LVRI Sumut Kirim Tujuh Buku Perjuangan Ke Pusat

Medan ( Berita ) :  Legiun Veteran RI (LVRI) Sumatera Utara mengirimkan tujuh buah buku tentang sejarah perjuangan merebut kemerdekaan ke Markas Besar (Mabes) LVRI di Jakarta.

Buku-buku sejarah perjuangan itu dikirim untuk dilestarikan, kata Kepala Biro Generasi Penerus LVRI Sumut, Muhammad TWH dalam keterangan yang diterima ANTARA di Medan, Kamis [07/01].

Muhammad mengatakan, tujuh buku sejarah perjuangan di Sumut yang dikirim itu adalah “Belanda Gagal Rebut Pangkalan Brandan”, “Sumatera Utara Bergelora”, “Jenderal Spoor Tewas di Tapanuli Tengah”, “Bunga Rampai Perjuangan Rakyat Sumut” dan “Tujuh Pahlawan Nasional Dari Sumut”.

Ditambah dua buku sejarah perjuangan yang ditulis Mayor Jenderal TNI (Purn) Djamin Ginting yang berjudul “Titi Bambu” dan Bukit Kadir”. Selain tujuh buku itu, pihaknya juga menerbitkan sembilan tulisan yang dibuat fungsionaris LVRI Sumut yang pernah diterbitkan di salah satu surat kabar Kota Medan.

Sembilan tulisan itu berjudul “Ketika Sekutu Peralat Tentara Jepang”, “Desember Berdarah di Tebing Tinggi”, “Gugur Bersama Sang Merah Putih” dan “Pancasila Pernah Hendak Diganti”.

Kemudian, tulisan berjudul “Bumi Hangus Tambang Minyak Pangkalan Brandan”, “Pembukaan UUD 1945 Dan Kelahirannya”, “Bangsa Indonesia Tidak Dendam”, “Peranan Radio Di Awal Kemerdekaan” dan “Pelaku Sejarah Kampung Mesjid”.

Ia menjelaskan, pengiriman buku dan tulisan itu berawal dari permintaan Mabes LVRI dengan tujuan mengumpulkan dan melestarikan literatur tentang sejarah perjuangan dalam merebut kemerdekaan di Sumut. Setelah dikonsultasikan, semua pihak setuju untuk mengirimkan buku dan tulisan itu, katanya. ( ant )

Sumber : disini

Iklan

Darah Pahlawan

Senin, 16 Juni 2014, 17:00 WIB

Letnan Jenderal Jamin Gintings layak dijadikan pahlawan nasional. Keputusannya menyerang sejumlah pos militer Belanda pada agresi militer kedua, mengangkat marwah Republik di mata internasional. Streteginya menyerang Belanda di Tanah Karo, membuat Belanda tidak bisa masuk ke wilayah Aceh.

Juni 1949. Seorang lelaki ber kulit sawo matang dengan pos tur tinggi sekitar 175 cm, me natap jauh dari atas pegu nung an di Tanah Karo. Mengenakan seragam militer berwarna krem, pakaian itu terlihat agak kebesaran dari ukuran tubuhnya yang ramping. Di kerah bajunya, ter semat pangkat mayor tentara. Lelaki serdadu berusia 28 tahun itu adalah Mayor Jamin Ginting Suka.

Ia kemudian lebih senang menying kat namanya dengan ejaan: Jamin Gin tings. Dia adalah Komandan Resimen IV atau dikenal juga dengan sebutan Re simen Rimba Raya (R3) yang merupakan bagian dari Divisi X Tentara Republik Indonesia (TRI). Setahun sebelumnya, ia adalah seorang perwira menengah dengan pangkat letnan kolonel.

Namun pada 1 Oktober 1948, Presi den Sukarno membuat keputusan reor ganisasi dan rasionalisasi TRI. Seluruh perwira diturunkan pangkatnya satu tingkat. Maka, Letkol Jamin Gintings pun menjadi Mayor Jamin Gintings. “Saya tidak peduli dengan pangkat dan jabatan. Yang paling penting, saya harus mengusir penjajah dari Bumi Indo nesia,” ungkap Jamin saat menghadapi pe nurunan pangkatnya.

Pak Kores, julukan nama yang diberikan anak buahnya, memang dike nal sebagai komandan lapangan. Kata kores, merupakan akronim dari koman dan resimen. (Pada era saat ini disebut Danmen). Sebagai komandan resimen, Jamin Gintings terkejut ketika menda patkan kabar pada 19 Desember 1948.

Pasukan militer Belanda telah me nyerang dan menduduki ibukota Re publik di Yogyakarta. Bukan itu saja, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta bersama sejumlah petinggi Republik telah ditawan tentara Belanda.

“Para prajurit, bintara dan perwira tentara Republik. Melalui siaran radio dari Yogyakarta, ternyata Belanda telah mengingkari janjinya dengan mendu duki Yogyakarta. Presiden dan Wapres kita, telah ditawan Belanda,” kata Jamin dalam pidatonya di halaman Markas Resimen IV di Macan Kumbang, pada 25 Desember 1948.

“Kita juga dapat kabar bahwa Sektor III di Dairi di bawah pimpinan Mayor Selamat Ginting sudah diserang Belanda. Saya belum dapat perintah dari atasan langsung di Divisi X. Tetapi demi keselamatan Negara Republik Indonesia, saya bertanggung jawab untuk mulai menyerang Belanda,” ujar Jamin dengan bersemangat.

Selaku Komandan Resimen IV, ia memerintahkan untuk menyerang dae rah-daerah yang diduduki Belanda, se belum Belanda menyerang lebih da hulu. “Pertama, kita duduki Marding ding dan Lau Baleng!” teriak Jamin dengan nada berapi-api, seperti tertulis dalam buku ‘Bukit Kadir’ oleh Jamin Gintings (1921- 1974), editor Payung Bangun, penerbit Elpres, cetakan kedua, tahun 2009.

Maka, berangkatlah anggota pasuk an Batalyon XIV dari asramanya di Ku ta cane ke Lau Baleng dengan berjalan ka ki melewati Lawe Sigala-gala, Lawe Dua, Lawe Perbunga, dan terus hingga ke Kampung Kalimantan. Pertempuran he bat sudah terjadi pada 27 Desember 1948.

Begitu juga pasukan dari Batalyon XV berangkat menuju Mardingding pa da 28 Desember 1948. Di bukit itulah me reka menyerang pos militer Belanda yang berada di bawahnya.

Namun de ngan bantuan panser dan mortir, pa suk an Belanda menggempur lereng bukit. Tujuh anak buah Jamin Gintings, gugur dalam pertempuran sengit itu. Salah satunya adalah Letnan Kadir Saragih. Bukit itu kemudian dinamakan sebagai Bukit Kadir.

Namun, Belanda juga kehilangan delapan prajuritnya dan dua orang yang berhasil ditawan, yakni Van Werven dan De Ruyter. Dalam buku Hans Post, Bed wongen Banjir, Medan, halaman 180-181, dalam terjemahannya berbunyi: Belanda mengakui Resimen Infanteri 5-10 mendapatkan serangan dari gerom bolan yang mengadakan infiltrasi di sebelah barat laut Kabanjahe. Bahkan sampai jarak 40 meter dari pos militer Belanda. Kampung Juhar, dekat Tiga binanga diduduki kaum ekstrimis.

Setelah pertempuran Mardingding, ia pun mulai mengubah pola gerilya. Jika pada masa agresi militer pertama mene rapkan pola gerakan mundur teratur sambil bertempur, maka pada agresi kedua, pasukannya melancarkan gerakan maju teratur. Ia memompa semangat pasukannya sambil menyanyi kan lagulagu perjuangan asal Tanah Karo.

Sergap konvoi
Sejak Januari 1949, dimulai taktik gerilya. Diawali dengan serangan pada 20 Januari 1949 menyergap iring-iringan konvoi pasukan Belanda di Tigakicat, dekat kampung Berastepu. Kemudian menyergap konvoi Belanda di jalan menuju kampung Kutabuluh Berteng. Satu panser dan truk militer Belanda rusak, enam orang serdadu Belanda tewas, dan beberapa lainnya mengalami luka parah akibat tembakan pasukan Jamin Gintings.

Sampai April 1949. Tercatat, terjadi pertempuran di Lau Solu dan Lau Mulgap yang menewaskan 13 personil militer Belanda. Tidak kurang dari 17 kali serangan terhadap konvoi pasukan Belanda dari Medan menuju Brastagi. “Serangan-serangan pasukan Jamin Gintings berpengaruh terhadap jalannya perundingan Indonesia dan Belanda, sehingga meningkatkan posisi tawar Indonesia,” kata Suprayitno, doktor sejarah dari Universitas Sumatra Utara (USU) di Medan, Senin (9/6/2014).

Begitulah, sejak Agresi Militer I dan II, pasukan Resimen IV yang dipimpin Jamin Gintings terus-menerus terlibat pertempuran dengan Belanda dari Medan Area, Tanah Karo, Tanah Alas, sampai Lang kat. Pasukannya telah ber operasi ra tusan kilometer jauhnya dari pang kal an pasukan untuk bertempur di Mar ding ding, Lau Baleng, Lau Mulgap, Buluh Pan cur, Tiga Bi nanga, Kineppen, Kinang kong, Sem ba he, Sibolangit, Kutu Buluh, Kuta Buluh Berteng, Barus Jahe, Tanjung Barus, Kuta Tengah, Lau Solu, Lau Ka pur, dan lain-lain.

Bagi Belanda, Jalan Lau Baleng dan Mardingding disebut sebagai ‘doden weg’ yang artinya jalan maut. Mereka menya takan sebagai pertempuran tujuh bulan yang berat.

Maut menjadi tamu di Tanah Karo. Sehingga mempengaruhi psikologi tentara Belanda akibat se rangan dadak an serta ranjau darat yang ditanam pasukan Resimen IV.

Dalam periode perang kemerdekaan itulah pasukan Resimen IV bergerilya di Tanah Alas, Tanah Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, dan Serdang Hulu. Gerakan pasukan Jamin Gintings itu membuk tikan kemampuannya menjaga keutuhan dan eksistensi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Serangan militer pasukannya ber hasil menyelamatkan marwah Republik Indonesia di mata dunia internasional. Serangan militer pasukannya, mampu menghalau gerak maju pasukan Belanda ke Tanah Alas,” ujar Usman Pelly, guru besar antropologo sosial budaya dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Selasa (10/6/2014).

Berdasarkan Perjanjian Renville, Januari 1948, Tanah Karo sampai per batasan Tanah Alas (Kutacane) dinyata kan sebagai daerah kekuasaan pasukan Belanda. Sehingga, markas Resimen IV Tanah Karo yang dipimpin Jamin Gintings harus hijrah ke Kutacane.

Akibatnya, daerah Aceh tengah ter bu ka untuk diserang langsung oleh ten tara Belanda. Jamin pun meng ubah strategi politik dan menjadikan Tanah Karo tetap sebagai daerah perta hanan terdepan bagi Aceh. Caranya, dengan menyerang langsung benteng pertahanan Belanda dan menciptakan perang gerilya.

Pasukan Belanda akhirnya berputarputar antara Brastagi-Mardingding-Lau Belang-Kaban Jahe dalam menghadapi serangan strategi gerilya Jamin Gintings dan mengalami kerugian sangat besar.

Sehingga Belanda tidak mampu meng gerakkan pasukannya sampai menjamah Aceh Tengah (Kutacane). “Dengan stra tegi tersebut, Aceh dapat dimanfaatkan sebagai daerah modal Republik Indo nesia,” ujar Usman Pelly.

Akibatnya, selama sekitar delapan bulan, sejak Januari hingga Agustus 1949, Belanda tertahan di Tanah Karo dan terpaksa melupakan serangan ke Ta nah Alas (Kutacane) sampai penyerah an kedaulatan pada 1950.

Strategi dan perjuangan Jamin Gintings, menurut Suprayitno, membuk tikan kepada dunia bahwa pemerintah Republik Indonesia tetap eksis walaupun Yogyakarta dan Pematang Siantar sebagai pusat pemerintahan RI di Jawa dan Sumatra diduduki Belanda. Sekali pun Sukarno dan Hatta pun ditawan Belanda.

Upaya Belanda menghapus RI dan Tentara Republik Indonesia tidak pernah berhasil sampai akhirnya permusuhan Indonesia dan Belanda pun diselesaikan melalui jalur perundingan. Dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 23 Agustus 1949, Provinsi Aceh secara utuh dapat didaftarkan sebagai salah satu negara bagian Republik Indonesia Serikat (RIS).

Putra kedua dari Lantak Ginting Su ka itu lahir di Desa Suka, Tanah Karo, 12 Januari 1921. Ia berhasil menye la mat kan Aceh sebagai daerah modal, sekali gus menyelamatkan martabat Re publik Indonesia di dunia internasional. “Di sinilah, antara lain letak kepah la wanan Jamin Gintings secara nasional. Iya layak dinobatkan sebagai pahlawan na sional,” cetus sejarawan Suprayitno.

oleh : Slamet Ginting

Mawar Lereng Tandikek

Masa pergolakan PRRI banyak menggoreskan cerita.

Ada cerita sedih, tentang banyak pemuda kampung yang diseret oleh OPR dan disiksa di pos. Kemudian mereka meregang nyawa dan mayatnya dibuang di selokan.

Ada pemuda yang ketakutan waktu razia di kampung, mereka ditembak dari belakang, dan mayatnya tersungkur persis di jalan di depan rumah orang tuanya.

Ada juga wanita yang suaminya ikut lari ijok ke hutan, dijemput oleh tentara malam hari, diinapkan di kantor Kodim, kemudian setelah pulang menjadi lusuh dan kuyu. Banyak yang tahu bahwa para wanita ini, digilir oleh para tentara itu di pos. Dan ada juga yang tidak tahan malu, lalu terjun ngarai bunuh diri.

