Dewan Banteng dan PRRI

WALAUPUN antara Dewan Banteng yang dibentuk tanggal 20 Desember  1956, 52 tahun yang lalu, dan Pemerintah  Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang diproklamirkan oleh Dewan Perjuangan (bukan oleh Dewan Banteng) tanggal 15 Pebruari 1958, 50 tahun yang lalu, ibarat mata uang logam yang satu sisinya hampir sama dengan sisinya yang lain, namun berbeda tujuan, “seiring batuka jalan”.

Maksudnya walaupun Ahmad Husein sebagai Ketua Dewan Banteng di satu sisi, tetapi di sisi lain Ahmad Husein sebagai Ketua Dewan Perjuangan yang memproklamasikan PRRI. Dewan Banteng dibentuk bertujuan untuk membangun Daerah sedangkan PRRI membentuk Pemerintahan tandingan melawan Pemerintah Jakarta yang sah waktu itu.

Gagasan membentuk Dewan Banteng timbul di Jakarta pada 21 September 1956 dari sejumlah Perwira Aktif dan Perwira Pensiunan bekas Divisi IX Banteng di Sumatera Tengah dulu setelah mereka melihat nasib dan keadaan tempat tinggal para prajurit yang dulu berjuang mempertahankan kemerdekaan dalam perang Kemerdekaan melawan Belanda tahun 1945 -1950, keadaan Kesehatan amat sederhana, anak-anak mereka banyak yang menderita penyakit dan kematian.

Ada asrama yang ditinggalkan oleh KNIL (tentera Belanda), akan tetapi tidak mencukupi, karena jumlah mereka yang banyak. Para perwira aktif dan perwira pensiunan dari eks. Divisi Banteng juga melihat nasib masyarakat yang semakin jauh dari janji-janji dalam perang Kemerdekaan, hidup mereka semakin susah,tidak bertemu janji keadilan dan kemakmuran bersama itu.Pemerintah Pusat lebih mementingkan Daerah Pulau Jawa ketimbang Daerah diluar pulau Jawa dalam hal pembagian “kue” pembangunan, sedang daerah di luar pulau Jawa adalah penghasil devisa yang terbanyak.

Pertemuan sejumlah perwira aktif dan perwira pensiunan eks. Divisi Banteng di Jakarta itu kemudian dilanjutkan dengan mengadakan Reuni di Padang dari perwira-perwira aktif dan pensiunan eks. Divisi Banteng pada tanggal 20 –24 Nopember 1956 yang pada pokoknya membahas masaalah politik dan sosial ekonomi rakyat di Sumatera Tengah. Reuni yang dihadiri oleh sekitar 612 orang perwira aktif dan pensiunan dari eks. Divisi Banteng itu akhirnya membuat sejumlah keputusan yang kemudian dirumuskan di dalam tuntutan Dewan Banteng.

Untuk melaksanakan keputusan-keputusan Reuni itu,maka dibentuklah suatu Dewan pada tanggal 20 Desember 1956 yang dinamakan “ Dewan Banteng”mengambil nama Banteng dari Divisi Banteng yang sudah dibubarkan. Di dalam perang Kemerdekaan tahun 1945 -1950 melawan Belanda dulu di Sumatera Tengah dibentuk sebuah Komando militer yang dinamakan dengan Komando Divisi IX Banteng.

Sesudah selesai perang Kemerdekaan dan Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1950, maka Komando Divisi Banteng ini diciutkan dengan mengirim pasukan-pasukannya ke luar Sumatera Tengah seperti ke Pontianak, Ambon, Aceh dan Jawa Barat. Pengalaman yang sangat menyedihkan dialami oleh Batalyon “Pagar Ruyung” yang sesudah bertugas di Ambon, lima dari delapan kompinya dipindahkan ke Jawa Barat. Pasukannya dilebur ke dalam Divisi Siliwangi dan hubungan dengan induk pasukannya Divisi Banteng diputus.

Terjadi berbagai hal sehingga ada yang meninggal dunia dan ditahan. Komando Divisi Banteng makin lama makin diciutkan, sehingga akhirnya tinggal satu Brigade yang masih memakai nama Brigade Banteng, di bawah pimpinan Letkol Ahmad Husein. Kemudian pada bulan April 1952 Brigade Banteng diciutkan menjadi satu Resimen yang menjadi Resimen Infanteri 4 di dalam Komando Tentera Teritorium (TT) I Bukit Barisan (BB) di bawah Komando Panglimanya Kolonel Simbolon.Letkol. Ahmad  Husein diangkat kembali menjadi Komandan Resimen Infanteri 4 TT I BB itu.

