun Jakarta Mayor Djuchro untuk membebaskan Roeslan. Hari itu juga Roeslan bertolak menuju London (Kompas, 25 November 1987).

Karena memang ”musuhan”, Kolonel Zulkifli Lubis langsung menuding Ali Sostroamidjojo dan Nasution membantu dan melindungi kejahatan dengan meloloskan Roeslan dari penangkapan. Koran Indonesia Raya dan Pedoman langsung menyerang kebijakan Nasution.

Pada April 1957, Roeslan Abdul Gani dinyatakan terbukti bersalah karena menerima suap dan melanggar aturan (Ulf Sundhausen, Politik Militer Indonesia 1945-1967, 1986 : 177). Penangkapan itu lantas mendapat dukungan luas dari korps perwira TNI-AD.

Namun, perseteruan Zulkifli dan Nasution berlanjut. Ada kelompok perwira senior yang tergolong menentang pimpinan AD. Mereka adalah Kolonel Simbolon, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel A.E. Kawilarang, Letkol Warouw, dan Letkol Sumual.

Pada 11 Oktober 1956, ada desas-desus kudeta. Zulkifli Lubis dituding melakukan makar. Akhirnya, perpecahan itu menjadi nyata dengan diumumkannya Dewan Banteng di Sumatera dengan ketuanya, Letkol Achmad Husein. Mereka merebut pemerintahan sipil setempat. Inilah awal mula PRRI yang bisa disebut krisis politik besar saat itu.

Pemberontakan ini akhirnya dapat diatasi pemerintah dan pasukan TNI. Nama Zulkilfli Lubis hanya menyisakan tinta hitam. Namun, siapa pun tahu bahwa ia adalah orang yang gigih menentang komunis serta perilaku koruptif dan suap pejabat pada masanya. Ia pun dikenal sebagai muslim yang taat. Shalat wajib tak pernah ia tinggalkan.

Bersama tokoh PRRI seperti Sjarifuddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, dan Nasir, Kolonel Zulkifli Lubis menjalani karantina politik di Cipayung, Jawa Barat. Pada masa tuanya, Zulkifli menekuni wirausaha. Kegiatannya sehari-hari adalah bangun pagi pukul tiga, lalu shalat Tahajud dan berzikir hingga shalat Subuh. Setelah itu ia gerak badan dan berlanjut ke gerak pernapasan dengan berzikir.

Bekas kolonel AD itu sedikit sekali meninggalkan jejak saat aksi PRRI. Mungkinkah karena ia perwira intelijen ya yang akrab dengan kemisteriusan? Entahlah. Pada 23 Juni 1993, putra Sumut ini wafat dengan tenang. Meskipun pernah mewarnai pergolakan politik di Indonesia, Zulkifli Lubis diakui sebagai tokoh penting dalam sejarah kemerdekaan dan militer di tanah air. Buktinya, ia mendapat kehormatan dengan dimakamkan di TMP Dredet, Kabupaten Bogor.

Sidoarjo, 9 Februari 2013

Sumber : disini

Akhir Tragis Sang Penyelamat Republik

Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tanggal 30 September 1965 tidak terlepas dari melemahnya kekuatan Islamis dan semakin condongnya rezim Soekarno pada komunisme. Kesempatan besar itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Partai Komunis Indonesia untuk merebut tampuk kekuasaan dalam rangka mencengkeram Republik dengan paham atheisme dan komunisme.

Jauh sebelum memiliki kesempatan untuk memberontak secara nasional, PKI memiliki musuh yang tangguh, yakni kelompok yang membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia dan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PDRI dan PRRI) . Kami nukilkan secara utuh sejarahnya dari Majalah Suara Hidayatullah edisi November 2008.

***

PDRI terbentuk, ketimpangan antara daerah dan pusat malah mencolok. Pusat acuh tak acuh kepada daerah. Protes pun menjadi marak

Dalam untaian sejarah Indonesia, PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) dan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) tak bisa dipisah satu sama lain. Kedua peristiwa ini bagai mata rantai yang saling melengkapi.

PDRI dibentuk pada 19 Desember 1948 di Bukittingi, Sumatera Barat, oleh Syafruddin Prawiranegara. Sedang PRRI dicetuskan 10 tahun kemudian, tepatnya tanggal 15 Pebruari 1958, di Padang, Sumatera Barat, oleh Ahmad Husein. Syafruddin sendiri kemudian diangkat sebagai Perdana Menteri dalam pemerintahan yang baru ini.

Ihwal terbentuknya PDRI bermula ketika Belanda melancarkan agresi kedua dengan menduduki ibukota negara yang saat itu berkedudukan di Yogyakarta. Ketika itu, Belanda juga menawan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Beberapa jam sebelum ditawan, Soekarno sempat menyurati Syafruddin selaku Menteri Kemakmuran RI yang saat itu sedang menjalankan tugas di Bukittinggi, Sumatera Barat. Surat itu berisi mandat kepada Syafruddin agar segera membentuk PDRI. Tanpa ada hambatan, sehari setelah itu, pemerintahan darurat terbentuk.

Perjalanan PDRI selanjutnya jelas tak mulus. Syafruddin dan kawan-kawan terus diburu Belanda yang tak senang dengan berdirinya pemerintahan baru. Roda pemerintahan terpaksa digerakkan dengan cara bergerilya di hutan-hutan Sumatera Barat.

Upaya Syafruddin menyelamatkan bangsa dari ketiadaan pemerintahan boleh dikata berhasil. Melalui pemancar radio di Koto Tinggi, PDRI telah membukakan mata internasional untuk mengakui kedaulatan RI.

Agresi militer Belanda berhenti. Soekarno dan Hatta dibebaskan. PBB mengakui kedaulatan Indonesia.

Seiring keberhasilan ini, cerita tentang PDRI juga ditutup dengan happy anding yang mengharu-biru. Setelah dijemput oleh Muhammad Natsir ke Payakumbuh, Syafruddin berangkat ke Yogyakarta untuk mengembalikan mandat pemerintahan kepada Presiden Soekarno.

Di Lapangan Koto Kaciak, keberangkatan Syafruddin dilepas dengan tangis haru ribuan masyarakat dan para pejuang yang telah berbulan-bulan keluar masuk hutan demi menyelamatkan PDRI. Selama berada di hutan, mereka mengandalkan budi baik masyarakat yang kerap mengirimi mereka nasi bungkus untuk menunjang hidup.

Sejarawan Dr Mestika Zed menyatakan, negara dan pemerintahan Indonesia tidak akan ada tanpa PDRI. “PDRI adalah pemerintah darurat yang dipimpin Syafruddin Prawiranegara sebagai bentuk kesuksesan orang daerah menyelamatkan negara dari ancaman disintegrasi bangsa dan kembali menyerahkan tampuk kekuasaan setelah tugasnya selesai.” kata Mestika.

Pengembalian mandat PDRI oleh Syafruddin kepada Soekarno ternyata bukan awal bagi terwujudnya pemerintahan yang sesuai dengan cita-cita proklamasi. Sebaliknya, ketimpangan pembangunan antara pusat dan daerah kian menganga.

Ketika Presiden Soekarno menggulirkan proyek pembangunan Tugu Monas serta berhala-berhala lain di Jakarta, rakyat di daerah, baik di Jawa maupun di luar Jawa, justru kian dibelenggu oleh kemiskinan, kelaparan, dan didera penyakit tukak dan cacing tambang.
Akibat ketimpangan itu, gelombang ketidakpuasan di daerah mulai membesar. Di Bukittinggi, bekas ibukota PDRI, misalnya, untuk pertamakali terjadi unjuk rasa yang diikuti 10 ribu orang. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan “Demontrasi Nasi Bungkus”.

