Mengenang Front Palupuh dengan Mobbrig – nya

MENJADI KELUARGA MOBBRIG.

19 Desember 1948 adalah tanggal yang mempunyai arti tersendiri dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam rangka menegakkan dan mempertahankan negara Republik Indonesia. Pada tanggal inilah buat kedua kalinya dimulai penyerbuan besar-besaran yang dilakukan oleh penjajah pihak Belanda memasuki wilayah-wilayah Republik Indonesia dengan maksud menindas perjuangan bangsa yang ingin merdeka.

PENULIS sejenak berpose dimuka lensa, sebelum melepaskan baju seragam Mobbrig dan kembali ke bangku sekolah di awal tahun 1950. (Foto: dokumentasi Adrin Kahar)

GERAKAN agresi Tentara Belanda ini dikenal dengan nama Aksi Militer Belanda ke II atau dikatakan juga gerakan pelanggaran perjanjian Renville. Aksi Militer Belanda ke I adalah penyerbuan yang dilakukan oleh pihak Belanda memasuki Wilayah Republik Indonesia pertama kali juga secara mendadak dan besar-besaran yang dimulai tanggal 21 Juli 1947 terkenal sebagai pelanggaran  atas persetujuan Linggarjati.

Thomy Teruci di Palupuh

Dalam masa perjuangan menghadapi Belanda yang ingin menegakkan kembali kolonialisme di Indonesia sesudah perang dunia ke II, bangsa Indonesia sendiri menyadari bahwa jika ditinjau dari segi kelengkapan dan mutu persenjataan angkatan Perang, pihak Belanda memang lebih unggul dari pada angkatan bersenjata Indonesia. Disamping itu, jauh sebelum tanggal 19 Desember 1948, hubungan diplomatik Indonesia dan Belanda sudah memperlihatkan ketegangan yang dalam perundingan – perundingan banyak terdapat perbedaan paham.

Kira-kira setengah jam sebelum jam 00.00 malam tgl 19 Desember 1948, pihak Belanda mengumumkan kepada Republik Indonesia dan pada Komisi Tiga Negara (KTN) bahwa Belanda tidak mengakui dan tidak terikat lagi dengan persetujuan Renville. Dengan sangat mendadak, pagi dinihari Minggu tgl. 19 Desember 1948 sejumlah besar tentera Payung Belanda terjun di lapangan udara Maguwo dan bergerak terus menduduki ibu kota Republik Indonesia Yogyakarta.

Bukittinggi, kota pusat pemerintahan Sumatera pada masa itu, sejak tengah malam tgl. 18 Desember 1948 pula telah menjadi incaran penyerbuan pihak Belanda dengan penerbangan pesawat udara militer Belanda berkeliling-keliling sambil menyebarkan pamflet-pamflet.

Pagi tgl 19 Desember satuan pesawat udara pemburu jenis mustang dari pihak Belanda menyerang kota Bukittinggi dan sekitarnya dengan membom serta menembaki beberapa obyek. Menjelang tengah hari serangan pesawat-pesawat udara itu dilakukan secara bergelombang-gelombang, menyebabkan timbulnya kepanikan penduduk.

Terlihat sampai malam orang-orang berkelompok mapun sendiri-sendiri meninggalkan kota mengungsi menyelamatkan diri.

Sebagai seorang pemuda pelajar SMA di Bukittinggi pada masa itu, penulis adalah juga anggota Tentera Pelajar (T.P.) Sumatera Tengah – Batalyon Bukittinggi . Sungguhnya namanya anggota Tentera Pelajar, tetapi belum mempunyai pengalaman bertempur dalam peperangan.

Kalau perang-perangan dalam latihan kemiliteran pernah juga ada pengalaman diperoleh secara teratur sejak tahun 1946 sampai awal 1948, dengan pelatih-pelatihnya para perwira dan bintara dari unit Pendidikan dan Latihan Divisi III TKR (kemudian Divisi IX Banteng).

Pembentukan dan pembinaan Tentera Pelajar di Sumatera Tengah oleh Pimpinan Divisi III TKR/TRI tidaklah diarahkan untuk dijadikan pasukan tempur, tetapi disiapkan sebagai satuan-satuan cadangan dan bantuan dalam rangka wajib bela negara. Kolonel M. Dahlan Jambek (alm.) selaku pimpinan Divisi III TRI pernah didatangi oleh wakil-wakil pelajar yang dengan semangat menyala-nyala meminta agar TRI mengikut sertakan satuan-satuan pelajar terlatih (T.P.) dalam pasukan tempur. Tetapi dengan hati-hati sekali beliau meminta pengertian para pelajar untuk terus bersekolah demi persiapan hari depan bangsa dan negara, disamping itu tetap berlatih menurut kesatuan masing-masing dengan teratur dan sungguh-sungguh. (lihat: Chaidir Nien Latief, Nostalgia dan Sejarah Perjuangan Pelajar di Sumatera, Merdeka 27 Desember 1980).

Inspektur Polisi I Amir Mahmud Komandan Mobbrig Sumatera Barat dan Inspektur Polisi II M.K. Situmorang Wk. Komandan Mobbrig (2) berhadapan dengan perwira perwira polisi Belanda dalam rangka serah terima kota Bukittinggi 7 Desember 1949. (Foto. Dok. Adrin Kahar)

Dengan datangnya serangan yang mendadak dari pihak Belanda pada 19 Desember 1948 yang kebetulan pula mulainya liburan sekolah, maka maka tidak ada satupun pedoman, petunjuk maupun instruksi pimpinan Tentera Pelajar atau Pimpinan Organisasi pertahanan/keamanan lainnya yang dapat diikuti oleh para anggota T.P. di Sumatera Barat.

Pada umumnya para anggota T.P. yang bertebaran di Sumatera Barat mengambil inisiatif dan mengambil keputusan masing-masing untuk memilih cara dan bentuk perjuangan yang dapat dilanjutkan sebagai pelajar terlatih militer. Ada yang tinggal di dalam kota untuk menunggu kesempatan bersekolah kembali, tetapi ada pula yang memilih ke luar kota bergabung dengan kesatuan-kesatuan pejuang lainnya untuk bergerilya.

Dalam keadaan terombang-ambing untuk menentukan sikap disaat gawat tersebut, penulis terdampar pada senja 19 Desember 1948 ke markas Mobiele Brigade Polisi (Mobbrig) Sumatera Barat, di Birugo Bukittinggi. Rencana semula hendak menemui paman penulis sendiri (alm. Amir Mahmud, Inspektur Polisi I, Komandan Mobbrig Sumatera Barat, tetapi malam itu berkesempatan bertatap muka dengan Bapak Suleiman Effendi (Pembantu Komisaris Besar, Kepala Polisi Propinsi Sumatera Tengah) dan Bapak R. Abdurachman Suriokusumo (Komisaris Polisi I, Kepala Kepolisian Sumatera Barat).

Dari beliau beliau inilah penulis beroleh keterangan bahwa dalam waktu singkat mungkin tentera Belanda akan sampai di Bukittinggi; semua pasukan pasukan bersenjata serta pejabat pejabat pemerintah Republik Indonesia akan meninggalkan kota dan akan melanjutkan perjuangan secara bergerilya dari luar kota  melawan kekuatan pemerintahan dan tentera pendudukan Belanda.

Penulis juga diberi advis pada waktu itu, supaya sebaiknya sebagai pelajar pulang saja ke kampung dan menunggu perkembangan sampai ada kemungkinan untuk bersekolah. Dengan mengemukakan alasan bahwa penulis adalah pula salah seorang anggota Tentera Pelajar  yang pernah mendapat latihan kemiliteran, memohon kiranya bapak bapak pimpinan kepolisisan tersebut mau membawa serta penulis dalam perjuangan ge-rilya di luar kota kemanapun akan pergi. Permohonan penulis diperkenankan oleh Bapak Suleiman Effendi dan pada malam itu juga diberi tugas untuk membantu Pemb. Inspektur II Bustaman (terakhir Let. Kol. Pol. di Kodak Jakarta Raya) mengemasi arsip-arsip / dokumen-dokumen yang perlu diselamatkan. Sebagai anggota polisi yang bergabung dalam korps Mobiele Brigade (Mobbrig) malam itu pula penulis memperoleh baju seragam / uniform Mobbrig Sumatera Barat yang pada waktu itu terdiri dari: celana dan kemeja khaki-dril, jaket wol berwarna coklat (bekas uniform tentera Australia) dan karena sepatu kulit tidak ada saat itu hanya diberi sepatu karet. Senjata diberi sebilah kelewang.

