Ditemukan Bunker Nuklir Rahasia Peninggalan Nazi

Terowongan peninggalan Nazi.

Sebuah labirin terowongan bawah tanah rahasia, yang diyakini telah digunakan oleh Nazi untuk mengembangkan bom nuklir telah ditemukan. Fasilitas, yang meliputi wilayah hingga 75 hektar, ditemukan di dekat kota St Georgen an der Gusen, Austria pekan lalu.

Penggalian situs tersebut dilakukan, setelah peneliti mendeteksi tingkat radiasi yang tinggi di daerah tersebut–di mana orang-orang yang pernah mendukung Nazi mengklaim bahwa terowongan ini digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir.

Pembuat film dokumenter Andreas Sulzer, yang memimpin penggalian itu mengatakan kepada Sunday Times bahwa, situs tersebut kemungkinan besar adalah fasilitas produksi senjata rahasia terbesar dari era Reich Ketiga.

Hal ini diyakini atas terhubungnya ke pabrik bawah tanah B8 Bergkristall, di mana Messerschmitt Me 262–jet tempur pertama kali dioperasionalkan–dibangun. Ada juga yang memberikan saran, jika terowongan ini terhubung ke kamp konsentrasi Mauthausen-Gusen.

Terowongan peninggalan Nazi.

Diperkirakan bunker ini dibangun oleh tenaga kerja paksa dari kamp kedua kompleks–di mana sebanyak 320.000 narapidana dipekerjakan dalam kondisi tanah yang keras.

Tapi situs Bergkristall yang dieksplorasi oleh Sekutu dan Rusia setelah perang, tampaknya Nazi telah melalui masa yang panjang untuk menyembunyikan terowongan yang baru ditemukan tersebut.

Pintu masuk yang kecil danhanya satuitu terungkap, setelah tim penggalian, yang meliputi sejarawan dan ilmuwan, dan informasi dalam dokumen intelijen Declassified dan kesaksian dari para saksi dikumpulkan.

Para ahli berusaha untuk mengetahui, apakah ada hubungan antara St Georgen dan situs di Jerman di mana para ilmuwan berkumpul selama Reich Ketiga, dalam upaya untuk menaklukkan Amerika dengan membangun senjata pamungkas.

Pada bulan Juni 2011, limbah atom dari program nuklir rahasia Hitler diyakini telah ditemukan di sebuah tambang tua dekat Hanover.

Lebih dari 126.000 barel bahan nuklir dikubur dan disimpan lebih dari 2.000 meter di bawah tanah di tambang garam tua.

Rumorlan mengatakan bahwa, mayat ilmuwan nuklir yang bekerja pada program Nazi juga ada, tubuh mereka dibakar secara rahasia oleh orang-orang Nazi dan disumpah untuk menjaga rahasia.

Boelongan, Sepenggal Perjalanan Masa Silam

Seorang penyelam, Sabtu (29/12/2012), berupaya mendokumentasikan salah satu sisi bangkai kapal yang diduga kuat sebagai Boelongan pada kedalaman sekitar 20 meter di perairan Teluk Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. | KOMPAS/INGKI RINALDI

Oleh Ingki Rinaldi

Rabu, 28 Januari 1942, lepas waktu dzuhur di Nagari Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Anas Malin Randah yang ketika itu berusia remaja tengah bersantai di pondok perladangan di atas kawasan perbukitan.

Ayahnya masih menanam padi di ladang saat satu skuadron pesawat tempur Jepang seperti meraung-raung di atas kepalanya. ”Jumlahnya 12 pesawat,” kata Anas, yang kini berusia 83 tahun, pekan lalu. Tak lama berselang, bunyi bom bersahutan seperti hendak memecah gendang telinganya. Anas beserta tiga kakak dan seorang adiknya bergegas menuju ke goa batu untuk berlindung.

Anas masih mampu merekam jalannya serangan. Pesawat tempur Jepang itu membombardir kapal Belanda, yang diduga sebagai Boelongan. Serangan berlangsung sekitar tiga jam hingga sore menjelang. Delapan pesawat tempur baru menggantikan peran 12 pesawat sebelumnya. Serangan ditutup oleh enam pesawat berikutnya.

Kapal Boelongan tenggelam setelah dibom pada bagian haluan, buritan, dan persis di cerobong asapnya. Anas pun melihat sejumlah awak Boelongan yang meninggalkan kapal dengan sekoci.