Istilah “Nasi Bungkus” menggambarkan simbol bahwa rakyatlah yang dulu mendukung tentara dengan logistik sehingga tetap bisa mempertahankan PDRI hingga bangsa ini bisa terselamatkan.

Berawal dari Dewan Banteng

Bersamaan dengan kian memuncaknya protes atas ketimpangan pembangunan wilayah pusat dan daerah, pada Desember 1956 berdirilah Dewan Banteng di Sumatera Tengah, Dewan Gajah di Sumatera Utara, dan Dewan Garuda di Sumatera Selatan.

Bermunculannya dewan-dewan itu merupakan wujud ketidakpuasan daerah kepada pemerintah pusat atas penciutan struktur militer dan kian diberi tempatnya PKI di pemerintahan. Saat itu Soekarno dinilai lebih condong ke “kiri“.

Menurut Kahin (1979), Resimen 6 Devisi IX Banteng sebelumnya merupakan pasukan terbaik di Sumatera. PRRI kala itu menunjuk Ahmad Husein sebagai panglima pasukan ini.
Namun, nasib Divisi Banteng menjadi kucar-kacir ketika pemerintah Soekarno melaksanakan penyerderhanaan struktur militer secara nasional.

Kemudian, perwira Akademi Militer Hukum di Jakarta, Jusuf Nur dan Djamhuri Djamin, pengusaha Ramawi Izhar, serta Badar Gafar dari pusat pendidikan infanteri, berencana menggelar reuni mantan Divisi Banteng, baik yang masih aktif maupun yang tidak.

Rencana reuni dimatangkan dalam dua kali pertemuan. Pertama, di Jakarta pada 21 September 1956. Kedua, di Padang, Sumatera Barat, pada 11 Oktober 1956.

Reuni akhirnya terlaksana di Padang tanggal 20 hingga 24 Nopember 1956. Reuni ini membahas masalah politik dan sosial ekonomi rakyat di Sumatera Tengah.

Reuni dihadiri sekitar 612 perwira aktif dan pensiunan. Reuni membuat sejumlah rekomendasi, yakni perbaikan masalah kepimpinan negara secara progresif dan radikal, perbaikan kabinet yang telah dimasuki unsur komunis, penyelesaian perpecahan di tubuh Angkatan Darat, pemberian otonomi seluas-luasnya kepada Sumatera Tengah, serta menghapuskan birokrasi sentralistik. Rekomendasi ini dinamakan tuntutan Dewan Banteng.

Selain itu dibentuk pula dewan yang bertugas menindaklanjuti dan memperjuangkan hasil reuni ini. Dewan tersebut bernama Dewan Banteng, terdiri dari unsur militer, pemerintah daerah, alim ulama, dan pemuka adat. Jumlahnya ada 17 orang, mengacu pada semangat proklamasi 17 Agustus 45.

Tetapi oleh PKI dan sebagian tokoh PNI, rumusan perjuangan Dewan Banteng itu dicap sebagai pemberontakan. Ahmad Husein, ketua Dewan Banteng, langsung membantah tuduhan ini. Ia berpidato di depan corong Radio Republik Indonesia Padang, mengutarakan bahwa perjuangan Dewan Banteng bukan untuk memberontak, justru untuk membela keutuhan Republik Indonesia dan menegakan konstitusi.

Dewan Banteng menilai Soekarno telah mengkhianati konstitusi dengan membubarkan konstituante. Soekarno juga dikecam karena kian memihak kepada komunis. Puncaknya adalah mundurnya Bung Hatta sebagai Wakil Presiden RI pada 1 Desember 1956. Ia tidak setuju dengan cara Soekarno mengatasi keadaan negara.

Sayangnya, peristiwa itu tak membuat Soekarno mengoreksi sikapnya. Malah, aksi pelemparan granat pada malam 30 Nopember 1957, di saat Soekarno menghadiri ulang tahun sekolah Cikini, tempat anaknya bersekolah, dijadikan alasan untuk menangkapi lawan-lawan politiknya dan mengeluarkan Dekrit Presdien 5 Juli 1959. Dekrit ini berisi permintaan agar konstituante hasil Pemilu 1955 dibubarkan.

Pasca peristiwa Cikini, Jakarta menjadi bara api yang setiap saat siap membakar para lawan politik Soekarno, terlebih bagi siapa saja yang sejak awal telah menentang keberadaan PKI. Surat kabar yang menjadi corong PKI seperti Harian Rakyat, Warta Bhakti, Bintang Timur dan Harian Pemuda menuding sejumlah tokoh politik dari partai Masyumi dikait-kaitkan dengan peristiwa Cikini. Mereka kemudian diteror dan diancam akan dihabisi.

Rumah Mohammad Rum sempat dikepung massa. Untunglah Rum dan keluarganya selamat. Demikian juga rumah Natsir. Para politisi dari partai Masyumi merasa tidak aman lagi tinggal di Jakarta. Satu demi satu mereka ‘hijrah’ ke daerah. Bahkan, Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo, politisi Partai Sosialis Indonesia (PSI), turut hijrah ke Padang.

Jadi, kedatangan Muhammad Natsir, Syafruddin Prawiranegara, dan Burhanuddin Harahap ke Padang sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan terbentuknya Dewan Banteng atau berbagai gerakan protes yang sedang marak di daerah.

“Pak Natsir dan sejumlah tokoh Masyumi murni mengungsi ke daerah untuk menyelamatkan diri dari aksi penculikan,” ungkap Dt Tankabasaran, pengawal Natsir pada waktu itu.

Namun, Soekarno tidak peduli. Para tokoh Masyumi tetap dianggap ikut memberontak.

Pemberontakan Setengah Hati

Tokoh Masyumi mampu meredam keinginan masyarakat untuk memisahkan diri dari NKRI. Namun, Soekarno tetap menilainya sebagai pemberontak.

Gagasan melawan Soekarno yang dituduh kian condong pada PKI semakin menguat ketika para tokoh militer dan politisi sipil mengadakan rapat rahasia di Sungai Dareh, Sumatera Barat. Rapat rahasia itu berlangsung dalam dua putaran.

Putaran pertama tanggal 8 Januari 1958, dihadiri tokoh-tokoh militer plus seorang politisi sipil Soemitro Djojohadikoesoemo. Rapat putaran pertama ini penuh semangat ‘kemarahan’ kepada pemerintah pusat. Bahkan, sempat terlontar beberapa kali ancaman akan memisahkan diri dari NKRI dan mendirikan negara Sumatera jika pemerintah pusat tak mau berbenah.

Untunglah, dalam rapat kedua tanggal 10 Januari 1958, tokoh sipil seperti Muhammad Natsir, Syafruddin Prawiranegara, dan Boerhanuddin Harahap, bisa meredam keinginan itu. Pertemuan tertutup yang disebut rapat rahasia Sungai Dareh itu cuma menyempurnakan susunan pengurus Dewan Perjuangan.

Sebulan setelah rapat rahasia berlangsung, tepatnya tanggal 10 Pebruari 1958, Ahmad Husein, selaku Ketua Dewan Perjuangan, menyampaikan ultimatum kepada pemerintahan Soekarno melalui Radio Republik Indonesia Padang. Ultimatum yang disebut Piagam Perjuangan ini berisi 8 poin tuntutan. Intinya, menuntut agar dalam waktu 5 x 24 jam sejak diumumkannya ultimatum ini, presiden segara membubarkan Kabinet Djuanda.