Meninggalkan markas di Birugo.

Tanggal 20 Desember 1948 pagi, didapat perintah supaya markas Mobbrig Sumatera Barat di Birugo, Bukittinggi (sekarang: kompleks di belakang SMA Negeri No.2) di-pindahkan ke Jirek (pada waktu itu kantor Jawatan Sosial), sedangkan bagian perlengkapan / perbekalan serta perbengkelan dipindahkan ke Sipisang (arah Utara dari Bukittinggi pada jalan raya menuju Bonjol). Hari ini serangan pesawat udara Belanda masih bergelombang gelombang datang menjelang tengah hari.

Bagi pimpinan pimpinan unit kerja memang tidak mudah dan ringan tanggung jawab yang harus dipikul dalam kekalutan yang dihadapi. Selain dari pada tugas dinas kepolisian harus lebih ditingkatkan kewaspadaan, disamping itu pengungsian keluarga keluar kota harus pula berjalan teratur, sedangkan fasilitas transport tidak tersedia cukup; pula distribusi / supply makanan petugas maupun pengungsi pengungsi memerlukan perhatian pengaturannya, dsb dsb.

Dalam kesibukan dan kekalang kabutan yang terjadi itu,  penulis menemukan sepucuk senjata senapan/karabijn tergeletak di belakang pintu markas di Jirek. Sesudah ditanyakan berkeliling siapa yang bertanggung jawab atas pemakaian senjata itu, tidak seorang pun yang merasa kehilangan. Sejak hari itu penulis diberi izin oleh Komandan untuk memegang senapan yang sudah kehilangan tuan tersebut.

Menjelang subuh tgl. 21 Desember, datang lagi perintah supaya markas di Jirek ditinggalkan dan semua detasemen markas, peralatan/perlengkapan dipindahkan ke Sipisang.

Markas darurat selanjutnya mendapat tempat di Jorong Pasir (beberapa ratus meter sebelum memasuki pasar Sipisang), sedangkan beberapa pos Mobbrig telah dibentuk sepanjang jalan raya sejak dari Batang Palupuh sampai ke Simpang Patai. Markas di Pasir ini hanya berlangsung selama satu hari saja, karena 22 Desember 1948 pagi diperintahkan lagi oleh Komandan supaya pindah ke Bateh Sarik (sebuah jorong yang terletak antara Simpang Patai dan Jorong Laring, pada jalan pintasan menuju Palembayan). Pada tgl 22 Desember ini pula didengar berita bahwa Belanda telah memasuki Bukittinggi.

Sejak Mobbrig bermarkas di Bateh Sarik ini konsolidasi organisasi dan pemantapan pengaturan operasi gerilya dimulai secara tuntas. Satuan satuan Mobbrig yang sebelum 19 Desember 1948 bertugas di Batang Tapakis (dekat Lubuk Alung), di Air Sirah (dekat Indarung) dan di Siguntur (jalan ke Tarusan) sudah mulai bergabung kembali ke Induk pasukan dan memperkuat front sekitar Palupuh. Selain dari pada itu terdapat pula satuan satuan TNI yang tergabung kedalam Komando Wilayah yang dipegang oleh Mobbrig ini, diantaranya kompi Letnan I Johan. Wilayah pertahanan Palupuh ini kemudian mendapat nama Sektor II Daerah Pertempuran Agam dengan komandannya Inspektur Polisi I Amir Mahmud, sedangkan komandan Daerah Pertempuran Agam adalah Let. Kol, Dahlan Jambek. Kekuatan rakyat bersenjata (yang biasa dipakai untuk berburu, seperti: senapang belansa, dubbel-lop, tombak) terhimpun dalam kesatuan kesatuan BPNK (Badan Pengawas Negeri dan Kota).

Dalam suasana penghimpunan tenaga-tenaga pejuang begini terdapatlah pula beberapa orang anggota T.P. yang bergabung kedalam kesatuan Mobbrig di front Palupuh, diantaranya yang dapat teringat oleh penulis ialah: sdr. Awaluddin (sekarang Dr. Awaluddin Djamin, MPA; Jenderal Polisi, Kapolri), sdr. Zamzam (sekarang drs. Zamzam, guru SMA di Ban-dung); dan H. Syukur Syafei, B.Sc (dosen FKT-IKIP Padang) dan penulis sendiri sekarang dosen FKSS-IKIP Padang.

Bateh Sarik dijadikan tempat kedudukan markas Mobbrig (juga markas Komando Sektor II DPA) sampai bulan Maret 1949 dan pernah beberapa hari ditinggalkan, yaitu saat-saat pasukan Belanda mengadakan rentetan serangan mau menerobos pertahanan front Palupuh menuju Bonjol.

Saat-saat genting ini markas berkedudukan di Bamban (suatu jorong yang terletak dekat Palembayan).

Belanda pada tanggal 5 Januari 1949 dengan dilindungi pesawat udara sanggup menerobos sampai ke Pasir (Sipisang) dan mulai hari itu membuat posnya di Palupuh. Tgl. 6 Januari 1949 pasukan Belanda sampai ke Bonjol, tapi hari itu juga kembali ke Palupuh. Sungguhpun mereka dapat membuat kubu di Palupuh sampai masa datangnya “cease fire”, tetapi pasukan Belanda itu tidak dapat bergerak ke Utara maupun ke Selatan dan tidak luput selalu mendapat gangguan dari pasukan Republik Indonesia.

Sewaktu-waktu pasukan Belanda yang terkepung di Palupuh mendapat bantuan kiriman perlengkapan/perbekalannya lewat dropping dari pesawat udara.

Di bulan Maret 1949 markas Mobbrig / Komando Sektor II DPA dipindahkan dari Bateh Sarik ke Kuran-kuran, ditepi jalan besar antara Patapaian dan Bateh Rimbang. Menjelang adanya perintah penghentian tembak menembak (cease fire) antar pasukan R.I. Dan Belanda di bulan Agustus 1949, pasukan-pasukan Belanda sudah mulai menurun nafsu menyerbu dan menyerangnya, begitu pula satuan tentera Belanda yang berada di Palupuh tidak aktif lagi mengadakan patroli-patroli. Tapi masih dalam suasana siap siaga dalam beberapa minggu di Pasir Lawas (kira-kira 3 kilometer dari Palupuh) telah dapat disiapkan pembangunan sebuah tugu peringatan perjuangan Front Palupuh, yang diresmikan pendiriannya pada tanggal 17 Agustus 1949. Pada tugu ini dilukiskan lambang Mobbrig (roda bergigi), lambang TNI (bintang segi lima) dan bambu beruncing bersilang melambangkan perjuangan rakyat. Peresmian tugu ini dilakukan oleh Kepala Kepolisian Propinsi Sumatera Tengah (Bapak Suleiman Effendi) dan dihadiri oleh pasukan-pasukan bersenjata dan rakyat yang berada di sekitar Front Palupuh (Sektor II DPA).

Sesudah pasukan Belanda me-ninggalkan Palupuh dan beberapa minggu sebelum kembali memasuki kota Bukittinggi di awal Desember 1949, markas Mobbrig/Sektor II DPA pindah ke Pasar Palupuh.

Kembali ke Bukittinggi.

Selama markas berada di Palupuh, pasukan-pasukan dihimpun dan mendapat penataran / latihan khusus dalam rangka mempersiapkan diri untuk kembali masuk kota atau daerah-daerah yang akan ditinggalkan oleh pasukan-pasukan Belanda.

