Darah Pahlawan

Senin, 16 Juni 2014, 17:00 WIB

Letnan Jenderal Jamin Gintings layak dijadikan pahlawan nasional. Keputusannya menyerang sejumlah pos militer Belanda pada agresi militer kedua, mengangkat marwah Republik di mata internasional. Streteginya menyerang Belanda di Tanah Karo, membuat Belanda tidak bisa masuk ke wilayah Aceh.

Juni 1949. Seorang lelaki ber kulit sawo matang dengan pos tur tinggi sekitar 175 cm, me natap jauh dari atas pegu nung an di Tanah Karo. Mengenakan seragam militer berwarna krem, pakaian itu terlihat agak kebesaran dari ukuran tubuhnya yang ramping. Di kerah bajunya, ter semat pangkat mayor tentara. Lelaki serdadu berusia 28 tahun itu adalah Mayor Jamin Ginting Suka.

Ia kemudian lebih senang menying kat namanya dengan ejaan: Jamin Gin tings. Dia adalah Komandan Resimen IV atau dikenal juga dengan sebutan Re simen Rimba Raya (R3) yang merupakan bagian dari Divisi X Tentara Republik Indonesia (TRI). Setahun sebelumnya, ia adalah seorang perwira menengah dengan pangkat letnan kolonel.

Namun pada 1 Oktober 1948, Presi den Sukarno membuat keputusan reor ganisasi dan rasionalisasi TRI. Seluruh perwira diturunkan pangkatnya satu tingkat. Maka, Letkol Jamin Gintings pun menjadi Mayor Jamin Gintings. “Saya tidak peduli dengan pangkat dan jabatan. Yang paling penting, saya harus mengusir penjajah dari Bumi Indo nesia,” ungkap Jamin saat menghadapi pe nurunan pangkatnya.

Pak Kores, julukan nama yang diberikan anak buahnya, memang dike nal sebagai komandan lapangan. Kata kores, merupakan akronim dari koman dan resimen. (Pada era saat ini disebut Danmen). Sebagai komandan resimen, Jamin Gintings terkejut ketika menda patkan kabar pada 19 Desember 1948.

Pasukan militer Belanda telah me nyerang dan menduduki ibukota Re publik di Yogyakarta. Bukan itu saja, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta bersama sejumlah petinggi Republik telah ditawan tentara Belanda.

“Para prajurit, bintara dan perwira tentara Republik. Melalui siaran radio dari Yogyakarta, ternyata Belanda telah mengingkari janjinya dengan mendu duki Yogyakarta. Presiden dan Wapres kita, telah ditawan Belanda,” kata Jamin dalam pidatonya di halaman Markas Resimen IV di Macan Kumbang, pada 25 Desember 1948.

“Kita juga dapat kabar bahwa Sektor III di Dairi di bawah pimpinan Mayor Selamat Ginting sudah diserang Belanda. Saya belum dapat perintah dari atasan langsung di Divisi X. Tetapi demi keselamatan Negara Republik Indonesia, saya bertanggung jawab untuk mulai menyerang Belanda,” ujar Jamin dengan bersemangat.

Selaku Komandan Resimen IV, ia memerintahkan untuk menyerang dae rah-daerah yang diduduki Belanda, se belum Belanda menyerang lebih da hulu. “Pertama, kita duduki Marding ding dan Lau Baleng!” teriak Jamin dengan nada berapi-api, seperti tertulis dalam buku ‘Bukit Kadir’ oleh Jamin Gintings (1921- 1974), editor Payung Bangun, penerbit Elpres, cetakan kedua, tahun 2009.

Maka, berangkatlah anggota pasuk an Batalyon XIV dari asramanya di Ku ta cane ke Lau Baleng dengan berjalan ka ki melewati Lawe Sigala-gala, Lawe Dua, Lawe Perbunga, dan terus hingga ke Kampung Kalimantan. Pertempuran he bat sudah terjadi pada 27 Desember 1948.

Begitu juga pasukan dari Batalyon XV berangkat menuju Mardingding pa da 28 Desember 1948. Di bukit itulah me reka menyerang pos militer Belanda yang berada di bawahnya.

Namun de ngan bantuan panser dan mortir, pa suk an Belanda menggempur lereng bukit. Tujuh anak buah Jamin Gintings, gugur dalam pertempuran sengit itu. Salah satunya adalah Letnan Kadir Saragih. Bukit itu kemudian dinamakan sebagai Bukit Kadir.

Namun, Belanda juga kehilangan delapan prajuritnya dan dua orang yang berhasil ditawan, yakni Van Werven dan De Ruyter. Dalam buku Hans Post, Bed wongen Banjir, Medan, halaman 180-181, dalam terjemahannya berbunyi: Belanda mengakui Resimen Infanteri 5-10 mendapatkan serangan dari gerom bolan yang mengadakan infiltrasi di sebelah barat laut Kabanjahe. Bahkan sampai jarak 40 meter dari pos militer Belanda. Kampung Juhar, dekat Tiga binanga diduduki kaum ekstrimis.

Setelah pertempuran Mardingding, ia pun mulai mengubah pola gerilya. Jika pada masa agresi militer pertama mene rapkan pola gerakan mundur teratur sambil bertempur, maka pada agresi kedua, pasukannya melancarkan gerakan maju teratur. Ia memompa semangat pasukannya sambil menyanyi kan lagulagu perjuangan asal Tanah Karo.

Sergap konvoi
Sejak Januari 1949, dimulai taktik gerilya. Diawali dengan serangan pada 20 Januari 1949 menyergap iring-iringan konvoi pasukan Belanda di Tigakicat, dekat kampung Berastepu. Kemudian menyergap konvoi Belanda di jalan menuju kampung Kutabuluh Berteng. Satu panser dan truk militer Belanda rusak, enam orang serdadu Belanda tewas, dan beberapa lainnya mengalami luka parah akibat tembakan pasukan Jamin Gintings.

Sampai April 1949. Tercatat, terjadi pertempuran di Lau Solu dan Lau Mulgap yang menewaskan 13 personil militer Belanda. Tidak kurang dari 17 kali serangan terhadap konvoi pasukan Belanda dari Medan menuju Brastagi. “Serangan-serangan pasukan Jamin Gintings berpengaruh terhadap jalannya perundingan Indonesia dan Belanda, sehingga meningkatkan posisi tawar Indonesia,” kata Suprayitno, doktor sejarah dari Universitas Sumatra Utara (USU) di Medan, Senin (9/6/2014).

Begitulah, sejak Agresi Militer I dan II, pasukan Resimen IV yang dipimpin Jamin Gintings terus-menerus terlibat pertempuran dengan Belanda dari Medan Area, Tanah Karo, Tanah Alas, sampai Lang kat. Pasukannya telah ber operasi ra tusan kilometer jauhnya dari pang kal an pasukan untuk bertempur di Mar ding ding, Lau Baleng, Lau Mulgap, Buluh Pan cur, Tiga Bi nanga, Kineppen, Kinang kong, Sem ba he, Sibolangit, Kutu Buluh, Kuta Buluh Berteng, Barus Jahe, Tanjung Barus, Kuta Tengah, Lau Solu, Lau Ka pur, dan lain-lain.

Bagi Belanda, Jalan Lau Baleng dan Mardingding disebut sebagai ‘doden weg’ yang artinya jalan maut. Mereka menya takan sebagai pertempuran tujuh bulan yang berat.

Maut menjadi tamu di Tanah Karo. Sehingga mempengaruhi psikologi tentara Belanda akibat se rangan dadak an serta ranjau darat yang ditanam pasukan Resimen IV.

Dalam periode perang kemerdekaan itulah pasukan Resimen IV bergerilya di Tanah Alas, Tanah Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, dan Serdang Hulu. Gerakan pasukan Jamin Gintings itu membuk tikan kemampuannya menjaga keutuhan dan eksistensi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Serangan militer pasukannya ber hasil menyelamatkan marwah Republik Indonesia di mata dunia internasional. Serangan militer pasukannya, mampu menghalau gerak maju pasukan Belanda ke Tanah Alas,” ujar Usman Pelly, guru besar antropologo sosial budaya dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Selasa (10/6/2014).

Berdasarkan Perjanjian Renville, Januari 1948, Tanah Karo sampai per batasan Tanah Alas (Kutacane) dinyata kan sebagai daerah kekuasaan pasukan Belanda. Sehingga, markas Resimen IV Tanah Karo yang dipimpin Jamin Gintings harus hijrah ke Kutacane.

Akibatnya, daerah Aceh tengah ter bu ka untuk diserang langsung oleh ten tara Belanda. Jamin pun meng ubah strategi politik dan menjadikan Tanah Karo tetap sebagai daerah perta hanan terdepan bagi Aceh. Caranya, dengan menyerang langsung benteng pertahanan Belanda dan menciptakan perang gerilya.

Pasukan Belanda akhirnya berputarputar antara Brastagi-Mardingding-Lau Belang-Kaban Jahe dalam menghadapi serangan strategi gerilya Jamin Gintings dan mengalami kerugian sangat besar.

Sehingga Belanda tidak mampu meng gerakkan pasukannya sampai menjamah Aceh Tengah (Kutacane). “Dengan stra tegi tersebut, Aceh dapat dimanfaatkan sebagai daerah modal Republik Indo nesia,” ujar Usman Pelly.

Akibatnya, selama sekitar delapan bulan, sejak Januari hingga Agustus 1949, Belanda tertahan di Tanah Karo dan terpaksa melupakan serangan ke Ta nah Alas (Kutacane) sampai penyerah an kedaulatan pada 1950.

Strategi dan perjuangan Jamin Gintings, menurut Suprayitno, membuk tikan kepada dunia bahwa pemerintah Republik Indonesia tetap eksis walaupun Yogyakarta dan Pematang Siantar sebagai pusat pemerintahan RI di Jawa dan Sumatra diduduki Belanda. Sekali pun Sukarno dan Hatta pun ditawan Belanda.

Upaya Belanda menghapus RI dan Tentara Republik Indonesia tidak pernah berhasil sampai akhirnya permusuhan Indonesia dan Belanda pun diselesaikan melalui jalur perundingan. Dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 23 Agustus 1949, Provinsi Aceh secara utuh dapat didaftarkan sebagai salah satu negara bagian Republik Indonesia Serikat (RIS).

Putra kedua dari Lantak Ginting Su ka itu lahir di Desa Suka, Tanah Karo, 12 Januari 1921. Ia berhasil menye la mat kan Aceh sebagai daerah modal, sekali gus menyelamatkan martabat Re publik Indonesia di dunia internasional. “Di sinilah, antara lain letak kepah la wanan Jamin Gintings secara nasional. Iya layak dinobatkan sebagai pahlawan na sional,” cetus sejarawan Suprayitno.

oleh : Slamet Ginting

Iklan

Tugu Untuk Mengingat PRRI di Nagari Muaro Paneh

Dikarang oleh : H. si Am Dt. Soda

Pendahuluan

Untuk melengkapi bukti sejarah
Syair ditulis dengan Bismillah
Membuat catatan bermacam kisah
Sekitar perang berdarah darah

Ada petuah orang Yunani
Sering dikutip para ahli
Ini merupakan sebagai motivasi
Ketika menuliskan syair ini

Historia vero testis temporum = sejarah adalah saksi zaman
Lux veritatis = sinar kebenaran
Vita memoriae = kenangan hidup
Magistra vitae = guru kehidupan
Nuntia vetustatis = pesan dari masa silam

Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM)

Mohon dimaafkan dengan ikhlas
Seandainya cerita kurang jelas
Mungkin kalimat terlalu keras
Atau kisah tidak tuntas

Jangan jadikan bahan olok-olok
Kalau data tidak cocok
Lakukan survey, pergilah tengok
Itulah sikap yang lebih elok

Walau isinya merupakan fakta
Membaca syair jangan tergesa
Karena menyangkut masalah rasa
Setiap orang berbeda-beda

Penulis bukan seorang Doktor
Tidak pula berprofesi motivator
Hanyalah pensiunan pegawai kantor
Orang awam, bisa teledor

Ibarat cenderamata Oleh-oleh
Kalau berkunjung ke Muaro Paneh
Ada tugu bentuknya aneh
Bukti sejarah perlu ditoleh

Orang membaca masa lalu
Dari tonggak disebut Tugu
Bentuknya mirip seperti peluru
Karena dibuat penguasa serdadu

Melihat tugu tegak berdiri
Di simpang jalan menuju Kinari
Pesan penting memberi inspirasi
Menulis syair, kaba PRRI

Setelah nagari kalah ditaklukkan
Di setiap tempat, kota kecamatan
Dibangun tugu sebagai peringatan
Menandai peristiwa tanggal kejadian