Tuntutan lainnya, pemerintah harus membentuk Zaken Kabinet Nasional yang jujur dan bersih dari unsur-unsur PKI. Kemudian, Soekarno harus memberi dukungan kepada Zaken Kabinet, dan Hatta bersama Hamengku Buwono harus diberi mandat untuk bertugas di Zaken Kabinet ini.

Jika ternyata Soekarno enggan memenuhi tuntutan ini dan tidak memberikan kesempatan kepada Zaken Kabinet untuk bekerja, maka Dewan Perjuangan menyatakan terbebas dari kewajiban taat kepada Soekarno sebagai kepala negara.

Tak ada satu kalimat pun dalam ultimatum yang menyatakan bakal memisahkan diri dari Republik Indonesia. Saat ditanya oleh Kapten Zaidin Bakry apa yang akan dilakukan Dewan Perjuangan ke depan, Husein sama sekali tak menjawab bakal mendirikan negera sendiri. Ia hanya menjawab, “Kita buat organisasi. Kita gertak Soekarno sampai kelak dia undang kita untuk membicarakan nasib bangsa ini.”

Namun, ultimatum yang hanya sekadar ”gertakan sambal” itu tidak membuahkan hasil. Esok harinya, 11 Februari 1958, di Jakarta, Djuanda mengumumkan menolak ultimatum Dewan Perjuangan. Bahkan, ia memerintahkan KSAD untuk memecat Letkol Ahmad Husein dan Kolonel Simbolon dari kemiliteran, membekukan Komando Daerah Militer Sumatera Tengah (KDMST), serta memutuskan hubungan darat dan udara dengan Sumatera Tengah.

Sikap yang ditunjukkan Djuanda ini jelas memberi jawaban bahwa ultimatum tak akan dipenuhi. Bahkan, Djuanda memberikan reaksi yang sangat keras.

Itu berarti, tak ada lagi jalan menuju negosiasi. Tindakan harus segera dilakukan. Maka, pada tanggal 15 Pebruari 1958, Husein segera membentuk ”kabinet tandingan” yang berkedudukan di Padang. Mereka juga mengumumkan tak mengakui lagi kabinet Djuanda.

Kabinet baru itu bernama Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Dalam kabinet itu, Mr Syafruddin Prawiranegara diamanahi sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri Keuangan. Maludin Simbolon menjabat Menteri Luar Negeri., Kolonel Dahlan Djambek menjabat Menteri Dalam Negeri. Mr Burhanuddin Harahap menjadi Menteri Pertahanan sekaligus Menteri Kehakiman. Dr Soemitro Djojohadikoesemo menjabat Menteri Perhubungan dan Pelayaran.

Adapun Menteri Agama dijabat Saleh Lintang. Menteri Penerangan dijabat Saleh Lahade. Menteri Sosial dijabat A. Gani Usman. Menteri Pertanian dijabat S. Sarumpaet. Menteri Pembangunan dijabat JF Warouw. Dan, Menteri PP&K dijabat Mohammad Syafei.

Tak lama kemudian terjadilah ”tragedi”. Tragedi ini berawal saat Presiden Soekarno pulang dari lawatan ke Eropa Timur dan Peking pada 16 Pebruari 1958. Djuanda langsung menghadap Soekarno dan melaporkan gerakan yang ia sebut ‘pemberontakan’ PRRI di Sumatera Tengah dan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) di Sulawesi. Hari itu juga keluar perintah Soekarno agar menangkap para tokoh PRRI dan Permesta.

Ancaman penangkapan “dijawab” oleh Ahmad Husein dengan mengelar Rapat Umum PRRI di Padang pada 20 Pebruari 1958. Di hadapan peserta rapat, Husein menyatakan tidak gentar dengan ancaman Soekarno. Sambil melemparkan tanda pangkatnya ke tanah, Husein berkata, “Apabila saudara-saudara tidak mendukung perjuangan PRRI, maka saat ini juga saudara-saudara boleh menangkap saya dan menyerahkan saya ke pemerintahan Soekarno.”

Beberapa tokoh lalu menenangkan Husein. Tanda pangkat yang tadi dilempar, diambil lagi dan dilekatkan kembali ke tempatnya.

Sejak saat itu dukungan terus mengalir kepada PRRI. Bahkan dilaporkan, sekitar 400 mahasiswa dan pelajar Minang yang sedang kuliah di Jawa memutuskan pulang untuk bergabung bersama Tentara Pelajar (TP), sebuah kekuatan penyeimbang terhadap OPR (Organisasi Pemuda Rakyat) dan OKR (Organisasi Keamanan Rakyat) bentukan PKI.

Dukungan mayoritas dari masyarakat Sumatera Tengah dan Sumatera Barat terhadap PRRI adalah wajar. Sebab, wilayah ini merupakan basis Masyumi. Tokoh-tokoh Masyumi sendiri banyak yang menjadi tokoh PRRI.

Lagi pula, di Sumatera Tengah, partai Masyumi meraih kemenangan mutlak (58 persen) pada Pemilu 1955, jauh meninggalkan PNI, apa lagi PKI.

Para tokoh PRRI di daerah Sumatera Tengah juga ‘menjawab’ ultimatum Soekarno dengan melancarkan operasi penangkapan terhadap ratusan tokoh ‘kiri’ dan anggota PKI. Mereka ditahan di tiga tempat: Muaro Labuh, Situjuh, dan Suliki.

Keesokan harinya, tanggal 21 Pebruari 1958, Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) mulai melancarkan operasi penumpasan PRRI dengan kekuatan penuh. Operasi ini diberi sandi “Operasi 17 Agustus”, dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani.

Pesawat AURI langsung menghujani Kota Padang dan Bukittinggi dengan bom. Bersamaan dengan itu, puluhan kapal perang membombardir Pantai Padang.

Anehnya, tak ada perlawan dari pihak ”pemberontak”. Tak ada serangan balasan meski mereka bertubi-tubi diserang APRI. Tak ada satu pun ”pemberontak” yang berusaha meletuskan senjatanya. Ada apa gerangan?

Rupanya sehari setelah ”rapat rahasia Sungai Dareh” ditutup, Natsir memberi perintah agar PRRI menerapkan ‘gerakan tanpa perang’ untuk melawan pemerintah Soekarno. Seruan ini betul-betul diikuti.

PRRI bukannya membalas serangan tapi justru mundur ke kampung-kampung, terus ke hutan-hutan. Rute gerakan mundur ini tak jauh berbeda dengan rute perjuangan PDRI dulu, yaitu belantara di sekitar Agam, Pasaman, Payakumbuh, dan Solok.

Inilah adegan ”pemberontakan setengah hati” PRRI.

Balas Dendam Si Palu Arit

Karena PRRI sangat memusuhi komunis, PKI ikut serta dalam operasi penumpasan garakan ini. Korban pun berjatuhan.

Sejatinya, bukan hanya faktor kesenjangan yang menyebabkan PRRI lahir. Namun, hadirnya komunis di Indonesia juga menjadi salah satu sebabnya. Ini bisa diketahui dari ultimatum PRRI yang dikeluarkan tanggal 10 Februari 1958. Isi ultimatum tersebut antara lain menuntut agar pemerintah pusat membersihkan kabinetnya dari unsur-unsur PKI.