Ada juga yang tidak pulang-pulang ke rumah, kabar beritanya mereka di bawa ke Jawa oleh para tentara yang pulang, dan hidup disana tanpa kembali lagi kekampung.

Ada anak yang terpisah dengan ayahnya. Ada mamak yang kehilangan kemenakannya.

Ada ibu yang kehilangan anak gadis.

Penderitaan yang perih dirasakan masyarakat Sumatera barat selama peritiwa hampir tiga tahun pergolakan PRRI itu dari tahun 1958 sampai penyerahan tahun 1961.

*

Ini kisah lain yang tergores.

Ini kisah dua orang remaja yang bertemu karena di landa peristiwa peperangan antara PRRI dengan tentara pusat.

Bahar, adalah tadinya seorang mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang.

Karena terjadi peristiwa PRRI, bulan Maret tahun 1958, Bahar bergabung jadi tentara PPRI dan ikut latihan di Solok. Kuliah waktu itu terhenti sama sekali.

Banyak teman Bahar dari fakultas lain seperti Peternakan, FIPIA, Kedokteran, Hukum, dan Ekonomi yang ikut bergabung dengan PPRI.

Pada waktu Bahar dan pasukannya berkonsentrasi di Tandikek, mereka memunyai tukang masak seorang ibu yang suaminya datuak Panduko ikut jadi tentara PPRI.

Mak Sarinam menjadi tukang masak pasukan.

Neti, anak gadis mak Sarinam, yang tadinya adalah murid SMA Negeri Padangpanjang, karena sekolah ditutup akibat pergolakan, ikut ibunya di hutan kaki gunung di Tandikek, untuk bergabung dengan pasukan PRRI menjadi tukang masak.

Neti, adalah gadis cantik tinggi semampai. Kulitnya kuning dan hidungnya mancung. Rambut hitam sampai pinggang, tegerai indah bila selesai keramas di lubuk Batang Nanguih, dibalik kerimbunan pohon betung di tepi sungai.

Neti adalah kembang mawar di lereng Gunuang Tandikek.

Banyak anggota pasukan PRRI yang tertarik dan diam-diam menaruh hati pada Neti.

Tapi banyak yang hanya menyimpan perasaan saja, karena mereka juga segan dan takut pada Datuk Panduko ayah Neti yang menjadi komandan kompi di situ.

Datuak Panduko adalah tetua kampung lereng Tandikek itu. Nama kecilnya adalah Hamid.

Hamid adalah bekas tentara Siliwangi sewaktu mudanya. Ia ikut berjuang bersama temannya sewaktu jadi TKR di Pariaman. Temannya Adnan sesama mendaftar TKR di Pariaman dan menempuh pelatihan di Padang. Kemudian mereka ikut dikirim pendidikan di Batujajar dan di Cimahi. Akhirnya mereka bergabung dengan pasukan Siliwangi yang terkenal itu.

Adnan di BKO kan ke pasukan di Riau untuk menumpas sisa pasukan Belanda tahun lima puluhan. Sedangkan Hamid tetap di Jawa Barat.

Oleh karena luka dipertempuran di Ciamis dengan DI-TII, dimana pahanya kena pecahan granat yang parah, ia selama tiga bulan dirumah sakit menyembuhkan tulang pahanya yang retak. Akhirnya ia minta pensiun cepat dari Siliwangi dengan pangkat letnan dan pulang ke kampung di Tandikek.

Di kampung ia menjadi guru ngaji di Surau. Dan oleh sukunya Koto ia diangkat jadi penghulu dengan gelar Datuak Panduko di Rajo. Tapi ia paling terkenal dengan sebutan datuak Panduko.

Selain sebagai penghulu dia juga menjadi pengurus surau di desa itu.

Ia mengaji tafsir dan sifat dua puluh. Dan banyak muridnya.

Maka, ketika PRRI menyatakan perang dengan pemerintah pusat, ia tadinya tidak setuju dengan sikap ini. Datuak orangnya cinta damai.

Namun, pendiriannya berubah manakala adanya organisasi baru yaitu OPR yang terbentuk atau dibuat oleh tentara pusat untuk melawan PPRI.

Banyak anggota OPR diambil dari anggota Pemuda Rakyat dan Barisan Tani Indonesia (BTI), dan juga Serikat Buruh Kendaraan Bermotor atau preman loket oto, yaitu ormas dibawah PKI yang komunis.

Juga banyak preman, tukang copet, bekas maling yang direkrut dan dilatih menjadi OPR.

Makanya dengan adanya OPR, maka banyaklah orang kampung jang jadi korban, Harta yang ada dalam rumah yang ditinggalkan oleh penghuninya yang ijok ke hutan mereka rampas.

Banyak kepala desa diganti dengan orang yang berhaluan komunis.

Semua rumah yang salah satu anggotanya ijok ikut PRRI ditandai dengan sebuah papan kecil yang dipakukan didepan diinding rumah, dengan nama yang lari ke hutan.

Semua rumah ini menjadi incaran OPR.

Bila ada isteri atau anak gadis yang ditinggal suami atau bapak yang lari ke hutan, maka wanita ini akan di bon oleh tentara, dan dijemput oleh OPR malam hari.

Mereka biasanya diinapkan di kantor Kodim atau kantor Buterpra. Ada yang tiga hari, ada yang seminggu. Dan ada pula yang tidak pernah pulang sama sekali.

Cerita seperti ini banyak ditemui di daerah Agam seperti IV Koto, Baso, Ampek Angkek, Solok juga, dan Batusangkar.

Semua anggota preman itu memang diam-diam menaruh dendam pada Datuak Panduko. Karena gerak mereka dibatasi oleh aturan di pasar yang banyak dipakai atas masukan dari Datuak Panduko.

Judi dan main koa dilarang. Mancilok dan mengganggu anak gadis orang kalau ketahuan akan ditangkap oleh anak buah datuak Panduko. Dan kalau tertangkap pasti akan dimandikan di tebat semalam suntuk dan ditobatkan di surau.

Akibatnya preman menjadi benci pada Datuak Panduko.

Setelah terbentuknya OPR, maka Datuak Panduko menjadi target utama untuk dibunuh.

Datuak mengetahui ini. Makanya sebelum ia kedahuluan, ia mengajak isterinya lari ke hutan bergabung dengan PRRI. Ia langsung ditunjuk oleh Ahmad Husein menjadi komandan kompi Tandikek. Karena Husein tahu betul siapa Letnan Hamid di kompi B Siliwangi di Ciamis. Perwira ini tidak diragukan lagi semangat tempurnya.

Neti, akhirnya juga menjadi incaran OPR.

Setelah sekolah ditutup sementara, dari Padangpanjang Neti dengan dibantu teman sekelasnya tidak menuju kampungnya. Tapi ia berbelok melalui Maninjau. Di Maninjau Neti dijemput oleh anak buah Datuak untuk bergabung dengan ibunya di dapur umum pasukan.

*

Bahar, yang menjadi komandan regu dengan pangkat sersan, adalah diantara pemuda yang jatuh hati pada Neti.

Bahar orangnya juga alim. Tidak pernah tinggal sembahyangnya. Walaupun dalam keadaan perang, kalau masuk waktu shalat, pasti dia menyelinap untuk menunaikan ibadahnya.

Bahar adalah anak seorang ulama dari Kayutanam. Setelah lulus SMA di Pariaman ia melanjutkan ke Fakultas Pertanian Unand di Padang.

Peristiwa PRRI-lah yang buat sementara memutus kuliahnya.

Bahar orangnya rendah hati. Ia lebih suka menolong teman.

Kalau makan bersama pasukan, dia memeriksa anggota pasukannya dulu. Kalau sudah semuanya makan baru dia makan.

”Bahar, kamu sudah makan”, kata datuak Panduko senja itu.

”Saya masih kenyang pak datuak”, jawab Bahar.

”Makanlah, kalau jatah pasukanmu, habis, minta lagi sama makmu. Atau minta Neti masak lagi”, kata datuak Panduko.

”Masih ada jatah saya pak datuak”, kata Bahar.

Pada hal ketiding nasi sudah kosong karena dipecerabutkan oleh anggota pasukannya.

Walau mereka hanya makan dengan uok terung dan samba lado campur ikan asin, makan anggota pasukan PRRI itu selalu kelihatan lahap.

Maklumlah mereka masih muda-muda. Umur mereka baru sekitar dua puluh tiga tahun. Ada yang mahasiswa tingkat akhir seperti Bahar. Ada juga yang baru masuk kuliah, yang masih berumur sembilan belas tahun. Pada umur segini anak muda pasti makannya sedang banyak-banyaknya.

Nasi seketiding tidak sampai sepuluh menit habis tandas.

”Pak Datuak, saya permisi untuk periksa pos pengintaian di Batang Nanguih, assalamualaikum”.

”Wa alaikum salam”, datuak memandangi punggung Bahar yang menyandang ransel. Sebalik pinggangnya terlilit gantungan peluru brent. Di pinggang itu juga tergantung sebuah pistol yang masih baru. Ia menyandang Brent di bahunya yang bidang.

Pasukan datuak memang baru saja dapat droping amunisi dari Pekanbaru yang sampai dua minggu lalu. Amunisi ini diselundupkan lewat Perawang dari Singapur. Dari Perawang dibawa ke Bukittinggi dengan beberapa buah truk. Di Bukittinggi senjata ini dibagi oleh Letkol A. Husein keseluruh pasukan.

Entah negara mana yang membantu PPRI, datuak tidaklah perlu benar mengetahuinya. Yang penting kompinya cukup mempunyai amunisi buat bertempur tiga bulan ke depan.

Alangkah gagahnya anak ini dalam pakaian hijau tentara. Diam-diam datuak Panduko mengagumi anak buahnya yang satu ini.

Topi waja bertengger erat di kepala Bahar. Sersan Bahar yang seharusnya enam bulan lagi menjadi insinyur pertanian, sekarang bergerilya di tengah hutan. Ia ikut mempertahankan daerahnya Minangkabau dari ketidak adilan pemerintah pusat. Demikian ia mendengar pidato Letkol Ahmad Husein di Solok tempo hari.

Datuak Panduko suka kepada Bahar.

Orangnya pemberani, alim dan cerdas.

Pernah waktu penyergapan, pasukan Datuak Panduko ini terkepung oleh pasukan raiders dan OPR di pinggir jalan di kelok beringin ditepi batang Nanguih itu.

Rupanya keberadaan mereka dilaporkan oleh pengkhianat atau tukang tunjuk.

Perang berkecamuk. Tiga orang anggota pasukan diterjang peluru.

Bahar keluar dari persembunyian, sambil berlari dia menembaki raider dan OPR itu dengan brent-gun, dan ia juga melempar granat.

Akhirnya pasukan raiders itu mundur dan menaiki truk reo mereka. Mereka lari dan cigin kerarah Maninjau.

Lengan kiri Bahar tesambar peluru. Tapi lukanya ringan saja.

Malamnya luka itu dibalut oleh palang merah, dan dibantu oleh Neti.

Datuak Panduko berniat akan menjodohkan Bahar dengan Neti kelak bila perang sudah usai.

Waktu mata Bahar ketemu dengan mata Neti, disitulah panah asmara bertemunya.

Tangan Neti yang lembut ikut membalutkan perban ke lengan Bahar yang terluka.

Bahar membuang mukanya. Neti menunduk malu. Hati keduanya berdetak kencang.

Kopral Udin, si kepala palang merah hanya mendehem.

”Sudah Din, terima kasih kata Bahar. Saya harus segera ke pasukan.

”Tidak san, sesuai perintah Pak Datuak, sersan harus istirahat di sini barang seminggu menunggu luka bekas peluru ini kering. Baru boleh gabung pasukan lagi.

”Tidak Din, saya harus ada dalam pasukan saya. Kamu kan tahu sekarang OPR lagi gans-ganasnya patroli disini. Aku tidak mau pasukanku kedapatan.

”Uda sebaiknya istirahat dulu da”, Neti ikut mencoba menahan Bahar.

”Terima kasih Net, saya cukup kuat. Tidak apa-apa, ini kan cuma luka keserempet peluru saja. Tak apalah, terima kasih atas pertolongan Neti.

*

Kampung dibawah lereng itu namanya kampuang Nanguih. Hampir semua laki-laki di kampuang ini ikut ijok menjadi pasukan PRRI. Semuanya bergabung dengan kompi Tandikek dibawah komando datuak Panduko.

Hanya orang tua saja yang tinggal. Perempuan muda dan gadis juga ikut ijok. Mereka tahu kalau mereka tetap di kampuang pasti akan dipecundangi oleh tentara loreng, demikian mereka menyebut tentara pusat. Dan pasti juga mereka akan dijemput OPR.

Biarlah, kalau mati di hutan mereka rela. Mereka adalah penganut ajaran agama Islam yang taat. Mereka tahu, bahwa mati hanya sekali. Lebih baik mati berjuang dengan suami dan anak mereka, dari pada dipemalukan oleh tentara yang memperkosa dan menghinakan mereka.

Hati mereka memang pekat. Walau pendidikan mereka hanya sampai madrasah di Lubuak Basuang, namun kemulian hati menjadi modal utama pergaulan di kampung itu. Apa lagi adanya datuak Panduko, orang yang mereka hormati di kampung menjadi komandan pasukan.

Bahar ditugaskan datuak untuk selalu mengawasi kampung dari gangguan OPR.

Pertempuran kemaren terjadi karena pasukan Bahar bersirobok dengan pasukan raider yang bergerak dari Naras ke Lubuak Basung. Mereka berputar kekiri dengan melewati Tandikek.

Ketemulah mereka di desa Nanguih itu.

Pertempuran singkat itu cukup seru. Dua anak buah Bahar ikut menjadi korban.