Pemecahan Batalion-batalion dan pembubaran Komando Divisi Banteng itu
menimbulkan bibit-bibit dendam dari para pejuang perang Kemerdekaan melawan Belanda yang bernaung di bawah panji-panji Divisi Banteng itu. Pengurus Dewan Banteng terdiri dari 17 orang, yang terdiri dari 8 orang perwira aktif dan pensiunan, 2 orang dari Kepolisian dan 7 orang lainnya dari golongan sipil, ulama, pimpinan politik, dan pejabat.

Lengkapnya susunan Pengurus Dewan Banteng itu adalah : Ketua,Letkol, Ahmad Husein,Komandan Resimen Infanteri 4, Sekretaris Jenderal Mayor (Purn)Suleman, Kepala Biro Rekonstruksi Nasional Sumatera Tengah, sedangkan anggota-anggotanya adalah Kaharuddin Datuk Rangkayo Basa, Kepala Polisi Sumatera Tengah, Sutan Suis, Kepala Polisi Kota Padang, Mayor Anwar Umar, komandan Batalion 142 Resimen 4. Kapten Nurmatias Komandan Batalyon 140, Resimen Infanteri 4. H. Darwis Taram Dt. Tumanggung, Bupati 50 Kota, Ali Luis Bupati d/p di Kantor Gubernur Sumatera Tengah, Syekh Ibrahim Musa Parabek Ulama, Datuk Simarajo, Ketua Adat (MTKAAM).

Kolonel (Purn) Ismael Lengah, Letkol (Purn) Hasan Basri (Riau), Saidina Ali Kepala Jawatan Sosial Kabupaten Kampar, Riau, Letnan Sebastian Perwira Distrik Militer 20 Indragiri, Riau, A. Abdulmanaf, Bupati Kabupaten Merangin, Jambi, Kapten Yusuf Nur, Akademi Militer, Jakarta dan Mayor Syuib, Wakil Asisten II Staf Umum Angkatan Darat di Jakarta.

Selain itu Dewan Banteng didukung oleh segenap Partai Politik, kecuali Partai Komunis Indonesia (PKI), juga didukung oleh segenap lapisan masyarakat seperti para pemuda, alim ulama, cadiak pandai, kaum adat sehingga waktu itu lahirlah semboyan,” timbul tenggelam bersama Dewan Banteng”. (***)

Oleh : Syafri Segeh

Sumber
Iklan

Sejarah Kabupaten Karo Zaman Kemerdekaan

Kabar-kabar angin bahwa Belanda akan melancarkan agresi I militernya terhadap Negara Kesatuan Republik  Indonesia kian semakin santer, puncaknya, pagi tanggal 21 Juli 1947, Belanda melancarkan serangan ke seluruh sektor pertempuran Medan Area. Serangan ini mereka namakan “Polisionel Actie” yang sebenarnya suatu agresi militer terhadap Republik Indonesia yang usianya baru mendekati 2 tahun.

Pada waktu kejadian itu Wakil Presiden Muhammad Hatta berada di Pematang Siantar dalam rencana perjalanannya ke Banda Aceh. Di Pematang Siantar beliau mengadakan rapat dengan Gubernur Sumatera  Mr. T. Muhammad Hasan. Dilanjutkan pada tanggal 23 Juli 1947 di Tebing Tinggi. Pada arahannya dengan para pemimpin-pemimpin perjuangan,  wakil presiden memberikan semangat untuk terus bergelora melawan musuh dan memberi petunjuk dan arahan menghadapi agresi Belanda yang sudah dilancarkan 2 hari sebelumnya. Namun Wakil Presiden membatalkan perjalanan ke Aceh dan memutuskan kembali ke Bukit Tinggi, setalah mendengar jatuhnya Tebing Tinggi, pada tanggal 28 Juli  1947. Perjalanan Wakil Presiden berlangsung di tengah berkecamuknya pertempuran akibat adanya serangan-serangan dari pasukan Belanda.