Jurnalis Labuah Basa

Narasumber bergelar Labuah Basa
Manusia langka nyawa tersisa
Di tubuh tersimpan peluru senjata
Difoto ronsen tampak tiga

Ketika luka telah sembuh
Peluru tertanam di dalam tubuh
Tiada sakit bila disentuh
Terlihat peluru masih utuh

Di Sikapuah daerah Palangki
Bukit Putuih berhutan sepi
Basis penting pejuang PRRI
Di situ Jurnalis hampir mati

Ketika Jurnalis seorang diri
Menjemput makanan untuk konsumsi
Tentara Pusat telah menanti
Dia ditembak berkali kali

Jurnalis terkejut tak bisa menghindar
Lalu berlari menyusup belukar
Sambil mengucap kalimat istigfar
Astagfirullah, Allohu akbar

Walau kepala sedikit pusing
Jurnalis berlari ke arah tebing
Ke tepi bukit agak miring
Kemudian melompat berguling-guling

Musuh melacak ke dalam hutan
Mengikuti tetes darah berceceran
Tapi takdir pertolongan Tuhan
Darah dibersihkan oleh hujan

Ketika dicari tentara pusat
Jurnalis sembunyi, tidak terlihat
Hutan rimba sangat lebat
Telah terbukti sangat bermanfaat

Tanda bukti orang beriman
Tidak menduakan kehendak Tuhan
Walaupun berat memikul beban
Anggaplah itu datang Cobaan

Sebelum ajal, berpantang mati
Jurnalis selamat sampai kini
Hidup di kampung sebagai petani
Menjadi sumber kisah PRRI

Basa bernama Engku Jurnalis
Mantan Kokam, anti Komunis
Dunsanak senagari Irlan Idris
Orang Kinari kawan penulis

Waktu negara dalam bahaya
Soekarno berbuat semena mena
Jurnalis berusia masih remaja
Dia berniat masuk tentara

Pergi mendaftar anggota DBI
Pasukan khusus bagian Infantri
Mampu menembak sambil berlari
Latihannya berat petang dan pagi

Sebagai wakil komandan Regu
Jurnalis ingat tanpa ragu
Nomor Register tercatat di buku
0181

Komandan regu bernama Edi Kapoyos
Orang Minahasa bersifat polos
Di Ladang Padi mendirikan Pos
Guna menghambat musuh menerobos

Penjagaan di Ladang belum siap
Menghadapi musuh bersenjata lengkap
Pertahanan jatuh dalam sekejap
Kapoyos terkepung lalu ditangkap

Waktu ditangkap di Ladang Padi
Kopoyos diikat sambil diinterogasi
Menjadi sumber banyak informasi
Tentang anggota pasukan DBI

Karena komandan telah hilang
Jurnalis mundur ke arah Talang
Untuk terus ikut berperang
Melawan Pusat ikhlas berjuang

Akhir 59 di Solok Kinari
Kapoyos disertakan dalam operasi
Jurnalis ditanyakan kemana pergi
Penduduk menjawab sesuka hati

Serangan Udara di Kinari

Kisah di ceritakan Angku Warneri
Serangan udara di Nagari Kinari
Ketika dia seorang diri
Duduk di Lapau menunggu pembeli

Masih langka tinta Dawat
Tanggal peristiwa tidak dicatat
Hanya Warneri selalu ingat
Karena dirinya telah selamat

Angku Murad Dubalang Sati
Ayah kandung saudara Warneri
Termasuk aktivis partai Masyumi
Pendukung setia perjuangan PRRI

Karena mendukung kelompok perjuangan
Tokoh Masyumi masuk catatan
Menjadi target perlu dihancurkan
Dengan Bom atau tembakan

Warneri berusia delapan tahun
Karena mengantuk baru bangun
Menjaga warung sambil melamun
Kampung ditembak tanpa ampun

Walau tidak asrama tentara
Bukan pula tanpa sengaja
Telah digambar di dalam peta
Menjadi target serangan udara

Ketika peluru mengenai drum minyak
Warneri terkejut, lalu berteriak
Memanggil Ibu serta Bapak
Begitulah sifat anak-anak

Bahan bakar minyak tanah
Harga sekaleng sepuluh Rupiah
Kena peluru menjadi tumpah
Lantai lapau semuanya basah

Sesudah minyak tumpah ke lantai
Warneri sigap tiada lalai
Dia melompat ke luar Kedai
Menatap langit, mata mengintai

Tampak di langit ada pesawat
Terbang rendah sangat cepat
Begitu jelas mudah terlihat
Angkatan Udara tentara Pusat

Sumber barang selundupan dari kota Solok

Pasar gelap tempat jual beli
Ada di nagari Sungai Lasi
Lima belas kilo dari Kinari
Melewati rimba hutan yang sepi

Nagari Sungai Lasi kalau disebut
800 meter di atas laut
Ketika pagi sering berkabut
Kalau malam tidur berselimut

Dari Kinari ke Sungai Lasi
Bukit Tandang dan Bukit Bai
Banyak bukit yang harus didaki
Lima jam berjalan kaki

Minyak tanah kebutuhan pokok
Pecah belah garpu dan sendok
Termasuk Citi merek rokok
Barang selundupan dari Solok

Inilah pekerjaan yang tidak ringan
Sambil menjunjung beratnya beban
Berjalan kaki pelan-pelan
Bukit dan Lurah harus ditaklukkan

Besar resiko orang Dagang
Nyawa di badan bisa melayang
Saat membawa beratnya barang
Bisa terjatuh masuk jurang

Asrama tentara Permesta di tanah orang Koto

Kebaikan hati orang Kinari
Rumah yang kosong boleh ditempati
Tempatnya berada kampung Ponti
Agak ke pinggir dari nagari

Walaupun jauh kampung halaman
Datang ke Ranah membantu perjuangan
Tentara Permesta lalu dikirimkan
Guna melatih anggota pasukan

Banyak tentara dari Sulawesi
Ada yang membawa anak isteri
Mereka dianggap keluarga sendiri
Termasuk Kapten Fam Polii

Letak asrama di tanah Koto
Dari kampung seperempat kilo
Lokasi sepi tiada toko
Hanya Lapau tempat berdomino

Kelak terjadi di lain waktu
Di tengah tangis tersedu-sedu
Rumah di Koto dijadikan abu
Saat Apri datang menyerbu

Karena OPR marah besar
Ada perempuan yang ditampar
Rumah Nurdin segera dibakar
Dalam sekejap api membesar

Inilah peristiwa sangat tragis
Agar tak lupa perlu ditulis
Lima rumah dibakar habis
Oleh oknum simpatisan Komunis

Dt. Tan Bandaro

Narasumber lainnya Dt. Tan Bandaro
Mantan prajurit bekas Heiho
Pangulu di Cupak dekat Salayo
Wajahnya jelas tampak di foto

Datuk Tan Bandaro bernama Agussamin
Tokoh masyarakat, seorang pemimpin
Biasa hidup penuh disiplin
Ceritanya benar, bisa dijamin

Bekas Heiho tentara Jepang
Setelah proklamasi ikut berjuang
Saat Bergolak ikut berperang
Sebagai prajurit batalyon Lembang

Batalyon Lembang, tentara PRRI
Anggotanya banyak lima Kompi
Menjaga kampung setiap nagari
Termasuk Parambahan serta Kinari

Buya Okok atau Kapten Nurdin Usman
Memilih markas di sekitar Parambahan
Di sana tersedia bahan makanan
Untuk logistik konsumsi pasukan

Nagari Parambahan di Kabupaten Solok
Jalannya kecil berbelok-belok
Pemandangan alam sangat elok
Di sana markas Buya Okok

Bergotong-royong membuat Hambatan, pohon-pohon ditebang

Di Parambahan terjadi pertempuran hebat
Antara Pejuang dengan tentara Pusat
Orang tua tua pasti ingat
Peristiwa berlangsung hari Jum’at

Pasukan Badai pimpinan Bachtiar
Anggotanya banyak Tentara Pelajar
Punya tanggung jawab sangat besar
Diberi tugas tiada menghindar

Hari Jum’at ada penyergapan
Di tepi jalan menuju Parambahan
Tentara Soekarno jadi ketakutan
Mereka mundur meninggalkan korban

Pertempuran di Parambahan berlangsung sengit
Menimbulkan korban tidak sedikit
Pasukan Badai di lereng bukit
Musuh berlindung di parit – parit


Jembatan di atas Batang Air Alim, di jalan menuju nagari Parambahan
Anak sungai ini bermuara ke Batang Lembang

Karena Allah telah mengatur
Di pihak pejuang seorang gugur
Namanya Burhanuddin alias Uda Bur
Jenazah disholatkan lalu dikubur

Kalau tiada lupa sholat
Orang yang tewas di hari Jum-at
Ketika berjuang membela rakyat
Semoga nabi memberi safaat

Ada berita yang penulis dengar
Entah salah, entah benar
Kabar burung banyak beredar
Batang Lembang jadi tercemar

Airnya busuk tak bisa dipakai
Banyak mayat hanyut di sungai
Kondisinya rusak, perut terburai
Akibat tembakan pasukan Badai

Saat tentara menyerbu Parambahan
Orang Muaro Paneh tidak memperhatikan
Jalan melingkar Apri lakukan
Mereka lewat melalui Panyakalan

Kalau melewati nagari Kinari
Jalan utama, tak lagi berfungsi
Parit menganga 300 senti
Kenderaan militer terpaksa berhenti

Karena korban banyak yang tewas
Markas Komando menjadi cemas
Ingin segera menuntut balas
Kompi Badai harus dilibas

Inilah petuah menurut Adat
Celaka bersilang, tuah sepakat
Penduduk bekerja dengan semangat
Membuat parit cepat-cepat

Dalam keadaan ngeri mencekam
Hari gelap sangat kelam
Bergotong royong diwaktu malam
Menggali parit berjam-jam

Walau kehidupan sedang susah
Karena sepakat menjaga Tuah
Masyarakat bekerja tanpa diupah
Membantu perjuangan tiada lelah

Bukti masyarakat ikut berjuang
Dengan ikhlas ikut menyumbang
Batang pohon telah ditebang
Tanpa diminta ganti uang

Karena mendapat hambatan besar
Manuver musuh tak lagi lancar
Di jalan utama banyak tersebar
Pohon rebah dan batu-batu besar

Pembakaran rumah di Parambahan pada hari Sabtu.


Hari Sabtu, musuh kembali
Tiada ditemukan penduduk laki-laki
Ope-er dan tentara marah sekali
Mereka berteriak memaki maki

Berkeliling kampung berteriak-teriak
Rakyat dilarang membantu pemberontak
Siapa melawan akan ditembak
Tidak peduli Niniak-Mamak

Rumah Gadang saling berjejeran
Di tepi jalan berhadap-hadapan
Di kaki bukit nagari Parambahan
Rancak dilihat dari kejauhan

Ketika rumah akan dibakar
Para penghuni disuruh keluar
Musuh membentak secara kasar
Yang membantah langsung ditampar

Ada nenek andung-andung
Menjatuhkan diri bergulung-bergulung
Lalu menangis meraung-raung
Melihat musibah terjadi di kampung

Perlu diketahui anak cucu
Nagari Parambahan menjadi abu
Tiada tersisa satu pintu
Pembakaran terjadi di hari Sabtu

Belum didata secara benar
300 bangunan perhitungan kasar
Rumah Surau serta Langgar
Habis musnah karena dibakar

Sudah ketetapan ilahi Robbi
Hanya mesjid tetap berdiri
Bisa selamat sampai kini
Menjaga iman anak nagari

Sesudah musuh kembali ke Solok
Orang berunding dalam kelompok
Tentang bantuan yang mungkin cocok
Untuk dibawa saat menengok

Ketika melawan perbuatan batil
Walaupun tidak menyandang bedil
Semua orang merasa terpanggil
Ikut pula Muchlis kecil

Muchlis Hamid dan kawan kawan
Pergi menjenguk ke nagari Parambahan
Sambil membawa sedikit bantuan
Nasi bungkus serta pakaian

Tampak hewan banyak yang mati
Ada Kerbau, Kambing dan Sapi
Hangus terpanggang nyala api
Karena dikebat tak bisa lari

Beginilah sifat anak-anak
Kalau berkawan ajak-mengajak
Perjalanan lanjut ke Batu Karak
Lokasi ijok Bapak-bapak

Karena Parambahan menjadi abu
Batu Karak tempat yang baru
Pengungsi datang satu persatu
Disertai Ulama dengan pangulu

Di jalan sepi sangat lengang
Tiada banyak terlihat orang
Tampak satu-dua para pedagang
Membawa kebutuhan bermacam barang

Di tepi jalan menuju nagari Parambahan.