Sebaliknya enam OPR berhasil ditewaskan. Termasuk Nipon seorang seorang preman makan masak matah. Nipon adalah tadinya agen loket di Bukitting Aue Tajungkang. Ia terkenal tukang peras di terminal. Kalau ada penunmpang oto dari Pekanbaru dan Medan yang banyak membawa barang pasti jadi perasan Nipon.

Setengah jam kemudian pasukan tentara pusat raider itu kembali ke Naras.

Datuak Panduko mempertimbangkan bahwa pasti akan ada serangan balasan dari tentara pusat. Atas pertimbangan itu maka konsentrasi kompi dipindahkan 2 kilometer ke mudik batang Nanguih.

Malam itu semua komandan regu dikumpulkan oleh datuak.

Perintah kewaspadaan ditingkatkan terutama oleh adanya tukang tunjuk.

Semua pendatang sekitar Kampung Mudik, tempat konsentrasi pasukan yang baru harus diketahui identitasnya. Kalau ada orang baru harus diketahui oleh kepala intelijen, Letnan Musa.

Team intelijen harus rajin turun ke jalan raya. Mereka menyamar jadi gembala kerbau dan penyabit rumput. Mereka mematai-mati gerakan raider dari Pariaman dan dari Bukittinggi.

Hubungan dengan induk pasukan di leter W tidak boleh putus.

Segera dikirim dua orang kurir ke leter W untuk memberitahukan pemindahan pasukan ini.

Selesai briefing singkat itu, datuak memanggil Bahar ke pondoknya.

”Bahar, saya mau bicara dengan kamu”, kata datuak.

”Siap, baik pak. Ada apa”, tanya Bahar.

”Sekarang pasukan kita mulai terjepit. Hubungan dengan induk pasukan di hutan sekitar Bukittinggi dan Solok mulai susah. Karena tentara pusat sudah membuat pos dimana-mana.

Saya dapat pesan dari Ahmad Husein, untuk mengambil sikap yang perlu untuk menyelamatkan pasukan. Aku disuruh untuk menghindari pertempuran. Kalau perlu kita menyingkir terus. Aku sendiri juga tidak atau kurang mengerti dengan perintah begini. Memang amunisi kita mulai menyusut. Tapi aku tidak mau menyerah, sebelum kita memberi pelajaran berharga ke semua OPR.

”Saya mengerti perasaan pak Datuak. Saya juga seperti itu. Biarlah kita bertempur dulu. Kalau kita kalah tidak apa. Asal yang hak di tanah Minang ini kita tegakkan.

Saya mau juga melibar OPR ini. Saya cukup malu mendengar ibuk-ibuk kita di bon dan di kerjai di pos-pos mereka. Sungguh biadab mereka. Saya baru senang kalau kepala mereka terbang dihantam peluru brent saya”, Bahar emosi menjawab apa yang dibahas datuak.

”Aku juga mendapat laporan dari intel kita bahwa ada sikap agak berubah dari komandan. Kelihatannya komandan agak berbeda pendapat dengan komandan nomor satu kita Pak Dahlan Djambek.

Pak Dahlan tidak mau menyerah. Sekarang beliau sudah menyingkir ke arah Lasi. Dan sekarang tempat ijok beliau disekitar Batang Masang bersama Pak Imam”, urai datuak lebih lanjut.

”Saya tidak mengerti pak datuak. Apakah maksudnya kita akan menyerah kalah ke tentara pusat”, tanya Bahar.

”Saya menangkap tanda itu Bahar. Sehingga ada pesan ke saya dari Pak Husein kalau saya boleh memutuskan untuk mengambil sikap demi menyelamatkan anak buah. Menyelamatkan dalam artian kamus tentara kan kamu tahu, bahwa itu tanda untuk menyerah. Mengibarkan bendera putih”, kata datuak agak pelan.

Bahar tahu, bahwa datuak sebenarnya tidak mau menyerah. Kalau menyerah berarti sekaligus mau menerima segala konsekwensi dari penyerahan. Termasuk ”penghinaan” dari OPR nantinya. Ini yang tidak mau di lakukan oleh datuak.

”Bahar, saya mau menitipkan pesan padamu”, kata datuak melanjutkan.

”Ada apa pak datuak”, tanya Bahar.

”Kalau dalam pertempuran berikutnya saya mendahului kamu, tolong selamatkan amak dan Neti. Bawalah mereka menyingkir. Kalau kamu harus menyerah ke tentara pusat, jagalah amak dan Neti jangan sampai dihina dan dipermalukan”, kata datuak.

”Tidak pak datuak, bapak harus bersama kita. Saya akan menjaga bapak dalam setiap pertempuran. Bapak tidak boleh mati. Kalau kita harus mati, mari kita hancur bersama pasukan kita”, kata Bahar dengan geram sambil mengokang brentnya.

”Tidak Bahar, kamu harus bisa tetap hidup. Kamu akan jadi saksi sejarah kelak. Biar orang tahu kalau saya perang karena membela kampung kita dari perlakuan jahat OPR dan penjajahan oleh tentara pusat. Saya bukan melawan pemerintah Republik. Tapi saya melawan tentara yang mau menghancurkan alam Minang yang saya cintai. Juga ada satu maksud saya yang lain”, kata datuak sambil menghirup dan menghabiskan sisa kopinya di galuak.

”Apa pesan pak datuak satu lagi itu”, tanya Bahar.

”Saya serahkan Neti kepadamu. Kelak kalau perang usai, mintalah kepada orang tuamu ijin, bahwa mak akan melamarmu untuk Neti”, demikian datuak mengungkapkan pesan utamanya.

Bahar terdiam. Ia tidak menyangka akan pengakuan komandannya ini.

Terus terang ia memang mencintai Neti. Dan ia juga tahu bahwa Neti juga menyenanginya.

”Pak datuak, bapak sudah saya anggap orang tua saya sendiri. Baiklah, saya pegang petuah bapak. Tapi ijinkan saya untuk menyelesaikan sekolah saya kalau Unand masih mau memberi kesempatan untuk saya kuliah lagi. Skripsi saya sudah hampir selesai. Mungkin sekitar enam bulan lagi saya sudah bisa ujian sarjana. Sesudah itu baru saya akan bicarakan soal perjodohan dengan abak saya di Kayutanam”, kata Bahar.

”Oh ya itu baik juga Bahar. Jangan lupa sampaikan salam saya sama Engku Malin ayahmu.

”Baik pak datuak”.

Bahar berpikir jernih. Mawar Tandikek yang ia idamkan telah diserahkan pemilik kebunnya untuk ia miliki. Mawar itu kini memang terancam dengan suasana peperangan yang tidak menentu ini.

Kemaren ia mengajarkan bagaimana cara menembak kalau terdesak kepada Neti. Neti diberikan sebuah senjata sten untuk menjaga diri dan emaknya.

Neti tidak boleh ikut perang. Ia digaris belakang di dapur. Aku akan menjagamu Neti, gumam Bahar dalam hatinya. Kalau kau ditakdirkan mati dalam pertempuran, engkau harus selamat mawarku, gumamnya lagi.

*

Terjadi lagi kontak senjata.

Sore setelah shalat ashar dilembah dibawah persembunyian dan pondok datuak Panduko.

Datuak dan dua orang komandan regu memeriksa perlengkapan pasukan di lembah yang tersembunyi.

Lembah itu adalah pos terdepan yang berhadapan langsung dengan jalan raya menuju Tanjung Mutiara sebelum Maninjau.

Tiba-tiba dari kelokan behamburan serobongan raider dan banyak OPR.

Kontak senjata tidak terelakkan.

Terjadi pertempuran hidup mati di lembah itu.

Lima belas orang pasukan PPRI di hadang lima puluh orang raider dan OPR. Tidak seimbang kedua pasukan ini bertempur. Korban banyak berjatuhan di pihak PRRI.

Datuak Panduko tersungkur keparit setelah dua peluru bersarang di dada dan lehernya.

Bahar melihat itu dan dengan membabi buta melemparkan granat dan tembakan brent-nya.

Pasukan raider dan OPR kembali menaiki truk mereka dan meluncur ke arah Maninjau.

Hanya tiga orang yang tersisa. Bahar dan dua orang anak buahnya. Dua belas orang termasuk pak datuak gugur untuk mempertahankan ranah bunda.

*

Di tanah kering di sudut kerimbunan pohon alaban.

Jenazah para suhada yang sepuluh orang adalah bekas mahasiswa dan pelajar itu akan di kuburkan. Jenazah datuak komandan mereka, dan jenazah Sersan Thamrin yang komandan regu kancil, didahulukan memasuki lobang kubur para suhada itu.

Suara burung pampeho mengiringi kepergian jenazah ke liang lahat yang hanya dibuat satu lubang. Burung itu adalah burung pertanda. Pampeho adalah jenis burung murai yang terbangnya malam. Bila pampeho terbang siang dan menceracau dekat pondok, itu tanda akan ada halangan datang. Biasanya mereka akan meningkatkan kewaspadaan.

Satu hari sebelumnya pampeho terbang tepat tengah hari diatas bubungan pondok datuak Panduko. Sejak saat itu datuak mahfum bahwa akan terjadi sesuatu.

Itulah dia peristiwa yang mengorbankan banyak anggota tentara kompi Tandikek dibawah pimpinan datuak Panduko, termasuk dia sendiri.

Malin Basa membacakan doa, dan menjadi imam shalat jenazah.

Mak Sarinam dan Neti tidak hentinya mennangis. Sarinam kehilangan suami yang ia cintai. Neti kehilangan bapak yang ia sayangi dan kagumi.

Sambil tetap menyandang sten di bahu Neti menyiramkan bunga sikajuik yang ia genggam ketanah timbunan terakhir pandam pekuburan para suhada itu.

”Selamat jalan yah, perjuangan ayah tidak sia-sia. Saya akan lanjutkan perjuangan ini. Do’a Neti dan emak menyertaimu. Sampai ketemu di syurga yah”, bisik Neti sambil menangis.

Hujan turun rintik-rintik. Tanah sekitar lobang mulai becek. Satu persatu jenazah kawan seperjuangan mereka turunkan dengan tali memasuki liang peristirahatan terakhir.

Bahar menyampaikan ucapan belasungkawa yang terakhir kepada teman-teman seperjuangan yang telah mendahului mereka.

Setelah upacara penguburan malam itu di halaman pondok, Bahar mendekati mak yang masih menangis tersedu sedan.

Neti memangku emaknya.

”Mak, besok kita harus menyingkir lagi. Tempat ini sudah diketahui musuh, Tidak aman kita disini. Pak datuak telah mendahului kita, Moga Allah menempatkan datuak di syurga, karena datuak berjuang menegakkan kebenaran.

Saya telah diberi petaruh oleh bapak untuk menjaga emak dan Neti.

Tiba-tiba datang seorang tani yang rupanya kurir dari Pariaman. Ia tergesa untuk menyampaikan sepucuk surat.

Bahar menerima surat itu. Rupanya surat dari komandan di Solok. Letkol Husein menyuruh pasukan untuk menyerah ke Kodim terdekat.

Alasannya untuk menyelamatkan pasukan.

Bahar terdiam.

Rupanya petuah datuak Panduko tempo hari menjadi kenyataan.

PRRI harus menyerah ke tentara pusat.

Perjuangan telah berakhir.

Korban berjatuhan untuk mempertahankan martabat ranah Bundokanduang.

Itulah fakta yang terjadi.

Bahar kembali membathin untuk kesekian kalinya.

*

Hari Senin, April, 1961.

Bahar membawa pasukannya ke Sungai Geringging untuk menyerah.

Kini mereka hanya tingggal dua puluh tujuh orang. Sebagian ada yang sudah turun duluan menyerahkan diri di kantor Buterpra di sekitar Naras.

Sebanyak sembilan belas orang anggota kompi Tandikek gugur di medan juang.

Neti si mawar Tandikek dan emaknya termasuk pasukan yang menyerah.

Setelah surat penyerahan ditanda tangani oleh Komandan Kodim, mereka dengan di kawal oleh raider sampai ke Pariaman.

Dari Pariaman dengan menumpang bus APD mereka bertiga pulang ke Tandikek. Neti dan emaknya hanya ke rumah pamannya Mak Lenggang. Mereka tidak bisa kembali ke rumah sendiri karena rumah datuak Panduko telah musnah dibakar habis oleh OPR. Ladang kopi dan sawah juga dihancurkan.

Untunglah masih hidup paman Neti. Mak Lenggang menangis menerima saudaranya yang disangkanya telah mati dalam pertempuran.

Esoknya Bahar minta diri dan menumpang bus Alima ke Bukittinggi, dan melanjutkan perjalanan dengan kereta api ke kampungnya di Kayutanam.

”Net, nanti uda akan kembali ke sini. Uda akan bawa abak dan ibu jumpa emak Neti dan Pak Lenggang untuk mempertautkan kita”, kata Bahar malam itu di beranda rumah.

”Neti tunggu uda datang”, kata Neti lembut.

”Uda pasti datang. Uda akan menyelesaikan kuliah yang teringgal. Setelah itu kita akan hidup bersama. Tinggallah Neti buat sementara”, kata Bahar dengan nada sendu.

Disinilah masanya kelak mereka akan menikah, sesuai petaruh dari ayah Neti, datuak Panduko yang telah gugur sebagai komandan kompi Tandikek.

Mawar Tandikek akan segera menjadi isterinya. Nanti, setelah ia meraih gelar sarjana pertanian yang sempat kececer karena peristiwa PRRI.

Mawar Tandikek yang cantik telah menimbulkan kesan cinta yang dalam sejak jari jemarinya yang lembut mengoleskan obat luka di lengan Bahar.

Bekas cinta itu masih ada kini. Parut luka itu menyembunyikan asmara di balik kulitnya.