 Pejuang kemerdekaan

Rute yang dilalui Wakil Presiden adalah Berastagi-Merek-Sidikalang-Siborong-borong-Sibolga-Padang Sidempuan dan Bukit Tinggi. Di Berastagi, Wakil Presiden masih sempat mengadakan resepsi kecil ditemani Gubernur Sumatera Mr. T. Muhammad Hasan, Bupati Karo Rakutta Sembiring dan dihadiri Komandan Resimen I Letkol Djamin Ginting’s, Komandan Laskar Rakyat Napindo Halilintar Mayor Selamat Ginting, Komandan Laskar Rakyat Barisan Harimau Liar (BHL) Payung Bangun dan para pejuang lainnya, di penginapan beliau Grand Hotel Berastagi. Dalam pertemuan itu wakil presiden memberi penjelasan tentang situasi negara secara umum dan situasi khusus serta hal-hal yang akan dihadapi Bangsa Indonesia pada masa-masa yang akan datang.

Selesai memberi petunjuk, kepada beliau ditanyakan kiranya ingin kemana, sehubungan dengan serangan Belanda yang sudah menduduki Pematang Siantar dan akan menduduki Kabanjahe dan Berastagi. Wakil Presiden selanjutnya melakukan: “Jika keadaan masih memungkinkan, saya harap supaya saudara-saudara usahakan, supaya saya dapat ke Bukit Tinggi untuk memimpin perjuangan kita dari Pusat Sumatera”.

Setelah wakil presiden mengambil keputusan untuk berangkat ke Bukit Tinggi via Merek, segera Komandan Resimen I, Komandan Napindo Halilintar dan Komandan BHL, menyiapkan Pasukan pengaman. Mengingat daerah yang dilalui adalah persimpangan Merek, sudah dianggap dalam keadaan sangat berbahaya.

Apabila Belanda dapat merebut pertahanan kita di Seribu Dolok, maka Belanda akan dengan mudah dapat mencapai Merek, oleh sebab itu kompi markas  dan sisa-sisa pecahan pasukan yang datang dari Binjai, siang harinya lebih dahulu dikirim ke Merek. Komandan Resimen I Letkol Djamin, memutuskan, memerlukan Pengawalan dan pengamanan wakil presiden, maka ditetapkan satu pleton dari Batalyon II TRI Resimen I untuk memperkuat pertahanan di sekitar gunung Sipiso-piso yang menghadap ke Seribu Dolok, oleh Napindo Halilintar ditetapkan pasukan Kapten Pala Bangun dan Kapten Bangsi Sembiring.

Sesudah persiapan rampung seluruhnya selesai makan sahur, waktu itu kebetulan bulan puasa, berangkatlah wakil presiden dan rombongan antara lain: Wangsa Wijaya (Sekretaris Priadi), Ruslan Batangharis dan Williem Hutabarat (Ajudan), Gubernur Sumatera Timur Mr. TM. Hasan menuju Merek. Upacara perpisahan singkat berlangsung menjelang subuh di tengah-tengah jalan raya dalam pelukan hawa dingin yang menyusup ke tulang sum-sum.

Sedang sayup-sayup terdengar tembakan dari arah Seribu Dolok, rupanya telah terjadi tembak-menembak antara pasukan musuh / Belanda dengan pasukan-pasukan kita yang bertahan di sekitar Gunung Sipiso-piso.

Seraya memeluk Bupati Tanah Karo Rakutta Sembiring, wakil presiden mengucapkan selamat tinggal dan selamat berjuang kepada rakyat Tanah Karo. Kemudian berangkatlah wakil presiden dan rombongan, meninggalkan Merek langsung ke Sidikalang untuk selanjutnya menuju Bukit Tinggi via Tarutung, Sibolga dan Padang Sidempuan.

Sementara itu, keadaan keresidenan Sumatera Timur semakin genting, serangan pasukan Belanda semakin gencar. Akibatnya, ibu negeri yang sebelumnya berkedudukan di Medan pindah ke Tebing Tinggi.

Bupati Rakutta Sembiring, juga menjadikan kota Tiga Binanga menjadi Ibu negeri Kabupaten Karo, setelah Tentara Belanda menguasai Kabanjahe dan Berastagi, pada tanggal 1 Agustus 1947.

Namun sehari sebelum tentara Belanda menduduki Kabanjahe dan Berastagi, oleh pasukan bersenjata kita bersama-sama dengan rakyat telah melaksanakan taktik bumi hangus, sehingga kota Kabanjahe dan Berastagi beserta 51 Desa di Tanah Karo menjadi lautan Api.