Pemandangan umum yang jelas tampak
Sarana jalan telah dirusak
Konvoi musuh sering terjebak
Menjadi objek sasaran tembak

Di Batu Karak Muchlis bertanya
Tentang Engku Mudo Yahya
Guru mencakup sebagai Ulama
Biasa dipanggil sebagai Buya

Syukur alhamdullillah Buya selamat
Dalam kondisi sehat walafiat
Hanya sedikit tampak pucat
Kurang tidur, bekerja berat

Di tempat umum Buya berceramah
Mengenai kondisi, keadaan pemerintah
Presiden Soekarno dipihak yang salah
Berkonco erat, dengan Kaum Merah

Dinding rumah diberi Kode serta pesan indoktrinasi

Pasti diketahui orang Jakarta
Dinding rumah ditulis B III
Kalau mau tahu maksud artinya
Kasih tahu nggak yaaaaa !!

Akibat B III, kampung dibakar
Hak azasi telah dilanggar
Kini disebut perbuatan makar
Itulah dosa yang sangat besar

Untuk kecamatan Bukit Sundi
Tulisan B III lalu diganti
Dengan lambang tanda kali
Warnanya hitam, jelas sekali

Rumah diberi tanda silang
Bisa dilihat semua orang
Bukti penghuninya ikut berperang
Menyandang bedil atau senapang

Perintah Soekarno tak habis-habis
Membuat semboyan bermacam jenis
Dinding rumah dianggap strategis
Banyak indoktrinasi harus ditulis

Rumah yang bagus atau jelek
Berdinding papan atau gedhek
Milik kakek atau nenek
Harus ditulis Manipol Usdek

Cerita dialihkan ke nagari Cupak
Penuturan Agussalim yang disimak
Rumah dibakar juga banyak
Hanya terjadi tidak serentak

Di jorong Sungai Rotan 20
Di jorong Balai Pandan 5
Di Jorong Panjalai 7

Di dalam adat budaya kita
Rumah Gadang mengumpulkan keluarga
Hangus terbakar, tiada tersisa
Kalau dijumlah 32

Menurut falsafah tahu di nan Empat
Sebagai kebiasaan Adat yang Teradat
Rumah Gadang adalah Pusat
Tegak berdiri, harus terlihat

Engku Sawi ditembak, Orang Muaro Paneh merasa Kehilangan

Setiap Apri melakukan patroli
Sawi diincar dicari-cari
Ketika bertemu di daerah Kinari
Sawi ditembak, dibunuh mati

Nama lengkapnya Sawi Renyu
Sopan santunnya patut ditiru
Takutnya hanya kepada ibu
Sangat memuliakan para tamu

Punya anak bernama Emi
Gadis kecil lucu sekali
Sudah lancar kalau mengaji
Dilatih langsung oleh Umi

Orang kampung semua kenal
Setiap waktu Sawi beramal
Mencari uang secara halal
Dengan sedikit persiapan modal

Dahulu Pasar, kini Market
Sawi berjualan tak pakai target
Tiada pula istilah Omzet
Apalagi bisnis memakai internet

Tak semua orang bisa mampu
Membuat sandal dan sepatu
Mengolah sendiri bahan baku
Dari jangat kulit Lembu

Banyak kerabat saudara sendiri
Terkadang berutang, dibayar nanti
Menunggu panen, hasil Padi
Atau dibayar, sekarung Ubi

Pedoman hidup orang Muaro Panas
Dalam melaksanakan setiap aktivitas
Hablumminallah Wahamblumminannas
Sawi memahaminya secara luas

Tiba waktunya masa perang
Inilah petuah adat Minang
Tuah sakato, celaka bersilang
Sawi berperan di garis belakang

Mencari simpati dengan halus
Ketika berjuang dengan tulus
Memakai sarana orkes gambus
Iramanya terdengar sangat bagus

Begini lirik lagu si Sawi
Anti Indonesia billadi
Anti’ul wanul faqoma

Kalau ditafsirkan kira kira begini
Indonesia negara kami
Di sanalah aku tegak berdiri

Menurut pesan orang tua-tua
Malang terjadi dalam seketika
Waktu Sawi mengayuh sepeda
Terjadi sesuatu tidak dikira

Niat dihati menemui kerabat
Di Kinari yang cukup dekat
Ada patroli tentara Pusat
Sawi berhenti karena dicegat

Dia bernasib sangat malang
Disuruh berjongkok tangan kebelakang
Lalu ditodong pakai senapang
Bedil meletus, nyawa melayang

Ketika korban ditembak mati
Dalam jarak dekat sekali
Peluru menembus pembuluh nadi
Darah mengalir tak mau henti

Jenazah dibawa ke rumah panjang
Di Muaro Paneh di Pasar Usang
Mantari Udin segera datang
Melihat kepala telah berlubang

Kepala berlubang mengeluarkan darah
Terus mengalir tak bisa dicegah
Karena arteri banyak yang pecah
Disumbat kapas langsung basah

Kisah diceritakan kepada penulis
Oleh dunsanak bernama Muchlis
Melihat sendiri peristiwa sadis
Perbuatan oknum simpatisan Komunis

Bermacam suku ikut PRRI

Piagam PRRI anti Komunis
Bukan gerakan bersifat separatis
Diikuti suku berbagai jenis
Ada Minahasa, Ambon serta Bugis

Orang Ambon bernama Kapten Petrus
Di Sibakua bernasib bagus
Ada perempuan bersedia mengurus
Dijadikan suami dengan tulus

Kapten Polii orang Minahasa
Divisi Banteng bagian Personalia
Mundur ke Kinari dapat celaka
Polii ditangkap lalu ditanya

Ketika Apri melakukan operasi
Dari Solok menuju Kinari
Diwaktu subuh pagi sekali
Polii terkepung tak bisa lari

Dia ditangkap jadi tawanan
Dipaksa menjawab berbagai pertanyaan
Tentang jumlah besar pasukan
Polii bersumpah, pantang membocorkan

Sebagai komadan perwira sejati
Punya kehormatan harga diri
Meskipun diintrogasi berhari hari
Tetap bungkam berdiam diri

Jauh dari Minahasa tanah leluhur
Walau tidak sdang bertempur
Di tepi pantai Teluk Bayur
Polii ditembak sampai gugur

Wali Perang

Waktu terjadi perang saudara
Nagari Kinari pimpinannya dua
Angku Samsudin wali pertama
Inyiak Sarai wali yang kedua

Wali Perang bernama Samsudin
Dipilih masyarakat sebagai pemimpin
Melaksanakan amanah penuh disiplin
Karena berjuang dengan yakin

Ketika perang hujat-menghujat
Pekerjaan Samsudin sangat berat
Lokasi musuh sangat dekat
Menjadi musibah setiap saat

Memimpin masyarakat yang sedang susah
Terkadang muncul bermacam fitnah
Bisa berakibat dapat musibah
Nyawa di badan bisa berpisah

Dapur Umum

Hasil musyawarah dengan kesepakatan
Tiada seorang yang berkeberatan
Setiap rumah menyumbang makanan
Waktunya diatur secara giliran

Bukan pengemis peminta-minta
Tegak menunggu di depan tangga
Para perempuan tenaga sukarela
Mereka bertugas lillahi ta-ala

Ibarat bunga kembang sekuntum
Para perempuan di Dapur Umum
Ikhlas bekerja dengan senyum
Mengatur jatah pembagian ransum

Nasi bungkus pagi dan sore
Untuk pasukan anggota T.P.
Berisi lauk seiris tempe
Terkadang disertai sepotong kue

Walau menu selalu berganti
Tempe goreng sangat disenangi
Sumbernya mudah bisa dicari
Banyak dijual di pasar Kinari

OPR menggunakan bahasa Minang-Indonesia

Sebagai OPR yang taat perintah
Buyung Saram masuk ke rumah-rumah
Loteng dan kamar dia geledah
Tiada orang yang berani mencegah

Karena tak mahir bahasa Indonesia
Kedengaran lucu membuat tertawa
Saat OPR lakukan razia
mencari radio dengan senjata

Bukan menghibur anak-anak
Kalimatnya lucu seperti melawak
Buyung bertanya sambil membentak
Senjata dikokang siap tembak

Dia ingin terlihat pandai
Bahasa Indonesia yang dia pakai
Bunyinya aneh tidak sesuai
Ibarat Kuda disebut Keledai

Menurut pengakuan seorang saksi
Orang kampung penduduk asli
Kalau teringat merasa geli
Kalimat OPR di bawah ini

Siapa yang punya radia di sika
Kalau bersua saya sita
Saya tidak bergara-gara
Jangan main-main dengan saya

Keterangan:
Bersua = bertemu
Disiko (Minang) = disini
Bergara-gara (Minang) = main-main
Buyung: panggilan terhadap anak laki laki orang MK

Wali nagari tandingan

Ketika perang belum berdamai
Apri memilih mitra yang sesuai
Dari golongan anggota partai
Oknumnya bernama Inyiak Sarai

Bukan sembunyi pergi ijok
Inyiak berlindung di kota Solok
Kampung halaman tak lagi ditengok
Dengan dunsanak tetap elok

Waktu pertempuran mulai berkurang
Pasukan PRRI mundur ke belakang
Menuju nagari Batu Bajanjang
Barulah Inyiak kembali pulang

Rangkayo Rahmah El Yunusiah
Tokoh pendidikan disebut tarbiyah
Kepada Apri tak mau menyerah
Ijok ke Talaok ibarat Hijrah

Sumber

Sejarah Singkat Pasukan PETA

Pasukan PETA

Sukarela Tentara Pembela Tanah Air disingkat PETA adalah kesatuan militer yang dibentuk Jepang dalam masa pendudukan Jepang di Indonesia. Tentara Pembela Tanah Air dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1943 berdasarkan maklumat Osamu Seirei No 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara Keenambelas, Letnan Jendral Kumakichi Harada sebagai Tentara Sukarela. Pelatihan pasukan Peta dipusatkan di kompleks militer Bogor yang diberi nama Jawa Bo-ei Giyûgun Kanbu Resentai.

Pembentukan Peta dianggap berawal dari surat Raden Gatot Mangkupradja kepada Gunseikan (kepala pemerintahan militer Jepang) pada bulan September 1943 yang antara lain berisi permohonan agar bangsa Indonesia diperkenankan membantu pemerintahan Jepang di medan perang.

Ada pendapat bahwa hal ini merupakan strategi Jepang untuk membangkitkan semangat patriotisme dengan memberi kesan bahwa usul pembentukan Peta berasal dari kalangan pemimpin Indonesia sendiri. Pendapat ini ada benarnya, karena, sebagaimana berita yang dimuat pada koran “Asia Raya” pada tanggal 13 September 1943, yakni adanya usulan sepuluh ulama: K.H. Mas Mansyur, KH. Adnan, Dr. Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Guru H. Mansur, Guru H. Cholid. K.H. Abdul Madjid, Guru H. Jacob, K.H. Djunaedi, U. Mochtar dan H. Moh. Sadri, yang menuntut agar segera dibentuk tentara sukarela bukan wajib militer yang akan mempertahankan Pulau Jawa(Mansur Suryanegara: Pemberontakan Tentara PETA di Cileunca Pangalengan Bandung Selatan:1996). Dengan demikian, nampaklah peranan umat Islam Indonesia dalam rangka pembentukan cikal bakal TNI ini.

Tujuan mereka bukan untuk menjadi sekedar antek Jepang, melainkan menanamkan paham kebangsaan dan cinta tanah air yang berdasarkan ajaran agama, yakni ruhul jihad. Perhatikan panji atau bendera tentara PETA yang berupa matahari terbit (lambang imperium Jepang) dan lambang bulan sabit yang merupakan simbol khilafah Islam di dunia. Pada tanggal 14 Februari 1945, pasukan Peta di Blitar di bawah pimpinan Supriadi melakukan pemberontakan yang dikenal dengan nama “Pemberontakan Peta Blitar”. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan dengan memanfaatkan pasukan pribumi yang tak terlibat pemberontakan, baik dari satuan Peta sendiri maupun Heiho. Pimpinan pasukan pemberontak, Supriadi, hilang dalam peristiwa ini.  Akan tetapi, pimpinan lapangan dari pemberontakan ini, yang selama ini dilupakan sejarah, Muradi, tetap bersama dengan pasukannya hingga saat terakhir. Mereka semua pada akhirnya, setelah disiksa selama penahanan oleh KENPEITAI (PM), diadili dan dihukum mati di pantai Ancol pada tanggal 16 Mei 1945.

Tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Jepang mengeluarkan perintah untuk membubarkan kesatuan-kesatuan Peta. Sehari kemudian, panglima terakhir Tentara Keenambelas di Jawa, Letnan Jendral Nagano Yuichiro, mengucapkan pidato perpisahan.