Nuansa anti-PKI juga terlihat dari respon pribadi para tokoh PRRI terhadap gerakan komunisme. Simbolon, panglima Tentara dan Teritorium I (TT-I) Bukit Barisan, yang menjabat Menteri Luar Negeri PRRI, misalnya, sejak awal sudah menyadari bahaya komunis mengintai Sumatera Timur.
Perkebunan-perkebunan raksasa yang saat itu berada di bawah pengawasannya rawan untuk disusupi komunis. Sebab, para buruh merupakan ”ladang emas” bagi mereka untuk digarap.

Para buruh yang sudah terasuki paham komunis ini mendirikan organisasi bernama SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia). Organisasi ini bertugas melumpuhkan usaha perkebunan, transportasi, dan pelabuhan di Belawan, Sumatera Utara, sehingga pemasukan negara terhambat dan pemerintah mengalami kesulitan ekonomi. Rencana berikutnya, mereka akan menuntut kekuasaan.
Begitu pula Saleh Lahade yang menjabat Menteri Sosial di kabinet PRRI. Kewaspadaan perwira yang mendapat tugas mengurusi transmigrasi ini terhadap gerakan komunis sudah ia perlihatkan lewat sebuah tulisan pada 15 Oktober 1957.

Dalam tulisan itu ia tumpahkan semua konsep mengenai cara mengatasi problem yang menimpa Angkatan Darat. Cara itu, menurutnya, menumpas sumber masalah yang menyebabkan pertikaian dalam militer terjadi. Sumber masalah itu tak lain adalah komunis. Tulisan itu selanjutnya ia sampaikan ke Panitia 7 di Jakarta.

Sedangkan Syafruddin Prawinagera yang menjabat Perdana Menteri PRRI, Burhanuddin Harahap yang menjabat Menteri Pertahanan, serta Natsir, adalah tokoh-tokoh Masyumi yang memang amat keras menentang komunis.

Jadi, bisa dimaklumi jika mereka semua kemudian bergabung dengan PRRI ketika “hijrah” ke Padang.

Bahkan, PRRI pernah pula mendapat bantuan persenjataan dari CIA (Central Intelligence Agency) Amerika Serikat karena memusuhi komunis. RZ Leirissa dalam buknya PRRI Permesta, Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis menilai hubungan ini terbangun karena PRRI dan CIA sama-sama memiliki kepentingan. PRRI memerlukan senjata untuk menghadapai serangan pemerintah pusat, sedangan CIA perlu saluran untuk menggertak Soekarno. Ini bisa dipahami karena Barat sangat memusuhi komunis.
Akan tetapi, setelah AS melihat masih ada sekelompok orang yang anti-komunis di jajaran pemerintahan, dukungan terhadap PRRI dialihkan kepada kelompok ini.

Balas dendam

Dendam PKI kepada PRRI kian lama kian membuncah. Kesempatan untuk membalaskan dendam ini terbuka lebar ketika terjadi operasi penumpasan PRRI. Apalagi setelah Kolonel Pranoto diangkat menggantikan Kolonel Ahmad Yani sebagai Panglima Kodam III dan Komandan Operasi 17 Agustus.

Syafrudin Bahar, dalam Kaharoeddin Gubernur di Tengah Pergolakan, 1998, memaparkan bagaimana Pranoto mengerahkan sekitar 6.341 OKR (Organisasi Keamanan Rakyat) dan OPR (Organisasi Pemuda Rakyat) untuk menyerang PRRI. Jumlah ini hampir setara dengan sembilan batalyon tentara.
Kenyataannya, OKR menjelma menjadi Pemuda Rakyat yang dijadikan ujung tombak PKI melakukan berbagai teror, intimidasi, dan tindakan brutal. Banyak korban berjatuhan di Minang. Mereka semua pendukung PRRI.

Kebiadaban kian menjadi-jadi dengan ikutnya Mayor Latif sebagai Perwira Seksi I/Intelijen, Letnan Untung (kelak memimpim kudeta G30S/PKI) sebagai Komandan Kompi, dan anggota Biro Khusus Komite CC-PKI, Djajusman. Jadilah penumpasan PRRI sebagai ajang balas dendam menghabisi mereka yang dulu gencar menuntut pembubaran PKI.

Tiap daerah punya cerita hampir sama tentang kekejaman PKI. Pendukung PRRI yang tidak lari ke hutan sering ditemukan dalam karung tanpa kepala atau mata. Di Matur Mudik, tentara pelajar yang dijemput malam oleh OPR banyak yang tak pernah kembali lagi.

Di Mahek Suliki, anggota PRRI yang bersiap kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi ditembaki hingga tewas. Di desa Lariang, Bonjol Pasaman, Kolonel Dahlan Djambek yang bersiap turun gunung memenuhi panggilan pemerintahan Soekarno pada 13 September 1961 diberondong sampai tewas.

Dengan adanya kasus-kasus itu, Amnesti Umum berupa pengampunan dan jaminan keselamatan bagi anggota PRRI yang bersedia keluar hutan, seperti diumumkan Presiden Soerkarno melalui Kepres No 332 tanggal 22 Juni 1961, omong kosong.

Kebiadaban demi kebiadan yang dialami masyarakat Minang benar-benar menimbulkan trauma yang mendalam sampai hari ini. Masyarakat Minang kehilangan inisiatif dan daya kritis. Demikian parahnya rasa trauma itu sampai-sampai tradisi pemberian nama yang berbau Minang sempat dihapus. Banyak putra Minang yang lahir pasca penumpasan PRRI diberi tambahan nama Prayitno, Sutarjo, atau Hamiwanto.

Setelah PRRI jatuh, posisi PKI semakin menguat. Pada tahun 1965, tepatnya tanggal 30 September, partai komunis semakin berani bergerak. Enam pejabat tinggi militer dan seorang pengawal mereka bunuh. Peristiwa ini tersohor dengan sebutan Gerakan 30 September. Rupanya, inilah akhir dari cerita kekejaman ”Si Palu Arit”.

Sumber

KENANGAN MASA PRRI (1)

1. Awal Cerita

Aku memanggilnya mak etek. Mak etek Jun. Namanya Junaidi. Usianya sudah lebih tujuh puluh tahun. Tapi sosok tubuhnya masih gagah. Giginya masih utuh. Kecuali rambut ikalnya yang sudah hampir putih semuanya, beliau terlihat lebih muda dari usianya. Mak etek Jun adalah seorang pensiunan guru. Terakhir, sebelum pensiun, beliau menjadi kepala sekolah dasar di kampung kami.

Kalau lagi pulang kampung, aku suka sekali berkunjung ke rumah mak etek Jun. Selalu saja menarik berbincang-bincang dengan orang tua ini. Cerita apa saja. Masalah keadaan kampung, masalah pendidikan anak-anak, masalah politik ala kadarnya, masalah korupsi. Karena beliau memang seorang pengamat yang baik untuk hal-hal semua itu. Namun yang paling aku sukai adalah cerita tentang pengalaman masa muda beliau ketika ikut bergerilya di jaman PRRI.

Pada kunjunganku terakhir aku melihat sebuah foto hitam putih berukuran besar tergantung di dinding. Foto seorang laki-laki bagurambeh. Berjanggut dan bercambang lebat. Itu adalah foto beliau di waktu muda, karena sangat jelas terlihat wajahnya meski dibalut cambang dan janggut seperti itu.

‘Kok baru kelihatan foto yang satu ini, mak etek?’ aku berkomentar.

‘He..he..he.. Itu foto kenang-kenangan waktu baru balik dari rimba dulu. Si Pinto yang menemukan, lalu diperbesarnya dengan komputer, jadilah seperti itu. Dia pula yang membingkai dan meletakkan di situ,’ jawab mak etek Jun.