Taktik bumi hangus ini, sungguh merupakan pengorbanan yang luar biasa dari rakyat Karo demi mempertahankan cita-cita luhur kemerdekaan Republik Indonesia. Rakyat dengan sukarela membakar apa saja yang dimiliki termasuk desa dengan segala isinya.

Kenyataan itu telah menyebabkan wakil presiden mengeluarkan keputusan penting mengenai pembagian daerah dan status daerah  di Sumatera Utara  yang berbunyi sebagai berikut:

“Dengan surat ketetapan Wakil Presiden tanggal 26 Agustus 1947 yang dikeluarkan di Bukit Tinggi, maka daerah-daerah keresidenan  Aceh, Kabupaten Langkat, kabupaten Tanah Karo, dijadikan satu daerah pemerintahan militer dengan Teungku Mohammad  Daud Beureuh sebagai Gubernur Militer. Sedangkan daerah-daerah keresidenan Tapanuli, Kabupaten Deli Serdang, Asahan dan Labuhan Batu menjadi sebuah daerah pemerintahan Militer dengan Dr. Gindo Siregar sebagai Gubernur Militer. Masing-masing Gubernur Militer itu diangkat dengan Pangkat Mayor Jenderal.

Selanjutnya melihat begitu besarnya pengorbanan rakyat karo ini, wakil presiden Drs. Mohammad Hatta menulis surat pujian kepada rakyat Karo dari Bukit Tinggi pada tanggal 1 Januari 1948. Adapun surat wakil presiden tersebut selengkapnya sebagai berikut:

Bukittinggi, 1 Januari 1948
“Kepada Rakyat Tanah Karo Yang Kuncintai”.
Merdeka!
Dari jauh kami memperhatikan perjuangan Saudara-saudara yang begitu hebat untuk mempertahankan tanah tumpah darah kita yang suci dari serangan musuh. Kami sedih merasakan penderitaan Saudara-saudara yang rumah dan kampung halaman habis terbakar dan musuh melebarkan daerah perampasan secara ganas, sekalipun cease fire sudah diperintahkan oleh Dewan Keamanan UNO.
Tetapi sebaliknya kami merasa bangga dengan rakyat yang begitu sudi berkorban untuk mempertahankan cita-cita kemerdekaan kita.
Saya bangga dengan pemuda Karo yang berjuang membela tanah air sebagai putra Indonesia sejati. Rumah yang terbakar, boleh didirikan kembali, kampung yang hancur dapat dibangun lagi, tetapi kehormatan bangsa kalau hilang susah menimbulkannya. Dan sangat benar pendirian Saudara-saudara, biar habis segala-galanya asal kehormatan bangsa terpelihara dan cita-cita kemerdekaan tetap dibela sampai saat yang penghabisan. Demikian pulalah tekad Rakyat Indonesia seluruhnya. Rakyat yang begitu tekadnya tidak akan tenggelam, malahan pasti akan mencapai kemenangan cita-citanya.
Di atas kampung halaman saudara-saudara yang hangus akan bersinar kemudian cahaya kemerdekaan Indonesia dan akan tumbuh kelak bibit kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Karo, sebagai bagian dari pada Rakyat Indonesia yang satu yang tak dapat dibagi-bagi.
Kami sudahi pujian dan berterima kasih kami kepada Saudara-saudara dengan semboyan kita yang jitu itu: “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”.
Saudaramu,
MOHAMMAD HATTA
Wakil Presiden Republik Indonesia

Selanjutnya, untuk melancarkan roda perekonomian rakyat di daerah yang belum diduduki Belanda, Bupati Rakutta Sembiring mengeluarkan uang pemerintah Kabupaten Karo yang dicetak secara sederhana dan digunakan sebagai pembayaran yang sah di daerah Kabupaten Karo.

Akibat serangan pasukan Belanda yang semakin gencar, akhirnya pada tanggal 25 Nopember 1947, Tiga Binanga jatuh ke tangan Belanda dan Bupati Rakutta Sembiring memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Karo ke Lau Baleng. Di Lau Baleng, kesibukan utama yang dihadapi Bupati Karo beserta perangkatnya adalah menangani pengungsi yang berdatangan dari segala pelosok desa dengan mengadakan dapur umum dan pelayanan kesehatan juga pencetakan uang pemerintahan Kabupaten Karo untuk membiayai perjuangan.