Sumbangsih dan peranan tentara PETA dalam perjuangan melawan penjajahan Jepang demikian besar.  Demikian juga peranan mantan Tentara PETA dalam kemerdekaan Indonesia.  Beberapa tokoh yang dulunya tergabung dalam PETA antara lain mantan presiden Soeharto dan Jendral Besar Soedirman.

Mantan Tentara PETA menjadi bagian penting pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sejak Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga TNI. Untuk mengenang perjuangan Tentara PETA, pada tanggal 18 Desember 1995 diresmikan monumen PETA yang letaknya di Bogor.

Kenapa Mandat PDRI Dijemput Ke Padang Jopang ?

PDRI DAN BELA NEGARA
(Kepres Nomor 28 Tahun 2006)

I.  PADANG JOPANG.

Di kampung kelahiran saya banyak sekali situs bersejarah yang berkaitan dengan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia; merebut, mempertahankan dan membela ptoklamasi 17 Agustus 1945. Satu diantaranya tidak jauh dari rumah orang tua saya ada kuburan massal yang disebut “ kuburan Jepang “. Nama kuburan itu tidak ada sangkut pautnya dengan nama kampung saya Padang Jopang di nagari VII Koto. Di tempat tersebut berkubur sekitar 40-orang Jepang, eks tahanan di Kamp Ampang Godang.

Sebuah prasasti bertuliskan lima (5) nama pejuang yang gugur di front pertempuran melawan Belanda dibangun di halaman depan Balai Adat Padang Jopang. Nama pejuang tersebut adalah; Martais, Saeran J, dan Amirudin yang gugur di medan tempur “Padang Area “1946; Abbas Manan (gugur di Bankinang 1947 )dan Abbas Idrus (gugur di Bukittinggi 1947).

Prasasti lainnya ada di halaman rumah Jawa di kampong suku Sikumbang, sementara itu di Ampang Godang ditemukan pula Kamp (Tangsi ) Militer, tempat tawanan Jepang, Kemudian sebuah tugu setinggi tujuh meter terdapat di lapangan bola kaki di Koto Kociak. Semuanya ini konon berkaitan dengan Perang Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kompleks Perguruan Darul Funun El Abbasyah dan Nahdatun Nisaiyah, Tarbiyah Islamiyah gedung BPPI ( kini madrasah Aliman Syalihah) dan kantor partai Masyumi ( kini mushalla ) di Pokan Sinoyan adalah gedung yang berperan semasa Revolusi dan Perang Kemerdekaan. Menurut usianya sudah patut didaftarkan sebagai Cagar Budaya oleh pemerintah .

Berbagai cerita dan informasi dibalik prasasti yang sebutkan itu masih tersembunyi dan belum terungkap secara utuh sampai hari ini. Pada hal untuk mewariskan nilai-nilai kejuangan dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ), ada di sana. Suatu tantadangan yang harus dipecahkan . Berbagai kendala ditemukan, untuk mendapatkan informasinya secara utuh, baik pelaku atau pun saksi-saksi peristiwa sudah banyak yang meninggal dunia, sementara yang masih hidup pergi merantau dan sebgaian dari mereka sudah pikun sulit mengingat kejadian dan pengalamannya.

Disamping situs-situs dan prasasti itu ada pula monument hidup, yakni dua orang puteri pejuang RI bernama Sarong asal aceh bernama Syamsimar dan Nur’aini. Isteri Sarong dikenal masyarakat dengan panggilan Niea Judan ( Sjamniar isteri ajudan maksudnya). Rupanya adjudan Gubernur Sumatera semasa PDRI Mr. Teuku M.Hassan , AKBP ( polisi ) bernama Sarong sempat pacaran dan kawin selama Teuku M. Hassan berkantor di komplek perguruan milik Syech Abbas Abdullah di baruah “ Pucak Bakuang “. Dulu dikenal juga dengan ungkapan populer “ lembah Murni “ dikala revolusi sedang bergejolak. Monumen hidup lainnya yang menonjol adalah menikahnya staf Teuku M. Hassan, Machmud Junus (penulis tafsir Qur’an) dengan puteri suku Sikumbang bernama Jawahir, yang melahirkan anak perempuan Jawanis.

Di rumah isteri Machmud Yunus ini perundingan pemulangan mandat PDRI oleh delegasi PDRI Sjafrudin Prawiranegara dengan delegasi penjemput dari Yogya yang dipimpin M. Natsir.Nama Soekarti, adik perempuan dari Diswar ( Paradeh ), anak dari Sjarkawi Rasoel Dr. Ajo Marajo diberikan langsung oleh Soekarno ( Presiden RI pertama ), dikala ia berkunjung ke perguruan Darul Funun El Abbasiyah, setelah ia dibebaskan dari pengasingan di Bengkulu. Dikala itu ibu Diswar Paradeh tengah hamil tua mengandung adiknya Soekarti, tetapi masih aktif menyambut kedatangan Soekarno ke Padang Jopang. Ibu Diswar Paradeh adalah kemenakan dari pimpinan Darul Funun Syesch Abbas Abdullah. Gelar “ Paradeh “ yang melekat di belakang nama Diswar adalah nama sebuah oragnisasi perjuangan kemerdekaan RI di Payakumbuh umumnya dan Kewedanaan Suliki khisusnya, yaitu Persatuan Dagang Suliki ( PERDAS ). Sama dengan kongsi dagang Roemah Obat Sumatera Tengah ( Roste ) yang hingga saat ini masih aktig di bunian Payakumbuh.

Disamping itu banyak pula nama-nama pejuang seangkatannya, Polisi Tentara (PT) Ayun Inyiak, dan Sersan Abd. Muis (Pengawal Tahanan Jepang di Tangsi Ampang Gadang ), seperti si kembar Sainun dan Sainin , serta Makmus PT. Hampir semuanya berasal dari tentara pejuang Sabilillah, dengan komandannya Kapten Adnan Z dan Ka. Staf Letnan Dani Zaidan.( Adnan Z adalah ayah kandung Adrizal Adnan –mantan Kandatel Sumbar ). Terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu, namun demikian ada yang tinggal menetap dan beristeri di front pertempuran Padang Area, antara lain Darwis dan Sahari Kumbik di Kuranji dan Nazar di Tabing. Mantan Gyu Gun dan Haiho juga ada seperti Kapten Azhari Abbas, Letnan Mawardi HN , Makmus , Baha, Tabrani dll.

Untuk mengungkap satu persatu item prasasti dan personal pelaku sejarah yang disebutkan di atas sangat sulit. Mencarikan bukti pisik, seperti foto dan dokumennnya. Hampir semua dokumen yang berbau kemiliteran telah dibuang dan dibakar sendiri oleh pelaku. Hal itu dilakukan karena takut dengan APRI, lantaran mereka hampir 100% terlibat gerakan PRRI tahun 1958 – 1960. Situasi setelah “kalah perang” masing-masing pelaku dan keluarganya yang rata-rata ikut PRRI, banyak memilih diam, “ tutup mulut “.

Hal lain yang jadi penyebab adalah sumpah dan janji para pelaku tersebut dihadapan komandan, masyarakat dan apalagi janji mereka kepada Imam Jihad Syech Abdullah, bahwa mereka ”berjuang lillahi ta’ala”, mereka tidak mau “bunyi”. Mereka itu tidak mau menyebut Tuah, menepuk dada akulah pahlawan, apalagi mengungkap yang menjadi rahasia militer atau “yang dirahasiakan pasukannya”. Banyak diantara mereka yang tidak mau didaftarkan/mendaftarkan diri untuk dicatatkan sebagai anggota Veteran, dipanggil pejuang saja tidak mau, apalagi “pahlawan” . Tidak berbeda diantara pejuang wanita dan laki-laki di kampung saya ini.
II. BELA NEGARA.Tanggal 19 Desember sudah ditetapkan oleh Negara sebagai hari besar Nasional. Dikenang dan peringati guna memupuk rasa Cinta Tanah Air, menanamkan semangat Kebangsaan, Rasa Nasionalisme, Mencintai kemerdekaan dan menghargai jasa Pahlawan serta tidak melupakan jalan dan lika-liku Sejarah.

Kenapa Bukittinggi ditembaki Belanda secara bersamaan dengan ibukota RI Yogyakarta ? Kenapa tidak kota-kota lain ? Apa peranan penting yang dimainkan Bukittinggi, sehingga kota ini harus dihabisi Belanda bersaam dengan Yogyakarta ? Kernapa Bukan kota Bandung, Surabaya , Makasar atau Manado dan Pontianak, Banjarmasin yang hendak dihancurkan ?

Untuk itu kita perlu merefleksikan kondisi dan suasana di Bukittinggi, saat itu yang disebut Ibukota kedua setelah Yogya. Hal ini barang kali akan dapat di apresiasi atau dilihat dari peranan Bukitinggi saat itu setelah kota Siantar ( Sumatera Utara ) jatuh ke tangan Belanda Juli 1947;
1. Tempat kedudukan Kamandeman Sumatera
2. Tempat kedudukan Gubernur Sumatera yang kemudian dirobah menjadi Komisariat Pemerinah Pusat ( Kompempus ).
3. Gubernur Sumatera Tengah
4. Pusat Pemerintahan Sumatera Barat.
5. Markas Besar Divisi Banteng
6. Tempat pengurus pusat partai-partai politik.

Dengan membayangkan dan meng-analisa kegiatan dan dinamika masing dinas dan instansi maka dapat disimpulkan bahwa urat Nadi kehidupan Negara Republik Indonesia itu ada di Bukittinggi, jika Yogya bisa dihentikan oleh Belanda.
Taokoh-tokoh penting Republik Indonesia disamping Soekarno – Hatta berada di Bukittinggi. Ini semua sudah diketahui Belanda dari lopran intelijen. Berhasil merebut Yogyakarta saja tidak akan bisa mematikan dan melenyapkan Republik Indonesia.
Tanggal 19 Desember 1948 Belanda menyerang Yogyakarta sebagai ibukota Negara dan Bukittinggi sebagai ibukota RI bayangan. Serangan itu hendak digambarkan Belanda sebagai tindakan policyonil, kegiatan penertiban dan melindungi keamanan rakyat. Perjuangan dan perlawanan Republik Indonesia, digambarkan sebagai “gangguan keamanan “ dalam negeri oleh para pengacau criminal. Tujuan Belanda melenyapkan Negera Republik Indonesia, tidak ada pemerintahan di Hindia kecuali Belanda. Begitulah serangan itu dikemas dan dijadikan public opini dunia. Tetapi pihak yang diserang Republik Indonesia menyebutnya “ Agresi “; yaitu serangan dan penetrasi terhadap sebuah Negara Berdaulat. Pemakaian kata -kata perang, “Clash dengan Agresor” telah memenangkan diplomasi RI di mata dunia sehingga terbentuk Komisi Tiga Negara dan menimbulkan respon PBB. PDRI menjadi legilitimasi Republik Indonesia tetap aksis di mata dunia.

Agresi Belanda terhadap kedaulatan RI telah menjadi pemicu terbentuk dan lahirnya Pemerintah RI darurat, pelanjut pemerintah pusat ( Soekarno – Hatta ) yang menyerahkan diri kepada Belanda di Yogyakarta 19 Desember 1948.
Hari Ancaman terhadap keberadaan Kedaulatan Republik Indonesia oleh Agresor Belanda tanggal 19 Desember 1948 ini ditetapkan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono, melalui sebuah Keputusan Presiden (Keppres ) Nomor 28 Tahun 2006; dengan sebutan ;
HARI BELA NEGARA

Pemerintah Darurat, bukan dadakan. Bukan di buat-buat. Jauh hari sudah diperkirakan . Sudah ada KIRKA ( Kira-kira Keadaan ). PDRI terbentuk, setelah disetujui para Pemimpin RI yang ada di Bukittinggi pada tanggal 19 Desember 1949 di Bukittinggi, Ketua (Presiden RI ) Mr. Sjafrudin Prawirnegara dan Wakil Ketua ( Wkl. Presiden) Mr. Teuku M. Hassan. Pengumumannya bersama susunan Kabinet lengkap di Halaban. Kemudian di udarakan melalui radio AU di Parak Lubang.

“Pak Islam, apakah resmi dan betul PDRI dibentuk di Bukittinggi di bawah siraman mitraliur dan bom Belanda ?”; Tanya saya di gedung Tri Arga kepada Islam Salim.

“ Kenapa ? “ jawabnya bertanya pula ?