Pinto adalah cucu kesayangan mak etek yang sudah duduk di kelas tiga SMP.

Aku mendekat ke dinding tempat foto itu tergantung untuk mengamatinya lebih jelas. Ada catatan tanggal dan tahun di bawah foto itu.

‘Tahun 1961? Belum pernah ambo melihat mak etek seperti dalam foto itu. Bagaimana pula ceritanya sampai bergurambeh lebat begitu?’ tanyaku.

‘Di hutan itu di mana pula ada pisau cukur. Paling ada gunting kecil untuk memangkas misai. Karena bertahun-tahun dibiarkan, jadilah seperti itu,’ jawab mak etek tersenyum.

‘Gagah dan berwibawa terlihatnya,’ aku menambahkan.

‘Mungkin maksudmu mengerikan ha..ha..ha… ‘ mak etek terbahak-bahak.

Aku tersenyum.

‘Semua teman mak etek di luar seperti itu?’

‘Tentu tidak…. Ada yang memang berbakat. Badannya penuh bulu. Tapi banyak juga yang kelimis.’

‘Sampai seperti yang di foto itu…. Sudah berapa lama itu tidak dicukur?’

‘Sejak lari ke luar hanya dua atau tiga bulan pertama saja masih sempat mengurusnya. Sesudah itu tidak pernah lagi.’

‘Ulang pulalah cerita mak etek tentang lari ke luar itu. Masih ada yang belum ambo dengar. Bagaimana awalnya mak etek sampai ikut?’ tanyaku.

Mak etek Jun menarik nafas. Matanya sedikit menerawang. Mungkin sedang menjemput ingatan lama.

‘He..he..he.. Begini….,’ beliau mengawali.

Aku mempererat duduk, bersiap mendengar cerita yang biasanya akan cukup panjang.

‘Aku sudah mengajar di sekolah rakyat ketika perang pecah. Dulu, tamat dari SGB kami sudah diangkat jadi guru. Aku mengajar di Lambah. Berjalan kaki menyeberangi jalan kereta api dan jalan raya di Biaro. Pernah pada suatu siang, pulang sekolah, aku dihentikan tentara APRI di jalan raya itu. Mereka baru berani beroperasi di jalan raya, belum berani masuk ke jalan-jalan kampung. Mereka banyak sekali. Ada empat buah truk tentara dan tiga buah jip Rusia berhenti di tepi jalan. Mereka memeriksa dan membentak-bentak. Setiap penumpang bendi yang datang dari arah Bukit Tinggi disuruh turun. Barang belanjaan ibu-ibu diperiksa. Entah apa yang mereka cari. Ada beberapa orang laki-laki yang disuruh naik ke atas truk. Untungnya, kami guru-guru selalu membawa surat keterangan dari kepala sekolah yang menyatakan bahwa kami adalah guru. Waktu surat itu aku perlihatkan, tentara yang tadinya membentak-bentak sambil menyorongkan bedilnya ke arah dadaku, tidak lagi marah-marah dan aku dibiarkan meneruskan perjalanan pulang ke rumah.

Beberapa waktu kemudian, saat kami sedang liburan sekolah. Kami sedang mengirik padi di sawah di Bandar Panjang. Kecuali aku, yang bekerja siang itu semua orang tua-tua yang sudah berumur lebih lima puluh tahun. Kira-kira jam sebelas kami dengar derung mobil tentara di kejauhan. Mamakku, mak Endah menyuruh aku pergi bersembunyi. Tapi ada pula mamak yang lain, mak Malin menyuruh tinggal. ‘Kalau kau lari, bertemu di jalan, alamat kau akan dibedilnya. Lebih baik kau di sini saja,’ kata mak Malin.

Akupun lebih memilih untuk tidak pergi. Beberapa saat kemudian kami dengar beberapa kali bunyi tembakan. Mamak-mamak itu sama bergumam, mempertanyakan entah siapa pula yang sudah kena tembak. Tiba-tiba saja, telah muncul tiga orang tentara APRI, menuju ke arah kami sambil menodongkan senjata. ‘Angkat tangan,’ perintahnya. Aku memberi contoh bagaimana mengangkat tangan, karena ada di antara mamak-mamak itu yang tidak faham.

‘Kau…..! Kesini kau!’ perintahnya padaku. Akupun mendekat.

‘Kau pemberontak!’ hardiknya. Ujung bedilnya menempel di pelipisku. Aku berusaha tenang. Lalu aku jawab, bahwa aku seorang guru.

‘Bohong kau! Mana surat-surat!’ hardiknya pula.

‘Kami sedang bergotong royong. Saya tidak membawa surat-surat,’ jawabku.

‘Bohong!’ bentaknya lagi.

Kali ini aku ditamparnya, persis di mukaku. Bukan main sakitnya. Tapi yang lebih sakit adalah hatiku. Tentara itu mungkin seumur denganku. Dan aku ditampar perai saja. Mana mungkin aku membalas. Pondok kami diusainya. Mungkin dia curiga kalau-kalau ada senjata tersembunyi di sana. Mamak-mamak yang lain ditanyainya pula satu persatu. Mak Endah, mamakku yang memang terlihat tegap juga ditamparnya. Entah apa masalahnya aku tidak tahu.

Aku dan dua orang dari mamak-mamak itu dibawa mereka pergi. Agak kecut juga hatiku kalau-kalau aku akan dibedilnya pula. Rupanya kami dibawa ke Lasi. Di sana kami disuruh menggali lobang di sekitar sebuah rumah. Rumah itu mereka rampas untuk jadi markas. Ada puluhan orang yang bekerja paksa di sana, semua orang-orang yang mereka tangkap hari itu dari beberapa kampung.

Sorenya mak ditemani mak tuoku datang ke Lasi membawa surat keteranganku. Komandan mereka lebih ramah kepada orang-orang tua itu. Aku dipanggil anak buahnya untuk menghadap. Tentara itu minta maaf atas perlakuan anak buahnya kepada kami. Dan sore itu kami semua diizinkan pulang.

Tapi maaf tinggallah maaf. Hatiku sudah bulat. Selama bekerja membuat lobang itu otakku berpikir keras tentang pergi bergabung dengan tentara luar. Aku akan segera melakukannya. Aku akan membalas kekurangajaran tentara-tentara keparat ini. Yang telah menamparku. Memaksaku bekerja. Mereka adalah manusia-manusia tidak tahu sopan santun. Main bentak dan main tampar bahkan terhadap orang-orang tua yang pada hal adalah rakyat sipil. Dan entah berapa orang pula orang kampung yang mereka tembaki hari itu. Mereka memang tentara-tentara bengis dan semena-mena.

Dalam perjalanan pulang mak tuo bercerita bahwa di kampung kami saja siang hari itu empat orang anak muda lagi mati tertembak. Anak-anak muda yang berusaha menghindar waktu bersirobok dengan mereka. Anak-anak muda yang diteriaki supaya mengangkat tangan tapi tidak segera mengangkatnya. Mereka ditembak dari belakang. Ada yang kepalanya pecah. Yang dadanya rengkah. Yang perutnya terburai. Darahku tambah mendidih saja mendengar cerita itu. Meskipun sampai sejauh ini aku selamat berkat surat keterangan guru, bukan tidak mungkin, jika aku tetap bertahan di kampung besok atau lusa mereka akan menembakku pula.