Sumber

Bekas Pemberontak

OLEH: DASRIELNOEHA

Ia telah tua kini.
Sudah tujuh puluh lima tahun umurnya.
Selesai shalat maghrib ia duduk diteras rumahnya yang sederhana.
Secangkir kopi panas yang dihidangkan oleh isterinya menemaninya di senja itu.
Setiap senja ia menikmati duduk santai dengan ditemani kopi yang dibuat sendiri oleh isterinya. Mereka mempunyai kebun kopi sendiri. Tidak luas tapi cukup buat kebutuhan sendiri dan sebagian bisa dijual.

Ia kini hanya hidup berdua saja dengan siterinya. Anak-anaknya tiga orang perempuan semuanya sudah menikah dan tinggal di kota lain bersama suami mereka masing-masing.

Rumahnya menghadap ke jalan raya antara Padang dan Bukittinggi. Jalan raya itu selalu sibuk oleh kendaraan hilir mudik. Bercampur antara truk, bus dan kendaraan kecil milik pribadi. Sepeda motor juga banyak.

Matanya tertumbuk pada sebuah sepeda motor yang dituntun oleh dua orang berpakaian loreng. Rupanya ban sepeda motor itu kempes. Tentara itu mendorong sepeda motornya ke bengkel yang tidak jauh dari rumahnya.

Ya dua orang tentara telah memasuki alam kenangannya senja itu. Ia teringat tentang masa menjadi tentara dulu.

Tentara berbaju loreng yang dulu menjadi musuhnya. Tentara dengan seragam loreng itu mereka sebut dengan tentara pusat.

*
Sambil menghirup kopi panas ia memasuki alam kenangannya.
Angin sejuk senja yang semilir melintasi bulir-bulir padi yang mulai menguning di sawak belakang rumahnya ikut menghanyutkan kenangan lelaki tua itu.

Masa dulu sewaktu ia menjadi tentara.
Dulu, ditahun 1957, di Padang setelah menamatkan sekolah teknik menengah di Pariaman, ia diterima jadi tentara di Padang. Setelah menjalani latihan militer selama empat bulan dia ditempatkan sebagai bintara bagian perbengkelan dan peralatan Angkatan Darat di Muaro.

Ia masih bujang ketika masuk tentara itu. Oleh karenanya ia tinggal di asrama Ganting.
Ia senang dengan pekerjaannya memperbaiki mobil jeep, truck, dan juga memelihara senjata yang ditempatkan di gudang.
Pangkatnya waktu itu sudah sersan dua.

Namun, sebuah peristiwa nasional telah merubah peruntungannya.
Pada tanggal 15 Februari tahun 1958, beberapa perwira angkatan darat dan beberapa orang tokoh sipil membentuk dan memproklamirkan sebuah pemerintahan tandingan di Sungai Dareh yaitu Pemerintah Revolusioner Rakyat Indonesia (PRRI).

Dengan cepat berita ini telah dikonsolidasikan ke segenap unit militer di Sumatera Barat. Ada perintah umum oleh Letkol Ahmad Husen bahwa semua unit harus melapor ke masing komandan untuk menyatukan tekad melawan pemerintah pusat dan bergabung dengan tentara PRRI.

Ia melapor ke atasannya langsung. Letnan Mukhtar atasannya menasihatinya supaya tetap di bengkel. Tidak usah mengikuti ajakan untuk memberontak.
Namun, Mukhtar mengatakan kepadanya bahwa sekarang pilihan terserah kemauan masing-masing.

Akhirnya ia dengan empat orang temannya bergabung dengan pasukan PPRI di Seberang Padang.

*
Suatu pagi jam sembilan, kira-kira bulan April tahun 1958.
Sebuah pesawat terbang meraung-raung di atas kota Padang.
Pesawat itu menerjunkan pasukan di sekitar Bandar Udara Tabing.
Terjadi tembak menembak terjadi disana. Di Tabing pasukan PRRI hanya berintikan tentara mahasiswa Universitas Andalas yang memang markasnya di Air Tawar.
Pasukan PPRI yang memang tentara organik hanya beberapa orang. Karena seminggu yang lalu pasukan dikonsentrasikan di Kuranji dan Muaro serta Seberang Padang dan juga sekitar Bungus.

Banyak tentara mahaiswa ini yang jadi korban.
Tabing dan Air Tawar segera dikuasai oleh tentara pusat.

Begitu juga di pantai Tabing. Beberapa pasukan tentara pusat telah mendarat dengan menggunakan kapal kecil milik penduduk.
Dan mereka juga mendaratkan pasukan di Ulak Karang.
Pasukan Marinir mendarat dengan kapal amphibi.
Pasukan payung Banteng Raiders mendarat di pelabuhan udara Tabing.

Pasukan APRI tersebut segara menguasai keadaan. Tidak ada perlawanan dari PRRI.
Pada bulan July tahun 1958 itu terjadi tembakan besar-besaran dari kapal angkatan laut APRI ke pantai Padang dan Muaro.
Begitu juga di pelabuhan Teluk Bayur.
Teluk Bayur juga segera jatuh.

Tentara PPRI malahan mundur kearah Indarung dan terus ke Solok.
Tidak ada perlawanan. Jadi waktu itu bukan terjadi perang sebenarnya. Walaupun ada beberapa pertempuran kecil antara tentara rimba sebutan untuk tentara PPRI dengan tentara pusat untuk sebutan tentara APRI, namun selalu PRRI melarikan diri.
Yang terjadi adalah penumpasan tentara pemberontak oleh tentara pemerintah Sukarno yang dipimpin oleh Ahmad Yani yang terkenal dengan Operasi 17 Agustus.

Rupanya pendaratan dan penyerbuan ini sudah diketahui oleh pasukan Ahmad Husein. Mereka menyingkir ke Singkarak dan Solok untuk menghindari pertempuran di kota Padang, yang bilamana terjadi akan banyak megorbankan penduduk sipil.

Ia dan temannya satu regu segera menaiki bukit di belakang Seberang Padang. Mereka terus ke Gunung Pangilun. Dan terus naik ke Solok. Dan terakhir mereka menyusuri Danau Singkarak. Dan berhenti di sebuah desa yaitu Sumpur.

*
Sebuah penyerangan.
Malam hari oleh komandan yang berpangkat kapten diadakan rapat darurat disebuah hutan di seberang Batang Anai.
Mereka merencanakan sebuah penghadangan.
Ia sendiri lupa tanggalnya peristiwa itu, kalau tidak salah sekitar bulan Oktober tahun 1958.
Mereka ada sekitar tiga ratus orang lebih. Mereka gabungan dari pasukan ex mahasiswa dan tentara asli. Dan mereka juga memanggil beberapa bekas tentara Heiho jaman Jepang tahun 1945. Seperti Pak Karya yang terkenal dengan penembak jitu sewaktu jadi Heiho.

Oleh komandan mereka diperintahkan malam ini harus bergerak ke sebuah titik di daerah BTT.
Mereka sudah dapat laporan intelijen bahwa sepasukan mobrig akan berangkat pagi-pagi dari Padangpanjang menuju Padang.
Mereka akan menghadang dan menghancurkan mobrig itu dan merebut senjata mereka.

Ia ingat betul malam itu.
Mereka berangkat dari sebuah kampung dan menyeberangi Batang Anai dari Anduring terus mudik ke Lubuak Gadang.
Pada malam hari sewaktu kendaraan sepi mereka menyeberangi jalan raya menuju rel kereta api.
Jalan raya itu adalah jalan raya yang persis didepan rumahnya sekarang.

Dari rel kereta api mereka menuju stasiun Kandang Empat.
Mereka sampai di stasiun jam dua belas tengah malam. Di sini pasukan istirahat melepas lelah.
Sekitar satu jam kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju titik yang telah ditentukan.
Mereka sampai persis jam satu tengah malam di tempat disitu.
Kembali komandan mengingatkan akan tugas mereka. Mereka lalu disebar ke beberapa titik penghadangan. Pasukan inti ditempatkan di seberang bukit persis di depan pohon Kubang. Disitu ada dua pohon Kubang.
Yang lain ditempatkan setiap lima puluh meter di sisi utara. Dan pasukan terakhir sebagai pasukan penyapu ditempatkan di parit di tanjakan jalan.

Ia berada pada pasukan penyapu.

Ia ingat betul sekitar jam setengah enam telah terdengar deru mesin truk pembawa pasukan mobrig melewati kelok setelah air terjun Lembah Anai.
Kemudian terjadilah penghadangan itu. Segera terjadi tembak menembak. PPRI dibalik bukit dan semak, sedangkan mobrig di sepanjang jalan setelah berlompatan dari atas truk.
Truck mobrig mereka tembaki dengan bazooka dan senapan mesin.
Korban berjatuhan pada mobrig. Mereka tidak menyangka akan dihadang ditempat itu. Puluhan yang menjadi korban.

Setelah selesai penghadangan, semua pasukan kembali bergerak ke arah Tandikek.
Dan akhirnya terus melanjutkan perjalanan ke pos terakhir PRRI sekitar gunung leter W di atas danau Maninjau.
Disinilah ia bertempat tinggal dengan lima belas orang anggotanya menunggu perintah selanjutnya.

Disini ia ingat terjadi peristiwa lain yang amat membekas di hatinya.

*
Ia punya seorang pemuda yang merupakan sepupunya di kampung.
Aripin namanya.
Aripin bersekolah di STM di Bukittinggi. Karena terjadi peristiwa pemberontakan, buat sementara sekolah di liburkan.
Aripin kembali ke kampungnya di Kandang Empat.
Suatu hari sepasukan OPR melakukan pembesihan di desa Kandang Ampek.
Aripin dan berapa pemuda pengangguran sedang main kartu domino di kedai nasi Dibawa Untung.
Letnan Bahar Kirai, komanda OPR turun dari jeep. Dia diikuti lima orang anak buahnya.
Aripin dan teman-teman ditanyai tentang PPRI. Apakah mereka ikut pasukan PPRI. Mereka menjawab bukan, mereka adalah pemuda kampung biasa yang kerja di kedai nasi itu.
Aripin yang kelihatan gagah, maklum ia seorang pelajar STM, menjawab dengan lancar. Dan ia mengatakan bapak jangan asal menuduh kami pemberontak.
Rupanya jawaban Aripin membuat Letnan Bahar Kirai tersinggung. Ia segera menampar pipi Aripin dua kali. Aripin kesakitan dan lari kesudut ruangan. Seorang anak buah Bahar segera mau menembak Aripin. Tapi untunglah senjatanya ditepis Bahar dan selamatlah jiwa Aripin waktu itu.

Peristiwa itu rupanya membakar semangat Aripin untuk ikut memberontak.
Kebetulan Mansur, demikian nama orang tua itu waktu masih jadi tentara pulang kerumah ibunya di Kandang Ampek.
Aripin diberi tahu oleh adiknya Syamsuar bahwa uda Mansur lagi ke kampung malam ini. Aripin segera minat ijin ibunya mak Newar untuk lari ijok ke hutan. Mak Newar tidak mengijinkan waktu itu. Dia menangis menahan anak laki-laki sulungnya itu.
Tapi Aripin yang sudah dendam kesumat di dadanya akibat ditampar komandan OPR tempo hari, sudah tidak bisa dilarang lagi.

”Indak usahlah waang ikut ijok ke rimba Pin”, kata Mak Newar mencoba menahan langkah anak tuanya ini.

”Mak, hati awak sakik dek ditampar oleh OPR itu. Awak harus balaskan mak. Indak sanang hati awak sebelum dendam ini terbalas”, kata Aripin malam itu kepada ibunya.

”Hati mak, badatak Pin. Mak tidak mau terjadi apa-apa dengan waang”, kata Mak Newar sambil menangis.

”Jangan mak menangis. Awak sudah besar. Awak tahu menjaga diri. Lagi pula awak tidak takut mati mak. Kapan saja mati kata Tuhan, maka kita harus pergi. Lepaslah awak dengan do’a ya mak”, kata Aripin dengan mantap.

Akhirnya Aripin diam-diam menemui Mansur. Ia mengatakan akan bergabung dengan PPRI.
Akhirnya Aripin malam itu ikut dengan uda Mansur ke Tandikek. Dan mereka melapor ke markas di gunung leter W.

Selama tiga bulan Aripin berlatih memegang senjata dan cara berperang gerilya.

Memang ia melepaskan dendamnya segera. Sewaktu operasi di Tanjung Mutiara dan Bayur, ia membunuh banyak tentara OPR.
Aripin segera menjadi terkenal sebagai seorang prajurit PPRI yang pemberani.
Ia segera memegang sebuah senjata berat Brent.

*
Pak tua mengangkat mangkok kopinya. Udara senja mulai dingin. Pada bual-bulan mau memasuki bulan suci ini di kampung itu sering turun hujan. Malahan hujan turun setelah maghrib sampai tengah malam. Seakan hujan itu menguji keimanan penduduk desa itu untuk kepatuhan menunaikan shalat tarawih di mesjid.
Walaupun hujan penduduk terus dengan bertudungkan daun pisang menuju mesjid. Hujan dijadikan sebagai rahmat Tuhanyang harus disyukuri. Hujan mengairi swah yang terhampar luas di sekitar rumah.

Sudah lima puluh tahun kurang lebih peristiwa pemberontakan yang ia ikut berperan didalamnya itu terjadi.
Ia ingat betul sebuah peristiwa telah terjadi di sebuah tempat pos pengintaian di kaki gunung letter W.

Peristiwa yang menuntaskan sebuah dendam seorang pemuda yang telanjut sakit hati karena sebuah peristiwa besar. Yaitu peristiwa pemberontakan di Sumatera Barat itu. Karena peristiwa itulah yang melahirkan Organisasi Perlawanan Rakayt atau OPR bentukan tentara APRI untuk melawan tentara pemberontak.
Karena ditampar oleh komandan OPR Pariamanlah yang menyebabkan sebuah dendam terjadi.

Komandan pos B di dibalik munggu di bawah pohon lamin itu adalah kopral Aripin.
Ia membawahi lima orang anak buahnya. Mereka bertugas mengintai keberadaan APRI kalau ada operasi.