Sesuai dengan perundingan pihak R.I. Dengan pihak Belanda, maka pada tgl. 5 Desember 1949 seorang Inspektur Polisi Belanda didampingi oleh seorang “Hoofd-agent” beserta dua orang sopir polisi Belanda membawa satu truk dan satu pick-up datang ke Palupuh dari Bukittinggi.

Kedatangan mereka ini adalah untuk menjemput 33 orang anggota Mobbrig yang akan bertugas sebagai pasukan keamanan di Bukittinggi di saat-saat pasukan Belanda akan meninggalkan Bukittinggi di tanggal 7 Desember 1949.

Penulis berasa beruntung sekali terpilih untuk menjadi anggota pasukan 33 ini. Karena penulis sendiri tidak mempunyai pangkat kepolisian (maklum hanya seorang anggota TP yang menggabung) maka oleh pimpinan diberi pangkat Agen Polisi I terhitung mulai 1 Desember 1949.

Tgl. 5 Desember 1949 menjelang sore, satu jeep dengan tulisan Mobiele Brigade, diatasnya berada Inspektur Polisi I Amir Mahmud dan Inspektur Polisi II Mandagi K. Situmorang diiringi oleh sebuah pick-up dan sebuah truck berisi pasukan Mobbrig memasuki kota Bukittinggi lewat Jirek, pasar ternak, Aur Tajungkang, jalan Landbouw terus ke Tarok. Sore itu juga dilakukan upacara penaikan bendera Merah Putih di Markas Tarok yang dihadiri oleh Komandan Mobbrig bersama Komandan Brigade Banteng Sub. Territorium IX (Let. Kol. Dahlan Jambek).

Tgl 7 Desember 1949, jam 11.25 sirene pertama berbunyi, suatu tanda bahwa tentera Belanda akan segera meninggalkan kota. Sirene kedua bernunyi, pasukan-pasukan R.I. Mulai memasuki Bukittinggi dari berbagai jurusan, sedangkan satuan Mobbrig masuk dari arah Tarok terus ke Birugo (kompleks polisi) dan kemudian membentuk satuan-satuan patroli.

Setelah penyerahan kota Bukittinggi, Padang Panjang dan lain-lainnya dari pihak tentera Belanda kepada pihak R.I. terakhir Padang secara resmi diserahkan pada 27 Desember 1949. Dalam rangka timbang terima masalah keamanan dari Belanda ke pihak Republik Indonesia di Padang, kesatuan Mobbrig dari Bukittinggi mendapat kepercayaan pula bersama dengan kesatuan-kesatuan angkatan lainnya untuk bertugas.

Dalam harian Haluan, 18 Maret 1982, terberita bahwa monumen perjuangan perlawanan rakyat bersama Mobbrig yang terletak di desa Palupuh Rimbopanjang Sumbar dalam waktu dekat akan dipugar. Bahwa pemugaran yang diprakarsai oleh Kapolri Dr. Awaluddin Djamin tersebut telah disepakati oleh seluruh lapisan masyarakat, ninik mamak dan pemuka-pemuka masyarakat, semoga akan terwujud dalam waktu dekat sebagai pelengkap dari tulisan-tulisan sejarah Front Palupuh yang telah terdapat dalam beberapa buku.

Adrin Kahar (Haluan Padang, 5 April 1982)

Sumber : disini

Trikora: “Dua Hari Gempuran, Menang”

Trikora: “Dua Hari Gempuran, Menang”

Suasana di Antonov Room, Klub Eksekutif Persada Halim siang itu awal September, terasa emosional. Kalau biasanya hanya dihadiri para purnawirawan TNI AU yang tergabung dalam Perhimpunan Purnawirawan AURI (PP-AURI), maka siang itu, seorang kolonel purnawirawan yang selama 34 tahun “lenyap” seperti ditelan Bumi, hadir di hadapan mereka. Kolonel (Pur) Theodorus Hendrikus Gottschalk, kelahiran Semarang 25 Maret 1918, dengan hangat menyapa dan memeluk erat setiap purnawirawan yang menghampiri maupun yang dihampirinya.

Bisa dikata, tidak satupun penerbang TNI AU angkatan Kalijati periode 1950-an yang tidak kenal Gottschalk. Dialah instruktur pertama sekolah penerbang Lanud Kalijati (sekarang Lanud Suryadarma) setelah dipindahkan dari Lanud Andir, Bandung (sekarang Lanud Hussein Sastranegara). Sementara komandan pertama Mayor Ahmadi.

Sebagai realisasi Konferensi Meja Bundar 1949, Belanda mengeluarkan maklumat yang berisi himbauan kepada seluruh personel militer Belanda di Indonesia untuk membuat pilihan: bergabung dengan TNI atau kembali ke Belanda. Sersan Penerbang Th. H. Gottschalk memilih himbauan pertama. Penerbang P-40N Kitty Hawk Skadron 120 Militaire Luchtvaart diterima AURIS 10 Mei 1959.

Gottschalk mengisahkan secara khusus masa-masa indahnya selama mengabdi di TNI AU kepada Adrianus Darmawan, Beny Adrian, dan Donna CH. Asri. Wawancara sedianya berlangsung di Klub Eksekutif Persada Halim. Karena banyaknya teman-teman lamanya yang ingin bercengkerama sampai mengganggu jalannya wawancara, kami akhirnya sepakat untuk melanjutkan obrolan santai ini esoknya di sebuah guest house, masih di Halim Perdanakusuma. Dengan bahasa Indonesianya yang sedikit “rumit”, Angkasa menyajikan petikan wawancaranya berikut ini.

T : Anda disebut-sebut sebagai orang yang paling berjasa dalam merintis Sekolah Penerbang. Bisa diceritakan?

J : Suatu hari saya dipanggil Pak Surya (Komodor Suryadarma, KSAU pertama, red). Dia bilang, jalankan (tugas sebagai kepala sekolah, red) baik-baik. Padahal saya sendiri tidak punya bekal yang cukup walau semasa di KNIL pernah jadi instruktur. Kurikulum tidak ada, referensi juga tidak. Namun pegangan saya yang utama adalah murid itu sendiri, pesawat yang kedua dan ketiga baru instrukturnya. Seperti pernah disodorkan kepada saya beberapa nama untuk di wash out. Saya bilang, jangan dulu. Saya cek mereka, memang anaknya kurang berani tapi saya lihat kalau naik sepeda motor kok berani. Saya bilang, ‘Kamu laki-laki atau di celana kamu ada apa?’ Eh, dia marah. Hasilnya, dia jadi berani hingga akhirnya terbang.

T : Tapi sebelum di Kalijati, katanya pendidikan dilakukan di Andir,  Bandung?

J : Betul, hanya dua bulan dengan siswa Mulyono, Pracoyo dan Hadi Sapandi. Mereka fighter dan merupakan angkatan pertama fighter. Setelah itu baru saya diperintahkan segera ke Kalijati untuk membentuk flying school. Angkatan pertama saya terbang dengan 20 murid diantaranya Pedet Sudarman, Sompil Basuki, Waluyo, dan Sutopo. Pagi dengan kelas bintara sore kelas perwira.

T : Sebenarnya apa modal Anda hingga berani menerima tugas berat itu?

J : Saya tidak tahu. Waktu masih di ML, baru terima brevet penerbang saya sudah jadi instruktur. Di sini juga, hingga akhirnya saya jadi Komandan Sekolah Instruktur Penerbang pertama tahun 1958. Namun yang paling penting adalah starting point murid untuk jadi penerbang itu karena apa. Itu sangat mempengaruhi keterampilannya.

T : Alasan Anda sendiri memilih bergabung dengan AURI?