“Ya, Bapak bilang Bapak ikut membicarakannya dengan Mr. Teuku M.Hassan , Mr.Rasjid dan Mr.Sjafrudin. Bagaimana legitimasinya ?” Saya balik bertanya

“ PDRI sudah dipersiapkan, sudah didukung tentara dan pemimpin sipil, ini memorandum Syahrir dan Daan Yahya, hanya tinggal penyusunan dan pengumuman , idea nya sudah ada , ini buku saya “ kata Islam Salim sambil menyodorkan buku yang disusunnya kepada penulis.

Ternyata menurut buku Islam Salim, halaman 29-33 Pangkalan Cadangan ( Reserve Basis ) telah diupayakan Wakil Presiden Mohammad Hatta, setelah menerima memorandum dari Syahrir dan Daan Jahja dan masukan lain-lain. Hatta menugaskan tiga gelombang Pimpinan dan Perwira Tentara ke Bukittinggi pada bulai Mei 1948. Kemudian Wakil Presiden sendiri yang berangkat ke Bukittinggi.

“Pembentukan PDRI di Sumatera Tengah dimungkinkan berkat persiapan yang seksama berdasarkan suatu memorandum Nayor Daan Jahja, dari staf Divisi Siliwangi, pada bulan Maret 1948 yang ditujukan kepada Perdana Menteri/ Menteri Pertahanan RI Drs. Mohammad Hatta, dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya agressi Belanda II.tulis A.E.Kawilarang”.

“Kirka” yang dibayangkan beberapa pemimpin militer dan sipil di Yogyakarta menjadi kenyataan, hari Minggu 19 Desember 1948 Yogyakarkarta dan Bukittingi di serang Belanda dari Udara. Front Padang Are di bagian Timur Air Sirah diterobos Belanda, Pasukan payubng di turunkan di danau Singkarak.

“Pemboman serentak oleh Belanda atas Yogya dan Bukittinggi pada Minmggu 19 Desember 1948, sebenarnya tidak sepenuhnya merupakan kejutan ( surprise ), namun menimbulkan shock yang cukup berarti. Pemimpin-pemimpin pemerintahan tidak kehialangan akal; segera diadaskan rapat bersama antara Mr.T.M Hassan , Mr.Sjafridin dan Gubernur Saumatera Tengah Mr.M.Nasroen pada kira-kira pukul 09.00 pagi di gedung Tamu Agung tempat kediaman Wakil Presiden Hatta, masing-masing beserta staf:.

Republik Indonesia dalam ancaman, Belanda hendak melenyapkan Kedaulatan RI, serang dan tangkap pemerintahnya. Para pemimpin yang ada di Bukittinggi langsung mengadakan rapat mendiskusikan cara yang akan ditempuh untuk membela Negara, sementara Soekarno dan Hatta, sudah diperkirakan akan ditawan oleh Belanda. Mandat membentuk Pemerintahan belum diterima. Akhirnya rapat itu memutuskan sesuai dengan perkiraan sebelumnya, dibentuk pemerintah pusat, Ketua Mr.Sjafrudin Prawira Negara dan Wakil Ketua Mr.Teuku Mohammad Hassan. Langkah dan strategi membela Negara harus disusun . Demi keselematan seluruh pejabat pemerintah mengungsi ke Halaban di Selatan kota Payakumbuh pada jam 21.00.

Kekuatan militer RI masih tangguh menahan serangan, Belanda lama tertahan sebelum memasuki Padang Panjang dan lembah Anai, dipaksa melayani tembakan tentara pejuang . Hal ini memberi kesempatan yang sempurna bagi pemimpin sipil dan militer di Bukittinggi mempersiapkan pengosongan kota dan bumi hanguskan kota.
Setelah serangan Udara Belanda berhenti di Bukittinggi para pemimpin Republik mengadakan rapat untuk mengatisipasi serangan Belanda ini dan menganalisa keadaan yang tengah dan akan terjadi. Pertemuan dilangsungkan di gedung Tamu Agung ( Tri Arga/ Istana Bung Hatta ) Bukittinggi ; diantara Sjafrudin Prawiranegara menteri Kemakmuran RI, Mr. Teku M.Hassan , Mr. Lukman Hakim, Kolonel Hidayat, Kombes Pol Umar Said dan Mr. Nasroen Gubernur Sumatera Tengah. Serangan Belanda masih berlanjut terus, akhirnya rapat dihentikan.

“Dan sore hari harinya Mr.Sjafrudin Prawiranegara berinisiatif bersama Kol.Hidayat datang ke kediaman Ketua Komisariat Pemerintah Pusat untuk Sumatera Mr. Teuku Mohammad Hassan di jalan Atas Ngarai untuk melanjutkan perundingan”.
Pasukan RI mampu menghambat kekuatan angkatan perang Belanda yang memiliki persenjataan lengkap dan kendaraan lapis baja, dan diperkuat pula dengan pasukan angkatan udara patut juga menjadi kajian. Diperlukan waktu tiga hari oleh Belanda untuk bisa merebut Bukittinggi. Inilah karya anak bangsa yang menumpang di atas kekuatan Jepang. Kekuatan militer RI di Sumatera Barat ini atara lain bersumber dari GyuGun, pendidikan opsir Jepang, Lasykar-lasykar Rakyat, yang dilatih Eks Gyu Gun dan Pendidikan Kadet Divisi III Banteng.
“Pada Selasa malam 21 Desember 1948 di sebuah lobang pertahanan peninggalan Jepang di kompleks Sekolah Pendidikan Opsir Bukittinggi, berlangsung suatu pertemuan tertutup yang dihadiri oleh Panglima Teritorium dan beberapa orang Perwira DivisiIX Banteng”
Pertemuan tersebut dipimpin oleh Letkol Dahlan Ibrahim, hadir antara lain Kolonel Dahlan Jambek, Letkol Sjarif Usman, Mayor A.Thalib, Mayor A. Halim ( Aleng). Dalam pertemuan itu Kolonel Dahlan Jambek menjelaskan tindakan-tindakan yang diambil Pemerintah, seperti Bukittinggi tidak akan dipertahankan dan dilakukan pembumi hangus-an.Tanggal 21 Desember 1948 malam kota Bukittinggi di bumi hangus, seluruh ob jekvital yang akan dimanfaatkan musuh dibakar semua. Kota Bukittinggi menjadi kosong rakyat bersama pemimpinnya mengungsi keluar kota. Rombongan PDRI terakhir sampai di Halaban adalah Mr. M. Rasyid; setelah menyelenggarakan sidang singkat untuk menyepakati susunan PDRI pukul 03.30 pagi tanggal 22 Desember 1948. Rombongan langsung menuju ke tempat ptempat yang telah dipakati sebelum. Saat itu dikhawarikan Pasukan Belanda sudah sampai di Payakumbuh.
“Ketika Sjafrudin Prawiranegara dan rombongan berangkat ke Bangkinang, setelah buru-buru meninggal Halaban, setelah pengumaman susuanan PDRI, MR. St Mhd.Rasjid hanya menyingkir ke mudiak sekitar 13 km di utara Payakumbuh, tidak bergabuang dengan Sjafrudin Prawiranegera. Jum’at 24 Desember Rasjid berkeliling di nagari-nagari Kecamatan Guguak, Dangung-dangung, VII koto Talago, Limbanang dan Kubang . Masyarakat diajak membela Negara melalui PDRI”
III
Dari Gyu Gun ke BKR dan TNI.
Tahun 1942 Yano Kazo; Residen ( zaman Jepang ) untuk wilayah Sumatera Barat , mengumpulkan pemuka masayarakat, Ninik Mamak, Ulama dan Cerdik Pandai Sumbar, ia mengemukakan akan membangun Gyu Gun ( Lasykar Rakyat ); Pembela Tanah Air ( PETA) namanya di pulau Jawa.
Setelah melalui diskusi dan tukar pendangan diantara pemuka masyarakat dalam rapat itu, akhirnya disepakati menerima usul Yano Kazo mendirikan Gyu Gun Ko En Kai, maka ditetapkan rapat tiga pemimpin yang akan membentukanya yakni Ahmad Dt. Simarajo (ninik Mamak), H. Machmud Yunus ( Ulama )dan Chatib Sulaiman (Cerdik Pandai ). Ketuanya ditetapkan Chatib Sulaiman dan dibantu oleh Suska, Rasuna Said, Latif Usman, Ratna Sari, Leon Salim, Mansur Taib, Rahmah El Yunusiah, Aziz Latif , Husin Ilyas, Tjik Ani, Nazarudin, Nurdin Kajai. Setelah diberikan penjelasan dan penerangan kepada masyarakat se Sumatera Barat, ternyata peminatnya cukup banyak.
“Nama-nama yang telah terdaftar cukup banyak antara alain tiga orang putera dari Syech . M. Djamil Djambek, seorang ulama besar di Minangkabau serta banyak lagi yang berpendidikan Barat maupun Islam”
Syech Abdullah, dikenal juga dengan sebutan “ Baliau Ketek” sejak awal, semasa usaha-usaha pra kemerdekaan RI ia aktif mendorong usaha-usaha pergerakan persiapan kemerdekaan, demikian pula dengan Syech Musatafa yang disebut juga “Baliau Godang”. Kedua beliau dari PERGURUAN Darul Funun, Puncak Bakuang ini melepaskan anaknya untuk ikut berjuang. Azhari Abbas anak baliau ketek di Koto Kociak, VII Koto, ikut berlatih Gyu Gun. dan Tantawi anak baliau Godang di Air Tobik ikut barisan Sabililah.
Ketika Agresi Belanda kedua 1948-1949, keduanya sudah muncul menjadi Perwira Pertama ( Pama ) TNI yakni Kapten Azhari Abbas dan Kapten Tantawi yang tewas dalam peristiwa 15 Januari 1949 di Lurah Kincir Situjuah. Nama Kapten Tantawi diabadikan Pemda menjadi nama lapangan bola kaki Payakumbuh yang semula bernama Poliko diganti dengan sebutan lapangan Kapten Tantawi.
“Berdirinya Gyu Gun di Sumatera Barat, yang sama dengan PETA di Jawa, mendapat sambutan yang hangat dari pemuda Payakumbuh dan Lima Puluh Kota, sehingga banyak diantara mereka yang mengambil bagian dalam Gyu Gun sebagai Pembela Tanah Air, seperti Nurmathias, Azhari Abbas, Amir Wahida, Inada Wahid, Makinudin HS dan lain-lainnya yang kemudian hari pada permulaan perjuangan kemerdekaan mereka memagang peranan di daerah ini”
Dua hari setelah Jepang menyerah, di Padang tanggal 16 Agustus 1945 Gyu Gun dibubarkan dan di Bukittinggi pembubarannya tanggal 18 Agustus 1945.
Lasykar Sabililah Lima Puluh Kota.
Kongres MIT pada tanggal 7 Desember 1945 di Bukittinggi antara lain memutuskan membentuk Barisan Sabilillah. Divisi Sabilillah Sumatera terbentuk setelah Opsir-opsir Bataliyon Sabilillah dilantik 16 Maret 1946 di lapangan atas ngarai Bukittinggi, dihadiri oleh Manteri Penerangan Natsir dan Kepala Staf Umum Mabes TKR Sumatera Jenderal Mayor Suhardjo. Markasnya ditempatkan di Jalan Lurus Bukittinggi dibawah Pimpinan A. Gafar Djambek dan H. Rivai Yunus sebagai kepala Keuangan dan Perlengkapan.
Sebagai langkah awal Calon Opsirnya, utusan seluruh Kabupaten dilatih terlebih di Kamang, selama dua bulan mulai 1 Januari 1946. Utusan dari Lima Puluh Kota adalah Anwar Muin dan C. Israr.
Selesai latihan kemabli ke daerah masing – masing dengan tugas membentuk Batisan Sabililah Kabupaten dengan mengumpulkan pemuda dari seluruh Nagari. Langkah awalnya adalah mengumpulkan tenaga terdidik bidang kemiliteran dari mantan Gyu Gun, Heiho, Sei Nen Dan untuk dijadikan pelatih; latihan pelatih dilaksanakan Taram , Koto Kociak VII Koto, dan Payakumbuh.. Kepada pelatih nantinya dibebankan pembinaan pasukan sampai ke Nagari.
IV
Mobilisasi Sabil.
Syech Abbas Abdullah : Pimpinan Darul Funun El Abbasiyah, “Puncak Bakuang” Padang Japang selaku Ulama yang terkemuka di Sumatera Barat telah mengeluarkan Fatwa dalam suatu konperensi ulama Sumatera di Bukittinggi, bahwa; perang melawan Penjajah adalah Jihad Fi Sabilillah dan bila mati akan mati dalam keadaan Syahid. Menurut keterangan Ismail Hasan dalam suatu wawancara dengan penulis salah satu keputusan konsperensi menetapkan; Syech Abbas Abdullah sebagai Imam Jihad. ( 2008/video/ dirumah orang tua Anwar ZA )
“Gerakan Mobilisasi Sabil ini sebelum Perang Kemerdekaan kedua telah dicetuskan oleh para alim ulama dalam suatu Konpoerensi alim ulama dan mubaligh Islam di Sumatera Barat yang berlangsung di Bukittinggi pada tanggal 27 Juli 1947 pada saat bangsa Indonesia sedang menghadapi agresi militer Belanda yang pertama. Dalam pertemuan itu telah diputuskan untuk mengerahkan perang sabil terhadap tentara Balanda dengan mengobarkan semangat jihad serta memperhebat rasa pengorbanan arakyat untuk kepentingan perjuangan”. .