Sesudah makan malam hari itu, secara tidak langsung aku beritahu mak bahwa aku akan ikut tentara luar. Beliau tidak setuju. Tapi aku jelaskan betapa besarnya resiko bagiku untuk tetap tinggal di kampung. ‘Apakah mak mau ambo mati serupa si Pudin pula?’ kataku. Si Pudin adalah kemenakan ayah yang ditembak tentara beberapa hari sebelumnya. Mak menangis malam itu. Beliau sangat faham tentang resiko dan kemungkinan itu.

Malam itu juga aku pergi menemui tuan Asmar. Beliau ini wali jorong. Tuan Asmar adalah penghubung dengan komandan tentara luar. Beberapa anak muda dari kampung kami yang sudah lebih dahulu pergi, memulai kontaknya melalui tuan Asmar. Kepada tuan Asmar aku sampaikan niatku itu. ‘Sebenarnya kalau kau siap, malam ini juga kau bisa ikut dengan mereka. Kau tunggulah disini. Biasanya mereka datang lewat tengah malam. Tapi kalau kau belum siap, biarlah aku sampaikan saja dulu niatmu itu kepada Tan Basa. Nah! Bagaimana pendapat kau?’ tanya tuan Asmar. Waktu itu sebenarnya aku siap saja. Tapi terpikir pula bahwa aku belum minta izin dengan bersungguh-sungguh kepada mak. Aku yakin beliau akan mengizinkan sesudah aku menjelaskan niatku tadi. Kusampaikan seperti itu dan tuan Asmar memahaminya.

Dua hari kemudian aku sudah benar-benar siap. Mak mengizinkan meski dengan tangis dan air mata. Jam sembilan malam aku berangkat dari rumah menuju rumah tuan Asmar. Dan malam itu aku ikut rombongan mak Tan Basa. Nama beliau Harun. Tentara berpangkat letnan. Sejak saat itu resmilah aku menjadi anak buah beliau.’

Aku mendengar cerita panjang mak etek Jun dengan mata tak berkedip.

‘Langsung diangkat jadi tentara? Maksud ambo, mak etek langsung diberi senjata?’

‘Tidaklah. Aku dilatih dulu. Bukan latihan baris berbaris, tapi latihan mempergunakan senjata. Sejak dari cara membersihkan sampai cara mempergunakannya.’

‘Berapa lama latihannya itu?’

‘Hanya beberapa pekan saja.’

Terdengar azan asar. Kami mengakhiri obrolan sampai di situ.

Sumber

Penyerbuan Tabing

OLEH: DASRIELNOEHA

Air Tawar terletak kira-kira 7 kilometer dari Padang arah jalan ke Bukittinggi.
Disini terletak dua kampus perguruan tinggi yaitu Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang, dan Universitas Andalas (Unand).
Kedua kampus ini berdampingan ibarat saudara kembar.

IKIP mendidik mahasiswanya menjadi guru, sedangkan Unand mendidik mahasiswa menjadi sarjana beberapa ilmu terapan seperti Ilmu dan Teknologi Pertanian, Ilmu dan Teknologi Peternakan, Ilmu Pasti dan Ilmu Alam.

Sedangkan untuk sarjana Hukum terletak di Muaro, Kedokteran di Pondok dan Jati, serta Ekonomi juga di Jati.

Pada tahun 1957, saat akan meletus peristiwan PRRI, mahasiswa IKIP dan Unand sedang asyik-asyiknya kuliah.
Namun, semuanya berubah setelah adanya pengumuman di Sungai Dareh atas berdirinya PRRI.
Ahmad Husein menghimbau partisipasi generasi Sumatera Barat untuk ikut andil mempertahankan martabat daerah yang sedang diinjak-injak oleh pemerintah pusat.
Dalam pidatonya di lapangan sepak bola di depan Fakultas Peternakan, pada bulan January 1958, apa apel mahasiswa Unand, Husein berpidato berapi-rapi akan perlunya Sumbar bangkit untuk memajukan daerah termasuk Unand dan IKIP, yang dikatakan sedang dianak tirikan oleh Pusat dibanding dengan UI, Gajahmada di Jawa.
Makanya kita harus berani melawan pusat untuk menuntut hak kita, demikian Husein membakar semangat mahasiswa waktu itu.

Makanya setelah 15 February, dilakukan pendaftaran besar-besaran tentara pelajar yang diikuti oleh ratusan mahasiswa Unand dan IKIP serta ada juga pelajar STM dan SMA di beberapa kota di Sumbar, ramai diikuti oleh mereka.

Terbentuklah beberapa kompi pelajar, yang dilatih secara kilat bagaimana cara menggunakan senjata dan bertempur.

Sebenarnya waktu latihan yang pendek itu hanya lebih banyak pada kegiatan baris berbaris dan pidato untuk membangkitkan semangat bertempur, belumlah cukup untuk menguasai ilmu perang dan kemiliteran secara benar.

*
Anisah, gadis kelahiran Solok, ikut mendaftar jadi anggota palang merah.
Waktu itu Anisah masih kuliah di IKIP jurusan Bahasa Indonesia.

Kemaren ia pulang kampung.
Ayah Anisah, Mak Kari yang jadi guru sekolah rakyat di Solok juga ikut PRRI. Kari diajak oleh mamak rumahnya kopral Salim yang telah jadi tentara dan anak buah Pak Husien.
Waktu Anisah mengatakan dan minta ijin ajahnya mau ikut palang merah di Padang, ayahnya menyetujuinya.
Hanya ibunya yang keberatan. Maklumlah Anisah adalah putri satu-satunya. Adiknya masih duduk di SMA Solok dan itu laki-laki.

Tapi setelah Anisah mengatakan bahwa tugas palang merah adalah hanya di rumah sakit dan tidak ikut perang, ibunya akhirnya mengalah.

Anisah mempunyai pomle seorang mahasiswa fakultas Peternakan Unand bernama Rustam. Rustam anaknya ganteng. Rambut ikal lebat dan dagunya kekar dengan sedikit brewok. Maklumlah ia anak seoarng nelayan dari Naras dan juga pesilat tangguh.

Mereka saling mencintai satu sama lain.

Sebelum Anisah meminta ijin ayahnya untuk masuk palang merah, ia telah mendiskusikan hal itu dengan Rustam kekasihnya.

*
Pantai Padang sore itu kembali ramai oleh pasangan anak muda yang menikmati deburan ombak pantai.
Deburan ombak itu membawa alunan suara cinta yang merasuk kedalam sukma para pasangan remaja yang menikmatinya dengan duduk di loneng tembok pantai, di kerimbunan pepohonan yang tumbuh di pantai itu.
Mereka sedang berpomlean.

Para nelayan juga sibuk mempersiapkan perahu mereka untuk melaut.
Setiap sore sebuah perahu nelayan yang dimuati dengan bekal untuk perjalanan semalam dan sebuah lampu sitarongkeng dinaiki oleh tiga orang nelayan.
Setelah didorong ketengah air, lalu mereka mendayung sekitar satu jam ketengah untuk memancing ikan ambu-ambu dan ikan pinang-pinang yang pada musimnya banyak di laut.

Sore itu pulang kuliah di Pantau Padang di Muaro.
Sepasang muda mudi sedang asyik duduk makan rujak di kedai di pinggir pantai Padang yang terkenal itu.
Ada banyak kedai rujak dan limun yang dibangun oleh para isteri nelayan di pantai itu.

Rustam dan Anisah, seperti pasangan lainnya sedang memandang indah deburan ombak pantai Padang yang seakan nyanyian asmara yang mengalun indah.

Rustam mengajak Anisah turun ke air.
Sambil berjalan memainkan ombak di kaki dan bergandengan tangan dua muda mudi yang dimabuk asmara itu berjalan gontai.