Hari itu tentara pusat atau APRI, sedang mengadakan sebuah operasi pembersihan.
Ia waktu itu sedang naik ke atas bukit untuk sebuah rapat konsolidasi.

Kira-kira jam tiga sore terdengar suara tembakan bersahutan di pinggang bukit dibawah. Ia tahu persis bahwa itu posisinya pos pengintai regu Aripin.
Tembak menembak memang tidak lama. Cuma kira-kira lima belas menit. Kemudian tembakan berhenti sama sekali.

Sejam kemudian kira-kira memasuki jam lima sore turun hujan lebat sekali di pinggang bukit itu.
Air hujan membuat jalan menurun kebawah menjadi licin.
Dengan mengendap-endap ia menuruni bukit melihat apa yang kejadian. Ia menyiagakan pandangan yang mulai tertutup kabut. Senjata Sten ditangannya siap untuk ditembakkan.
Kira-kira lima meter dari pos yang sudah habis terbakar, dia melihat sesosok tubuh tertelungkup. Darah masih mengalir dibawa air hujan dari tubuh itu.

Rupanya tentara APRI telah meninggalkan tempat itu.
Dia mendekat. Terlihatlah mayat seorang pemuda yang sudah cabik-cabik oleh peluru. Di punggungnya terlihat luka menganga lebar sekali. Baju cokelat seragamnya telah compang camping tertembus peluru. Celana hitam selutut yang jadi kebanggaan pemuda itu berlumuran darah.
Aripin telah gugur bersama dendamnya sore itu.

Kemana temannya yang lain?
Rupanya mereka sempat meloloskan diri melalui parit dibelakang pondok. Merka segera melarikan diri ke hutan lebat di pinggang bukit itu dan terus naik keatas menemui induk pasukan.
Merekalah yang bercerita bahwa mereka diserang sepasukan loreng APRI dengan tiba-tiba. Mereka mau lari dan mengajak komandannya Aripin.
Namun, Aripin menolak pergi. Ia mengatakan bahwa ia akan menuntaskan dendamnya sore itu.
Dan ia berdiri sambil menunggu pasukan loreng itu dengan menembakinya dengan Brent Gun. Ada beberapa anggota APRI yang terkena. Tetapi Aripin dihujani peluru banyak sekali oleh tentara pusat itu.

Akhirnya gugurlah ia sebagai seorang bekas pemberontak yang telah lunas membayar dendamnya sejak ditampar oleh OPR dulu.

Ia kembali keatas bukit untuk membawa beberapa anggota untuk memberi penghormatan terakhir kepada kopral Aripin yang gugur.
Jasad Aripin mereka kuburkan lengkap dengan bajunya yang berlumuran darah itu dibawah sebuah pohon lamin tua di bukit itu.
Nama Aripin mereka goreskan dengan sebuah bayonet pada batang lamin itu, berikut tanggal terjadinya peristiwa itu.

Munggu,17 April 1960. Disini dikuburkan kawan kami, Kopral Aripin.

Demikian goresan kenangan itu telah tertulis.

*
”Uda lagi mengapa kok minum gelas kosong”, tiba-tiba ia dikejutkan isterinya yang datang dari dalam rumah.

Upik, isterinya tahu bahwa suaminya melamun lagi. Upik tahu bahwa melamun peristiwa kenagan semasa pemberontakan dulu menjadi keasikan sendiri bagi suaminya. Kadang-kadang malahan suaminya menceritakan lengkap semua peristiwa yang dialami selama ijok ke hutan dulu.

Kedatangan Upik membuatnya tersenyum.
Ia sedang melamun tentang masa ketentaraannya dulu. Masa tatkala ia berjuang di hutan sebagai seorang pasukan pemberontak.
Masa pemberontakan yang berakhir atas penyerahan tanpa syarat seluruh anggota pasukan PRRI yang tersisa.
Ia yang juga ikut menyerahkan diri di Sungai Geringging tahun 1961.

Kemudian ia kembali ke kampung. Ia menjadi petani setelah itu.
Kemudian ia menikahi Upik, seorang putri Ulama di kampung itu.
Ia hidup di Kandang Ampek sebagai seorang bekas pemberontak.
Upik menemaninya sampai kini.
Hidup itu ia jalani dengan damai sampai masa tuanya.

Kenangan masa pemberontakan memang sewaktu-waktu datang menghampirinya.
Sama seperti kenangan senja ini. Yang terpicu ketika melihat dua orang berbaju loreng melintas di depan rumahnya.
Ia mulai beringsut.
Ia menuju ke tebat di belakang rumah untu mengambil wudhu.

Lalu ia shalat isya.
Sesudah shalat ia berdo’a.
Ia berdo’a untuk kawan-kawannya yang gugur selama masa pemberontakan.
Untuk Aripin ia berdo’a juga.
Tak terasa dua bulir air mata menetes di pipinya yang sudah keriput.

Sumber

PRRI, Protes Si Anak Tiri dan Catatan Luka Urang Awak (2)

image

Kok bakisa duduak jan bakisa dari lapiak nan salai, kok bakisa tagak jan bakisa dari tanah nan sabungkah” (*kalau ingin melihat dan memutuskan sebuah permasalahan maka janganlah hanya melihat dari hal hal kecil yg biasanya hanya bersifat emosional saja). —- (*Bung Hatta)

Rasa frustasi PKI yg nyaris tak laku di bumi Minang kabau

Pembubaran PKI dan hengkangnya mereka dari kabinet adalah salah satu agenda utama rekomendasi dan tuntutan Dewan Banteng kepada Soekarno. Sebagai orang Minang yg sedari kecil di didik dengan suasana agama (*baik yg tradisional maupun yg pembaharu) tentunya PKI yg konon anti Tuhan itu tentunya sangatlah di waspadai keberadaannya oleh Kolonel Ahmad hussein cs. Apalagi di masa lalu partainya kaum merah ini pernah pula menunjukkan taringnya di Silungkang, pemberontakan pertamanya yg tak sedikit memakan korban orang orang tak berdosa. Keberadaan PKI di sisi Bung karno juga dituding oleh mereka sebagai penyebab semakin condongnya Indonesia ke blok timur dan menjadi penyebab pecahnya konflik intern di tubuh Angkatan Darat. Sebagai perwira perwira yg anti komunis mereka sangat menyadari bahwa di tubuh militer telah banyak yg terjangkit faham marxisme. Dan hal ini berkat menyusupnya para agitator dan propagandis PKI yg berkedok sebagai seorang Soekarnois ke dalam tubuh militer semenjak masa revolusi fisik dahulu.

PKI pun tiadalah kurangnya benci kepada para kolonel dan politisi dari partai Masyumi yg berbasis massa di Sumatera. Masyarakat ranah Minang yg adatnya basandikan syara’ dan syara’ basandi kitabullah membuatnya sulit untuk ditembus oleh PKI. Islam bukan hanya sebuah agama belaka di bumi Andalas ini melainkan juga falsafah hidup dan ideologi bagi masyarakatnya. Walaupun tentulah tetap ada PKI di Minang namun keberadaannya sangatlah minoritas adanya jika dibandingkan partai Islam seperti PERTI dan Masyumi. Semua propaganda khas kaum komunis seperti kemiskinan dan perlawanan buruh dan tani tiadalah laku dijual di sana. Isu isu khas agitasi PKI seperti reformasi agraria dan ganyang 7 setan desa tiada jualah laku adanya  seperti di pulau Jawa.  Hal ini bukan karena rakyat di Minang kabau kaya dan mapan sehingga tak mampu dibakar oleh isu isu kemiskinan seperti lazimnya di negeri negeri yg menjadi lahan subur tempat tubuhnya faham komunis. Melainkan karena sistem adat berwaris dari mamak (*paman) kepada kemenakan dan dibaginya harta waris menjadi pusako tinggi dan pusako randahlah yg membuat orang Minang seakan kebal terhadap isu isu kepemilikan tanah yg biasa digadang gadangkan PKI.

image

Pusako tinggi adalah tanah dan harta benda yg diturunkan secara turun temurun sejak masa nenek moyang dahulu dan tidak boleh diperjual belikan dengan alasan apapun. Sedangkan pusako randah adalah harta (*bisa berupa tanah atau yg lainnya) yg merupakan hasil pencaharian seorang Ibu dan Ayah selama masa pernikahan mereka, harta pusako randah inilah yg dapat dibagikan menurut ketentuan agama Islam. Hal ini membuat tiadalah satu orang Minangpun jua yg tidak mempunyai tanah atau sawah, sehingga dengan demikian tiadalah tuan tanah dan buruh tani atau petani penggarap disana. Setiap orang Minang pastilah mempunyai tanah yg ia dapatkan secara turun temurun betapapun miskinnya orang tersebut. Tanah pusako adalah pertanda bahwa seseorang itu adalah seorang Minang asli, yg punya kaum dan sanak saudara di nagari singgalang tersebut.

Memang ada kaum niniak mamak disana sebagai para bangsawan atau priyayi Minang, namun posisi mereka lebih kepada pemangku adat saja dan tidak mempunyai hak hak istimewa berupa tanah atau kekuasaan sosial, ekonomi dan politik seperti para bangsawan atau priyayi di Jawa. Maka dengan demikian isu konflik antara si kaya dan si miskin atau si priyayi dan si jelata nyaris tak laku dan tak bisa membakar orang Minang untuk bersimpati kepada PKI. Inilah yg membuat partai berlambang palu dan arit ini frustasi dan mempunyai dendam kesumat yg begitu dalam tidak hanya kepada kaum ulama namun  juga kepada kaum adat yg dengan rapat membentengi masyarakat bumi Andalas ini dari agitasi dan propaganda PKI. Dan dendam ini semakin berkecamuk di saat para Kolonel Dewan Banteng yg notabane sangat membenci mereka juga berkedudukan di ranah Minang, bersatu dengan para politisi Masyumi yg juga sangat anti kepada mereka. Maka lengkaplah sudah alasan bagi mereka untuk menghasut Soekarno yg sedang terlena dengan kekuasaan dan mimpi mimpi revolusinya untuk segera menumpas habis Dewan Banteng dan membubarkan Partai Masyumi yg menjadi pemenang ke 2 pada pemilu 1955.

Gertak sambal para kolonel yg berubah menjadi konfrontasi separuh hati

Tersebut pulalah sebuah daerah, sungai dareh namanya, hijau ranau alamnya, jernih dan deras sungai yg membelah daratannya, ramah tamah penduduknya. Di sinilah Dewan Banteng dan para politisi yg terbuang dari Jakarta mengadakan pertemuan mereka selanjutnya, konon sebuah pertemuan rahasia katanya. Tanggal 8 Januari 1958 harinya, rapat itu penuh sesak oleh rasa amarah dan kekecewaan yg membuncah meletup letup keluar dari dada pesertanya, sebagaimana perkumpulan orang orang sakit hati lazimnya. Dan selayaknya orang yg marah, maka kadang ucapannya tiadalah di fikirkannya, melainkan hanya menuruti nafsunya belaka. Memisahkan diri dari NKRI sempat terlontar dengan nada yg sangat emosional dari mereka, sebuah hal yg tiadalah di fikir masak masak oleh para kolonel muda ini. Untunglah, dalam rapat kedua tanggal 10 Januari 1958, tokoh tokoh tua yg lebih bijaksana meredam keinginan kalap para anak muda itu, NKRI tetaplah harga mati bagi mereka betapapun kekecewaan membuncah mencabik cabik dada. Buya Muhammad Natsir, Syafruddin Prawiranegara, dan Boerhanuddin Harahap, bisa meredam keinginan itu, meredakan api dalam dada mereka para kolonel muda. Rapat rahasia Sungai Dareh itu cuma menyempurnakan susunan pengurus Dewan Perjuangan saja, Alhamdulillah… yg muda masih mendengarkan nasihat yg tua tua.

image

Bung Hatta terkejut saat mendengar pertemuan di Sungai dareh itu, hatinya risau, dia faham betul karakter keras para kolonel muda itu dan dia khawatir dengan kekecewaan tokoh tokoh Masyumi yg berada di samping mereka hanya akan menambah buruk keadaan. Menanggapi rapat rahasia di Sungai Dareh itu, berkirim pesanlah sang proklamator ini kepada Dewan Banteng: ”Kok bakisa duduak jan bakisa dari lapiak nan salai, kok bakisa tagak jan bakisa dari tanah nan sabungkah” (*kalau ingin melihat dan memutuskan sebuah permasalahan maka janganlah hanya melihat dari hal hal kecil yg biasanya hanya bersifat emosional saja). Lalu  16 Januari 1958 Bung Hatta dan Syahrir mengutus orang kepercayaannya ke daerah-daerah bergolak seperti Dewan Garuda di Palembang dan Dewan Banteng di Padang. Utusan itu adalah Djoeir Moehamad, salah seorang anggota Dewan Pimpinan Partai Sosialis Indonesia (PSI). Pesan Bung Hatta dan Syahrir itu adalah: ”Pergolakan-pergolakan daerah di Indonesia dewasa ini (maksudnya: waktu itu) terjadi pada saat-saat sedang hangatnya berlangsung Perang Dingin antara Blok Komunis dan Blok Barat (termasuk Eropa Barat). Tidak tertutup kemungkinan, bahwa pergolakan daerah itu merupakan peluang bagi Blok Amerika untuk menungganginya, karena khawatir akan sikap Presiden Soekarno yang akrab dengan Blok Uni Soviet”. Ternyata kemudian, bahwa yang disinyalir oleh Bung Hatta dan Syahrir ini benar adanya. PRRI terperangkap ke dalam strategi intrik politik dan permainan spionase Amerika Serikat. Djoeir Moehamad juga menyampaikan pesan kepada Letkol Barlian, Ketua Dewan Garuda di Palembang dan Ahmad Husein, Ketua Dewan Banteng di Padang, bahwa suatu pemberontakan untuk membentuk Pemerintahan yang lain akan menimbulkan korban yang tidak sedikit, setidak-tidaknya akan mengakibatkan perkembangan daerah yang bersangkutan tertinggal selama satu generasi.

image

Demikianlah usaha Bung Hatta dalam meredam keinginan Dewan Banteng, membesarkan hati mereka, namun semua itu nampaknya sia sia adanya. Kolonel Ahmad Hussein sebenarnya menyadari bahwa yg dikatakan oleh Bung Hatta sangatlah benar adanya, namun tampaknya dia sudah kepalang tanggung, sudah kepalang di cap sebagai pembangkang, hingga ia berfikir bak seorang fatalis. Namun tetaplah pada dasarnya  tiadalah keinginan sang kolonel muda ini untuk memisahkan diri dari negara yg dulu dibelanya mati matian dengan bersabung nyawa. Ia mencintai negeri ini dengan segenap jiwa dan raganya, namun itu bukan berarti ia harus mengamini semua tindakan pemimpinnya  yg saat itu tampaknya  sedang lupa diri. Terlebih lagi rasa bencinya pada kaum komunis yg berada di sekeliling “ayah” nya itu semakin membuatnya muak, ia tahu persis bahwa PKI adalah monster buas yg sedang memakai topeng malaikatnya. Hingga jelaslah sekali tampak bahwa Dewan Banteng ini hanyalah seorang anak kecil yg sedang merengek meminta hak nya, minta diperhatikan oleh ayahnya, tiadalah lebih dari itu.