Resimen Sabilillah Kab. Lima Puluh Kota termasuk Bangkinang: Komandan : Mayor Sjamsawi, membawahi lima Bataliyon . .M.Hikmat Israr; HC Israr Kesederhanaan & Kepejuangan Aanak Payakumbuh;Budaya Media;2004; halaman 43
1. Kapten Nazarudin Saleh ( Payakumbuh – Akabiluru )
2. Kaapten Saharudin (Luhak dan Harau )
3. Kapten Adnan Z ( Kecamatan Guguak )
4. Kapten Bermawi Taher ( Suliki )
5. Kapten Umar ( Bangkinang dan sekitarnya )
Kapten Adnan Z , menempatkan Markas Bataliyon III di Pokan Noyan ( Pasar Senin ) Padang Japang simpang empat jalan , sekarang dijadikan Mushalla.Menetapkan Kepala Stafnya. Dani Zaidan.yang mengendalikan perjuangan kemerdekaan di wilayah Kecamatan Guguak . Adnan Z adalah orang tua / ayah kandung Adrizal Adnan ( Mantan Kandatel-Sumbar ), ia merekrut hampir seluruh pemuda di VII Koto yang sehat ikut menjadi anggota Sabilillah. Polisi Tentara yang bertindak menjaga disiplin anggota Sabilillah adalah: Letnan Baharudin Alwi, dan anggotanya , Abdul Muis, Abdul Gani, Ayun Inyiak, Yulius Martunus . Polisi ini juga nantinya yang bertindak sebagi pengawal tawan tentara Jepang dan Kamp Ampang Godang.
“Dalam bulan Juni 1949 , Mayor A. Thalib diangkat jadi Komandan Pertempuran Lima Puluh Kota, menggantikan Kapten Syafei. Letnan I Nurmathias ditempatkan sebagai Kepala Staf. Semenjak itu kedudukan markas komando pertempuran ditempatkan di Ampang Gadang VII Koto Talago”:
Konsep ABRI manunggal dan Pertahanan RakyatSemesta.
Setelah Lasykar-lasykar, termasuk Sabilillah, Hisbulllah dan lain dilebur ke dalam BKR dan TNI, maka sewaktu menjalankan struktur Pemerintahan PDRI yang mengkombinasikan Cipil dan Militer, maka Mantan Gyu Gun dan amantan Pasukan Sahid atau lasykar-lasyakar itu umunya langsung mengisi struktur Camat Militer, Wali Perang , DPD, MPRD,MPRK, BPNK, dan tugas kejuangan lainnya seperti Pasukan Mobeil Teras ( PMT )
Badan pengawal Nagari dan Kota (BPNK) didirikan Juli 1947,Peraturan No.15/DPD/P-1947 ( Dewan Pemerintah Daerah ). Pada Januari tahun1948, didirikan Markas Pertahanan Rakyat Daerah (MPRD) yang membawahi BPNK/PMT.
BPNK memperoleh pendidikan militer dibawah koordinasi Chatib Sulaiman; untuk dijadikan Pasukan Mobil Teras yang bertugas mengamankan Nagari
Belanda membangun pos Patroli di rumah ( kapten Leon Salim ) di Tiakar Guguak:
24 Januari 1949; Ibu Kota Kabupaten dipindahkan dari Limbanang ke Talago. Dan pada hari itu diadakan rapat konsolidasi pemerintah Kabupaten, salah satu keputusannya mengusulkan A. Malik Ahmad sebagai Wakil Bupati.
Moral kejuangan rakyat terpukul dan menurun akibat serangan Belanda yang berhasil menerobos pertahanan PDRI, masuk sampai pusat pergerakan Koto Tinggi tanpa perlawanan yang berarti pada tanggal 10 Januari 1949. Kendaraan perang Belanda meluncur tanpa halangan berart, sekalipun rakyat telah memasang penghalang pada beberapa titik antara lain dengan menumbangkan pohon, serta membelintangkan batang kelapa di jalan raya. Penggeledahan dilakukan pada setiap rumah di tepi jalan dan membakar beberapa mobil yang ditemukan di tepi jalan. Balai Adat di Talago yang dikira belanda sebagai tempat berkantornya Bupati Lima Puluh Kota di bakar. Sasaran Utama operasi militer Belanda ini adalan sender radio. Sembilan orang petani yang ditemukan Belanda di Pandam Gadang menjelang menuju Koto Tinggi ditembak tentara Belanda di Titian Dalam. Beberapa bentuk keganasan perang dipertunjukan Belanda untuk menjatuhkan mental masyarakat.
V
Bupati Baru Saalah Sutan Mangkuto
Bupati Lima Puluh Kota kembali diganti setelah bupati Alifuddin Saldin tidak menyingkir dan menyerah kepada Belanda dan digantikan oleh Arisun Alamsjah , mantan wedana Suliki dan dilantik tanggal 5 Januari 1949 Gubernur Militer Mr. St.M. Rasjid. Baru 10 hari bertugas sebagai Bupati ia gugur dalam peristiwa Situjuah 15 Januari 1949. Atas upaya keras Anwar ZA dan Camat Militer Saadudin Sjarbaini, Saalah Sutan Mangkuto yang trauma akibat “ peristiwa 3 Maret “, akhirnya ia mau diangkat menjadi Bupati Lima Puluh Kota.
Sebagai seorang pejabat Negera Sekretaris Bupati Kabupaten Lima Puluh Kota; Anwar ZA tidak mau larut atas tewasnya oleh peluru Belanda adik kandungnya Sjamsul Bahri ZA dalam peristiwa Lurah Kincia Situjuah. Ia masih mendahulukan kepentingan Negara guna menghindari kekosongan jabatan Bupati Lima Puluh Kota
“Sjofyan Kamil yang lolos dari lobang maut di lurah Kincir melaporkan jalan peristiwa kepada Anwar ZA selaku Sekretaris Daerah L ima Puluh Kota dan memintanya untuk segera mengisi kekosongan jabatan Bupati. Setelah berdiskusi dengan Saadudin Sjarbaini, ( Camat Guguak ), akhirnya mereka sependapat untuk mengusulkan Saalah Sutan Mangkuto sebagai pengganti Arisun yang tewas di Situjuah. Anwar ZA dan Saadudin Sjarbaini berangkat ke Kubang menemui Saalah di rumah isterinya”
Rapat Bupati 11 Januari di Limbanang,
Dalam suatu pertemuan anatara Mayor A.Thalib dan Panglima Tentara Teritorium Sumatera , Kol. Hidayat di Koto Tinggi, diputuskan bahwa untuk mengembalikan ke percayaan rakyat kepada Tentara harusdiadakan penyerangan terhadap kota-kota yang dikuasai Belanda dan harus diduduki walaupun beberapa jam saja. Waktu itu disusunn konsep penyerangan Payakumb uh yang direncanakan tanggal 15 Januari 1949. Sementara itu Pemerintah merencanakan akan mengadakan rapat lengkap untuk mengkoordinasikan perjuangan tanggal 13 Januari 1949 di Padang Japang.( Tulisan ini tanpa catatan kaki dan tidak menyebutkan sumber informasinya, ditulis Maswardi): PDRI di Luak Limo Puluah: YPP-PDRI/MSI/ Luak Limo Puluah :hal 21, tahun 2007.
Tanggal 13 Januari 1949
Rombongan Chatib Sulaiman Wakil Residen Sumatera Barat sampai di Koto Kociak dari Koto Tinggi, di rumah Sekretaris Daerah Lima Puluh Kota Anwar ZA. Namun sesudah makan malam Chatib Sulaiman berangkat ke Situjuah , bersama Bupati Lima Puluh Kota Arisun Stl Alamsjah, disertai oleh adik Anwar ZA, Sjamsul Bahri ZA serta kaka iparnya Sjofjan Kamil .( Sjofjan Kamil , bekerja di jawatan penerangan PDRI dan berhasil lolos dari tembakan Belanda di Lokuak Lurah Kincir -Situjuah ) .
14 Januari Capung belanda melintasi di atas ; Situjuah. Patroli pasukan Belanda dari Payakumbuh samaai Limbukan, dan malamnya mereka sudah mengepung Lurah Kincir. Dengan bantuan pasukan khusus yang dikirim Belanda satu pleton KNIL dari Padang Panjang, dan satu pleton (baret merah )Koninklijk Speciale dari Baso.- untuk mengepung lurah Kincir.
15 Januari; pemakaman jenazah korban , Dipimpin Dahlan Ibrahim dan Makinudin HS, Mayor AS. Thalib salah seorang korban tertembak kakinya. dan penghadangan pasukan Singa Harau di Kubang Gajah,
Tugu Koto Kociak: I dibangun 11 Juli 1949 setinggi 2 meter. Tahun 1952 dipugar dengan bangunan setinggi 4 meter; AMD XXI dipugar dengan landaan 10 meter dan tingggi 7 meter.
Kaum Adat diwakili MTKAAM, bersama partai-partai politik juga mengadakan rapat mendukung perjuangan PDRI tanggal 25 Maret 1949 di Koto Tinggi:
MTKAAM diwakili :Dt. Simaradjo dan Dt. Basa Nan Kuniang
Perti diwakili : H. Sirajuddin Abbas, Dt Bandaro dan Hasan Zaini
PKI diwakili : Bachtarudin
Pesindo diwakili : Baharuddin
Maasyumi diwakili : Ilyas Yakub, H.Udin Rahmani dan H. Dien Yatim
PSII diwakili : Harun Yunus dan Darajad Daud
GPII diwakili : Ilyas Dt. Majo Indo.

Diposkan oleh

Sumber

Sejarah Penyerangan Pasar Bandar Buat – Padang

Sekitar dua bulan setelah diproklamasikannya Republik Indonesia di Jakarta tanggal 17 Agustus 1945, pasukan sekutu yang dipimpin Mayor Anderson tiba di Emma Haven, Teluk Bayur. Mereka kemudian menduduki gedung-gedung, gudang dan barak bekas Jepang di Padang.

Bersama sekutu itu, membonceng pula NICA (Nedelandsch Indie Civil Administratie), yakni pemerintahan Sipil Hindia Belanda. Tujuannya tak lain mencengkeramkan kukunya kembali setelah tiga setengah tahun lamanya hengkang dari Indonesia karena keok oleh Jepang. Waktu Jepang takluk dalam perang dunia kedua karena dibombardir sekutu, gantian Belanda tergiur lagi hendak masuk ke Indonesia.

Janji Belanda kepada sekutu waktu masuk ke Sumatera dan tempat lainnya di Indonesia adalah untuk membebaskan tawanan perang , memulangkan Jepang ke negerinya dan ikut serta menjaga keamanan dan ketertiban umum hingga pemerintahan peralihan berfungsi kembali. Belanda tidak diperkenankan oleh Komando Sekutu Asia Tenggara yang disebut SEAC untuk campur tangan dalam urusan pemerintahan Republik, baik sipil maupun militer.

Demikian cerita Zulwadi Datuk Bagindo Kalih, Ketua III Dewan Harian Daerah (DHD) ’45 Sumatera Barat, mengutip buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan 1945 – 1949 di Kota Padang dan sekitarnya yang disusun Dr Mestika Zed, MA dan kawan – kawan, tahun 2002.

Waktu ditemui di Gedoeng Joeang, jalan Samudera, Padang, ia menceritakan catatan-catatan sejarah perjuangan Kota Padang tempo dulu yang dirangkum dari berbagai sumber.

Merinding juga bulu roma ketika diceritakan tentang perlawanan rakyat Padang hingga peristiwa Indarung dan Bandar Buat dibombardir Belanda dari udara.

Sejak sekutu menyerahkan kembali Indonesia ke tangan Belanda, meskipun dengan perjanjian tidak akan turut campur dalam urusan Republik, namun kurenah Belanda yang terkenal “cerdik buruk” itu malah ingin menguasai kembali Indonesia sepenuhnya. Belanda melancarkan agresi dimana-mana di wilayah Republik.

Tanggal 8 Januari 1947, pabrik semen di Indarung yang didirikan Belanda tahun 1910 dengan nama NV NIPCM (NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij ditembaki dari udara oleh beberapa pesawat Mustang Belanda.