J : Diawali dari pertemuan saya dengan Wiweko Supono dan Ashadi Tjahyadi di Andir Bandung. Kedua orang ini ditugasi mengurusi pesawat-pesawat B-25 Mitchell, P-51 Mustang, AT-16 Harvard, dan C-47 Dakota yang dihibahkan Belanda ke AURI. Wiweko dan Ashadi tidak tahu siapa yang harus menerbangkan. Beliau meminta sukarelawan penerbang Belanda tapi tidak ada yang mau. Hanya saya yang bersedia. Karena ini teman-teman Belanda panggil saya pembelot. Wiweko tanya, you mau masuk AURI? Saya gembira sekali, karena saya tidak suka kembali ke Belanda dan ini kesempatan bagi saya untuk tinggal di Indonesia. Kalau ke Belanda sebagai instruktur, itu berarti tugas. Kalau tinggal di Indonesia, saya ikut membangun AURI. Lebih menarik dan tantangan besar. Saya tidak suka kembali, ayah juga sudah jadi WNI. Di sini saya membangun sesuatu yang besar, sebuah angkatan udara.

T : Bisa Anda sebutkan satu-dua misi operasi di AURI?

J : Saya ikut hampir semua misi dengan Harvard, bukan Mustang karena kebetulan saya di pendidikan. Kenapa Harvard yang sebenarnya pesawat latih? Ceritanya waktu Kalijati tidak aman dari gerakan DI/TII, saya minta bantuan Mustang menyerang. Sayang Mustang telat dan mereka telah lari. Saya berpikir, kenapa tidak Harvard dipersenjatai dengan senapan mesin dan pelucur roket. Insiatif ini ternyata membawa keuntungan. Buktinya ketika Permesta meletus di Sulawesi, Harvard diperintahkan Pak Surya ke Sumatera untuk menggantikan tugas Mustang yang harus digeser ke Timur. Waktu itu penerbangnya masih berstatus kadet. Saya pimpin sendiri para siswa.

T : Apakah Anda tidak khawatir mengingat penerbang masih berstatus siswa?

J : Cerita ini menarik. Malah sebelum ke Sumatera, kami beroperasi juga di Flores dan Timor. Problem saya waktu ke Sumatera adalah murid-murid yang masih baru dengan rata-rata baru mengantongi 30 jam terbang serta belum tahu cara menembak. Sebelum ke Medan, mereka saya latih penembakan dari udara di Palembang. Hidung pesawat kami cat warna-warni. Operasi ini sempat membuat kaget pihak asing. Mereka pikir, Mustang dan B-25 dipindahkan ke Timur, kok, malah sekarang muncul pesawat-pesawat lain? Tapi saya mau katakan, sebenarnya pelajaran penembakan udara yang masuk dalam kurikulum sekolah waktu itu tidak betul. Materi itu adalah porsinya training operational, bukan sekolah penerbang. Namun ini semua karena kebutuhan yang mendesak.

Theodorus Hendrikus Gottschalk merupakan satu dari jutaan saksi mata Perang Pasifik. Saat itu dia ditempatkan di Skadron 120 Militaire Luchtvaart yang dibentuk tahun 1943 dan berpangkalan di Merauke sebelum dipindahkan ke Biak 19 Juni 1945. Gottschalk meraih Groot Militaire Brevet dan Waarnemer Brevet Kalijati Juli 1941. Karena Kalijati semakin tidak aman dari Jepang, mereka dikirim ke Australia dengan kapal laut (1942). Australia pun sama. Jadilah mereka dikirim ke Jackson Mississippi, AS hingga mendapat brevet penerbang operasional.

Tahun 1943 Gottschalk dikirim ke Inggris untuk memperkuat korps udara Sekutu dalam menghadapi AU Jerman. Hanya dua bulan, Spitfire tidak sempat diterbangkannya hingga dikembalikan ke AS. Di AS Gottschalk menjadi instruktur penerbang Belanda selama enam bulan. Setelah itu dia kembali ke Australia. Akhir 1945, bersama 39 penerbang lainya Gottschalk menerbangkan ferry 40 North American P-51 Mustang dari Brisbane ke Jakarta dengan rute Brisbane-Darwin-Kupang-Jakarta. Pada 10 Mei 1950, Gottschalk resmi pindah ke AURIS dan pangkatnya dinaikkan jadi letnan udara I pada 1 Juli 1950. Gottschalk pernah menjadi Panglima Korud IV, Biak, Papua selama empat tahun (1963-1967). Tahun 1968, Gottschalk diberhentikan dengan hormat setelah menjabat Ditjen Litbangau. Tidak lama kemudian dia meninggalkan Indonesia.

T : Menarik juga menerawangi peran dan posisi Anda ketika kampanye Trikora di Irian Barat?

J : Untung Anda menanyakannya. Waktu itu saya Pamen (perwira menengah) Urusan Persiapan Staff College (cikal bakal Seskoau) yang akan didirikan di Lembang. Tiba-tiba saya dapat surat untuk menghadap Leo Wattimena, Panglima AULA (Angkatan Udara Mandala). Leo bilang, you ikut ke Irian bantu kami buat rencana operasi, khususnya penyerangan Biak. Saya akhirnya jadi staf oprasi Pak Leo.

T : Apakah ada yang meragukan “loyalitas” Anda, mengingat Anda indo-Belanda?

J : Pak Leo sendiri yang tanya soal ini. Saya bilang bahwa tidak ada keraguan pada diri saya, saya setia kepada AURI dan Indonesia.

T : Bisa Anda sampaikan pandangan Anda jika konflik berubah jadi perang terbuka?

J : Kepada perwira operasi saya sampaikan bahwa fighter Belanda hanya day fighter bukan night fighter. Kita punya bomber Tu-16 untuk bom landasan mereka. AURI punya B-25 dan P-51, tapi itu bukan tandingannya (jet Hawker Hunter). Juga muncul kekhawatiran Tu-16 bakal ditembak Hunter. Saya bilang tidak mungkin karena Belanda tidak punya airborne radar. Serangan ke Biak sebagai pusat pertahanan Belanda dapat dilaksanakan dengan airborne assault yang mendahului pendaratan armada laut dan pasukan darat. Teori ini akhirnya diakui. Saya berdebat lama dengan Leo.

T : Bagaimana dengan kapal induk Karel Doorman?

J : Kapan berangkatnya kapal itu kami tidak tahu. Buat apa takut, Tu-16 punya guidance bom dan Karel Doorman merupakan “baja besar” yang dengan gampang dihantam rudal. Mereka pasti mati!

T : Kesimpulannya?

J : Kita pasti menang, itu analisa saya. Dalam dua hari gempuran, keunggulan di udara akan diraih. Mereka hanya punya dua landasan di Biak dan Sorong yang dengan gampang bisa dihancurkan Tu-16 agar fighter-nya tidak sempat naik. Begitu juga dengan pasukan darat mereka. Coba lihat ketika PGT dan RPKAD diterjunkan di pedalaman. Itu kan propaganda. Namun Belanda terpancing dan mengejar hingga Biak kosong. Kita bisa lihat peta kekuatan dari sini. Ketika saya balik ke Belanda, saya dengar dari beberapa veteran bahwa tentara Belanda yang dikirim ke Papua ternyata bukan professional soldier tapi milisia.

T : Ada yang meragukan kesiapan AURI saat itu. Katanya untuk Tu-16, yang disiapkan penerbang Rusia?

J : Itu tidak benar. Memang ada orang Rusia, tapi kami sudah sepenuhnya operasional.

T : Mengenang masa lalu, momen apa yang paling hebat dalam hidup Anda sebagai fighter?

J : Perang Dunia II dan di Irian Barat.

T : Maksud Anda tentu Perang Pasifik. Sebagai penerbang P-40, apakah Anda tidak khawatir menghadapi Zero?

J : Tidak, malah saya berharap sekali bisa ketemu. Kami diajarkan dogfight menghadapi Zero. Zero (A6M Mitsubishi “Zero”) itu manuvernya baik sekali pada kecepatan 400 mil per jam, jangan fight di bawah kecepatan itu, you akan kalah. Jadi harus fight dengan kecepatan di atas 400.

eks KNIL(Pasukan Belanda yang menjajah Indonesia) jadi republiken… (Sumber)

Pasukan Kancil Merah

PASUKAN Kancil Merah adalah nama samaran Pasukan Siliwangi yang berkedudukan di wilayah Cirebon dengan komandannya yang bernama Letnan Abdul Kadir. Pasukan Kancil Merah, merupakan salah satu pasukan gerilya yang memiliki persenjataan yang lengkap dengan jumlah personil yang cukup banyak serta dikenal dengan kedisiplinan dan keberaniannya.
Tercatat dalam buku yang berjudul “Semuanya Untuk Cirebon” (Maharyono : 2003), Pasukan Kancil Merah mengalami beberapa kali kontak senjata dengan Belanda serta melakukan tindakan sabotese untuk memperlambat gerak pasukan Belanda.