Setelah perjanjian Renville ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948, Pemerintah RI memerintahkan seluruh Angkatan Bersenjata Republik harus keluar dari kantung-kantung persembunyian dan hijrah ke seberang dari Van Mook yaitu daerah yang dikuasai secara de jure oleh Republik.

Barisan bersenjata di Sumatera Timur yang berada di kantung-kantung Deli Serdang dan Asahan Hijrah menyeberang ke Labuhan Batu. Demikian pula pasukan yang berada di Tanah Karo dihijrahkan ke Aceh Tenggara, Dairi dan Sipirok Tapanuli Selatan. Pasukan Resimen I pimpinan Letkol Djamin Ginting hijrah ke Lembah Alas Aceh Tenggara. Pasukan Napindo Halilintar pimpinan Mayor Selamat Ginting hijrah ke Dairi dan pasukan BHL pimpinan Mayor Payung Bangun hijrah ke Sipirok Tapanuli Selatan.

Berdasarkan ketentuan ini, dengan sendirinya Pemerintah Republik pun harus pindah ke seberang garis Van mook, tidak terkecuali Pemerintah Kabupaten Karo yang pindah mengungsi dari Lau Baleng ke Kotacane pada tanggal 7 Pebruari 1948. Di Kotacane, Bupati Rakutta Sembiring dibantu oleh Patih Netap Bukit, Sekretaris Kantor Tarigan, Keuangan Tambaten S. Brahmana, dilengkapi dengan 14 orang tenaga inti.

Selanjutnya untuk memperkuat posisi mereka, Belanda mendirikan Negara Sumatera Timur. Untuk daerah Tanah Karo Belanda menghidupkan kembali stelsel atau sistem pemerintahan di zaman penjajahan Belanda sebelum perang dunia kedua.

Administrasi pemerintahan tetap disebut Onder Afdeling De Karo Landen, dikepalai oleh seorang yang berpangkat Asisten Residen bangsa Belanda berkedudukan di Kabanjahe. Di tiap kerajaan (Zeifbesturen) wilayahnya diganti dengan Districk sedangkan wilayah kerajaan urung dirubah namanya menjadi Onderdistrick.

Adapun susunan Pemerintahan Tanah Karo dalam lingkungan Negara Sumatera Timur adalah: Plaatslijkbestuur Ambteenaar, A. Hoof. Districthoofd Van Lingga, Sibayak R. Kelelong Sinulingga, Districhoofd Van Suka, Sibayak Raja Sungkunen Ginting Suka, Districhoofd Van Sarinembah, Sibayak Gindar S. Meliala, Districthoofd Van Kuta Buluh, Sibayak Litmalem Perangin-angin.

Ditulis Oleh : Sion Sembiring

Sumber

Westerbork: Sisa Nyata Genosida oleh Jerman

Masa silam menyebabkan dilema di Belanda: apakah sebuah barak yang dulu berasal dari kamp konsentrasi Westerbork perlu dikembalikan dan dipugar kembali? Kamp konsentrasi adalah pusat penahanan kelompok yang dalam pandangan Nazi Jerman patut dimusnahkan. Lalu apakah bekas barak yang asli ini harus dikembalikan ke pusat peringatan kamp konsentrasi ini?

sds

Westerbork terletak di provinsi Drente di Belanda utara. Di daerah pedesaan ini, tentara Nazi Jerman yang menduduki Belanda selama perang dunia kedua mendirikan pusat penampungan tawanan yang akan mereka bantai di Jerman. Orang yahudi, jipsi, homoseksual dan semua golongan yang oleh nazi jerman dianggap tidak cocok dengan ideologi rasialis mereka ditawan dulu di Westerbork, sebelum mereka dikirim ke konsentrasi kamp di Jerman untuk dimusnahkan. Demikian juga Anne Frank, sosok anak Yahudi yang menjadi terkenal sebagai simbol penderitaan para korban pembantaian nazi Jerman, setelah buku hariannya terbit.