Dan sebulanpun telah lewat sudah semenjak pertemuan rahasia di Sungai dareh dan nyaris 2 tahun semenjak rekomendasi Dewan Banteng yg dianggap sebagai pembangkangan itu sampaikan pada pemerintah pusat. Namun apalah daya, Sang paduka presiden tampaknya seakan menutup telinganya dengan rengekan anak anaknya di Pulau Sumatera dan pulau pulau lainnya. Ketegangan antara pusat dan daerahpun semakin memuncak, tak satupun usaha rekonsiliasi berhasil termasuk usaha Bung Hatta. Ketegangan inipun tak hanya terjadi di kalangan politisi sipil saja, diantara perwira militerpun juga terjadi ketegangan antara KASAD Mayjen AH. Nasution dengan para Kolonel di daerah daerah yg bergolak. Nasution menuduh para kolonel di daerah kerap kali menyelundupkan hasil bumi seperti karet dan kopra bagi kepentingan pribadi mereka. Tentu hal ini  dibantah oleh Kolonel Hussein, Kolonel Simbolon, Kolonel Lubis, Kolonel Alex Kawilarang, dan Kolonel Ventje sumual. Memang mereka kerap menjual hasil bumi berupa karet dan kopra langsung kepada para broker di Singapura. Namun mereka melakukan itu bukan untuk kepentingan pribadinya, melainkan untuk membiayai logistik dan persenjataan anak buahnya yg suply nya sangatlah kurang dan tidak cukup jika hanya mengandalkan jatah anggaran dari pemerintah pusat saja. Tapi Nasution tetap bersikukuh  bahwa para Kolonel ini telah bermain api di belakang pemerintah yg sah. Maka semakin panaslah suasana saat itu, sementara PKI terus mengipasi keadaan ini dengan agitasi dan propagandanya yg seakan akan mendukung Soekarno.

image

Keadaan terus memanas, sikap pemerintah pusat yg tiada bergeming dari  semula semakin membuat kecewa dan frustasi para kolonel dan dewan dewan perjuangan di daerah. Tanggal 10 Pebruari 1958, Ahmad Husein, selaku Ketua Dewan Perjuangan, menyampaikan ultimatum kepada pemerintahan Soekarno melalui RRI Padang. Ultimatum yang disebut Piagam Perjuangan ini berisi 8 poin tuntutan. Intinya, menuntut agar dalam waktu 5 x 24 jam sejak diumumkannya ultimatum ini, presiden segara membubarkan Kabinet Djuanda. Tuntutan lainnya, pemerintah harus membentuk Zaken Kabinet Nasional yang jujur dan bersih dari unsur-unsur PKI. Kemudian, Soekarno harus memberi dukungan kepada Zaken Kabinet, dan Hatta bersama Hamengku Buwono harus diberi mandat untuk bertugas di Zaken Kabinet ini. Jika ternyata Soekarno enggan memenuhi tuntutan ini dan tidak memberikan kesempatan kepada Zaken Kabinet untuk bekerja, maka Dewan Perjuangan menyatakan terbebas dari kewajiban taat kepada Soekarno sebagai kepala negara. Mereka berharap rengekan mereka yg telah berubah menjadi gertakan ini dapat mencuri perhatian sang presiden sehingga mau mengoreksi arah kebijakannya saat itu dan mau lebih memperhatikan daerah.

Tapi apalah daya, alih alih memperhatikan ultimatum mereka, pemerintah pusat malah menantang balik Dewan Banteng dan dewan dewan lainnya di daerah daerah yg bergolak. Gertakan mereka dibalas oleh Ir. Djuanda selaku Perdana menteri esok harinya, 11 Februari 1958, di Jakarta dengan mengumumkan menolak ultimatum Dewan Perjuangan. Bahkan, ia memerintahkan KSAD Mayjend AH. Nasution untuk memecat Letkol Ahmad Husein dan Kolonel Simbolon dari kemiliteran, membekukan Komando Daerah Militer Sumatera Tengah (KDMST), serta memutuskan hubungan darat dan udara dengan Sumatera Tengah. Sikap arogan yang ditunjukkan Djuanda ini jelas memberi jawaban bahwa ultimatum tak akan dipenuhi. Bahkan, Djuanda memberikan reaksi yang sangat keras, Ia meminta persetujuan Soekarno untuk melakukan aksi militer terhadap dewan dewan perjuangan di daerah tersebut. Namun karena saat itu sang pemimpin besar revolusi sedang berada di Eropa timur dalam rangka lawatannya ke negara negara komunis di kawasan itu maka permasalahan ini ditangguhkan oleh Djuanda hingga Soekarno kembali.

Melihat reaksi yg sangat keras dari Djuanda maka Kolonel Hussein merasa jalan negosiasi dengan pemerintah pusat tertutup sudah, kolonel ini benar benar telah patah arang kini. Maka pada tanggal 15 Pebruari 1958, segeralah membentuk ”kabinet tandingan” yang berkedudukan di Padang. Mereka juga mengumumkan tak mengakui lagi kabinet Djuanda, dan berlepas diri dari kewajiban menjalankan perintah darinya. Kabinet baru itu bernama Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Dalam kabinet itu, Mr Syafruddin Prawiranegara diamanahi sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri Keuangan. Maludin Simbolon menjabat Menteri Luar Negeri., Kolonel Dahlan Djambek menjabat Menteri Dalam Negeri. Mr Burhanuddin Harahap menjadi Menteri Pertahanan sekaligus Menteri Kehakiman. Dr Soemitro Djojohadikoesemo menjabat Menteri Perhubungan dan Pelayaran. Adapun Menteri Agama dijabat Saleh Lintang. Menteri Penerangan dijabat Saleh Lahade. Menteri Sosial dijabat A. Gani Usman. Menteri Pertanian dijabat S. Sarumpaet. Menteri Pembangunan dijabat JF Warouw. Dan, Menteri PP&K dijabat Mohammad Syafei. Maka sebuah pemerintahan tandingan yg kelak mengakibatkan tertorehnya luka mendalam bagi urang awakpun terbentuk sudah. PRRI, stempel pemberontak, separatis bahkan wahabi yg anti NKRI disematkan kepada kami orang Minang selama berpuluh puluh tahun setelah Kolonel Ahmad Hussein mengumumkan PRRI di depan corong RRI Padang. Dan stempel ini tetap menjadi stigma yg mengakibatkan adanya sebuah inferiority compleks (*sindrom rendah diri alias minder) di kalangan urang awak bahkan setelah 3 generasi setelah masa PRRI. Sebuah hal yg harus kami tanggung walaupun pelaku pelaku PRRI telah mendapatkan amnesti dan namanya direhabilitasi oleh pemerintah.

image

16 Februari 1958, Djuanda dengan tergesa gesa menemui presiden Soekarno yg baru saja pulang dari Russia. Ia segera melaporkan telah dibentuknya PRRI di Sumatera tengah dan Permesta di Sulawesi utara lengkap dengan penjelasan bahwa gerakan tersebut telah resmi memisahkan diri dari NKRI. Maka segera pulalah sang perdana mentari ini meminta Soekarno segera memerintahkan dilakukannya operasi militer untuk menumpas gerakan separatis ini. Presiden Soekarno yg memang sudah muak dengan ketegangan antara dirinya dan kolonel kolonel di daerah yg berlarut  larut tanpa pikir pikir lagi segera menyetujui usul Djuanda tersebut. Baginya tindakan kolonel Ahmad Hussein cs kali ini sudah kelewat batas, kenakalan para kolonel ini tidak cukup ditegur hanya dengan sebuah jeweran kecil saja melainkan dengan sebuah pukulan yg akan melumpuhkan bahkan mematikan mereka. Terlebih lagi lawan lawan politiknya dari partai Masyumi dan PSI berada dibelakang PRRI ini, maka baginya inilah kesempatan baginya untuk menggebuk mereka, satu batu untuk dua sasaran sekaligus. Maka hari itu juga  turunlah perintah pemecatan para kolonel yg memprakarsai PRRI dari dinas kemiliteran sekaligus perintah penangkapan terhadap mereka. Sejak itu meletuslah apa yang disebut Jakarta sebagai ”pemberontakan” oleh PRRI, tetapi sebaliknya para pendukung PRRI menyebut gerakan mereka sebagai ”pergolakan” daerah menentang rezim Jakarta yang inkonstitusional. Inilah manuver militer dan intelijen RI terbesar setelah kemerdekaan yg tak hanya melibatkan aktor aktor pemerintah pusat dan PRRI saja namun juga para agen agen spy dari CIA.

image

Kolonel Ahmad Hussein menjawab perintah penangkapannya dengan menggelar rapat umum di kota Padang pada tanggal 20 Februari 1958. Dan untuk menunjukkan bahwa PRRI adalah sebuah gerakan yg salah satu tujuan utamanya adalah memerangi kaum komunis maka ia memerintahkan penangkapan besar besaran terhadap para anggota PKI. Para anggota dan simpatisan PKI ini ditangkap dan dipenjarakan di penjara penjara sipil maupun militer di seluruh Sumatera tengah oleh pemerintah PRRI. Kolonel Ahmad hussein dan PRRI sebenarnya tak menyangka kalau keadaan menjadi sangat liar dan tak terkendali seperti itu. Niatnya hanyalah menggertak, namun karena gertakan tersebut tak digubris, melainkan malah ditanggapi dengan reaksi yg sangat keras maka dia terpaksa membalas menentang pemerintah pusat. Ibarat pepatah Minang Biduk sudah terlanjur terlongsong ke tengah lautan maka pantanglah surut kembali ke daratan. Keesokan harinya  Soekarno memerintahkan penumpasan PRRI yg resmi disebutnya sebagai sebuah gerakan pemberontakan dan makar terhadap pemerintah pusat. Tentara pusat (APRI) atau “tentara Soekarno”, mengerahkan seluruh angkatan perang (darat, laut, udara dan kepolisian). Kekuatan APRI waktu pertama diterjunkan mencapai lebih 20.000 pasukan, sebuah jumlah pasukan yg bukan alang kepalang besarnya, jumlah terbesar yg pernah diturunkan dalam menumpas sebuah pergolakan di daerah hingga saat ini. Sebuah jumlah yg fantastis jika mengingat lawan yg akan mereka hadapi hanyalah para tentara eks Divisi Banteng yg sudah porak poranda tercerai berai semenjak beberapa tahun sebelumnya. Sebuah hal yg sangat berlebihan pulalah kiranya karena persenjataan tentara Dewan Bantengpun tiadalah ada apa apanya jika dibandingkan persenjataan APRI saat itu. Sebagai pemimpinnya ditunjuklah Kolonel Ahmad Yani yg justru sangat terkenal sebagai seorang yg anti komunis, sama dengan rivalnya para kolonel PRRI. Operasi yg diberi nama sandi “Operasi 17 Agustus” ini  melibatkan prajurit dari Satuan Banteng raiders kodam Diponegoro, yang waktu itu kebanyakan sudah disusupi oleh kelompok merah (komunis).