”Orang Belanda itu kabur,” ujar Anas. Boelongan tenggelam dengan posisi mendatar. Seluruh badannya rusak parah.

Saat dibom, Boelongan pada posisi terbuka di Teluk Mandeh, yang jaraknya sekitar 200 meter dari daratan terdekat dan sekitar 70 kilometer dari Kota Padang. Kawasan ini merupakan salah satu rute pelayaran pantai barat Sumatera yang sangat ramai pada masa silam.

Anas ingat Boelongan berada di kawasan itu sejak sekitar sepekan sebelumnya. Boelongan mula-mula masuk dari pintu muara di Nagari Sungai Nyalo Mudik Aie yang bertetangga dengan Teluk Mandeh. Lalu, Boelongan berlindung di Teluk Dalam di antara Pulau Cubadak dan Pulau Taraju yang masih di kawasan perairan Mandeh.

Saat bersamaan, sekitar 350 km dari Teluk Mandeh, Jatar (87) tengah mengadu nasib di Aie Bangis, Kabupaten Pasaman Barat, Sumbar. Jatar yang juga berasal dari Nagari Mandeh memutuskan pulang setelah tahu pengeboman itu. Beberapa bulan kemudian, Jepang mencari pemuda di nagari itu. ”Sebagian dipekerjakan untuk membuat kapal di Nagari Sungai Pinang, Pesisir Selatan, dan sebagian dikirim ke Logas, Kabupaten Sijunjung, Sumbar,” paparnya.

Pengiriman ke Logas terkait kerja paksa membangun jaringan rel kereta api. Itu berhubungan dengan rencana pengangkutan batubara dari Ombilin, Sawahlunto ke Logas, sebelum dilanjutkan menuju Riau.

Ujung pelarian

Kisah Boelongan yang dimiliki Koninklijke Paketvaart-Maatschappij tak bisa dipisahkan dengan tenggelamnya kapal Van Imhoff II di sebelah barat Kepulauan Nias, Sumatera Utara, setelah dibom Jepang pada 19 Januari 1942. Kapal itu membawa 400 tawanan asal Jerman.

Horst H Geerken dalam buku berjudul A Magic Gecko: Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno (2011) menjelaskan, pada 20 Januari 1942, Boelongan terlihat di lokasi tenggelamnya Van Imhoff II. Namun, karena yang tersisa hanya sekoci berisi tawanan Jerman, Boelongan yang berada di bawah kendali Kapten ML Berveling putar haluan tanpa memberikan pertolongan.

Keputusan Berveling diduga terkait peta Perang Dunia II saat Jerman tergabung dalam poros kekuatan bersama Jepang dan Italia. Di sisi lain, Belanda ikut kubu Sekutu yang di antaranya digerakkan Inggris dan Amerika Serikat. Sebelumnya, Jerman memorakporandakan Rotterdam di Belanda dengan pengeboman pada Mei 1940.

Boelongan yang berperan sebagai pengiring Van Imhoff diduga kembali ke selatan menuju Padang untuk terus ke pesisir selatan mengarah ke Batavia atau Australia. Ini terbukti dari posisi kapal itu saat tenggelam.

Pada penyelaman yang dilakukan Kompas, pekan lalu di lokasi tenggelamnya Boelongan, haluan bangkai kapal terlihat pada sisi barat daya. Adapun buritannya terletak di arah timur laut yang mengindikasikan kapal itu sedang menuju selatan.

Dinding kabin anjungan tampak rebah ke atas dek di kedalaman sekitar 20 meter. Menurut Kepala Subseksi Pelayanan Teknis Loka Penelitian Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir Kementerian Kelautan dan Perikanan Nia Naelul Hasanah, kesimpulan bangkai kapal itu adalah Boelongan didasarkan pada pengukuran detail.

Panjang kapal diketahui 74 meter dengan lebar bagian tengah 11 meter, lebar buritan 13 meter, lebar haluan 10 meter, dan tinggi 8 meter. Tinggi kapal terukur belum mewakili ukuran sesungguhnya karena sebagian badan kapal terbenam sedimen.

Hasil pengukuran itu serupa dengan data spesifikasi Boelongan dalam sejumlah referensi. Kapal lain yang tenggelam di alur itu dalam periode yang sama, Buijskes dan Elout, memiliki dimensi lebih besar. Selain sebagai kapal transpor, kata Nia, Boelongan juga kerap dipakai pejabat kolonial Belanda saat berkunjung ke Kesultanan Bulungan di Kalimantan Timur.