Pusat Peringatan

Masih tersisa barak yang sayangnya saat ini sudah dimanfaatkan sebagai kandang babi. Para pengelola kamp Westerbork yang kini menjadi pusat peringatan kejahatan Nazi Jerman ragu-ragu, namun para pengunjung pusat peringatan di Westerbork ini selalu minta di mana peninggalan yang asli. Lalu bagaimana menanggapi keinginan ini? Bagaimana kita mengantisipasi masa silam?

Saya berusia 12 tahun waktu tiba di sini. Sangat menakutkan. Saya tidak ingat lagi bagaimana bentuk barak ini, yang saya ingat adalah lumpur dan di seberang jalan, setelah pagar kawat berduri, semak-semak yang berkembang.

Demikian Carla Josephus Jitta, ia adalah salah seorang tahanan Nazi Jerman di kamp konsentrasi Westerbork ini selama perang dunia kedua.

Masih bisa saya bayangkan kamp ini menyerupai neraka, namun saat ini pemandangannya asri, rumput nan hijau dengan pepohonan rindang. Total berbeda dengan apa yang ada saat itu, tidak bisa kita bayangkan perubahannya.

Saat itu kamp Westerbork ini dihuni tahanan yang tidak tahu pasti kapan mereka akan dibawa definitif ke pusat pemusnahan Nazi Jerman di Jerman, itulah yang menakutkan bagi Carla dan tahanan lain.

Lapangan Terbuka

Namun Westerbork berubah sekali, bekas kamp tahanan ini kini adalah lapangan rumput terbuka, dengan pohon di sana sini. Taman yang sepi dengan beberapa monumen untuk para korban keganasan nazi Jerman. 107 ribu tahanan dibawa ke Westerbork, hanya 5 ribu yang selamat dan kembali setelah perang dunia kedua berakhir.

Kita sekarang berdiri di lapangan yang kosong, dengan beberpa pohon, namun phon-pohon ini menandai batas kamp konsnetrasi yang sudah hilang. Kita bisa mengenali bentuk segi empat kamp ini dan tentu sja rel kereta api yang dipakai untyuk kereta api pengangkut mereka yang ditahan. Julukannya dalam bahasa Prancis: Boulevard des Misére, atau jalan kesusahan.
Demikian Anne Bitterberg staf Pusat peringatan kamp Westerbork ini. ia menambahkan selama periode paling ramai yaitu akhir 1942 sampai awal 1943, 20 ribu tahanan tinggal di kamp ini. kamp ini merupakan kamp di alam terbuka di tengan hutan berukuran 500 kali 500 meter. Ia sering mendengar keluhan dari para tahanan:

Tidak ada privacy sama sekali.

Penampungan Orang Maluku
 
Setelah perang dunia berakhir, kamp Westerbork beralih penggunaannya: bekas kamp tahanan yang dimusnahkan di Jerman ini menjadi tempat penampungan orang Maluku yang hijrah ke Belanda.

Wim Manuhutu, direktur Museum Sejarah Maluku di Belanda menyatakan:

Memang kamp Westerbork bersama kamp Vught sangat bersejarah, yang punya kaitan erat bukan saja dengan perang dunia kedua namun juga dengan kedatangan migran Indonesia ke Belanda, sesudah perang dunia kedua. Misalnya orang Maluku. Saya sangat kecewa tempat yang bersejarah ini kehilangan fungsinya. Apalagi dalam satu jaman di mana sejarah itu penting. Belanda sedang mencari identitas diri lalu bagaimana kalau orang Belanda tidak tahu sejarahnya. Pasti mereka akan susah menjawab pertanyaan siapa sebenarnya orang Belanda. Tempat ini bisa menjadi tempat pameran untuk menunjuk pada apa dampak rasialisme, sayang kalau fungsi ini hilang.

Tahun 1970 kamp ini digusur total dan diganti dengan beberapa monumen. Baru pada tahun 1983 didirikan museum dan setelah itu bekas gedung kamp dan rel kereta api untuk transpor para tahanan mulai dipatok dengan jelas.

Kandang Babi

Para pengunjung sering menanyakan bekas-bekas asli kamp Westerbork, demikian Anne Bitterberg. Museum dan monumen rupanya belum memuaskan banyak pengunjung. Rumah bekas komandan Jerman kamp Westerbork kini sudah kosong. Bisa dibeli oleh pengurus monumen nasional Westerbork kemudian dipugar. Ihwal cara memamerkannya masih menjadi bahan diskusi, karena kehidupan mewah sang komandan nazi ini tidak mungkin bisa dipamerkan kalau tidak ada contoh kehidupan sehari-hari para tawanan yang menderita.