Syahdan kota Padang dan Bukit tinggi dibombardir oleh kekuatan angkatan udara APRI hingga porak poranda macam balai dilamun kerbau mengamuk. Sementara dari laut puluhan kapal perang angkatan laut APRI membombardir pantai kota Padang tanpa ampun dengan hujan mortir. Sebuah hal yg membuat hati miris dan hendak mencibir rasanya karena sebuah bangsa dengan kekuatan angkatan laut yg paling kuat di Asia saat itu persenjataanya justru dipakai untuk membombardir saudara sebangsanya sendiri. Selama 10 hari sebelumnya kapal kapal perang APRI petantang petenteng show of force di lautan Hindia, tak seberapa jauh dari garis pantai kota Padang. Pagi hari pukul 06.00 angkatan laut APRI memulai serangannya, ratusan mortir mereka muntahkan ke arah tepi pantai kota Padang. Akibat dari serangan mortir itu kantor Tentara bagian Zeni di pinggir Pantai Padang hancur, ini tembakan salah arah sebenarnya untuk Kantor KOMDAK (saat ini POLDA) PRRI di jalan Nipah. Satu lagi peluru mortir jatuh di belakang Bioskop Karya tapi tidak meledak, salah arah sebenarnya ditujukan ke Kantor Dewan Banteng. Tak terhitung banyaknya  rumah penduduk yg hancur karena terkena mortir kapal perang APRI, sementara mereka bersembunyi di lubang lubang perlindungan yg telah disiapkan beberapa waktu sebelumnya.  Pagi hari esoknya terdengar suara pesawat meraung raung dilangit kota Padang, penduduk menyangka bahwa itu adalah pesawat bantuan dari armada ke 7 tentara Amerika yg beberapa waktu sebelumnya diumumkan di radio akan mengamankan ladang minyak Caltex di Dumai Pekan baru. Namun ternyata itu adalah pesawat angkatan udara APRI yg sedang mengawal penerjunan para marinir dan tentara Banteng raiders dari kodam Diponegoro. Tentara PRRI dari Dewan Banteng berusaha menembak jatuh pesawat pesawat tempur milik APRI tersebut dengan senjata anti serangan udara yg mereka miliki, namun tak berhasil. Pendaratan tentara terjun payung dari Marinir dan Banteng raiders di lapangan terbang Tabiang berhasil dengan mulus, sementara sisanya mendarat di wilayah dekat lapangan terbang di muara sungai Batang Kuranji di Air Tawar dekat kompleks UNAND (saat ini UNAS) dan Universitas Bung Hatta.

image

Tentara APRI dari Banteng raiders kini berhadapan face to face dengan tentara Dewan Banteng PRRI. Banteng Minang VS Banteng Jawa, persis seperti legenda penyerangan Majapahit terhadap Kerajaan Pagaruyung dahulu yg akhirnya disudahi dengan pertandingan adu kerbau atau Banteng yg menjadi kisah asal muasal nama “Minang kabau” yg berarti “Kerbau pemenang”. Namun kali ini Banteng Minang lebih memilih untuk mundur dari gelanggang perang, nyaris tanpa perlawanan yg berarti sama sekali, bukan karena mereka dikalahkan dan bukan pula karena mereka takut dengan Banteng Jawa ini. Mundurnya mereka karena mematuhi perintah Buya Natsir sehari sesudah pertemuan di Sungai dareh agar PRRI menerapkan ‘gerakan tanpa perang’ untuk melawan pemerintah Soekarno. Selain itu hal ini juga untuk menghindari korban dari rakyat sipil yg tak berdosa yg pasti jatuh saat perang terbuka melawan tentara pemerintah pusat. Dan PRRI benar benar mematuhi perintah tokoh kharismatik panutan urang awak tersebut dengan disipilin, biarlah tampak bak orang pengecut lari dari medan tempur asalkan rakyat yg tak berdosa tiada yg menjadi korban.

Tentara Dewan Banteng beserta seluruh jajaran sipil PRRI lebih memilih untuk mundur ke kampung kampung di pelosok lalu lanjut terus menyuruk ke hutan hutan belantara Pasaman, Payakumbuh, Agam dan Solok. Rute yg sama dengan rute saat mereka menyelamatkan NKRI ini dari kejaran tentara agresi militer Belanda II dahulu. Rute yg sama, orang orangnyapun sama pula, hanya status dan pengejarnya saja yg berbeda. Dahulu status mereka sebagai pejuang kemerdekaan, kini sebagai pemberontak, pembangkang dan perongrong kewibawaan pemerintah pusat. Bahkan konon kata sebagian orang yg agaknya pantaslah dijahit saja mulutnya  mereka adalah separatis, pengkhianat NKRI yg harus ditumpas habis keberadaannya. Padahal NKRI yg oleh mereka yg membusungkan dadanya sebagai seorang Soekarnois atau Nasionalis gadang gadangkan saat itu sedang dikangkangi oleh tindakan inkonstitusional sang paduka yg mulia yg mereka puja puja bak seorang Raja jawa. Dahulu tentara berhidung mancung dan berkulit putih yg mengejar mereka, kini tentara berkulit sawo matang dan berhidung pesek persis seperti merekalah yg menjadi pengejar. Dahulu lari ke hutan dalam rangka membela kepemimpinan sang presiden Soekarno dan kedaulatan RI, kini lari ke hutan justru dikejar oleh tentara loyalis Soekarno sendiri, orang yg kepemimpinannya dahulu mereka bela dengan keringat, air mata, harta bahkan darah nan tertumpah di bumi pertiwi ini. Maka dimulailah sebuah perjalanan fisik nan panjang dan melelahkan dalam memperjuangkan dan meminta hak mereka. Sebuah tuntutan yg tak digubris pemerintah pusat, tuntutan wajar yg malah dibalas dengan aksi militer. Bak rengekan seorang anak yg malah dibalas tamparan menyakitkan dan menghinakan oleh ayahnya sendiri. Anak kandung yg dahulu sangat berbakti dan menjadi penyelamat kewibawaan ayahnya itu kini digebuk dengan kejam dan tanpa ampun bak seorang anak tiri. Masa inilah yg kelak dikemudian hari lazim disebut “maso lari ka rimbo” oleh orang Minang setelah masa masa pergolakan PRRI selesai di akhir tahun 1961. —- bersambung ke bagian 3—- (*Liga Chaniago, awal september 2013)

Sumber

Terkait : PRRI, Protes Si Anak Tiri dan Catatan Luka Urang Awak (1)

Sang Letnan Itu Kini Mengemis (2)

Terhitung sejak bulan Januari 2008 lalu, sesuai dengan keputusan Presiden RI dalam kongres Veteran ke-7 tahun 2007. Sebanyak 5.134 veteran yang ada di Sumbar akan mendapat tunjangan dana kehormatan senilai Rp. 250.000. Penghargaan terhadap perjuangan yang mereka lakukan dalam membela Indonesia sekaligus sebagai figur yang turut andil dalam merebut kemerdekaan bangsa ini. Namun, bagaimana dengan Anwar?. Sang Letnan yang tak mendapat apapun dari perjuangannya?.

Pembaca tentu masih ingat dengan Anwar?. Letnan Satu yang kisahnya Penulis angkat menjadi tulisan bersambung dalam tiga edisi. Dia (Anwar) masih seperti dulu. Menengadahkan tangannya untuk mencari sesuap nasi. Di Simpang Potong, Anwar masih berkutat dengan riak kemelaratan. Kecuali hari Sabtu dan Minggu, Anwar pasti ada di Simpang Potong.

pengemisjalanan18
Di saat teman-teman seperjuangannya berbahagia dengan tunjangan-tunjangan yang didapatkan untuk mengisi hari tuanya. Anwar malah terabaikan. Bahkan Ketua LVRI Sumbar (Legium Veteran Republik Indonesia) Drs H Adrin Kahar Ph .D secara tegas mengungkapkan kalau Anwar belum tentu pejuang. Mungkin saja, dengan mengatas namakan pejuang, Anwar berniat untuk mengeruk keuntungan.

“Secara terang-terangan saya mengungkapkan kalau Anwar belum tentu Veteran. Kalau emang dia veteran, pasti dia punya nomor legium veteran atau surat-surat yang menyatakan dia pejuang. Contohnya, surat Bintang Gerilya. Tapi kenyataannya tak ada kan?. Kami (LVRI) selalu memperjuangkan hak-hak veteran. Tapi yang kami perjuangkan itu adalah mereka yang nyata ikut berjuang. Pembuktiannya, ya dengan surat keterangan,” tegas Sang Ketua.

Kata-kata LVRI seakan menjadi cambuk bagi Anwar. Anwar tenggelam. Keputus asaan seolah semakin kuat melekat. Sudah pasti, tak akan ada penghargaan ataupun tunjangan yang akan diterima Anwar. Minim lencana Veteran. Anwar semakin kuat menapak di atas trotoar panas. Memang, Anwar tak punya apa-apa untuk “diperagakan” kepada Pemerintah kalau dia adalah bekas pejuang kemerdekaan dua periode. Semua surat-surat Anwar hilang. Maklum, semenjak istrinya meninggal, Anwar tak punya rumah. Hidupnya hanya numpang.

pengemisjalanan11

“Biarlah orang bicara saya bukan pahlawan. Tapi sejarah tak dapat dipungkiri. Dari dulu saya bilang kalau saya tak butuh tunjangn gono-gini. Saya hanya ingin melihat kibaran merah putih tanpa gangguan serta hanya butuh sesuap nasi untuk makan. Itu sudah cukup,”ulas Anwar untuk kesekian kalinya pada Penulis.

Jam sudah menunjukkan angka 12 siang. Matahari semakin panas. Dengan langkah tertatih Anwar mulai meninggalkan dua onggok bata yang jadi topangan tubuhnya. Anwar melangkah menuju simpang Alang Laweh. Menaiki Angkot jurusan Mato Aia, Anwar menuju rumah tumpangannya.

Rasa keingin tahuanlah yang menyeret langkah penulis untuk mengikuti mobil angkot biru tumpangan Anwar. Terus menguntit, akhirnya angkot berhenti di depan rumah bercat putih. Bangunan sederhana yang terletak di Kelurahan Koto Baru, Kecamatan Lubuak Bagaluang, Padang. Rumah mungil yang bersebelahan dengan bengkel variasi mobil. Itulah kediaman Anwar sejak tahun 1975.

Sang empunya rumah, Shally (50) menyambut kedatangan Anwar dengan cemas. “Pak Gaek (panggilan Anwar) memang kurang enak badan, kami sudah melarangnya pergi kerja tapi wataknya sangat keras. sulit sekali melarangnya pergi,”terang Shally dengan wajah ragu.

Anwar tampak mengaso di atas sofa yang sudah lusuh. Mencoba menetralisir kembali nafasnya yang turun naik. Sementara Anwar mengaso, POSMETRO mencoba bercakap dengan Shally, orang yang berbaik hati menampung Anwar.

Wajah ramah Shallypun tampak mengerut, mencoba mengingat hari pertama Anwar datang ke rumah sederhananya. Sesat berpikir, akhirnya Shally mulai bercerita. Tarikan panjang nafasnya, memulai penuturan itu.

“Pak gaek datang awal 1975, bersam seorang temannya bernama Rustam (telah meninggal). Mereka adalah sahabat Ayah saya. Ayah bernama (Syamsudin). Ayahlah yang pertama memperkenalkan pak gaek dengan kami. Mereka adalah tiga sekawan yang tak dapat dipisahkan. Namun, akhirnya, ajal merenggut bapak dan Rustam. Tinggalah Pak Tua sendirian. Kami sudah menganggapnya bagian keluarga sendiri,”celoteh Shally melirik “Pak Gaek” yang menyeruput segelas air putih.

Rumah Shally memang sangat sederhana. Cat putihnya sudah terkelupas, dihuni empat keluarga. Ditambah Anwar, rumah itu kelihatan penuh sesak!. Tak hanya itu, ternyata, Label RTM (Rumah Tangga Miskin)pun tertempel di jendela rumah tersebut. Maklum, dengan empat keluarga, hanya suami Shally, Mak Tum (52) yang menjadi tulang punggung keluarga. Mak Tumpun hanyalah pekerja bengkel di Simpang Nipah. “Suami membuka bengkel kecil-kecilan. Kami termasuk penerima bantuan BLT dari Pemerintah. Kami juga hidup dengn sederhana. Tapi kedatangan pak gaek bukan beban bagi kami. Malah, kami bahagia. Pak Gaek sering mengajarkan bahasa Inggris dan jepang pada anak-anak,”tambah Shally.

Menurut Shally, di hari Tua-nya Pak Gaek tak pantas mengemis. “Pak Gaek adalah seorang pahlawan. Tapi dia seakan terabaikan. Saya pernah mengurus bantuan Veterannya, tapi tak ada hasil. Pak gaek luar biasa, dia bisa tiga bahasa. Bahkan dia juga bahasa jawa dan batak. Saya percaya dia pahlawan Walaupun hanya dengar cerita dari mendiang Ayah dan Pak Rustam. Tapi kenapa Pak Gaek terabaikan,”lemah Shlly menutur.

Ah, dunia memang terlalu kejam buat sang Letnan. Jeritan sepatah iklan TV Swasta menglir ditelinga Penulis. “Tanah yang Kita Pijak adalah bukti dari perjuangan Pahlawan yang membentuk kita menjadi manusia merdeka. Pahlawan yang bertamengkan rasa nasionalisme yang tinggilah semua ini tercipta. Hargai Pahlawan, sebagai peringatan tertinggi buat mereka. Kita bangsa besar, lahir dari cipratan darah sang revolusioner. Bangga ku dengan perjuanganmu”. Memang mungkin itu hanya sebaris iklan. Hanya perkataan belaka. Kalau itu kenyataan, mengapa hingga detik ini Anwar semakin murung?. Kapan secerca harapan menghmpiri tubuh ringkihnya, sementara pintu ajal semakin menganga menyambut kedatangan Sang Letnan.

1530437_10202821843810985_1686026205_n

Link terkait : Sang Letnan Itu Kini Mengemis (1)

Sumber

Sang Letnan Itu Kini Mengemis (1)

SENIN 28 Juli 2008, Simpang Potong, Kota Padang. Sebentuk tubuh tua ringkih, tampak terduduk lesuh. Tanpa alas di atas trotoar berwarna coklat. Tubuhnya hanya terbungkus kemeja buram. Kepalanya, juga tertutup kopiah hitam yang tampak sudah digerogoti usia. Kopiah itu, seolah setia menutupi rambutnya yang memutih.

Lelaki tua itu bernama Anwar berumur 94. Tanah Kuranji adalah tempat pertama yang menyambut kelahiran Anwar. Wajahnya keriput, dipenuhi bulu-bulu kasar berwarna abu-abu. Dengan gigi yang hanya tinggal dua, mulut Pak tua tampak komat-kamit, menyeringai. Sesekali, tangannya menengadah, pada setiap manusia yang berlalu. Berharap belas kasihan dan secarik uang untuk pengisi perutnya yang mulai minta diisi. Namun semua tampak acuh. Anwar tak putus asa, tangannya semakin dijulurkan.

pengemisjalanan18

Anwar tak punya rumah. Hidupnya hanya numpang di rumah warga Koto Baru, orang yang berbaik hati menampung tubuh ringkihnya. Hidup sendirian di hari tua ternyata membuat Anwar harus mengalah pada kerasnya dunia. 10 tahun sudah Anwar jadi pengemis. Hanya menengadahkan tangannya, itulah cara Anwar bertahan hidup. Maklum, usia yang hampir satu abad tak ada yang bisa dikerjakannya. Tulangnya rapuh.