Periode kritis

Sejarawan dari Universitas Negeri Padang, Prof Dr Mestika Zed, mengatakan, tenggelamnya Boelongan dan invasi Jepang itu menandai periode kritis kekuasaan Belanda di Indonesia. Serangan cepat Jepang tak disangka-sangka Belanda.

Periode Desember 1941-Februari 1942 ditandai dengan serangan udara yang dilakukan Jepang secara bertubi-tubi. Menurut Mestika, gempuran pesawat dengan pola bunuh diri seperti yang dilakukan Jepang terhadap Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat Pearl Harbor, Hawaii, lazim dilakukan selama periode itu.

Hampir 71 tahun seusai Boelongan karam, warga di daerah sekitarnya cenderung tak beroleh manfaat. Padahal, dengan sejarah yang melingkupinya, kapal karam itu bisa menjadi obyek wisata dan obyek penelitian yang tak hanya bermanfaat bagi warga sekitar, tetapi juga bagi ilmu pengetahuan….

Sumber

Westerbork: Sisa Nyata Genosida oleh Jerman

Masa silam menyebabkan dilema di Belanda: apakah sebuah barak yang dulu berasal dari kamp konsentrasi Westerbork perlu dikembalikan dan dipugar kembali? Kamp konsentrasi adalah pusat penahanan kelompok yang dalam pandangan Nazi Jerman patut dimusnahkan. Lalu apakah bekas barak yang asli ini harus dikembalikan ke pusat peringatan kamp konsentrasi ini?

sds

Westerbork terletak di provinsi Drente di Belanda utara. Di daerah pedesaan ini, tentara Nazi Jerman yang menduduki Belanda selama perang dunia kedua mendirikan pusat penampungan tawanan yang akan mereka bantai di Jerman. Orang yahudi, jipsi, homoseksual dan semua golongan yang oleh nazi jerman dianggap tidak cocok dengan ideologi rasialis mereka ditawan dulu di Westerbork, sebelum mereka dikirim ke konsentrasi kamp di Jerman untuk dimusnahkan. Demikian juga Anne Frank, sosok anak Yahudi yang menjadi terkenal sebagai simbol penderitaan para korban pembantaian nazi Jerman, setelah buku hariannya terbit.

Pusat Peringatan

Masih tersisa barak yang sayangnya saat ini sudah dimanfaatkan sebagai kandang babi. Para pengelola kamp Westerbork yang kini menjadi pusat peringatan kejahatan Nazi Jerman ragu-ragu, namun para pengunjung pusat peringatan di Westerbork ini selalu minta di mana peninggalan yang asli. Lalu bagaimana menanggapi keinginan ini? Bagaimana kita mengantisipasi masa silam?

Saya berusia 12 tahun waktu tiba di sini. Sangat menakutkan. Saya tidak ingat lagi bagaimana bentuk barak ini, yang saya ingat adalah lumpur dan di seberang jalan, setelah pagar kawat berduri, semak-semak yang berkembang.

Demikian Carla Josephus Jitta, ia adalah salah seorang tahanan Nazi Jerman di kamp konsentrasi Westerbork ini selama perang dunia kedua.

Masih bisa saya bayangkan kamp ini menyerupai neraka, namun saat ini pemandangannya asri, rumput nan hijau dengan pepohonan rindang. Total berbeda dengan apa yang ada saat itu, tidak bisa kita bayangkan perubahannya.

Saat itu kamp Westerbork ini dihuni tahanan yang tidak tahu pasti kapan mereka akan dibawa definitif ke pusat pemusnahan Nazi Jerman di Jerman, itulah yang menakutkan bagi Carla dan tahanan lain.

Lapangan Terbuka

Namun Westerbork berubah sekali, bekas kamp tahanan ini kini adalah lapangan rumput terbuka, dengan pohon di sana sini. Taman yang sepi dengan beberapa monumen untuk para korban keganasan nazi Jerman. 107 ribu tahanan dibawa ke Westerbork, hanya 5 ribu yang selamat dan kembali setelah perang dunia kedua berakhir.