“Masyarakat Indarung dan Padang sekitarnya waktu itu mencari perlindungan dengan membuat lubang atau lari ke perbukitan sekitar Solok dan Pesisir Selatan. Mereka terdiri dari orang tua, wanita dan anak-anak, ada yang lari ke pegunungan dan hutan-hutan,” ujar pria yang lahir sekitar tahun 1940-an itu.

Veteran yang masih fokus memperjuangkan idealisme kebangsaan ini seperti menerawang sejenak. Lalu, katanya, tanggal 18 Januari 1947 atau 10 hari setelah pemboman Indarung, Belanda datang kembali dengan pesawat Mustang dan melancarkan serangan udaranya di Pasar Bandar Buat.

Saat itu hari Minggu, merupakan hari pasar di daerah itu. Meskipun ada versi yang mengatakan serangan itu terjadi sekitar pukul 15.00 WIB, tapi ada pula catatan Angku Darwis yang dibuat tahun 1994 mengatakan itu terjadi pada pukul 10:00 WIB.

“Yang ini mungkin lebih mendekati, karena melihat faktanya yang meninggal mencapai ratusan jiwa. Pada jam itu, keadaan di pasar memang pas puncaknya keramaian orang yang datang dari berbagai penjuru sekitar Padang, Solok, Pariaman dan Pesisir Selatan,” ujarnya.

“Yang bersangkutan (Angku Darwis) saat diwawancarai untuk membuat sebuah buku tahun 1994 itu sedang sakit dan dalam perawatan dokter. Namun, berkenaan dengan perisitiwa itu ia masih sanggup mengingat dan menceritakan tentang perisitiwa Bandar Buat,” sela Zulwadi.

Ada pula Angku Munir yang menjadi saksi mata, lanjutnya Hingga sorenya, Angku Munir dan beberapa orang temannya bekerja keras mengumpulkan ratusan korban yang luka parah serta mayat – mayat yang tak tahu pasti jumlahnya.

“Mungkin ratusan,” Zulwadi memperkirakan.

Para korban dibawa dengan pedati, alat transportasi populer masa itu. Mereka di bawa ke Lapangan Kabun, sekitar setengah kilometer dari Pasar Bandar Buat. Di tempat itu, yang luka parah segera ditangani oleh Palang Merah.

Pemandangan memiriskan waktu itu sudah dapat dibayangkan. Sebagian besar korban adalah wanita dan anak-anak. Konon, saksi mata Angku Munir melihat banyak wanita meregang nyawa sambil mendekap anaknya yang masih bayi. Ada pula beberapa pedati yang ditarik sapi atau kerbau berjalan sendiri karena tukang pedatinya telah tewas.

“Takut akan serangan berikutnya. Setelah mengumpulkan para jenazah ke satu tempat bersama teman-temannya, Angku Munir lari ke hutan sekitar Indarung. Benar saja, pesawat Belanda kembali meraung-raung mencari sasaran bergerak di bawahnya. Rentetan tembakan terdengar lagi mulai dari Indarung, Bandar Buat dan Lubuk Begalung,” tutur Datuk Bagindo Kalih dalam nada agak emosional.

Setelah beberapa hari keadaan dirasakan cukup kondusif, Angku Munir Cs tadi baru keluar dari persembunyian dan menemukan jenazah-jenazah yang tadi ditinggal sudah agak mengurai sehingga segera mereka kuburkan dalam satu lubang. Puluhan jenazah dikuburkan dalam satu lubang.

“Rupanya setelah selesai menguburkan puluhan mayat masih terdapat sekitar 40 mayat lagi yang belum dikubur menurut yang diceritakan Angku Munir dan Angku Kamar dalam catatan yang dibukukan oleh Mestika Z dan kawan – kawan,” ucap Zulwadi.

Ya, itu baru satu peristiwa di Pasar Bundar Buat, belum lagi di Kamang, di Situjuh, dan Cupak serta beberapa tempat lainnya. Perlawanan rakyat dipatahkan Belanda dengan cara keji dan membabibuta. Anak – anak dan wanita menjadi korban.

“Ini adalah kejahatan perang yang dilakukan Belanda terhadap Bangsa Indonesia,” ujarnya.

Mengingat sejarah itu, para korban rakyat sipil Indonesia terutama pada masa Agresi I dan Agresi II, Belanda harus meminta maaf yang diucapkan oleh Pemerintah Belanda kepada segenap Rakyat Indonesia. Perjuangan agar Belanda mau mengakui tindakan pengrusakan, perampokan, dan penindasan yang dilakukan olehnya sehingga membuat penderitaan yang amat sangat pada rakyat Indonesia.

Belanda harus kembali meringankan penderitaan mereka. Tuntutan dan perjuangan itu dilakukan terus oleh sebuah yayasan yang didirikan tanggal 4 April 2007 di Belanda dengan nama Stichting Comite Nederlandse Eresculden atau Foundation Commitee of Dutch of Honour atau dalam nama Indonesia KUKB (Komite Utang Kehormatan Belanda) yang diketuai Dhr. JM Podaag.

Yayasan ini melakukan pengumpulan data dan fakta seputar peristiwa dan korban yang terjadi masa agresi Belanda tersebut. Kepada ahli waris korban atau yang bisa dikenali sebagai keluarga korban berdasarkan verifikasi yayasan KUKB, maka berhak menerima santunan dari pemerintah Belanda melalui yayasan KUKB ini. Besaran nilai santunan yang disebutkan oleh Diki dari yayasan yang bertugas di DHD, jika dirupiahkan sekitar Rp150 juta. (derius)

Tugu Pahlawan Jerman di Lereng Gunung Pangrango

Tak banyak orang yang mengetahui bahwa selama penjajahan militer Jepang di bumi Indonesia (1942-1945), beberapa satuan kapal selam Jerman ikut “bercokol” disini untuk membantu Jepang dalam peperangannya melawan Sekutu di Asia (seperti diketahui, Jerman dan Jepang bersekutu melawan Amerika dan kawan-kawan selama berlangsungnya Perang Dunia II). Meskipun peranan mereka nyaris dilupakan dan bahkan tak banyak orang yang mengetahuinya, tapi satuan kapal selam Jerman ini, tak bisa dipungkiri, telah mewarnai salah satu babakan dalam sejarah Indonesia yang paling kelam.

Kapal-kapal selam Jerman (U-boat) bersiaga di samudera Hindia. Itu terjadi dalam Perang Dunia II. Bagi Jerman, itu merupakan sebuah keputusan politik strategis. Memang, kawasan ini jauh dari Jerman dan juga negara-negara taklukannya di Eropa dan Afrika. Yang pasti, armada kapal selam Asia Pasifik yang biasa disebut Wolfpack itu mempunyai jumlah personil terbesar setelah armada milik Jepang sendiri yang berbasis di perairan Indonesia. Penang, Jakarta dan Sabang adalah tempat yang biasa menjadi persinggahannya.

Deutscher_Soldatenfriedhof_in_Indonesia04

Tugu peringatan mengenang armada Jerman yang dihancurkan Inggris tahun 1914 di Deutscher Soldatenfriedhof, Cikopo – Bogor

Teater utama para U-boat tersebut sebenarnya di Atlantik Utara, meskipun sebenarnya satuan U-boat Jerman telah beroperasi di seluruh bagian perairan dunia kecuali Antartika! Meskipun U-boat yang bertugas di Timur Jauh tidak seterkenal yang lain, tapi sebenarnya lingkup tugas mereka membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit, juga jumlah U-boat yang banyak. Masalahnya terletak karena ketidakmampuan Jerman bila harus mengirim satuan kapal selamnya ke tempat-tempat yang jauh.

Saat itu teknologi kapal selam belumlah secanggih sekarang. Karenanya, pada akhir tahun 1942 Hitler memutuskan untuk membangun saja pangkalan kapal selam di Asia, dan mulailah berdatangan selusin U-boat yang bertugas untuk menyerang kapal-kapal Sekutu di perairan tersebut, sekaligus menjadi ‘kurir’ mengangkut sumber daya alam mentah yang sangat dibutuhkan Jerman (yang paling utama adalah karet). Kenyataannya, dari total 41 U-boat yang pernah merasakan bertugas di perairan Indonesia, hanya dua yang kembali ke Jerman!

Grup pertama kapal selam Jerman yang berangkat adalah Gruppe Monsun, yang terdiri dari 11 kapal

Awalnya, kehadiran U-boat Jerman di Indonesia menjalani hari-hari yang menyenangkan. Waktu itu situasinya masih sepi dari perang di laut. Setidaknya, happy days itu terasa bila dibandingkan dengan situasi di Samudera Hindia selebihnya. Namun, ketika memasuki tahun 1943, keadaan jadi genting, dan situasinya tak kalah berbahaya bila dibandingkan dengan situasi di Laut Utara.

Jepang menguasai seluruh semenanjung Asia di tahun 1943. Inggris disingkirkan, dan Belanda digusur dari bumi Indonesia. Meningkatlah ketegangan di Pasifik Selatan. Inggris dan Belanda tentu saja tidak rela meninggalkan wilayah jajahan yang telah dikuasainya beratus tahun begitu saja. Mereka berusaha untuk kembali menuntut balas sekaligus berupaya merebut kembali bekas wilayah kolonialismenya. Mereka datang tidak sendiri-sendiri, tapi beserta kekuatan Sekutu lainnya.

Sebagai sekutu Jepang sejak berakhirnya Perang Dunia Pertama, Jerman konsisten berjuang bahu-membahu. Apalagi musuh yang dihadapinya disini adalah musuhnya juga di Eropa. Tak tanggung-tanggung, Jerman mengirimkan 8 kapal selamnya, U-859 dan UIT-23 (kapal selam eks Italia yang diserahkan untuk Jerman di Singapura, 10 September 1943). Kapal-kapal selam tersebut dipasang di Teluk Benggala sebagai pengaman pintu masuk di Selat Malaka, yang memakai Sabang dan Penang sebagai pelabuhan sandar.

Untuk mengawal Jawa hingga ke Laut Cina Selatan, di utara Jawa ditempatkan U-168 dan U-183. di Laut Selatan Jawa dipasang U-196. di perairan timur ditempatkan U-537. di samping itu, terdapat juga kapal-kapal selam U-195 dan U-219 yang turut mendukung operasi melawan Sekutu.

Dari berbagai pertempuran laut yang dijalaninya, para U-boat Jerman itu telah mencatat berbagai prestasi, juga kegagalan, terutama selama berada di perairan Indonesia dan sekitarnya. Memang buku-buku sejarah di Indonesia belum mencatat berbagai peristiwa itu, padahal banyak soal penting yang berkaitan dengan sejarah bangsa-bangsa. Tapi syukurlah, beberapa sejarawan dunia mencatatnya.

Invasi Jepang dan perkembangan perang menimbulkan krisis bahan baku, dan krisis itu juga dialami oleh Jerman. Di masa perang, Jerman amat membutuhkan timah, molybdenum, karet dan kina, yang semuanya harus didatangkan dari Timur Jauh. Seperti dicatat Bennet dalam bukunya yang berjudul Arca Domas, 90% kebutuhan kina dunia waktu itu dipenuhi oleh perkebunan Belanda di Jawa dan Sumatera yang telah jatuh ke tangan Jepang. Bagi Jerman, tidak mungkin mengangkut komoditi itu tanpa pengawalan angkatan laut, mengingat pelayaran yang panjang lagi berbahaya ke Eropa.

Untuk mengamankan dan membangun transportasi tertutup, Jerman memodifikasi kapal-kapal selamnya menjadi kapal kargo. Kapal U-219 yang tadinya berada di Prancis ditarik kembali untuk mengambil lempengan logam di Timur Jauh. Begitu pula U-180, U-195, dan U-234, yang tadinya dipakai sebagai kapal selam tempur, dikonversi menjadi kapal selam transportasi barang! Betapa pentingnya “misi transportasi” ini dibuktikan dari fakta ketika pada pertengahan musim gugur tahun 1945 dalam saat-saat terakhir kekuasaan Hitler, kapal-kapal selam ini masih berlayar ke Timur Jauh! Namun kapal-kapal selam U-234, U-874, dan U-875, yang memuat 170 ton merkuri, lempengan logam, dan gelas optik, tidak pernah kembali ke Eropa dan entah dimana hilang dan karamnya!

Pada akhir perang, terdapat 250 orang serdadu Jerman di Indonesia yang diangkut dengan kapal selam. Sementara itu, Perang Kemerdekaan berkecamuk antara Indonesia dan Belanda. Pada waktu itu sejumlah orang di antara mereka (serdadu-serdadu Jerman) tewas : tiga perwira dibunuh oleh orang Indonesia, lima lainnya ada yang meninggal karena sakit dan ada pula yang tertembak dalam perjalanan kereta api dari Bandung ke Jakarta. Jadi, delapan orang Jerman tewas selama periode tersebut. Sisanya menyelamatkan diri di pulau Onrust, sebelum dipulangkan kembali ke Jerman tahun 1946.