Beberapa anggota Pasukan Kancil Merah yang gugur dalam medan pertempuran, diantarnya kini diabadikan menjadi nama jalan di Kota Cirebon, seperti jalan Kusnan, Jalan Saleh dan Jalan Suratno. Sedangkan Palagan Mandala merupakan peristiwa yang berawal ketika meletusnya Agresi Belanda I sebagai bentuk pengingkaran Belanda terhadap kesepakatan hasil perjanjian Linggarjati.

Belanda melakukan agresinya yang pertama pada tanggal 21 Juli 1947 dengan melakukan penyerangan diberbagai daerah termasuk wialayah Cirebon.

Tepat pada pukul 09.00, bertepatan dengan Bulan Puasa, serangan udara dilancarkan oleh Belanda, sebagai tanda dimulainya agresi militer Belanda ke Cirebon. Padahal saat itu Belanda masih terikat oleh perjanjian Linggarjati. Kota Cirebon diserang dari udara dengan pesawat pemburu dan pembom yang melepaskan tembakan senapan mesin, roket dan bom yang terdiri dari jenis seberat sepuluh hingga seratus kilogram.

Pada tanggal 22 Juli Belanda terus melakukan penyerangan dari udara dan laut. Beberapa daerah yang dijadikan sasaran tembak diantaranya adalah jembatan kereta api Krian, Stasiun Kejaksan, Kutagara, Prujakan dan Pagongan. Akibat insiden tersebut puluhan orang tewas termasuk anak-anak, kaum perempuan serta masyarakat sipil lainnya. Pasukan Siliwangi yang berkedudukan di Cirebon waktu itu tidak dapat menahan serangan Belanda yang pesenjataannya lebih lengkap dan modern. Atas segala pertimbangan dan untuk menghindarkan dari kehancuran yang lebih fatal Pasukan Siliwangi menjauh ke Desa Mandala untuk mengatur siasat gerilya.

Desa Mandala adalah salah satu desa yang berada di bawah kaki Gunung Ciremai, secara administratif berada di wilayah Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon. Selanjutnya pertempuran terus terjadi antara pasukan TNI dibawah pimpinan Letnan Budhi Hardjo dengan pasukan Belanda sampai dengan tercapainya persetujuan penghentian tembak menembak pada bulan Agustus 1949, yang kemudian dilanjutkan dengan Konferensi Meja Bundar (KMB).

Selama pertempuran yang terjadi di Desa Mandala puluhan pejuang gugur termasuk diantaranya Kapten Hendrik bersama putranya yang baru berusia 10 tahun.

Foto-Foto Jaman Perang Kemerdekaan Indonesia

Dengan truk ditangkap prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI), dievakuasi. TNI dibentuk oleh penggabungan dari tentara Republik dan pemuda-pemuda di 3 Juni 1947. Di Jawa mereka memiliki sekitar 110.000 dan sekitar 64.000 orang di Sumatera. Indonesia 18 Februari 1948.

POW2-1

merekrut tentara Republik untuk latihan untuk berlatih dengan model pistol kayu, Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia, pada bulan Desember 1947.

trilatihan

Pidato oleh Komandan setelah inspeksi senjata pada 21 Desember 1947

TRI15

TRI1

TRI6

TRI7

TRI8

TRI11

Pejuang eks PETA 1944

TRI16

Arek arek suroboyo 1945

TRI9

Penyambutan pasukan gerilya yang turun gunung di magelang 1945

jadul

Prajurit Indonesia front Semarang mendarat di Yogyakarta, Indonesia, senjata otomatis di tangan, akhir bulan Desember 1947. (perhatikan papan baleho dibelakang)

jogja1947

Pasukan gerilya masuk ke kota jogja 1947

TRIjogja1947

Ditangkap ekstremis Indonesia, mengangkat tangan mereka, oleh tentara Belanda (KNIL / KNIL pasukan) dikawal, Indonesia pada bulan Januari 1947. ( helm nya cuy hehehe .. wermach punya)

POW

eks tentara PETA yang baru turun di stasiun mangarai 1947

283108_173638462704972_100001764585959_398902_8169997_n

amir syarifudin

223609_2213615230101_1539177534_2342807_7123424_n

presiden sukarno dalm kunjungan ke Rangkasitung dalam kawalan TRI

jb-5701-239-29-rangkas0

PM sutan sharir di dalam kereta kepresidenan setelah dari rangkasbitung bersama presiden Sukarno

216995_171868979548587_100001764585959_393835_277992_n

rampasan belanda pasti neh

TRI12

laskar rakyat bambu runcing

TRI13

seorang pejuang yang tertangkap oleh tentara jepang dan kemudian di jadikan romusha

270574_2088872455178_1046192415_32126386_3569214_n

gerbong kereta pembawa romusha yang di pulangkan oleh pemerintah ned-idies 1949 di sta tj priuk dan kemudian menyebar di seluruh jakarta .. setelah itu maka di jakarta terdapat daerah2 seperti kampung bali, kampung ambon, mangarai dsb .. karena merekalah penghuni pertama daerah tersebut

284816_173651662703652_100001764585959_398915_7220126_n

Parade militer 1948 ketika kedatangan Bung Karno di Jogjakarta

TRI

TRI2

TRI3

TRI5

TRI10

Sumber

Jejak Sejarah Pertempuran 5 Hari 5 Malam

1 Januari 1947

DARI RS. Charitas terjadi rentetan tembakan disusul oleh ledakan-ledakan dahsyat kearah kedudukan pasukan kita yang bahu membahu dengan Tokoh masyarakat bergerak dari pos di Kebon Duku (24 Ilir Sekarang) mulai dari Jalan Jenderal Sudirman terus melaju kearah Borsumij, Bomyetty Sekanak, BPM, Talang Semut.

2 Januari 1947

Diperkuat dengan Panser dan Tank Canggih Belanda bermaksud menyerbu dan menduduki markas Tentara Indonesia di Masjid Agung Palembang. Pasukan Batalyon Geni dibantu oleh Tokoh Masyarakat bahu membahu memperkuat barisan mengobarkan semangat jihad yang akhirnya dapat berhasil mempertahankan Masjid Agung dari serangan sporadis Belanda. Pasukan bantuan belanda dari Talang Betutu gagal menuju masjid agung karena disergab oleh pasukan Lettu. Wahid Luddien sedangkan pada hari kedua Lettu Soerodjo tewas ketika menyerbu Javache Bank. Diseberang ulu Lettu. Raden. M menyerbu kedudukan strategis belanda di Bagus Kuning dan berhasil mendudukinya untuk sementara. Bertepatan dengan masuknya pasukan bantuan kita dari Resimen XVII Prabumulih

3 Januari 1947

Pertempuran yang semakin sengit kembali memakan korban perwira penting Lettu. Akhmad Rivai yang tewas terkena meriam kapal perang belanda di sungai seruju. Keberhasilan gemilang diraih oleh Batalyon Geni pimpinan Letda Ali Usman yang sukses menhancurkan Tiga Regu Kaveleri Gajah Merah Belanda. Meskipun Letda Ali Usman terluka parah pada lengan.

Pasukan lini dua kita yang bergerak dilokasi keramat Candi Walang (24 Ilir) menjaga posisi untuk menghindari terlalu mudah bagi belanda memborbardir posisi mereka. Sedangkan pasukan Ki.III/34 di 4 Ulu berhasil menenggelamkan satu kapal belanda yang sarat dengan mesiu. Akibatnya pesawat-pesawat mustang belanda mengamuk dan menghantam selama 2 jam tanpa henti posisi pasukan ini.