Kita sekarang berdiri di lapangan yang kosong, dengan beberpa pohon, namun phon-pohon ini menandai batas kamp konsnetrasi yang sudah hilang. Kita bisa mengenali bentuk segi empat kamp ini dan tentu sja rel kereta api yang dipakai untyuk kereta api pengangkut mereka yang ditahan. Julukannya dalam bahasa Prancis: Boulevard des Misére, atau jalan kesusahan.
Demikian Anne Bitterberg staf Pusat peringatan kamp Westerbork ini. ia menambahkan selama periode paling ramai yaitu akhir 1942 sampai awal 1943, 20 ribu tahanan tinggal di kamp ini. kamp ini merupakan kamp di alam terbuka di tengan hutan berukuran 500 kali 500 meter. Ia sering mendengar keluhan dari para tahanan:

Tidak ada privacy sama sekali.

Penampungan Orang Maluku
 
Setelah perang dunia berakhir, kamp Westerbork beralih penggunaannya: bekas kamp tahanan yang dimusnahkan di Jerman ini menjadi tempat penampungan orang Maluku yang hijrah ke Belanda.

Wim Manuhutu, direktur Museum Sejarah Maluku di Belanda menyatakan:

Memang kamp Westerbork bersama kamp Vught sangat bersejarah, yang punya kaitan erat bukan saja dengan perang dunia kedua namun juga dengan kedatangan migran Indonesia ke Belanda, sesudah perang dunia kedua. Misalnya orang Maluku. Saya sangat kecewa tempat yang bersejarah ini kehilangan fungsinya. Apalagi dalam satu jaman di mana sejarah itu penting. Belanda sedang mencari identitas diri lalu bagaimana kalau orang Belanda tidak tahu sejarahnya. Pasti mereka akan susah menjawab pertanyaan siapa sebenarnya orang Belanda. Tempat ini bisa menjadi tempat pameran untuk menunjuk pada apa dampak rasialisme, sayang kalau fungsi ini hilang.

Tahun 1970 kamp ini digusur total dan diganti dengan beberapa monumen. Baru pada tahun 1983 didirikan museum dan setelah itu bekas gedung kamp dan rel kereta api untuk transpor para tahanan mulai dipatok dengan jelas.

Kandang Babi

Para pengunjung sering menanyakan bekas-bekas asli kamp Westerbork, demikian Anne Bitterberg. Museum dan monumen rupanya belum memuaskan banyak pengunjung. Rumah bekas komandan Jerman kamp Westerbork kini sudah kosong. Bisa dibeli oleh pengurus monumen nasional Westerbork kemudian dipugar. Ihwal cara memamerkannya masih menjadi bahan diskusi, karena kehidupan mewah sang komandan nazi ini tidak mungkin bisa dipamerkan kalau tidak ada contoh kehidupan sehari-hari para tawanan yang menderita.

Lebih susah lagi adalah pertanyaan apakah barak yang masih tersisa harus dikembalikan ke kamp ini. Seorang peternak babi membelinya pada tahun 1970, dan sejak itu menjadi kandang babi.

Memang bahan kayunya masih utuh, tapi setelah 30 tahun dihuni babi susah juga untuk menyebutnya barak, tidak ada yang orisinil lagi.

Demikian Anne Bitterberg. Namun organisasi yang mengelola monumen ini bertekad membelinya kembali.

Ihwal pemanfaatannya akan ditentukan kelak. Demikian Anne Bitterberg.

 Dilema
 
vxc

Sang peternak babi baru mau menjual barak ini kakau ia mendapat cukup uang untuk mendirikan kandang baru. Ia minta beberapa ratus ribu euro. Dengan uang itu susah juga untuk menghilangkan bau 30 generasi babi yang dikandang di barak itu. Mantan tahanan di kamp ini, Carla Josephus Jitta menyatakan kandang yang dulu barak ini tidak perlu masuk ke monumen Westerbork.
Ini adalah hal yang tidak sebenarnya, tidak membuat orang percaya. Orang akan membikin lelucon. Jangan lupa kami diperlakukan sebagai babi oleh Nazi Jerman, dianggap bukan mahluk yang normal. Ini sudah terlambat, dulu orang harus lebih sadar untuk mempertahankannya, nasi sudah menjadi bubur.

Masalah ini menjadi dilema untuk pengurus pusat peringatan kamp Westerbork dan untuk Belanda. Bagaimana sikap kita terhadap warisan budaya asal perang dunia kedua yang masih tetap peka itu. Di pugar dan dismpan dengan baik, itulah kesimpulan yang bisa ditarik untuk sementara ini

Sumber