Lebih susah lagi adalah pertanyaan apakah barak yang masih tersisa harus dikembalikan ke kamp ini. Seorang peternak babi membelinya pada tahun 1970, dan sejak itu menjadi kandang babi.

Memang bahan kayunya masih utuh, tapi setelah 30 tahun dihuni babi susah juga untuk menyebutnya barak, tidak ada yang orisinil lagi.

Demikian Anne Bitterberg. Namun organisasi yang mengelola monumen ini bertekad membelinya kembali.

Ihwal pemanfaatannya akan ditentukan kelak. Demikian Anne Bitterberg.

 Dilema
 
vxc

Sang peternak babi baru mau menjual barak ini kakau ia mendapat cukup uang untuk mendirikan kandang baru. Ia minta beberapa ratus ribu euro. Dengan uang itu susah juga untuk menghilangkan bau 30 generasi babi yang dikandang di barak itu. Mantan tahanan di kamp ini, Carla Josephus Jitta menyatakan kandang yang dulu barak ini tidak perlu masuk ke monumen Westerbork.
Ini adalah hal yang tidak sebenarnya, tidak membuat orang percaya. Orang akan membikin lelucon. Jangan lupa kami diperlakukan sebagai babi oleh Nazi Jerman, dianggap bukan mahluk yang normal. Ini sudah terlambat, dulu orang harus lebih sadar untuk mempertahankannya, nasi sudah menjadi bubur.

Masalah ini menjadi dilema untuk pengurus pusat peringatan kamp Westerbork dan untuk Belanda. Bagaimana sikap kita terhadap warisan budaya asal perang dunia kedua yang masih tetap peka itu. Di pugar dan dismpan dengan baik, itulah kesimpulan yang bisa ditarik untuk sementara ini

Sumber

Sea Unearths Secret Nazi Bunkers That Lay Hidden For More Than 50 Years

 

Three Nazi bunkers on a beach have been uncovered by  violent storms off the Danish  coast, providing a store of material  for history buffs and military  archaeologists.

The bunkers were found in  practically the same condition as they were  on the day the last Nazi soldiers left them, down to the tobacco in one trooper‘s pipe and a half-finished bottle of  schnapps.

This bunker was entombed under the sand dunes until a violent storm swept away the sands three months ago

The bunkers had not been touched since the war

The bunkers were three of 7,000 built by the Germans  as part of Hitler’s  ‘Atlantic  Wall‘ from Norway to the south of France. 

But while the vast majority were almost immediately  looted or destroyed, these three were entombed under the sand dunes of  a remote beach near the town of Houvig since 1945. 

They  were uncovered only because recent storms sent giant waves cascading over them, sweeping away the sand and exposing glimpses of the cement and iron  structures.

Kim Clausen, curator of the Ringkoebing-Skjern museum views a heater retrieved from the bunker

Stamps of the German Eagle of Adolf Hitler and the Swastika were also retrieved

They were located by two nine-year-old boys on holiday with their parents, who then informed the authorities.

Archaeologists were able to carefully force a way, and were astounded at what they found.

‘What’s so fantastic is that we found them completely furnished with beds, ‘chairs, tables, communication systems and the personal effects of the soldiers who lived inside,’ says Jens Andersen, the curator of the Hanstholm museum.

The discovery of the fully-furnished bunkers was  “unique in Europe,” said  Bent Anthonisen,  a Danish expert on European bunkers.

Expert Tommy Cassoe: ‘It was as if the Nazis had just left yesterday’

And a third expert, Tommy Cassoe, enthused: “It was like entering the heart of a pyramid with mummies all around.  Wat I saw blew me away: it was as if the German soldiers had left only  yesterday.”

The team working with Cassoe  emptied the structures within a few days of boots,  undergarments, socks, military stripes, mustard and aquavit bottles, books, inkpots, stamps featuring Hitler, medicines, soda bottles, keys, hammers and other objects.

All of the objects from the shelters have been taken to the conservation  centre at Oelgod museum, some 20 miles from the beach  to be  examined.

 The centre’s German curator, Gert Nebrich, judged the find ‘very  interesting because it is so rare.’