Pada saat ini pasukan bantuan kita dari Lampung, Lahat dan Baturaja tiba dikertapati namun kesulitan memasuki zona sentral pertempuran diareal masjid agung dan sekitar akibat dikuasainya Sungai Musi oleh Pasukan Angkatan Laut Belanda.

4 Januari 1947

Belanda mengalami masalah amunisi dan logistik akibat pengepungan hebat dari segala penjuru oleh tentara dan rakyat, sedangkan tentara kita mendapat bantuan dari Tokoh masyarakat dan pemuka adat yang mengerahkan pengikutnya untuk membuka dapur umum dan lokasi persembunyian serta perawatan umum.

Pasukan Mayor Nawawi yang mendarat di keramasan terus melaju ke pusat kota melalui jalan Demang Lebar Daun. Bantuan dari pasukan ke masjid agung terhadang di Simpang empat BPM, Sekanak, dan Kantor Keresidenan oleh pasukan belanda sehingga bantuan belum bisa langsung menuju kewilayah charitas dan sekitar.

Pasukan dari Kebun Duku diperintahkan untuk menyerang Jalan Jawa lama dan 11 Siang telah menyusun barisan berangkat ke kenten. Tiba-tiba dalam perjalanan Kapal Belanda menembaki rumah sekolah yang dihuni oleh Batalyon Geni dan Laskar Nepindo sehingga pihak kita mengalami banyak kerugian dan korban jiwa.

Dalam Cease Fire TKR dan laskar serta badan-badan perlawanan rakyat diperintahkan mundur sejauh 20 KM dari kota palembang atas perintah Komandan Divisi II Kolonel Bambang Utoyo. Sedangkan dikota palembang hanya diperbolehkan pasukan ALRI dan unsur sipil dari RI yang tinggal.

Sumber : sini

Kisah Pertempuran di Kamal

PERISTIWA perlawanan yang heroik dari Letnan Ramli di Kamal dan kawan-kawannya memberi kesan kepada Belanda bahwa semangat perjuangan Rakyat Madura sangat tinggi dan tetap bergelora, begiru juga perlawanan dari daerah -daerah lain juga meluap-luap.

GUGURNYA LETNAN R. MOHAMMAD RAMLI

Pada hari jum’at tanggal 5 Juli 1946, sekitar pukul 08:00 terlihat enam buah tank amphibi dan dilindungi oleh tiga buah pesawat udara jenis Mustang menuju Kamal, dan pesawat udara tersebut menembaki daerah pantai, dan pesawat udara tersebut menembaki daerah pantai yang diduga terdapat pos-pos pertahanan kita, yang kemudian 6 buah tank amphibi Belanda terbagi dua menuju sasaran daerah pelabuhan DKA dan pelabuhan Pier Timur.

Letnan R. Mohammad Ramli dengan kejadian yang dihadapinya memerintahkan kepada anggota Seksinya melalui Komandan Regunya untuk tetap mempertahankan pos-posnya sekuat mungkin jangan sampai tentara Belanda dapat mendarat.

Perlu diketahui Mohammad Ramli adalah seorang Perwira BKR dengan pangkat Letnan, yang dipercaya untuk memimpin Seksi I Kompi IV Batalyon III Resimen Madura Barat, dibawah pimpinan Mayor Mohammad Imbran dan bertugas untuk mempertahankan daerah pantai Kamal, Pier Timur dan Jungjate.

Tiga buah tank amphibi telah dapat mendarat dan menuju/melalui pelabuhan Pier Timur ke darat dengan mengeluarkan tembakan-tembakan dan dalam hal tersebut Letnam R. Mohammad Ramli memimpin Seksinya untuk menghadapi jangan sampai mendarat. Dengan kekuatan dua regu yang bersenjatakan campuran dan diperkuat satu pucuk PSU kaliber 7 mm dan satu pucuk MG kaliber 7,7 mm dapat membalas tembakan-tembakan dari tiga tank amphibi tersebut.

Karena kekuatan senjata yang tidak seimbang terpaksa sebagian regunya diperintahkan untuk mundur dan melindungi sebagian regu lainnya dibawah pimpinan Letnan R. Mohammad Ramli yang menpertahankan pintu masuk dari Pier Timur dengan bersenjatakan pistol, keris dan pedang.

Dalam mempertahankan pintu Pier Timur tersebut, Letnan R. Mohammad Ramli dengan sebagian anggota regunya tetap melakukan tembak-menembak dengan tank amphibi terdepan dan akhirnya Letnan R. Mohammad Ramli berusaha naik ke atas tank amphibi dan tertembak sehingga gugur.

Di lain pos-pos pertahanan di daerah Pelabuhan DKA sebelah Barat mereka masih dapat melakukan perlawanan-perlawanan sehingga pihak Belanda tidak meneruskan penyerangannya lebih jauh ke daratan di Kamal. Dan sekitar pukul 13:00 tentara Belanda kembali ke Surabaya.

Almarhum R. Mohammad Ramli telah gugur, atas permintaan keluarganya (Ayah dan Ibunya) dimakamkan di pemakaman Asta Tinggi Sumenep, makam keluarga raja-raja Sumenep.

KERUGIAN KITA DALAM PERTEMPURAN KAMAL

Personel yang gugur :

  1. Letnan Satu R. Mohommad Ramli
  2. Letnan Abdullah (Sampang)
  3. Letnan Singosastro (Bangkalan)
  4. Tamtama Timbang (Kamal)
  5. Tamtama Bunadin (Kamal)
  6. Tamtama Reken (Kamal)
  7. Tamtama Lawi (Kamal)
  8. Tamtama Jalal (Kamal)
  9. Tamtama Munir (Kamal)

Personel yang luka :

  1. Letnan Saleh (Sumenep)
  2. Letnan Haris (Sumenep)
  3. Tamtama Kasidin (Kamal)
  4. Tamtama Hanan (Kamal)
  5. Tamtama Junus (Kamal)
  6. Tamtama Na’im (Kamal)
  7. Pimpinan DKA Sarmani (Surabaya)
  8. Tamtama yang namanya tidak dikenal (Ketapang/Sampang)

Materiil yang dirampas :

  1. MG kaliber 7,7 mm, satu pucuk
  2. Mesin Tulis
  3. Kendaraan Sedan
  4. Barang-barang milik Kepolisian Kamal

Belanda dapat menangkap empat orang yang masing-masing bernama :

  1. Norimin, berasal dari Desa Baturubuh Kecamatan Kamal
  2. Marzuki, berasal dari agency Kamal
  3. Pak Ramjis, berasal dari Desa Kamal
  4. Pak Roji, bersak dari Desa Kamal

KERUGIAN TENTARA BELANDA

Dari pihak Belanda tidak diketahui berapa jumlah yang jatuh korban, dan menurut keterangan beberapa orang korban, mereka diangkut dan dimasukkan ke dalam tank amphibi.

GUGURNYA LETNAN SINGOSASTRO DI PELABUHAN DKA KAMAL

Batalyon III dari Resimen 35 (Resimen 5 Madura barat) yang berkedudukan di kamal bermarkas di Rumah Dinas DKA Kamal, telah menempatkan senjata mitraliurnya di pertigaan sebelah Barat Masjid Jamik Kamal. Senjata tersebut dipertanggungjawabkan kepada Letnan Hasiri dan anggotanya, antara lain Kopral Wani dengan beberapa anggota lainnya.

Mitraliur itu diarahkan ke Timur untuk menjaga kemungkinan datangnya musuh yang diperkirakan menyerang dari arah Timur. Letnan Singosastro yang dibantu oleh Kopral Buhari dan Amrun ditugaskan untuk penarikan bom-bom tarik yang ditanam sebelumnya, berada disebelah Barat pertahanan Letnan Hasiri tersebut, dan penanaman bom-bom itu telah menjadi siasat pertahanan pantai untuk mencegah sewaktu-waktu musuh mengadakan pendaratan atau pengintaian di pantai.