Serdadu-serdadu Jerman yang meninggal di Indonesia dimakamkan di Arca Domas, Cikopo, yang berada di kaki Gunung Pangrango, Bogor. Di pemakaman tersebut terdapat tugu yang didirikan pada tahun 1926 sebagai peringatan atas Skuadron Asiatik (Ostasiatischen Beschwader), satuan angkatan laut Jerman pada Perang Dunia I yang melakukan tugas perang di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Pada tanggal 1 November 1914 mereka melakukan konvoy besar-besaran di Coronel, perairan Chili. Dari situ mereka melakukan pelayaran ke Buenos Aires. Disana kapal perang Inggris yang berpangkalan di kepulauan Falkland (Malvinas) menghadang dan menyerang mereka. Dari sekian banyak kapal, hanya satu yang selamat, dan banyak serdadu Jerman yang tewas!

Kembali ke pemakaman Cikopo. Mungkin anda menyukai sajak-sajak J.J. Slauerhoff. Nah, tempat itu juga jadi semacam “kubur terhormat bagi pelaut”. Tapi bukan Cuma itu. Kuburan itu juga merupakan jejak tersendiri bagi kolonialisme Eropa di Hindia Belanda. Di situ orang bisa mengingat betapa Jerman bukan hanya pernah mengirim serdadu ke sini, tapi orang Jerman juga pernah membuka perkebunan yang amat luas disini yang kemudian sebagian kecil darinya menjadi kompleks pekuburan yang kini menjadi Arca Domas.

Deutscher_Soldatenfriedhof_in_Indonesia01

Deutscher Soldatenfriedhof, Cikopo – Bogor

Tugu Pahlawan Jerman, Arca Domas adalah sebuah kompleks yang terdiri dari sebuah tugu dan tanah pekuburan dengan sepuluh makam tentara Jerman dengan nisan berbentuk salib besi berwarna putih salju. Delapan nisan masih dikenal namanya, sementara dua lagi sudah tidak dapat dikenali dan tidak bernama. Dari batu-batu nisan ini dapat diketahui bahwa para tentara Jerman yang dimakamkan di situ meninggal dunia pada 1945. Bentuk salib nisannya menyerupai tanda tambah dan sangat besar dan berbeda dengan salib Belanda. Kompleks pekuburan kecil ini dinaungi sebuah pohon besar yang tinggi dan sangat rindang.

Tanah tempat dibangunnya makam tentara Jerman ini mulanya adalah milik dua orang Jerman bersaudara, yaitu Emil dan Theodor Hellferich. Mereka membeli tanah seluas 900 hektar di situ dan kemudian dan membangun pabrik dengan keuntungan dari perkebunan teh. Pabrik teh yang dibangun di sini dilengkapi dengan kabel pengangkut untuk membawa daun teh dari perkebunan ke pabrik.

Kakak tertua dari dua bersaudara ini adalah Karl Helfferich, yaitu mantan wakil perdana menteri di bawah Kekaisaran Jerman-Austria. Karena itulah kedua orang saudaranya kemudian membangun sebuah monumen untuk memperingati Deutsch-Östasiatisches Geschwader (Armada Jerman Asia Tenggara) yang dipimpin oleh Admiral Graf Spee yang ditenggelamkan oleh tentara Britania. Di monumen tersebut ditulis kata-kata dalam bahasa Jerman yang berbunyi: “Untuk para awak Armada Jerman Asia Tenggara yang pemberani 1914. Dibangun oleh Emil dan Theodor Helfferich.” Sebagai penghargaan pada agama tua yang telah ada di Jawa, mereka juga membangun patung Buddha dan Ganesha di kedua sisi monumen itu.

Deutscher_Soldatenfriedhof_in_Indonesia02

Kuburan para pelaut Jerman di Deutscher Soldatenfriedhof, Cikopo – Bogor

Tugu ini diresmikan pada 1926 ketika kapal penjelajah Jerman “Hamburg” berkunjung ke Jawa. Seorang perwira muda kapal itu, Hans-Georg von Friedeburg, menulis tentang upacara itu dalam bukunya yang berjudul “32 000 Seemeilen auf blauem Wasser: Erlebnisse auf der Weltreise des Kreuzers ‘Hamburg'” (“32.000 mil laut di laut biru: Pengalaman dalam perjalanan keliling dunia dengan kapal penjelajah “Hamburg”) . Von Friedeburg di kemudian hari menjadi Admiral Jenderal dan mengakhiri hidupnya pada 23 Mei 1945 karena Jerman menyerah kalah dalam Perang Dunia II. Anak laki-lakinya, Ludwig von Friedeburg, adalah seorang sosiolog terkenal dan antara 1969-1974 menjadi menteri pendidikan di negara bagian Hessen, Jerman.

Pada 1928, Helfferich bersaudara kembali ke Jerman. Mereka menyerahkan kepercayaan pengelolaan perkebunan teh itu kepada Albert Vehring dari Bielefeld. Vehring telah banyak berpengalaman dalam mengelola perkebunan teh di Niugini.

Ketika Jerman menginvasi Belanda pada 1939, pemerintah Belanda menangkapi orang-orang Jerman yang ada di Indonesia, termasuk Albert Vehring. Perkebunan Helfferich pun diambil alih oleh Belanda. Di kemudian hari, setelah invasi Jepang ke Indonesia, Vehring berhasil bebas dan pemerintah Jerman memproklamasikan berdirinya Republik Nias. Fischer, Komisaris perusahaan Bosch, diangkat menjadi perdana menteri, sedangkan Albert Vehring menjadi menteri luar negeri.

Bersama dengan kedatangan tentara Jepang ke Indonesia, kembali pula pengaruh Jerman di wilayah ini. Pada Mei 1943, Angkatan Laut Jerman mendapat persetujuan militer Jepang untuk melakukan usaha dagang di Indonesia. Atas persetujuan Jepang pula, tanah dan vila Helfferischs di perkebunan teh Cikopo dekat Arca Domas dikembalikan kepada pihak Jerman. Albert Vehring pun kembali ke tempat itu. Daerah perkebunan ini dijadikan tempat istirahat bagi awak kapal setelah melakukan pelayaran panjang mengelilingi Afrika.

Taman makam pahlawan Jerman ini dipelihara oleh Organisasi Perawatan Taman Makam Pahlawan Jerman. Karena peraturan pemerintah Indonesia, tanah Arca Domas ini tidak dapat dibeli oleh pemerintah Jerman.

Tugu Pahlawan Jerman ini terletak di lereng Gunung Pangrango, sekitar 15 km dari Gadog, Ciawi, Jawa Barat. Jalan menuju makam ini sangat sulit dan sempit.

Jika ditempuh dari jalan raya Cikopo Selatan, perlu waktu sekira setengah jam untuk sampai ke lokasi makam di Kampung Arca Domas, Desa Sukaresmi, Kec. Megamendung, Kab. Bogor. Akan tetapi, kendaraan harus “berjibaku” dulu menempuh jalan berbatu tanpa aspal dengan jurang di satu sisi.

Makam sepuluh orang angkatan laut Nazi Jerman, dua di antaranya awak kapal selam U-195 dan U-196, di Kampung Arca Domas Desa Sukaresmi Kab. Bogor, menjadi saksi bisu kehadiran pasukan Nazi Jerman di Indonesia pada Perang Dunia II. Anehnya, tidak banyak warga setempat yang tahu keberadaan makam tentara Jerman tersebut. Mereka hanya tahu ada tempat pemakaman di ujung jalan. Padahal, di tempat terpencil itu terbaring jasad sepuluh tentara Angkatan Laut Nazi Jerman (Kriegsmarine) yang meninggal di Indonesia, sesaat setelah Jepang menyerah pada Sekutu, Agustus 1945.

Luas areal pemakaman yang diteduhi pohon kamboja itu, kira-kira 300 meter persegi. Sekeliling makam ditumbuhi tanaman pagar setinggi satu meter. Pintu masuknya dihalangi pagar bambu. Dekat pintu masuk, berdiri tugu peringatan Deutscher Soldatenfriedhof yang dibangun Kedubes Republik Federal Jerman di Jakarta untuk menghormati prajurit Jerman yang gugur.

Mereka adalah Komandan U-195 Friederich Steinfeld dan awak U-195, Dr Heinz Haake. Lainnya adalah pelaut Jerman, Willi Petschow, W. Martens, Wilhelm Jens, Hermann Tangermann, Willi Schlummer, Schiffszimmermann (tukang kayu kapal laut) Eduard Onnen. Dua nisan terpisah adalah makam tentara tidak dikenal (Unbekannt).

Makam itu terletak di lahan Afdeling Cikopo Selatan II Perkebunan Gunung Mas. Dahulu, makam itu dirawat PT Perkebunan XII (kini PT Perkebunan Nusantara VIII) selaku pengelola Perkebunan Gunung Mas, namun sejak beberapa tahun terakhir perawatan makam dibiayai pemerintah Jerman. Lahan yang bersebelahan dengan makam tadinya areal tanaman teh dan kina. Akan tetapi, tanaman tersebut habis dijarah, beberapa tahun lalu.

Pengamat sejarah militer Jerman di Indonesia, Herwig Zahorka, mengatakan bahwa Letnan Friederich Steinfeld meninggal di Surabaya akibat disentri dan kurang gizi saat ditawan Sekutu. Keterangan ini diperoleh dari mantan awak U-195 yang bermukim di Austria, Peter Marl (82 tahun) dan mantan awak U-195 lainnya, Martin Müller yang datang ke makam tahun 1999.

Sedangkan Letnan Satu Laut Willi Schlummer dan Letnan Insinyur Wilhelm Jens, tewas dibunuh pejuang kemerdekaan Indonesia dalam Gedung Jerman di Bogor, 12 Oktober 1945. Kemungkinan, mereka disangka orang Belanda apalagi aksen bahasanya mirip.

Letnan Laut W. Martens terbunuh dalam perjalanan kereta api dari Jakarta ke Bogor. Kopral Satu Willi Petschow meninggal 29 September, karena sakit saat di Perkebunan Cikopo, serta Letnan Kapten Herman Tangermann meninggal karena kecelakaan pada 23 Agustus tahun yang sama.

“Kendati saat itu terjadi salah sasaran karena disangka orang Belanda, namun kemudian banyak orang Indonesia mengenali ternyata mereka orang Jerman. Ini kemudian menjadikan hubungan tersebut menjadi persaudaraan,” kata Zahorka, pensiunan direktur kehutanan Jerman, yang bermukim di Bogor dan menikahi wanita Indonesia.
Mengenai keberadaan dua arca di makam tersebut, Zahorka mengatakan, arca-arca itu sengaja disimpan sebagai penghormatan kepada budaya warga setempat.

Warga Kampung Arca Domas, Abah Sa’ad (76 th), seorang saksi hidup peristiwa penguburan tentara Jerman di kampungnya, Oktober 1945. Saat itu, usianya 15 tahun. Ia ingat, prosesi pemakaman dilakukan puluhan tentara Nazi Jerman secara kemiliteran. Peristiwa itu mengundang perhatian warga.

“Waktu itu, masyarakat tidak boleh mendekat. Dari kejauhan, tampak empat peti mati diusung tentara Jerman, serta sebuah kendi yang katanya berisi abu jenazah. Tentara Jerman itu berpakaian putih, dengan dipimpin seorang yang tampaknya komandan mereka karena menggunakan topi pet,” tuturnya.

Sepengetahuan Abah Sa’ad, mulanya, makam tentara Jerman itu hanya ditandai nisan salib biasa, sampai kemudian ada yang memperbaiki makam itu seperti sekarang.
Keasrian dan kebersihan makam tersebut tidak lepas dari peran penunggu makam, Mak Emma (65) yang dibiayai Kedubes Jerman dua kali setahun. ” Biasanya, setiap tahun ada warga Jerman yang menjenguk makam pahlawan negaranya itu,” ujarnya.

Namun, dia kurang tahu sejarah makam itu karena baru diboyong suaminya (pensiunan karyawan Perkebunan Gunung Mas) 10 tahun lalu. Ia meneruskan pekerjaan suaminya (alm.) menjadi kuncen.
Kini, setiap tahun minggu kedua bulan November, yang merupakan Hari Peringatan (Commemoration Day) di Jerman, banyak orang Jerman disini yang mempunyai kebiasaan untuk berziarah ke Cikopo dan mengadakan upacara untuk mengenang korban perang. (Sumber)