”Sah, saya telah mendaftar menjadi tentara kemaren”, kata Rustam memecah kesunyian mereka.

Suara Rustam terdengar seperti getaran petir di telinga Anisah. Suara itu diselingi oleh gempuran ombak pantai yang berdebur dengan suara gemuruh.
Suara ombak pantai Padang memang spesifik. Sering dijadikan madah buat lagu asmara.

”Uda, sudah mendaftar kemaren”, Anisah mengulang dengan pertanyaan.

”Ya Sah, saya dan enam orang teman mendaftar di Dodik Simpang Haru. Minggu depan kami akan menjalani latihan di Padang Besi Indarung. Ada banyak juga mahasiswa Unand yang mendaftar. Juga banyak temanmu dari IKIP yang ikut”, kata Rustam.

Anisah hanya terdiam. Sambil mempererat genggamannya di tangan Rustam, ia berhenti melangkah.

Sekarang di pipinya yang bak pauh dilayang, mengalir dua butir air bening. Ia tahu apa artinya mendaftar jadi tentara pelajar. Minggu lalu sewaktu Letkol Husein berpidato di lapangan sepakbola didepan kampus IKIP, ia mendengar bahwa sekarang perjuangan suci mengadapi perang dengan tentara pusat seakan menjadi panggilan bagi para mahasiswa.
Perang, ya perang, berulang Husien mengatakan kata-kata itu dalam pidatonya.

Perang berarti menggunakan senjata untuk saling bunuh.
Akankah nantinya Rustam ikut terbunuh?
Itu yang ada dibenak Anisah sekarang.

”Anisah, kenapa kenapa Isah menagis”, tanya Rustam.

”Saya tidak mau kehilangan uda Rustam”, kata Anisah pelan.

”Saya tidak akan terbunuh sayang. Dan lagi soal mati hidup, kan ada di tangan Tuhan. Isah tidak usah ragu melepas uda”, kata Rustam membujuk.

”Da, perang ini tidak tahu kapan usainya. Yang jelas pasti tentara pusat akan segera kemari. Uda akan bertempur. Dan uda akan jadi korban..

Air mata Anisah semakin deras. Rustam mengambil ujung selendang Anisah. Ia mengusap pipi lembut kekasihnya. Basah selendang itu kini.

”Kalau begitu, Anisah minta ijin uda untuk daftar jadi palang merah. Kemaren Putri mengajak Anisah untuk mendaftar”, kata Anisah.

”Jangan sayang, kamu tinggal di kampus sajalah. Kasihan kuliahmu kan tinggal setahun lebih saja lagi.

”Uda, aku juga mau turut menyumbangkan tenagaku untuk daerah kita. Toh sudah pasti kuliah akan tutup selama pergolakan”, kata Anisah.

Mereka kembali ke pondok jualan.
Rujak yang tadi mereka pesan telah hampir habis.
Rustam memanggil Etek Ami penjual rujak. Dan ia membayar dua piring rujak yang mereka pesan.

”Kamu pasti tidak akan diijinkan oleh ayahmu. Sudah minta ijin belum”, tanya Rustam.

”Belum da, besok rencananya Isah mau pulang. Putri juga pulang. Sekalian siap-siap untuk latihan di Rumah Sakit tentara Simpang Haru.

”Ya, kalau memang ayahmu mengijinkan, baiklah mari kita sama-sama berjuang. Kalau umur kita sama panjang, dan jodoh kita direstui Tuhan, kita akan tetap ketemu”, kata Rustam sambil merangkul bahu Anisah.

”Yang jelas saya tidak mau kehilangan kamu dewiku”, kata Rustam.

Hari semakin petang. Sebentar lagi maghrib akan datang. Rembang petang matahari mau turun di ujung kaki langit di lepas laut sana memang indah.
Warna langit yang kuning kemasan bercampur kemerahan perlahan turun ke kaki langit.

Mereka beranjak pergi. Naik oplet kearah Air Tawar.
Dua sejoli itu duduk terdiam di atas oplet tua jeep Wilis yang rumah-rumahnya terbuat dari kayu.
Sebentar lagi mereka akan berpisah. Dipisahkan oleh pergolakan daerah yang mereka akan turut ambil bagian di dalamnya.

*
Hari baru jam sembilan di Air Tawar.
Hanya beberapa mahsiswa IKIP yang terlihat pergi kuliah pada pagi itu.
Unand telah dua minggu libur. Karena beberapa dosen ada yang ikut latihan di Padang Besi.
Yang tidak mendaftar jadi tentara memilih pulang kampung.

”Assalamualaikum”.

”Wa alaikum salam, eh uda Rustam”.

Rustam muncul pagi itu di tempat kos Anisah di Air Tawar.

Anisah sudah memakai pakaian putih-putih. Ia bersiap akan menuju Simpang Haru rumah sakit tentara tempat ia kini mulai bertugas jadi perawat yang disebut anggota palang merah.

”Sudah mau berangkat Sah”, tanya Rustam.
”Ya da, saya barusan mau menyetop oplet ke Simpang Haru”, kata Anisah.

Rustam datang dengan pakaian tentaranya. Sebuah senjata LE tersandang dibahunya.

”Uda kelihatan gagah dengan seragam ini”, kata Anisah.

”Isah juga makin cantik dengan pakaian palang merah”, balas Rustam.

”Sah, keadaan semakin genting. Tadi malam kami di berikan briefing oleh komandan di asrama Simpang Haru. Semua pasukan disiagakan. Kita sedang siaga satu menghadapi peperangan. Aku diperintahkan bersama kompi B Mawar bertugas di sekitar lapangan Tabing. Dan kompi A Melati bertugas di sepanjang pantai Ulak Karang.
Menurut berita intelijen, akan ada pendaratan pasukan APRI hari ini.
Sah, keadaan serius sekarang.
Kalau terjadi sesuatu pada kita, saya mohon kerelaan Isah”.

Rustam mengeluarkan sebuah bungkusan dari kantong celananya. Ia berikan kepada Anisah.
Anisah mulai basah matanya. Ia mengerti ari kata Rustam barusan. Akan ada perang sebentar lagi.

Ah, kenapa harus ada perang? Kenapa Husein tidak mau mengalah dengan pemerintah pusat? Kenapa pula harus berontak? Pertanyaan itu menggayut di benak Anisah. Seperti itu pula pertanyaan di sebahagian tentara PRRI muda yang di gabung dalam kompi pelajar itu.

”Sah, ini sebuah cincin yang saya beli di toko emas di Padang kemaren. Isah simpanlah cicncin itu. Cincin itu bertuliskan nama kita. Ia menjadi saksi cinta kita berdua”.

”Uda, kita harus segera bicara dengan ayah saya. Juga kita harus ketemu mak dan abak uda. Kita bicarakan ke pada mereka. Mari kita langsung bertunangan saja.
Ibu saya pernah menanyakannya kemaren sewaktu minta ijin menjadi palang merah”, kata Anisah.

”Sebenarnya memang baiknya begitu Sah. Tapi sekarang waktunya kelihatannya tidak mungkin lagi. Pakailah cincin itu. Anggaplah kita sudah berikatan”.

Anisah membuka kotak beledru biru itu. Sebuah cincin emas seberat 8 gram berkilauan. Di bagian dalam bertuliskan ”Anisah-Rustam”.
Rustam memasukkan cincin itu ke jari Anisah.
Cincin polos berbentuk ring itu pas benar di jari manis Anisah.