Sebelum pendaratan tentara Belanda dimulai, mereka telah mengeluarkan tembakan gencar dari laut. Dan saat terjadinya tembakan tersebut, Letnan Abdullah pada waktu itu berada di sekitar Stasiun DKA Kamal untuk pulang ke Pamekasan dan ia sempat menanyakan kepada Kopral Buhari yang sedang bersiap-siap untuk penarikan bom-bom. Dengan terjadinya serangan tersebut Letnan Abdullah masih berkeinginan untuk melihatnya dan tidak lama kemudian tentara Belanda telah berada di muka pertahanan dengan bergerak maju di dekat gerbong kereta api dengan mengeluarkan tembakan menuju ke pertahanan kita.

Dengan terjadinya serangan tersebut mitraliur yang semula digerakkan ke Timur diubah arahnya ke Selatan dan terus mengadakan tembakan pembalasan terhadap serangan tentara Belanda sampai kehabisan peluru. Sedang Letan Singosastro sendiri pada waktu itu sedang sibuk untuk meledakkan bom-bomnya, namun kesemuanya tidak meledak tanpa diketahui sebabnya. Letnan Singosastro dengan gagalnya bom-bom yang tidak meledak itu dengan segala upaya masih sempat minta sisa granat dari Kopral Buhari dan granat dilemparkan ke sasaran musuh namun granat itu tidak meledak juga, dan Letnan Singosastro dalam keadaan panik masih berteriak ke bagian mitraliur yang sedang kehabisasn peluru untuk melanjutkan tembakannya sampai ia tertembak oleh musuh dan meninggal ditempat.

Letnan Hasiri sendiri selaku penanggung jawabdari mitraliur masih sempat mengundurkan diri termasuk para anggotanya yang lain ke jurusan Utara untuk bergabung dengan Markas Batalyonnya. Tentara Belanda masih terus melanjutkan serangannya ke Utara disekitar rel kereta api untuk menguasai daerah pertahanan Kamal.

Adanya korban dipihak kita sebagaimana tersebut diatas dan jenazahnya dikebumikan di Pongkoran dekat dengan Stasiun Kereta Api (sekarang dipindah di Taman Makam Pahlawan Jl. Soekarno Hatta Bangkalan).

Sehari setelah peristiwa Letnan Ramli dan Letnan Singosastro itu, Belanda datang kembali ke Kamal dengan Komandan Mayor Smith beserta stafnya dan sempat berunding dengan satu Tim yang diketuai oleh Kahar Sosrodanukusumo sebagai Utusan Pemerintah Madura dengan para anggota R.A. Ruslan Cakraningrat, Mr. Sis Cakraningrat, R. Abdul Rasyid dan Zainal Alim. Pemintaan Belanda untuk melakukan barter dengan Pemerintah Madura ditolak mentah-mentah oleh Tim.

Sejak itu Belanda memperhebat gangguan provokasi dan memperkuat blokade ekonomi. Pada bulan Pebruari 1947, satu pleton tentara Belanda mendarat di Kamal lagi dan melancarkan tembakan-tembakan gencar terhadap Markas Tentara Nasional Indonesia setempat. Batalyon Imbran sejak itu bubar dan daerah Batuporron, Kamal dan Tanjung Piring diambil alih pertahanannya oleh Batalyon Hanafi (disebut Batalyon I Resimen 35).

Dikutip dari : Buku Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Madura

Sejarah Kabupaten Karo Zaman Kemerdekaan

Kabar-kabar angin bahwa Belanda akan melancarkan agresi I militernya terhadap Negara Kesatuan Republik  Indonesia kian semakin santer, puncaknya, pagi tanggal 21 Juli 1947, Belanda melancarkan serangan ke seluruh sektor pertempuran Medan Area. Serangan ini mereka namakan “Polisionel Actie” yang sebenarnya suatu agresi militer terhadap Republik Indonesia yang usianya baru mendekati 2 tahun.

Pada waktu kejadian itu Wakil Presiden Muhammad Hatta berada di Pematang Siantar dalam rencana perjalanannya ke Banda Aceh. Di Pematang Siantar beliau mengadakan rapat dengan Gubernur Sumatera  Mr. T. Muhammad Hasan. Dilanjutkan pada tanggal 23 Juli 1947 di Tebing Tinggi. Pada arahannya dengan para pemimpin-pemimpin perjuangan,  wakil presiden memberikan semangat untuk terus bergelora melawan musuh dan memberi petunjuk dan arahan menghadapi agresi Belanda yang sudah dilancarkan 2 hari sebelumnya. Namun Wakil Presiden membatalkan perjalanan ke Aceh dan memutuskan kembali ke Bukit Tinggi, setalah mendengar jatuhnya Tebing Tinggi, pada tanggal 28 Juli  1947. Perjalanan Wakil Presiden berlangsung di tengah berkecamuknya pertempuran akibat adanya serangan-serangan dari pasukan Belanda.

 Pejuang kemerdekaan

Rute yang dilalui Wakil Presiden adalah Berastagi-Merek-Sidikalang-Siborong-borong-Sibolga-Padang Sidempuan dan Bukit Tinggi. Di Berastagi, Wakil Presiden masih sempat mengadakan resepsi kecil ditemani Gubernur Sumatera Mr. T. Muhammad Hasan, Bupati Karo Rakutta Sembiring dan dihadiri Komandan Resimen I Letkol Djamin Ginting’s, Komandan Laskar Rakyat Napindo Halilintar Mayor Selamat Ginting, Komandan Laskar Rakyat Barisan Harimau Liar (BHL) Payung Bangun dan para pejuang lainnya, di penginapan beliau Grand Hotel Berastagi. Dalam pertemuan itu wakil presiden memberi penjelasan tentang situasi negara secara umum dan situasi khusus serta hal-hal yang akan dihadapi Bangsa Indonesia pada masa-masa yang akan datang.

Selesai memberi petunjuk, kepada beliau ditanyakan kiranya ingin kemana, sehubungan dengan serangan Belanda yang sudah menduduki Pematang Siantar dan akan menduduki Kabanjahe dan Berastagi. Wakil Presiden selanjutnya melakukan: “Jika keadaan masih memungkinkan, saya harap supaya saudara-saudara usahakan, supaya saya dapat ke Bukit Tinggi untuk memimpin perjuangan kita dari Pusat Sumatera”.

Setelah wakil presiden mengambil keputusan untuk berangkat ke Bukit Tinggi via Merek, segera Komandan Resimen I, Komandan Napindo Halilintar dan Komandan BHL, menyiapkan Pasukan pengaman. Mengingat daerah yang dilalui adalah persimpangan Merek, sudah dianggap dalam keadaan sangat berbahaya.

Apabila Belanda dapat merebut pertahanan kita di Seribu Dolok, maka Belanda akan dengan mudah dapat mencapai Merek, oleh sebab itu kompi markas  dan sisa-sisa pecahan pasukan yang datang dari Binjai, siang harinya lebih dahulu dikirim ke Merek. Komandan Resimen I Letkol Djamin, memutuskan, memerlukan Pengawalan dan pengamanan wakil presiden, maka ditetapkan satu pleton dari Batalyon II TRI Resimen I untuk memperkuat pertahanan di sekitar gunung Sipiso-piso yang menghadap ke Seribu Dolok, oleh Napindo Halilintar ditetapkan pasukan Kapten Pala Bangun dan Kapten Bangsi Sembiring.

Sesudah persiapan rampung seluruhnya selesai makan sahur, waktu itu kebetulan bulan puasa, berangkatlah wakil presiden dan rombongan antara lain: Wangsa Wijaya (Sekretaris Priadi), Ruslan Batangharis dan Williem Hutabarat (Ajudan), Gubernur Sumatera Timur Mr. TM. Hasan menuju Merek. Upacara perpisahan singkat berlangsung menjelang subuh di tengah-tengah jalan raya dalam pelukan hawa dingin yang menyusup ke tulang sum-sum.

Sedang sayup-sayup terdengar tembakan dari arah Seribu Dolok, rupanya telah terjadi tembak-menembak antara pasukan musuh / Belanda dengan pasukan-pasukan kita yang bertahan di sekitar Gunung Sipiso-piso.