‘”We don’t expect contemporary objects like these to be so well preserved.  Maybe it’s because they were kept for 60 years in the cold and dark like in a  big vacuum,” he says, carefully showing four

stamps featuring Hitler’s image and  the German eagle, found in one bunker.

The Germans left the bunkers in May 1945 after the Nazi surrender.

Historical records show that  Gerhard Saalfed was a 17-year-old soldier  with the German army when he  arrived at the bunker in January 1945. 

Germany surrendered on May 8 1945,  but it wasn‘t until two days later that he and his fellow soldiers left their remote station.

They shut the steel doors of the bunker behind them on their remote beach  and went to the nearest town ten miles away to surrender. 

‘The remote  location of the bunkers and the drifting sands that covered them saved  them from being ransacked,“ said Cassoe. 

Sumber

Saya Melihat Awal Perang Dunia…

KOMPAS.com — Hanya segelintir orang yang masih bisa mengisahkan bagaimana Perang Dunia II dimulai. Mereka yang bertahan hidup menuturkan bagaimana kapal perang Jerman, Schleswig-Holstein, mulai melepaskan tembakan ke sebuah benteng Polandia di Semenanjung Westerplatte, 1 September 1939 pukul 04.47.

1259161p

File foto 8 September 1939 menunjukkan tentara Jerman memeriksa puing-puing pesawat Polandia yang ditembak jatuh oleh pilot Jerman selama Perang Dunia II.

”Saya mengambil teleskop dan melihat ke arah kanal, ke kanan lalu ke kiri, lalu ke arah kapal yang sandar di pantai. Saat itu, saya melihat kilatan merah dan tembakan pertama menghantam gerbang,” ujar Ignacy Skowron (94).

Waktu itu, Kopral Skowron baru berusia 24 tahun. Dia adalah salah seorang dari 182 tentara Polandia yang mempertahankan depot transit militer di Westerplatte melawan sekitar 3.400 tentara Jerman.

”Saya langsung mengambil senapan mesin. Kami mendapat perintah dan mulai menyerang balik. Kapal perang itu lalu berlayar ke kanal dan mulai menembakkan meriam demi meriam ke arah kami,” kata Skowron.

Pada hari kedua, lanjut Skowron, sudah tiga serangan diluncurkan Jerman sebelum tengah hari. Tak lama kemudian, pesawat tempur mulai berdengung di atas mereka. ”Jerman mulai menjatuhkan bom. Rumah penjaga nomor lima hancur lebur. Lima tentara tewas,” ujarnya.

Para tentara Polandia berhasil bertahan selama enam hari berikutnya. Selain menghadapi tembakan, mereka juga berjuang melawan dingin, lapar, dan kantuk karena tidak tidur selama tujuh hari.

Dari 3.400 tentara Jerman, sebanyak 200-400 orang tewas. Sementara itu, dari 182 tentara Polandia, hanya 15-20 orang tewas.

Skowron ingat ketika komandan pasukan Jerman, Jenderal Friedrich Eberhardt, mengatakan kepada komandan pasukan Polandia, Mayor Sucharski, bahwa jika dia memiliki pasukan seperti tentara Polandia, dia bisa memerangi seluruh dunia.

Simbol

Perang Dunia II menyisakan penderitaan mendalam di Polandia. Sekitar enam juta nyawa melayang, separuh di antaranya orang Yahudi. Kendati menyakitkan, perang itu juga membangkitkan kebanggaan.

”Westerplatte adalah simbol kepahlawanan dan pertahanan Polandia yang paling penting dan paling diakui. Ini adalah pos terisolasi dengan hanya 182 tentara. Tugas mereka bertahan selama 12 jam, tetapi mereka berhasil bertahan selama tujuh hari melawan pasukan Jerman yang jumlahnya sangat besar,” kata Pawel Machcewicz, ahli sejarah Polandia.

Skowron menghadiri peringatan 70 tahun Perang Dunia II di Westerplatte. Dia dianugerahi Order Virtuti Militari, penghargaan militer tertinggi, atas jasa-jasanya.

Apakah dia merasa sebagai seorang pahlawan? ”Kita harus saling menolong. Saat teman saya berjuang, saya pun harus berjuang,” begitu jawab Skowron.

”Saya punya kenangan sedih. Kami tidak mengira bisa keluar dari sana hidup-hidup. Kami seperti burung di dalam sangkar,” kenangnya. (bbc/fro)

Sumber