Jangan tanyakan keluarga pada Anwar, sebab, itu hanya akan membuatnya menangis. “Saya tak punya keluarga. Istri saya sudah meninggal tahun 1960. Bersama bayi yang dikandungnya. Mati karena kurangnya gizi” terang Anwar. Air mata bening menjalar di pipi keriputnya.

Tak seperti pengemis lainnya, yang kebanyakan terbelakang dan tak pernah mengenyam pendidikan. Anwar lain. Tiga bahasa asing, Bahasa Jepang, Ingris dan Belanda dikuasainya. Bahkan waktu berdialog dengan POSMETRO sesekali lontaran ucapan berbahasa Belanda pun diucapkannya. Anwar fasih, lidah tuanya seakan sudah biasa melafazkan ucapan bahasa asing tersebut.

Semakin penasaran dengan “Pak Tua Simpang Potong” itu, Penulis pun mulai menjejeri langkah Anwar. Mencoba mengorek lebih dalam tentang dirinya. Siapa gerangan Anwar, sudah rapuh tapi kuasai tiga bahasa? Ada sesuatu cerita tersembunyi dari lembar hidup Pak tua dan itu membuat hasrat penasaran penulis kambuh!. Dua hari menyatroni Anwar di simpang Potong, akhirnya Penulis tahu kalau Anwar bukan pengemis sembarangan. Catatan sejarah terpampang dari celoteh Pak Tua itu.

Memang sekarang Anwar hanyalah pengemis tua yang menyedihkan. Hidupnya tak tentu arah. Tapi, jika merunut sejarah “tempo doeloe” Anwar adalah pemuda gagah yang ikut mengokang senjata melawan para penjajah. Pangkat yang disandang Anwarpun tak main-main, Letnan Satu, Komandan Kompi 3 Sumatra Bagian Selatan. Itulah daerah Anwar waktu menjabat sebagai serdadu bangsa untuk mengusir penjajah. Bukankah luar biasa “si Anwar Muda”?.

“Saya bekas tentara Sumatra Selatan. Di bawah pimpinan Bagindo Aziz Chan (Pejuang Pakistan -+) saya menjadi komandan Kompi 3 untuk berpetualang, melintasi medan demi menyerang Belanda. Tak terkira berbagai kisah pilu yang saya alami saat perang bergejolak. Tapi, untuk bangsa itu semua belum apa-apa. Hanya satu hal yang membuat kami bangga waktu pulang dari medan perang. Bangga jika membawa topi serdadu Belanda, itu jadi kebanggaan tersendiri dan membuat kita merasa terhormat,”ulas Anwar menatap kosong.

Lubang kecil bekas hantaman peluru yang menghiasi kaki kananya, menjadi bukti keikutsertaan Anwar berjuang untuk bangsa.

“Kaki ini ditembus peluru di Jalan Jakarta (sekarang bernama Simpang Presiden). Waktu itu hari masih pagi. Bangsa kita baru saja membuat perjanjian dengan Belanda (Perjanjian Linggar Jati). Tapi Aziz Chan menentang perjanjian itu. Belanda marah dan mengamuk. Menyerang membabi buta di tengah Kota. Hasilnya, ya kaki ini kena tembak waktu mau pulang ke Posko,” terang Anwar.

Bukan sekali Anwar kena tembak, bahkan, pengap dan lembabnya dinding jeruji besi pun telah dua kali Anwar rasai. “Empat tahun saya dibui. Tertangkap waktu bergerilya, dari Padang dengan tujuan Payokumbuah yang waktu itu (tahun 1946) sedang bergejolak. Tapi sial, melewati Padangpanjang saya tertangkap Belanda. Waktu itu, peluru habis sementara kaki saya masih terbalut secarik kain yang menutupi lubang timah panas. Saya digiring, kaki dirantai, diberi golongan besi, “ ungkap Anwar mencoba merunut kembali petualangan masa lalunya.

Di Panjang Panjang, Anwar diperlakukan tak senonoh oleh tentara Belanda. Hantaman bokong senjata, sayatan belati sampai minum air kencing “sang meneer” pun hampir tiap hari menyinggahi kerongkongan Anwar. Namun Sang Letnan tetap tegar. Kepalanya tetap tegak, walau kucuran darah dari pelipisnya tak pernah berhenti.

“Penjara dulu, bukan seperti sekarang. Dulu, tangan di ikat kawat berduri, kaki di ikat dengan rantai yang diberi golongan besi. Saban hari kena pukul. Bahkan, Untuk minum, mereka memberi air putih yang di campur kencing,” celoteh Anwar.

Soal Nasiolisme, Anwar bak ” Si Naga Bonar ” walau tua tapi kecintaannya pada Indonesia tak pernah surut. Terus berkobar. “Saya pernah ditanya belanda, apakah saya berjuang dan jadi tentara karena hanya sekedar kedudukan dan jabatan semata?. Saya jawab aja apa adanya, ” “Aku berjuang untuk Negara, bukan kedudukan. Bila kelak aku mati di sini. Aku bangga, karena itu demi negara,” ulas Anwar mengingat kembali peristiwa hidup yang masih segar dalam ingatannya.

Kemerdekaanpun sepenuhnya diraih Indonesia. Namun tak begitu bagi Anwar, tak ada penghargaan yang diterimanya. Pengorbanan dan perjuangannya yang dikibarkannya seorang Anwar seakan dilupakan. Anwar hilang di tengah gegap gempita eforia kemerdekaan. Ditambah kematian istri, seolah pembawa petaka. Anwar kehilangan semangat hidup. Sempat terjerumus ke dunia hitam. Anwar tobat. Tapi, hidup memang tak pernah berpihak pada Anwar. Semakin terlunta-lunta. Hingga jalan sebagai pengemispun jadi pilihan terakhirnya.

pengemisjalanan11

Tak ada tanda jasa, tak ada lencana penghormatan yang diterima Anwar dari Pemerintah. Bahkan gelar pahlawan veteranpun tak singgah pada Anwar. “Saya tak butuh apapun. Dulu, saya berjuang bukan untuk mendapatkan tanda jasa. Saya berjuang untuk negara. Tak perlu tanda jasa apalagi uang. Biarlah hidup begini, asal tak menganggu orang lain. Saya rela. Memang, angkatan saya yang ikut mengangkat senjata kebanyakan tenang dan menjalani masa tuanya dengan glamauran harta. Saya tak suka itu, bagi saya berjuang bukan untuk kemapanan masa tua, tapi untuk kemerdekaan bangsa. Biarlah orang memandang saya hina. Asal saya bisa tenang. Biarlah hanya makan sehari yang penting bangsa ini merdeka,”jawab Anwar tegar, segera berdiri, pergi minta segelas air kepada pedagang di depan Masjid AL-Mubarah, Sawahan.

Hari ini , Jumat (1/8) Penulis kembali berniat menemui Anwar. Namun, “Sang Letnan” menghilang dari Simpang Kandang. Dua onggok batu yang biasanya jadi sandaran Anwar kehilangan tuannya. Anwar raib. Padahal hari masih pagi, jarum jam baru berada di angka sembilan. Kemana Anwar?.

Kecewa dengan hilangnya Anwar, penulis mencoba menelusuri RTH (Ruang Terbuka Hijau) Imam Bonjol. Tempat biasanya Anwar tidur ketika penat datang mendera tubuh rentanya. Benar juga, tubuh renta Anwar tergolek diantara rumpun hijau Imam Bonjol. Namun ada yang lain dari penampilan Anwar hari ini. Bajunya tak hanya buram seperti kemarin, tapi lebih parah, kemeja biru yang dipakainya sudah tak berbuah. Mempertontonkan tulang-tulangnya yang kelihatan menonjol dibalut kulit keriput. Perutnya kempis. Sandalnyapun berlainan warna, hijau dan biru berbalut seutas tali plastik warna putih.

Mencoba mendekat, ternyata Anwar tertidur. Dadanya terlihat turun naik beraturan, membusung. Tulang dadanya semakin menonjol. Perlahan mata Anwar terbuka. Sesaat pandangannya kosong. “Tadi Saya pingsan nak, perut lapar. Padahal saya belum dapat apa-apa. Saya tak kuat berdiri. Untunglah ada seorang tukang becak yang kasihan pada saya. Membelikan saya sebungkus nasi telur. Tapi badan ini masih lemas,” terang Anwar lesu.

Seperti sebelumnya, Walaupun tubuh rentanya masih lemah, Anwar tetap bercerita panjang lebar tentang kerasnya hidup yang dilewatinya selama 10 tahun hidup dijalanan. “Saya hanya kuat berdiri di simpang ini sampai pukul 11 siang. Tubuh ini sudah terlalu tua untuk lama-lama berdiri. Matahari terlalu garang. Berlainan benar waktu muda dulu, beratnya medan tempur selalu bisa saya taklukkan. Ah, sampai kapan tubuh ini bisa bertahan menunggu kepingan logam. Saya tak tahu,” Anwar menerawang.

Perlahan, rentetan-rentetan kehidupan Anwar mulai terkuak. Celoteh panjang Anwar menguak tabir tersebut. Rupanya, Anwar juga pernah menjadi awak kapal barang berbendera Jerman. Lulus di Sekolah Sembilan (Belakang Tangsi) tahun 1930. Anwar mulai berpetualang. Dari tahun 1932 sampai 1939 Anwar berlayar. Dalam kurun waktu itu tak sedikit keragaman budaya yang dilihat Pak Tua.

“Saya lulus sekolah Belakang Tangsi 1930. Selanjutnya berlayar tujuh tahun mengelilingi Asia sampai ke Australia. Kemudian pulang untuk berjuang. Saya tak mau bersenang-senang di atas Kapal, sementara Bangsa kita sedang berjuang merebut kemerdekaan. Naluri kebangsaanlah yang memanggil jiwa ini untuk ikut berjuang,” terang Anwar.

Anwar berpetualang, menyelusuri setiap pelosok Tanah Indonesia untuk berjuang mengusir Sang Meneer dari Indonesia. Awalnya hanya bermodalkan bambu runcing. Anwar akhirnya mendapatkan senjata rampasan dari tentara Belanda. Senjata ditangan, Anwar muda mulai merengsek. Memuntahkan pelurunya di barisan terdepan pejuang Indonesia.

“Pada awalnya tak ada senjata. Kami hanya bermodalkan bambu. Namun, dari tangan belanda yang berhasil kami bunuh, kami nisa memperoleh senjata. Dengan itulah kami menyerbu musuh. Mengambil topinya sebagai “cinderamata” dari medan tempur,”;lanjut Anwar.

Hingga Akhirnya Indonesia merdeka. Belanda pergi dari tanah Bangsa. Tentu, kemerdekaan itu adalah hasil perjuangan pahlawan kita. Termasuk Si Anwar yang berjuang di dua episode perang tersebut. Anwar bertarung dengan gagah. Namun apa yang didapatkan sang Letnan?. Hingga detik ini Anwar masih berstatus pahlawan bangsa yang terabaikan. Pahlawan yang menyongsong hari tuanya dengan melakoni profesi sebagai pengemis. Indonesia merdeka, namun Anwar masih tetap “terjajah oleh hidup”!!.

Memang, dulu Anwar pernah diberi secarik kertas bertuliskan penganugrahan sebagai pejuang oleh Pemerintah. Namun karena jalan hidupnya yang sering berpindah tempat “surat wasiat” itu raib entah kemana. Padahal, surat itu adalah sebagai landasan Anwar untuk menerima haknya sebagai Veteran.”

“Memang dulu saya diberi surat oleh Pemerintah. Kalau tak salahnya surat Bintang Grelya. Tapi surat itu sudah hilang. Kata orang surat itu adalah syarat untuk menerima tunjangan dari pemerintah. Tpi tak apalah, saya juga tak perlu itu. Kan sudah saya katakan kalau saya berjuang bukan untuk uang apalagi jabatan. Walaupun meminta-minta tapi saya tak menyusahkan orang lain. Saya sudah pernah hidup senang di atas kapal. Sekarang saatnya susah. Hidup seperti roda nak. Kadang di bawah. Sekali lagi, saya berjuang untuk Indonesia. Melihat Merah Putih berkibar tanpa gangguan itu adalah suatu kebanggaan tersendiri. Tak ada yang membuat saya bahagia kecuali melihat kibaran bendera Indonesia,” celoteh Anwar.

Letnan Kolonel Anwar, pahlawan bangsa kini tak ubah hanyalah tubuh tua dekil, tak ada yang peduli. Anwar semakin pupus di tengah sibuknya Kota Bengkuang. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para Pahlawannya” kata Bung Karno. Namun itu hanyalah barisan kata, bukan kenyataan. Tak percaya? tanyakan itu semua pada Anwar. Pahlawan kita yang hinggga saat ini masih menengadahkan tangan untuk bertahan hidup.Memang Anwar tak minta apa-apa dari perjuangannya. Tapi, apakah kita tega melihat orang yang melepaskan kita dari jeratan penjajah harus terlunta. Mengemis untuk hidup. Tanah kemerdekaan yang kita pijak adalah hasil dari muntahan peluru Pahlawan mengusir penjajah. Namun kenapa kita menutup mata untuk itu. Apakah rasa penghormatan kepada para Pahlawan sudah pudar dihantam terjangan zaman. Sekali lagi, jangan lupakan Anwar yang telah gigih perjuangkan bangsa. Pemerintah? mungkin lupa juga akan nasib Sang Kapten.

Link terkait : Sang Letnan Itu Kini Mengemis (2)

Sumber