Seraya memeluk Bupati Tanah Karo Rakutta Sembiring, wakil presiden mengucapkan selamat tinggal dan selamat berjuang kepada rakyat Tanah Karo. Kemudian berangkatlah wakil presiden dan rombongan, meninggalkan Merek langsung ke Sidikalang untuk selanjutnya menuju Bukit Tinggi via Tarutung, Sibolga dan Padang Sidempuan.

Sementara itu, keadaan keresidenan Sumatera Timur semakin genting, serangan pasukan Belanda semakin gencar. Akibatnya, ibu negeri yang sebelumnya berkedudukan di Medan pindah ke Tebing Tinggi.

Bupati Rakutta Sembiring, juga menjadikan kota Tiga Binanga menjadi Ibu negeri Kabupaten Karo, setelah Tentara Belanda menguasai Kabanjahe dan Berastagi, pada tanggal 1 Agustus 1947.

Namun sehari sebelum tentara Belanda menduduki Kabanjahe dan Berastagi, oleh pasukan bersenjata kita bersama-sama dengan rakyat telah melaksanakan taktik bumi hangus, sehingga kota Kabanjahe dan Berastagi beserta 51 Desa di Tanah Karo menjadi lautan Api.

Taktik bumi hangus ini, sungguh merupakan pengorbanan yang luar biasa dari rakyat Karo demi mempertahankan cita-cita luhur kemerdekaan Republik Indonesia. Rakyat dengan sukarela membakar apa saja yang dimiliki termasuk desa dengan segala isinya.

Kenyataan itu telah menyebabkan wakil presiden mengeluarkan keputusan penting mengenai pembagian daerah dan status daerah  di Sumatera Utara  yang berbunyi sebagai berikut:

“Dengan surat ketetapan Wakil Presiden tanggal 26 Agustus 1947 yang dikeluarkan di Bukit Tinggi, maka daerah-daerah keresidenan  Aceh, Kabupaten Langkat, kabupaten Tanah Karo, dijadikan satu daerah pemerintahan militer dengan Teungku Mohammad  Daud Beureuh sebagai Gubernur Militer. Sedangkan daerah-daerah keresidenan Tapanuli, Kabupaten Deli Serdang, Asahan dan Labuhan Batu menjadi sebuah daerah pemerintahan Militer dengan Dr. Gindo Siregar sebagai Gubernur Militer. Masing-masing Gubernur Militer itu diangkat dengan Pangkat Mayor Jenderal.

Selanjutnya melihat begitu besarnya pengorbanan rakyat karo ini, wakil presiden Drs. Mohammad Hatta menulis surat pujian kepada rakyat Karo dari Bukit Tinggi pada tanggal 1 Januari 1948. Adapun surat wakil presiden tersebut selengkapnya sebagai berikut:

Bukittinggi, 1 Januari 1948
“Kepada Rakyat Tanah Karo Yang Kuncintai”.
Merdeka!
Dari jauh kami memperhatikan perjuangan Saudara-saudara yang begitu hebat untuk mempertahankan tanah tumpah darah kita yang suci dari serangan musuh. Kami sedih merasakan penderitaan Saudara-saudara yang rumah dan kampung halaman habis terbakar dan musuh melebarkan daerah perampasan secara ganas, sekalipun cease fire sudah diperintahkan oleh Dewan Keamanan UNO.
Tetapi sebaliknya kami merasa bangga dengan rakyat yang begitu sudi berkorban untuk mempertahankan cita-cita kemerdekaan kita.
Saya bangga dengan pemuda Karo yang berjuang membela tanah air sebagai putra Indonesia sejati. Rumah yang terbakar, boleh didirikan kembali, kampung yang hancur dapat dibangun lagi, tetapi kehormatan bangsa kalau hilang susah menimbulkannya. Dan sangat benar pendirian Saudara-saudara, biar habis segala-galanya asal kehormatan bangsa terpelihara dan cita-cita kemerdekaan tetap dibela sampai saat yang penghabisan. Demikian pulalah tekad Rakyat Indonesia seluruhnya. Rakyat yang begitu tekadnya tidak akan tenggelam, malahan pasti akan mencapai kemenangan cita-citanya.
Di atas kampung halaman saudara-saudara yang hangus akan bersinar kemudian cahaya kemerdekaan Indonesia dan akan tumbuh kelak bibit kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Karo, sebagai bagian dari pada Rakyat Indonesia yang satu yang tak dapat dibagi-bagi.
Kami sudahi pujian dan berterima kasih kami kepada Saudara-saudara dengan semboyan kita yang jitu itu: “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”.
Saudaramu,
MOHAMMAD HATTA
Wakil Presiden Republik Indonesia

Selanjutnya, untuk melancarkan roda perekonomian rakyat di daerah yang belum diduduki Belanda, Bupati Rakutta Sembiring mengeluarkan uang pemerintah Kabupaten Karo yang dicetak secara sederhana dan digunakan sebagai pembayaran yang sah di daerah Kabupaten Karo.

Akibat serangan pasukan Belanda yang semakin gencar, akhirnya pada tanggal 25 Nopember 1947, Tiga Binanga jatuh ke tangan Belanda dan Bupati Rakutta Sembiring memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Karo ke Lau Baleng. Di Lau Baleng, kesibukan utama yang dihadapi Bupati Karo beserta perangkatnya adalah menangani pengungsi yang berdatangan dari segala pelosok desa dengan mengadakan dapur umum dan pelayanan kesehatan juga pencetakan uang pemerintahan Kabupaten Karo untuk membiayai perjuangan.

Setelah perjanjian Renville ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948, Pemerintah RI memerintahkan seluruh Angkatan Bersenjata Republik harus keluar dari kantung-kantung persembunyian dan hijrah ke seberang dari Van Mook yaitu daerah yang dikuasai secara de jure oleh Republik.

Barisan bersenjata di Sumatera Timur yang berada di kantung-kantung Deli Serdang dan Asahan Hijrah menyeberang ke Labuhan Batu. Demikian pula pasukan yang berada di Tanah Karo dihijrahkan ke Aceh Tenggara, Dairi dan Sipirok Tapanuli Selatan. Pasukan Resimen I pimpinan Letkol Djamin Ginting hijrah ke Lembah Alas Aceh Tenggara. Pasukan Napindo Halilintar pimpinan Mayor Selamat Ginting hijrah ke Dairi dan pasukan BHL pimpinan Mayor Payung Bangun hijrah ke Sipirok Tapanuli Selatan.

Berdasarkan ketentuan ini, dengan sendirinya Pemerintah Republik pun harus pindah ke seberang garis Van mook, tidak terkecuali Pemerintah Kabupaten Karo yang pindah mengungsi dari Lau Baleng ke Kotacane pada tanggal 7 Pebruari 1948. Di Kotacane, Bupati Rakutta Sembiring dibantu oleh Patih Netap Bukit, Sekretaris Kantor Tarigan, Keuangan Tambaten S. Brahmana, dilengkapi dengan 14 orang tenaga inti.

Selanjutnya untuk memperkuat posisi mereka, Belanda mendirikan Negara Sumatera Timur. Untuk daerah Tanah Karo Belanda menghidupkan kembali stelsel atau sistem pemerintahan di zaman penjajahan Belanda sebelum perang dunia kedua.

Administrasi pemerintahan tetap disebut Onder Afdeling De Karo Landen, dikepalai oleh seorang yang berpangkat Asisten Residen bangsa Belanda berkedudukan di Kabanjahe. Di tiap kerajaan (Zeifbesturen) wilayahnya diganti dengan Districk sedangkan wilayah kerajaan urung dirubah namanya menjadi Onderdistrick.

Adapun susunan Pemerintahan Tanah Karo dalam lingkungan Negara Sumatera Timur adalah: Plaatslijkbestuur Ambteenaar, A. Hoof. Districthoofd Van Lingga, Sibayak R. Kelelong Sinulingga, Districhoofd Van Suka, Sibayak Raja Sungkunen Ginting Suka, Districhoofd Van Sarinembah, Sibayak Gindar S. Meliala, Districthoofd Van Kuta Buluh, Sibayak Litmalem Perangin-angin.

Ditulis Oleh : Sion Sembiring

Sumber