Tiba-tiba terdengar sayup-sayup dengungan pesawat terbang. Makin lama deru mesinnya makin keras.
Rustam melihat kelangit arah ke Gunung Padang. Dari sana di balik awan kelihatan iringan pesawat terbang.

”Isah, cepat sembunyi. Mereka telah datang. Aku harus segera gabung dengan pasukanku”.

”Jaga diri uda”.

”Assalamualaikum”.

Rustam terus berlari ke arah mudik. Larinya cepat menuju ke lapangan udara Tabing bergabung dengan pasukannya.

Ada lima pesawat terbang berputar-putar disepanjang pantai antara Ulak Krang dengan Tabing.
Kelihatan dengan jelas dari perut pesawat keluar pasukan payung terjun dari udara.
Paling banyak diterjunkan di sekitar lapangan udara Tabing.
Segera saja terjadi pertempuran di sana.

Rupanya itu adalah pasukan payung tiruan. Ternyata yang diterjunkan yang pertama itu adalah boneka kayu yang didandani mirip tentara yang berbaju loreng.
Pasukan PRRI yang kebanyakan anggotanya adalah mahasiswa dan pelajar itu tertipu. Mereka menembaki boneka kayu itu.
Peluru banyak yang mereka habiskan percuma.
Komandan kompi becarut bungkang.

”APRI kalera, dikicuhnya awak”.

Danki segera berlari sambil menunduk, dan bersusah payah mengumpulkan anak buahnya sekitar Tabing.
Segera ia kembali mengumpulkan pasukan untuk konsolidasi.

Lima pesawat yang pertama kedengaran menjauh. Tetapi segera diganti dengan kedatangan tiga pesawat pembom dan dua pesawat penerjunan pasukan.
Kembali pasukan payung terjun di seputar bandara.
Kali ini lapangan udara Tabing dihujani oleh bom dari pesawat.

Pasukan loreng yang terjun kali ini benar pasukan dari APRI.
Kembali terjadi tembakan seru. Pertempuran kembali pecah. Pasukan APRI yang terlatih perang dari kesatuan lintas udara Brawijaya dan Siliwangi berhadapan dengan pasukan PRRI yang terdiri dari mahasiswa dan pelajar yang masih hijau dengan suasana pertempuran.
Sungguh tidak seimbang keadaan perang siang itu. PRRI segera menjadi sasaran empuk pasukan APRI.

Hanya lima belas menit lapangan udara Tabing dikuasai oleh pasukan pemerintah pusat.

Para pasukan kompi B dan kompi A banyak yang menjadi korban. Yang luka dan masih hidup segera di tawan. Mereka dikumpulkan di hanggar lapangan udara.

*
Sejak mendengar bunyi pesawat pagi itu, dan setelah Rustam lari kearah Tabing, Anisah kembali masuk ke kamarnya.
Ia mengambil tas palang merah. Ia tidak jadi ke rumah sakit di Simpang Haru.

Anisah menyetop oplet menuju ke Tabing.
Setelah turun dari oplet, Anisah berlari kearah lapangan terbang.
Pertempuran terjadi di sana.

Banyak korban berjatuhan di pihak PRRI. Tentara yang masih muda-muda itu meringis dan meregang nyawa tersambar pecahan peluru mortir.
Mereka diserbu oleh pasukan APRI.

Anisah segera menolong para korban pertempuran itu. Baju putihnya kini sudah terpercik oleh darah para korban.

Di ujung landasan, dibawah pohon ketapang, seseorang menyeret badannya yang telah berlumuran darah.

”Tolong”, panggil orang itu.

Anisah segera berlari kearah orang itu.
Disampingnya empat mayat telah tercabik pecahan bom.

”Uda”, Anisah terpekik manakala melihat yang terluka berat itu adalah Rustam kekasihnya.

”Sah”, kata Rustam parau. Dari mulutnya keluar darah. Punggungnya robek kena pecahan bom.

Anisah segera membuka tas palang merahnya. Perbannya sudah habis terpakai untuk membalut luka para korban.
Sambil menangis ia membuka baju Rustam. Air matanya makin deras melihat dada bidang kekasihnya berlumuran darah.
Dua botol obat merah yang masih tersisa ia tuangkan ke luka Rustam. Rustam terluka parah. Ia kebatkan baju Rustam ke punggungnya yang ternganga. Darah terus mengalir.

Kaki kirinya juga patah dan terlihat tulang keringnya. Anisah membuka bajunya. Ia tidak peduli walau hanya tinggal kutang saja. Kulit putihnya belepotan darah Rustam. Kaki itu ia balut dengan robekan bajunya.

”Sah, jaga dirimu. Aku sudah tidak tahan lagi. Mataku mulai kabur Sah”, kata Rustam tertahan-tahan.
Rustam kehilangan banyak darah. Itu membuatnya lemah dan hampir pingsan.

”Uda luka parah, jangan banyak bicara dulu”, kata Anisah sambil menangis.
Anisah memeluk tubuh kekasihnya.
Jemarinya ia sisirkan ke rambut ikal Rustam.
Rustam tersenyum kepada kekasihnya.

Kabut mesiu masih tebal di seputar lapangan terbang. Tembakan masih terdengar sayup-sayup di pantai. Rupanya ada pertempuran juga di sana. Pasukan katak angkatan laut mendarat di pantai Tabing.
Mereka segera mengadakan pembersihan dan memburu para PRRI yang ada di pantai.

”Sah, aku cinta padamu. Selamat ting…gal..Sah”.

Sambil tersenyum di bibirnya akhirnya Rustam menutup matanya.
Rustam membawa cinta Anisah bersama nyawanya yang melayang ke angkasa di lapangan udara Tabing. Rustam terkorban oleh pertempuran pagi itu.

Anisah meraung sambil tetap memeluk jasad Rustam.

”Udaaaa”.

Tragedi itu telah terjadi.
Dua kekasih itu telah terpisahkan oleh maut. Maut itu sungguh cepat datangnya. Pagi jam sembilan tadi mereka masih saling tersenyum menyatakan cinta mereka. Mereka masih saling mencium cincin pemberian Rustam.
Kini salah satu telah tiada.

Perang memang kejam. Perang hanya menyisakan duka dan nestapa. Cinta dua anak manusia, Anisah dan Rustam terenggut siang itu.

Rustam telah pergi. Ia menjadi korban pertempuran di lapangan udara Tabing antara PRRI dengan APRI.

Anisah memandang tubuh Rustam yang telah kaku. Ia menggenggam tangan kekasihnya itu.
Air matanya makin deras.

”Udaaa”, suara Anisah parau. Separau cintanya yang kandas.

Ia memandang muka Rustam. Sesungging senyuman terbayang di bibirnya. Wajah ganteng kekasihnya itu mulai kelihatan membeku. Anisah mengusap muka itu. Ia memegang brewok yang mulai tumbuh lebat di wajah itu.
Tangan Rustam ia lipatkan di dadanya.
Tangan Anisah berlumuran darah Rustam, di jari manisnya lekat sebuah cincin yang diberikan Rustam tadi pagi, terbungkus darah Rustam sendiri.
Rustam telah pergi selamanya membawa cinta mereka berdua.

Pesawat udara AURI telah menghilang.
Bekas pemboman meninggalkan lobang di landasan pacu. Asap mesiu bekas pertempuran masih tercium.

Anisah masih terpana dan berlinang air mata.
Ia masih memangku jasad Rustam.
Jasad yang masih tersenyum dan berkata-kata jam sembilan pagi tadi. Sekarang telah hilang nyawanya bersama cinta mereka yang telah dihancurkan oleh peperangan.

Sumber